One Piece by Eiichiro Oda

Pairing: Doflamingo x Hancock

Note: 1. contains (amateur) adult scenes

2. "italic" means flashbacks/thoughts

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Drama, Slight Humor

Length: 4 chapters


"Wake up princess, I'm tired of your useless ideals. It's gotten pathetic. What good are your happy ideals if you can't do anything to make them a reality? They're nothing but dreams, and your dreams don't stand a chance."
― Sir Crocodile


.

.

.


Tiga pria besar yang menyandang gelar Eksekutif Tertinggi Dressrosa memasang ekspresi masam, dahinya berkerut-kerut menahan kesal sekaligus kebingungan. Bahkan, berbagai macam hidangan lezat di hadapan mereka pun tak disentuh sama sekali.

Corazon menghela nafasnya pelan. Dia sangat tahu apa yang membuat meja makan kali ini terasa begitu hambar.

Bagaimana tidak? Sudah dua pekan ini kakaknya seperti memelihara iblis tempramental dalam tubuhnya— walaupun dia sudah termasuk dalam golongan iblis.Tidak ada yang berani mendekatinya bahkan dalam radius sepuluh meter. Sebenarnya tidak masalah, berhubung Raja Dressrosa tersebut selalu mengerjakan seluruh pekerjaannya dengan sempurna.

Namun, berbagai macam semprotan darinya sungguh membuat seluruh anggota keluarga ingin mencincang tubuhnya sendiri lalu menenggelamkan diri dengan damai di lautan sedalam mungkin.

PRANG!

Pria menjulang yang menyandang gelar The Hero of Colosseum membanting garpunya kesal. "Hei, Corazon! Apa yang terjadi dengannya akhir-akhir ini?!"

Yang diajak bicara hanya mendelik tak minat. Dia menulis beberapa patah kata di atas buku kecil yang selalu dibawanya kemana-mana, 'Aku akan bicara padanya.' lalu bangkit menuju kamar termewah di istana ini.

Kriieeett

Ini kamar atau tempat pembuangan sampah, Corazon sendiri juga bingung. Berbagai macam botol anggur kualitas terbaik tumpah berserakan, berbagai sisa-sisa makanan mungkin sudah ada yang membusuk—Baby 5 yang selalu membersihkan setiap sudut kamar kali ini terlalu takut untuk melakukan tugasnya—lantaran tidak dihabiskan oleh pemiliknya, dan beberapa perabotan mahal sudah tersayat habis oleh senjata yang menyerupai pedang—atau mungkin benang.

Kakaknya disana, berdiam diri di depan jendela sambil memutar-mutarkan Den Den Mushi beranting ular dengan tenang. Corazon mengehela nafasnya pelan, tak tega dengan pemandangan di hadapannya kali ini. Corazon menepuk pundak kakaknya pelan, lalu menunjukkan buku kecilnya. 'Kau terlihat menyedihkan.'

Doflamingo menolehkan pandangannya, memusatkan perhatian pada tulisan adiknya yang tergolong rapi. "Memang."

'Ada sesuatu yang ingin kau bagi denganku?'

Doflamingo tampak berpikir sebentar namun hanya helaan nafas yang keluar dari bibirnya. "Aku sangat benci kenyataan kalau kau tidak bisa bicara lagi. Sungguh rumit untuk berbicara denganmu kali ini."

Corazon tertawa terbahak-bahak dengan mode mute. Dia sangat tahu bahwa kakaknya tidak akan menyembunyikan segala macam kegundahan padanya.

"Ratu Bajak Laut angkuh itu ternyata seorang mantan budak."

Pria dengan kemeja berpola hati tersebut seketika mematung, tangannya tidak lagi bergerak satu inci pun untuk menulis di atas buku kecilnya. Tawa mute-nya perlahan menghilang.

"Dan mantan budak itu adalah kekasih yang sangat ku cintai," dengus Doflamingo frustasi. Jemarinya membelai lembut cangkang Den Den Mushi yang masih ada dalam genggamannya. "Kau tahu, Roci? Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyesali bahwa darah Tenryuubito mengalir dalam diriku."

Corazon tertegun sambil memandang kakaknya dengan nanar. Sosok dihadapannya kali ini berbeda dengan sosok yang biasa dia lihat. Mau tak mau, senyum simpul terukir manis di bibir Corazon, membuatnya mengacak pelan helaian-helaian rambut pirang milik sang kakak.

'Bukankah sudah lama sejak kita menanggalkan gelar itu? Dan bukankah kita sekarang sudah menjadi bagian dari manusia-manusia yang selalu kau anggap menjijikan? Lalu apa bedanya dengan kekasihmu itu? Dia hanyalah korban dari tindakan keji oleh kaum kita dulu. Karena kenyataannya, dia tetaplah salah satu dari manusia yang pada dasarnya berhati hangat.'

Doflamingo menelurusi deretan kalimat di hadapannya dalam diam. Berbagai macam pikiran berkecamuk dibenaknya kali ini.

'Dan aku yakin, kau yang sekarang sedikit berbeda dengan yang dulu.'

Donquixote termuda tersebut kembali menekuni buku kecilnya. 'Mungkin sekarang matanya sembab lantaran sibuk menangisi seorang pria brengsek semalaman, mungkin dia sudah menjadi wanita-mengerikan-siap-ledak, atau mungkin tubuh indahnya itu kehilangan sedikit bobot.' Corazon menaikkan sebelah alisnya dan menarik sudut bibirnya keatas, berusaha untuk menggoda kakaknya.

Berhasil. Doflamingo terkekeh geli.

Sudah berapa lama Corazon tidak mendengar kekehan kakaknya yang biasanya terdengar menyebalkan itu?

