Welcome~~


Part 4

Seongwoo mendongakkan kepalanya, mengalihkan perhatiannya dari mangkuk di depannya, saat merasakan seseorang duduk di bangku di sebelahnya. Di depannya, sudah ada Choi Minki yang duduk di sebelah Daniel. Menolehkan kepalanya, Seongwoo mendapati Jonghyun duduk di sebelahnya dengan senyum termanis yang pernah Seongwoo lihat.

"Eum, kalian hari Sabtu besok ada acara gak?" Jonghyun bertanya.

"Sabtu?" Daniel bertanya.

"Iya. Kebetulan, kan, hari Sabtu besok ekskul libur."

Seongwoo dan Daniel menggaukkan kepalanya.

"Kenapa emangnya, Hyun?"

Bukannya menjawab, Jonghyun malah melemparkan pandangannya pada Choi Minki. Keduanya saling pandang, seolah-olah sedang berkomunikasi lewat telepati. Choi Minki menghela napas. lalu meletakkan sesuatu di atas meja.

"Gue mau ngundang kalian ke pesta ultah gue. Hari Sabtu besok. Kalian bisa dateng, kan?"

Kali ini giliran Seongwoo dan Daniel yang bertukar pandang. Mereka tidak dekat dengan Choi Minki atau teman-teman Jonghyun lainnya, lalu kenapa Choi Minki repot-repot mengundang mereka ke pesta ulang tahunnya?

"Eh, tapi, kan, gue sama bang Seongwoo gak deket sama lu? Kenapa lu repot-repot mau ngundang kita, sih?"

'Dan, gue juga yakin, Hwang Minhyun itu benci banget sama gue dan Daniel,' lanjut Seongwoo dalam hati.

Choi Minki hanya bisa mengedikkan bahunya.

"Yah, gue rasa gak ada salahnya ngundang kalian. Jonghyun juga lumayan deket, kan, sama kalian. Hoshi, Jun, dan Seungcheol juga. Gitu aja, sih."

Mendengar nama Hoshi, Jun, dan Seungcheol disebut oleh Choi Minki, menarik perhatiannya. Mereka dekat?

"Kalian deket sama Hoshi, Jun, dan Seungcheol?" lagi-lagi Daniel menyuarakan apa yang menjadi keingintahuannya.

Bukannya menjawab, Choi Minki malah tertawa. Ia da Daniel hanya bisa saling pandang. Tak mengerti.

"Aduh, sorry, abisnya kalian lucu. Ya jelas aja kita deket. Orang kita udah kenal dari orok, kok," Choi Minki kembali tertawa.

Seongwoo dan Daniel hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Ternyata seperti itu.

Seongwoo mengulurkan tangannya, berusaha meraih undangan yang diletakkan Choi Minki, saat Seongwoo merasakan pergerakan di paha kanannya. Tangan Jonghyun yang semula berada di atas meja, tiba-tiba saja sudah berada di pahanya. Mengusap-usap pahanya dengan gerakan memutar yang pelan. Erotis.

Tangan Seongwoo yang terulur untuk meraih undangan langsung berganti haluan meraih sendok, yang langsung digenggamnya dengan erat. Mukanya panas. Seongwoo tidak yakin sudah semerah apa mukanya.

Seongwoo menunduk, masih menggenggam sendoknya dengan erat. Seongwoo merasakan sesuatu di bawah sana mulai menegang. Mukanya makin terasa panas. Seongwoo tidak menyangka tubuhnya akan bereaksi secepat itu hanya dengan elusan tangan Jonghyun di pahanya.

"Bang," Seongwoo mendongakkan kepalanya mendengar Daniel memanggilnya, "Muka lu merah, Bang. Lu gak apa-apa? Lu sakit, Bang?"

Seongwoo dapat melihat raut cemas di muka Daniel. Seongwoo buru-buru menggelengkan kepalanya, berharap gelengan kepalanya meredakan kecemasan Daniel.

"Gue gak apa-apa, Niel," suaranya bahkan terdengar serak di telinganya sendiri. Daniel melemparkan pandangan tak percaya.

"Beneran, Niel. Gue gak apa-apa, kok," beruntung suaranya sudah tidak seserak sebelumnya sehingga setidaknya bisa meyakinkan Daniel bahwa ia tidak apa-apa.

Seongwoo memutuskan untuk tidak memandang Daniel, dan lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah Choi Minki. Kesalah besar. Choi Minki memandangnya dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan, 'Gue tahu lu lagi nahan apa, Ong Seongwoo.'

Baru kali ini Seongwoo berharap ia ditelan bumi bulat-bulat.

