Author note:

Haiii semua!

Kembali lagi di fanfic komedi gaje ini!

Maaf atas ke-ngaret-an yang luar biasa overdosis ini... (?)

Dan... Uwaa! Makasih amat amat amat banyaakkk, untuk semua review, fav, sama follownya! XD *nebar tisu* Author senang sekali T_T Tanpa kalian author tak akan termotivasi... (?)

Ehem! Okeii! Langsung aja, ini dia Chapter 3!

Selamat membaca! Semoga menghibur dan tidak mengecewakan!
*nyengir kuda*

-Lutanima-

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Story by: Lutanima

Warning: AU , typo overdosis, GAJE, EYD amburadul, OOC, tata bahasa kacau, dan lain-lain (?)

.

.

.


CHAPTER 3


"..."

"…"

"…Wah wah. Kalian sudah capek rupanya."

"GARA-GARA SIAPA HAH?!" Teriak Naruto dan Sasuke bersamaan, ke arah pemuda di depan mereka yang sedang sibuk garuk-garuk leher ini. Kemudian pemuda itu berjongkok, menatap Sasuke dan Naruto yang terkapar karena kelelahan berlari, di tengah rumput. Dia mengangkat tangan kanannya.

"Yo. Aku Hatake Kakashi. Kepala sekolah dan guru pengajar SMA disini. Salam kenal, Sasuke." Ujarnya dengan mata tersenyum. Sasuke spontan terbangun dan menatap curiga guru itu.

"D-Darimana kau bisa tau namaku?"

"Yah wajar…, sejak tadi ada bocah yang terus meneriakan namamu sambil berlari. Kelihatannya warga desa ini sudah mengenal namamu. Yah… Berkat kalian yang sudah berlari mengelilingi desa tentunya." Kakashi menyodorkan telunjuknya ke arah Naruto yang masih terkapar. Sasuke menutup wajahnya.

"Tampaknya warga desa juga sudah tau mengenai celana dalam mahalmu itu-…"

"HENTIKAANN!" Sasuke segera menutup mulut Kakashi. Yah… Ga guna sih. Mulutnya juga udah ketutupan masker. Sasuke pasrah. Benar-benar pasrah.

Jadi… Orang ini kepala sekolahnya?

Orang ini?

Kakashi hanya tertawa kecil sembari berdiri dan merentangkan tangannya. Kemudian menunjuk ke arah suatu bangunan.

"Itu sekolahnya. Kelihatan kan? Lusa kalian sudah masuk sekolah. Karena itu besok ada baiknya kau beli seragam dan perlengkapan sekolah dulu." Ujar Kakashi sambil mendekati Naruto yang masih terkapar, kemudian mencolek-coleki perutnya. Naruto spontan menggeliat, dan tak lama, mereka berdua pun mulai berkelahi.

"Hah… Dimana aku harus beli seragamnya?" Tanya Sasuke pasrah sambil melihat Naruto dan Kakashi yang sedang sibuk bergulat.

"Ah. Iruka yang menjualnya. Hoi, Naruto. Besok antarkan dia ke rumah Iruka ya." Mendengar nama Iruka, Naruto yang tadinya sibuk berusaha mencekik Kakashi pun, langsung bersemangat dan berdiri dengan benar.

"Guru Iruka? Beres!" Ujar Naruto sambil mengusap-usap perutnya dan mengusap air liurnya. Sasuke sempat mengkerutkan alisnya, sebelum…

"Guru Iruka itu baik sekali Sasuke! Dia selalu mentraktirku ramen!" Sasuke menghela napasnya.

"Ohh… Hah. Dasar rakus."

"Ya sudah. Matahari sudah hampir tenggelam. Kalian pulang sana."

Sasuke ngedip-ngedip mendengar perkataan Kakashi. Kakashi dan Naruto yang melihat ekspresi Sasuke jadi ikutan bingung.

"E-Eh? Pulang? Pulang?" Tanya Sasuke sampai dua kali, bung.

"Ya… Iya..?" Jawab Naruto sambil… Entah kenapa terdengar seperti bertanya juga.

"Memangnya kau mau disini terus? Masih mau main? Hm... hm... hm... Tidak baik loh. Kau tidak tau? Kalau anak-anak masih berkeliaran saat malam hari nanti udelnya diambil setan looo" Ujar Kakashi sambil mengangkat kedua tangannya dan menggoyangkan jari-jarinya.

