Don't Recall

Chanyeol x Baekhyun

YAOI / Boys Love

Chanyeol, Baekhyun (EXO)

Big Matthew/ Kim Uh Jin (KARD), Ahn Jae Hyun dan Goo Hye Sun,

Oh Sehun (EXO) Jung Jaehyun (NCT #127)

IV

..

.

Setelah mengucapkan kata terimakasih, Sehun memutuskan untuk langsung kembali ke ruang tunggu yang memang disiapkan oleh pihak Nylon Magz Korea untuknya. Pria tinggi itu mendudukkan dirinya pada sebuah kursi yang menatap langsung kearah luar jendela, dari atas sana ia dapat melihat gerombolan anak muda yang sepantaran dengan putranya sedang berkumpul dan berjalan bersama, mengulas sebuah senyuman pria itu mengambil ponsel dan menghubungi putranya, cukup lama ia menunggu namun putranya tidak mengangkat telepon dari Sehun

"Aku rasa dia sudah mulai dengan dunianya sendiri" monolog Sehun dalam hati

Pria itu bangkit dan berjalan turun menuju basement parkir mobil yang disediakan disana, setelahnya hanya deru mobil miliknya yang terdengar melewati malam di Seoul

.

.

.

Baekhyun yang membawa kopernya hanya bisa menundukkan kepalanya saat beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan penuh selidik, belum lagi perut buncit nya yang sedikit terlihat karena tidak memakai apa – apa hanya sebuah sweater yang sedari pagi ia pakai,

Baekhyun sangat menyedihkan, bagaimana ia mengusap perutnya karena kelaparan dan belum sama sekali memakan apapun semenjak datang dari rumah sakit, namun sampai dirumah ia sudah diminta untuk angkat kaki karena apa yang ia lakukan sendiri. Sekarang sudah masuk musim gugur, tentu angin akan semakin berhembus dan suhu dingin tak dapat dielakkan lagi, apakah Baekhyun membawa dompet? Bagaimana dengan gajinya? Kartu Baekhyun dibekukan beserta dengan gajinya yang ia tempat kan pada kartu yang sama yang diberikan ayahnya, tidak ada sepeserpun dalam dompet Baekhyun, dan perutnya lapar

Apartemen luhan? Lupakan … bahkan sedari tadi Baekhyun menghubungi temannya itu ponselnya tidak aktif,

Dipikirannya ada satu tempat yang sangat ingin ia tuju, tapi itu sama dengan menghancurkan harga dirinya mengingat bagaimana waktu itu ia pergi dari sana dengan sumpah serapah yang ia keluarkan dengan tegas, pikirannya berkata jangan namun kakinya lebih digerakkan oleh hatinya

Baekhyun tetap melangkahkan kakinya menuju La Grande

Ke tempat ayah dari bayi yang ada di kandungannya

.

.

.

"Noona, aku ingin bertanya padamu" Ucap Chanyeol sambil menatap kakaknya yang saat ini berada di apartemennya, Yoora tersenyum dan menganggukan kepalanya "Katakan, ada apa Yeol?" Chanyeol menggeleng lalu menggaruk tengkuknya, "Aku sempat membereskan tas noona yang terjatuh karena aku menyenggolnya tadi …"

Yoora menatap adiknya "Lalu?"

"Aku melihat sebuah gambar sonografi" Sambung Chanyeol, Yoora mengagguk "Itu pasienku"

Chanyeol mengangguk mendengar ucapan kakaknya, niatnya untuk mencari informasi lebih mengenai Baekhyun dan bayi di kandungan pria itu semakin terbuka lebar "Aku tak mengerti maksud gambarnya tapi kelihatannya bayinya sehat"

Yoora mengangguk "Bayinya memang sehat, namun berat badannya kurang"

Chanyeol mengrenyitkan alisnya "Apa … um … ibunya tidak makan?" Yoora menghela nafasnya "Dia makan, namun pasti sedikit tertekan"

"Maksud noona?" Jantung Chanyeol berdegup sedikit lebih kencang dari sebelumnya

Yoora menatap adiknya "Ini mungkin agak aneh untukmu, namun karena kau tak mengetahuinya akan Noona beritahu padamu …" Chanyeol menelan ludahnya, alisnya berkerut dan menatap intens kakak perempuannya "… dia seorang lelaki yang dapat hamil"

Chanyeol yang diam membuat Yoora melanjutkan kata – katanya "Dia seorang pria yang baik hati, sangat manis dan menggemaskan … sekarang sedang hamil dan umur kandungannya lima bulan, bayinya sehat namun berat badannya masih kurang, seperti yang noona katakan tadi mungkin sang ibu tertekan, oleh karena itu … sedikit berimbas pada kandungannya"

"Dan …" Yoora menggantung kata – katanya, "Dan apa Noona?"

"Sayang sekali pria yang menghamili pria itu tidak mau bertanggung jawab, benar – benar kurang ajar … mengingatkan aku pada perpisahan ibu dan ayah" sambung Yoora,

Chanyeol diam dan menundukkan kepalanya, mendengar penuturan kakaknya mengenai Baekhyun dan kandungannya membuat hati Chanyeol tersayat, Chanyeol memang bajingan namun ia tak menyangka ia juga akan menjadi alasan nantinya seorang anak tidak akan memiliki orang tua yang lengkap

"Kau kenapa diam Yeol-ah?" Tanya Yoora sambil meletakkan beberapa sayuran di kulkas Chanyeol, pria itu menggeleng "Tidak apa – apa noona"

"Cha~ sudah, aku akan pulang sekarang … makan yang benar Yeol, ini sudah aku isikan sayuran dalam kulkasmu, mengerti?" Ucap Yoora, pria itu mengangguk dan setelahnya Yoora beranjak pergi dari apartemen adiknya itu

.

.

.