Jonghyun mengaitkan tangannya pada lengan Minki. Mengayunkannya sebentar, lalu menarik Minki menuju ke arah kelas mereka.

"Gue tahu kalo lu gila, Hyun, tapi gue gak tahu kalo lu segila itu."

Jonghyun berhenti berjalan. Menengok ke arah Minki dengan memasang seyum paling polos yang ia punya.

"Emang gue ngapain, Ki?"

Minki mendegus.

"Lu pikir gue gak tahu lu tadi ngapain? Kita duduknya emang seberangan, Hyun, tapi gue tahu lu ngapain tadi. Itu mukanya Seongwoo gak bisa bohong. Sumpah, ya. Lu udah beneran gila. Lu sama Minhyun udah cukup kinky tanpa kelakuan sok polos tapi doyan ngegoda lu."

Minki hanya bisa menghela napas melihat seringai di wajah Jonghyun.

"Lu mau laporin gue ke Minhyun, Ki?"

Minki menggelengkan kepalanya, lalu berjalan mendahului Jonghyun. Sahabatnya itu memang sudah gila.

"Gue gak mau ikut-ikutan, Hyun."

Minki makin mempercepat jalannya mendengar Jonghyun tertawa.

Daniel turun dari kursi penumpang mobil Seungwoo. Mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Merasa sedikit aneh karena rumah Choi Minki—berdasarkan lokasi yang tertulis di undangan—minus suara hingar bingar khas pesta remaja dan mininnya kendaraan yang terparkir. Mereka tidak salah lokasi, kan?

Daniel dan Seongwoo bertukar pandang. Seongwoo hanya mengedikkan bahunya masa bodoh, lalu berjalan menuju pintu masuk dan menekan bel.

Tak lama, pintu terbuka. Memunculkan sosok Choi Minki di baliknya. Mereka tidak salah lokasi.

"Masuk, masuk," Choi Minki menyingkir sedikit, memberi jalan Daniel dan Seongwoo masuk ke dalam. "Minuman ada di meja sebelah kanan, camilan ada di sebelah kiri. Sorry, gue gak nyediain alkohol, ya. Kalian kalo nyari alkohol, mending pulang aja."

Daniel dan Seongwoo hanya bisa menganggukkan kepalanya. Choi Minki ternyata sama menyeramkannya dengan Hwang Minhyun.

Menggenggam satu kaleng cola di tangan masing-masing, Daniel dan Seongwoo berjalan ke arah ruangan yang sepertinya menjadi tempat berkumpulnya udangan pesta Choi Minki.

Kaleng cola di tangan Daniel hampir saja jatuh saat matanya menangkap pemandangan yang mengagetkan. Kim Jonghyun—Ketua OSISnya, Jonghyunnya yang polos—duduk di pangkuan Seungcheol dengan tangan melingkar di leher Seungcheol dan kepala yang direbahkan di bahu Seungcheol. Ngedusel.

"Kaaaakkkk, kak Jonghyun," seseorang yang tadi luput dari perhatian Daniel sedang berusaha menarik Jonghyun dari pangkuan Seungcheol. "Pacarku jangan digenitin, dong! Kesenengan dia nanti!"

Jonghyun menoleh, kepalanya masih berada di bahu Seungcheol, dan melemparkan seringai ke arah seseorang yang tidak Daniel kenal tersebut.

"Uji mau dipangku juga? Sini, sini, duduk sini," Jonghyun menepuk-nepuk pahanya.

"Kak Jonghyun nyebelin!" orang itu—namanya Uji—cemberut. "Bang Cheol juga! Seneng banget, sih, digenitin kak Jonghyun! Aku marah, nih!"

Respon Seungcheol hanya tertawa.

Saat itu, Hwang Minhyun tiba-tiba muncul. Entah dari mana.

"Uji mau duduk dipangku? Sini aku pangku," Minhyun melemparkan seringai pada Uji yang dibalas dengan tendangan pada tulang kering Minhyun yang membuatnya langsung duduk, kesakitan.

"Kak Minhyun nyebelin juga!" Uji makin cemberut yang membuat semua orang tertawa.

Saat itulah Jonghyun bertemu pandang dengan Daniel dan Seongwoo, kemudian turun dari pangkuan Seungcheol dan berjalan ke arah di mana Daniel dan Seongwoo berdiri.

"Wah, kalian sudah datang? Ayo sini! Anggep aja rumah sendiri."

"Ini rumah gue, kura-kura buluk. Kenapa malah lu yang sok-sokan jadi tuan rumah?" Minki yang sedang berjalan melewati mereka menimpali perkataan Jonghyun.