"HAHAHA! Guru Kakashi! Mitos apaan tuh!? Mana ada orang yang percaya-…"

"Kalau begitu… Aku duluan." Dengan sekejap, Sasuke sudah keluar dari ladang rerumputan dan berdiri di jalan utama.

"KAU PERCAYAA, SASUKEEE?!"

"Ah. Anak itu memang menarik."

"E-Eh! Ah! Tidak! Bukan itu yang ingin kukatakan! Ah!" Sasuke telah tersadar. Naruto dan Kakashi pun mulai berjalan mendekatinya, sambil mendengarkannya yang masih terus berbicara.

"Maksudku…! Apa tidak perlu mengurus surat-surat atau semacamnya itu? Kemudian biaya bangunan… Lalu lembar pendaftaran murid baru…?" Tanya Sasuke seserius mungkin. Namun yang didapatnya, hanya tatapan plengo dari Naruto dan Kakashi.

"Hah? Apa maksudnya guru Kakashi?" Tanya Naruto, sambil menatap Kakashi yang kali ini sibuk mengelus-elus daun telinganya.

"Hee… Gatau juga ya. Maksudnya apa Sasuke?" Et dah. Kakashi malah balik nanya.

"A-a…" Sasuke pun konslet. Dia menutup mata sambil memijat-mijat keningnya. Kemudian menatap Kakashi lagi.

"Memang disini kalau ada murid baru… Tidak perlu mengurus segala macamnya… Surat… Atau apapun yang lain? …Langsung masuk begitu saja?"

"Ya… Tinggal masuk saja kan? Untuk apa mengurus-ngurus yang begitu... Hal yang mudah kok dibikin ribet. Hidup itu sudah susah. Jangan kebanyakan ribet. Nanti kau makin tua loh. Hahahaha." Ujar Kakashi sambil mengacak-acak rambut Sasuke. Sasuke hanya terdiam pasrah sambil menundukkan kepalanya.

"Benar itu, Sas! Kau itu juga kebanyakan mengerutkan dahi! Nanti jadi keriput loh! Keriput!" Naruto ikut-ikutan menepuk-nepuk pundak Sasuke.

"Wah, bahaya itu. Kalau gak bisa balik nanti gimana, hayooo. Jangan lagi ya… Anak baik ga boleh begitu… Nurut ya, kamu."

Sasuke pasrah.

Dia mau masuk SMA atau TK sih sebenarnya?!

Sasuke pun mulai emosi.

"AHH! HENTIKAAANN! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil begini! Haarrggh! Aku kesini juga bukan karna mauku! Jadi jangan salah sangka ya kalian! Aku akan cepat-cepat lulus dan kembali ke kotaku! HAARGH!" Sasuke jingkrak-jingkrak.

"Hah… Baru juga dibilangin jangan ngerutin dahi… Ckckck… Bandel juga dia."

"Dia memang begitu kelihatannya, Guru! Waktu pertama kali datang saja, dia udah joget-joget begitu. Kukira dia pengusir setan awalnya! Tapi ternyata dia malah takut setan! Hahahaa!"

"BERISIKKK! DIAM! GARGH! AKU PULANG!" Tanpa basa-basi, Sasuke segera berlari meninggalkan Naruto dan Kakashi. Melihat hal tersebut, Naruto spontan berteriak.

"Sasukee! Sasuke berhentii!" Sasuke pura-pura budeg dan terus berlari.

Masa bodo! Aku tidak akan menoleh ke belakang lagi! Aku tidak akan berhenti berlari! Kutinggalkan kau! Hahahaha!

"Rumahnya bukan ke arah sana Sasukee! Sasukeee! SASUKEEE! OOIII! SASUKE KAMU NYASAARR! NYASAR SASUKE! NYASARRR! KAMU SALAH ARAAHH! JANGAN KESANAAA! BERHENTII! KAMU NYASAR OIIII!"

KRAK!

"Guk! Guk!"

KREEEK

"Suara apa itu? Ada apaa? Siapa yang nyasar?"

Kreekk

"Ada apa sih?"

"Eh itu ada siapa di tengah jalan? Kok ganteng ya? Orang asing?"

"Dia nyasar? Sasuke itu namanya?"

Sraak!

"Sasuke? Sasuke siapa sih? Ada apa ini?"

