Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Hurt / comfort (cukup diragukan) , Friendship (sangat diragukan) , family (diragukan), Romance (diragukan), Drama (taulah), dan menjadi campur aduk sampai Author-nya bingung.
Rate : T
Pairing(s) : PeinHina, SasuHina dan mungkin pair lainnya menyusul (jika author sanggup untuk membuatnya)
Author : Kazehaya Tsuki
Yonde Kudasai, minna
Ponsel Hinata langsung terjatuh ke lantai begitu mendengar kabar dari Hanabi. Apa artinya ini? Apa Hinata sedih? Ia merasa bersalah? Atau apa?
Suara Hanabi yang memanggil-manggil nama Hinata masih terdengar disana.
"Nee-san ... Nee-san..."
###
"Kau tak mau datang?" tanya Pein. Ia memberikan sebatang rokok ke Hinata. Hinata mengambilnya, lalu ia menghisapnya. "Tidak."
Pein menghembuskan napasnya yang becampur dengan asap rokok. "Datanglah," bujuknya "Dia ayahmu."
"Bukan! Ayahku sudah meninggal." tolak Hinata. Perasaannya kini bercampur aduk. Haruskah ia datang ke pemakaman orang itu? Orang yang telah membuat hidupnya beserta ibu dan adiknya menderita. Haruskah? Hinata sendiri bingung. Jauh didalam hatinya ia merasa sedih karena ayahnya meninggal. Tapi, begitu mengingat kelakuan ayahnya pada keluarganya, ia dendam, Ia benci pada orang itu. Ia tak mau menghadiri pemakaman orang yang menjijikkan itu. Tidak!
"Sayang," panggil Pein. Hinata tak mau menoleh. Ia sudah tahu alasan Pein memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Tidak!" katanya. Ia melanjutkan aktivitas merokoknya. "Ia pantas mati. Aku tak mau datang."
"Kau mau kemana?" tanya Pein begitu melihat Hinata mengambil jaketnya. "Mencari angin," katanya lalu pergi.
Pein tahu, itu hanya alasan. Ini musim gugur, tak mungkin suhu udaranya tinggi. Kalau musim panas mungkin itu masuk akal. Tapi, ini? Hinata Hinata, bilang saja kalau kau tak mau melewatkan acara pemakaman orang tuamu. Begitu saja kok repot.
Hinata kembali merapatkan jaketnya. Semilir angin menerpa wajahnya yang mulai pucat. Itu entah disebabkan oleh tubuhnya yang kurang sehat atau karena entahlah si author juga bingung sendiri.
Sementara itu,
"Bos, kau tak datang ke pemakaman ayah Hina-chan?" tanya Deidara begitu melihat wajah kucel Pein yang ditekuk.
"Aku akan datang," jawabnya lalu berlalu begitu saja meninggalkan anak buahnya.
"Ada apa dia?" tanya Kisame yang heran dengan sikap Pein.
"Tobi anak baik. Tobi juga tidak tahu." semua anggota Akatsuki yang ada disitu hanya bisa sweatdrop mendengar jawaban Tobi yang aneh itu.
Hinata dengan ragu mulai berjalan ke arah pemakaman sang Ayah. Sebetulnya ia juga tak tahu mengapa kakinya memaksanya untuk kemari—ke pemakaman ayahnya. Hinata bersembunyi dibalik pohon yang rindang itu, sambil mengintip jalannya proses pemakaman. Disana terlihat Hanabi yang menangis dan dipeluk oleh Kiba—sahabatnya. Dan itu...
"Cih, mau apa wanita jalang itu kemari?" umpat Hinata. Sungguh, jika ini bukanlah tempat pemakaman, sudah dipastikan Hinata akan datang dan melabrak wanita yang sudah membuat hidupnya dan keluarganya menderita. Emosi Hinata bertambah memuncak kala melihat Hanabi yang tidak mengusir wanita itu. Dia malah membiarkan wanita itu menyentuh kuburan Hyuuga Hiashi, ayahnya.
