Setelah menyelesaikan aktivitas mereka di kamar mandi, Naruto dan Arthuria menikmati semangkuk ramen bersama-sama, tentu saja ramen tersebut berasal dari Gate of Babylon. Memiliki Gate of Babylon sama halnya dengan seluruh dunia berada dalam genggaman tangan Naruto, ia jadi mengerti mengapa Gilgamesh sering mengatakan kalau dunia itu adalah tamannya. Hampir tak ada yang tak bisa ia dapatkan dengan Gate of Babylon; makanan dan minuman dengan kualitas terbaik, senjata yang tak terhitung jumlahnya, jewel yang tak akan pernah habis, fortress yang tak tertembus, dan berbagai benda lainnya terdapat di dalam vault-nya. Tidak seperti Gate of Babylon Gilgamesh yang kurang bervariasi, Naruto sudah memastikan Gate of Babylon yang ia ciptakan tidak akan pernah kekurangan akan apa pun, bahkan ia sudah meletakkan Hanging Garden of Babylon di dalam vault-nya. Curang? Naruto tak peduli, siapa coba yang tak menginginkan Gate of Babylon? Tidak ada.

Setelah menikmati semangkuk ramen, Arthuria pergi ke luar "istana sementara" mereka dan Naruto sendiri pergi ke ruang tahta di lantai dua. Arthuria mengatakan dia ingin berbicara dengan pelayan barunya, mengingat sifat Arthuria yang seperti itu membuat Naruto membiarkan malaikat tersebut berbuat sesukanya. Palingan Arthuria ingin membantu pelayannya atau menjelaskan hal-hal yang boleh dan tidaknya dilakukan di hadapan dirinya. Naruto tak terlalu peduli, selama wanita itu tak menjadi seperti para mongrel lainnya maka ia sama sekali tak keberatan.

Ruang tahta di istana kecilnya ini tak terlalu besar, meskipun begitu, keelokan dan kemegahan ruangan ini jauh melebihi ruang tahta yang pernah Naruto lihat di anime-anime kesukaannya. Jarak dari pintu masuk ke singgasana hanyalah dua puluh meter, dan terdapat lima anak tangga yang memisahkan lantai dan singgasana. Terdapat karpet merah yang tergelar rapi dari singgasana hingga ke depan pintu, memisahkan ruangan menjadi dua bagian. Naruto berjalan pelan di atas karpet merah tersebut hingga ia berhenti di depan singgasana, berbalik, lalu duduk dengan elegan di atas kursi tahta yang tebuat sepenuhnya dari emas tersebut.

Naruto meletakkan siku kanannya pada penyangga singgasana lalu mengistirahatkan pipi kanannya pada telapak tangan kanan, kemudian mata merahnya menatap datar pada lantai yang terbuat sepenuhnya dari marbel perak. Sudah lama sekali ia tak duduk ala emperor seperti ini, harus ia akui kalau duduk seperti ini membuatnya nyaman dan sedikit bernostalgia akan masa lalu yang telah lama berlalu. Mungkin sebaiknya ia kembali menjadi emperor? Atau raja? Memikirkan dirinya berpikir untuk kembali menjalani profesi yang membosankan itu membuatnya mendengus kecil.

Naruto mengusir memori masa lalu yang mulai memenuhi pikirannya dan mengeluarkan peta dunia ini yang ia dapat dari pelayannya tadi malam. Peta itu melayang lima puluh centi dari matanya, Naruto menatap peta yang lumayan bagus itu tanpa berkedip.

Saat ini ia berada di Ignit City, Dragonic Kingdom, sebuah kerajaan yang dibangun oleh seekor dragon (AN: Aku akan memakai dragon untuk menyebutkan naga supaya tidak terjadi ambiguitas, karena naga adalah spesies dari demi-human di dunia ini). Terus terang saja itu sedikit menarik, belum pernah dalam hidup panjangnya Naruto mendengar seekor dragon membangun sebuah negara. Meskipun ia tertarik untuk bertemu langsung dengan Brightness Dragon Lord, Naruto lebih tertarik dengan Slane Theocracy dan keenam dewa mereka. Pelayannya telah mengatakan semua hal penting yang diketahuinya tentang dunia ini mulai dari Six Gods, Eight Greed Kings, Evil Deities, Thirteen Heroes, Dragon Lords, hingga the Great Minotaur Sage. Dan dari semua itu yang paling menarik minat Naruto adalah Six Gods, Eight Greed Kings, dan Minotaur Sage; ia sama sekali tak tertarik dengan Dragon Lords dan wild magic mereka lantaran butuh pengorbanan untuk mengaktifkan magic tersebut. Lagipula, menurut penjelasan pelayannya, Naruto berasumsi kalau mereka adalah player sama seperti dirinya, Naruto tak yakin seratus persen, namun setidaknya tiga puluh persen ia yakin kalau mereka adalah player. Artinya, bukan cuma dirinya dan Arthuria yang terteleportasi ke dunia ini.. sangat menarik sekali.

Kami Miyako.. bahkan nama ibukota Slane Theocracy pun berdasarkan bahasa Jepang, kemungkinan kalau mereka adalah player jadi semakin tinggi. Hm.. sepertinya aku akan ke sana setelah ini.

Naruto mengerutkan keningnya memikirkan hal itu, Arthuria pasti tak akan mau pergi sebelum kota ini menjadi stabil kembali. Dan setelah mendengar cerita pelayannya tadi malam tentang kota mereka yang satu lagi yang masih dikuasai demi-human, mengajak NPC-nya pergi dari kerajaan ini akan semakin sulit, terlebih lagi dengan good karma yang dimiliki Arthuria.. seperti yang diharapkan dari King of Knights Arthuria Pendragon, satu-satunya wanita yang pantas berdiri di sampingnya. Memikirkan NPC-nya membuat pikiran Naruto kembali berlalu lalang, mungkin ia tak akan keberatan untuk memberi hormat pada siapa pun yang telah menteleportasi dan menghidupkan NPC-nya.

Lamunan Naruto terhenti ketika suara empat langkah kaki menginvasi indera pendengarannya. Naruto tak mengganti posisi duduknya, ia hanya melirik kedatangan kedua wanita tersebut dengan ekor matanya. "Arthuria, woman," ucap Naruto pelan, namun penuh dengan nada authoriti.

"Master, namanya Illya Sylphynski, bukan woman."

Naruto hanya mendengus kecil mendengar ucapan NPC-nya sambil mendaratkan pandangan tajamnya pada pelayannya. "Dia harus membuktikan dirinya pantas untuk dipanggil dengan namanya oleh diriku ini, Arthuria," tutur Naruto tanpa mengalihkan pandangannya.

"S-saya tidak keberatan kalau Uzumaki-sama memanggil saya woman," ucap wanita itu cepat sambil menundukkan kepalanya dengan takut.

"Tidak perlu begitu, Illya," ujar Arthuria sambil menepuk pelan pundak sang pelayan. "Master seharunya memanggilmu dengan namamu, bukan woman." Arthuria menolehkan wajahnya menghadap Naruto, dia melipat kedua tangannya di bawah pelindung dadanya. "Tolong panggil dia dengan namanya, master."

Naruto menaikkan sebelah alisnya, "Hoo.. kau sudah berani memberiku perintah?"

Senyum kecil muncul di bibir tipis Arthuria. "Aku tidak memberi master perintah, apa master tidak mendengar ada kata tolong di sana?"

Mendengar ucapan santai Arthuria membuat Naruto mengernyitkan keningnya. Memang tadi ia mendengar ada kata "tolong" dalam ucapan Arthuria, tapi ego Gilgamesh dalam dirinya membuat Naruto menghiraukan kata tersebut. Namun itu bukanlah hal yang buruk, Naruto tidak membenci sifat the King of Heroes, sifat manusia berdarah dewa tersebut lebih menarik daripada sifat naïf dan berisiknya dulu.

"Master?"

Naruto mengerjapkan matanya dan kembali dari lamunannya, Arthuria memandangnya dengan penuh ekspektasi kalau ia akan mendengarkan ucapan sang King of Knights tersebut. Naruto mendengus kecil dan memandang datar sang servant. Arthuria mengernyitkan keningnya lalu mendatarkan pandangannya. Keduanya beradu tatap hampir semenit lamanya, tak ada yang mau mengalah sama sekali, dan keduanya sama-sama menghiraukan Illya yang hampir mau pingsan akibat energy yang dipancarkan keduanya.

Lima menit sudah berlalu, dan Arthuria masih belum mau mengalah, itu jelas menunjukkan bahwa kekeraskepalaan Arthuria tak kalah jauh dengannya. Namun Naruto tidak tidak menyukainya, ia justru suka dengan sifat keras kepalanya Arthuria. Pada akhirnya Naruto mendesah pelan dan mengalah. "Ck, oke, Sylphynski," ucapnya dengan sedikit ketus, membuat Arthuria tersenyum penuh kemenangan dan Illya kembali bernapas lega.