Kreek

"Apa apa? Ada ribut apa ini di luar?"

"Yang kudengar sih tadi orang yang namanya Sasuke nyasar, yah."

"Ohh, itu ya anaknya?"

Sraaakk

"Oalah… Itu orang pindahan ya? Dia nyasar?"

"Kasian sekali… Kita tolong deh, yuk. Dia juga kelihatannya tampan! Hehehe!"

"Wah,wah Naruto. Suaramu kencang sekali ya. Sepertinya kamu akan dibayar mahal oleh pedagang keliling kalau kau mau ikutan jualan."

"Eh? Benarkah? Waahh! Iya ya! Orang-orang pada keluar dari rumah! Eh tapi… Loh? Sasuke mana, Guru?"

"Itu tuh, lagi dikerubuni ibu-ibu. Kelihatan tidak dari sana?"

"Oh! Wah! Sasuke popular sekali! Eh…Tapi kok dia nutup muka gitu ya?"

"Ah, mungkin dia pemalu. Wajarlah. Orang baru."

"Ohh… Begitu ya…"

"Kau sudah membuatnya menjadi populer berkat teriakanmu. Kau hebat Naruto. Kerja bagus."

"Ahahahaa! Tentu saja! Aku memang hebat! Mmm… Hei, Guru… Kalau aku meneriakan namaku di tengah desa seperti tadi, aku bisa jadi populer juga ya?"

"Ah…"

.

.

.

-Keesokan paginya-

"...-Uwaaahh! Pokoknya, masakan buatan para bibi itu enak sekali ya! Berkat kau, tadi malam kita bisa makan enak, Sasuke! Para bibi itu memberimu banyak sekali makanan enak! Kau hebat sekali!" Naruto mengacungkan jempolnya ke arah Sasuke yang masih menggeliat di dalam selimut. Tidak mendapat respon dari Sasuke, Naruto pun mendekat dan menepuk-nepuk Sasuke yang masih bersembunyi dalam selimut itu.

"Ooooii Sasuke! Dari kemarin malam kau langsung bersembunyi dalam selimut begini? Kenapa?! Perutmu sakit ya?! Sembelit? Diare? Mencret?Kebelet BAB? Gak bisa BAB? Mmm..." Naruto kehabisan ide. Entah kenapa semua berhubungan dengan masalah perut. Mungkin karena pengalaman.

"… Berisik. Aku tidak akan keluar dari rumah ini. Image-ku sudah hancur berkat ulahmu kemarin. "

"Eh? Loh... Kalau soal itu sih, bukannya dari awal kamu datang, image-mu juga sudah hancur, Sas?" Sasuke mengkerutkan dahinya.

… Terima kasih sudah berusaha menghiburku, kepala nanas.

"Oiii! Sasukee! Kau belum mandi juga kan? Begini-begini kau jorok juga ya… Kukira Cuma aku saja yang malas mandi!" Naruto masih berusaha menggoyang-goyangkan tubuh Sasuke.

"…Jangan ganggu aku." Sasuke bergerak di dalam selimut. Seolah memberi kode pada Naruto untuk tidak mendekatinya. Namun apa daya, bagi Naruto yang kapasitas kepekaannya kurang dari 1KB, tentu saja hal itu tidak akan berguna.

"O-Oiiiii Sasuke~ Sasukee! Sasukeee! Bangunn! Kau harus beli seragam hari ini~!" Naruto menggoyang-goyangkan tubuh Sasuke. Namun Sasuke masih tetap teguh pada pendiriannya. Merasa usahanya sia-sia, Naruto terdiam sebentar untuk berpikir. Kemudian…

"Baiklah kalau begitu, aku tinggal ya! Aku keluar dari rumah dulu! Hati-hati! Kalau sendirian di rumah kadang…"

SRAAGGHH

Sasuke segera melempar selimutnya dan berlari ke kamar mandi.

Drap drap drap!

Brak!

Cklik.

Jbyurr! Jbyuurr! Jbyuurr! Jbyuurr! Jbyuurr!

Klotaakk!

Prak!

Naruto bisa mendengar suara gayung yang jatuh ke lantai dan teriakan kecil Sasuke. Naruto pun terkekeh kecil.

"Bah! Segitu takutnya kah dia sama hantu? Sampe keburu-buru gitu mandinya! Hahaha!"

.

.

.

"Eh? Murid baru?"