Tangan Hinata sudah mengepal. Sudah dipastikan ia akan datang menghampiri wanita itu dan memukulnya mungkin. Baru saja, satu langkah Hinata berjalan tangannya sudah ditarik kebelakang oleh Pein.
"Ini makam, Hinata," nasehatnya.
"Aku tahu," jawab Hinata dingin, sehingga es saja bisa dikalahkannya.
Tiba-tiba Pein memeluknya.
"Jangan bersikap seolah-olah kau bisa menahan semua ini sendirian. Aku ada disampingmu jika kau membutuhkanku." Pein jadi teringat bagaimana keadaaan Hinata dulu saat ia kehilangan ibunya. Hinata yang rapuh. Hinata yang malang. Hinata yang kurang kasih sayang. Ia menangis tersedu-sedu di depan makam ibunya. Seolah-olah dunia ini tak ada artinya tanpa ada ibu yang ia cintai dan kasihi disampingnya. Sungguh ironis dan menyedihkan. Bahkan ayahnya dulu juga tidak datang kepemakaman sang ibu. Tambah hancur dan bencilah Hinata pada ayahnya itu.
Seperti yang sudah diketahui olah Pein. Hinata terisak dipelukannya. Bahkan Pein bia merasakan bagaimana kemejanya itu diremas kasar oleh Hinata. Ini pasti sulit. Sangat sulit malah. Mungkin Pein tak bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang tua karena dia sendiri masih mempunyai orang tua yang lemgkap. Tapi, ia bisa merasakan bagiamana rasanya kekurangan kasih sayang dari orang tua. Karena Pein mengalaminya sendiri. Orang tuanya, kecuali sang ibu tak terlalu peduli dengannya.
Dengan hati-hati, Pein membelai rambut indigo milik Hinata. Berharap kekasihnya itu akan lebih baik jika diperlakukan seperti itu.
"Aku ada disini," bisiknya lembut. Hinata mengangguk dalam pelukan hangat Pein.
###
Hanabi tak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat kakaknya, Hinata tengah dipeluk oleh Pein. Ia tahu kakaknya itu pasti menangis, sama seperti dirinya. Ingin sekali ia mendatangi kakaknya dan mengatakan jika masih ada dia disampingnya, tapi tepukan pelan yang diberikan oleh Kiba padanya membuatnya sadar kalau ini bukan saat yang tepat. Ia akan mengatakannya jika perasaan Hinata lebih baik.
Pein masih memeluk Hinata, gadis yang dalam keadaaan tersesat ini. Sesaat ia bisa melihat Hanabi yang tengah memandanginya. Pein bingung harus memberikan ekspresi apa untuk Hanabi. Haruskah ia tersenyum? Dia pasti sinting jika sampai tersenyum pada Hanabi. Di saat suasanya masih suram seperti ini mana mungkin ia akan tersenyum seolah-olah tak terjadi sesuatu. Namun, hal yang tak pernah disangka oleh Pein. Hanabi terseyum kaku padanya. Gadis yang masih duduk dibangku SMP itu berkata sesuatu padanya. Tapi ia tak bisa mendengar apa yang telah Hanabi katakan padanya. Tapi, ia yakin bukanlah sesuatu yang buruk. Pasti sesuatu yang baik, pikirnya.
Setelah mengatkan sesuatu pada Pein, Hanabi yang ditemani oleh Kiba langsung melesat pergi. Air matanya pasti akan tumpah lagi jika ia terus-terusan berada disini. Di sini sama saja membangkitkan kenangan masa lalu yang buruk. Hanabi tak ingin air matanya tumbah lagi. Dia tidak ingin.
