Main Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Other Cast : Exo

Disclaimer: Cerita ini milik Gloomy Rosemary (Cupid Kyumin)

.

.

.

Previous Chapter

"Jika itu bisa membuatku merebut perusahaan itu." Ia mengunyah angkuh buah cherry miliknya, hingga cairan merah meleleh keluar dari sela-sela bibirnya.

"Bunuh anak itu" Lanjutnya sambil menyeringai tajam.

.

.


CHANBAEK

YAOI

FANFICTION

Gloomy Rosemary

Silent Regrets

Chapter 4


.

'Baekhyun~ah'

"uhn!"

Sesekali Ia menggeleng tak tenang, bahkan terlihat keringat dingin mulai merembas dari keningnya

'Ayah tak pernah meninggalkanmu Nak'

Lagi, suara itu kembali menggema. Membuatnya memanggil, namun serasa tak sampai. "Nn~ A-ayah!...AYAH!"

'Ayahselalu melindungimu" Tepat, kala sosok itu kembali bersuara... senyum Yunho terulas hangat, satu potret yang begitu Baekhyun rindukan dari sosok sang Ayah, tapi mengapa... tak sampai, terlalu jauh.

'Maaf Baekhyun'

BRAKKKK!

Hingga debaman mesin berat, menyentak semua mimpinya

"Nnnnn! ... AYAH! Hh...hh...hhh—

Tubuh mungil itu mendadak terbangun dengan nafas memburu. Baekhyun meremas kuat-kuat ujung selimutnya, menyadari dirinya yang ketakutan dan bahkan panik kali ini. Kembali dihadapkan pada mimpi, detik di mana Ia merelakan Yunho pergi darinya.

Sontak jeritan keras itu membuat sosok yang memang sedari tadi tertidur di sisinya mulai terbangun, namun seketika itu pula Chanyeol mengernyit heran, melihat Baekhyun meringkuk dengan tubuh gemetar...samar-samar terdengar isakkan kecil dari namja mungil itu.

Sejenak mengamatinya, sebelum akhirnya meraih tubuh ringkih itu dan mendekapnya erat, berulang kali pula tangan besarnya mengusap punggung Baekhyun, berusaha sedikit menenangkan bocah yang sepertinya memang mendapat mimpi buruk

"Hhh...hhh.. A—ayah" Lirih Baekhyun tersengal payah, Meski menahan diri, namun tetap saja... air mata itu tak pernah berhenti mengalir, semakin lekat mengaburkan jarak pandangnya. Bahkan Baekhyun tak sadar dan memang tak peduli, dirinya kini tengah berada dalam pelukan seseorang.

"Mimpi buruk hn?" bisik Chanyeol masih dengan mengelus pelan belakang kepala Baekhyun, sebagian dari dirinya memang mengeras mendengar Baekhyun meracau nama ayahnya, tapi tak dipungkiri jika dirinya merasa terusik melihat bocah itu menangis seperti ini.

.

.

"T—Tuan" Baekhyun lekas tersentak, sadar dirinya tengah bersandar dalam pelukan Chanyeol, cepat-cepat ia mendorong dada bidang itu hendak beringsut menjauh... bagaimanapun Baekhyun tau, Chanyeol tak menyukai hal semacam ini. Dan tak sepantasnya ia bersikap selancang itu.

Namun Chanyeol sama sekali tak bergeming,semakin Baekhyun meronta semakin kuat ia mendekap namja mungil itu.

"M-maaf Tuan, lepaskan aku" Sentak Baekhyun masih terus meronta ingin lepas.

"Jangan melawanku"

Kalimat singkat itu membuatnya terdiam, Baekhyun memejamkan mata erat dan meringkuk pasrah dalam pelukan Chanyeol. membiarkan Pria itu membelai kepala dan punggungnya dengan lembut. Ia berdebar mendapat semua pelakuan tak terduga itu, bukankah hanya sikap kasar dan kata-kata dingin yang selalu ia terima... Chanyeol tak pernah memeluknya seperti ini.

"Tidurlah" Ucap Chanyeol begitu menyadari Baekhyun sedikit tenang dalam pelukannya, sesekali ia melirik wajah Baekhyun dan menghela nafas pelan melihat anak itu masih tertunduk lemas

"T-Tuan, apa kau benar-benar membenciku?" Lirih Baekhyun masih dengan tertunduk

"..."

Tak ada jawaban, Chanyeol hanya menatapnya sesaat kemudian kembali berbaring.

"Tuan, apa kau membenciku? Tapi mengapa?" Ulang Baekhyun, kedua tangannya tampak bergetar ingin menyentuh lengan kokoh yang membelakanginya itu.

"Tidur! dan jangan banyak bicara!"

"A-aku tak mengerti... semua sikapmu... aku—

BRUGH

Chanyeol bangkit, lalu memenjarakan Baekhyun dengan tiba-tiba. Kedua obsidiannya tampak menyalak geram, mengisyaratkan ia benar-benar terusik mendengar semua pertanyaan itu

"Tck!apa semua tidak jelas untukmu? Aku membencimu lebih dari apa yang kau tau!"

"M-mengapa? apa salahku padamu Tuan?"

"Karena kau—

Seolah terlarang, semua alasan itu tertahan dalam bibirnya. Seakan ingatan kelam itu kembali berputar sesak, kala mengingat racauan Baekhyun beberapa saat lalu. Tidakkah Baekhyun terus menerus memanggil Ayahnya dalam tidurnya, akan menjadi sebuah pukulan keras jika ia mengungkap segalanya pada anak itu

"Ku mohon katakan sesuatu...apa yang telah kuperbuat padamu?"

"Kau tak berhak bertanya apapun padaku! karena kau hanyalah pelacur yang kubeli, dari keluarga itu"

DEG

Lagi, semua kembali terucap...

Tak peduli seberapa remuk hatinya, Pria itu kembali menambah sakit yang sama. tak cukupkah dengan tubuh yang dibuatnya tak berharga, dan kali ini... satu lagi hati kembali Chanyeol patahkan. Tak bisakah Pria itu sedikit memberinya kata hangat? selepas... Dia memeluknya seperti itu?

Baekhyun menatap nanar, masih berharap ada sedikit iba dalam diri Chanyeol. tapi yang terlihat.. Pria itu hanya memalingkan wajahnya

"Kembalilah tidur!" Lanjutnya lagi seraya bangkit perlahan dari tubuh Baekhyun.

Namun Baekhyun tak mengindahkannya, bocah mungil itu secepat mungkin beringsut menuruni ranjang dan berdiri dengan wajah tertunduk.

"Kau tak mendengarkanku? Apa kau mulai melawanku?" Chanyeol beranjak mendekati Baekhyun. sedikit mengernyit melihat anak itu menunduk dengan tangan terkepal kuat.

"Jangan menunjukkan wajah seperti ini di hadapanku" Ujarnya seraya menyentuh dagu Baekhyun, hingga sedikit menengadah.

Hening...

Baekhyun sama sekali tak berniat menjawab, dan lebih memilih memalingkan wajah.

"Tatap mataku saat aku berbicara denganmu!"

"Hentikan!" Seru Baekhyun sambil menyentak tangan Chanyeol dari wajahnya, tatapannya menghunus namun terlihat rapuh karna air mata di pelupuknya.

"Kau tak harus bersikap seperti ini jika membenciku, bersikap baik untuk sesaat kemudian kembali memandangku rendah ... jangan seperti ini Tuan!" Racau Baekhyun sembari berjalan mundur ke belakang, tak peduli Pria itu itu mungkin akan menyentakknya kembali dengan kata-kata kasar atau bahkan perlakuan menyakitkan.

"Byun Baekhyun!"