Iruka yang baru saja membuka pintu sambil ngedip-ngedip-kelilipan itu, langsung menatap Sasuke yang sedang 'pasang-tampang-super-bete' dari atas ke bawah. Tak lama, Iruka menarik Naruto dan membisikkan sesuatu padanya.

"Kau yakin anak kota begini mau masuk ke sekolah desa kita?" Tanya Iruka setengah ragu. Eh, gak. Dia beneran ragu kayaknya.

"Yakin, Guru! Dia kemarin baru saja pindah ke rumahku!"

"O-oh... Begitu…" Iruka mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebelum dia tersadar… "H-Hah?!"

"Oi, Sasuke! Ayo masuk kesini!" Naruto mendekati Sasuke yang masih tidak mau bergerak, dan mendorongnya ke dalam ruangan. Sementara Iruka masih berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk dia tanyakan kepada mereka berdua.

"Nah, kenalkan! Ini Guru Iruka! Spesialis mengajar anak SD!" Ujar Naruto sambil melebarkan tangannya, mempromosikan Iruka. Iruka pun mengulurkan tangannya dengan agak segan.

"Ah, emm… Aku Iruka. Aku guru di sekolah juga, tapi hanya mengajar anak SD. Oh, dan aku yang membuat dan menjual seragam di desa ini." Ujar Iruka sambil mencoba tersenyum ramah dan agak kaku. Dia memang begitu orangnya. Ehm! Ceritanya loh ya.

"Uchiha Sasuke." Jawab Sasuke se-cuek bebek. Dahinya masih berkerut sejak tadi. Dia tidak mau lagi menaikkan harapannya.

Semua warga desa ini sama saja. Pasti ujung-ujungnya aneh. Jangan tertipu, Sasuke!

"Uchiha… Uchiha… Ah! Jangan-jangan kau ini salah satu pemilik perusahaan Uchiha Contact Lens itu ya! Waahh! Keren sekali!" Teriak Iruka kagum.

"Hah? Apaan itu? Kayak pernah denger…" Ujar Naruto sambil mencomot aneka kue basah di meja makan Iruka. Meskipun begitu, Iruka tidak menghiraukan Naruto. Iruka sudah terbiasa.

… Sudah terbiasa untuk pasrah.

"Masa kau tidak pernah dengar, Naruto? Itu terkenal sekali loh! Kalau aku sudah punya banyak uang, aku ingin beli satu! Hehehe!"

Grep!

Secepat kilat Sasuke segera menjabat tangan Iruka dan menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Orang baik…"

"E-eh?"

"Kupikir desa ini terlalu pelosok sehingga kalian tidak mengetahui mengenai produk keluarga kami yang sangat berkualitas ini. Sejak aku datang kemari tak seorang pun menyadari bahwa aku adalah salah satu orang yang berkesempatan untuk mewarisi jabatan sebagai pemilik perusahaan produk bermutu, dan sangat ber-profit tinggi ini. Uchiha Contact lens. Kakekku adalah perintis perusahaan tersebut. Terjamin nomor satu di dunia dengan kualitasnya yang tinggi dan designnya yang menarik. Harganya terjangkau dan tidak pedih di mata, dan keamanan serta kenyamanan saat memakainya terjamin sekali. Akhirnya… Ada orang yang menyadari betapa terkenalnya produk kami yang sangat indah itu… Guru adalah orang baik. Ya… Guru adalah orang baik!"

Iruka ngedip-ngedip. Tak kuat menahan tatapan super silau dari Sasuke, dia segera menoleh ke arah Naruto dan berusaha memberikan kode. Namun apa daya, Naruto terlalu fokus mengunyah kue lapis cokelat spesial edisi terbatas milik Iruka.

"A-ah… T-terima kasih…?" Iruka masih berusaha ramah. Walau dia sebenarnya sama sekali tidak bisa mencerna perkataan Sasuke yang terdengar seperti orang nge-rap itu.

"Lalu Guru, kemudian-…"

"O-Oh, iya! Ayo kita cari seragammu Sasuke!" Iruka segera mengalihkan pembicaraan sebelum Sasuke melanjutkan promosinya yang tak kunjung henti itu.

"Ah… Benar juga ya. Aku hampir lupa akan hal itu." Iruka menghela napasnya. Syukurlah. Iruka agak menyesal dengan reaksi yang dia keluarkan tadi, tapi… Sudahlah. Setidaknya dia sudah berhenti promosi.

