Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto

Genre: Romance

Pair: Madara Uchiha x Hinata Hyuga

Rate: T

Warning: AU, OOC, Typo, gaje. Bagi yang tidak suka pair ini harap menekan tombol back.

.

.

Note:

"Bla bla bla" = Speak

'Bla bla bla' = Inner

.

.

Don't Like, Don't Read

.

Hinata Uchiha?

.

Happy Reading

.

.

.

Preview

Madara kembali mendorong pelan kursi roda tersebut. Ingin rasanya gadis itu bertanya, tapi ia sangat takut dengan kemungkinan jawaban yang akan membuatnya menyesal telah bertanya. Jadi gadis itu hanya diam dan menatap gerbang berwarna merah yang semakin dekat.

"Nah Hinata, kita sudah sampai. Mereka pasti akan senang dengan kedatanganmu" Madara sudah berada di depan gerbang. Ia membuka gerbang tersebut yang ternyata tidak dikunci.

'Mereka? Sebenarnya siapa mereka itu?'

Hinata tidak ingin bertanya pada pria tersebut. Ia hanya pasrah dengan apa yang menantinya dibalik gerbang.

.

.

.

Chapter 4

Madara kembali menghampiri Hinata dan mendorong kursi roda tersebut memasuki area dalam gerbang. Gadis Hyuga itu hanya menundukkan kepala, menatap sebuket bunga lili di pangkuannya.

"Kita sudah sampai, Hinata" ucap pria itu pelan, namun Hinata masih larut dalam lamunannya.

"Hinata? Apa kau tertidur?" Madara berjongkok didepan gadis tersebut. Ia mengira gadis itu tertidur karena sedari tadi menundukkan kepalanya dan tidak bersuara. Pria itu menyentuh pundak pelayannya yang masih bergeming.

"A-aa, Madara-sama. Sumimasen" gadis itu tersadar. Ia benar-benar larut dalam lamunannya sendiri.

"Ttaku, kau ini. Kalau begitu kita tidak akan lama. Sepertinya kau sangat lelah karena perjalanan hari ini, Hinata" Madara mengelus pucuk kepala gadis tersebut dengan tatapan menyesal.

"Ti-tidak, Madara-sama. Aku hanya sedang menikmati sejuknya udara disini, sama seperti di tempatku" Gadis itu kembali berdusta, tapi tidak sepenuhnya sebab udara di tempat itu memang sejuk dan seperti di Konoha.

"Begitu ya. Ah, boleh kuminta bunganya?" Madara mulai curiga dengan gelagat Hinata yang sedikit berbeda hari ini. Hanya saja ia belum ingin membahasnya, ada hal lebih penting yang harus dilakukannya sekarang.

"Tentu saja. Dozo" gadis itu menyerahkan bunga-bunga tersebut, masih dengan kepala tertunduk. Ia terlalu takut untuk melihat apa yang ada di depannya.

Madara heran melihat sikap pelayannya seharian ini. Apa Hinata sedang dalam masa bulanannya? Atau ini memang gaya ngambek anak jaman sekarang?

"Arigatou. Sekarang mari kita berdoa bersama, Hinata" ucap pria itu singkat. Ia meletakkannya pada tempat yang sudah di sediakan.

'Berdoa?' Gadis itu penasaran, ia memberanikan diri menatap apa yang ada di depannya. Hinata sangat terkejut. Dihadapannya terdapat 2 buah pusara bertuliskan Tajima Uchiha dan Izuna Uchiha. Bahkan di sekeliling tempat itu dipenuhi ornamen lambang Uchiha.

'I-ini... makam keluarga Uchiha! Ke-kenapa Madara-sama membawaku kesini?' Gadis itu membatu. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi sekarang ini.

"Ohissashiburi, Tou-san, Izuna. Gomen aku baru bisa mengunjungi kalian sekarang. Keadaanku baik dan aku juga ingin mengenalkan seseorang pada kalian" ucap Madara yang membuat gadis itu terkejut bukan kepalang.