Baekhyun saat ini berdiri lagi di depan La Grande semenjak beberapa bulan lalu ia menginjakkan kaki ditempat ini. Pria itu tidak mempunyai tempat tujuan entah kemana ia harus pergi … yang terpenting sekarang pria itu harus mendapatkan tempat untuk istirahat agar dirinya dan bayinya tidak kedinginan

"Selamat malam Tuan Baekhyun" sapa seorang bellman, pria itu mengangguk "Selamat malam ahjussi, saya sudah memiliki janji dengan Tuan Park" bellman itu menatap Baekhyun dan koper di genggamannya lalu membukakan pintu untuk pria itu "Silahkan Tuan Baekhyun"

"Terimakasih"

Setelah menyelesaikan urusannya dengan resepsionis, akhirnya pria itu diizinkan untuk bertemu dengan Chanyeol yang kebetulan saat ini berada di apartemennya, pria cantik itu melangkahkan kaki menuju salah satu lift yang ada disana dan menunggu agar lift tersebut turun

6

5

4

3

2

1

Ting

Pintu lift terbuka dan Baekhyun masuk setelahnya, setelah menekan angka enam pria itu segera menutup pintu lift, tidak mengetahui bahwa Yoora baru saja keluar dari sisi lain lift tersebut dan melangkahkan kaki menuju mobilnya yang diparkir diluar La Grande

Pintu lift terbuka ditandai dengan bunyi denting halus yang menyapa pendengarannya, pria itu keluar dari lift dan melangkahkan kakinya menuju kamar nomor 14 di lantai 6, perasaannya was was, pikirannya berkecamuk, namun lebih daripada itu, Baekhyun merasa inilah yang seharusnya ia lakukan, meskipun pria marga Park itu menolak dengan jelas kandungannya beberapa bulan yang lalu

Baekhyun menekan bel di depan pintu silver itu dan menunggu dengan harap – harap cemas, sementara didalam sana Chanyeol yang masih mendundukkan kepalanya hanya langsung menekan tombol untuk membuka pintunya tanpa melirik ponselnya yang menampilkan gambar Baekhyun dilayarnya

"Ada apa lagi Noona?" Ucap Chanyeol saat mendengar derap langkah kaki yang ringan seakan pemilik kaki itu sangat sungkan untuk menginjakkan kaki disana, Chanyeol yang saat itu masih fokus pada kulkasnya tidak menyadari bahwa bukan Yoora yang beridiri di belakangnya melainkan …

"Baekhyun"

Chanyeol terbelalak, namun Baekhyun masih menundukkan kepalanya takut – takut,

Chanyeol menatap Baekhyun dari atas kebawah, bahunya sangat sempit, pipinya tirus, terakhir yang dilihat pria itu ada sedikit rona merah di pipi gembil Baekhyun, namun sekarang sirna … lengannya sangat kurus … mungkin benar, saat ini Baekhyun sedang tertekan dengan apa yang dihadapinya …

"Duduklah" Ucap Chanyeol. Pria dihadapan Chanyeol mengangguk dan mengambil tempat duduk tepat dihadapan Chanyeol

"Ada apa datang kemari?" Tanya pria itu sambil menatap Baekhyun yang masih menundukkan kepalanya, dengan gerakan pelan Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol lekat di matanya "Aku hanya tidak tau aku harus kemana, aku … diusir"

Chanyeol menatap tajam Baekhyun yang sekarang kembali mendundukkan kepalanya "Lalu mengapa tujuanmu kemari? Menurutmu disini dinas sosial?" Sarkas pria berambut permen kapas itu, Baekhyun masih menundukkan kepalanya "Kau benar, aku tak seharusnya kemari" Baekhyun bangun dan memutar tubuhnya "Sebentar …" Suara berat Chanyeol menghentikan pergerakan Baekhyun yang sekarang hampir menitikan air matanya

"Duduk dan makanlah sesuatu, dinas sosial selalu memberikan makan bukan pada yang membutuhkan?" Kata – kata pedas Chanyeol menusuk hati Baekhyun, ia sangat ingin menampar Chanyeol dan pergi dari sana namun ia ingat ada satu nyawa lagi yang sangat membutuhkan dirinya, "Kau benar, anggaplah aku peminta – minta … karena disini dinas sosial maka izinkan aku dan anakku meminta sedikit makanan" Baekhyun tersenyum getir menatap Chanyeol yang sekarang mengendikkan bahunya seakan tak peduli

"Tak ada pelayan disini, silahkan buat makananmu sendiri" Chanyeol mengambil wine glass dan sebuah white wine lalu melangkahkan kakinya untuk duduk dihadapan pria itu

Menuangkan wine dengan sangat angkuh berbeda dengan Baekhyun yang kebingungan apa yang harus ia lakukan … menemukan sebuah ramyeon, akhirnya pria itu memutuskan untuk memasak ramyeon dan meminta satu butir telur milik Chanyeol yang semula diletakkan oleh kakaknya, Yoora

Chanyeol menatap gerakan Baekhyun, mendengar penuturan kakaknya tentang berat badan kandungan Baekhyun yang kurang dan bagaimana tertekannya pria itu membuat Chanyeol merasakan kesakitan yang sama, ia ingin memberikan perhatian pada Baekhyun, namun segala yang diucapkannya hanya mampu mengeluarkan kata – kata kasar menyayat hati.

Dan melihat Baekhyun yang memasak ramyeon membuat Chanyeol berang sebenarnya, ia menggengam erat tangkai wine glass nya, ia ingin berteriak di samping telinga pria itu bahwa Baekhyun seharunya tidak makan makanan instan, bayi Chanyeol dalam kandungan Baekhyun perlu makanan yang bergizi, namun siapa Chanyeol? Bahkan ia adalah pria yang sama yang menolak dengan keras kandungan Baekhyun, dan secara langsung membuat pria yang ada dihadapannya itu menjadi mengenaskan seperti sekarang

Geraman amarah Chanyeol tak selaras dengan Baekhyun yang tersenyum sambil mengaduk ramyeon miliknya yang hampir matang, tak perlu waktu lama pria itu mematikan kompornya dan mulai mengambil ramyeon dengan sumpit ditangannya lalu menjadikan tutup pancinya sebagai piring, Chanyeol menatap punggung Baekhyun yang sempit, saat ini sedang menikmati ramyeon miliknya