"Aku ambil bajunya dulu ya. Oh iya, ukuran bajumu apa, Sasuke?"

"Mmm… Aku tidak tau."

"Hee?" Iruka ngedip-ngedip. "Biasanya kalau kau beli baju, ukurannya apa?"

"Aku tidak pernah membeli baju."

"Hah?!" Iruka melotot. Dia menatap Sasuke dari atas ke bawah sambil mengkerutkan alisnya.

"Lalu bajumu-…"

"Kami keluarga Uchiha, sudah mempunyai penjahit baju pribadi. Kami tak pernah membeli baju dari luar."

"… O-Oh..." Iruka tertunduk galau. Perlahan, dia menatap T-shirt gratisan cap teh botol rosro lusuh miliknya yang sedang dia pakai itu. Dia ingat sekali, bagaimana dia bisa mendapatkan T-shirt itu. Hari itu, dia senang sekali telah mendapat baju baru, walaupun hanya untuk promosi. T-shirt berwarna jingga cerah itu selalu dia pakai setiap hari kemana-mana. Senyum cerah terpampang di wajahnya, karena dia sangat bahagia mendapatkan baju baru setelah sekian lamanya.

Namun… Kini…

T-shirt itu sudah menjadi lapuk… Warnanya sudah tidak jingga lagi… Dan cap teh botol rosro kebanggannya itu pun… Sudah lenyap… Terkikis oleh sikat cucian yang sudah mekar miliknya itu. Tanpa sadar, mata Iruka pun mulai berair. Dia segera menghapus air matanya.

Tidak apa. Tidak apa! Tahun depan, aku pasti bisa beli baju baru lagi setelah gajian!

"Oalah~! Ternyata kau ini orang kaya ya, Sasuke! Ckckck! Orang kaya memang beda ya!" Ujar Naruto sambil menjilat sisa-sisa kue di tangannya, lalu mengelus punggung Sasuke... Sekalian ngelap tangannya. Sasuke yang sadar akan tindakan senonoh Naruto, tanpa ragu, langsung menendang betis Naruto. Naruto pun terkapar.

"Loh, Guru? Guru kenapa?" Tanya Sasuke yang baru sadar kalau Iruka sedang sibuk menghapus air matanya.

"O-Oh! Hahaha! Tidak tidak! Ini… Biasa kok! Mataku memang kadang suka bermasalah!" Ujar Iruka sambil berusaha berbohong dan mencari alasan.

"Oh! Kalau begitu pas sekali, Guru! Kami menyediakan salah satu produk contact lens yang dapat menghilangkan iritasi pada mata! Anti iritasi! Guru tidak perlu ragu dan khawatir akan kualitasnya! Terjamin nomor satu di dunia dengan kualitasnya yang tinggi dan designnya yang menarik. Harganya terjangkau dan tidak pedih di mata, dan keamanan serta kenyamanan saat memakainya terjamin sekali. Lalu-…"

"Oh tidak…"

Iruka memukul jidatnya.

Ya…

Iruka sudah kapok berbohong lagi.

.

.

.

"Bagaimana Sasuke?"

"… Tidak pas."

"E-ehh?! Masih belum pas jugaa?!"

Brugh!

Naruto membanting belasan kemeja-kemeja dan celana-celana yang telah ditolak oleh Sasuke. Naruto menatap Iruka yang masih sibuk membongkar dan mencari seragam lain yang kemungkinan 'pas' untuk Sasuke.

"Guru? Ada yang lain?"

"Hah… Aku khawatir… Tidak. Lagipula, bukankah seragam yang ketiga tadi sudah pas ukurannya untukmu, Sasuke? Kenapa kau masih bilang tidak pas-…"

"Ukurannya memang pas… Tapi… Bahannya sangat tidak enak di kulit. Aku heran, kain ini terbuat dari bahan apa. Ah… Tidak. Aku bahkan ragu bahan ini bisa disebut kain. Ini kasar sekali dan tidak menyerap keringat. Kalau digesekkan ke kulit, lama-lama, kulit bisa kapalan. Kulir menjadi rawan luka juga. Dan lagi... Kalau mengenakan ini saat olahraga akan berbahaya, karena sirkulasi pengeluaran keringat yang akan menjadi terhambat. Kalau begini terus-…"

"Ehem! Sasuke…?" Naruto mencolek pundak Sasuke.