'Ja-jadi, Madara-sama... adalah Uchiha! Bagaimana ini?!' Gadis itu panik dan takut sebab ia sudah berbohong pada orang yang salah. Ia sudah tidak punya muka untuk menatap majikannya.

"Hinata, ayo kenalkan dirimu pada Tou-san dan Izuna. Mereka pasti senang bertemu denganmu" Hinata menatap pria disampingnya dengan takut, namun pria itu menunjukkan senyum hangat seperti biasanya pada dirinya.

"Ma-Madara-sama..." cicitnya dengan mata berkaca-kaca. Ia takut, malu, semua campur aduk dalam diri gadis tersebut.

"Hei, kau kenapa?" Dengan sigap Madara berjongkok dan menghapus air mata yang mengalir dari iris lavender Hinata.

"Gomennasai... Gomennasai.. Madara-sama" isaknya pelan. Pria itu tak segan memeluk tubuh Hinata yang gemetar seraya mengusap-usap punggungnya.

"Ssstt, sudah-sudah. Untuk apa meminta maaf, Hinata?"

"A-aku sudah membohongi anda selama ini, Madara-sama. Aku benar-benar gadis yang buruk"

"Hei, jangan berbicara begitu. Sudah, jangan menangis lagi, Hinata. Bisa-bisa aku dimarahi oleh Tou-san karena kau menangis" Madara berusaha menghibur gadis tersebut. Ia sebenarnya sudah tidak terlalu memikirkan kebohongan gadis itu padanya.

Hinata mengangkat kepala, menatap wajah tampan sang majikan yang tersenyum padanya. Senyum yang hangat dan tidak dibuat-buat. Air mata itu pun terhenti, perasaan yang semula kacau kini menjadi tenang dan nyaman.

"Sudah lebih baik?" Hinata menganggukkan kepala seraya menghapus sisa air mata di wajahnya. Perlahan ia bangun dari kursi roda dan melangkah mendekati kedua pusara tersebut. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya dan mengatupkan kedua tangan, memanjatkan doa pada ayah dan adik dari majikannya.

"Pe-perkenalkan, na-namaku Hinata. A-aku sudah bekerja sebagai pelayan Madara-sama selama 5 bulan. Ma-Madara-sama sangat baik kepadaku dan aku akan selalu melakukan semua pekerjaanku dengan baik" ucap Hinata dengan terbata.

Terdengar suara tawa tertahan dari sampingnya. Gadis itu menoleh dan menatap majikannya dengan heran.

"Madara-sama, kenapa anda tertawa? Itu tidak sopan" Hinata menegur majikannya tanpa merasa takut. Gadis itu memang sangat menjunjung tinggi kesopanan yang selama ini di ajarkan oleh keluarganya.

"Aku sedang menertawakanmu. Caramu memperkenalkan diri barusan lucu sekali, Hinata" Madara kembali mengusap pucuk kepala Hinata dengan gemas. Gadis itu hanya mengembungkan pipinya.

"Sekarang, mari kita pulang. Hari sudah mulai gelap" Madara merangkul pinggang gadis tersebut. Hinata hanya mengangguk lalu membungkukkan tubuhnya pada kedua pusara dihadapannya, begitu pun dengan sang majikan.

'Tou-san, Izuna, apa kalian menyukai gadis ini? Aku akan segera menjadikannya Uchiha dan meneruskan keturunan kita' inner Madara dengan penuh keyakinan. Mereka pun berlalu meninggalkan area pemakaman tersebut menuju mobil.

.

.

"Apa kau tidak keberatan kalau aku mengajakmu ke satu tempat lagi, Hinata?" Tanya pria Uchiha itu ketika mereka sudah berada dalam mobil.

"Um" gadis itu hanya menggumam seraya tersenyum. Ia penasaran kemana sang majikan akan membawanya?

"Benarkah? Tapi kau terlihat lelah, Hinata" Madara mengelus pucuk kepala gadis itu seraya menatap sayu.

"Tidak, Madara-sama. Justru aku khawatir anda yang lelah karena sudah menyetir jauh dan juga menuntun kursi rodaku, Madara-sama"

"Aku sudah terbiasa bepergian jarak jauh dengan menyetir sendiri. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yosh, kita berangkat. Aku yakin kau akan menyukainya" Madara menyalakan mobil dan fokus pada kemudinya.

