SASUHINA

.

.

.

.

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Heart and Kiss

.

.

.

.

.

"Lepaskan tangan pacarku!"

Suara bariton tersebut membuat Gaara dan Hinata mengalihkan pandangan pada pemuda yang ada di hadapan mereka tersebut. Sepasang mata lavender Hinata terlihat membesar mengetahui bahwa yang dengan tegas menyuruh Gaara melepaskan tangannya adalah Sasuke.

"Sa-suke. Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Hinata bingung.

"Aku mau menjawabnya, jika dia sudah melepaskan tanganmu," jawab Sasuke seraya menatap tajam ke arah Gaara.

Gaara menatap tajam balik ke arah Sasuke. Sepertinya pemuda itu tidak suka kalau kebersamaannya bersama Hinata terganggu oleh pemuda asing beriris onyx tersebut. Sepertinya aura dingin menguar di sekeliling tubuh pemuda tersebut.

"Gaara-kun," panggil Hinata. Pemuda bermata jade tersebut mengalihkan pandangannya pada Hinata, ketika gadis bersurai indigo itu memanggilnya.

"Tolong lepaskan tanganku. Ada yang harus aku bicarakan dengannya," kata Hinata.

"Siapa dia?" tanya Gaara dengan menggerakkan bola matanya ke arah Sasuke.

"Nanti akan aku jelaskan padamu. Tapi sekarang, tolong lepaskan tanganku," jawab Hinata dengan menatap Gaara dengan ekspresi memohon.

"Hn. Baiklah," sahut Gaara seraya melepaskan tangan Hinata.

Hinata tersenyum pada Gaara, dia senang karena pemuda bermarga Sabaku tersebut mau menuruti perkataannya. Hinata langsung melangkahkan kedua kakinya ke arah Sasuke. Setelah dia berada tepat di depan pemuda itu, Hinata meraih tangan Sasuke. "Kita tidak bisa bicara di sini," kata Hinata.

Hinata menarik Sasuke ke arah belakang gedung sekolah. Gaara tetap menatap secara intens ke arah Sasuke dan Hinata. Barulah sampai sosok mereka berdua hilang di balik tembok, Gaara mau melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.

.

.

.

.

.

.

.

"Apa sih yang kamu lakukan di sini, Sasuke?" tanya Hinata kesal.

"Menjagamu," jawab singkat Sasuke.

Hinata terlihat menghembuskan nafas kesal. "Tetapi bukan dengan cara yang seperti ini juga 'kan," sahut Hinata.

"Lalu dengan cara seperti apa?" tanya Sasuke.

"Mmm... misalnya sajaaa..." Hinata terlihat berfikir. "Aha! Dengan menjagaku secara diam-diam. Tanpa diketahui oleh orang lain," lanjut Hinata.

"Kenapa harus diam-diam?" tanya Sasuke dengan alis yang hampir bertautan.

"Aku tidak ingin membuatmu tersinggung," jawab Hinata. "Ha-hanya saja, aku merasa tidak nyaman saat kamu menjagaku secara terang-terangan se-seperti ini," jelas Hinata dengan sediki tergagap. Entah kenapa, saat ini dia merasa khawatir kalau-kalau perkataannya membuat pemuda reaven itu tersinggung.

Sekilas terlihat raut kecewa di wajah tampan Sasuke. Andaikan saja, Hinata dapat melihatnya. Gadis tersebut pasti langsung merasa bersalah dengan perkataan yang baru saja dia lontarkan pada Sasuke. Sayangnya Hinata tidak melihat hal tersebut. Karena pada saat itu terjadi, Hinata sedikit menundukkan kepalanya.

"Baiklah, kalau itu maumu," kata Sasuke.

"Ta-..." Hinata belum sempat melanjutkan penjelasannya, ketika dengan secepat kilat Sasuke menghilang dari hadapannya. "Huh! Pergi begitu saja. Tanpa mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu," gerutu Hinata dengan mengurucutkan bibirnya.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah 3 minggu ini, Sasuke tidak menampakkan dirinya lagi di hadapannya. Bahkan ketika ada mosuteri yang mengganggu Hinata pun, pemuda itu tidak memperlihatkan batang hidungnya. Anehnya, ketika ada mosuteri yang menghadang Hinata. Tiba-tiba saja mosuteri tersebut langsung menghilang dalam sekejap.