"Kau ingin memukulku? Atau...kau ingin menyetubuhiku?! Lakukan! Aku tak akan peduli meski kau membunuhku sekalipun!" Serunya sembari melepas kancing kemejanya, hingga beberapa terpental kasar. Hati yang kebas itu membuatnya tertekan, tapi semua telah terjadi. Ia tak mungkin memutar takdir ... dan pasrah mendapati hidupnya hancur di tangan Pria seperti Chanyeol

"Kau tak pernah puas menyiksaku bukan! Karena aku hanya pelacur?!" Tangan mungilnya terus menerus bergerak kacau, ingin merobek paksa seluruh pakaiannya. Terlalu kalap...bahkan ia tak peduli, tubuhnya nyaris telanjang

Meski diam, namun kedua obsidian itu tampak menatap getir. perlahan ia kembali mendekati Baekhyun. Lagi... Ia benar-benar terusik melihat anak itu menangis seperti ini. Terlalu kecil.. terlalu lemah, bahkan mungkin terlalu rapuh

"Membunuhku! Bukankah itu lebih memuaskanmu! Kau tak akan melihat manusia—mpfthh~

Waktu seolah terhenti, terlalu hening ...

kecuali jantung yang terus berdegup kencang.

Kedua manik caramel itupun tampak terbelalak lebar. Kala sesuatu yang lembut menyentuh bibir kecilnya. Benarkah ia bermimpi? tapi lumatan itu terlalu nyata...bahkan terlalu lembut

"..." Berulang kali ia mengerjap tak mengerti, wajahnya memanas melihat Pria itu mulai memejamkan mata. Baekhyun tak tau apa yang harus diperbuat. Karena tak pernah mendapat hal semacam ini sebelumnya. Hingga ia lebih memilih menahan nafasnya sekuat mungkin.

"Mmh~"

.

.

"Kembalilah tidur...aku lelah, berhenti menyulut emosiku" Bisik Chanyeol begitu melepas pagutan bibir keduanya, ia melilitkan selimut tebal di tubuh polos Baekhyun. Sejujurnya Chanyeol tak mengerti bagaimana bisa bertindak demikian, namun ia merasa memang harus melakukannya.

Baekhyun terlihat tak mendengar, namja mungil itu tetap berdiri tertunduk dalam balutan kain tebal milik Chanyeol. sesekali ia menggigit bibir bawahnya, masih terasa jelas... kecupan sebelumnya. Tanpa disadarinya, wajahnya tersipu.

Baekhyun tau... itu ciuman pertama miliknya.

Tapi haruskah Ia sesenang ini? sementara Ia sadari dengan pasti, Pria itu sebelumnya berkata kasar padanya. Dan mengapa Chanyeol menciumnya?

"Baekhyun?"

"..."

Merasa percuma, Chanyeol kembali beranjak dan menarik Baekhyun agar mendekat. Kedua alisnya bertaut heran melihat bocah itu hanya menatap kosong dengan wajah bersemu merah.

"Tck! kau pikir aku benar-benar menciummu? Aku hanya ingin membuatmu tutup mulut. Dan kau... terlena karenanya? Menggelikan"

Sepersekian detik yang mendebarkan itu, berangsur pilu untuknya.

Sepertinya, memang hanya harapan yang pupus. Salah, jika Ia mengira Chanyeol berubah dan memberi sedikit simpati padanya, angannya kembali tak berujung. Pria itu akan tetap berlaku seperti ini

"Kau benar" Singkat Baekhyun sembari menyentak paksa genggaman tangan Chanyeol, kemudian berlalu tanpa suara untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Tak berniat sedikitpun melihat wajah Pria arogan itu.

Chanyeol kembali menatap redup punggung sempit itu, merutuk diri... Ia tak bisa mengendalikan lidah tajamnya, dan berakhir dengan penyesalan bisu.

.

"Kau tidur?" Tanyanya begitu memposisikan tubuhnya di sisi Baekhyun, ingin rasanya menyentuh bahu sempit itu dan memeluknya. namun urung Ia lakukan, merasa.. terlalu munafik jika melakukannya. Bukankah dirinya membenci Baekhyun? putra pembunuh Ayahnya...ya, selamanya akan tetap begitu.

.

.

"Kau tak tidur dan kau mendengarku!"

"..."

"Byun Baekhyun kau tuli?"

"..."

"Tsk! jawab jika kau mendengarnya!" gusar Chanyeol lagi, entahlah Ia merasa bodoh saat ini. tak seharusnya dirinya bertanya dan bersikap gusar kala Baekhyun tak sekalipun merespon ucapannya, tapi Ia benar-benar tak tenang.

"Baek—

"Bukankah kau ingin aku tutup mulut Tuan?" Ucap Baekhyun tanpa memutar tubuh, membuat Chanyeol semakin mengacak kasar surai brunettenya dan menendang udara kosong di atasnya.

.

.

.


Pagi mulai menjelang, menyertai sebagian berkas cahaya yang perlahan menyusup masuk ke dalam kamar megah itu.

"Mh..." Chanyeol sedikit beralih posisi sembari meraba-raba sisinya, namun rasanya ada yang berbeda di pagi ini, tak ada tubuh hangat yang kerap ia peluk saat tertidur hingga terbangun. Cepat-cepat Chanyeol membuka mata detik itu pula ia mendudukkan tubuhnya dan mendadak gusar kala tak menemukan Baekhyun di sisinya.

"Oh Shit!" Umpatnya ketika menuruni ranjang dengan tergesa, dadanya benar-benar memanas saat ini. ia yakin Baekhyun memanfaatkan dirinya yang lengah untuk lari darinya.

.

.

Chanyeol menyambar kasar jaket dan kunci mobil, lalu berlari kalut hendak menuju mobilnya. Namun belum sempat ia mencapai anak tangga terakhir, langkahnya seketika tersendat kala melihat siluet Baekhyun tengah meringkuk di sofa

Perlahan ia membawa langkahnya mendekat, samar Chanyeol mengulas senyum. seakan terpana, melihat wajah polos yang terlelap itu.

"Kau ingin membuatku gila?" Bisiknya lirih sembari menyibak helaian rambut yang menjuntai di pipi Baekhyun. Chanyeol kembali tak menyadari senyumnya kala itu. Paras cantik Baekhyun, tampaknya membuatnya terpesona. hingga Ia betah berlama-lama memandanginya.

Namun beberapa detik berikutnya ia mengernyit, Baekhyun akan mengeluh pegal jika tidur dengan kaki tertekuk seperti itu. Hingga Ia putuskan mengangkat bridal anak itu, hendak membawanya kembali ke dalam kamar miliknya.

"Uhn.." Lenguh Baekhyun terusik, mengerjap lalu terbelalak lebar melihat wajah stoic Chanyeol berada begitu dekat dengannya

"Ngh! A—Tuan!"

"Kau ingin lari dariku?"

Baekhyun kembali terbelalak... tidakkah Chanyeol kembali menaruh prasangka terhadapnya dan ia benar-benar jengah mendengarnya

"Aku tidak lari darimu Tuan!"

"Kau pikir aku percaya?"

Baekhyun meradang, "Turunkan aku!" Serunya berusaha menggeliat turun.

"Lebih baik aku mengurungmu, kau akan menyesal jika lari dari—

Ucapan Chanyeol terhenti kala Baekhyun menangkup pipinya dan memaksanya menoleh ke samping, tepat di atas meja makan.

"Aku tidak lari darimu, bukankah kau ada meeting penting pagi ini, persiapkan dirimu lalu sarapan!"

Detik itu pula, Chanyeol kembali menatap Baekhyun dengan wajah memerah. Betapa bodoh dirinya kali ini. Jika Baekhyun menyadarinya, mungkin dirinya terlihat seperti bocah yang takut kehilangan Baekhyun miliknya

"Bisakah kau menurunkanku sekarang? Kau akan terlambat jika tidak segera bergegas"

"Apa yang salah denganmu? Mengapa kau melakukan semua ini?"