Gadis Hyuga itu hanya diam dan menerka-nerka, kemana lagi sang majikan akan membawanya?

.

.

.

Beberapa jam sebelumnya

"Cuti? Berapa lama? Baiklah, aku yang akan mengurus meeting dengan Sabaku" pemuda dengan garis tegas pada kedua pipinya menutup telepon lalu memijat pelan pangkal hidungnya.

Pasalnya sang paman yang juga menjabat direktur Uchiha Corp mengambil cuti mendadak tanpa pemberitahuan dari jauh-jauh hari.

Akan tetapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena pemuda tersebut memiliki otak jenius dan selalu dapat diandalkan. Ia mengambil berkas-berkas yang sudah sang paman siapkan untuknya. Dengan santai pemuda itu melenggang meninggalkan ruang kerjanya menuju ruang meeting.

Ddrrrttttt... Dddrrrttttt...

Terdengar ponselnya bergetar. Ia menghentikan langkahnya dan menjawab panggilan yang berasal dari sekertarisnya.

"Ada apa, Sara? Meeting diundur? Ah, baiklah. Arigatou" pemuda itu menghela nafas lalu kembali berjalan menuju ruang kerjanya. Entah ia harus bersyukur atau sedikit kesal meeting hari ini harus diundur hingga beberapa hari karena direktur dari Sabaku Corp sedang ke luar negeri.

"Hari ini membosankan sekali. Tidak ada paman, tidak ada lagi yang harus ku kerjakan" keluhnya seraya membuka laptop. Ia melihat email-email yang menumpuk dalam inboxnya. Sebagian besar berisi data-data pekerjaan dan undangan dari perusahaan lain.

Setelah melihat email yang masuk, ia mengecek email-email yang berada di kotak sampah. Mungkin saja ada email penting yang tak sengaja terhapus olehnya.

"Kenapa aku membuang email dari ayah? Email ini sudah 7 bulan yang lalu. Sebaiknya coba kulihat lagi" iris onyxnya membuka email tersebut.

"Undangan makan malam dengan Hyuga. Perjodohan? Tcih, pantas saja aku menghapus email ini" gumamnya seraya mengarahkan kursor untuk menghapus total email dari sang ayah. Namun ia penasaran dengan lampiran yang di beri nama seorang gadis.

Biasanya ia tidak peduli dengan email beserta lampiran didalamnya jika sudah menyangkut perjodohan. Hanya saja kali ini nalurinya tergelitik untuk melihat seperti apa rupa gadis yang hendak di jodohkan dengannya?

Ia membuka lampiran berformat JPEG itu, tak lama layar menunjukkan foto seorang gadis berusia 17 tahunan yang tampak cantik dengan rambut panjang berwarna indigo tengah merajut. Seketika iris onyx yang selalu terlihat datar kini memancarkan ketertarikan pada gadis dalam foto tersebut.

"Hinata Hyuga. Semoga belum terlambat" ia melengkungkan senyum menatap gambar di layar laptopnya. Pemuda itu mengunduh foto sang gadis kemudian ia pindahkan pada ponselnya.

Gadis itu memiliki rambut panjang yang indah dan berwarna indigo. Mengingatkannya pada sang mantan yang sudah lama dipersunting oleh orang yang dikenalnya.

"Moshi-moshi. Ayah, bisa kita makan siang bersama? Ada yang ingin aku bicarakan dengan ayah. Iya, sampai jumpa ayah" pemuda itu bersiap menuju restaurant tempat ia akan bertemu sang ayah. Ia tampak bersemangat dan tak henti menyunggingkan senyum.

.

.

"Itachi" sapa pria berusia pertengahan 40 ketika melihat pemuda yang terlihat mirip dengannya memasuki restaurant. Ia memilih tempat duduk tak jauh dari pintu masuk.

"Sumimasen sudah membuat ayah menunggu" pemuda bernama Itachi itu segera menduduki kursi yang berhadapan dengan sang ayah. Tak lama datang seorang pelayan membawakan daftar menu untuk mereka.