Pria dengan kacamata yang selalu bertengger di hidungnya itu mengusap wajahnya dalam-dalam. Menerawang ke langit-langit rumah lalu bangkit menuju kamar mandi, memancing tatapan heran Corazon—takut-takut kalau kakaknya malah meninju kaca kamar mandi dan menyayat tangannya sendiri. Tidak, ini bukan sinetron.

Doflamingo yang merasa diamati menolehkan pandangannya pada adiknya. "Apa? Aku mau mandi." Pria yang terkenal akan kecerobohannya itu mengelus dadanya tenang. Dia mengantuk—mengkhawatirkan kakaknya ternyata menguras tenaga—lalu membanting diri ke atas tempat tidur sang kakak. Salah satu keuntungan menjadi adik kandung dari seorang Raja Dressrosa.

OoO

Dua gadis bertubuh raksasa dengan surai hijau dan coklat terang tampak saling melempar tatapan penuh arti. Seolah-olah mereka bisa berkomunikasi hanya dengan tatapan mata.

'Apa yang terjadi pada Onee-sama?'

'Entahlah. Sudah ku tanyai berkali-kali sampai bosan dia tetap menjawab kalau dirinya tidak apa-apa. Dasar.'

Gadis hijau yang terus-menerus menjulurkan lidahnya itu menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Tanpa sadar dia mengeluarkan gumaman tidak jelas, memancing perhatian orang nomor satu di Amazon Lily. "Ada apa, Sonia?"

"Ah—tidak ada apa-apa, Onee-sama." jawabnya lumayan gelagapan.

"Benarkah? Dari tadi kalian berdua tampak seperti ingin mengatakan sesuatu padaku."

Sandersonia melirik ke saudaranya yang lain untuk meminta pertolongan. Merasa dipojokkan, gadis yang berstatus sebagai Gorgon Sisters urutan ketiga itu akhirnya membuka suara, "Onee-sama, sebenarnya kami kha—" belum sempat Marigold menyelesaikan kalimatnya, terdengar dentuman keras yang sepertinya menghantam dinding luar Istana Kerajaan Kuja.

Sontak ketiga Gorgon Sisters mengambil sikap waspada, dan tiba-tiba Ran—salah satu pasukan Bajak Laut Kuja—datang terengah-engah dengan wajah pucat pasi. Manik matanya menggambarkan ekspresi ketakutan. "Hebihima-sama! Pulau telah diserang oleh salah satu Shichibukai! Semua petarung hebat Amazon Lily sangat kewalahan menghadapinya!"

Ekspresi dingin Hancock seketika berubah menjadi sangat menakutkan. "Siapa orang tolol yang berani mati itu?" geramnya marah lalu pergi dengan langkah tergesa-gesa.

Sampai di luar, terlihat beberapa rumah penduduk yang hancur akibat serangan mendadak ini. Pintu gerbang pun sudah tidak jelas lagi sekarang bentuknya seperti apa. Kedua adik hebatnya telah berubah menjadi sosok ular raksasa, bersiap untuk menyerang musuh yang sedang melayang tepat di depan Istana Kerajaan Kuja.

Tatapan dingin dari balik kacamata musuhnya mampu menusuk Ratu Bajak Laut yang posisinya lumayan jauh dari dirinya. Seketika tubuh Hancock menegang. Bola matanya membulat. Wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang mulai menjalari tubuh rampingnya. Matilah sudah. Pria dengan tatapan dingin yang menjabat sebagai mantan kekasihnya itu kini telah kembali. Dia pasti berencana untuk mengambil alih Amazon Lily.

Atau memperbudak dirinya?

Hancock mundur satu langkah lalu berlari menuju kamarnya secepat mungkin, membuat mantan kekasihnya bersiap untuk mengejarnya. Namun dia terhenti lantaran ada lima anak panah berkekuatan Haki yang berhasil menusuk otot bicep-nya.

Underworld Broker tersebut menggeram. Jemari kokohnya mencabut kelima anak panah itu dari dirinya dengan kasar. "Sakit. Bodoh." Doflamingo mengangkat telapak tangannya lalu bermain dengan jari-jarinya, "Parasite." sahutnya datar, membuat seluruh penduduk Kuja menjatuhkan berbagai macam senjatanya dan terduduk dengan lengan yang memeluk lutut mereka.

Beberapa detik kemudian mereka segera melontarkan umpatan ke arah pelaku yang menyebabkan mereka tak bisa bergera sedikit pun. "Brengsek kau, Ten Yasha!" Tatapan murka tak henti-hentinya menghujani Doflamingo, "Apa yang kau inginkan dari kami?!" disertai dengan umpatan kasar dari segala arah, "Cepat angkat kaki kotormu itu dari sini!"

Namun terdengar suara bergetar dari gadis ular raksasa yang diperuntukkan untuk dirinya, "To-tolong... jangan sakiti kakak kami..."

"Jika kau menginginkan Buah Iblis, ambil saja dari kami berdua!" timpal gadis ular lainnya.

Doflamingo menaikkan salah satu alisnya heran. Dia tidak ambil pusing untuk pergi menyusul mantan kekasihnya yang sudah lebih dulu meninggalkannya. Hanya dengan melihat dirinya beberapa detik seperti tadi, belum cukup untuk mengobati rasa rindunya.

BRAK!

Doflamingo mendapati sosok ramping yang sedang terduduk di pojokan sambil memeluk kedua kakinya erat-erat. Bola mata yang biasanya penuh dengan berbagai macam ekspresi itu kini memandangnya ketakutan dan berlinang air mata.

Jantung Doflamingo serasa tercabik-cabik melihat mantan kekasihnya menatapnya dengan cara seperti itu. Satu-satunya hal yang membuatnya bersyukur hanya tubuh rampingnya yang ternyata tidak kehilangan bobot. Tidak seperti prediksi adik semata wayangnya.