"Ya?" Sasuke menoleh ke arah Naruto yang berusaha mengeluarkan senyumannya.

"Mmm… Kau tau kan desa ini berbeda dari tempatmu tinggal, kan?"

"Ya. Aku tau. Desa ini berada di daerah yang terpencil dan jauh dari peradaban. Makhluk... Em, maksudku... Warga yang tinggal disini pun sudah sangat mencerminkan kondisi kehidupan di desa ini. Sangat memprihatinkan."

"Mmm… Cukup. Tak perlu kau teruskan lagi, ha... ha... Ehm! Intinya... Karena itulah… Bahan kain di desa ini sangat terbatas dan yah… Hanya ini yang dapat disediakan oleh pihak sekolah. Ehmm… Maksudku… Oleh Guru Iruka tentunya." Ujar Naruto sambil menggaruk kepalanya dan menoleh ke arah Guru Iruka yang sudah tertunduk di pojok ruangan.

"Ah…" Sasuke akhirnya mengerti. "Tidak mempunyai modal lebih untuk membeli bahan pakaian yang lebih bermutu ya…"

JLEB!

Iruka semakin terkapar di pojok ruangan.

"Kau tidak perlu se-frontal itu." Ujar Naruto sambil menunjuk ke arah Guru Iruka yang sudah dikelilingi aura gelap itu.

"Ah…" Sasuke mingkem. Dia menggaruk kepalanya dan mengambil seragam yang cocok dengan ukurannya. "Ehm... Aku ambil yang ukuran ini." Ujar Sasuke agak segan. Tidak enak hati.

"… T-Terima kasih… Hiks…" Iruka menghapus air matanya. Baru saja dia berdiri dan hendak menatap Sasuke-…

"Oh iya. Disini bisa bayar pakai kartu debit tidak ya?"

Hari itu… Air mata Iruka terus menetes tiada henti.

.

.

.

"Aku tidak percaya aku telah berhutang."

Sasuke mengangkat kantung plastik berisi baju seragam barunya itu, sambil terus menggerutu tiada henti. Naruto yang berjalan di sampingnya, menatapnya heran, sambil mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di belakang kepalanya.

"Jangan khawatir! Aku juga masih berhutang seragamku sejak SD pada Guru Iruka, kok! Warga desa ini juga banyak yang berhutang pada Guru Iruka! Tenang saja!"

"… Aku tidak tau dimana letak 'tenang'-nya." Jawab Sasuke datar. Dia masih menggerutu. Seharusnya sebelum ke desa ini, dia pergi ke bank dulu untuk mengambil banyak cash. Kini, di desa terpencil ini, kartu debit versi gold miliknya sekali pun, setara dengan kartu mainan Kyuubi-Oh yang dibawa-bawa oleh Konohamaru kemarin. Tidak ada gunanya. Dan berkat hal itu... Pertama kali dalam hidupnya... Dia berhutang.

"Hah… Kalau begini bagaimana aku bisa hidup…" Sasuke memijat dahinya.

"Tenang saja, Sasuke! Kan ada aku! Kita kan hidup berdua! Jadi kita bisa saling berbagi tugas, suka-duka, dan uang, untuk menjalani hidup kita berdua!"

"… Ehm. Apa tidak ada kata lain selain 'hidup berdua'? Kau berkata seolah-olah kita baru saja menikah dan semacamnya. Jangan membuatku merinding." Ujar Sasuke sambil mengerutkan dahinya. Naruto menekan jari telunjuk ke bibirnya, berpikir.

"Kalau begitu… Tinggal bersama?"

"Aku lebih memilih kata 'menumpang'. …Tapi memang kenyataannya kita akan tinggal bersama… Hah…" Sasuke menghela napasnya. Dia masih setengah tidak percaya dengan semua cobaan dari kakek-tercintanya ini. Tapi demi Uchiha Contact Lens… Sasuke akan mencoba menghadapi segala cobaan dan rintangan yang kian menantinya ini!

Ya benar!

Demi menjadi penerus perusahaan Uchiha Contact Lens-…!

"Sasuke! Awas!"

Clep!

"… Ah… Ada tai kucing…"

"…"

"Yah… Sudah keinjak… Aku telat ya? Hahahaha!"

Demi…

Uchiha Contact Lens…

… Iya kan?

(bersambung)