"Jadi?"

"Illya sudah mengirim seorang prajuritnya untuk memberitahu keadaan kota ini beberapa belas menit yang lalu, dan ada kemungkinan kalau ratu yang memimpin kerajaan ini akan datang ke sini hari ini." Jelas Arthuria dengan senyum kecil di bibirnya.

Naruto menaikkan sebelah alisnya mendengar hal itu. "Mengingat kau dulunya adalah raja dari the Great Britannia Kingdom, kau jadi merasa tertarik untuk bertemu pemimpin kerajaan yang bergender wanita sepertimu, begitu?"

"Ya, aku harap master tak keberatan untuk menjamu mereka."

Naruto diam sesaat menimbang permintaan NPC-nya. Dari penjelasan Sylphynski tadi malam, Draudillon Oriculus adalah keturunan dari Brightness Dragon Lord, seperdelapan dari diri sang ratu adalah dragon, dan sama seperti leluhurnya dia juga bisa menggunakan wild magic. Meskipun begitu, Naruto benar-benar tak tertarik untuk melihat sang ratu yang katanya menggunakan wild magic untuk memakai wujud anak kecil. Ratu yang bersembunyi dibalik topeng hanya untuk mendapatkan bantuan untuk mengalahkan para mongrel, Naruto benar-benar tak memiliki respek untuk ratu yang seperti itu. Mungkin ia akan sedikit menghargai usahanya jika dia bukan ratu—contohnya Sylphynski, namun karena Draudillon Oriculus adalah ratu makanya Naruto tidak memiliki respek padanya. Seorang pemimpin sampai mengemis-ngemis meminta bantuan orang lain? Orang yang seperti itu tak pantas disebut pemimpin; seorang pemimpin lebih baik mati bersama rakyatnya daripada merendahkan diri di hadapan orang lain. Karena harga diri seorang pemimpin adalah harga diri dari bangsanya, merendahkan dirinya sendiri sama halnya dengan merendahkan bangsanya sendiri, dan itu tak patut dilakukan oleh seorang pemimpin!

Tapi melihat mata emerald Arthuria, Naruto tak bisa untuk mengecewakan wanita berambut pirang tersebut. Meskipun Arthuria hanyalah NPC yang ia buat, tapi tetap saja saat ini dia benar-benar hidup. Lagipula, sudah sewajarnya bagi seorang pria untuk membuat wanitanya senang, kan? Pada akhirnya Naruto hanya mendengus pelan dan mengatakan "lakukan sesukamu" yang langsung disambut dengan senyum hangat Arthuria.

Naruto kembali mendengus pelan dan menolehkan pandangannya pada pelayannya. Karena sekarang ia sudah memanggil wanita itu dengan namanya, maka itu artinya Naruto sudah benar-benar menerima wanita itu sebagai pelayan, konsekuensinya adalah ia harus membuat wanita itu pantas untuk mendapatkan kehormatan tersebut. Apa boleh buat, ia tak punya pilihan lain selain membuat wanita tersebut layak menjadi pelayannya. "Sylphynski," panggil Naruto.

"Ya, Uzumaki-sama!" sahut Illya cepat dengan mata penuh determinasi.

"Kau lemah."

Cahaya di mata Illya langsung meredup seketika begitu suara datar penuh arogansi itu menginvasi indera pendengarannya.

"Perlengkapanmu buruk."

Kepala Illya tertunduk.

"Kau tak pantas menjadi pelayanku."

Wajah Illya melesu seketika, degub jantungnya seakan menghilang.

"Meskipun begitu," mata Illya kembali bercahaya, dia mulai menaruh sedikit harapan. "Karena aku sudah memanggilmu dengan nama, maka aku tak punya pilihan lain selain membuatmu pantas menjadi pelayanku. Jangan sia-siakan kehormatan ini."

Illya menganggukkan kepalanya beberapa kali dan melontarkan berbagai ucapan terima kasih dan pujian. Naruto mendengus pelan dan bangkit dari singgasana yang didudukinya, lalu ia berjalan dan berhenti tepat di depan Arthuria dan Illya, membuat Arthuria tersenyum dan Illya mendadak kaku. "Ikut aku," perintah Naruto tak peduli sambil berbelok ke kanan di mana sebuah portal dimensi berwarna emas tercipta begitu saja. Arthuria tersenyum hangat dan mengikuti sang master. Melihat kedua tuannya memasuki portal tersebut membuat Illya tidak punya pilihan lain selain memasuki portal itu juga.

-O-

Begitu melewati portal emas tersebut, mata Illya langsung melebar dengan mulut menganga dan tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas serasa mau pingsan, tak sanggup mengkomprehensikan apa yang iris hazel-nya saksikan.

Hal pertama yang menyambut pandangan Illya adalah tumpukan emas dan berbagai permata berharga lainnya yang menggunung memenuhi ruangan yang amat sangat luas ini, bahkan lantai yang ia pijaki ini terbuat dari permata yang menghiasi mahkota Queen Draudillon dengan kualitas yang lebih baik! Pilar-pilar yang menopangi langit-langit ruangan ini terbuat dari platinum, dan ornamen yang menghiasinya semuanya murni terbuat dari emas. Bahkan langit-langit juga memiliki berlian yang menggantung indah laksana stalagtit yang siap menghujam lantai. Illya tidak berbohong kalau mengatakan bahwa seluruh harta yang ada di ruangan ini dapat membeli dua atau tiga Dragonic Kingdom dan seisinya!

"Illya?"

"Y-ya!" sahut Illya cepat seraya mengusir rasa terkejutnya lalu berjalan menyusul Arthuria-sama dan Uzumaki-sama yang sudah berjalan menuju ke pintu emas besar yang berdiri megah di ujung ruangan. Ia berjalan dengan pelan dan hati-hati, bagaimana kalau seretan kakinya membuat lantai ini kotor? Illya menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran konyol yang tiba-tiba memenuhi otaknya, kemudia ia mempercepat langkahnya menyusul kedua makhluk berambut pirang tersebut.

Semenit kemudian ia dan kedua masternya akhirnya tiba di depan pintu emas besar itu. Illya sangat penasaran dengan apa yang ada di balik pintu emas ini, namun sebelum ia sempat menyuarakan kepenasaraannya, pintu emas tersebut terbuka terlebih dahulu. "Oh god.. i-ini.." tak ada kata lagi yang keluar dari mulut Illya untuk mensuarakan keterkejutannya; jika di ruangan sebelumnya adalah tumpukan emas dan permata yang memenuhi pandangannya, maka di hadapannya saat ini adalah armor-armor dan senjata-senjata berkualitas tinggi dengan jumlah yang tak terhitung Illya terpajang rapi di tiang-tiang yang terbuat dari emas.

"Pilih satu armor dan satu pedang sesukamu, lalu setelah itu aku ingin melihat seluruh kemampuanmu."

"Pilih yang terbaik, Illya, kau tak akan tahu kapan master akan berbaik hati lagi."

Illya mengangguk cepat dan beranjak memasuki ruangan yang keseluruhannya berbalutkan emas. Matanya berbinar melihat semua armor dan senjata yang ada. Sebagai seorang warrior dan magic caster, tentulah Illya sudah pernah melihat berbagai macam armor dan senjata, namun tak satu pun dari apa yang pernah dilihatnya dapat menyaingi apa yang dilihatnya di ruangan yang sama besarnya dengan ruangan sebelumnya.

Tak ingin membuat masternya menunggu lebih lama, dan juga kebingungan yang melandanya lantaran ia tak tahu harus memilih mana yang terbaik dari semua yang terbaik, Illya dengan cepat langsung menghampiri armor yang paling dekat dengan dirinya. Armor tersebut sedikit mirip dengan armor yang dikenakannya dari segi desain, hanya saja itu berwarna hitam dengan merah mewarnai setiap garis luar armor. Illya tak membuang banyak waktu dan langsung meraih armor tersebut, dan ia kembali terkejut ketika mengetahui bahwa massa armor ini jauh lebih ringan dari massa armor yang dikenakannya.

Setelah mengambil armor tersebut, Illya langsung mengarahkan pandangannya pada sebuah katana bersarung hitam dan bergagang merah darah. Panjang dan lebar pedang tersebut sama dengan katana miliknya, karena kemiripan tersebutlah Illya tanpa ragu mengambul pedang tersebut. Tak ingin membuat pemilik tempat surgawi ini menunggu dirinya, Illya segera berbalik arah dan menghampiri kedua masternya yang diam memandang dirinya di depan pintu. "Maaf membuat Anda menunggu, Uzumaki-sama, Arthuria-sama," ucap Illya dengan nada penuh hormat.

"Hm, ayo ke atas."

Illya memiringkan kepalanya mendengar respon masternya; tak ada tangga di sini, jadi bagaimana ke lantai atas?