"Setidaknya duduk saat makan, kau tidak pernah diajari tata krama?" Ucapan Chanyeol yang sangat kasar membuat Baekhyun mengehentikan pergerakannya, senyumannya langsung memudar, "Izinkan aku berkata satu hal padamu Tuan Park …" Baekhyun memutar tubuhnya dan menatap Chanyeol yang sekarang sedang berada dibelakangnya duduk menyilangkan kaki dan sebuah wine ditangannya

"Cih … Angkuh"

Chanyeol mengangkat wine glass nya mendengar ucapan Baekhyun yang mengatakan dirinya angkuh "Itukah yang mau kau katakan?" Baekhyun menggeleng "Jangan bawa kedua orang tuaku, mereka sudah mendidiku dengan baik meskipun sekarang aku tidak dianggap putra lagi oleh mereka, malah aku merasa sedih pada kedua orang tuamu … Bagaimana cara mereka membesarkanmu? Apa orang tuamu tidak mengajarkan kata "bertanggung jawab" atas apa yang kau katakan? Kau lakukan? … Aku kasihan pada mereka" Smirk Baekhyun menutup kalimatnya

Chanyeol tersenyum mengerikan, lalu

Prangg

Ia melempar wine glass miliknya kearah Baekhyun, lebih tepatnya kearah samping kiri Baekhyun yang langsung mengenai kulkas Chanyeol "Bicaramu tuan Byun" Chanyeol geram namun Baekhyun yang terkejut hampir menitikan air mata

"Aku tidak pernah memiliki orang tua …" Chanyeol bangkit dan mendekati Baekhyun, pria kecil dihadapan Baekhyun mundur perlahan namun sayang sekali meja dapur adalah batas terakhir pria itu dapat mundur perlahan

"… dan aku paling tidak suka jika seseorang membawa kata orang tua" Chanyeol meletakkan tangan besarnya di leher Baekhyun, pria itu berusaha mencekik Baekhyun … matanya seakan menghitam tak melihat Baekhyun sudah memukul tangan dan dada Chanyeol bergantian minta dilepaskan

Tersadar dari kebodohannya, akhirnya Chanyeol melepaskan cekikannya pada leher Baekhyun, pria itu mundur perlahan … "Aku sangat bersyukur kau menolak anak didalam perutku, sehingga nantinya ia tidak tumbuh besar menjadi bajingan kasar sepertimu !" Baekhyun terbatuk dan menekan dadanya saat mengucapkan kata – katanya

"Terimakasih makanannya…" Baekhyun melewati Chanyeol yang masih terpukul atas apa yang barusan ia lakukan, terlebih saat ia memutar tubuhnya ia melihat Baekhyun yang bertatapan langsung dengan …

"Noona?"

"Dokter Yoora?"

.

.

.

Sehun malam itu langsung naik ke apartemennya di La Grande yang ada di lantai empat, menekan password dan membuka pintu apartemennya. Hanya gelap yang dilihat oleh pria itu, namun saat menghidupkan lampu ruang tengah apartemennya ia melihat putranya sedang duduk dan tertidur dengan buku matematika di pangkuannya dan masih mengenakan seragam. Sehun tersenyum kecil, bagaimanapun Jaehyun adalah putranya meskipun bukan anak kandung namun membesarkan dan mencintai Jaehyun sebagai putranya sudah ia lakukan semenjak enam belas tahun yang lalu.

Sehun lelah, sangat terlihat jelas wajah penat Sehun karena pemotretan yang ia lakukan sedari pagi hingga malam, namun ia tetap melangkahkan kaki kearah dapur dan mengambil sebuah gelas lalu membuatkan putranya itu segelas susu. Kasih sayang Sehun pada putranya tidak main – main, begitu sebaliknya dengan Jaehyun yang sangat mencintai ayahnya

Selesai membuatkan susu untuk jaehyun, Sehun langsung melepaskan jaket yang ia pakai dan meletakkan susu jaehyun di dalam kulkas, mengingat bagaimana senangnya putra Sehun itu meminum susu dingin, setelahnya Sehun langsung turun untuk membelikan makan malam untuk putranya karena ia tau putra kesayangannya belum sempat makan apapun

Mengesampingkan kelelahan yang ia rasakan, ia hanya ingin menjadi ayah dan panutan yang baik untuk putranya. Sehun berjalan pelan menuju lift yang ada di lantai apartemennya dan menunggu

Ting

Pintu lift terbuka dan menampilkan seorang pria yang berdiri sambil menundukkan kepalanya beserta koper di sebelah tangannya, Sehun mengrenyitkan alisnya … pria itu merasa ia mengenal pria dihadapannya itu "Maaf sebelumnya, apa anda akan masuk" ucap pria dihadapan Sehun, pria tinggi itu menganggukan kepalanya

"Oh? Nok Bin Hong An?" Sapa Sehun saat menatap wajah Baekhyun dari samping, Baekhyun mengangkat kepalanya karena tidak mengerti atas apa yang dikatakan oleh pria tinggi disebelahnya "Oh ... Oh … Oh Sehun" ucap Baekhyun pelan, Sehun mengangguk dengan senyumannya, "Saya Oh Sehun, maaf jika saya lupa … tapi siapakah nama anda?"

"Baek …"

Brukk

Baekhyun pingsan dan beruntung sekali Sehun ada disana untuk menangkap tubuh Baekhyun

Sehun yang terkejut melihat pria disampingnya pingsan hanya mampu memapah tubuh kecil itu dan menarik koper yang dibawa oleh Baekhyun dengan sebelah tangannya. Perlahan namun pasti pria itu membuka pintu apartemennya dan merebahkan di tempat Jaehyun tertidur barusan

"Dad" Sapa Jaehyun saat melihat punggung dan bahu lebar ayahnya

Sehun memalingkan wajahnya dan menatap putranya "Ya Jae, kau sudah mandi?" Jaehyun mengangguk "Di dalam kulkas ada susu, namun mungkin belum dingin" Sambung pria itu, Jaehyun mengangguk "Thank You daddy, but who is he?"

