Bagi yang nggak suka HunBaek, mungkin sebaiknya jangan baca FF ini. Ada satu reader (Guest) yang bilang bahwa dia gak suka HunBaek dan saya ngerti kok, chingu. Adalah keputusan bijak kamu gak baca FF ini karena mungkin –hanya mungkin– FF ini endingnya HunBaek. Gak masalah gak baca FF saya selama itu bukan bash, saya malah merasa sangat dihargai oleh Guest ini karena dia bilang gak akan baca FF ini tapi masih tetep baca FF saya yang lain. Thanks a lot sudah kasih tahu saya :)

Bel jam istirahat telah berbunyi tiga puluh detik yang lalu. Siswa-siswi yang berada di dalam kelas bisa menghembuskan napas lega setelah guru mereka keluar dari kelas mereka. Beberapa di antaranya langsung meregangkan otot-otot yang terasa kaku selama jam pelajaran berlangsung, beberapanya langsung meraih ponsel mereka dan mengeceknya jika ada pesan yang masuk, beberapanya langsung mengeluarkan kotak bekal makan siang mereka. Begitupun dengan Chanyeol yang duduk di kelas 2B. Laki-laki tinggi itu langsung berdiri setelah ia membereskan buku-buku pelajarannya ke dalam tas. Kris yang duduk di sebelahnya langsung menatapnya bingung.

"Kau mau kemana?"

Chanyeol menghela napas sesaat. "Kau pikir kemana lagi, hah?"

Kris terkekeh setelah berhasil mengingat kebiasaan baru Chanyeol semenjak seminggu yang lalu. "Oh ya, tentu saja. Maaf, aku lupa. Sampaikan salamku untuk kekasih penguntitmu itu ya?"

Chanyeol mendengus, kemudian berjalan keluar dari kelasnya. Ekspresi datar andalannya menghiasi langkahnya menuju kelas Baekhyun yang letaknya cukup jauh dari kelasnya. Beberapa siswi dan siswa gay yang melihatnya berjalan di koridor, hanya bisa memekik tertahan seraya berbisik-bisik ria. Ini sudah biasa bagi seorang Park Chanyeol. Chanyeol sendiri tidak pernah ambil pusing karena kelakuan para penggemarnya itu selama mereka tidak mengganggu kehidupan Chanyeol. Dia akan dengan cueknya berjalan melewati mereka tanpa memperlihatkan ekspresi-tidak-berminatnya.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi laki-laki tinggi itu untuk sampai di kelas 2F –kelas Baekhyun. Kelas yang sudah agak sepi itu hanya menyisakan beberapa siswa dan sisiwi di dalamnya. Salah satunya adalah Baekhyun. Dia sedang bergurau dengan Sehun. Bibir tipis Baekhyun mengerucut karena laki-laki albino itu mengambil susu strawberry kesukaannya. Sehun mengangkat tinggi-tinggi susu itu, membuat Baekhyun melompat-lompat seperti kelinci guna meraih susu tersebut. Chanyeol –yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kelas 2F– hanya menatap mereka dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Matanya memerhatikan wajah Baekhyun yang kini sedang tertawa lepas karena berhasil merebut susu strawberry itu setelah menjambak rambut Sehun. Pikiran Chanyeol menerawang jauh saat melihat raut bahagia di wajah manis Baekhyun. Melihat tawa di wajah Baekhyun, itu menghasilkan keraguan tersendiri di hati Chanyeol. Keraguan atas keputusannya untuk menjadikan Baekhyun kekasihnya.

"Oh? Chanyeol-ah! Kau sudah datang?" Baekhyun berhasil membuat Chanyeol kembali ke alam sadarnya. Bibirnya mengembang membentuk senyuman simpul saat Baekhyun berlari kecil ke arahnya. "Ayo, kita makan siang bersama~" serunya seraya menarik lengan Chanyeol ke bangkunya. Chanyeol tidak protes sedikitpun dan mengikuti langkah Baekhyun. Begitu mereka duduk berhadapan, mata Chanyeol beralih ke Sehun yang menatapnya tajam –lagi.