Doflamingo berjalan mendekatinya. Setiap langkah yang diambilnya membuat wajah Hancock semakin ketakutan. Hancock menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya, berharap sosok tinggi menjulang di hadapannya kali ini segera pergi begitu dia membuka matanya.

Mantan Tenryuubito itu berjongkok di hadapan sosok wanita rapuh ini, jemarinya terulur untuk menyingkirkan kedua telapak tangan yang menutupi wajah cantiknya. "Hei..."

Kedua pergelangan tangan yang kini berada dalam genggaman Doflamingo terasa begitu lembut dan rapuh. "Pergilah..." sahutnya lirih. Jelas-jelas menghindari kontak mata dengan Doflamingo. "Ku mohon Doflamingo, jangan sakiti penduduk Suku Kuja." Hancock berkata dengan susah payah, air mata tak henti-hentinya mengalir dari sepasang matanya. Yang dia tahu, dia harus melindungi rakyat Kuja dengan sekuat tenaga. "Ja-jadikan saja aku sebagai... bu-budakmu kalau... kau berminat..." lirihnya sekecil mungkin.

Seketika amarah menyelimuti Doflamingo dengan hebat, membuatnya mencengkram kedua bahu kecil di hadapannya dan menyentaknya marah. "APA MAKSUDMU?! Berhenti memperlakukanku layaknya seorang iblis keji!" Kalimat yang keluar dari bibir wanita itu benar-benar melukai hatinya. "Demi Tuhan, Hancock! Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menyakitimu!" Bola mata di balik lensa merah pekat itu perlahan memelas.

"Aku ingin kau kembali padaku. Tetaplah di sisiku, Hancock. Aku sungguh kehilangan arah tanpa kehadiranmu, dan demi segala sesuatu di lautan ini, aku tidak peduli sama sekali akan statusmu di masa lalu."

Hancock menegang. Rasa sakit akibat cengkraman Doflamingo di sisi lengannya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit dan takut yang ada di dalam hatinya.

Perlahan dia memberanikan diri untuk melepas kacamata yang bertengger di hidung mantan kekasihnya. Jemarinya bergetar hebat, melepas kacamata itu terasa sangat berat untuknya. Sesaat setelah melihat bola mata tajam itu, kembali membuat air mata mengalir deras di atas pipi tirus Hancock. Kedua kantung mata hitam yang ada di wajah Doflamingo membuat dirinya semakin tertohok.

"Ku mohon, Hancock. Kembalilah bersamaku, kembalilah ceria seperti dulu. Aku mencintaimu dan tetap seperti itu selamanya. Aku bersumpah tidak akan pernah untuk menyakitimu, dan berjanji dengan segenap hatiku untuk selalu melindungimu. Ku mohon..." ujarnya lepas. Nada bicaranya sungguh ingin membuat Hancock memeluknya detik itu juga. Namun lagi-lagi hanya tetes demi tetes air mata yang merespon figur kokoh di hadapannya kali ini.

Doflamingo meghela nafasnya berat. Wajahnya menunduk melihat ke karpet merah yang sedang didudukinya. Persetan dengan perbudakkan! Kehilangan wanita itu sama saja dengan kehilangan separuh bagian dirinya.

Perlahan namun pasti, ada dua telapak tangan lembut yang bergerak menyelimuti kedua pipinya. Doflamingo tersentak. Dilihatnya Hancock sedang tersenyum di sela-sela tangisnya. "Aku... ha-harap kau menepati semua perkataan itu. Karena kau telah memiliki hatiku seutuhnya, Doffy..."

Sontak Doflamingo tertegun. Melongo tak keruan. Ekspresinya hampir sama saat Law untuk pertama kalinya memanggil adiknya dengan sebutan Cora-san. Hancock menepuk kedua pipinya dengan lembut. "Doffy?"

Tak sampai sepuluh detik, ditariknya kedua lengan Hancock agar pemiliknya segera berdiri lalu menarik figur ramping itu ke dalam dekapan yang erat. Doflamingo ingin membelah Calm Belt saat ini juga, berniat untuk menyalurkan rasa bahagianya yang meluap-luap. Runtuh sudah dinding dingin yang selama ini berada di antara mereka berdua.

Lama sekali mereka berpelukan sampai Doflamingo merasa harus ada yang dilegalkan di antara mereka. Doflamingo berdeham. Dia melepas pelukannya pada Hancock lalu menangkup pipi wanita itu selembut yang dia bisa, "Baiklah, Hancock. Jadilah Ratuku di Dressrosa," ucap Doflamingo mantap.

Kini giliran Hancock yang melongo tak keruan. Telapak tangannya refleks menutup mulutnya yang mengaga. "Kau gila?! Memangnya siapa yang akan memimpin Amazon Lily?!"

Doflamingo menghela nafasnya malas. "Serahkan saja pada kedua adikmu. Mereka sangat kuat. Lagipula, kau selalu berada dalam pengawasanku. Jadi tidak ada yang berani untuk berurusan denganmu."

Hancock spontan membentak, "Gila! Alasanmu itu tidak cukup kuat, bodoh!" padahal beberapa menit sebelumnya dia dipenuhi dengan air mata.

Doflamingo memutar bola matanya malas lalu segera berlutut di hadapan wanita yang berhasil membuatnya tergila-gila. Dia merogoh ke dalam saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih metalik dengan hati-hati. "Sekali lagi, jadilah Ratuku dan dampingi diriku selamanya, Boa Hancock." Untuk pertama kalinya, dia tersenyum lebih tulus. "Kau harus menerima ini," sambungnya tak kalah mantap.

Hancock terkejut luar biasa. Sikap pria bengis di hadapannya kali ini sungguh di luar perkiraannya. Darimana datangnya kotak cincin beserta isinya yang kelihatan mewah itu? Dan apakah harus memaksa seperti itu?!

"Doffy…"

"Eh…"

Doflamingo tetap menunggu jawaban darinya dengan sabar.