"Karna saat ini aku hidup dan bergantung denganmu" Lirihnya sembari menggigit bibir, berharap Chanyeol menyadari sedikit perasaannya, meski Ia tau Chanyeol mungkin tak pernah menerimanya.

"Hn...itu memang tugasmu"

.

.

.

Pria itu itu mendudukkan diri dengan menyilangkan kaki, sesekali kedua obsidiannya mengekor pergerakan Baekhyun yang tengah menyiapkan makan paginya. Meski tak bicara, tapi ia cukup puas dengan memandang wajah babyface itu di pagi ini...entahlah moodnya terasa ringan, terlebih Baekhyun semakin memberinya perhatian lebih akhir-akhir ini.

'Bagaimana mungkin kau masih bersikap seperti ini pada orang yang telah melukaimu? bocah' Gumam Chanyeol dalam hati.

"Panggil, jika Tuan membutuhkan sesuatu dariku" Ucap Baekhyun usai menuangkan segelas susu hangat untuk Chanyeol.

"T-tunggu...kau ingin pergi kemana?"

"Membersihkan rumah ini" Baekhyun berpaling hendak berlalu. Tapi sebuah genggaman menahan langkahnya, membuatnya mengernyit dan menoleh ke belakang. "Tuan?" tanyanya kemudian.

"Temani aku makan"

Baekhyun sempat membulatkan mata namun setelahnya ia tersenyum hangat dan duduk berseberangan dengan Chanyeol. "B—baiklah"

"Tsk! Siapa yang memintamu duduk di sana... kemari!" Titah Chanyeol seraya menunjuk tempat duduk di sisi kanannya.

Walau masih menyimpan heran, Baekhyun tetap memenuhi titah itu. ia melangkah kecil mendekati Chanyeol lalu duduk di sampingnya.

"Mengapa aku harus duduk di sisimu?" tanya Baekhyun sambil mengerjap polos.

"..."

Tak ada jawaban.. seperti biasa, hanya tatapan dingin yang terlihat mengintimidasi, tapi setidaknya ia bisa sedikit lebih dekat dengan Pria itu. Dan tak tau... kata menyakitkan macam apa yang kelak Ia dengar dari Chanyeol

Berulang kali Baekhyun menunduk berusaha menyembunyikan senyum, ia benar-benar tak mampu menahannya, melihat Chanyeol begitu lahap menyantap masakan buatannya. tapi mendadak ia tersentak saat Pria itu menatapnya tajam.

"Ada yang salah Tuan?" Gugup Baekhyun.

"Kau... cepat makan."

"Tidak, aku—

"Aku tak ingin mendengar alasan apapun, cepat makan karna kau akan ikut denganku hari ini"

"A-ah? Untuk apa?"

"Ck! Aku tak ingin mendengar alasan atau bahkan pertanyaan apapun! Apa kau tuli?!"

BRAKKK

Tubuh mungil itu berjengit terkejut kala Chanyeol beranjak kasar dari kursinya, dengan gemetar ia mengambil hidangan di hadapannya. meski melahapnya dengan perlahan tapi tetap saja semua makanan itu terasa menyedaknya. Karena memang Baekhyun tengah menahan tangis, bukankah beberapa saat lalu Chanyeol sedikit luluh terhadapnya, tapi kini...Pria itu itu kembali mencabik ulu hatinya dengan kata-kata kasar tersebut. Baekhyun hanya bertanya tak lebih.

.

.

.


Beberapa Jam setelahnya, semua kembali berlalu seperti biasanya

Baekhyun yang berjalan kikuk mengekor langkah Chanyeol di depannya, berulang kali ia menunduk seraya meremas kuat ujung kemejanya kala mengedarkan pandangan dan mendapat tatapan lekat dari beberapa wanita di sekitarnya. Meski begitu megah...tapi tempatnya berpijak saat ini sangatlah asing.

"Percepat langkahmu" Titah Chanyeol, membuat bocah mungil di belakangnya semakin melangkah tersendat-sendat.

Chanyeol mengulas seringai tipis, sangat menyenangkan melihat Baekhyun untuk waktu yang lebih lama, karena jika hari-hari kemarin ia hanya beberapa jam saja menatap Baekhyun, terlebih kejadian di pagi ini, membuatnya tak ingin Baekhyun jauh darinya.

"T-Tuan, lebih baik aku pulang...aku tak ingin membuatmu~ akh!"

Baekhyun memekik terkejut saat Chanyeol menarik paksa tangannya, bahkan menyeretnya untuk berjalan lebih cepat.

'Aku bisa gila...jika kau pergi darku seperti pagi ini!' gusar Chanyeol dalam hati.

.

.

.

"Tunggu aku di sini" Ujar Chanyeol begitu mendudukkan Baekhyun di sofa ruang kerjanya. Bocah itu mengangguk patuh, ia tau Chanyeol hendak menghadiri pertemuan itu. Kedua matanya mengerjap beberapa kali, saat punggung lebar Chanyeol mulai menghilang dari balik pintu.

"Hhhh..." Helanya, Baekhyun mengedarkan pandangan ke sekitar...semua benda di sekitarnya penuh warna yang begitu kaku. Dan itu benar-benar membosankan. Merasa jenuh ia berailh membaringkan tubuhnya di sofa dan memainkan jemarinya di atas dadanya.

.

.

Beberapa jam kemudian.

'CKLEKK'

"Yeol, aku membawa beberapa dokumen yang harus kau— O..ou~

Baekhyun menegakkan tubuh, begitu seseorang membuka pintu. membuatnya sedikit memiringkan kepala, melihat Pria tinggi di hadapannya tampak terkejut dengan kehadirannya.

"Apa kau Baekhyun?" Tanyanya seraya mendekat. "Ah! kau bisa memanggilku Sehun" Lanjut Pria itu lagi, meski pertanyaan sebelumnya tak terjawab

"N-ne" Gugup Baekhyun.

"Ahahaha! tak ku sangka, Chanyeol membawamu kemari. Aku tau Pria bodoh itu tak akan bisa memenuhi dendamnya, dia tak bisa jauh darimu Baekhyun~ah"

Baekhyun mengerjap tak mengerti "Dendam?"

"Apa? kau tak mengetahuinya? Chanyeol tak mengatakannya padamu bahwa kau— PLAKKK.

"Ackkk! L-Luhan! Sakit!" Sehun mengusap bekas tamparan keras di bahunya, membuat sosok cantik itu hanya hanya mendesis kesal

Sosok bernama Luhan itu kembali berdengus jengah, benar-benar tak habis pikir bagaimana mungkin kekasihnya bersikap seceroboh itu. ucapannya akan melukai perasaan Baekhyun jika dirinya tak datang tepat waktu.

"Kemari kau!" Bentak Luhan sembari menyeret lengan Sehun ke bawah meja kerja Chanyeol.

"Kita belum tau pasti, apa Baekhyun telah mengetahui Chanyeol mengklaimnya karena alasan dendam. Tak seharusnya kau seceroboh itu!" Bisiknya lagi.

"Oh ayolah, aku hanya merasa antusias" Ucap Sehun sambil mengerling manja

"Bersikap seperti tak terjadi apapun, dan kau hanya salah bicara!"

"Hei, mengapa kau kekanakan seperti ini Sweety? cium aku dan—

Ctack!

Sehun nyaris berteriak, begitu mendapat pukulan pulpen di jidatnya. Tapi terpaksa bungkam, begitu Luhan menatapnya tajam

Sehun menghela nafas berat, lalu menangguk malas. cepat-cepat ia berdiri dan tersenyum lebar pada Baekhyun. "H-hai..." Sapanya kemudian.

"Sayang, aku kemari karena obat untuk Dongsaengmu, kau tak harus memaksanya belajar sekeras itu, karna itu hanya akan menyiksanya" Ujar Luhan sembari memberikan beberapa tablet obat flu untuk kekasihnya.