"Ada apa, Itachi?" Sang ayah langsung bertanya setelah pelayan itu pergi. Ia bukan tipe orang yang senang berbasa-basi.

"Begini ayah. Perihal email yang ayah kirim 7 bulan yang lalu. Aku tahu ini sedikit terlambat tapi aku ingin menerima tawaran tersebut"

Fugaku mengerutkan dahi dengan tangan bersilang di depan dada. Ia mencoba mengingat kembali email yang putera sulungnya maksud.

"Email 7 bulan lalu? Soal apa itu?"

"Soal makan malam dengan keluarga Hyuga dan perjodohan" jawab Itachi dengan santai.

"Hoo. Kenapa baru sekarang kau menanyakan hal ini, Itachi? Ku kira kau tidak berminat sebab tidak ada balasan darimu. Bahkan saat dirumah pun kau selalu menghindar jika aku membahas tentang perjodohan"

"Aku tahu. Tapi ini masih belum terlambat 'kan ayah?" Pemuda itu menatap sang ayah dengan datar namun penuh harapan.

"Apa kau baru saja melihat fotonya, Itachi?" Pemuda itu hanya mengangguk. Ia sudah menduga sang ayah akan bertanya demikian padanya.

"Pantas saja. Jangan katakan kau tertarik pada Hinata karena mirip dengan dia?" Fugaku menatap puteranya tajam. Sedangkan Itachi hanya diam. Ingin pemuda itu mengiyakan pertanyaan sang ayah namun, ia khawatir itu akan membuat situasi menjadi tidak nyaman.

"Hahaha" tiba-tiba Fugaku tertawa. Membuat pengunjung yang ada disana terkejut dan menoleh padanya, terlebih Itachi. Ia terkejut ayahnya tiba-tiba tertawa.

"Kenapa ayah tertawa? Apa yang lucu?" Itachi mengerutkan dahi. Lalu Fugaku menepuk pundak putera sulungnya. Pemuda itu semakin heran dibuatnya.

"Tentu saja. Aku sedang menertawakanmu, nak. Ku sarankan kau mundur dan tidak lagi menanyakan Hinata"

Kata-kata Fugaku membuatnya sangat terkejut. Kenapa ayahnya malah menyuruhnya untuk mundur?

"Ha? Kenapa? Hinata belum menikah kan?" Itachi mulai terlihat resah. Ia sudah tidak peduli dengan sikap tenang yang selama ini ditunjukkan.

"Memang belum. Tapi ia sudah menjadi milik seseorang yang juga kau kenal, nak. Kau sudah terlambat, Itachi" ucap Fugaku seraya meminum kopi yang sudah dipesannya lebih dulu.

"Tidak! Aku tidak akan menyerah. Selama Hinata belum menjadi istri seseorang, aku akan terus mengejarnya. Dan siapa orang yang ayah maksud?" Itachi kesal. Mana mungkin ia harus menyerah sebelum berperang? Terlebih gadis itu, ia sangat menginginkannya.

"Terserah kau saja, Itachi. Ayah lebih setuju Hinata bersama dia karena kau menyukai Hinata hanya karena mirip dengan Yugao. Belajarlah menyukai seseorang karena dirinya sendiri, bukan karena bayang-bayang wanita itu, Itachi"

Fugaku mengatakan hal tersebut dengan sangat santai. Ia mengambil ponselnya yang sedari tadi bergetar dalam sakunya. Ada panggilan masuk untuknya. Pria Uchiha itu menjawab panggilan telepon selama beberapa menit lalu kembali memasukkannya dalam saku.

"Ah, soal siapa orang itu kau akan mengetahuinya sendiri. Ku harap setelah mengetahuinya kau akan mundur dan tidak membuat masalah, Itachi"

Pemuda itu hendak menjawab perkataan ayahnya, namun pelayan datang membawa makanan yang sudah mereka pesan. Ayah dan anak itu segera menyantap hidangan tanpa ada pembicaraan lagi diantara mereka.