"…"

"Aku…"

Entah kenapa Doflamingo hampir jengkel.

"Aku bersedia untuk menjadi Ratumu…" sahutnya pelan. Selesai sudah. Wajah Ratu Amazon Lily itu kini bersemu kemerahan. Membuat Doflamingo terkekeh lepas.

Disematkannya cincin berlian itu di jari manis Hancock, wanita yang sebentar lagi akan menjabat sebagai pendamping hidupnya. Doflamingo mengecup bibir manisnya sekilas lalu menenggelamkan tubuh Hancock ke dalam dekapannya. Ekspresi bahagia tak henti-hentinya terlukis di wajah mereka berdua.

Hening kembali menyelimuti ruangan. Mereka berdua masih sibuk untuk membagi rasa sayang dan cinta yang selama ini sempat tertunda. Mencoba untuk menghilangkan rindu yang sudah mengakar di keduanya.

"Sekarang, Doffy…"

DUAGH!

Wanita dengan cincin berlian yang melingkar manis di jarinya itu meninju perut calon suaminya dengan mantap. Membuat pemiliknya mengaduh-aduh kesakitan. Tentu saja Hancock tidak lupa untuk menggunakan Busoshoku no Haki miliknya.

"TAK BISAKAH KAU DATANG KESINI TANPA MENGHANCURKAN KOTA KU?! CEPAT PERBAIKI MEREKA SEMUA SECEPAT MUNGKIN! MINTA BANTUAN ANGGOTA KELUARGA BODOHMU ITU JUGA UNTUK MEMPERCEPAT PEKERJAANNYA!"

Kedua bola mata indah itu kini dihiasi oleh kobaran api, kepalan tinjunya masih menghitam—tanda dia masih mengaktifkan Busoshoku no Haki—membuat Doflamingo sejenak menelan air liurnya. Takut-takut kalau dia salah pilih calon istri. "Ya, ya. Baiklah…" ringisnya pelan. Calon istrinya memang benar-benar seorang wanita tangguh.

Tidak masalah. Selama Hancock selalu berada di sisinya, dia tidak akan kehilangan arah lagi. Akan selalu ada alasan manis untuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai Underworld Broker dengan cepat dan sesegera mungkin kembali ke Istana Dressrosa. Karena akan selalu ada sosok yang menyambut kepulangannya dengan sangat hangat… dan spesial.

Sekaligus akan selalu ada alasan untuk menjalani kehidupan membosankan ini menjadi lebih berwarna.

OoO

Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang menyaksikan kejadian bersejarah itu secara live dan gratis. Wanita tua dengan tinggi tubuh yang hanya mencapai betis orang dewasa tersebut hanya menggelengkan kepalanya pasrah.

"Mattaku."

Jadi benar dugaannya selama ini, perubahan sikap Ratu Egois itu ternyata memang ada hubungannya dengan pembicaraan mereka ketika sedang di dapur kala itu. Ibarat firasat seorang Ibu pada anaknya, dia mempunyai insting yang kuat terhadap Gorgon Sisters, khususnya pada gadis sulung yang menurutnya mudah untuk ditebak.

Nyon Ba berbalik untuk menjauh dari pintu, tidak ingin menonton lebih jauh. Karena kini pria dengan julukan Ten Yasha itu mulai mencumbu dan mengangkat tubuh anak-tidak-kandung-dan-tidak-mengganggapnya-sebagai-ibu ke atas ranjang dan mulai mengeksplorasi tubuhnya.

Nyon Ba menghela nafasnya berat. "Dasar merepotkan. Sekarang bagaimana caranya untuk membebaskan para penduduk?"

OoO

Hari besar yang sudah ditunggu oleh kedua belah pihak akhirnya datang juga. Dressrosa semakin indah dengan banyaknya hiasan mawar merah di sepanjang jalan, bahkan sampai pelabuhan sekalipun. Alunan musik khas kota itu sengaja dilantunkan keras-keras, seakan-akan ingin memamerkan bahwa penduduk di sana sedang berbahagia. Entah sudah berapa ratus juta beri yang telah dihabiskan demi menyambut hari ini.

Bagaimana tidak? Hari ini adalah pelaksanaan pernikahan hebat antara Raja Dressrosa, Donquixote Doflamingo, dengan Ratu Amazon Lily, Boa Hancock. Kabar menghebohkan ini tersebar dengan sangat cepat. Dengan berlangsungnya pernikahan ini, otomatis Bajak Laut Donquixote dan Bajak Laut Kuja resmi beraliansi.

Jangankan seluruh penduduk di dunia, para penduduk dari kedua belah pihak saja hampir terkena serangan jantung mendadak dan menentang dengan keras kalau pemimpin mereka akan segera melangsungkan pernikahan. Khususnya penduduk Amazon Lily.

Sandersonia memeluk erat saudara tertuanya, wajahnya di hiasi dengan raut wajah tak rela. "Onee-sama. Kau cantik sekali, benar-benar sempurna…"

"Kami akan menghajarnya kalau dia berani menyakitimu, Onee-sama!" seru Marigold penuh antusias.

Hancock terkekeh geli melihat tingkah kedua adiknya. "Harusnya kalian senang. Dengan tidak adanya diriku di sana, berarti kalian terbebas dari semua amarahku, 'kan?" Hancock mengedipkan sebelah matanya dan menjulurkan lidahnya sedikit, berniat untuk meledek kedua adiknya.

Namun, manik mata mereka mulai berkaca-kaca, bersiap untuk menangis. "Justru kami akan merindukanmu!" teriaknya berbarengan.

Melihat kedua adiknya menangis mau tidak mau air matanya terpancing keluar. Dibelainya rambut mereka berdua dengan sayang. "Sonia, Mari, maafkan keegoisanku. Aku yakin kalian pasti bisa memimpin Amazon Lily tanpa diriku. Gan... ganbatte!" Tetes demi tetes air mata mulai membasahi pipi mereka.