"Daddy menemukannya pingsan saat di lift tadi …." Jaehyun mengangguk lalu menatap wajah Baekhyun lamat – lamat, "Aku umm …ah daddy kau ingat aku pernah berkata melihat seorang pria menangis dan aku juga menjadi sedih beberapa waktu lalu" Sehun mengangguk "Pria ini orangnya daddy"

"Ahh, jadi pria ini yang bertamu ke lantai enam … Jaehyun-ah kau sudah makan malam?" Sambung Sehun, putranya itu menggeleng "Daddy juga belum, maukah kau ke supermarket depan dan membeli beberapa macam sayuran dan daging … sepertinya kita kedatangan tamu"

Jaehyun mengangguk lalu meletakkan handuk yang berada dikepalanya

Sehun duduk dan menatap pria yang sedang tertidur dihadapannya, rambut hitamnya sedikit panjang dari terakhir Sehun bertemu dengannya, pipinya sangat tirus dan saat Sehun turun melihat tubuh Baekhyun ia melihat perut pria dihadapannya itu menggembung "Apa dia memiliki masalah dengan perutnya?" gumam Sehun pelan

Cukup lama, akhirnya Baekhyun membuka matanya dan pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah lampu di langit - langit ruangan, menutup matanya dengan sebelah tangan akhirnya pria itu memutuskan untuk bangun dan mendudukkan dirinya

Baekhyun mengusap perutnya "kau tak apa di dalam sana?, maafkan ibu harus membuatmu mendengar ucapan yang tak seharusnya kau dengar nak" ucap Baekhyun pelan,

Sehun terdiam mendengar ucapan Baekhyun yang saat ini sedang membelakanginya, "Ibu? … Nak?" ucap Sehun pelan, Baekhyun terkesiap dan menutup mulutnya, lalu Sehun dengan cepat duduk dihadapan Baekhyun

"Maksud anda?" Tanya Sehun, Baekhyun menggeleng masih dalam kediaman yang ia ciptakan

"Tak apa, anda dapat bercerita padaku" Sambung Sehun, Baekhyun menatap wajah Sehun lekat, bimbang apakah harus menceritakan semuanya atau tetap bungkam, "Aku adalah seorang yang bisa dipercaya" Ucap Sehun final

Baekhyun menundukkan kepalanya "Sebelumnya anda mungkin akan merasa jijik padaku … aku saat ini sedang hamil" Sehun menatap lekat Baekhyun, dan membuat pria dihadapannya itu semakin menundukkan kepalanya "Mengapa aku harus jijik pada anda?"

Mendengar ucapan Sehun, Baekhyun memberanikan diri menatap pria dihadapannya "Benarkah?" Sehun mengangguk dengan senyumannya "Anda mendapatkan kelebihan yang bahkan laki – laki lain atau perempuan lain diluar sana tidak bisa dapatkan, lalu mengapa anda menangis dan sampai pingsan di lift tadi?" Sambung Sehun, Baekhyun menitikan air mata "Hanya saja, aku … tidak dapat meminta pertanggung jawaban dari seseorang yang menghamiliku"

Sehun terdiam, mengingat kata putranya hanya dua orang yang tinggal di lantai enam, yaitu Nenek Hong dan Tuan Park, dan hanya ada satu nama yang terlintas dipikan Sehun tentang siapa ayah dari kandungan Baekhyun

"Saya Baekhyun" Ucap Baekhyun pelan

"Saya Oh Sehun" Sambung pria itu

"Apa yang terjadi pada anda Baekhyun-ssi" Tanya Sehun pelan, Baekhyun tersenyum "Ayahku pembenci kaum Gay, dan mengetahui aku seorang gay lebih – lebih sedang mengandung membuatku diusir dari rumah" Sehun menganggukan kepalanya

"Baekhyun-ssi?"

Baekhyun menatap wajah model yang duduk dihadapannya "Bagaimana jika aku yang menjadi ayah untuk bayimu?"

Ia terdiam melihat Sehun dengan senyuman khasnya …

.

.

.

Yoora saat ini sedang duduk di sofa panjang milik Chanyeol, dimana pemiliknya sedang berdiri menatap pemandangan dari jendela besar apartemennya, seperti yang biasa ia lakukan

Yoora menghela nafasnya

"Jadi kau bertanya tentang sonografi itu karena ingin mengetahui tentang bayi di kandungan Baekhyun?" Ditatapnya Chanyeol yang sedang terdiam sambil menganggukan kepalanya "Mengapa kau menjadi seorang yang mirip seperti ayah dan ibu Chanyeol-ah?" Chanyeol menatap kakaknya "Jangan samakan aku dengan mereka berdua Noona!" Bentak Chanyeol

"Lalu apa bedanya kau dengan mereka yang menelantarkan anak masing – masing Chanyeol!" Yoora berteriak membuat Chanyeol membelalakkan matanya, ia tak pernah melihat kakak perempuannya berteriak padanya,

"Hentikan Noona"

Yoora mengusap air matanya yang turun "Kau tak tau apa yang pria itu alami, bagaimana takut dan depresinya dia, lebih – lebih aku menemukan kenyataan kau ayahnya dan kau dengan kurang ajarnya memberikan kata – kata kasarmu pada Baekhyun, aku …." Yoora bangun dan mendekati Chanyeol

"…Aku sama bersyukurnya dengan Baekhyun, kau menolaknya Chanyeol-ah!" Sambung Yoora menatap penuh amarah pada adik kandungnya itu

Plakk

Yoora menampar wajah adiknya membuat pipi pria itu sedikit memerah

"Aku harap kau segera menyadari kesalahan besar apa yang telah kau lakukan Park Chanyeol" Ucap Yoora final dan meninggalkan Chanyeol yang menundukkan kepalanya

.

.

.

