Aku berjalan perlahan mengikuti Sonoko, Ran, bocah berkacamata dan si rambut kuning. Namun kali ini aku menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. Di depanku sudah ada polisi Terabayashi yang juga membuntuti ke empat orang itu. Mereka berjalan kaki menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan mengenai kejadian tadi karna Sonoko menolak untuk naik mobil polisi. Sepertinya ia masih trauma atas kejadian tadi.

Aku tidak dapat mendengar percakapan mereka karna jarak yang terlalu jauh. Tiba-tiba pria itu menarik tangan Sonoko danberlari memasuki hutan. Sepertinya ia menyadari keberadaan pak Terabayashi. Aku pun berlari menyusuri hutan, berusaha menemukan keberadaan Sonoko. Sial! Aku kehilangan mereka! Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling hutan. Mataku menangkap sebuah kilatan cahaya di antara pepohonan. Si rambut kuning dengan ganasnya bersiap menghunuskan sebilah pisau. Sonoko dalam bahaya!

Zlebbb! Benda runcing yang di hujamkan pria itu menancap di lenganku. Syukurlah aku datang tepat waktu. Ku layangkan sikuku tepat di wajahnya hingga ia terjatuh.

"Kau tak apa-apa?" Tanyaku pada Sonoko. Ia terlihat kaget dan ketakutan.

"Aku baik-baik saja... kau sendiri?" Sonoko melihat lenganku yang tertancap pisau. Darah segar mulai mengalir. Namun si rambut kuning belum menyerah rupanya. Dia berlari ke arahku dengan bersenjatakan sebuah ranting besar yang menyerupai tongkat bisbol.

Pria yang terlihat marah itu mendaratkan senjatanya ke wajahku. Dia berhasil memecahkan kacamataku. Aku berdiri dan memasang kuda-kuda. Layaknya binatang buas yang kelaparan ia mengayunkan senjatanya ke segala arah.

Aku berlari ke arahnya dengan waspada. Saat ia lengah, ku benturkan kepalanya dengan lututku. Aku sempat mendengar erangannya ketika lutut kananku kembali beradu dengan wajahnya. Dan terakhir, ku hadiahkan tendangan andalanku yang kelihatannya berhasil merontokkan beberapa giginya. Ia roboh seketika setelah menerima jurus pamungkasku. Osh! Aku menutup kuda-kuda karate ku. Di arena pertandingan karate, aku dijuluki 'Pangeran Tendangan'.

"Fuuuh..." aku menarik napas pelan. Ku cabut pisau yang menancap di lenganku dan membuangnya ke tanah. "Sudah kuduga, orang ini berbahaya!". Sonoko menatapku heran. Ia tampak masih terkejut melihat aksiku tadi.

"Hei... Apa kau terus mengikutiku?" Tanyanya.

Aku mengangguk "Ya... aku terus membuntutimu... yah, walaupun sempat kehilangan jejak ketika kalian masuk ke hutan." Aku menunduk mengamati pria yang tengah tak sadarkan diri itu. "Kau tahu? Pria ini telah membunuh beberapa wanita sebelum bertemu denganmu. Makanya aku khawatir.."

"Tapi kenapa? Kenapa kau mengkhawatirkanku? Kita 'kan tidak saling kenal...?" Sonoko kembali bertanya dengan wajah bingung.

"Aku pernah melihatmu di arena pertadingan karate. Saat itu kau terlihat begitu bersemangat mendukung temanmu. Ternyata kau menginap di penginapanku di Izu. Kebetulan sekali..." Ran, bocah berkacamata, dan pak Terabayashi pun datang.

"Oh ya, satu lagi." Aku pun berdiri. "ini hanyalah usulanku. Ng.. bukankah lebih baik kau tidak mengenakan baju yang seperti pakaian dalam itu? Kurasa itu mengundang laki-laki untuk datang" kataku sebelum melangkah pergi. "Anggap saja ini gurauan konyol dari seorang pria yang berbaik hati kepadamu." Akupun meninggalkannya yang tengah terkejut mendengar ucapanku. Sempat ku lihat wajahnya memerah. Tak lama kemudian polisi Izu datang dan menggiring pelaku pembunuhan berantai itu ke kantor polisi. Kasus pun berhasil terpecahkan. Motifnya, ia pernah dicampakkan seorang wanita berambut coklat. Sungguh alasan yang begitu rendah untuk harga sebuah nyawa!

::::::::::::::::::

Haiyaa~ agak ribet nih menggambarkan situasi berantemnya. Kalo di komik kan ada gambar sama bunyi efeknya kaya: "dziiiiggggh!" etc. Jadinya agak cacat ini. Udah gitu singkat banget kan? Gomeeeen~