Ketiga Gorgon Sisters berpelukan layaknya itu adalah hari terakhir mereka bertemu, membuat gadis Harpy dengan balutan gaun putih yang hanya sampai perutnya itu tak tega untuk merusak momen kakak beradik ini.

"Ah— Monet!" seru Hancock saat melihat bayangan lebar yang menyerupai sayap di dekat pintu kamar.

Sosok bayangan itu kemudian menampakkan diri sepenuhnya, membuat Sandersonia dan Marigold memutar isi kepalanya. Monet yang melihat kebingungan mereka hanya terkekeh kecil. "Maafkan kelancanganku telah mengganggu kalian, tapi acara akan di mulai beberapa menit lagi. Nanti aku dan adik-adikmu akan mengiringimu berjalan menuju Joker."

"Baiklah. Chotto matte, Monet." balasnya lembut. Sikap yang sangat berbeda dibandingkan dengan pertemuan pertama mereka. Hancock hampir menendang Monet menjadi batu kalau calon suaminya tak segera datang dan menjelaskan bahwa Monet adalah salah satu anggota keluarganya.

Monet menggangguk patuh, dia mengamati tiap pergerakan calon Ratu Dressrosa di hadapannya dalam diam. "Hebihime-sama, kau tampak seperti malaikat. Aku senang Joker memilihmu sebagai pendampingnya," ucapnya tulus.

Merasa di puji, Hancock menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan membalasnya dengan senyuman manis. Monet adalah satu-satunya teman dari pihak calon suaminya yang membuatnya nyaman. Mungkin karena jarak usia mereka yang hanya berbeda satu tahun.

OoO

Bunyi lonceng yang mengiringi langkah pengantin wanita dan ketiga pengawalnya berbunyi halus. Seluruh perhatian dipusatkan pada wanita yang mengenakan gaun pengantin putih dengan bagian belakang gaun yang menyapu lantai. Di kepalanya tersaji tudung panjang yang berwarna senada dengan gaunnya, dan kedua tangannya menggenggam erat bunga indah ber-genus Gypsophila.

Wanita itu berjalan pelan namun penuh keyakinan menuju pria dengan balutan jas putih yang menjuntai sampai batas lututnya. Jas putih itu membalut dada bidang pemiliknya dengan sempurna. Rambut pirang pendeknya kini terlihat lebih rapi, membuat ketampanan Doflamingo semakin bertambah.

Hancock tersenyum geli melihat calon suaminya yang seolah-olah melihat dirinya seperti hantu. Namun segera kesal karena pria itu tetap memakai kacamata trademark-nya di hari penting ini.

Tatapan mata kagum tak henti-hentinya menghujani pengantin wanita tersebut. Diiringi dengan tangisan tertahan dari pihak pengantin wanita. Wajar saja, mereka semua akan kehilangan pemimpin yang sudah memimpin selama bertahun-tahun.

Pemuda bermarga Trafalgar menyipitkan matanya keheranan. "Cora-san, lihat tatapan bodoh Onii-chan mu itu."

Yang diajak bicara segera mengisyaratkan kalau dia akan muntah mendengar kata 'Onii-chan'. Sudah lama sekali dia tidak memanggil kakaknya dengan sebutan itu. Rocinante menulis sesuatu lalu mengacungkan tulisannya pada anak-tidak-kandungnya, 'Aku harap kedatangan seorang wanita dalam hidupnya mampu merubahnya walaupun hanya sedikit.'

Law bergumam tak jelas. "Prediksi diperkirakan sekitar lima persen," jawabnya sambil mengedikkan bahunya.

Corazon yang menjabat sebagai adik kandung dari pengantin pria hanya memajukan bibirnya kesal. 'Tapi aku senang bisa melihat dirinya bahagia seperti itu.' Tatapan matanya menerawang ke arah pengantin lelaki. Melihat senyum penuh kebahagian yang melengkung di bibir kakaknya, otomatis membuatnya tersenyum juga.

Law membaca tulisan tangan di depannya dengan saksama. "Aku juga, Cora-san."

OoO

Janji suci sudah diucapkan, segala macam ajakan foto bersama dengan keluarga ataupun untuk media News Coo juga sudah dilakukan, sekarang waktunya untuk berpesta! Alunan musik khas Dressrosa mengalun ringan mengiringi orang-orang di lantai dansa. Salah satu penari wanita yang kabarnya terbaik di dunia, Violet, menari dengan anggun di atas panggung miliknya sendiri. Sedangkan beberapa pasangan mengikuti alunan music dengan penuh cinta di lantai dansa.

Hancock yang berdiri di sebelah kue pernikahannya tersenyum tulus. Pernikahan sempurna seperti ini tidak pernah terlintas dipikirannya. Oh, ralat—memang pernah tapi itu bersama Luffy, bukan dengan si pria bengis seperti sekarang.

Doflamingo yang masih sibuk dengan berbagai macam pertanyaan dari News Coo, mengalihkan pandangannya pada Hancock yang sedang tersenyum ke arah lain. Doflamingo terkekeh, dia mendekati istrinya lalu merengkuhnya dari belakang.

Tubuh Hancock menegang seketika, namun saat mengetahui itu ulah suaminya dia hanya mengerucutkan bibirnya. "Doffy! Ini tempat umum!" Kedua tangannya sibuk melepaskan cengkraman Doflamingo ditubuhnya. Oh, ya—suaminya itu kembali mengenakan mantel merah muda andalannya. Bersyukur tidak ada garpu dalam radius dua meter, kalau ada Hancock sudah menusuk hidung Doflamingo dengan itu.

"Lalu?"

"Tahan kemesumanmu itu sedikit, bodoh!" Kedua pipinya mulai memerah saat melihat beberapa pasang mata memandang penuh senyuman ke arah mereka berdua.