Bau aroma daging menyeruak di ruang makan milik salah satu seorang super model kelas dunia, terlihat bagaimana seorang yang memiliki bahu lebar dan senyum rupawan itu membolak-balikkan daging dihadapannya dan membuat kedua orang pria dihadapannya menjilat permukaan bibirnya karena kelaparan

Sehun yang menatap pemandangan bagaimana Baekhyun dan putranya Jaehyun menatap lapar daging dihadapan mereka hanya mampu tersenyum lalu memotong sebuah daging dan memberikannya pada Baekhyun,

"Dad, aku bahkan menawarkan piringku dan kau sampai hati tidak memberikan padaku pertama kali" Ucap Jaehyun sambil menekuk bibirnya

Sehun tertawa namun Baekhyun tak enak hati mendengarnya

"Jae ..."

Baekhyun memindahkan daging yang diberikan Sehun di piringnya tadi ke piring milik putra Sehun yang masih merajuk, Jaehyun mengangkat wajahnya dan menatap Baekhyun yang tersenyum dengan sangat manis

"Hyung tidak apa – apa, kau makan lah duluan … bayi dalam perutmu perlu makan kan?" Sekarang ganti Jaehyun yang tak enak hati pada Baekhyun, pria paling manis diantara mereka bertiga menggelengkan kepalanya "Tak apa – apa Jaehyun-ah, makanlah lebih dulu"

"Benarkah hyung?" Tanya jaehyun dengan matanya yang berbinar

Baekhyun semakin memberikan senyuman manisnya "Tentu, makanlah Jaehyun-ah"

Melihat interaksi kedua orang dihadapannya membuat Sehun semakin tersenyum, ia melihat sebuah kehangatan lain dihadapannya, bagaimana putranya yang langsung dekat pada Baekhyun bahkan terlihat excited dengan bayi di dalam kandungan Baekhyun, dan bagaimana pembawaan Baekhyun yang sangat ceria mampu menaklukan hati Jaehyun

Sehun melihat sebuah keluarga

Sebuah kehangatan keluarga

"Makan yang ini sekarang Baekhyun-ah" Sehun memberikan potongan daging yang lain pada Baekhyun dan diterima dengan anggukan kepala oleh pria itu, "Anda juga harus makan Sehun-ssi"

Sekarang ganti Sehun yang mengangguk dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibir tipisnya

Makan malam yang tak pernah kedua pria disamping Baekhyun rasakan, sebuah kehangatan lain, Jaehyun menemukan sosok yang lebih perhatian di hal – hal kecil pada diri Baekhyun, dan Sehun menemukan sosok yang ia rasa perlu lindungi


Terlihat Sehun dan Jaehyun sedang bersama – sama mencuci piring dimana Sehun yang mencuci dan pria remaja yang mirip Sehun itu mengeringkan piringnya, Baekhyun ingin membantu … terlihat dari bagaimana ia kebingungan tentang hal apa yang harus ia lakukan untuk membantu. Gelagat Baekhyun yang kebingungan membuat Sehun tersenyum

"Anda tak perlu banyak begerak Baekhyun, duduklah …" Ucap Sehun sambil memberikan sebuah mangkuk pada Jaehyun

"Ne, Hyung duduklah … aku ada kacang pistachio di kulkas, bagaimana kalau kita makan itu sambil menonton televisi?" Sambung Jaehyun, Baekhyun tersenyum lalu menganggukan kepalanya. Dihadapannya ia melihat kedua orang yang sangat baik hati, tak menyangka bahwa seorang supermodel macam Sehun memiliki seorang putra dan kehidupan aslinya sangat baik hati berbeda dari image dingin yang selalu ia tampilkan

"Selesai, ayo duduk …" Ucap Jaehyun sambil melepas sarung tangan karet merah muda milik pasangan ayah-anak itu, Jaehyun mengambil satu toples penuh kacang pistachio dan menuntun Baekhyun duduk disebuah kursi panjang yang ada disana "Duduk disini hyung …" Pinta Jaehyun sangat lembut, dan Baekhyun mengangguk mengikuti permintaan anak remaja disampingnya ini "Pelan .. pelan Hyung" ditambah lagi perhatian Jaehyun pada bayi kecil yang ada di kandungan Baekhyun

Sementara Sehun yang menatap interaksi dua orang berbeda usia dihadapannya tersenyum manis, dipikirannya tergambar bahwa Baekhyun adalah pasangannya dan Jaehyun putranya akan menjadi seorang kakak untuk bayi Baekhyun. Namun ia harus kembali kepada kenyataan yang diterimanya beberapa saat lalu

"Bagaimana jika aku yang menjadi ayah untuk bayimu" Ucap Sehun sambil memberikan senyum termanisnya. Raut wajah keterkejutan Baekhyun tak dielakkan, bibirnya terbuka menampilkan dua buah giginya yang sangat manis, bahkan Sehun berfikir bagaimana bisa ada seorang pria yang sangat cantik seperti ini

"Se ... Sehun-ssi" Pria itu gagap, bagaimana mungkin ia menjadi pasangan dari supermodel macam Oh Sehun, namun senyuman malaikat Sehun membuat nyaman dirinya sekali lagi, dipikirannya setidaknya anaknya nanti harus mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu-ayah, meskipun tak dipungkiri yang menjadi ibu disini adalah dirinya, namun itu semua hanya bayangan Baekhyun, ia tak mungkin masuk kedalam hidup seseorang dengan membawa anak yang ada dikandungannya

Baekhyun menggeleng "No, it's okay, aku hanya akan hidup berdua dengannya … aku akan pergi segera" Sehun mengrenyitkan alis tebalnya "Pergi? Kemana? Apa kau ada tujuan Baekhyun?"

Pria kecil dihadapan Sehun tersenyum "Aku akan pergi ke Belgia, dimana aku dan anakku kelak nantinya dapat diterima"

Sehun terdiam, ia ditolak … Baekhyun sangat attractive dengan segala yang dimilikinya, rambut lurusnya, sipitnya yang hitam legam, bibir tipis dan senyuman manisnya, rahang pipi yang terlihat namun akan sangat lebih baik jika sedikit gembil seperti awal Sehun bertemu dengannya. Penolakan Baekhyun membuat Sehun tersenyum, "Kemana? Brussels?"