Hinata tidak tahu akan penyebabnya. Hanya saja ketika sosok mosuteri itu menghilang, Hinata seperti merasakan kehadiran Sasuke di sekitarnya. Bahkan ketika tidur, Hinata sering bermimpi dipeluk oleh pemuda beriris onyx itu. Mimpi itu terasa seperti sangat nyata, namun bagi Hinata itu hanyalah sebuah mimpi. Karena ketika dia membuka sepasang lavender-nya, gadis itu tidak menemukan keberadaan Sasuke di sampingnya.

Muncul rasa rindu yang berkecamuk di hati dan pikiran gadis manis itu. Bahkan tanpa dia sadari, akhir-akhir ini Hinata jadi jarang tersenyum. Bahkan Gaara pun menyadari akan hal itu.

"Ada apa, Hinata?" tanya Gaara ketika dia dan Hinata sedang duduk bersama di bawah pohon Sakura.

"Ha? Me-memangnya ada yang salah dengan diriku?" tanya Hinata yang merasa aneh dengan pertanyaan Gaara yang dilontarkan kepadanya.

"Iya. Kau tidak terlihat seperti biasanya," jawab Gaara tegas.

"A-apanya yang tidak seperti biasanya. Dari dulu aku 'kan memang seperti ini, heheheee..." sahut Hinata dengan sedikit tertawa.

"Jangan tertawa seperti itu. Kau terlihat jelek," kata Gaara.

"A-apa?!" hardik Hinata.

"Apa semua ini karena pemuda itu?" tanya Gaara.

Hinata sedikit terperangah mendengar pertanyaan Hinata. Sebuah nama langsung terlintas di pikiran gadis tersebut. "Pe-pemuda yang mana?" tanya Hinata yang berpura-pura tidak mengerti akan arah pembicaraan ini.

"Pemuda asing yang mengaku sebagai pacarmu itu," jawab Gaara.

Blush

Wajah Hinata langsung merona mendengar perkataan Gaara tersebut. "Ma-maksudmu Sasuke. Dia i-..."

Teet...teet...teeeeetttt...

Hinata harus menghentikan penjelasannya ketika kedua telinga menangkap bel masuk pertanda bahwa jam istirahat telah selesai. "Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang waktunya kita kembali masuk ke kelas. Ayo!" ajak Hinata.

"Hn."

Sebenarnya Gaara sangat penasaran dengan penjelasan yang akan diberikan Hinata kepadanya. Karena setahu Gaara, Hinata tidak pernah terlihat aneh seperti ini. Walaupun Gaara sangat penasaran dengan hal itu, dia tetap akan bersabar dan menunggu sampai Hinata mau memberikan penjelasannya.

.

.

.

.

.

.

.

Perkataan demi perkataan yang terlontar dari mulut Gaara kemarin siang, terngiang-ngiang di pikiran Hinata. Dia mencoba mencari-cari jawaban atas pertanyaan Gaara tentang dirinya di lubuk hatinya yang paling dalam. Tentang penyebab keanehan yang terjadi pada dirinya.

Angin malam yang dingin menusuk kulitnya pun tak terasa olehnya. Karena sekarang dia tengah tenggelam dalam pikirannya. Di langit malam, terlihat sedikit demi sedikit awan yang menutupi sinar rembulan telah berarak-arak pergi. Kini taman belakang kediaman Hyuuga, terlihat indah terkena sinar sang rembulan.

Terjadi perubahan ekspresi di wajah cantik Hinata. Sepertinya dia telah menemukan jawaban atas penyebab keanehan yang terjadi pada dirinya. Sebuah nama langsung meluncur dari bibir mungilnya. "Sa-suke," ucap Hinata bersamaan dengan setetes air mata yang jatuh mengalir di kedua pipinya.

"Aku benci, hikz... aku benci, hikz... benci sekali, hikz..." ucap Hinata di sela isak tangisnya.