Sehun hanya mengerjap tak mengerti , tapi beberapa detik kemudian ia mulai menangkap maksud Dokter itu dan mengikuti alur pembicaraan keduanya

"Tapi Kyungsoo sepekan lagi akan menampuh ujiannnya, tentu saja aku harus memaksa bocah itu" Tukasnya sembari melangkah perlahan keluar dari ruangan tersebut, berusaha tak menghiraukan Baekhyun.

"Aku tau, tapi Kyungsoo—

"M—maaf, tunggu..."

DEG

Keduanya stagnan,tak berharap Baekhyun kembali mengungkit ucapan Sehun beberapa saat lalu.

"Kyungsoo?" Tanya Baekhyun kemudian, membuat dua Pria di depannya saling bertukar pandang, setidaknya nama Kyungsoo bisa mengalihkan perhatian Baekhyun.

"Oh Kyungsoo?" Ulang Baekhyun lagi, berharap sosok yang dimaksud adalah Kyungsoo yang sama

"Oh Kyungsoo? Apa kau mengenalnya? dia dongsaengku...ah ini fotonya" Sehun meraih ponselnya, lalu menunjukkan potret seorang namja mungil dalam layar gadget tersebut.

Manik caramel itu seketika membulat lebar, tak pernah menduga akan bertemu dengan Oh Sehun, Hyung yang selalu diceritakan Kyungsoo saat di kelas.

"Kau benar-benar mengenalnya?" tanya Sehun lagi, tak percaya

Baekhyun mengangguk cepat, ia berjalan mendekat hendak meraih ponsel Sehun.

"Apa aku menyuruhmu berbicara dengan orang lain! yang tak kau kenal?"

Namun tiba-tiba sebuah bentakkan menginterupsi ketiganya, Bahkan Baekhyun jatuh terhempas ke sofa, selepas Chanyeol menarik kuat pergelangan tangannya.

"Ugh! Maaf" Lirih Baekhyun, bibirnya tampak bergetar karena takut. Ia hanya sedikit bicara dengan Sehun... tapi Chanyeol sudah semarah itu dengannya.

"Jangan menunjukkan wajah seperti itu! aku membencinya Byun Baekhyun!"

Baekhyun mengepalkan tangan kuat, merasa tak tahan dibentak demikian di hadapan orang lain. Baekhyun bangkit seraya menatap tajam Chanyeol dan memberanikan dirinya bersikap lantang pada Pria itu

"M-Mengapa kau selalu seperti ini? Apa salahku hingga kau selalu mengatakan benci padaku?!"

"Tutup mulutmu!"

"Tidak! Aku tak akan diam sebelum mengetahui alasanmu membenciku seperti ini Tuan!" Kekeuh Baekhyun.

"Pakai jaketmu, lalu kita pulang" Chanyeol mengambil jaket soft blue milik Baekhyun di sofa, lalu memaksa memakaikannya. Tapi anak itu menepis tangannya, bahkan kembali menatapnya geram.

"Aku tak akan melangkahkan kakiku jika kau tak mengatakannya!"

"Tck! Kau keras kepala sekali Byun Baekhyun, pakai jaketmu CEPAT!"

"Mengapa kau membenciku!?" Jerit Baekhyun lagi, sambil menghempas kasar jaket tebalnya dari tangan Chanyeol. membuat Pria itu itu makin tersulut karenanya, tak ada satupun yang berani bersikap lancang seperti itu padanya. Chanyeol mendadak geram lalu mencengkeram lengan Baekhyun dan menariknya mendekat.

"Kau ingin mengetahuinya?!" Sentaknya kasar

Seakan tak ciut, bocah itu semakin berani menatap Chanyeol... tak peduli sikapnya kali ini, semakin menyulut emosi Pria itu.

Dan benar saja, Chanyeol semakin kasar mencengkeram kedua lengan kecilnya. "Karna kau putra pembunuh ayahku! Dan kau tau pasti seberapa besar aku membencimu! Apa kau puas dengan jawaban itu?!"

Baik Sehun maupun Luhan tampak berjengit terkejut mendengarnya, terlebih untuk Baekhyun. bocah itu menggeleng kasar, Bahkan mulai gemetar tak percaya. Ayahnya bukan seorang pembunuh... Bagaimana mungkin Ia percaya semua itu

"A-AYAHKU BUKAN PEMBUNUH!" Racau Baekhyun berusaha memukul Chanyeol. "J-jangan bicara buruk tentangnya! AYAHKU BUKAN PEMBUNUH! BRENGSEK!" Jeritnya lagi, semakin payah untuk memukul karna isakan lirih darinya.

"Ayahmu pembunuh! Dia yang harusnya kau penggil brengsek Byun Baekhyun!" Kekeh Chanyeol, seraya membuang wajah Baekhyun hingga memaling ke samping

"B-bukan! A-ayah tak pernah melakukannya!" Baekhyun menggeleng kasar seraya meremas kepalanya, kakinya mendadak lemas, bahkan untuk sekedar menopang tubuhnya . Tak cukupkah dengan umpatan keras Chanyeol terhadapnya, dan kini Pria itu seakan merendahkan Ayahnya, bagaimana bisa Ia menerima semua perlakuan ini?

"Kau masih menyangkalnya?! Ayahmu benar-benar pembunuh, karna itu aku membencimu!"

"T-TIDAK!" Jerit Baekhyun histeris

"Hentikan, ini terlalu jauh... jangan katakan apapun lagi" tukas Sehun sembari mendorong pelan dada Chanyeol agar menjauh, Tak pernah menduga Chanyeol akan terbawa emosi hingga sefatal itu.

Dan benar saja,

Pria itu perlahan luruh. Menatap sesal pada bocah yang kian tergugu di depannya. "Baek.." Lirihnya seraya mengusap kasar wajahnya sendiri. sadar tak seharusnya mengatakan semua itu. Tapi benar-benar di luar kendalinya. Perlahan ia berjalan mendekati Baekhyun hendak meraih tubuhnya yang gemetar

Namun tiba-tiba saja Baekhyun menerjang dan mencengkeram kuat kemejanya. Ia menatap Chanyeol tajam, meski nyatanya air mata membuat wajah itu begitu pias.

"Bunuh aku! Jika itu memang bisa memuaskanmu! Jangan menaruh dendam pada Ayahku! Dia bukan pembunuh! Bunuh aku Park Chanyeol!" racaunya kacau, kedua matanya menatap nyalang ke sekitar berusaha mencari sesuatu yang tajam. sedetik kemudian Baekhyun melepas cengkeramannya, lalu meraih sebuah cangkir keramik dan membantingnya keras. Membuat serpihannya berserakan di lantai.

Bocah itu tak segan mengambil pecahan tersebut dan menyodorkannya pada Chanyeol.

"Bunuh aku dengan ini! Semua dendammu akan berakhir bukan?... Cepat bunuh—PLAKKK

Baekhyun jatuh terjerembab ke sofa, begitu Chanyeol menamparnya keras. Namja mungil itu menunduk berusaha menahan perih di sudut bibirnya.

"Chanyeol! " Gertak Luhan, ia mengambil langkah cepat menghampiri Baekhyun dan menyentuh dagunya. Detik itu pula Luhan berdecak keras melihat luka lebam di sudut bibir anak itu

Sementara, Chanyeol tampak menatap nanar tangan kanannya , tak terbesit olehnya untuk menampar Baekhyun sekeras itu. ia kalap karna Baekhyun berulang kali mengucapkan kalimat yang dibencinya. Sampai kapanpun ia tak sanggup membunuh namja mungil itu. Jika saja Baekhyun tau...

"Kau kembali menyakitinya!... tidakkah kau ingat ucapanku waktu itu?" Ujarnya lagi seraya menatap miris Baekhyun, terlebih pada perban putih yang masih melilit di kepalanya.

Wajahnya mengeras begitu melihat Luhan seakan mendikte semua sikapnya, terlebih Ia benci... seseorang yang lain menyentuh Baekhyun dengan cara demikian

"Kau tak berhak mencampuri hidupku! Dia milikku... dan lepaskan tanganmu darinya!"

