Note: baca chap sebelumnya ya dikarenakan udpate-an chap ini jaraknya amat sangat mepet dengan chap sebelumnya.

.

Dengan perlahan ia membuka kedua matanya, membiasakan cahanya mulai memasuki retinanya. Ia berkedip beberapa kali sampai penglihatannya terlihat dengan sempurna. Dan hal pertama yang ditangkap oleh penglihatannya adalah dada bidang milik seorang lelaki—tunggu, dada bidang?

"Aku.. dimana?"

"Mulai sekarang kau tidak akan boleh kemanapun sendirian, Taeyong."

Entahlah, Taeyong tidak mengerti. Mengapa dirinya merasa nyaman berada didalam pelukan Jaehyun, si manusia serigala alias werewolf. Harusnya ia menjauh jika ingin hidupnya aman dan tenang, tapi karena insiden yang baru saja ia alami dirinya jadi merasa aman dan merasa terlindungi oleh sang werewolf.

"Jaehyun, apa kau akan menyakitiku?"

"Tidak."

"Apa kau berjanji akan melindungiku?"

"Tentu."

"Bagaimana jika suatu saat nanti keluargaku memisahkanmu dariku?"

Jaehyun terdiam sesaat. Kemudian ia menatap ke dalam mata Taeyong lalu tersenyum. Bukan tersenyum tulus, melainkan.. tersenyum licik.

"Maka, aku akan membunuh keluargamu."

.

.

.

Running 2 U

Pairing:

Jung Jaehyun x Lee Taeyong

And other members

Warning: Boys Love, Fantasy, Werewolf fiction, typo(s) everywhere, tidak sesuai EYD, OOC!

.

.

.

Dedaunan musim semi nampak berguguran memenuhi jalanan. Angin musim semi pun berhembus cukup kencang, namun hal itu tak membuat seorang lelaki kedinginan. Bahkan lelaki itu hanya mengenakan celana pendeknya, tanpa menggunakan pakaian atasnya. Tentu saja lelaki itu tidak akan pernah merasakan kedinginan, justru dengan tubuhnya itu dia bisa menghangatkan seseorang didalam pelukannya. Beruntunglah untuk seorang Lee Taeyong yang bisa merasakan hangat didalam pelukan sosok lelaki itu.

"Jae-hyung."

Yang dipanggil menoleh kearah sumber suara. Itu Jeno, saat ini adiknya itu tengah menyembulkan kepalanya di depan pintu sambil mengisyaratkan agar Jaehyun bergegas mengikutinya. Dengan berat hati ia melepaskan pelukkannya pada sosok manis yang sedang tertidur dengan pulas, lebih tepatnya belum sadarkan diri dari pingsannya.

"Ada apa, Jen?" tanya Jaehyun saat dirinya sampai didepan dengan Jeno yang duduk di sebuah kursi kayu.

"Duduklah dulu hyung, ada hal penting yang ingin ku bicarakan."

Jaehyun menurut, lalu ia duduk tepat dihadapan adiknya itu, "Jadi?"

"Aku tidak tau apakah ini sebuah kebetulan ataukah sebuah musibah, tapi serigala yang barusan kau bunuh adalah pemimpin dari pack MoonStone. Kau tau kan siapa mereka?"

"Apa? Tapi, untuk apa dia jauh-jauh pergi ke hutan ini? Maksudku, jarak dari wilayah mereka kesini harus menyebrangi gunung. Terlebih lagi dia hanya sendiri, tidak membawa pasukannya."

Jeno terdiam, ia tengah berpikir apakah dengan memberi tau kakaknya ini akan baik-baik saja? Bagaimana jika emosi kakaknya tidak bisa dikontrol? Kalau hal itu bisa terjadi bisa-bisa pack mereka dengan pack MoonStone akan perang besar dan itu bukanlah hal bagus.

"Jeno? Kenapa kau diam saja?"

"Ah ya maafkan aku hyung. Mmm tapi kurasa pemimpin MoonStone memiliki suatu rencana dengan Taeyong hyung? Jika tidak mana mungkin dia mau repot-repot kesini seorang diri?"