"Ini salah satu masakan kebanggaanku, Yeol. Semoga kau suka~" ujar Baekhyun saat meletakkan kotak bekal makanan untuk Chanyeol di hadapan laki-laki tinggi itu. Chanyeol segera memfokuskan dirinya pada kekasihnya. Tak dipedulikannya Sehun yang masih menatapnya tajam dari sebelah bangku Baekhyun.

"Terima kasih, Baek." ucap Chanyeol seraya mengambil sepasang sumpit. Baekhyun tersenyum menanggapinya. Laki-laki mungil itu juga ikut mengambil sumpit dan mulai menikmati menu makan siangnya. Chanyeol sempat menatap Baekhyun sesaat sebelum akhirnya ia menyumpitkan sebuah kimbab dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Senyuman tulus terkembang di bibirnya saat lidahnya merasakan rasa enak kimbab itu. "Ini enak~"

Baekhyun tersenyum. "Syukurlah~"

Keraguan itu tiba-tiba muncul kembali di hati Chanyeol. Mulutnya berhenti mengunyah dan malah menatap Baekhyun dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Sehun yang menyadari itu, memicing curiga ke arahnya. Laki-laki albino itu yakin Chanyeol menyembunyikan sesuatu dari Baekhyun dan ia akan cari tahu apa itu.

"Oh Sehun, kau tidak akan makan?" tanya Baekhyun, membuat laki-laki albino itu menoleh padanya. Sehun tidak menjawabnya. Matanya kini beralih menatap kotak bekal Baekhyun. Dengan gerakan cepat, Sehun mengambil dua kimbab dan susu strawberry milik Baekhyun, kemudian berlari keluar kelas. "Yak! Kembali susu itu!" Sehun tidak memedulikannya. Setelah ia menjulurkan lidahnya, laki-laki albino itu kabur dari Baekhyun yang menatapnya kesal.

"Sudahlah, Baek. Aku akan membelikan susu strawberry untukmu." Chanyeol melerai.

"Aish, dia itu benar-benar menyebalkan! Selalu saja mencuri susu strawberry-ku!" Baekhyun merenggut kesal.

Chanyeol menatap Baekhyun sesaat, kemudian kembali menikmati menu makan siangnya. "Mungkin dia menyukaimu."

Alis Baekhyun terangkat sebelah. "Siapa?"

"Oh Sehun, siapa lagi?"

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

"Buahahahahaha!" Tawa Baekhyun meledak.

Chanyeol menatapnya bingung. "Kenapa kau tertawa?"

"Aigoo~ ahahaha! Ya Tuhan, Yeol, kau ini bicara apa sih? Sehun tidak mungkin menyukaiku. Dilihat dari sudut manapun, tidak ada tanda-tanda si Oh itu menyukaiku." Baekhyun menepis kuat spekulasi Chanyeol.

Chanyeol mengedikkan bahunya cuek. "Terlihat begitu bagiku." gumamnya.

Baekhyun yang sudah mereda tawanya, kemudian menghapus airmata yang sempat keluar saking kerasnya ia tertawa. Ditatapnya Chanyeol yang tengah asyik dengan kimbab di hadapannya. "Sudahlah, tak usah dibahas. Kita makan saja, oke?"

Chanyeol hanya berdehem menanggapinya. Tanpa Baekhyun sadari, Chanyeol kembali menatapnya dengan tatapan itu lagi –tatapan yang tak bisa diartikan siapapun kecuali Chanyeol sendiri.

.

.

.

###

THE REASON

Chapter 3 Who were you looking at other than me?