'Aku tidak peduli. Aku akan berusaha mendekati Hinata. Masa bodo dengan pria yang berani menjadikan Hinata miliknya!'

.

Setelah makan siang yang berakhir alot, Itachi kembali ke kantornya. Ia dan sang ayah sama-sama bekerja di Uchiha Corp. Hanya saja Fugaku memegang Uchiha Corp yang bergerak dibidang komunikasi.

"Hinata Hyuga. Rasanya aku tidak asing dengan nama tersebut" Itachi memijat pelan pangkal hidungnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Hyuga! Ah, mungkin saja dia berkerabat dekat dengan Hinata. Sepertinya aku masih menyimpan nomornya" Itachi mengambil ponsel dan mencari nama bermarga sama dengan gadis tersebut.

"Ketemu! Yosh, semoga masih aktif"

Tuuttt... tuuuttt...

"Moshi-moshi. Tidak biasanya anda menelponku, Itachi-san" jawab suara bariton dari seberang sana.

"Neji. Lama tidak berjumpa sejak project terakhir kita. Apa kau sedang senggang?"

"Iya, begitu lah. Ada apa? Apa kau ingin menawarkan project?" Pemuda Hyuga itu terdengar tenang seperti biasanya.

"Tidak juga. Ada hal yang ingin ku tanyakan" ucapnya to the point. Neji yang berada ditempatnya hanya mengerutkan dahi.

"Soal apa?" Neji terdengar penasaran.

"Apa kau mengenal Hinata Hyuga? Kau memiliki marga yang sama dengannya" mendengar nama Hinata pemuda Hyuga itu bergeming beberapa saat.

"Aa, dia sepupuku. Ada apa kau menanyakannya, Itachi-san?" Suara Neji terdengar berubah. Tidak tenang seperti beberapa saat lalu.

"Begitu ya. Pantas kalian terlihat sangat mirip" Itachi santai saja mengatakan hal tersebut. Sedangkan Neji, pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan dalam fikirannya.

"Chotto, apa tujuanmu menanyakan Hinata? Apa kau pernah bertemu dengannya?" Kali ini suaranya terdengar tegang, membuat pemuda Uchiha itu semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada salah satu keluarga terpandang tersebut.

"Hm? Tidak. Aku hanya ingin menanyakan apa keluarga Hyuga masih ingin mengadakan makan malam dengan Uchiha? Memangnya ada apa, Neji? Kau terdengar tegang begitu"

"Naruhoto. Maksudmu soal perjodohan? Sayang sekali, Hyuga tidak lagi mengadakan perjodohan" Neji menjawab dengan datar. Ia sempat lupa kalau pamannya pernah mengirim undangan perjodohan pada keluarga Uchiha yang juga terpandang seperti Hyuga.

"Kenapa? Hinata belum menikah dengan orang lain, 'kan?" Kini Itachi terdengar kecewa. Neji di seberang sana hanya tersenyum sinis.

"Memang belum. Tapi, Hinata sudah menghilang selama 5 bulan. Hingga saat ini kami belum mengetahui keberadaannya"

'Hinata menghilang? Tapi ayah bilang... Hm, aku harus mencari tahu' pemuda Uchiha itu mulai merencanakan sesuatu dalam otaknya. Ia harus menemukan Hinata segera.

"Begitu ya. Suman, aku tidak mengetahuinya" Itachi turut bersedih mendengar hal tersebut. Tapi yang terpenting ia memiliki petunjuk meski belum pasti kebenarannya.

"Tidak apa. Kami memang sengaja menyembunyikan hal ini" ucap Neji yang sudah kembali tenang meski ada sedikit kesedihan dari suaranya. Itachi menyimpulkan kalau Neji sangat menyayangi sepupunya tersebut. Mungkin seperti dirinya yang menyayangi Sasuke.

"Lalu kenapa kau mengatakannya padaku, Neji?" Itachi heran. Bukankah Neji bilang keluarga Hyuga sengaja merahasiakan hal tersebut?