Hinata merosot jatuh terduduk di hamparan rumput yang berada di tamannya itu. Kedua tangannya digunakan untuk mengusap air mata yang terus mengalir di wajah cantiknya. "Hikz...hikz... A-aku benci sekali padamu, Sasuke, hikz..."

"Kenapa?"

Hinata langsung menengadahkan kepalanya, saat mendengar suara yang dia rindukan terdengar kembali di kedua telinganya. Kini lavender itu terbelalak kaget, melihat sosok pemuda yang begitu dia rindukan tengah berdiri tegap di hadapannya. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir mungil Hinata.

Padahal Sasuke sedang menunggu jawaban dari Hinata. Karena tidak kunjung mendapatkan apa yang dia inginkan, pemuda itu merendahkan tubuhnya dan berjongkok di depan Hinata. "Kenapa kau membenciku, Hyuuga-sama?" tanya ulang Sasuke sambil menatap lurus ke sepasang lavender milik Hinata.

Bukannya menjawab pertanyaan Sasuke, seulas senyuman malah hadir di bibir Hinata. Bahkan Sasuke pun merasa aneh dengan senyuman gadis bersurai indigo tersebut. Namun, senyuman itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Karena setelah itu, Hinata mengerucutkan bibirnya.

"Tiba-tiba datang. Tiba-tiba pergi. Apa sih maumu, Sasuke?!" hardik Hinata. "Langsung menghilang, tanpa mendengar penjelasanku terlebih dahulu," lanjutnya.

Sasuke hanya menatap datar gadis yang sekarang ada di hadapannya kini. Pemuda reaven itu hanya diam seribu bahasa.

"Apa kamu tidak tahu?! Beberapa akhir ini kamu selalu mengganggu pikiranku. Membuat hatiku merasa tidak tenang dan selalu merasa khawatir. Tidak pernah aku merasa terganggu seperti ini sebelumnya," kata Hinata.

"Jadi, aku mengganggumu?" tanya Sasuke. Akhirnya pemuda itu mengeluarkan pendapatnya juga. Hal itu membuat Hinata merasa sedikit lega.

"Hn!" tegas Hinata.

Mendengar itu, membuat Sasuke menghela sedikit nafasnya. Pemuda itu beranjak berdiri dari posisi sebelumnya. "Baiklah. Aku tidak akan menampakkan diriku lagi di hadapanmu," kata Sasuke.

Setelah mengatakan itu, Sasuke berbalik dan hendak pergi dari taman tersebut. Namun, sepasang lengan yang sekarang menulusup di pinggangnya. Mencegah pemuda itu untuk melenggang pergi.

"Jangan pergi," cegah Hinata.

Sepasang onyx itu terlihat sedikit terperangah. Perbuatan Hinata ini sungguh di luar perkiraan Sasuke. Selama beberapa detik, mereka tetap bertahan pada posisi berpelukan seperti itu.

"Kau selalu memutuskan sendiri, tanpa menanyakan terlebih dahulu bagaimana pendapatku," kata Hinata.

Dengan perlahan, Sasuke melepaskan kedua lengan Hinata dari tubuhnya. Pemuda itu berbalik, dan menghadap Hinata. "Apa yang kau inginkan, Hyuuga-sama?" tanya Sasuke.

Sebuah senyuman terkembang di wajah cantik Hinata, ketika mendengar pertanyaan Sasuke. "Kamu harus tetap ada di sampingku. Dan jangan pernah menghilang lagi seperti ini," jawab Hinata dengan tegas.

.

.

.

.

.

.

.

Hinata mempersiapkan segala kebutuhan sekolahnya di pagi ini. Sedangkan Sasuke tetap setia menunggu gadis itu dengan duduk santai di kusen jendela kamar Hinata. Setelah memastikan segala persiapan telah selesai, Hinata hendak keluar dari kamarnya untuk menuju ke ruang makan. Namun, ketika tangannya hendak menggeser pintu kamarnya, dia berhenti. Sebuah ide muncul kembali di otaknya.