Terjadi keheningan untuk beberapa menit. Mereka, lebih tepatnya Jaehyun sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Untuk apa pemimpin MoonStone, pack dari musuhnya datang kesini seorang diri? Terlebih kenapa Taeyong? Apakah sejak awal dia memang mengincar mate nya itu? atau dia hanya kebetulan bertemu Taeyong?

Jeno memperhatikan raut kakaknya yang tengah berpikir. Ia menghela napasnya, mengingat pertemuannya dengan Jisung, salah satu teman dari packnya.

"Aku ingin memberitaumu sebelum semuanya terlambat. Tolong sampaikan ini ke Jaehyun hyung karena ini sangat penting untuknya. Jongin hyung sengaja datang ke wilayah kalian karena dia memang mengincar Taeyong hyung. Kau tau? Ternyata Taeyong hyung adalah seorang pure blood. Untungnya Jongin hyung tidak jadi mendapatkan Taeyong hyung. Karena kalau sampai iya, maka habislah pack kita dan pack-pack lainnya.

Jeno tercengang mendengar ucapan Jisung. Dirinya memang meminta anak itu mencari info tentang pemimpin MoonStone, Jongin karena kekasihnya Chenle berada di pack itu dan ia meminta untuk bertemu disuatu tempat. Dan informasi ini benar-benar membuatnya shock! Bagaimana bisa seorang lelaki manis yang ditemukan oleh kakaknya itu adalah seorang pure blood? Terlebih kakaknya sudah bisa merasakan jika lelaki itu adalah matenya! Jeno merinding, ia berpikir jika kakaknya adalah orang yang paling beruntung sekaligus orang yang akan menerima beban yang sangat berat.

Pure blood dalam kaum werewolf adalah hal yang langka, jika adapun biasanya seorang pure blood adalah Luna, alias werewolf wanita. Jika seorang alpha mating dengan pure blood, maka mereka akan menghasilkan anak yang sempurna! Seorang werewolf yang memiliki kekuatan abadi dan tidak akan mati jika hanya tercabik atau tertusuk. Tubuhnya dengan otomatis dapat menyembuhkan luka-lukanya sendiri, kecuali jika terkena peluru atau pisau perak. Tapi mendapatkan seorang pure blood bukanlah hal mudah, dalam pack mereka hanya ada satu alpha yang mendapatkan mate seorang pure blood. Itupun sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.

"Kau yakin? Kau sudah memastikannya?"

Jisung mengangguk, "ya aku sangat yakin. Kau tau Chenle adalah salah satu kepercayaan MoonStone. Saat mereka mencium kehadiran Taeyong hyung, Jongin hyung langsung membicarakan semua rencanya kepada semua packnya. Dia memang sengaja datang sendiri karena dia pun tidak tau jika Taeyong hyung adalah mate Jaehyun hyung. Ahh ya, siap-siap jika MoonStone menyerang kalian berempat. Kau tau kematian Jongin hyung membuat MoonStone marah besar. Jika kalian butuh bantuan beritau aku, maka aku akan segera melesat ke tempat kalian dengan membawa semua pasukan di pack kita."

Jeno menghela napasnya. Bagaimana jika Jaehyun tau semua ini? Jeno tidak bisa membayangkannya jika Jaehyun lepas kendali dan nekat mendatangi pack MoonStone seorang diri. Jeno sangat paham, betapa sangat gilanya jika kakaknya itu sedang tersulut emosi.

"baiklah Jisung, terimaksih. Dan pastikan informasi ini tidak bocor terlebih dahulu sebelum Jaehyun hyung sendiri yang memberitau tentang Taeyong hyung kepada orangtua kami."

Setelah mengatakan itu Jisung segera berbalik pergi meninggalkan Jeno seorang diri. Kepalanya tiba-tiba terasa pening memikirkan semua ini. Ia berpikir untuk tidak memberitaukan sekarang, mungkin nanti jika ada waktu yang tepat.

..

Hangat, dalam tidurnya lelaki bersurai pink itu tersenyum dan semakin merapatkan tubuhnya pada sesuatu yang hangat. Apalagi aroma ini membuat dirinya semakin nyaman didalam tidurnya. Rasanya ia tidak mau membuka matanya, namun tenggorokannya terasa kering dan ia membutuhkan air saat ini juga.