Seolah menjawab pertanyaan yang bertengger di otaknya, sebuah tangga tercipta dari partikel keemasan beberapa langkah di kanan Illya. Tangga emas tersebut menghubungkan lantai tempatnya berpijak ini dengan atap-atap ruangan dengan tinggi mencapai dua puluh meter ini, dan di atap-atap sana tepat di ujung tangga sudah terdapat lubang besar yang ia yakin akan membawa siapa pun yang menaiki tangga itu ke lantai atas. Melihat kedua masternya berjalan ke arah tangga, Illya dengan cepat mengikuti keduanya, lalu mereka pun mulai menaiki tangga yang memiliki seratus anak tangga tersebut.

Tiga menit kemudian Illya mendapati dirinya berdiri di ruangan yang luasnya melebihi gabungan dari kedua ruangan sebelumnya. Akan tetapi dari segi kemegahan, ruangan ini terlihat lebih sederhana dan minimalis dibandingkan ruangan sebelumnya. Tidak ada pilar-pilar emas dan platinum di ruangan ini, permata-permata berharga lainnya pun tak ada; lantai yang Illya pijaki kesemuanya terbuat dari marmer putih, namun dengan kualitas yang jauh melebihi marmer-marmer yang pernah ia lihat sebelumnya.

"Gunakan armor dan pedang tersebut, lalu serang aku sekuat mungkin." Suara Uzumaki-sama membuat Illya kembali dari lamunannya, dan dengan cepat ia langsung melepas armor lamanya lalu memakai armor barunya.

Illya melirik Arthuria-sama yang berdiri di antara dirinya dan masternya, kemudian ia mengarahkan pandangannya dengan gugup pada lelaki berambut pirang panjang beberapa belas meter dari tempatnya berdiri yang kini tak lagi berbalutkan armor emas. Dia memakai celana hitam panjang dan sandal unik berwarna biru gelap, tubuh atasnya ditutupi oleh apa yang Arthuria-sama sebut sebagai "yukata" merah kehitaman yang kemudian diikat dengan "obi" hitam, di balik yukata merah tersebut beliau mengenakan kaos abu-abu dengan lambang spiral merah di bagian dada atasnya. Meskipun pakaian yang dikenakan Uzumaki-sama terlihat sederhana, namun Illya dapat dengan jelas melihat bahwa kualitas dan keroyalan pakaian itu jauh melebihi pakaian yang dikenakan Queen Draudillon. "M-maaf jika saya lancang, tapi mengapa Anda melepaskan baju zirah Anda, Uzumaki-sama?" tanya Illya dengan intonasi penuh akan kehati-hatian. Illya melihat kalau Arthuria-sama juga tertarik untuk mendengar jawaban dari pertanyaannya, mata emeraldnya yang melihat ke arah Uzumaki-sama adalah bukti yang jelas akan asumsi Illya.

Sang pemilik ruangan tak lekas menjawab, mata merahnya sibuk menatapi kedua telapak tangannya dengan penuh ketertarikan.

"Tidak ada alasan khusus, aku hanya merasakan kalau sebagian kecil chakra-ku telah kembali, tapi sepertinya itu hanya perasaanku saja.. atau mungkin chakra-ku telah bergabung dengan MP milikku.."

"MP?" / "Chakra?"

Uzumaki-sama mengerutkan keningnya. "Bukan apa-apa," ucapnya sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam portal emas yang muncul begitu saja di sebelah kirinya. "Ayo mulai!" perintahnya sambil menarik sebuah katana dengan gagang biru kehitaman dan mata pedang hitam kelam.

Arthuria-sama mengangguk lalu melompat ke belakang memberikan cukup jarak untuk bertarung.

Illya mengeratkan genggaman tangan kanannya pada gagang katana barunya. Menurut apa yang Arthuria-sama katakan, armor yang kini ia kenakan dan pedang yang ia genggam adalah top class item, sedangkan armor dan katana lamanya setara dengan low class item. Illya tidak terlalu mengerti dengan maksud masternya itu, namun yang jelas ia mengerti kalau armor dan pedang lamanya beberapa level lebih rendah dari level pedang dan armor barunya. Bahkan ia bisa merasakan kalau tingkat kekerasan senjata barunya ini berada di atas adamantite.

"Maju."

Illya mengangguk dan berlari ke arah Uzumaki-sama sambil meng-enchant dirinya dengan beberapa spell terkuatnya. Tak semua warrior bisa meng-enchant diri mereka seperti magic caster, hanya beberapa yang memiliki talent tertentu yang bisa melakukan itu, contohnya Cerebrate-dono, Commander Reinhart, dan demi-human yang ia lawan tadi malam. Illya sendiri tidak memiliki talent itu, akan tetapi karena ia juga adalah magic caster makanya meng-enchant dirinya bukanlah hal yang sulit.

Illya mengarahkan pedangnya ke kiri saat jaraknya dengan Uzumaki-sama hanya terpaut tiga meter, kemudian ia mengayunkan pedangnya dari kiri ke kanan secara horizontal sambil mengaktifkan martial art-nya. "Hidden art: Heavenly slash!"

Berbeda dengan Lightning art: Heavenly slash, Hidden art: Heavenly slash murni tanpa menggunakan magic. Jika serangan terkuatnya menghasilkan gelombang petir layaknya laser yang menyapu bersih medan ayunannya, maka teknik yang digunakannya sekarang menghasilkan gelombang tak terlihat yang akan memotong apapun yang dilaluinya seperti halnya pisau angin membelah mentega.

Seharusnya begitu, namun tak terjadi apa-apa sama sekali! Serangannya lenyap begitu saja, seolah-oleh serangannya tidak nyata sama sekali. Dan ekspresi di wajah Uzumaki-sama, itu jelas sekali mengatakan "apa kau tadi melakukan sesuatu?" atau semacamnya. Illya tahu kalau ia tidak ada apa-apanya dihadapan kedua makhluk ini, tapi tetap saja, melihat serangan terkuat keduanya tidak memberikan efek apa pun membuat jiwa kesatrianya sedikit terluka.

"Jangan pikirkan itu, lanjutkan seranganmu."

Illya mengangguk dan menarik pedang lamanya dengan tangan kiri kemudian dengan semangat baru ia mengayunkan pedang di tangan kanannya ke arah perut masternya, trank! Gagal, Illya mengayunkan pedang di tangan kirinya mencoba mengincar wajah sang master, trank! Kembali gagal, Illya menggeretakkan giginya dan menambah intensitas ayunan pedangnya, trank! Trank! Trank! Tak satu pun dari serangannya berhasil mengenai target incarannya, setiap ayunan pedangnya selalu berhasil ditahan oleh pedang Uzumaki-sama. Ia tidak melihat pergerakan tangan kiri beliau, kecepatannya dalam menggerakkan pedangnya melebihi semua orang yang dikenal Illya. Dan tambah parah lagi, Uzumaki-sama sama sekali tak bergerak se-centi pun dari tempat awalnya berpijak, seolah-olah beliau sedang menunjukkan arti kekuatan yang sebenarnya padanya.

Illya melompat mundur beberapa langkah ke belakang, petir biru keputihan mulai bergemericik di kedua tangannya yang kemudian merambat menyelimuti kedua pedang tajamnya. "Lightning art:" Illya mengangkat kedua pedangnya dengan posisi menyilang, "Twin Heavenly slash!" teriak Illya sambil mengayunkan pedangnya sekuat mungkin, membuat petir berbentuk huruf x melesat tajam menuju ke arah masternya.

Illya menyipitkan matanya melihat serangannya hendak mengenai Uzumaki-sama, namun lagi, petir berbentuk x tersebut langsung tervaporisasi dan menghilang begitu saja tepat saat hendak mengenai target, seolah-olah ada barrier tak kasat mata yang meniadakan serangannya.

"Kau terlalu lemah, seranganmu bahkan tak mampu mencapaiku." Ucap Uzumaki-sama sambil mencampakkan pedangnya dan berbalik arah, pedang yang dicampakkannya tersebut langsung terurai menjadi partikel keemasan lalu menghilang dari keberadaan.

Anda yang terlalu kuat! Ingin Illya berkata seperti itu, namun ia mengurungkan niatnya karena tak mau mati konyol diusia semuda ini!

"Arthuria, buat dia lebih kuat." Uzumaki-sama menghilang dalam partikel keemasan tepat setelah mengatakan hal itu, meninggalkan dirinya dan Arthuria-sama yang kini sudah berdiri beberapa langkah di hadapannya.

"Nah, Illya, ayo kita mulai latihanmu."

Illya tak tahu apakah ia harus bersyukur atau menangis mendengar hal itu, namun karena ini Arthuria-sama yang berdiri di hadapannya, setidaknya ia bisa berharap agar "latihan" yang diberikan kepadanya tak sekejam yang ia bayangkan.

"Ini sebuah kehor—argh!"