"Karena aku percaya padamu, Itachi-san. Apa masih ada yang ingin kau tanyakan? Kalau tidak ada, aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku"

'Percaya, padaku? Apa itu artinya Neji mendukungku dengan Hinata?' Itachi bak mendapat lampu hijau dari Neji. Pemuda itu tanpa sadar menyunggingkan senyum.

"Tidak, sudah cukup. Arigatou, Neji. Sumimasen sudah mengganggu" Itachi memutuskan sambungan telepon. Toh sudah tidak ada lagi yang bisa ia tanyakan. Pasalnya Neji terdengar sedih ketika ia mulai membahas Hinata dan Itachi tidak ingin memperburuk keadaan.

"Kenapa kau menyembunyikannya Ayah? Apa yang sedang kau rencanakan" gumam Itachi seraya meyandarkan tubuhnya pada kursi. Ia memejamkan mata, memikirkan berbagai kemungkinan yang direncanakan sang ayah.

"Mungkin paman Madara mengetahui sesuatu. Ya, sebaiknya aku menemui paman saja" Itachi mengambil tas dan kunci mobilnya. Ia sangat berharap pamannya dapat membantu mencari tahu mengenai Hinata dari ayahnya.

.

.

Tingtong... tingtong...

Itachi menekan tombol bel namun tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Ia melihat sekitar. Semua tampak rapi dan tanaman-tanaman terlihat lebih terurus. Itachi menekan bel sekali lagi namun tetap tidak ada jawaban.

"Sepertinya paman sedang pergi. Kemana ya? Sebaiknya aku masuk saja"

Berhubung Itachi memiliki kunci cadangan, jadi tidak masalah jika ia masuk. Toh pamannya sendiri yang memberikan padanya. Itu berarti sang paman mempercayainya kan?

Pemuda Uchiha itu sedikit terkejut, ada beberapa perubahan yang terlihat pada ruang tamu seperti warna cat, lukisan, serta bunga mawar dalam vas yang masih segar. Belum setahun ia berkunjung kerumah itu dan hal tersebut membuatnya mengira ia salah masuk rumah.

"I-ini... aku tidak salah rumah, kan? Sejak kapan paman menyukai warna cerah, lukisan pemandangan dan ada bunga di meja?"

Itachi berjalan menuju ruang santai. Disana terdapat beberapa toples camilan serta dvd-dvd bergenre romance yang terdapat pada rak. Jangan lupa sebuah boneka teddy bear tengah duduk manis pada sofa.

"Paman... jangan-jangan paman sudah memiliki kekasih? Sejak kapan? Kenapa paman tidak pernah cerita?"

Itachi kembali menelusuri setiap bagian rumah. Perhatiannya tertuju pada sebuah kamar yang selama ini belum pernah dimasukinya. Kamar tersebut milik mendiang adik pamannya, Izuna Uchiha.

Selama ini kamar yang selalu digunakan olehnya atau tamu untuk menginap berada di lantai 2. Ada 3 buah kamar kosong disana. Sedangkan di lantai 1 ada 3 buah kamar juga namun 1 kamar sudah dialih fungsikan sebagai gudang.

Itachi memutar kenop pintu, tidak dikunci seperti biasanya.

"Tidak dikunci? Aneh"

Pemuda itu memasuki kamar yang nampak terang karena cahaya dari luar jendela. Kamar itu sangat rapi dan beraroma seperti perempuan. Seprai dan bedcovernya pun bermotif yang sangat perempuan sekali.

"Jadi selama ini, paman sudah tinggal bersama perempuan. Akhirnya paman bisa move on dari wanita itu" Itachi tersenyum lalu keluar dari kamar tersebut. Bagaimana pun juga ia bukanlah pemuda yang tidak tahu tata krama.

"Pasti paman sedang jalan dengan kekasih barunya. Kalau begitu aku akan menunggu hingga paman pulang dan berkenalan dengan calon bibiku" pemuda itu berjalan menuju dapur. Ia ingin memasak makanan untuknya dan sang paman serta calon bibinya.

.

.

.

"Yap, kita sampai"

Madara memarkirkan mobilnya lalu keluar lebih dulu. Ia membukakan pintu untuk Hinata seraya mengulurkan tangan. Hinata menyambut uluran tangan pria tersebut yang terasa hangat.