Dengan perlahan ia membuka kedua matanya, membiasakan cahanya mulai memasuki retinanya. Ia berkedip beberapa kali sampai penglihatannya terlihat dengan sempurna. Dan hal pertama yang ditangkap oleh penglihatannya adalah dada bidang milik seorang lelaki—tunggu, dada bidang?

Ia mengingat ingat kejadian semalam, dengan slow motion ingatan-ingatan tentang kejadian itu terulang. Membuat dirinya sedikit mual dan memutuskan untuk bangun dari tidurnya namun ia tidak bisa mengangkat tubuhnya dikarenakan ada sepasang lengan yang kini tengah memeluk tubuhnya. Saat mendongakkan kepalanya, bibir Jaehyun saat ini berada tepat diatas kepalanya.

"Sudah bangun?"

"Aku.. dimana?"

"Dirumahku tentu saja. Kau tidak mengingatnya?"

Taeyong tidak menjawab. Ia sangat malu karena sudah ketauan kabur dari serigala itu. mau taruh dimana muka imutnya ini? Bagaimana jika Jaehyun marah padanya? Eh tapikan, apa peduli Taeyong jika Jaehyun marah atau tidak? Itukan bukan urusannya.

Ketika sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, suara Jaehyun membuat kesadarannya kembali, "mulai sekarang kau tidak akan boleh kemanapun sendirian, Taeyong."

Sifat overprotective sang werewolf pun muncul. Taeyong tidak berani menatap kedua mata Jaehyun, ia bingung, tidak tau harus bagaimana. Yang saat ini ia lakukan hanyalah mengeratkan pelukannya pada tubuh hangat Jaehyun.

Entahlah, Taeyong tidak mengerti. Mengapa dirinya merasa nyaman berada didalam pelukan Jaehyun, si manusia serigala alias werewolf. Harusnya ia menjauh jika ingin hidupnya aman dan tenang, tapi karena insiden yang baru saja ia alami dirinya jadi merasa aman dan merasa terlindungi oleh sang werewolf.

Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Taeyong mulai membuka suaranya,

"Jaehyun, apa kau akan menyakitiku?"

"Tidak."

"Apa kau berjanji akan melindungiku?"

"Tentu."

Taeyong terdiam, begitu juga dengan Jaehyun. Saat ini dia sedang mengelus dengan lembut surai pink lelaki manis yang masih setia berada didalam dekapannya itu.

"Bagaimana jika suatu saat nanti keluargaku memisahkanmu dariku?"

Suara Taeyong terdengar lirih diakhir kalimat. Tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja dipikirannya. Ia paham, sangat paham jika Jaehyun tidak akan melepaskannya, sekalipun itu kepada keluarganya. Maka dari itu ia ingin tau apa yang akan dilakukan Jaehyun jika keluarganya tidak bisa menerima kenyataan ini?

Jaehyun terdiam sesaat. Kemudian ia menatap ke dalam mata Taeyong lalu tersenyum. Bukan tersenyum tulus, melainkan.. tersenyum licik.

"Maka, aku akan membunuh keluargamu."

Kedua bola mata Taeyong membulat sempurna, dengan refleks ia melepaskan pelukanya dan mendorong kasar tubuh Jaehyun. "kau tidak akan bisa! Lebih baik aku yang mati jika kau ingin membunuh keluargaku!"

Taeyong marah, amat sangat marah. Baginya, keluarganya adalah prioritas utama dalam hidupnya. Tidak peduli dengan apapun itu, lebih baik jika ia yang mati demi menyelamatkan keluarganya daripada keluarganya yang harus berkorban untuknya.

Melihat itu, senyum Jaehyun berubah menjadi senyuman tulus. Ia mendudukkan tubuhnya sambil terus menatap kearah Taeyong yang wajahnya berubah menjadi merah karena emosi.

"Hey tenang, itu adalah opsi terakhir jika keluargamu tidak bisa menerimaku."

"Tetap saja—"

"Dengar, Taeyong. Nanti, saat aku bertemu dengan keluargamu aku akan menceritakan semuanya. Tentang siapa diriku, tentang apa yang terjadi pada dirimu. Semuanya, Taeyong. Aku akan jujur kepada keluargamu dan meminta restu secara baik-baik." Jaehyun menangkup pipi Taeyong dan mengelusnya perlahan, "kau tau kan jika dirimu amat sangat berharga untukku?"