Luhan berdecih lirih, kemudian menatap tajam Chanyeol...menyiratkan sebuah perhitungan dari manik foxy nya.

"Aku memang tak memiliki hubungan apapun dengan anak ini, tapi aku tak bisa berdiam diri melihatmu memperlakukannya demikian. Dengar, Baekhyun pasienku! Dan aku akan membawanya bersamaku, hingga anak ini sembuh total!"

"Kau—

"Hm? Kau keberatan? Ah, apa perlu aku memanggil media untuk meliput sikap bejatmu? Aku yakin reputasimu akan hancur sebagai pemegang jabatan tertinggi di perusahaan ini Chanyeollie"

Luhan berjalan ke belakang Baekhyun dan meletakkan jemarinya di kedua bahu namja cantik itu, masih dengan tatapan tajamnya ia menyeringai sinis.

Sementara itu Sehun tampak menutup wajah dengan telapak tangannya, ia benar-benar kebas dengan semua ucapan kekasihnya. Tidakkah Luhan tau...Chanyeol akan sangat bringas jika dia berbicara selancang itu.

"Baekhyun!" Gertak Chanyeol sembari mengepalkan tangannya, sejujurnya ia begitu panik jika Baekhyun bersedia mengikuti dokter muda itu.

"Baekki~ah kau akan aman jika bersamaku, tak perlu takut dengannya...cha sebaiknya kita pergi"

"Ku bunuh kau Luhan!"

Luhan menghentikan langkahnya untuk menoleh, kemudian kembali mengulas senyuman lebar... bermaksud meremehkan Pria di belakangnya.

"Ah! Baiklah, kau ingin membunuhku? lakukan Park Chanyeol, bersikaplah sewajarnya, kau belum dewasa... tak perlu memaksakan diri sekeras itu" Kekehnya, lalu kembali mebujuk Baekhyun untuk melangkah. "Cepat sayang, tak baik berlama di tempat seperti ini"

Chanyeol makin meradang mendengarnya, bahkan semakin berjalan geram hendak menyergap Luhan, namun secepat kilat pula Sehun berdiri menghadangnya.

"Yeol ... tenanglah, Luhan hanya bercanda denganmu. Apa yang dia lakukan hanya untuk kebaikan Baekhyun dan dirimu, percayalah anak itu akan kembali setelah luka di kepalanya sembuh"

Seolah menulikan diri, Chanyeol memaksa Sehun untuk menyingkir dan kembali ingin merebut Baekhyun dari rengkuhan Luhan.

"Berhenti!"

"Aniyoo... aku akan tetap membawanya, Cepat Baekhyun jangan menghiraukannya" Ujar Luhan sembari membimbing Baekhyun meninggalkan Chanyeol.

"Aku tak peduli kau merusak reputasiku! Kembalikan Baekhyun padaku!" Teriak Chanyeol lagi, semakin gusar menyadari Luhan sama sekali tak menghiraukannya. Dan lebih mengukuhkan langkahnya menuju lift.

Sementara Baekhyun hanya diam, dan mengikuti langkah Luhan dengan patuh. Anak itu terlihat masih terpukul dengan ucapan Chanyeol beberapa saat lalu, dan mungkin benar bersama dengan Dokter muda itu lebih membuatnya tenang. Walau nyatanya berulang kali Baekhyun ragu, ingin meninggalkan Pria itu dengan cara seperti ini.

"Kau tak bisa pergi dengannya Baekhyun!" Chanyeol tiba-tiba, menahan pintu lift... mencengkeram kasar tangan Baekhyun,dan menariknya keluar, terpaksa membuat Luhan turut keluar dari dalam lift

"Akhh le-lepas"

"YACK! Kau melakukannya lagi! lepaskan tanganmu!" Luhan menyentak cengkeraman tersebut hingga terlepas, kemudian menarik tubuh Baekhyun agar berlindung di belakangnya.

"Kau tak memiliki hak apapun untuk membawanya!" Seru Chanyeol masih dengan berusaha meraih tubuh Baekhyun, tapi tetap saja Luhan menghadangnya dengan kekeuh.

"Aku berhak! Karena Dia pasienku! Pergi kau!"

"Dia milikku!"

"Aku bukan milikmu!" Jerit Baekhyun seraya menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Luhan. yakin Chanyeol mengucapkan kata 'milik' tersebut dalam artian Pria itu itu telah membelinya. Bukan karena suatu perasaan yang terpendam untuknya.

"Aku tak bermaksud menamparmu, pulanglah bersamaku… mengerti?"

Baekhyun menggigit kuat bibir bawahnya, bukan karena tamparan itu yang menahan dirinya untuk menyambut uluran tangan Chanyeol, akan tetapi ucapan menyakitkan mengenai Ayahnya beberapa saat lalu. Benar-benar tak bisa Baekhyun terima.

"Baekhyun, kau tau Pria brengsek macam apa dirinya. Sebaiknya kau bersamaku untuk sementara ini" Tukas Luhan, tak gentar membujuk bocah manis itu.

Baekhyun mengangkat kepalanya, dan menatap pias sosok tampan di hadapannya... tapi setelahnya ia kembali menunduk dan mencengkeram kuat bagian belakang kemeja Luhan.

"Bawa aku bersamamu D-Dokter" Lirih Baekhyun.

"Kau dengar itu? ... jadi aku menang, right?"

Chanyeol mengumpat frustasi, ini benar-benar mengusiknya... bahkan membuatnya marah dan kebas dalam waktu bersamaan menyadari Baekhyun tak sekalipun menatapnya dan lebih memilih meninggalkannya.

Tapi ia tak membiarkan semua ini... Baekhyun hanya miliknya, Ia bisa gila jika tak melihat namja mungil itu di sisinya. Tidak! ia tak mungkin membiarkan Baekhyun pergi darinya satu detikpun.

"Ku mohon... jangan pergi"

DEG

Baekhyun seketika menghentikan langkahnya begitu Chanyeol tiba-tiba menggenggam tangannya, bukankah ia tak pernah mendengar Chanyeol meminta demikian. Baekhyun memutar tubuh dan betapa terkejut dirinya, melihat raut Pria itu

"Apa aku tak salah mendengarnya? Yya! Apa yang terjadi denganmu? Kemana sikap arogan dan angkuhmu itu Presdir Park?" Ketus Luhan, masih dengan menyeringai sinis.

Tapi Chanyeol tak menghiraukannya, seakan tatapan itu hanya tertuju untuk Baekhyun, entah apa yang terjadi pada dirinya...ia merasa benar-benar menemukan kelemahannya saat melihat Baekhyun pergi darinya

"Kumohon" Ucapnya lagi, menyadari Baekhyun hanya menatapnya kosong.

"Aisshh jinjja? Apa pemuda seusiamu memang labil seperti ini?! lebih baik kau ikut denganku Baekhyunnee!"

bagaikan angin lalu, setiap racauan dari sosok yang lain itu hanya terabai olehnya. Sekali lagi... Ia meraih jemari mungil itu dan menggenggamnya hati - hati

"Ku mohon pulanglah denganku"

"Bukan kah kau Pria yang tak menginginkan siapapun menyentuh property di rumahmu, dan apa ini? kau mengizinkan Baekhyun tinggal di rumah bahkan tidur bersamamu?" Sinis Luhan sembari terkekeh meremehkan. "Oooh dan lagi, kau tak mengerahkan manusia besar tak berotak milikmu, untuk menyeretnya pulang, ck..ck..sangat kontras sekali dengan tabiatmu dulu"

"Hanya kau satu-satunya yang kumiliki... Baekhyun"

"..." Baekhyun membulatkan mata lebar, semakin tak percaya Pria yang selama ini dikenalnya angkuh. Akan berbicara seperti ini padanya

"Hahh! Benar-benar seperti dugaanku...kau munafik sekali Yeol!" Suara Luhan masih saja, menginterupsi di sana. Seakan tak puas mencibir sikap yang menurutnya tak biasa dari pemilik tempatnya berpijak saat ini

Sementara Baekhyun hanya menatap redup...ia tak peduli dengan perubahan ekspresi wajah stoic itu, bagaimanapun Ia benar-benar kecewa. Sekali lagi...Ayahnya bukanlah seorang pembunuh, Chanyeol tak berhak mengklaimnya melakukan hal sekeji itu

"Kau selalu mendengarku bukan? Ku mohon Baek—

"Aku akan pulang" Sergah Baekhyun tiba-tiba.