"Gue pikir lu sibuk make out sama bang Haejin, jadi gue gantiin lu jadi tuan rumah."

"Serah lu aja deh, Hyun, serah. Males gue ngeladenin lu."

Jonghyun meresponnya dengan kekehan.

Tiba-tiba saja, Choi Minki menoleh.

"Kalian ngapain masih di situ? Gak denger itu kura-kura buluk ngomong apa? Sini!"

Daniel dan Seongwoo mengikuti Jonghyun dan Choi Minki. Mengedarkan pandangan, Daniel memilih untuk duduk di atas karpet. Diikuti Seongwoo di sebelahnya.

Daniel mengedarkan pandangannya sekali lagi. Ada Hwang Minhyun yang duduk di amrchair dan Jonghyun yang duduk di sandaran lengannya. Ada Hoshi dan Wonwoo di sofa di belakangnya, Seongcheol yang duduk sambil merangkul Uji yang cemberut, Kang Dongho dan beberapa orang gadis yang tidak Daniel kenal sedang bemain monopoli? Benarkan ini pesta ulang tahun? Kenapa suasananya lebih tepat untuk dikatakan sebagai main ke rumah teman daripada pesta ulang tahun?

"Lu kenapa? Kok kayak orang bingung?" Choi Minki bertanya pada Daniel.

"Anu, jangan salah paham, ya. Ini seriusan pesta ultah lu?"

Choi Minki menjawab dengan anggukan kepala. "Kenapa? Bukan tipe pesta lu, ya?"

Daniel buru-buru menggelengkan kepalanya. "Bukan gitu, kok. Gue cuma ngerasa aneh aja. Soalnya kayak bukan pesta ultah kayak biasanya gitu."

"Yah, mau gimana lagi, ya. Emang kita udah biasa gini, kok. Misalnya lu dapet undangan ultahnya Hoshi pun juga modelan begini pestanya. Bukan pesta hingar bingar gitu. Udah kebiasaan dari jaman kita piyik. Lagian yang dateng juga itu-itu aja, kok. Ngapain bikin pesta yang hingar bingar gak jelas gitu. Gak guna."

Daniel mengangguk-angguk mengerti. Jonghyun dan teman-temannya sangat berbeda dari teman-teman Daniel dan Seongwoo di sekolah mereka yang dulu.

"Kenapa emangnya, Dan?" Hoshi yang duduk di sofa di belakangnya bertanya. "Beda sama temen-temen lu di sekolah lu dulu?"

"Kalo beda kenapa? Kalo gak kenapa?" belum sempat Daniel menjawab, Seongwoo sudah menyambar. Daniel hanya bisa menghela napas.

"Udah, Bang. Gak usah defensif gitu. Gue yakin Hoshi gak ada niatan jelek, kok, nanya begitu." Daniel melemparkan pandangan pada Hoshi. "Iya, kan, Chi?"

Hoshi mengangguk, mengiyakan. "Gue beneran gak ada maksud apa-apa selain nanya doang, Woo."

Seongwoo mendengus. Daniel melemparkan pandangan tidak suka pada Seongwoo. "Udah, Bang. Udah."

Daniel lalu mengarahkan pandangannya kembali pada Choi Minki. "Ngomong-ngomong, makasih udah ngundang gue sama bang Seongwoo. Tapi kalo gue boleh nanya, kenapa lu tiba-tiba ngundang kita?"

"Gue yang minta," bukan Choi Minki yang menjawab, tapi Hwang Minhyun. Jadi yang meminta Choi Minki mengundangnya dan Seongwoo itu Hwang Minhyun? Untuk apa?

Tapi, tunggu dulu. Jonghyun ke mana? Bukannya tadi duduk di sandaran lengan armchair yang diduduki Hwang Minhyun? Kenapa sekarang sudah tidak ada? Pergi ke mana Jonghyun?

"Gak usah pasang tampang bingung gitu kenapa? Aneh banget, ya, gue minta Minki buat ngundang kalian?" Daniel mengangguk. Choi Minki tertawa. "Tanpa gue minta juga kayaknya Minki bakal ngundang kalian. Taon depan, sih, bukan sekarang," Hwang Minhyun menyeringai.

Choi Minki memukul lengan Hwang Minhyun. "Itu muka tolong dikondisiin. Gue gak mau liat muka psiko lu hari ini."

Hwang Minhyun mendelik tidak suka. Lalu menggelengkan kepalanya dan beranjak dari duduknya, berjalan entah ke mana.

"Udah, biarin aja si Minhyun. Lu berdua nikmatin aja, ya."