Doflamingo tergelak lepas. Dia mengecup pipi tirus istrinya. "Mau berdansa denganku?"

Hancock yang mulai mengerti sisi keromantisan Doflamingo mulai tersenyum simpul. Dia mendongak, mengangguk pelan pada suaminya. Doflamingo yang memang tidak tahu tempat menundukkan kepalanya untuk mencium bibir ranum istrinya. Hancock tersenyum, perlahan menutup matanya sampai—

"Simpan itu untuk nanti malam, kawan!" Muncul sahabat sejawat Doflamingo yang datang jauh-jauh dari Grandline sampai ke sini. Hancock tersenyum seadanya, namun dia tergelak saat melihat ekspresi Doflamingo yang sedatar dada Sugar.

Doflamingo memeluk sahabatnya singkat lalu mengerling penuh arti pada wanita yang ada di sebelah Crocodile. "Oh, ya. Aku lupa mengatakannya padamu." Tawa Sir Crocodile mengapung di udara.

Wanita cantik dengan rambut hitam sepanjang istrinya dan hidung yang kelewat mancung menjabat tangan Doflamingo dengan lembut, "Nico Robin." Dia juga bergantian menyalami sang pengantin wanita. "Nico Robin."

Hancock menyalami dengan kilatan mata khas persaingan antar wanita, ditambah lagi Robin menyalami Doflamingo terlebih dahulu dibanding dirinya. "Boa Hancock."

Doflamingo meralat, "Donquixote Hancock." Hancock hanya menjulurkan lidahnya sedikit ke arah suaminya. "Donquixote Doflamingo," sahut Doflamingo pada Robin. "Hubungan rekan kerja berubah menjadi percintaan, eh?"

Crocodile tertawa terbahak-bahak, gelas anggur digenggaman tangannya sampai ikut bergetar. "Apa bedanya dengan dirimu, kawan?" Kini gantian Robin yang terkekeh dengan suara lembutnya.

Doflamingo meringis, lengannya melingkari pinggang ramping Hancock. "Kami akan berdansa, silahkan nikmati kemegahan istana ini dibanding dengan milikmu, kawan." Crocodile mendengus, dia menggangguk lalu membawa wanitanya ke sisi yang lebih sepi.

Orkestra yang melihat kalau sang pasangan pengantin mulai turun ke lantai dansa, mulai mengganti tempo musiknya menjadi lebih pelan dan lebih romantis. Beberapa pasangan yang sudah lebih dulu berdansa pun semakin merapatkan tubuhnya satu sama lain. Lampu pun menjadi lebih redup, memberikan privasi penuh pada tiap pasangan.

Doflamingo melingkarkan lengannya di tubuh istrinya, sebelah tangannya menggenggam jemari kiri Hancock dengan lembut. Hancock tersenyum, dia melepas genggaman mereka sebentar untuk mencopot kacamata bodoh yang masih bertengger di hidung suaminya.

"Kenapa kau benci sekali dengan kacamataku?" Tatapan mata Doflamingo menatap lurus-lurus ke dalam bola mata biru cerah Hancock. Kaki mereka mengayun serasi ke kanan dan ke kiri.

"Aku tidak benci, aku hanya tak suka. Kacamata bodoh itu menghalangi pandanganku ke dalam bola matamu," sahutnya pelan. Pipinya sedikit bersemu kemerahan.

Doflamingo yang tidak tahan dengan kemanisan Hancock mengecup pelan dahi wanita itu. "Hancock," kecupannya beralih ke kelopak mata kanan Hancock, "aku mencintai segala macam kekurangan dan kelebihanmu," turun lagi sampai ke batas hidung, "termasuk keburukanmu." sampai akhirnya Doflamingo mengecup pelan bibir ranum istrinya, "Dan tolong yakinlah padaku saat aku mengucapkan kata cinta, karena aku memang bersungguh-sungguh padamu. Jadi ku mohon jangan pernah berpaling lagi dari sisiku. Selamanya."

Pandangan Hancock pada Doflamingo mulai kabur lantaran ada air mata yang siap untuk diturunkan. Hancock tersenyum lebar, "Aku berjanji…" kupu-kupu di dalam hatinya kini pasti sedang berpesta ria. "—anata." sahutnya dengan satu buah balasan kecupan untuk Doflamingo.

Betapa bodohnya dia dulu sempat mengira Doflamingo akan mecampakkannya begitu saja hanya karena ada lambang cakaran naga di balik punggungnya.

OoO

Sudah dua jam berlalu sejak kejadian paling bersejarah dalam hidupnya terjadi. Wanita ramping yang sedang melihat keluar jendela itu kini mengganti statusnya dari Ratu Amazon Lily menjadi Ratu Dressrosa. Pemandangan kota malam ini tampak begitu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Terlihat dari kejauhan beberapa orang bermusik riang dan banyak sekali sepasang manusia ataupun mainan berlalu lalang di bawah sana.

Matanya menerawang jauh ke arah bintang-bintang di langit, mengenang seluruh kejadian yang telah mempertemukannya dengan rekan Shichibukai-nya sendiri. Padahal dulu dia sangat berharap kalau bocah karet itu yang akan menikahinya. Namun, sekarang tampaknya dia sendiri sudah mengganggap bocah itu tidak lebih dari seorang teman.

Diaa bergumam tanpa sadar, "Donquixote… Hancock."

"Kau menyukai nama barumu?" sapa suara berat yang tiba-tiba berseru di belakangnya.

Hancock menoleh dan melihat kalau pria yang sudah menjadi suaminya itu mengenakan handuk yang hanya menutupi batas pinggul sampai lututnya dengan bertelanjang dada. Kedua tangannya digunakan untuk mengusap-usap rambut pirangnya yang masih basah. Pemandangan ini membuat Hancock menelan air liurnya susah payah. Namun hanya jawaban ketus yang dilontarkannya, "Tidak."