Membuat Chanyeol terhenyak, lalu setelahnya diam-diam mengulas senyum.

Sesaat ia melirik Luhan sinis, kemudian mendekati Baekhyun hendak merangkul bahunya.

"Aku bisa berjalan sendiri, lepaskan" Lirih Baekhyun seraya menepis tangan Chanyeol, kemudian berjalan perlahan menuju lift di hadapannya.

"Bersiaplah...kau tak akan mendapat senyuman manisnya lagi" kekeh Luhan

"Apa maksudmu?"

"Apa maksudku? Tsk! Kau akan menemukan jawabannya di rumah" Ketus Luhan sembari menyilangkan tangan di dadanya.

Chanyeol berdecih, namun tetap berlalu demi mengejar siluet Baekhyun. Bocah itu pasti telah menunggu dirinya di lobi perusahaan.

.

.

.

.


"Aku yakin... Boss mu yang gila itu tak lama lagi akan menyadari perasaannya, mmh~"

"Benarkah? Itu bagus" Bisik Sehun sembari menggigiti kecil bagian belakang telinga Luhan. Keduanya kini tengah berbaring di sebuah sofa panjang, dengan posisi Sehun mencumbu Pria rampingnya

"Ahn~ C-cukup Hunnie... aku—harus kembali bekerja..akhh!" Rengek Luhan terbata.

"Ayolah, sudah sejauh ini... tak mungkin berhenti sayang"

"AH! K-kau ahhnn~... Cukuph!Mpfth... Mmm—"

.

.

.

Sementara itu di tempat lain

"YACK! Berhenti...kau!" Teriak seorang Pria garang, sambil memacu larinya lebih cepat, tak peduli dirinya kini merangsak siapapun yang menghalangi

Ia kesal bukan kepalang mengingat kejadian beberapa waktu lalu, anak itu melarikan diri begitu saja setelah dirinya menyelamatkannya dari kungkungan penjara. Dan kini... Kai tak akan melepaskannya untuk kedua kalinya.

"Aisshh Waeeee! Apa kau idiot? mengapa masih mengejarku! Hubungan kita sudah berakhir...ingat itu!" seru Kyungsoo masih terus berlari sekencang mungkin, tak habis pikir bagaimana mungkin polisi itu sangat gemar mengejarnya di manapun dan kapanpun keduanya bertemu.

"Apa yang kau bicarakan bocah tengik! Berhenti!"

Teriak Kai lagi, tak menghiraukan tatapan jengkel dari beberapa orang yang diterjangnya di pusat keramaian itu. ya...keduanya kini tengah berlari membabi buta di sebuah pasar tradisional.

"Tidak mau! kau benar-benar ahjussi mesum?! Pergi! Jangan mengejarku!" Kyungsoo menggeleng kasar, ah! tak taukah Polsi itu tubuhnya lemas total karena hampir setengah jam ia berlari menghindari Kai. Semakin merasa langkanya melemah, semakin Kyungsoo menunduk dan memejamkan mata erat...karena dengan begitu larinya akan semakin cepat, bahkan ia bisa meniti anak tangga di depannya dengan gesit.

Tapi bocah itu tak menyadari tak jauh di bawahnya saat ini terdapat sebuah box raksasa berisikan berton-ton ikan segar.

Kai berjengit hebat melihat bocah itu semakin kacau. "YACK! Turun! Apa kau buta? Di depanmu! Awas—

'BYUUURRR'

Terlambat baginya membuka mata, air es yang meleleh dalam box besar itu telah lebih dulu membungkus tubuhnya. Kyungsoo meronta dan berusha berteriak di dalam air penuh dengan aroma amis yang menusuk, bahkan sebagian tertelan karena terlalu kalap.

"Hei bocah! Kau baik-baik saja?!" Teriak Kai dari atas, ia menyipitkan mata elangnya dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru box tersebut, namun Kyungsoo tak kunjung menyembulkan kepalanya, hanya terlihat ikan-ikan mati di dalamnya.

"Ah Tuan, apa ada anak yang tercebur ke dalam bak penampungan ini?" Ujar Seorang Pria paruh baya, beberapa saat lalu ia melihat seorang anak berlari di atas box besarnya dan tiba-tiba saja anak itu menghilang.

"Ah! Paman... bagaimana bisa kau bertanya sepert itui, sudah jelas kau melihatnya bukan?" Ucapnya sambil menunjuk-nunjuk tempat di bawahnya.

"Aigoo...kita harus bertindak cepat, anak itu mungkin pingsan di dalam air es Tuan!" Paniknya seraya menyingsingkan lengan baju, hendak mengambil tindakan.

"APA!? Pingsan? Ah! Bagaimana ini?! Hei! Bocah bertahanlah!."

Seru Kai sembari berdiri dan bersiap-siap menceburkan dirinya ke dalam box tersebut.

"T-Tuan tunggu—

BYURRRRR

Pria paruh baya itu hanya menghela nafas pasrah melihat polisi muda di hadapannya bertindak gegabah, menceburkan dirinya ke dalam bak besarnya. "Anak Bodoh" Ucap Pria tua itu kemudian.

.

.

"Arrrggg!...acckk! Sial!...air macam apa ini! Dingiin!" Teriaknya gusar, meski demikian... ia tetap bergerak aktif di dalam air, berusaha menggapai-gapai apapun demi menangkap tubuh Kyungsoo.

Hingga tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu yang berat, ia terbelalak lebar dan bergerak sigap meraihnya. Dan benar saja...itu memang tubuh Kyungsoo.

"Y-ya! kau masih hidup?" Ucapnya panik, Kai menkan dada Kyungsoo...beruntung masih terasa detak jantung di dalamnya. memaksanya bergerak cepat, mengangkat namja kecil itu keluar dari box besar tersebut

Namun tiba-tiba saja air menyusut... hingga batas betisnya, menampakkan ratusan ribu ikan bermacam spesies di dalamnya.

"H—Hah? Apa yang terjadi?" Masih dengan menggendong bridal Kyungsoo, Pria garang itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak mengerti dengan apa yang terjadi.

"Tuan?"

"Paman ... apa yang terjadi?."

"Aku mengurangi debit airnya, apa anak itu baik-baik saja?"

"Menggunakan mesin?" Tanya Kai lagi

"Nde Tentu saja... alat ini sudah canggih"

"Mengapa tidak mengatakannya sedari tadi? Dan kau membiarkanku berkubang dalam lautan bangkai ikanmu?!"

"Tuan sendiri yang tak mendengarkanku... cepat bawa anak itu kemari"

Ingin menjeritpun rasanya percuma, seluruh tubuhnya terlanjur penuh dengan aroma tak sedap dan berlendir. Tak ada pilihan lain selain memanjat tangga Box , demi membawa bocah itu keluar

.

.

.

"Tuan...apa perlu aku memanggil seorang dokter kemari?"

"Tak perlu...beri aku pakaian tebal dan minuman hangat saja" Ujar Kai sembari membaringkan tubuh Kyungsoo di sebuah tempat yang landai.

"Ah... Ndee"

Kai menatap kepergian Pria Tua itu sesaat, tapi setelahnya ia beralih kembali pada Kyungsoo. Dengan cekatan ia melepas kancing kemeja Kyungsoo, dan melonggarkan ikat pinggangnya.