Aku harap aku tak akan ke neraka, batin Illya seraya membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya.

"Ah, maaf Illya, aku tak bermaksud menggunakan Excalibur! Aku lupa memakai pedang lain! Tunggu di sana, akan kubangkitkan kau, Blessing of Angel of Life: Ressurection!"

xxXxx

Sebuah wagon mewah beroda empat berjalan mulus melewati padang rumput yang begitu hijau, wagon tersebut ditarik oleh dua ekor magical beast berkaki delapan yang dikenal sebagai sleipnir. Di depan, kanan, dan kiri wagon itu terdapat beberapa prajurit menunggangi kuda mereka mengawal wagon tersebut. Total terdapat sepuluh penunggang kuda: dua di depan, empat di kiri, dan empat sisanya di kanan. Mereka adalah sepuluh prajurit terbaik di antara puluhan ribu prajurit lainnya, terkecuali para kapten dan high-command, karena itulah Commander Reinhart menugaskan mereka sebagai pengawal tetap Queen Draudillon dan berada langsung dibawah komando vice-commander Emily. Jika dibandingkan dengan para adventurer, maka bisa dikatakan bahwa kesepuluh prajurit tersebut setara dengan platinum rank adventurer.

Sleipnir yang menarik wagon yang beberapa permukaannya dilapisi perak tersebut dikendalikan oleh seorang kurir yang berusia empat puluhan, dia mengerjakan tugasnya sebagai kurir dari wagon sang ratu dengan penuh kebanggaan.

Di dalam wagon mewah tersebut terdapat lima orang, dua perempuan dan tiga sisanya lelaki.

Dua perempuan tersebut tak lain dan tak bukan adalah Queen Draudillon Oriculus dan vice-commander Emily Avosvin. Mereka duduk bersebelahan di tempat duduk di sisi kiri wagon, dengan Queen Draudillon duduk di ujung wagon dengan kepalanya bersandarkan pada dinding pembatas wagon dengan tempat duduk sang kurir.

Di hadapan mereka berdua duduklah tiga lelaki: prime minister Alfred Nurl Verbestr, commander Reinhart Elzenkirl, dan seorang prajurit bernama Edward yang wajahnya memancarkan kebahagian.

Reinhart tidak bisa menyalahkan sang prajurit untuk tidak merasa senang; duduk bersama-sama di dalam sebuah wagon bersama dengan sang ratu dan orang-orang penting kerajaan adalah sebuah kehormatan yang tinggi. Mungkin jika ia berada di posisi Edward maka ia pun akan merasa sebahagia prajurit tersebut, tak sedikit pun ia ragu akan hal itu. Akan tetapi, itu bukanlah hal yang paling mengganggu Reinhart, tindakan sang ratulah yang telah mengganggunya: Queen Draudillon sudah memasuki alam imajinasinya begitu Edward selesai mendeskripsikan kedua savior yang telah menyelamatkan Kota Ignit dari tangan demi-human. Dan itu sama sekali bukanlah sikap yang harus ditunjukkan oleh seorang ratu; tidak ada sedikit pun keraguan dalam diri Reinhart kalau saat ini ratunya sedang memikirkan tentang betapa kuatnya penerus sang ratu kelak jika dia berhasil menikahi pria bernama Naruto Uzumaki itu.

Jujur saja, Reinhart tidak suka dengan pemikiran sang ratu. Tapi, meskipun ia tidak menyukainya, Reinhart mengerti seperti apa perasaan sang ratu yang memikul beban untuk melahirkan penerus kerajaan yang kuat. Queen Draudillon sama sekali belum mencari kandidat pria untuk dijadikan suaminya, tugas itu diserahkan kepada prime minister. Namun dari semua list yang diajukan Alfred, yang di dalamnya terdapat namanya juga, tak satu pun menarik perhatian Queen Draudillon. Reinhart justru senang karena sang ratu tak memilih salah satu dari semua nama sebagai suaminya, karena jika Queen Draudillon memutuskan untuk memilih, maka pilihannya adalah antara dirinya dan Cerebrate. Tak mungkin Reinhart membiarkan sang ratu disentuh oleh si pedofil itu, dan Reinhart juga terlalu menghormati sang ratu sehingga tak mungkin baginya memikirkan untuk menyentuh Queen Draudillon. Lagipula, Emily akan membunuhnya kalau sampai ia menyentuh bahkan sehelai pun dari rambut sang ratu. Karena itu, sampai saat ini Queen Draudillon yang sudah berumur tiga puluh tiga tahun masihlah virgin.

Meskipun sudah berumur tiga puluh tiga tahun, kecantikan dan kemolekan tubuh Queen Draudillon bahkan merivali Emily. Dia memiliki rambut pirang indah sepinggang, wajah cantik dengan kulit putih terang, iris oranye dengan pupil hitam vertikal, hidung mancung, dan tentu saja bibir tipis yang menawan. Kecantikan wajah Queen Draudillon didukung oleh badannya yang langsing dan tingginya yang semampai, dan tentu saja dengan dua payudara bulat yang ukurannya sedikit lebih besar dari punya Emily. Namun itu, daya tarik seksual sang ratu, bukanlah apa yang membuat sang ratu terlihat mempesona, melainkan pakaian yang dikenakannya yang terlihat begitu serasi dengan tubuhnyalah yang membuat sang ratu terlihat istimewa.

Queen Draudillon mengenakan gaun putih berlengan panjang semata kaki yang setiap inchinya terdapat ornamen yang sengaja dibuat sebagai lambang keroyalan. Melingkari leher mulusnya adalah kalung emas dengan permata merah berbentuk kupu-kupu menggantung indah di ujungnya. Anting-anting yang menghiasi daun delinganya pun tak kalah indahnya dengan kalung sang ratu, namun Reinhart berpikir kalau penampilan ratu akan lebih baik tanpa anting tersebut.

"Anda benar-benar yakin ingin menjadikan Naruto Uzumaki tersebut sebagai suami Anda, meskipun Anda tahu kalau dia belum tentu tertarik pada Anda lantaran di sisinya ada malaikat yang lebih mempesona daripada Anda, Your Majesty?" tanya Reinhart pada akhirnya, ia sudah lelah melihat ekspresi sang ratu.

Ekspresi Queen Draudillon langsung kembali ke ekspresinya semula begitu pertanyaan Reinhart masuk ke indera pendengarannya. Dia mengernyitkan keningnya dan memandang sang Commander dengan datar. "Menjadikannya suami bukan poin utama, asalkan dia setuju memberiku anak maka itu sudah lebih dari cukup."

Reinhart mengerutkan keningnya mendengar ucapan serius Queen Draudillon, bukan hanya dirinya, Emily pun menampakkan raut wajah yang sama sepertinya. Hanya prime minister Alfred yang mengangguk setuju mendukung niat Queen Draudillon, sedangkan Edward masih sibuk dalam dunia imajinasinya.

"Jadi, meminta bantuannya untuk membebaskan Kota Veldyr dan membersihkan para demi-human dari sekitar kerajaan bukanlah tujuan utama kita ke sana?" tanya Emily.

"Kita sudah kehilangan belasan ribu prajurit di kota itu, siapa yang tahu berapa banyak nyawa yang sudah lenyap? Boleh jadi tak ada satu pun yang selamat ketika kita tiba di sana.." tambah Reinhart mendukung pertanyaan Emily.

"Tidak perlu khawatir, aku sudah memikirkan apa yang harus kulakukan."

"Her Majesty tahu apa yang dilakukannya," ucap Alfred dengan tenang. "Kota Veldyr akan selamat, para beastmen akan lenyap, dan Dragonic Kingdom akan kembali berjaya."

Reinhart menghela napas lelah. "Bagaimana kalau mereka menolak membantu? Bagaimana kalau mereka malah mengambil alih kerajaan?"

"Sejak kapan kau jadi pesimis seperti itu, Reinhart?"

"Aku bukannya pesimis, Emily, hanya saja kita tidak bisa memastikan kalau mereka tidak seperti Eight Greed Kings."

"Apa pun itu, asalkan kerajaanku tak binasa, maka aku tak keberatan jika mereka sama tyrant-nya dengan Eight Greed Kings."

"Sebagai prime minister, aku akan mengikuti para pendahuluku, yaitu mengikuti keputusan Her Majesty."

Reinhart melirik Emily, menunggu respon darinya.

"Tugas utamaku adalah melindungi Queen Draudillon."

Reinhart kembali menghela napas, "Sepertinya kita tidak punya pilihan lain selain berharap agar mereka tidak seperti kedelapan orang itu."

"Kita semua mengharapkan itu, demi kerajaan."