Hinata berbalik, dan berjalan mendekat ke arah Sasuke. "Sasuke, kamu boleh ikut denganku ke sekolah," kata Hinata setelah gadis itu berhenti tepat di depan Sasuke.

"Benarkah?" tanya Sasuke tak percaya. Masih segar di ingatan pemuda itu bahwa 3 minggu yang lalu Hinata tidak menyukai keberadaannya di sekolah gadis beriris lavender tersebut.

"Hm. Bukankah tadi malam aku sudah bilang bahwa kamu harus tetap ada di sampingku," jelas Hinata.

Walaupun hanya samar, di ekspresi Sasuke yang datar itu tersirat raut kebahagiaan. Pemuda itu berdiri dari posisi duduknya. "Baiklah," ucap Sasuke seraya berjalan melewati Hinata.

"Tunggu dulu!" cegah Hinata seraya menghentikan Sasuke dengan menggenggam tangan pemuda tersebut.

"Ada apa lagi?" tanya Sasuke seraya menengok ke arah Hinata.

"Kamu akan ikut denganku ke sekolah, dengan satu syarat."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Review untuk chapter 3 :

Suzu Aizawa : Iya, itu Sasuke. Benar juga ya jadi ingat ma Shirogen. Meiru juga suka ma Shirogen. Ni dah update chap lanjutannya.

Nn : Iyaa...

Moyahime : Salam kenal juga. Itu Sasuke. Dah tw 'kan.

: Iya, Sasu. Ni dah di-update.

Mamoka : Ga pa2. Meiru juga ga tw fic ini mengenai sihir atau bukan #plak. Yang penting tentang kekuatan spiritual gitu. Iya, tebakanmu benar. Itu adalah Sasu. Diusahakan akan update tepat pada waktunya.

Hyou Hyouichiffer : Di chap 3, Meiru ingin memberitahu bahwa SasuHina masih bingung terhadap perasaan masing2. Nanti kalau dibuat dah saling suka, 'kan sepertinya tidak berjalan secara alami gitu. Iyaaa, ada Gaara-kun,heheheee... Mengenai perasaan Gaara ke Hina, masih Meiru buat sedikit misterius,hohooo... Iya, itu emang Sasu. Ni dah di-update.

Haruno Aoi : Iyaaa, okaeri. Itu 'kan sudah tugasnya Sasu-nyan,hahaaa... Emangnya kenapa low ada Gaara? Aku suka beut ma Gaara-kun,hohoo... Iya, itu Sasu. Menurutmu bakal ada cinta segi banyak ga? Ni dah dilanjutin.

Himetarou Ai : Yapz, betul beut. Itu Sasuke. ni dah di-update.

: Itu adalah Sasuke. Masa'? Menurutmu karakter Hina di sini dah kelihatan ya? Meiru sungguh tidak menyangka kalau karakter Hina di setiap ficQ hampir sama. Salam kenal jugaa.

N : Meiru juga suka waktu Sasu jadi kucing. Mesum gmna? 'Kan dah dijelasin di chap sbelumnya, low melalui bibir tu kekuatan 'Heart' cepat tersalurkan ke tubuh Sasu.

Floren : Ya. Ini dah dilanjutin.

AngelOfDeath : Halo. Iya, Meiru juga suka dengan keberadaan Gaara di sini. Yapz, itu Sasuke. Ini dah di update.

.

.

.

Maaf beribu maaf Meiru haturkan kepada kalian semua

Karena telah meng-up date fic ini tidak tepat pada waktunya

Setelah beberapa tugas yang membelenggu Meiru akhir-akhir ini telah selesai

Maka dari itu pikiran Meiru sudah dapat diajak kembali untuk meneruskan fic ini

.

.

Semoga fic ini tetap berkenan di hati saudara sekalian

Walaupun sepertinya chapter kali ini jauh dari kata 'romance'

Namun Meiru harap, kalian semua tetap enjoy membaca fic ini

.

.

Review kalian akan menjadi salah satu sumber yang penting dalam berlangsungnya fic ini

Tak pernah bosan Meiru ucapkan...

M

O

H

O

N

R

E

V

I

E

W

N

Y

A

.

.

.

Arigatou Gozaimasu