Taeyong menggeleng tidak percaya, matanya mulai berkaca-kaca. Rasa takut itu mucul kembali, dirinya berpikiran untuk kabur lagi. Tapi sepertinya hal itu akan sia-sia jika Jaehyun bisa dengan mudah menemukannya.

"Aku mohon jangan sentuh keluargaku."

"Tidak akan, selama kau mau menurut dan mematuhiku, sayang." Setelah mengatakan itu, Jaehyun mencium bibir Taeyong, ia melumatnya dengan lembut dan menyesapnya. Merasakan betapa manisnya bibir merah yang sedang diciumnya ini. Saat dirasa Taeyong sudah menikmati ciumannya, dengan berani ia memasukkan lidahnya kedalam mulut mungil Taeyong. Lidah Jaehyun mulai mengabsen isi mulut Taeyong. Saliva mereka sudah bercampur dan sebagian saliva itu turun membasahi dagu Taeyong. Cukup lama mereka berciuman sampai Jaehyun merasa Taeyong memukul dadanya tanda bahwa lelaki manis itu mulai kehabisan napasnya. Dengan berat hati ia melepaskan ciuman mereka dan tak lupa mengusap sekitaran dagu Taeyong, membersihkan bekas saliva mereka. Bisa dilihat wajah Taeyong memerah dengan napas yang tersengal dan Jaehyun sangat menyukai pemandangan yang berada didepan matanya saat ini.

"Kau milikku.. selamanya."

.

.

.

Running 2 U

Ini sudah 3 hari sejak Taeyong hilang. Sekarang ini mereka berlima sedang dalam perjalanan pulang. Doyoung tidak mengeluarkan suara sekalipun. Ia sangat terpukul karena dalam 3 hari Taeyong tidak ketemu, sahabatnya itu hilang bagaikan ditelan bumi. Dan mau tidak mau mereka harus melapor kepada keluarga Taeyong dan melaporkan hilangnya Taeyong kepada pihak yang berwajib. Mereka sudah siap jika mendapatkan makian atau bahkan dituduh sebagai pemicu hilangnya Taeyong. Mereka tidak peduli, yang terpenting Taeyong harus ditemukan dalam keadaan hidup dan selamat.

Setelah memakan waktu 6 jam lamanya, akhirnya mereka sampai di depan kediaman Taeyong. Perasaan gugup, cemas, sedih dan sebagainya mulai bermunculan di dalam diri mereka masing-masing. Dengan tangan yang bergetar, Johnny mulai menekan bel yang berada didepan pagar rumah itu. setelah dipersilahkan masuk, ibu Taeyong menyambut mereka dengan senyuman yang lebar, tidak menyadari raut kusut dari lima pemuda dihadapannya.

"Akhirnya kalian semua pulang, ayo silahkan masuk! Taeyong—" Ibu Taeyong menghentikan ucapannya saat dirasa ia tidak menemukan sosok anaknya. Kepalanya celingukkan kesana kemari mencari keberadaan sang anak.

"Dimana Taeyongku? Dan ada apa dengan wajah kalian?"

Mereka semua terdiam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara, padahal tadi saat diperjalanan mereka sudah merangkai kata-kata dengan baik, tapi sekarang? Rasanya seperti akan dihukum mati detik ini juga!

"Mmm begini, bi. Taeyong.. maafkan kami sebelumnya bi karena tidak bisa menjaga Taeyong dengan benar." Ten memberanikan diri angkat bicara. Yang lain menundukkan kepalanya sambil membungkukkan tubuh mereka berkali kali dan terus menggumamkan kata maaf.

Ibu Taeyong memundurkan langkahnya, menggelengkan kepalanya tidak percaya, "tidak. Tidak mungkin anakku—"

"Maafkan kami, bi. Kami akan bertanggung jawab! Kami akan mencari Taeyong dan menjamin jika Taeyong saat ini baik-baik saja. Kami mohon beri kami kesempatan untuk menebus dosa kami, bibi." Setelah Yuta mengatakan itu, tanpa diduga ibu Taeyong langsung jatuh pingsan. Semuanya panik. Maid dan para pekerja dirumah Taeyong berdatangan dan sibuk kesana kesini. Dengan sigap Yuta Johnny dan Taeil menggendong tubuh ibu Taeyong dan membawanya ke mobil yang sudah disiapkan oleh supir pribadi keluarga mereka dan segera membawanya ke rumah sakit. Ayah dan kakak Taeyong sudah dihubungi oleh para maid dan mereka berlima segera menyusul ibu Taeyong kerumah sakit.