Baekhyun mengangguk dengan senyumannya, jangan lupakan rambut hitamnya ikut bergoyang lembut "Aku punya seorang kenalan di Brussels, dia seniorku di kampus dulu"

"Aku merasa sedih" Ucap Sehun pelan, Baekhyun menatap Sehun intens lalu dengan senyuman khasnya pria itu menatap Baekhyun "Aku ditolak dan kau akan pergi …" Baekhyun menatap Sehun dalam, ia mengerti maksud ucapan Sehun tentang bagaimana ia ingin menjadi sosok ayah untuk bayi di kandungan Baekhyun, namun keputusan Baekhyun pergi ke Brussel membuat Sehun kecewa

"Nanti datanglah sering – sering ke Brussels, bantu aku merawat bayiku" Ucap Baekhyun dengan senyuman manis disertai deretan gigi putihnya, Sehun yang menunjukan wajah sedihnya akhirnya tersenyum dengan anggukan kepala

Baginya tak apa jika tidak bisa menjadi ayah untuk bayi kandungan Baekhyun secara resmi, pendekatan perlahan … itu yang ada dipikiran Sehun

"Baiklah, aku setuju … Aku dan Jaehyun akan sering ke Brussel untuk mengunjungimu dan bayimu"

Keduanya tersenyum satu sama lain

"Dad, aku tak mendapatkan perilla, maafkan aku"

Ya, sebelum suara berat lainnya menginterupsi kedua senyum anak adam itu

"Dad! kemarilah … Jangan hanya berdiri dan melihat kami" Ucap Jaehyun dan Baekhyun menatap Sehun setelahnya

"Jaehyun mari hentikan acara makan pistachio dan biarkan Baekhyun hyungmu tidur, bagaimana?" Tanya Sehun, sebuah erangan didapatkan oleh Sehun dan Baekhyun, mengingat bagaimana serunya tadi Jaehyun dan Baekhyun berbincang dan mengomentari beberapa hal di televisi yang menarik perhatian mereka

"Hyung, aku sangat ingin mengobrol dengan Baekhyun hyung lebih lama, namun daddy benar, … But dad, where will Baekhyun Hyung sleep?" Baekhyun tersenyum lalu menatap jaehyun "Tak apa Jaehyun-ah, aku akan tidur disofa saja, lagipula aku sudah sangat beruntung dapat diterima disini"

Pasangan ayah dan anak itu menatap satu sama lain, hingga akhirnya yang termuda menggelengkan kepala, "Tidak hyung, tidurlah dikamarku … aku akan tidur dengan daddy" dan disetujui oleh Sehun setelahnya

Belum sempat Baekhyun menolak permintaan Jaehyun, Sehun sudah menyetujui usulan putranya itu

"Mari aku antar ke kamarku Baekhyun hyung" Jaehyun bangkit dan menuntun Baekhyun menuju kamarnya yang berada disamping kamar Sehun, Lagi … Sehun menatapnya bagaikan seorang keluarga, sebuah senyuman tercetak jelas di bibir tipisnya

"Hyung, apa kau akan lama disini, aku akan sangat senang mendapatkan teman" Ucap Jaehyun sambil berjalan disamping Baekhyun, Pria itu menggeleng "Tidak, aku akan pergi ke Belgia Jaehyun-ah"

"Belgia?" Jaehyun membelalakkan matanya sambil membuka pintu kamarnya, "... Silahkan masuk Hyung" sambung remaja itu, Baekhyun mengangguk "Mengapa tak tinggal disini saja Hyung? Aku sangat ingin melihat adik bayi lahir" Wajah Jaehyun yang tertekuk membuat Baekhyun tersenyum manis "Tentu kau dapat melihat adik bayi Jaehyun-ah, sering – seringlah berkunjung ke Belgia nantinya, Okay?"

"Okay Hyung, silahkan istirahat hyung … kalau hyung butuh air, di kulkas hyung boleh ambil sendiri, kalau hyung lapar umm …" Jaehyun berjalan kearah lemarinya dan mengambil sebuah toples berisi penuh chocochips cookies kesukaannya "Ini hyung … ini favorite ku, cokelat … Hyung makan saja" Jaehyun memberikan toplesnya pada Baekhyun, dan Baekhyun tersenyum menerimanya "Terimakasih Jaehyun-ah, kau sangat baik" Sambung Baekhyun

Jaehyun menggeleng "Daddy selalu mengajari untuk menjadi baik pada siapapun Hyung"

"Daddy mu mendidikmu dengan sangat baik Jaehyun-ah" Ucap Baekhyun, Jaehyun terkikik mendengar ucapan Baekhyun "Selamat malam hyung, Selamat malam adik bayi"

"Selamat malam Jaehyunnie oppa~" Balas Baekhyun sambil menirukan suara anak kecil, "Adik bayi nanti perempuan kah Hyung?" Tanya Jaehyun, Baekhyun menggeleng "Hyung juga belum tau" Ucap Baekhyun lembut sambil mengusap perutnya "Aku penasaran bagaimana rasanya menjadi kakak untuk adik perempuan, aku berharap dia perempuan Hyung" ucap Jaehyun

"Hyung juga berharap demikian"

Keduanya tersenyum dan menatap perut Baekhyun, pun begitu dengan Sehun yang memperhatikan interaksi kedua orang berbeda usia itu dari balik pintu kamar Jaehyun yang terbuka sedikit. Senyuman miliknya semakin kentara, ada harapan di benak Sehun bahwa nantinya ia dan Jaehyun putranya dapat menjadi bagian dari keluarga bersama Baekhyun dan bayinya

"Aku pergi sekarang ya hyung, malam" Belum sempat Jaehyun melangkahkan kakinya, Baekhyun sudah menghentikan pergerakan Jaehyun "Jaehyun ... Hyung mau bertanya"

Jaehyun mengangguk "Silahkan Hyung"

"Apa itu Nok Bin Hong An? Kau tau?" Tanya Baekhyun pelan, Jaehyun terdiam lalu tersenyum menganggukan kepalanya "Tau Hyung artinya seorang pria berambut hitam legam dan berwajah rupawan"

"Ahh …" Suara Baekhyun yang menggantung membuat kerutan di dahi putra Sehun itu "Ada apa Hyung?"