Reinhart mengangguk lalu menolehkan pandangannya ke luar wagon. Ibukota Dragonic Kingdom terletak di titik berat ketiga kota lainnya yang jika ditarik garis imajiner lalu dihubungkan ketiganya akan membentuk segitiga sama sisi. Pintu utama kota mengarah langsung ke Kota Veldyr, sedangkan pintu darurat mengarah ke antara Kota Ignit dan Kota Steffin. Jarak antara kedua kota tersebut kurang lebih 520 km, artinya jarak tempuh yang harus mereka lalui untuk sampai ke tempat tujuan adalah 260 km. Mereka berangkat dari ibukota kurang lebih tiga jam yang lalu, jadi Reinhart memperkirakan mereka akan tiba di Ignit tiga jam lagi jika mereka tetap mempertahankan kecepatan tinggi seperti ini.

"Aku belum melihat laporan terakhirmu, berapa jumlah pasukan kita yang siap terjun mengenyahkan para beastmen, Reinhart?"

Reinhart kembali melontarkan pandangannya pada sang ratu. "Mengesampingkan prajurit yang ditempatkan di Veldyr, Ignit, dan Steffin, total prajurit yang bisa kita kerahkan sebanyak 32.670.., seribu lebih sedang mendapatkan perawatan, dan kita sudah kehilangan enam ribu pasukan lebih ketika mencoba mengevakuasi penduduk Veldyr. Dengan 20,000 beastmen lebih yang menginvasi Veldyr, bisa kita asumsikan bahwa 15.000 prajurit yang ditempatkan di Veldyr kemungkinan sudah pada gugur, paling-paling hanya seribu atau dua ribuan yang tersisa. Sedangkan dari 10.000 prajurit kita di Ignit, Kapten Illya masih belum memberi kejelasan mengenai jumlah prajurit yang selamat. Jadi, jika kita mengikutsertakan prajurit yang di Steffin, maka setidaknya kita bisa memobilisasikan 55.000 lebih prajurit, namun itu akan membuat kerajaan tanpa prajurit untuk berjaga-jaga."

"Artinya jika kita menyatakan perang langsung terhadap para beastmen, maka yang akan kita dapatkan adalah kekalahan total.., yang artinya kita harus mendapatkan bantuan dari kedua orang itu lalu bersama dengan Blue Rose dan Crystal Tear kita akan bisa menyingkirkan Beastman Country dari Dragonic Kingdom."

Reinhart mengangguk setuju.

"Ngomong-ngomong soal Blue Rose, kapan mereka akan tiba, Alfred?"

"Dengan mempertimbangkan jarak dan kecepatan tempuh Zisvon, dan dia adalah pengantar pesan terbaik yang kita miliki, maka bisa dipastikan dia akan tiba di Re-Estize dalam empat sampai lima hari. Jadi setidaknya, minimalnya, Blue Rose akan tiba di Dragonic Kingdom dalam waktu sembilan hari lagi."

"Aku dengar mereka pernah mengalahkan Sunlight Scripture, apa itu benar?" tanya Reinhart, ia sedikit penasaran dengan ketenaran tim adamantite adventurer yang kesemua anggotanya adalah perempuan itu.

"Scripture yang sama yang dikirimkan Theocracy untuk membantu kita?" tambah Emily yang juga penasaran dengan adventurer yang dirumorkan sebagai tim adamantite terbaik itu.

Alfred mengangguk membenarkan kedua pertanyaan tersebut. "Aku tidak tahu detailnya seperti apa, namun yang pasti Blue Rose melindungi sebuah desa demi-human dari pemusnahan yang dilakukan Sunlight Scripture."

"Mereka melindungi demi-human?!" / "Anda serius?"

Reinhart sama terkagetnya dengan Queen Draudillon dan Emily ketika mendengar alasan mereka bertarung. Melindungi demi-human? Demi-human yang memandang manusia sebagai makanan mereka, demi-human yang seperti itu?

Alfred kembali mengangguk. "Blue Rose memang terkenal dengan justice dan motto 'menolong yang tak bersalah' mereka, terlebih lagi ketua mereka adalah water god's priest dan juga adalah bagian dari aristokrasi kerajaan."

"Kalau dia water god's priest, bukankah seharusnya ia menganggap semua yang bukan manusia sebagai heretic yang harus dibasmi?" tanya Reinhart, sama seperti Emily, ia bukanlah penyembah dari the Four Gods atau the Six Gods.

Alfred menghendikkan bahunya. "Kau ingin aku menjawabnya?"

Reinhart mengernyitkan keningnya lalu menggelang, "Tak perlu," ucapnya singkat sambil kembali memandang ke luar wagon.

"Lupakan Blue Rose, ayo kita bicara tentang Naruto Uzumaki dan kemungkinan dia menjadi suamiku!"

Reinhart menutup kedua matanya dan menyandarkan kepalanya pada dinding kabin; lebih baik ia tidur daripada mendengarkan ocehan penuh semangat sang ratu. Lagipula perjalanan masih lama, ia tak mau menghabiskan waktu perjalanan ini hanya untuk mendengarkan imajinasi sang ratu. Ia memilih ikut bukan karena hal itu.

…Beastman Country…

Total ada enam ras demi-human yang secara bersama mendirikan Beastman Country: Pantherlycan, Bafolk, Ape Beastman, Snakeman, Bearman, dan Armatt. Karenanya, pemimpin dari Beastman Country disebut sebagai dewan enam, dan untuk membuatnya berbeda dengan Theocracy, mereka memilih satu pemimpin yang memimpin dewan enam tersebut.

Dari keenam ras tersebut, Pantherlycan adalah ras yang memiliki populasi terbanyak di Beastman Country, dan mereka juga adalah founder dari negeri para demi-human itu. Sama halnya dengan kebanyakan demi-human, pantherlycan memiliki ukuran tubuh seperti manusia dan berjalan di atas dua kaki yang kuat dan kokoh, mereka memiliki fisik yang mirip dengan panthera kecuali postur tubuh dan abdomen mereka yang seperti manusia lainnya. Dan Rhobio, beastman yang kini sedang berjalan menuju ke tempat pertemuan, berasal dari ras tersebut. Ia adalah putra dari pemimpin Dewan Enam yang dikenal sebagai beastman terkuat di-seantero Beastmen Country, karena itulah Rhobio sangat senang lantaran dirinya berhasil menaklukkan satu kota besar di Dragonic Kingdom, tentulah itu akan membuat ayahnya bangga dengan dirinya dan peluang baginya untuk menggantikan posisi ayahnya semakin terbuka.

Tempat pertemuan terletak di tengah-tengah keenam distrik—masing-masing distrik ditempati oleh satu ras—sekaligus membuatnya sebagai pusat dari Beastman Country.

Langkah kaki berat Rhobio membuat para beastmen yang berkeliaran di sana sini untuk menaruh perhatian padanya. Namun dari sekian banyak yang ada, tak ada satu pun yang berani menanyakan kenapa ia melangkah dengan begitu senang. Hal itu sangat wajar, ia adalah anggota Dewan Enam dan putra dari pemimpin Beastman Country, tak ada yang mau untuk sekadar bertanya karena mereka takut itu akan membuat rasa senangnya terganggu.

Rhobio tak peduli, ia tetap melanjutkan langkahnya dan memasang muka seolah-olah ia adalah pemilik mereka semua.

Langkah kakinya terhenti ketika ia tiba di hadapan sebuah bangunan besar di tengah-tengah keenam distrik, dua bafolk yang berjaga di kiri kanan pintu dan sedang memberi hormat padanya ia hiraukan. Rhobio langsung memasuki bangunan tersebut setelah kedua bafolk tersebut membuka pintu, ia terus saja menuju ke tengah-tengah ruangan di mana sebuah meja bulat besar yang dikelilingi tujuh kursi terletak.

Lima dari ketujuh kursi yang mengelilngi meja besar tersebut telah diduduki oleh para anggota dewan, Rhobio memandangi mereka satu per satu.

Duduk tepat di sebelah kanan kursi miliknya adalah ketua dari Dewan Enam sekaligus ayahnya, Huitzilopotchli. Dia memiliki penampilan yang serupa dengan Rhobio, hanya saja otot-otot yang menyusun tubuhnya jauh lebih besar dari Rhobio. Armor hitam gelap yang dikenakan ayahnya juga jauh superior dari armor yang dikenakannya, suatu saat Rhobio bertekat untuk merebut armor tersebut dari ayahnya.

Kursi di sebelah ayahnya diduduki oleh seekor Snakeman berkepala dua. Pupil hitam vertikalnya menatap Rhobio dengan tajam dan penuh intimidasi, namun Rhobio sama sekali tidak takut, ia yakin kalau dirinya bisa membunuh makhluk tersebut dengan mudah. Selain racunnya yang mematikan, tak ada satu hal pun yang perlu Rhobio takuti dari snakeman bernama Arbu tersebut.