"Ini dimana, Madara-sama?" Hinata nampak asing dengan tempat tersebut.

Sebuah danau terhampar luas dengan pantulan sinar rembulan serta bintang-bintang yang membentuk milkyway.

"Selamat datang di distrik Uchiha. Mungkin kau pernah mendengarnya, Hinata" ucap pria itu dengan antusias.

"Jadi ini distrik Uchiha?" Gumamnya seraya menatap sekitar dengan takjub.

"Ah, Tentu saja. Karena aku juga berasal tak jauh dari sini, Madara-sama. Hanya saja aku belum pernah berkunjung kesini" untuk pertama kalinya Hinata mulai membuka identitasnya.

Madara mengajak Hinata ke pinggir danau. Disana sudah tersedia dermaga kecil untuk bersantai. Pria itu mengajak Hinata duduk disana.

"Benarkah? Itu artinya kau berasal dari Konoha?" Madara menebak demikian karena hanya Konoha lah yang terdekat dengan distrik Uchiha. Walaupun sebenarnya distrik Uchiha merupakan bagian dari Konoha.

"Iya. Aku berasal dari Konoha. Gomen, aku baru mengatakannya sekarang" Hinata menundukkan wajahnya.

"Tidak apa. Kalau begitu ceritakan, bagaimana keluargamu? Kenapa kau diusir oleh keluargamu, Hinata?" Gadis itu menoleh dengan tatapan datar. Ia sedikit terkejut Madara yang biasanya terlihat tenang kini memberondongnya dengan pertanyaan.

"Aa, suman kalau permintaanku terlalu banyak. Tidak masalah jika kau masih belum ingin menceritakannya, Hinata" Madara merasa tidak enak. Ia khawatir Hinata menganggapnya tidak sabar.

"Tidak apa, Madara-sama. Cepat atau lambat aku harus menceritakannya pada anda" Hinata tersenyum seraya menatap pria disampingnya.

"Aku akan kembali memperkenalkan diri. Namaku Hinata Hyuga. Aku adalah anak pertama dari Keluarga Souke dan aku memiliki seorang imouto..."

Hinata menceritakan kehidupannya pada sang Majikan. Mulai dari ia yang menyukai Naruto sejak di bangku taman kanak-kanak hingga SMA. Sang ayah yang selalu menjodohkannya, hingga pria yang hampir menikahinya.

'Hyuga? Terdengar tidak asing. Sudah lama sekali aku meninggalkan Konoha serta distrik Uchiha ini. Mungkin Itachi mengetahui banyak hal tentang Hyuga. Sebaiknya aku bertanya padanya saja nanti' inner pria tersebut seraya mendengarkan Hinata.

.

.

.

TBC

.

Hai, semua. Haru is back. Well, cukup lama sejak chap terakhir publish karena data fic ini tanpa sengaja terhapus. Alhasil, gue harus putar otak lagi buat menulis ulang. Dan hanya segini yang bisa gue hasilkan.

Semoga readers gak kecewa ya. Kalau pun iya cukup sinpan dalam hati saja. Hahaha.

Gue usahain bisa update cepat karena belum ada tugas negara yang harus dijalankan. Hohoho. Mungkin di chap depan akan menceritakan tentang Hinata. Tapi bisa juga idenya berubah setelah Titan menyerang.. hahaha.

Thanks ya buat yang udah fave dan follow ini fic. Buat Dil35t4, NJ21, Yuuki Jaeger, Yulia, asm chan, Muri84 thanks udah bersedia review fic abal ini. Kalian luarr biasaa. Hahaha.

Buat unnihikari sorry ya Haru belum bahas di chap ini. Awalnya karena lupa. Hehehe. Gue coba buat selipin gimana ceritanya tapi malah jadi aneh. So, di chap depan semuanya akan terkuak. Hohoho. Gomen banget ya.

Ditunggu review positifnya. Seperti biasa gue gak menerima flame dan sejenisnya ya karena sudah ada warning di awal. Hahaha

See you next chap guys. Bye