Baekhyun menggeleng "Tidak ada, Hyung akan istirahat sekarang … Selamat malam Jaehyun"

"Ne, Selamat malam lagi hyung dan adik bayi"

Jaehyun tersenyum lalu keluar dari kamarnya


"Baekhyun sudah istirahat Jaehyun?" Tanya Sehun saat melihat putranya memasuki kamarnya yang memiliki warna putih sebagai warna utama, yang terlihat sangat bersih dan perfeksionis "Sudah dad, … Dad umm .. Why should Baekhyun hyung move to Belgia?" Sehun tersenyum dan menatap putranya "Dia mungkin berfikir bahwa disana adalah tempat yang menyenangkan Jaehyun-ah"

Jaehyun mengangguk, tentu remaja itu tidak mengetahui alasan sebenarnya mengapa Baekhyun memutuskan pergi ke Belgia, yang ia tau hanyalah sebatas bakhyun yang hamil dan alasan dibaliknya baik Sehun atau Baekhyun tidak memberi tau karena memang Jaehyun masih dianggap belum dalam usia pantas untuk mengetahui alasan dari kepergian Baekhyun

"Dad, should I change my scholarship to Belgia?"

"Why? I tought you want to meet grandma and grandpa in Albuquerque"

"Just, I wonder how it's feel having a little sister … Ya yang seperti daddy tau aku hanya sendiri, ketika Taeyong bercerita tentang bagaimana kakak perempuannya memakaikannya masker, atau Yuta yang berkata bahwa adik perempuannya sangat menggemaskan membuatku ingin memiliki seorang adik juga dad" Ucapan tulus Jaehyun membuat Sehun terdiam, "Begitukah?" Tanya Sehun, dan dijawab anggukan oleh Jaehyun putranya

"Jika itu memang bisa diganti kau boleh ke Belgia, jika tidak terpaksa kau harus tetap di Albuquerque Little Oh"

Jaehyun mengangguk mengerti "Aku akan berusaha lebih giat dad, agar setidaknya aku bisa berada di daratan Eropa agar lebih dekat …"

"Right … Let's sleep baby boy … You want me to play twinkle twinkle little star?"

"Stop it daddy, ugh! Good Night" Jaehyun langsung menyembunyikan tubuhnya pada bed cover Sehun yang ditatap oleh kekehan kecil oleh ayah pria itu

"Good night Oh Sehun's junior" Ucap Sehun sambil mematikan lampu yang berada di sudut kamarnya lalu naik dan tidur bersama putranya

.

.

.

Baekhyun duduk sambil menatap pemandangan larut malam di kota Seoul dari lantai empat apartemen Sehun, dirinya sekarang berada di satu building yang sama dengan pria yang menolak dengan keras dirinya dan bayi di kandungannya, ingatannya ia bawa pada beberapa saat yang lalu, tepat dua lantai diatasnya …

"Noona"

"Dokter Yoora" Ucap keduanya bersamaan, dokter berambut pendek dan memiliki senyuman manis itu menatap penuh kebingungan pada kedua orang dihadapannya, matanya menahan amarah, bibirnya mengatup dan berjalan mendekati keduanya

"Kau mendengar semuanya Noona?" Tanya Chanyeol

"Noona?" Baekhyun menatap Chanyeol dan Yoora bergantian, ia melihat berbagai kemiripan pada dua orang dihadapannya, mata besar milik keduanya yang paling kentara. Kakinya melemas namun dengan gerakan cepat dirinya bertahan pada sebuah kursi yang ada disana

Yoora yang melihat Baekhyun terkejut langsung mendekatkan dirinya pada Baekhyun "Baekhyun-ah" Air mata menggenang di pelupuk mata Yoora melihat bagaimana keterkejutan dan shock nya Baekhyun saat ini

"Dokter …"

Baekhyun yang tak mampu melanjutkan kata – katanya hanya mampu diam sambil menitikan air mata, dan dengan satu gerakan Yoora memeluk tubuh Baekhyun yang saat ini memutuskan untuk mendudukkan dirinya di lantai

"Maafkan Noona Baekhyun-ah … Maafkan Noona" Yoora menitikan air mata saat melihat kediaman Baekhyun dengan air mata yang terus menetes pada dua belah mata sipitnya "Maafkan Noona Baekhyun-ah"

Pemandangan keduanya yang berpelukan satu sama lain sambil mendudukkan diri mereka di lantai membuat hati Chanyeol seperti diremas oleh jutaan tangan tak kasat mata, bagaimanapun ia yang bersalah disini, namun dirinya terlalu ego untuk ikut duduk atau setidaknya berucap kata maaf

"Noona … Jangan duduk di lantai" Ucap Chanyeol sambil mengalihkan pandanganya, kepalanya terasa sakit melihat semuanya dan saat mengalihkan pandangannya lah air mata turun pada pipi Chanyeol

Mendengar ucapan adiknya, Yoora langsung bangkit dan berdiri dibelakang Chanyeol "Kau sangat brengsek Chanyeol-ah … Noona kecewa padamu"

Chanyeol tersenyum namun matanya menitikan air mata lagi

Baekhyun bangun dengan kesusahan ditambah dengan perutnya yang semakin membesar "Dokter Yoora aku harus pergi"

Yoora terkesiap lalu menahan Baekhyun "Makanlah dulu Baekhyun, disini bukan dinas sosial, disini tempatku juga … maafkan Noona kau harus mendapatkan perlakuan semacam ini, Ne?" Yoora tersenyum namun matanya menitikan air mata, Baekhyun mengusap kasar air matanya "Saya sudah meminta sedikit ramyeon disini Dokter Yoora"

Mendengar kata "meminta" memberikan hantaman pada diri Chanyeol, seharusnya pria kecil itu tak perlu meminta, ia harusnya mendapatkan apa yang ia mau, namun sekali lagi … Ego Chanyeol mengalahkan semuanya