Daniel dan Seongwoo hanya bisa mengangguk dan kembali memperhatikan sekeliling dalam diam. Ingin ikut nimbrung, tapi takut menghancurkan suasana yang sudah terbangun sejak sebelum kedatangan mereka.

Daniel menyandarkan badannya ke sofa di belakangnya. Matanya tertutup tapi bibirnya terkembang. Menyadari pesta ulang tahun Choi Minki ini lebih menyenangkan dari pesta ulang tahun yang pernah Daniel datangi sebelumnya.

"Ki, kamar mandi di mana?" Daniel mendengar Seongwoo bertanya.

"Ada di sebelah dapur, tuh. Lu lurus aja, terus belok kanan."

Seongwoo sudah berjalan menuju arah kamar mandi saat Daniel membuka matanya.

"Gue minta air putih, boleh, Ki?" Daniel bertanya.

"Ambil sendiri di dapur, ya," Daniel mengangguk lalu berlalu ke arah di mana Seongwoo berjalan tadi.

Dahi Daniel mengernyit melihat Seongwoo berdiri diam di depan dapur. Bukankan Seongwoo tadi ingin ke kamar mandi? Kenapa ia malah diam di depan dapur seperti ini?

Daniel berjalan menghampiri Seongwoo, tangannya sudah terangkat untuk menepuk pundak Seongwoo yang lalu terdiam sebelum menyentuh pundak Seongwoo, saat matanya menangkap pemandangan yang lebih mengejutkan daripada pemandangan saat Jonghyun duduk di pangkuan Seungcheol. Di dapur, Daniel melihat Jonghyun duduk di pangkuan Hwang Minhyun. Yang lebih mengejutkan lagi, Jonghyun dan Hwang Minhyun sedang berciuman, make out. Bahkan Daniel dapat melihat tangan Hwang Minhyun yang sedang berkelana di balik kaus yang dipakai Jonghyun.

Mata Daniel melotot saat melihat tangan Hwang Minhyun yang satunya bergerak untuk meremas pantat Jonghyun. Matanya terbelalak lebih lebar saat menyadari Jonghyun menggerakkan pinggulnya. Ya Tuhan, Daniel seperti ingin pingsan melihatnya.

Entah kekuatan dari mana, Daniel berhasil menyeret Seongwoo menjauh dari dapur dan kembali ke ruangan di mana mereka tadi berkumpul. Masa bodoh dengan air putih atau kebutuhan akan kamar mandi. Daniel yakin, Seongwoo juga syok sama seperti dirinya.

Kedatangan Daniel dan Seongwoo dengan muka pucat menarik perhatian. Hoshi langsung menawarkan botol minum yang sedang dipegangnya pada Daniel, yang langsung dihabiskannya.

"Kalian kenapa? Kok pucet? Abis ngeliat hantu?" tanya Hoshi, Daniel menggeleng. "Trus, abis liat apa?"

Daniel menelan ludah. Lalu menunjuk ke arah dapur.

"Gue tadi liat Jonghyun make out sama Minhyun di dapur."

Perkataannya dijawab dengan helaan napas orang-orang di sekitarnya. Hoshi mendekati Daniel, lalu menepuk pundaknya.

"Lu yang sabar, ya, Dan. Jonghyun sama Minhyun emang suka gak inget tempat kalo lagi pacaran. Lama-lama pasti biasa."

"Pacar? Jonghyun sama Minhyun pacaran?!"

Hoshi mengerjapkan matanya, lalu mengangguk. "Iya, lu gak tahu?" Daniel menggeleng. "Jonghyun gak ngasih tahu?" Daniel lagi-lagi menggeleng. Hoshi menghela napas panjang. Tak habis pikir dengan jalan pikiran temannya yang satu itu.

"Tunggu dulu!" Daniel terlonjak mendengar teriakan Seongwoo. "Jadi, yang digosipin cewek-cewek soal Minhyun yang ketahuan pacaran di ruang Komite Disiplin yang sampe buka-buka baju itu sama Jonghyun?!"

"Iya. Untung yang mergokin Bu Kahi, coba kalo guru laen, abis itu mereka berdua. Susah emang punya Ketua OSIS sama Ketua Kosimi Disiplin bobrok kayak mereka. Cocok, sih, emang. Ketua OSISnya genit, Ketua Komdisnya mesum abis."

Daniel dan Seongwoo saling bertukar pandang, menyadari bahwa selama ini mereka menjadi korban kegenitan seorang Kim Jonghyun.

"TIDAAAAAKKKK!"

-END-


Fufufu, dengan ini 'Innocence?' tamat.

Terima kasih yang sebesar-besarnya buat yang sudah mampir dan menyempatkan membaca, favoritin, follow, dan kasih review di cerita aneh saya :)