Pria garang itu sedikit mengangkat tengkuk Kyungsoo hingga menengadah, kemudian menekan dagu dan kepalanya berlawanan arah. perlahan ia menyatukan bibir keduanya, dan menghembuskan nafas hangat sekuat mungkin.

Merasa tak mendapat respon apapun, Kai menekan kuat dada Kyungsoo kemudian kembali memberinya nafas buatan. Kai benar-benar melakukannya berulang-ulang, hingga...

"Uhuk! uhkk... Hhhh... hhhh" Kyungsoo tersedak dan terbatuk payah, kala air keluar dari sela bibirnya.

"Kau baik-baik saja?" Cemas Kai.

"YACK! Mesum! Kau menciumku!" Jerit Kyungsoo seketika seraya menutup bibirnya.

'SLAPP'

"Bocah tengik aku menyelamatkanmu Pabbo!"

"Appoooo!" Seru Kyungsoo seraya mengusap kasar kepalanya, ia mempoutkan bibir... lalu memeluk Kai dengan erat.

"K-kau—

"Dingin ahjusshiii~"

Kai sempat terkejut, tapi setelahnya ia tersenyum lembut dan mengusap punggung Kyungsoo dengan hangat.

.

.

"Tuan...aku membawakan mentel tebal untuk kalian"

Kai melepas kemeja dan celana Kyungsoo dengan cepat, dan membungkus tubuh Kyungsoo dengan 2 mantel sekaligus. Sebelum namja ulzzang itu kembali berteriak dirinya mesum.

.

.

.

.

"Terima kasih Paman, kami berhutang budi padamu"Ucap Kai sembari membungkukkan badan.

"Ahhh Tak apa Tuan Polisi, berkunjunglah kembali di lain waktu"

Polisi muda itu tersenyum ramah, kemudian melanjutkan langkahnya dengan menggendong seorang namja kecil di punggungnya.

.

.

.

"Ahjjusii~."

"Aku baru 25 tahun, jangan memanggilku Seperti itu"

"Tapi kau terlihat tua"

"Yack! Kau—

"Gomawo… Ahjussi"

Jantungnya mendadak berdegup cepat, dan semakin gugup kala bocah itu menyandarkan kepala di bahunya.

"Bolehkah aku tidur?" tanya Kyungsoo tiba-tiba.

"N-ne... tidurlah"

.

.

.


Chanyeol kembali membuka matanya, malam ini ia benar-benar tak bisa memejamkan matanya dengan tenang. Sesekali Chanyeol melirik Baekhyun, ingin rasanya menyentuh punggung sempit itu, namun ia urungkan niat tersebut. Mengingat semenjak pulang dari kantor... bocah itu tiba-tiba saja bersikap dingin terhadapnya, seperti saat ini... Baekhyun sama sekali tak membiarkan Chanyeol melihat wajahnya, bahkan ketika tidur sekalipun.

"Kau tidur?"

"..."

"Tentang...aku yang menamparmu, maafkan aku." Ucapnya, Chanyeol tau Baekhyun tak sebenarnya terlelap.

"..."

Baekhyun sama sekali tak bergeming, terlebih menyahutnya...ia hanya mengerjap dan mendengarkan Chanyeol bicara.

"Apa masih terasa sakit?"

"..."

"Biarkan aku melihatnya."

'Plak'

Baekhyun menepis tangan Chanyeol, begitu Pria itu itu memegang bahunya, ingin memutar tubuhnya. Tatapan anak itu memang terlihat kosong, namun terlihat kecewa dan takut di dalamnya.

"Aku tak butuh perhatianmu!"

Pria itu hanya mengernyit, Ingin menyentak kuasanya... namun tertahan. Menyadari.. Ia tak ingin kembali melihat wajah sembab anak itu

"Ku rasa kau cukup lelah, tidurlah" Chanyeol memilih mengelus kepala Baekhyun. terlihat seperti mencoba menghibur diri... karena penolakan baekhyun

.

.

.

Satu malam terlampaui, hingga tanpa tersadar mentari kembali menyentak bias terangnya.

dan di sanalah...

satu senyum kembali terulas sempurna, kala melihat namja mungil di sisinya masih begitu lelap memejamkan matanya, ia memang telah berpakaian rapi. Dan seharusnya memang setengah jam yang lalu dirinya bergegas untuk bekerja, akan tetapi melihat wajah menggemaskan itu, memaksanya untuk kembali berbaring dan memandangi Baekhyun lebih lama

Masih dengan menyangga kepala dengan sebelah tangannya, Chanyeol menyentuh pipi Baekhyun dan berakhir pada bibir soft pink itu

Merasa takjub, Baekhyun seorang bocah laki-laki ... akan tetapi ia memiliki kulit yang begitu halus dan lagi bibir tipis itu benar-benar membuatnya terlihat mempesona. "Cantik" Bisiknya lirih.

"Uhn~"

Cepat-cepat Chanyeol menjauhkan telunjuknya dari bibir mungil itu

"Sepertinya kau bermimpi cukup indah hn?" Kekeh Chanyeol. Membuat Baekhyun membuka mata lebar dan mendudukkan diri cepat.

"M-maaf ... aku akan segera menyiapkan makan pagimu"

Belum sempat kakinya berpijak, Chanyeol telah lebih dulu menariknya dan membuatnya kembali berbaring.

"Tak perlu, aku tau kau tak cukup sehat hari ini" Chanyeol bangkit dan meraih sup di meja nakas.

"Buka bibirmu" Ucapnya, ingin menyuapkan sup tersebut untuk Baekhyun.

Namun Baekhyun memalingkan wajahnya, membuat Chanyeol kembali mengernyit karena sikap membatasi diri tersebut

"Kau tak harus bersikap seperti ini... Tuan"

"Kau sedang sakit"

Baekhyun tersenyum kecut. "Tenanglah... aku tak akan mati. Dengan tubuh seperti ini... pelacur sepertiku masih bisa bertahan jika kau memukulku atau bahkan menyetubuhiku sekalipun"

Mendadak Ia mengepalkan tangan tak terima, mendengar Baekhyun merendahkan dirinya. Chanyeol mendesah berat seraya menatap langit-langit kamarnya.

"Berhenti merendahkan dirimu"

"Bukankah aku benar, kau selalu mengatakan itu bukan?... tak apa kau membenciku, tapi ku mohon jangan menaruh dendam pada Ayahku. Dia bukan pembunuh"

Kedua obsidian itu beralih menatap lekat Baekhyun. Sesungguhnya ingin memeluk Baekhyun dan mengucapkan maaf untuk semua kata dan sikapnya. Tapi, dirinya yang tak pandai merangkai kata... membuat kata maaf itu hanya tertelan begitu saja

"Aku akan segera pergi, ku harap kau menghabiskan semua ini" Ujar Chanyeol, berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia meletakkan sup tersebut di sisi Baekhyun kemudian berjalan perlahan hendak bergegas dari kamar miliknya.

Tapi sesaat kemudian Chanyeol memutar tubuh, lalu menyentuh dagu Baekhyun dengan cepat. Tanpa peringatan ia menyatukan bibir keduanya. Melumat belahan manis itu dengan lembut.

'Chupp'

"Mhmfth~" Tak pelak, ciuman mendadak itu membuat Baekhyun membulatkan mata lebar, jemari mungilnya meremas kuat-kuat ujung piyamanya... merasa berdebar seakan banyak kupu-kupu kecil menggelitk perutnya

.

.

"Aku akan kembali secepatnya" Ucap Chanyeol begitu melepas ciumannya, sejenak membelai pipi Baekhyun ... sebelum akhirnya beranjak pergi dengan sebuah senyuman tipis. Chanyeol tau apa yang dilakukannya akan semakin memperumit perasaannya, tapi siapa peduli? ia hanya menyukai hatinya yang hangat dengan menyentuh Baekhyun seperti itu.