Di sebelah Arbu duduklah seekor Bearman. Dia memiliki tubuh yang paling besar dari semuanya. Kedua tangan kekar dengan kuku super tajamnya terjalin erat dan dia meletakkan dagunya di atas tangan-tangannya dengan mata memandang dirinya dengan datar. Meskipun tubuhnya yang paling besar dan mobilitasnya yang lambat, bearman bernama Bagi tersebut adalah yang terpintar dan kekuatan bertarungnya adalah nomor dua di ruangan ini, Rhobio memiliki sedikit rasa hormat padanya.

Di sebelah Bagi, makhluk dengan tubuh terselimutkan bulu merah kehitaman lebat selain bagian dada dan muka duduk dengan sangat tenang. Kendati demikian, kedua taring besar yang mencuat dari mulutnya membuat wajah tenangnya terlihat seperti wajah yang sedang menahan amarah. Dia adalah pemimpin dari Ape Beastmen, namanya Yuson.

Makhluk yang paling dibenci Rhobio duduk tepat di sebelah Yuson. Dia adalah pemimpin dari para Armatt, ras tikus yang berjalan di atas dua kaki dan memiliki tangan yang kuat dengan cakar yang panjang dan keras. Wajah tikusnya selalu membuat Rhobio jijik, dan kumis wajahnya yang meniru-niru kumis wajah Rhobio membuat kekesalannya bertambah. Namanya Jerkov, nama yang buruk untuk makhluk yang buruk.

Kursi di sebelah Jerkov harusnya diduduki oleh perwakilan Bafolk, namun tampaknya Guugu belum kembali dari Dragonic Kingdom. "Guugu-dono masih belum memberi kabar?" tanya Rhobio sambil mendudukkan dirinya di kursi di sebelah kursi Guugu.

"Belum," jawab ayahnya singkat. "Kita akan menunggunya lima menit lagi."

Rhobio mengangguk dan melipat kedua tangannya di atas dadanya. Pertemuan kali ini rencananya akan membahas tentang pembagian makanan yang ia dan Guugu bawa dari daerah invasi mereka. Rhobio dan kedua ribu prajuritnya membawa pulang 48.000 manusia untuk dibagikan ke semuanya, ia meninggalkan empat belas ribu lebih pasukannya untuk melindungi kota dan menjaga para makanan. Ia tidak tahu berapa jumlah makanan yang akan dibawa Guugu, tapi ia berharap bafolk itu membawa setidaknya 40.000 manusia.

Mereka menunggu, dan setelah lima menit berlalu mereka menunggu lima menit lagi.., dan seterusnya hingga salah seorang dari mereka kesal dan memerintahkan kedua bafolk yang mengawal pintu masuk untuk menunggui Guugu di depan gerbang utama Beastman Country, lalu mereka pun memutuskan untuk memulai pertemuan.

Dan mereka tidak tahu, kalau orang yang mereka tunggu tak akan pernah pulang, Guugu telah lenyap sepenuhnya dari alam keberadaan ini. Kelima orang tersebut tidak tahu.., dan sedikit pun mereka tidak khawatir.

..Ignit City, Dragonic Kingdom..

Mati. Illya tidak pernah membayangkan akan bisa menceritakan bagaimana rasanya itu. Ketika ia membiarkan kegelapan menariknya paksa, rasa sakit yang diakibatkan dari keluarnya jiwa dari tubuhnya tak bisa diutarakan dalam kata. Kemudian jiwanya tertarik ke dalam alam kegelapan; Illya tak bisa melihat apa pun di sana, kegelapan total, kegelapan yang hakiki. Namun itu bukanlah neraka, juga bukan surga, apalagi negeri para dewa; itu adalah alam kesendirian, alam refleksi, alam di mana jiwa merasakan efek kausalitas semasa hidupnya.., mungkin. Illya tidak terlalu mengerti, namun yang pasti, selama ia berada di alam kesendirian itu selama beberapa detik, yang ia rasakan adalah kedinginan total, seolah-olah tubuhnya membeku dalam dunia tanpa waktu.

Orang yang mati harusnya akan meninggalkan dunia ini selamanya, dan tetap bertahan di dunia kesendirian itu hingga masanya tiba bagi para dewa menjemput jiwa mereka, namun Illya telah meninggalkan alam kegelapan itu dan kembali pada alam kehidupan; Arthuria-sama telah menghidupkannya tepat beberapa detik setelah matinya. Menghidupkan orang mati, dengan syarat-syarat tertentu, adalah hal yang mungkin dengan sihir, bukan lagi mungin tapi wajar. Selain Slane Theocracy, diketahui bahwa salah satu anggota Blue Rose dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Akan tetapi, proses resureksi yang diketahui Slane Theocracy dan Blue Rose dengan yang dilakukan oleh Arthuria-sama kepadanya sangat berbeda; diketahui bahwa resureksi normal memberikan tekanan yang tinggi pada tubuh sehingga akan beresiko dengan lenyapnya orang yang ingin diresureksi, bahkan jika proses resureksi berhasil pun maka akan ada efek samping yang akan dirasakan oleh orang yang diresureksi. Namun Illya tidak merasakan efek apa pun, seolah-olah kematiannya hanyalah pingsan semata.

Seperti yang diharapkan dari masternya; tak ada yang mustahil bagi mereka, jika masternya tak marah jika ia menganggap mereka sebagai dewa maka sudah pasti ia akan menganggap mereka sebagai dewa.

"Kapten!"

Panggilan Reyon yang tiba-tiba membuat Illya sedikit tersentak, sepertinya ia terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga tidak mendengarkan apa yang dikatakan lelaki tersebut. "Ah, eh, apa kau mengatakan sesuatu, Reyon?" tanyanya sambil tersenyum.

"Tidak ada, lupakan saja, kapten."

"Oh, baiklah."

Illya, ditemani Reyon, kembali melanjutkan jalan mereka. Mereka baru saja mengadakan pemakaman massal terhadap seribu lebih prajurit dan warga yang tewas tadi malam, setelah selesai melakukan prosesi pemakaman keduanya beranjak mengecek kondisi para warga yang kediaman mereka rusak, dan kini mereka sedang menyusuri kota untuk memastikan semuanya akan baik-baik saja.

Dari 112.554 warga Kota Ignit dan 10.000 prajurit yang ditempatkan di sini, selain 24.778 warga dan 800 prajurit yang mengevakuasi diri, hanya tersisa 52.447 warga dan 2234 prajurit yang selamat. Illya tidak tahu berapa banyak korban yang jatuh di Veldyr City, tapi ia harap tidak sebanyak yang terjadi di kota ini. Namun rasanya itu tak mungkin, mengingat kota tersebut masih berada dibawah kuasa beastmen, mungkin saja korban yang jatuh jauh melebihi yang gugur di kota ini.

"Kapten Illya!" teriak seorang prajurit yang datang menghampirinya.

"Ada apa, kenapa tergesa-gesa?"

"Her Majesty sudah tiba di sisi timur kota."

Illya sedikit terkejut mendengar hal tersebut, sepertinya Queen Draudillon sama sekali tak membuang waktu dan langsung melakukan perjalanan ke sini setelah beritanya sampai ke telinga beliau. "Jadi beliau benar-benar datang.., Reyon, aku serahkan sisanya padamu. Prajurit, lanjutkan pekerjaanmu, aku akan menyambut Her Majesty langsung."

"Tentu." / "Baik, kapten."

Dengan begitu Illya langsung bergegas ke sisi timur kota, ia harus membicarakan semuanya dan meminta Queen Draudillon untuk meminta bantuan masternya secara langsung. Bisa saja Illya meminta bantuan Arthuria-sama untuk membebaskan Kota Veldyr dengan spell-nya seperti yang beliau lakukan tadi malam, tapi setelah merasakan tebasan Excalibur-nya Arthuria-sama ia jadi sedikit trauma. Memang Arthuria-sama tidak sengaja membunuhnya, tapi tetap saja itu tidak menghilangkan fakta bahwa ia sempat merasakan kesakitan yang amat sangat!

Illya menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan gambaran dirinya terkena tebasan Excalibur dan memikirkan tentang makanan-makanan surgawi yang diberikan kepadanya oleh Arthuria-sama sebagai permintaan maaf karena telah "secara tidak sengaja" membunuhnya. Dan itu bekerja, Illya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengences begitu kelezatan makanan-makanan yang tak pernah dilihatnya itu kembali terlintas di pikirannya. Mungkin ini tak baik, tapi Illya akan terus memanfaatkan rasa bersalah Arthuria-sama untuk mendapatkan makanan surgawi itu lagi!

Sepertinya kematianku adalah berkah.. hehehehe.

Illya mengelap saliva yang keluar dari mulutnya akibat membayangkan makanan surgawi itu dan menambah lajunya, akan sangat tidak baik jika ia bertemu her majesty dalam kondisi mengences seperti tadi.