"Kita pulang," bisiknya pada Kiba. Pemuda yang mempunya tato segitiga di pipinya itu mengangguk patuh dan menuntun Hanabi agar pergi dari makam ayah dan ibunya. Perlu diketahui, ternyata Kiba selama ini menyukai Hanabi. Ingin sekali ia menyatakan perasaannya pada Hanabi, tapi persahabatanya pasti terancam hancur karena ia tahu Hanabi tak pernah menyukaianya. Jadi, lebih baik ia pendam saja perasannya pada adik Hinata itu.
###
Wanita paruh baya itu tersenyum hangat pada anaknya, Sasuke. Nyonya Uchiha Mikoto itu begitu senang melihat Sasuke yang mau mejemputnya di bandara. Selama ini ia mengira bahwa Itachi lah yang akan menjemputnya karena ia yakin Sasuke tak akan mau untuk menjemputnya. Tapi, perkiraannya salah ternyata salah. Sasuke datang untuk menjemput kedatangannya. Wanita yang baru saja kembali lagi ke Kota kelahirannya—Konoha itu terus saja tersenyum sumringah. Sasuke yang melihat Ibunya yang dari tadi tersenyum pun jadi berpikir-pikir wanita yang ada dihadapannya itu memang ibunya atau bukan sih? Kok jadi aneh begitu?
"Kenapa tersenyum begitu?" tanya Sasuke dengan wajah yang tak kalah kecut dari tumpukan sekarung jeruk nipis. Nyonya Mikoto itu terenyum, rupanya anaknya ini masih belum bisa memaafkannya.
"Aku senang Sasu-chan datang menjemputku." ungkapnya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu." marahnya, "bukan kah harusnya Kaa-san kecewa karena bukan Itachi yang menjemputmu?" Uchiha Mikoto itu tertawa renyah. "Kaa-san hanya ingin dijemput oleh Sasu-chan."
Saauke diam. Ia tahu kalau Ibunya itu tengah berbohon padanya. Mana mungkin Ibunya itu ingin dia yang menjemputnya, sudah pasti Mikoto ingin Itachi yang menjemputnya, bukan dirinya.
"Kaa-san tidak bohong, jika itu yang kau pikirkan."
"Hn."
Mikoto langsung mengacak rambut Sasuke. Entah mentah mengapa ia merasa gemas dengan kelakuan puteranya itu. Sedangkan Sasuke hanya mendecih karena merasa diperlakukan seperti anak kecil.
###
"Terima kasih," ucap Itachi kepada Sasuke sesaat setelah Sasuke pulang mengantar ibunya.
"Hn," jawabnya. "Lain kali kau yang menjemputnya, aku tak mau." Sasuke langsung membanting pintu kamarnya, sepertinya perasaannya bertambah buruk ketika bertemu dengan ibunya. Sedangkan Itachi hanya menyeringai mendapati kelakuan adiknya itu.
###
"Tidurlah," ucap Pein kepada Hinata. Hinata hanya mengangguk dalam selimut tebalnya.
"Kau yakin tidak mau pulang?"
"Aku ... aku akan pulang besok," jawabnya lirih. Pein hanya tersenyum tipis. Ia sangat senang Hinata mau pulang. Setidaknya perempuan itu mau mendengarkannya, biasanya dia akan menolak mentah-mentah nasehatnya.
"Aku akan mengantarmu besok. Tidurlah."
"Hu'um." Pein mengecup kepala Hinata sebelum berlalu dan menutup pintu kamarnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Maaf ya baru bisa di update, padahal udah sejak bulan desember 2011 kemarin mau saya update, tapi lagi males. Dan gomen—lagi—karena ceritanya pendek, kurang memuaskan de-el-el si author geblek ini lagi buntu ide soalnya. Semoga di chap depan bisa lebih panjang dan lebih baik tentunya.
Akhir kata, terima kasih udah mau membaca sampe pol. Maaf, belum bisa membalas reviewnya, tapi saya sangat senang kalian masih ada yang mau membaca plus mereview.
So, mind to review?