"Bukankah aku tak sedang banyak bicara? Mengapa Pria itu menutup bibirku dengan ciumannya?" Gumam Baekhyun sambil mengerjap polos, berulang kali ia menyentuh bibir basahnya kemudian menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut tebal, tak peduli sup di sisinya jatuh dan mengotori lantai. Entahlah... wajahnya memanas begitu saja, dan sungguh... Baekhyun menyukainya.

.

.

.


"Ahn~ M-more..akh! AH! AHH!" Tubuh rampingnya mengejang hebat, tatkala semburan sperma pekat memenuhi rongga tubuhnya tanpa, jeda. Namja itu...Kwon Jiyong, jatuh melunglai dengan nafas terengah-engah.

"I love You...babe." bisik namja kekar di atasnya sembari mengecupi, punggung sempit Jiyong.

"Nnhh~ kau tetap hebat memuaskanku Top"

Jiyong semakin terkikik kecil, begitu Top memainkan lidah di lubang telinganya. Sesekali ia mendesah sensual, meminta pria kekar itu mencumbunya lagi... dan lagi.

"Ssshh...pastikan ahh~ tak ada yang mencium rencana kita"

"Semua akan mudah di tanganku Jiyong~ah, seperti yang pernah ku lakukan beberapa tahun - tahun yang lalu"

.

.

Flash Back On

"Presdir, anda memiliki rapat jam 4 sore"

"Batalkan"

"N-Ne?" Sekretaris itu tampak membulatkan mata tak percaya, ia tak pernah menemukan Minho menganggap remeh pekerjaannya, terlebih membatalkan rapat penting. Itu sangat mengejutkannya.

"Ada yang lebih berharga di bandingkan rapat itu. Aku memiliki janji dengan kawan lamaku. Sesuatu hal penting yang harus ku bicarakan dengannya, setelah sekian lama tak bertemu." Ucap Minho, sembari menepuk bahu pria paruh baya itu.

.

.

"Kau tak perlu mengikutiku, istirahatlah dirumah Sekretaris Lee"

"N-ne?"

"Tak apa... aku akan menghubungmu saat membutuhkan bantuanmu"

"Ah Ye... Jaga dirimu baik-baik Presdir Park"

Minho tersenyum ramah, dan mulai melajukan mobilnya dengan perlahan.

.

.

Tak lama kemudian pria itu tiba di tempat tujuan, Minho menepikan mobil dan seketika itu pula ia tersenyum lebar melihat sahabat lamanya tengah bersenda gurau dengan istri dan Putra kecilnya.

Cepat-cepat pria bermarga Park itu turun dari mobilnya hendak, memasuki taman bermain tersebut namun tiba-tiba...

'DOOORR'

Sebuah timah panas melesat dan menembus dada kirinya, Minho jatuh bersimpuh ... sesaat kemudian ia tergeletak tak sadarkan diri.

"MINHO!"

Yunho terkejut bukan main mendengar bunyi letupan senjata api di belakangnya, dan makin terperangah melihat sahabatnya tergeletak dengan bersimbah darah.

"Jae ... Pergilah bersama Baekhyun!" Serunya sembari mendorong Jaejong menjauh, tiba-tiba saja kedua matanya menyipit kala menangkap siluet hitam berlari tergesa di ujung taman hiburan itu. Yunho menarik pelatuk pistol, dan membidik cepat kepala sosok itu.

'DOOR'

Tapi Sial, tembakannya meleset...sepertinya pelurunya hanya menggores wajah sosok itu. Yunho mengumpat keras lalu berlari kalut mendekati Minho.

"MINHO!"

.

..

.

.

beberapa Bulan setelahnya

"Y—yeobsseyo?"

Terdengar kekehan pelan dari dalam sambungan telefon itu.

("kau menerima kiriman dariku?")

Chanyeol tercekat, baru beberapa detik yang lalu seseorang datang dan memberinya dokumen bersampul hitam. Yang bahkan belum sama sekali ia buka, mungkinkah sosok penelfon itu yang mengirim.

("Bukalah...")

Bocah itu terlihat was-was, mengantisipasi kalimat yang lain dari sosok misterius itu. Tapi Ia tetap melakukannya... membuka berkas itu dengan perlahan, hingga tampak beberapa foto, rekaman sisi TV dan tulisan terlihat di dalamnya

("Aku memiliki bukti Polisi ini pembunuh Ayahmu... Park Chanyeol, dan bukti itu di tanganmu ha—

"Pembunuh Ayah? Paman Yunho? Tidak! TIDAKK!"

Flash Back Off

.

.

.

"Bahkan aku bisa memutar fakta...Polisi keparat itu yang membunuh Park Minho...tak ku sangka, anak itu begitu cepat mempercayai bukti yang kuberi" Desis Top seraya menyentuh goresan panjang di pipi kanannya, luka dari tembakan Yunho.

"Aku tak meragukanmu Dear" Desah Jiyong sambil mengecupi bibir Top.

Top menyeringai sesaat, lalu mengambil sebuah amplop di atasnya kemudian menujukkan isinya pada kekasihnya.

"Siapa anak ini?" Ujar Jiyong, ia benar-benar heran dengan semua potret bocah berparas manis bahkan terlalu cantik di tangannya.

"Aku rasa anak ini sangat berharga untuk Chanyeol, kita bisa menjadikannya umpan"

"Awesome! Aku tak sabar menjadikan perusahaan itu milikku Top!"

Pria kekar itu mengecup kening Jiyong sekilas, lalu terkekeh pelan. "Kita bergerak esok hari, semua akan menjadi milikmu"

.

.

.

.

.

.

.

To Be Cooont

.

.

,

Annyeoong jumpa lagi dengan Gloomy

O iyaaa Merry Christmas :) :)

Ah apa yang terjadi di chapter besok?

Baekhyun dalam bahayakah?

Ayoooo mana reviewnya :)

Sempatkan untuk review okaay

Jangan lupa Follow IG kami : gloomy_rosemary

Dan untuk:

neniFanadicky, chanbaek92, LHR Official Couple Shipper, restikadena90 , 90rahmayani, buny puppy, byunnami, Marshsamallow614 , khakikira , ctbisreal, RurohFujoCbHs, hulas99, fintowikson, Lussia Archery , kimkad , YaharS , Aisyah1, LyWoo, Byun soo byung, Yana Sehunn, baekkachu09 , Poppy20 , baekxylem , selepy , byunnami , Lusianabaconcy0461, bbhunyue, chanbaekis , mawar biru, love Elan , thevEXO, WinterJun09, tkxcxmrhmh , mii-chan07 , vryeol , Dodio347, baekby aeri04 , ChanBaekGAY , EyiLy , metroxylon, Fiyaa04, baby baek , Deliscius, Wahidah Putri Utami , chalienBee04, xiluhan74 , cbforever00, Yeolliebee , PinkuBlue614 , rimaa , kimi2266, YaharS , baekchann18, Avisyell756 , AuliyaRchy , byunlovely, ruukochan137, veraparkhyun , park chan2 , baeeki6104, chanbaek1597, byunlovely , bbhunyue, kkaiii, Hyo luv ChanBaek, Siapa Hayo, myliveyou, LightPhoenix614, Chanbaeknaena, Asandra735 , tyas 614, AnggunBBH06, AmyGAHF, Merina, dwi yuliantipcy , Shengmin137, kitukie, shereen park, yiamff , jempolnya pcy , Hyera832, Riinnchan, Ricon65 , BambiLuhan , Byunexo, SMLming , babyyh , chayeonlee , Sitachaan, Ziiwandha, hananachan, bbyLyi , hosh10 , hunhanshin, Loey761,dan all Guest

Terima kasih banyak sudah mereview di chapter sebelumnya

Jangan lupa review lagi

Annnyeeeeeeeooong

SARANGHAAAEEEEEEEEEEEEEEE