Beberapa menit berlalu, akhirnya Illya dapat melihat her majesty dan orang-orang yang mengawal kedatangannya. Ia pun memelankan langkahnya dan berjalan dengan tenang menghampiri mereka. Illya dapat melihat kalau mereka juga sudah melihat kedatangannya, dan ekspresi di wajah mereka ketika melihat armor miliknya juga sudah ia duga; tidak ada yang tidak akan terkejut melihat keeleganan armornya.

"Her Majesty," ucap Illya seraya menundukkan kepalanya memberi hormat. Biasanya ia akan berlutut sebagaimana halnya semua orang, namun kali ini ia bukan lagi subjeknya Queen Draudillon; Arthuria-sama mengatakan kalau ia hanya boleh berlutut kepada Uzumaki-sama, karena seorang kesatria hanya berlutut kepada tuannya.

"Kenapa kau tidak berlutut, Kapten Illya?" tanya Commander Reinhart.

Illya dapat merasakan nada tidak suka di suara sang commander. Itu hal yang wajar menurutnya, Commander Reinhart sangat berdedikasi dalam melaksanakan tugasnya. Melihat bawahannya tidak memberi penghormatan yang pantas kepada ratu mereka tentu melanggar norma Dragonic Knight, akan tetapi Illya bukan lagi Dragonic Knight. "Karena aku tidak lagi melayani Queen Draudillon," jawabnya tegas.

Jawaban singkat Illya membuat semuanya terdiam. Ia bisa melihat Commander Reinhart bersiap-siap mengeluarkan pedangnya, hal yang sama juga berlaku pada kesepuluh prajurit di belakang mereka. Vice-commander Emily tidak memberikan reaksi yang lebih, dia tampak hanya sedikit terkejut. Prime minister tidak berekspresi berlebihan, tapi Illya dapat melihat raut kekecawan yang dipancarkan wajah tuanya.

Commander Reinhart menarik pedangnya, melihat hal itu Illya juga bersiap untuk menarik pedangnya.

"Kau melang—"

"Cukup, Reinhart."

"Tapi Her Majesty, dia—"

"Aku bilang cukup!" perintah ulang Queen Draudillon, membuat sang Commander terdiam lalu kembali menyarungkan pedangnya. "Kapten Illya," ucap Queen Draudillon sembari melangkah mendekati dirinya.

Melihat hal itu membuat Illya kembali rileks. "Her Majesty, tak biasanya Anda memakai wujud asli Anda, dan saat ini saya bukan lagi kapten atau pun bagian dari Dragonic Knight, Reyon akan menggantikan posisi saya di sini."

"Tentu saja aku memakai wujud asliku, aku tak mungkin memakai wujud anak kecil di depan Naruto-sama, kan?" jawab Queen Draudillon dengan penuh semangat.

Oke, sekarang Illya benar-benar mengerti apa yang ada di pikiran Queen Draudillon. Akan tetapi, meskipun menurutnya Queen Draudillon sangat cantik dan menggoda, Illya tidak yakin jika sang ratu akan bisa mewujudkan ambisinya. Bahkan lebih buruknya Uzumaki-sama akan menganggap apa yang akan dilakukan Queen Draudillon sebagai hinaan baginya. Illya harus menahan sang ratu, untuk keselamatan dirinya dan semuanya!

Namun, sebelum ia mulai berbicara, sang ratu kembali berbicara.

"Jadi, kenapa kau melakukan apa yang kau lakukan?"

Illya menghela napas.

"Saya setuju untuk menjadi pelayan Uzumaki-sama asalkan beliau menyelamatkan kota ini, dan yah, sekarang saya melayani Uzumaki-sama dan Arthuria-sama."

Illya lalu menceritakan kejadian tadi malam kepada Queen Draudillon dan yang lainnya dengan lebih detail, kemudian ia memimpin mereka semua menuju ke "istana sementara" kedua masternya.

"Sebelum kita tiba di sana, aku ingin memberitahukan hal-hal penting tentang mereka berdua," mulai Illya setelah beberapa lama diam. "Uzumaki-sama adalah orang yang prideful dan sedikit arogan serta penuh percaya diri, jadi jangan berbicara dengannya seolah-olah kalian mengenalnya dan berbicaralah dengan penuh respek. Jadi, her majesty, Anda tidak boleh memanggilnya Naruto-sama. Satu-satunya yang dizinkan memanggil nama panggilannya secara kasual hanya Arthuria-sama saja. Oh, ini hal yang paling penting: meskipun Arthuria-sama memanggil Uzumaki-sama dengan sebutan 'master', namun beliau bukanlah pelayan Uzumaki-sama. Bahkan dulunya Arthuria-sama adalah seorang raja dari sebuah kerajaan besar, the Great Britannia Kingdom."

"Seorang raja, bukannya ratu?" / "Britannia Kingdom? Aku tidak pernah mendengarnya."

"Aku tidak tahu detailnya, aku hanya mendengarnya dari pembicaraan Arthuria-sama dengan Uzumaki-sama saja. Apapun itu, tolong jangan tunjukkan sikap disrespectful di depan mereka berdua, bahkan meski Anda seorang ratu sekali pun."

Perjalanan selanjutnya diisi dengan Illya yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan ratu dan jajarannya.

Setelah beberapa menit berjalan akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Mereka langsung disuguhkan oleh pemandangan yang belum pernah mata mereka lihat sebelumnya. Sebuah istana besar nan megah berlantai dua berdiri angkuh di depan mereka. Istana tersebut dikelilingi oleh dinding pembatas yang kesemuanya terbuat dari perak, dan dinding-dinding istana itu sendiri terbuat dari emas yang kemurniannya dua hingga tiga kali lebih murni daripada mahkota yang dikenakan Queen Draudillon.

Illya bisa dengan jelas melihat berbagai ekspresi yang terpancar di wajah mereka, baik itu raut tak percaya, takjub, tekejut, hingga terpesona. Ia tak bisa menyalahkan mereka untuk terdiam dengan mulut menganga seperti itu, hal yang mengisi pandangan mereka memang bukanlah sesuatu yang ada dalam dunia para mortal ini.

"Aku tak sedang berhalusinasi, kan?" tanya Queen Draudillon sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Apa yang Anda lihat benar-benar nyata, Your Majesty, namun apa yang kita lihat ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang saya lihat di sebuah tempat yang bernama Hanging Garden of Babylon."

"Hanging Garden of Babylon?"

"Aku tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata, tempat itu melebihi segala macam imajinasi." Illya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memasang ekspresi takjub, apa yang dilihatnya di lantai teratas tempat suci tersebut tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata belaka; itu adalah taman para dewa, tampat dimana imajinasi sama sekali tak bekerja.

Illya menghela napas pelan dan melangkah memasuki gerbang istana, "Ayo masuk," ucapnya pelan.

Yang mengikuti Illya memasuki gerbang istana hanya empat orang saja: Queen Draudillon, Prime Minister Alfred, Commander Reinhart, dan Vice-commander Emily, sisanya menunggu di luar gerbang istana.

-O-

Draudillon sudah melihat banyak hal dalam hidupnya, namun apa yang ada di balik pintu besar istana bukanlah salah satu dari banyak hal itu.

Apa yang terlihat di depan matanya bahkan melebihi apa yang ia lihat dari luar istana tadi. Dinding-dinding dalam istana megah ini juga terbuat dari emas, namun nilai artistiknya jauh jauh melampaui apa pun yang pernah ia lihat. Ornamen-ornamen yang menghiasi dinding, lukisan-lukisan yang mampu membuat lukisan para maestro terlihat seperti buatan pemula, lantai yang semuanya terbuat dari kaca yang dibawahnya terdapat ikan-ikan yang berenang dengan bebasnya, pilar-pilar yang banyak ukiran dragon di permukaannya, langit-langit yang membuatnya seolah-olah melihat langsung pada langit malam yang penuh akan kerlipan bintang dengan bulannya yang benar-benar bercahaya, perabotan-perabotan berkualitas super yang tersusun begitu rapi dan penuh akan kalkulasi, sebuah pagar perak berbentuk lingkaran di tengah-tengah istana yang di dalamya adalah permukaan air yang tak ditutupi kaca yang membuat ikan-ikan bermunculan, serta sosok perempuan berpakaian mewah namun simpel dengan kecantikan wajah yang membuatnya sedikit minder; ia berada di salah satu istana surga, tak ada penjelasan lain yang logis selain itu.

"Arthuria-sama, Queen Draudillon dan orang-orangnya sudah sampai."

Perempuan berpenampilan "otherworldly" itu meletakkan buku bacaannya dan memandang ke arahnya dan yang lainnya.

"Oh, ajak mereka untuk duduk, Illya."

"Baik, ayo."

Draudillon dan yang lainnya mengikuti Illya ke pojok istana di mana sofa-sofa berkualitas super yang terlihat mewah dan lembut tertata rapi terletak. Illya langsung duduk di sofa panjang di kanan sofa single-seat yang diduduki pemilik istana. Draudillon dengan hati-hati duduk di samping Illya, Emily duduk di sebelahnya, Reinhart duduk di sebelah Emily, dan di ujung sofa besar dan panjang tersebut duduklah prime minister.