"Dokter saya … harus pergi" Baekhyun tersenyum sambil menggenggam tangan Yoora, "Terimakasih sudah membantuku merawat bayiku selama ini" Pria itu menitikan air mata lagi,

"Baekhyun-ah … Baekhyun-ah …" Yoora berusaha menahan Baekhyun namun pria itu sudah mengukuhkan hati untuk beranjak dan tidak akan menginjakkan kaki lagi di lantai enam La Grande Apartment, melupakan semuanya, Chanyeol dan segala kenangannya …

Pria itu menghela nafasnya kuat dan setelahnya melangkahkan kaki menuju tempat tidur Jaehyun untuk memejamkan matanya

Lain halnya dengan pria lainnya yang berada di dua lantai diatas lantai empat, Chanyeol masih berdiri dan menatap pemandangan dari jendela besarnya, kejadian tadi masih membekas dihatinya … Mengingat Baekhyun dan tangisannya serta tamparan kakaknya membuat pria itu semakin menyadari kesalahannya

Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi tangan kanannya

"Siapkan janji dengan Diplomat Byun Jaehyun besok"

Setelah kata penuh ultimatum itu ia keluarkan … pria itu meletakkan ponselnya dan menyesap kembali wine nya "Maaf, karena kau harus mendengar ucapan kasar ayahmu nak"

.

.

.

Pukul 8:12 pagi, ketiga orang pria sudah berdiri di hadapan pintu keberangkatan internasional di Incheon International Airport

"Hyung … Jangan pergi ya, atau Daddy apa aku boleh libur beberapa hari aku akan menemani Baekhyun hyung ke Brussels" Rengek Jaehyun pada kedua pria dewasa dihadapannya, Sehun menggeleng dan Baekhyun memberikan senyumannya "Kau harus sekolah bukan Jaehyun? Bagaimana jika liburan saja kau ke Brussel?" Tawar Baekhyun,

Mau tak mau Jaehyun harus mengangguk mematuhi perintah dua orang dewasa dihadapannya

"Adik bayi sampai ketemu empat bulan lagi, kakak akan kesana …Libur tidak libur kakak akan menemani Baekhyun hyung melahirkan" Ucap Jaehyun sambil menatap ayahnya di akhir kata, sementara Sehun yang ditatap putranya hanya mampu terkekeh kecil

"Iya kak, nanti bermain denganku yaa~" Baekhyun balas menjawab sambil menirukan suara anak – anak

Sehun dan Jaehyun tertawa kecil karenanya, namun tawanya harus terhenti karena panggilan untuk segera ke gerbang II keberangkatan dari Incheon ke Brussels. Sehun mendekatkan dirinya pada Baekhyun lalu memeluknya "Sampai bertemu empat bulan lagi Baekhyun-ah"

Baekhyun mengangguk dalam pelukan Sehun lalu setelahnya ia menarik kopernya menuju boarding pass

Dan dibelakangnya pasangan ayah dan anak itu menatap kepergian Baekhyun "Andai Baekhyun hyung tetap disini" ucap Jaehyun sambil menghembuskan nafasnya

Diiyakan oleh ayahnya dalam hati

.

.

.

Ditempat yang berbeda jam yang sama, dua orang berbeda usia sedang duduk berhadapan satu sama lain. Byun Jae Hyun sedang duduk sambil menikmati kopi paginya di ruang tamu rumahnya yang terletak di Apgujeong

"Aku tak menyangka akan mendapat kunjungan dari anda ... Tuan Park"

Chanyeol meletakkan kopinya setelah menyesapnya pelan, "Anda benar, saya juga tak menyangka akan ada urusan yang akan saya bicarakan dengan anda"

"Baiklah … ada apa Tuan Park" Tanya Jae Hyun sambil menatap lekat Chanyeol dihadapannya

"Mengenai putramu … Byun Baekhyun"

Ucapan Chanyeol membuat Jae Hyun menatapnya semakin lekat dengan amarah yang terlihat jelas di wajahnya

Keterdiaman Jae Hyun membuat Chanyeol melanjutkan kata – katanya "Akan saya lanjutkan … Izinkan saya menikah dengannya" Tatapan mata Jae Hyun semakin tajam pada Chanyeol, "Maksud anda?" Jae Hyun berusaha menutupi gejolak amarah di hatinya

"Akan saya katakan bahwa saya yang menghamili Baekhyun dan saya akan bertanggung jawab untuk bayinya"

"Kau menghamili putraku? Hahaha"

Jaehyun yang tertawa membuat Chanyeol tersenyum "Pergilah dia bukan putraku lagi …" Jae Hyun yang semula ingin angkat kaki darisana akhirnya mengurungkan niatnya "Hah … memalukan ternyata anda juga seorang gay"

Chanyeol mengangguk "Anda benar … Saya gay, dan saya beruntung pasangan gay saya sedang hamil … Baiklah, setidaknya aku sudah meminta izin untuk menikahinya"

Chanyeol bangkit lalu meninggalkan Jae Hyun "Setuju atau tidak, saya akan menikahinya … Ayah mertua"

Jae Hyun semakin geram dibuatnya, pria itu melemparkan cangkir kopi miliknya dan menghembuskan nafasnya keras

Chanyeol mengambil ponselnya lalu menghubungi tangan kananya saat keluar dari kediama Jae Hyun

"Temukan Baekhyun"

Dua kata tegas, yang ditujukan untuk asisten pribadinya … Dan diujung lain dari sisi rumah itu terlihat Hye Sun sedang menitikan air matanya

"Baekhyun … kau dimana nak"

.

.

.

Chapter IV

Thank You untuk reviewnya … next chapter will be the end of this fiction

Preview next chapter

"Baekhyun … bagaimana keadaan Jiwon?"

"Baik … terimakasih sudah bertanya"

"Aku harus segera pergi Uh Jin-ah … dia mengetahui aku disini"

"Siapa? Katakan padaku"

"Tidak ada waktu … aku harus pergi"

"Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati, maafkan aku"

Setetes air mata jatuh di pipi pria itu saat menatap seorang gadis kecil dalam gendongannya

"Maafkan aku juga Jiwon-ah"