Doflamingo menaikkan sebelah alisnya lalu melangkah mendekati Hancock. Dia memeluk istrinya dari belakang sambil mengistirahatkan dagunya dengan nyaman di bahu sang istri. "Kau yakin?" ucap Doflamingo dengan intonasi seduktif. Bibirnya bergerak nakal, mengecupi daun telinga dan pipi tirus Hancock lalu berakhir di lehernya yang jenjang.

Ratu Dressrosa tersebut menggigit bibir bawahnya sendiri. "Sa-sangat yakin!"

Doflamingo menghentikan aksinya lalu merengkuh pundak dan bagian belakang lutut istri tempramentalnya, berniat untuk membopongnya ke atas ranjang. "Akan ku buat kau berkata 'ya'."

Wanita bertubuh ramping itu gelagapan dengan hebat, dia tahu benar apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak, dia belum siap! Dengan tubuh menjulang seperti Doflamingo pasti rasanya akan sangat… menyakitkan.

Belum sempat Hancock untuk protes, tau-tau saja tubuhnya sudah berbaring di atas ranjang mewah bersprei putih gading dengan Doflamingo di atas tubuhnya. "D-Doffy! Ba-bagaimana kalau besok saja? Di-diriku rasanya sedikit demam…" ujarnya gelagapan. Kedua telapak tangannya mencengkram erat bahu Doflamingo.

Doflamingo menghela nafasnya malas. "Tidak ada yang percaya dengan kebohongan kanak-kanakmu itu, Hancock."

Wanita yang menggeliat di bawah tubuh Doflamingo itu kini memasang ekspresi pasrah. Siap tidak siap dia menerima berbagai macam cumbuan yang dibagi oleh suaminya. Perlahan namun pasti, Hancock seperti menginginkan sentuhan Doflamingo lebih dan lebih. Membuat mereka berdua terburu-buru untuk melepaskan pakaian masing-masing.

Cumbuan Doflamingo bergerak turun ke dua buah gundukan yang terlihat sangat ranum, bermain sebentar di sana. Lalu turun lagi ke daerah terlarang istrinya. Doflamingo mengerling, tidak menyangka kalau milik Hancock semenggemaskan itu. Lidahnya bergerak nakal menyesap cairan yang sudah kelewat banyak di daerah itu, membuat Doflamingo hampir kehilangan akal sehatnya. Dia baru tahu kalau ada cairan yang lebih nikmat dari segala macam jenis anggur mahal yang sering diminumnya.

Hancock mencengkram sprei di sampingnya kuat-kuat, berharap Doflamingo menghentikan permainan liarnya di bawah sana. Dia mengerang tertahan, "Doffy…"

Doflamingo bangkit, berniat untuk segera menyatukan miliknya dengan Hancock secepat mungkin. Hancock yang melihat sesuatu di bawah sana sontak bersemu kemerahan. Dalam hatinya dia berdoa semoga dirinya masih bernafas setelah benda besar itu masuk seutuhnya ke dalam dirinya.

Hancock menutup matanya rapat-rapat, menunggu rasa sakit yang akan dirasakannya sebentar lagi. Doflamingo yang melihat ketakutan istrinya, hanya membelai pipi tirus itu dengan lembut. Hancock membuka matanya, sosok polos Doflamingo menyambutnya dengan senyuman tulus. "Aku bisa berhenti kalau kau tidak terlalu menginginkan ini."

Hancock mencicit pelan, "La… lakukanlah…" Dia memang takut tapi bukan berarti dia tidak ingin merasakannya. Tidak seperti Doflamingo yang dia yakin hampir setiap hari menghabiskan malam dengan berbagai macam wanita.

Doflamingo mengecup bibir Hancock pelan. Perlahan namun pasti, Doflamingo mulai menembus pertahanan Hancock. Membuat pemiliknya mengerang kesakitan. Daerah kewanitaannya terasa perih ketika membungkus kejantanan milik Doflamingo.

Doflamingo melumat bibir istrinya, berusaha untuk mengalihkan rasa sakitnya di bawah sana lalu mulai menghujam Hancock dengan cepat. Perbuatannya barusan sontak membuat Hancock memekik kencang. Kuku-kuku lentiknya mencakar punggung kokoh Doflamingo tanpa ampun, beriringan dengan hujaman demi hujaman yang dilakukan oleh suaminya.

Doflamingo mengabaikan rasa perih yang mulai menjalar di punggungnya. Dia menutup matanya kenikmatan, sama sekali tidak menyangka kalau Hancock serapat ini. Meremas kejantanan miliknya dengan begitu erat. Membuat mereka berdua saling berbagi peluh yang mulai menjalari tubuh masing-masing.

Doflamingo mengerang kenikmatan, "Brengsek..." Rasa nikmat yang dirasakan Doflamingo membuat sisi egoisnya kembali keluar. Dia tidak akan membiarkan Hancock tidur malam ini.

OoO

Helaian rambut hitam legam yang menggelitik hidungnya membangunkan Raja Dressrosa dari tidurnya. Dia mengerjap beberapa kali, sosok polos wanita ramping yang memunggungi dirinya membuatnya tersenyum hangat. Hancock pasti sangat kelelahan saat ini, mengingat semalam Doflamingo menyerangnya tanpa ampun.

Namun, lambang yang seperti cakaran naga di punggung istrinya segera melenyapkan senyum Doflamingo. Jadi inikah alasan yang membuat Hancock selalu menolak untuk disentuh olehnya?

Doflamingo menyentuh lambang itu dengan jari-jarinya, kedua matanya terpejam membayangkan bagaimana kehidupan Hancock pada saat perbudakan itu berlangsung. Giginya menggertak kesal, dalam hatinya timbul niatan untuk mencari tahu siapa yang telah membeli istrinya pada saat itu lalu membunuhnya. Bedebah brengsek itu pasti masih hidup sekarang. Oh, tidak tidak—menyiksanya dulu sampai sekarat baru menembakkan pistol tepat di depan bola mata pecundang itu.