..

Mereka semua tengah berada diruang tunggu, dengan ayah dan kakak Taeyong juga. Saat mendengar ceritanya, ayah Taeyong amat sangat marah. Lelaki paruh baya itu berteriak dan terus memaki mereka berlima. Tapi mereka semua berpikir bahwa mereka memang pantas mendapatkannya, malah harusnya mereka mendapatkan hal yang lebih parah daripada hanya sekedar dimaki. Kakak Taeyong, Taeyeon tidak berhenti menangis. Gadis itu tidak memaki mereka berlima, tapi suara tangisan pilunya cukup membuat mereka semua miris.

Ibu Taeyong sudah sadar, ayah Taeyong sudah menyuruh anak buahnya bergegas mencari anaknya dan tidak lupa ia juga melaporkannya kepada polisi. Dan detik itu juga semua orang langsung meluncur ke hutan untuk menemukan Taeyong.

Keluarga Taeyong tidak marah dan tidak menuntut apapun. Hanya saja auranya menjadi kaku dan tidak mengenakkan. Keluarga Taeyong itu terlalu baik, pantas saja jika hidup Taeyong sangat makmur dan tidak heran dengan sifat manja anak itu.

"Kalian berlima pulang dan beristirahatlah."

"Tidak paman, izinkan kami kembali ke hutan dan ikut mencari Taeyong."

Ayah Taeyong menggeleng tidak setuju, "sudah banyak anak buahku dan polisi yang mencari anakku. Kalian tidak perlu kembali kesana, agar sesuatu yang tidak diinginkan terjadi kembali."

Butuh beberapa menit mereka habiskan untuk berdebat kecil. Akhirnya mereka berlima mengalah dan dengan terpaksa kembali ke rumah masing-masing sambil berdoa dan berharap jika sahabat mereka akan segera kembali dan baik-baik saja didalam hutan sana.

Ya, Taeyong memang dalam keadaan baik. Sangat baik malah, karena Jaehyun dengan telaten mengurusnya. Werewolf itu sangat perhatian dan tulus kepada Taeyong, padahal sifat lelaki manis itu masihlah amat kaku terhadapnya. Tanpa mengetahui jika Taeyong menjadi incaran para alpha dari berbagai pack, mereka semua berebut untuk mendapatkan Taeyong demi menghasilkan keturunan yang sempurna untuk pack mereka. Dan seharusnya, Jaehyun sudah mengetahui hal penting ini sebelum semuanya terlambat. Tapi bagaimana caranya agar Jaehyun tau dan cepat-cepat menjadikan Taeyong mate nya? Miliknya seutuhnya?

.

.

.

TBC

Nga tau lagi mau bikin ending scene kea gimana, jadinya aneh dan terkesan maksa kek begitu huhuhu ( btw aku fast apdet sekali yah karena ff ini baru aja kemaren aku apdet wkwk. Dan cerita ini murni karangan, jadi kalo ada yg gak sesuai fact jgn diprotes tolong karena diriku jg masih mempelajari hal2 yg berbau werewolf x human. Satu2nya yg emg berdasarkan fakta itu hanya werewolf memang bisa mating with human and they can have a childern dan nanti anak mereka jd 50/50 pd saat kecil anak itu akan jd manusia biasa, dan pd saat umur mereka udh dewasa mereka bakal berubah menjadi werewolf. Thats all yg aku ketahui wkwk selebihnya hanyalah karangan semata.

Bdw any buzway, maafkan kesalahan a/n di chap sebelumnya. Aku kebalik menuliskan ask and question nya pokoknya yg diatas itu harusnya question, dan yg bawah itu asknya. Maaf ya kmrn lg ga fokus karna ngetiknya sambil ngobrol huft jdnya malah amburadul deh.

Last, buat yg review di chap 3 dan 4 bakal aku gabung nanti di chap depan ya. See ya on next chap!

Review please?^^v