"Aku tertarik untuk bertemu denganmu begitu Illya mengatakan kalau kerajaan ini dipimpin oleh seorang ratu, dan selamat datang di tempat kami, namaku Arthuria Pendragon, panggil saja Arthuria."

"Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Arthuria-sama, nama saya Draudillon Oriculus, ini Emily Avosvin, di sebelahnya Reinhart Elzenkirl, lalu lelaki tua itu adalah prime minister kerajaanku, Alfred Nurl Verbestr. Saya ingin mengucapkan terima kasih karena telah membebaskan kota saya, tapi kalau boleh saya tahu, di mana Uzumaki-sama? Saya ingin bertemu dan berbicara sesuatu dengannya."

"Em, Illya, mengapa kau tidak menuangkan minum untuk mereka? Dan oh, Draudillon, kau bisa memanggilku Arthuria, sudah sepantasnya memanggil sesama pemimpin dengan level yang setara, bukan? Juga, tak perlu berterima kasih padaku, berterima kasihlah pada Illya."

Draudillon mengangguk, "Arthuria-dono kalau begitu," ucapnya seraya tersenyum. Seperti yang dikatakan Illya, sifat Arthuria-dono memang ramah dan penuh wibawa. Ia tak sedikit pun ragu dalam meyakini perkataannya, dia memang meradiasikan aura seorang raja seperti yang Illya katakan.

Draudillon menolehkan perhatiannya pada meja kaca berkualitas super di hadapannya. Illya sudah menuangkan cairan oranye ke dalam gelas-gelas yang terbuat dari emas itu. Ia bisa merasakan aroma semerbak menginvasi indera penciumannya, jelas sekali kalau minuman ini sangatlah berkualitas. Ia melirik ke sebelahnya; Emily, Reinhart, dan Alfred melihat ke arahnya juga, mereka menunggu dirinya untuk memulai minum. Draudillon mengerti, ia mengambil gelas berisikan cairan nikmat itu tanpa ragu lalu membawanya mendekati bibirnya. Draudillon mencium aroma nikmat cairan itu dan mendaratkan bibir gelas tersebut pada bibirnya, lalu dengan elegan ia membiarkan cairan itu memasuki mulutnya.

"I-ini.." Draudillon tak bisa menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan rasa dari minuman ini. Rasa manisnya, kekentalan cairannya, rasa segar ketika cairan ini membasahi tenggorokannya.., semuanya sangat sempurna seolah-olah minuman ini turun langsung dari surga.

Melihat ekspresi dari sang ratu membuat Emily dan yang lainnya bergegas meraih gelas yang diletakkan di hadapan mereka. Dengan pelan dan hati-hati mereka meneguk cairan oranye tersebut dan raut bahagia bagaikan ekstasi segera merambat memenuhi wajah ketiganya.

Draudillon tersenyum melihat ketiganya dan kembali meminum bagiannya. Ia bahkan meminta Illya untuk kembali mengisi gelasnya yang telah kosong, dan dengan tamak ia kembali menghabisi cairan keoranyean tersebut.

"Boleh saya tahu minuman apa ini, Arthuria-dono?" tanya Draudillon setelah puas mengagumi minuman ternikmat yang pernah ia minum.

"Aku lihat kalian menyukainya, nama minuman itu adalah 'orange juice'."

"Orange juice.., saya belum pernah mendengar nama itu, bagaimana dengan kalian?" tanya Draudillon kepada ketiga orang terbaiknya, dan gelengan kepala mereka membuat Draudillon pasrah.

"Jadi, Draudillon, apa yang ingin kau bicarakan dengan master?"

Draudillon kembali memfokuskan perhatiannya kepada Arthuria-dono. "Saya ingin meminta bantuan untuk menyingkirkan para beastmen dari kerajaan, saya bersedia melakukan dan memberikan apa pun untuk itu, bahkan jika Uzumaki-sama menginginkan saya sebagai pelayan atau istrinya pun saya tak akan keberatan."

"Master akan membunuhmu kalau kau mengatakan ingin menjadi istrinya," komentar Arthuria. "Kalau kau benar-benar ingin meminta bantuan master, maka kau harus menghindari dari mengatakan hal-hal yang akan membuatnya kesal."

Mungkin itu hanya perasaannya saja, tapi Draudillon merasakan nada ancaman dalam suara merdu Arthuria-dono. Ia melirik ke kiri kanannya memastikan kalau yang lainnya juga menyadarinya, namun sikap mereka tak mengindikasikan kalau apa yang dirasakannya benar, karena itu Draudillon kembali rileks. "Jadi, Arthuria-dono, boleh saya bertemu dengan Uzumaki-sama?"

"Ee, tentu, ayo ikut aku."

Draudillon mengangguk lalu berdiri mengikuti Arthuria berjalan menuju tangga yang terletak di sudut kiri ruangan. Emily, Reinhart, dan prime minister mencoba berdiri untuk mengikutinya namun Draudillon menyuruh mereka untuk tetap duduk.

"Kenapa kau menjadi ratu?" tanya Arthuria-dono, iris emerald-nya memandang lurus ke depan.

"Saya tidak punya saudara untuk menggantikan posisi saya."

"Oh, begitu."

Eh, apa Arthuria-dono kecewa dengan jawabannya? Tapi memang itu adalah jawaban yang sebenarnya; Draudillon tak akan mau menduduki tahta kerajaan kalau ia memiliki saudara. Lihat apa yang terjadi dengan kerajaan yang sudah ia pimpin sejak belia, benar-benar diambang kehancuran!

"Kau tak terlihat memiliki kebanggaan seorang pemimpin, aku jadi mengerti kenapa master tak sedikit pun tertarik untuk melihatmu."

Draudillon melebarkan matanya, terkejut mendengarkan hal tersebut. Akan susah baginya untuk bernegosiasi dengan Uzumaki-sama jika beliau tidak suka dengan alasannya menjadi ratu.

"Kau menjadi ratu karena tidak punya pilihan lain.., ratu yang tak memiliki kebanggaan akan statusnya.., ratu yang seperti itu tak layak disebut ratu."

Draudillon mengepalkan kedua tangannya erat-erat, ia berusaha untuk tidak berkomentar terhadap ucapan dingin Arthuria.

"Kau bahkan tak bisa membela dirimu.. kau benar-benar tak layak menjadi ratu. Kenapa harus repot-repot menyelamatkan kerajaanmu, mundur saja dan hapus sistem kerajaan ini."

Draudillon menggeretakkan gigi-giginya. "Aku memang tak pantas menjadi ratu," desisnya pelan. "Kendati demikian, aku punya tanggung jawab yang harus kupenuhi, darah pendiri kerajaan ini mengalir dalam pembuluh darahku. Mau atau tidak, suka atau tidak, pantas atau tidak.. hal yang seperti itu tidaklah penting! Selama aku melaksanakan tanggung jawab yang diberikan padaku, dan memastikan kalau rakyatku baik-baik saja, maka itu sudah lebih dari cukup."

"Heee.. begitu? Hm.. aku harap kau bisa mempertahankan argumentasimu dan tetap menunjukkan determinasi yang seperti itu," ucap Arthuria-dono sambil berdiri di samping pintu berukuran sedang yang terbuat dari emas dengan ukiran-ukiran dragon di masing-masing daun pintu. "Karena kalau kau sampai kehilangan determinasi yang seperti itu, maka kau tidak akan bisa mendapatkan simpati master. Master ada di dalam, masuklah," jelas Arthuria-dono sambil berjalan melewati dirinya. "Dan kuharap kau berhasil meyakinkan master untuk membantumu," ucapnya lagi seraya berlalu.

Jadi, beliau mengatakan semua itu untuk melihat seberapa besar determinasi yang aku miliki dan seberapa kuat argumenku.. semua itu untuk memberiku dukungan dan saran agar aku bisa mendapatkan bantuan dari Uzumaki-sama. Arthuria-sama benar-benar berhati malaikat seperti halnya rasnya yang malaikat.

Rasa hormat Draudillon terhadap Arthuria semakin bertambah. Tak ingin mengecewakan sang malaikat yang telah memberinya dukungan dan kepercayaan, Draudillon dengan semangat yang baru mendorong pelan pintu yang berdiri gagah di hadapannya.

Pintu terbuka secara perlahan. Draudillon menarik napasnya lalu menghembuskannya, dan dengan penuh keeleganan ia memasuki ruangan yang tak kalah megahnya dengan lantai satu istana tadi.

-3-

Semoga chapter ini memuaskan, dan terima kasih untuk dukungannya!

QA:

-Naruto buat kerajaan baru atau ngambil alih dragonic kingdom? Akan terjawab seiring berjalannya cerita, tapi logikanya kalau dia buat kerajaan baru maka itu akan bertentangan dengan judul