Pria itu membuka matanya saat mendengar sapaan suara lembut dari wanita di sampingnya. "Doffy? Ada apa?" Bola mata biru dengan bulu mata lentik itu menatap Doflamingo dengan cemas.

Perlahan Doflamingo mengelus pipi mulus istrinya dengan sayang. "Tidak ada. Kau tidur nyenyak?"

Hancock memegang telapak tangan besar yang sedang bertengger di pipinya. Pandangannya menerawang jauh ke dalam manik mata pria yang telah menyandang gelar sebagai suaminya tersebut.

"Iya, tapi aku masih mengantuk." Hancock menguap, berusaha untuk memejamkan matanya lagi.

Tiba-tiba Doflamingo bangkit dan menggulingkan tubuh Hancock. Membuat dirinya menindih figur ramping di bawahnya. "Nanti saja. Aku menginginkanmu lagi." Doflamingo kembali menyerang istrinya sekali lagi. Mungkin setelah ini Hancock tidak akan berjalan dengan normal…

OoO

OMAKE

Wanita dengan anting ular di kanan dan kiri telinganya itu mengacak seluruh kamarnya dengan gusar. Banting sana, banting sini. Acak sana, acak sini. Namun tetap tidak menemukan apa yang dicarinya. Satu tetes air mata mulai keluar dari balik kelopak matanya. Dia menarik-narik rambutnya frustasi sambil menyalahkan dirinya sendiri terus-menerus.

Wanita itu berjalan menuju jendela kamarnya lalu berteriak putus asa, "Anata! Apa kau melihat cincinku?!" Matilah sudah kalau benda terpenting dalam hidupnya itu hilang. Lagipula kenapa bisa hilang!

"Bukankah kau melepasnya saat ingin mandi?!" Terdengar sebuah balasan teriakan khas lelaki, sepertinya dari arah taman.

Secepat kilat wanita itu berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi. Dia melihat kalau cincin berlian yang seharusnya melingkar di jari manisnya kini tergeletak manis di atas wastafel. Wanita itu menghela nafasnya lega, sedikit menertawai dirinya sendiri.

Dia berniat untuk menyusul tiga orang yang sedang bermain dengan hebohnya di taman Istana Kerajaan. Sampai di sana, dia terkejut kalau dua bocah pirang dengan pipi tambun dan wajah yang sangat mirip sedang mengigiti telinga pria yang berstatus sebagai suaminya.

"Hotori! Hatori! Jangan gigiti telinga Tou-san!" hardiknya cemas.

Namun pria bersurai pirang dan kedua bocah itu hanya saling melempar tatapan penuh arti. Lalu, pria tersebut berseru cepat, "Ichi, ni, san! Ayo serang Kaa-san!"

Kedua bocah pirang yang kira-kira usianya sudah empat setengah tahun tersebut berlari dengan susah payah menuju wanita itu. Berniat untuk gantian menggigiti telinga beranting ularnya. Wanita itu mengerang pasrah. Ditambah lagi dirinya kini sedang dihujani cumbuan oleh pria bersurai pirang tadi.

Kebisingan mereka segera dihentikan oleh langkah wanita cantik dengan pakaian pelayan dan sebatang rokok di sudut bibirnya. "Maaf mengganggu kalian. Makan siang sudah siap, Waka-sama, Hebihime-sama." ucapnya patuh yang disertai dengan anggukan Doflamingo dan Hancock.


.

Tamat

.


Pojok Author:

Arlesco Arane: terimakasih review pertamaku xD bagian Rocinante aku perbanyak demi dirimu, you can have him. tapi jangan ambil om ganteng ya xD (re: Doffy) NYAHAHAHAHA #ketawajahat

d14napink: siap, terimakasih!

KatoNamiga29: terimakasih, jangan bosen mampir kesini~

Cordelia: terimakasih banyak! next story ttg Naruto, hehhehehehe... hehehheehe... ehehe... he... #belomkelarkelarudahmaulebaran

SAN: sengaja aku bikin Doffy Roci adem ayem, gamau liat mereka saling serang. bikin baper ae dah :" siap, terimakasih sudah berkunjung! mari buat kapal kita jadi kapal pesiar! soalnya kapal yang skrg masih kapal getek... #merenungdipojokan

Uchiha Haririku: yg sangar juga punya sisi lembut :p terimakasih banyak!

Nami: waduh, aku tidak punya uang. nunggu thr dulu ya, Nami-swan... tapi terimakasih! siap, aku tampung reqnya :3

C.O.N.S: terimakasih conis-chan! (boleh ku panggil gitu? keinget sama si conis) xD im totally in love sama kesangarannya Doffy plus Hancock. gatau kenapa mereka keknya cocok aja gitu kalo dipasangin NYAHAHAHA #ngakakgaje you're agree right? xD mari sama-sama semangat menyebarkan story manis ttg mereka berdua! ganbatte!

Ndowlclow: sama aku juga xD

Withoutsmile: thanks a bunch, dear ^_^

Wild Angels: iyaa nih, tangan sama imajinasi masih kaku buat lelemonan Orz

RiverBloody-13: terima kasih :3 ada rencana untuk bikin pair ZoRobin/DoflaHan tapi belum sempet2 sampe sekarang, terbudaki oleh tugas2 Orz #curcol

— Edited on September 12th, 2016

Much Love,

Sharimoiselle


Special Thanks:

Arlesco Arane, d14napink, KatoNamiga29, Cordelia, SAN, Uchiha Haririku, Nami, C.O.N.S, Ndowclow, whithoutsmile, Wild Angels, RiverBloody-13.