Main Casts : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun

Support Casts : Xi Luhan, Wu Kris, Kim Jongin, Do Kyungsoo

Genre : Romance, Drama, School Life

Rate : T

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

Note: Sumpah saya ngakak pas ada beberapa reviewers yang nyangka si Yeol naksir Sehun. Gosh, itu nggak akan terjadi di FF saya, maaf ya kalo ada yang mengharapkan hal itu. Terus saya putuskan untuk ganti rate karena sepertinya gak akan NC atau istilah dewasa yang akan muncul meskipun endingnya ChanBaek ataupun HunBaek. Tapi tenang aja, peluk-cipok-kissmark ada kok, tapi ntar. So, persaingan Sehun dan Chanyeol mulai terlihat di chapter ini. Dan~ ada kejutan di akhir chapter, jadi silakan dibaca saja~

###

.

.

.

"Kudengar kau mengikuti kompetisi memotret ya?" Chanyeol membuka topik pembicaraan baru di sela-sela acara makan siangnya.

Baekhyun mengangguk. "Deadline-nya lima hari lagi."

"Temanya apa?"

"Cinta."

Chanyeol menghentikan pergerakan tangannya yang hendak mengambil sebuah kimbab dengan sumpitnya. Laki-laki tinggi itu kini menatap Baekhyun yang tengah tersenyum dengan pipi merona.

"Awalnya aku bingung akan memotret apa untuk kompetisi ini, tapi untungnya aku sudah menemukan objek yang cocok."

"Memangnya kau akan memotret apa?"

Baekhyun tersenyum penuh arti pada Chanyeol. "Ra-ha-si-a~"

"Eyy~ apa-apaan itu? Kenapa aku tidak boleh tahu?" protes Chanyeol.

Baekhyun menggerakkan jari telunjuknya di udara ke kanan dan ke kiri. "Ck, ck, ck. Kau lihat saja nanti saat di pameran nanti~"

Chanyeol berdecak kesal, kemudian kembali menyantap kimbab buatan Baekhyun. "Apa Oh Sehun juga tidak tahu?"

"Tentu saja. Tidak ada yang tahu kecuali aku dan Tuhan."

Chanyeol mengacak-acak rambut Baekhyun gemas. "Ya, ya, terserah kau saja. Semoga kau menang ya?"

"Hehe~ terima kasih, Yeol. Hey, kau harus datang nanti ke pameran fotografi itu dan melihat fotoku ya!"

Chanyeol tersenyum. "Tentu."

Mata Baekhyun langsung berbinar gembira mendengarnya. "Sungguh? Janji?" Baekhyun mengulurkan jari kelingkingnya pada kekasihnya.

Chanyeol mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Baekhyun –membentuk sebuah janji. "Janji."

Dan itu membentuk senyuman paling manis yang pernah Chanyeol lihat semenjak ia menjalin hubungan dengan Baekhyun. Senyuman itu begitu manis sampai mata sipit Baekhyun membentuk bulan sabit, cantik sekali.

Chanyeol berdehem cepat. "Kita pulang bersama'kan nanti?"

Baekhyun mengangguk sebagai jawaban. Laki-laki pendek itu tidak sadar bahwa kini Chanyeol menggerakkan matanya gelisah, seperti berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk ia keluarkan berikutnya. Ia melirik kekasihnya sekali, kemudian menatap bekal makanan yang Baekhyun buatkan untuknya.

"Baek?" Chanyeol memanggil. Baekhyun menoleh tanpa menyahut. "Boleh aku mampir ke rumahmu?"

"Uhukk! Uhukk!" Baekhyun tiba-tiba tersedak. Dengan cepat, Chanyeol memberikan minumannya pada kekasih mungilnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk setelah meminum minuman itu. Laki-laki bermata sipit itu menatap Chanyeol bingung.

"Kenapa kau tiba-tiba ingin ke rumahku?"

"Tidak boleh?" Chanyeol balik bertanya.

Baekhyun menggaruk tengkuknya kikuk. "Um..bukannya tidak boleh. Aku hanya ingin tahu saja–"

"Jadi, aku boleh kesana?" Chanyeol memotong.

Baekhyun mengulum senyumnya, kemudian mengangguk pelan. "Tentu saja~"

Chanyeol tersenyum puas. Namun Baekhyun sudah terlalu larut dalam kebahagiaannya untuk menyadari arti senyuman Chanyeol saat ini. Siapa yang tahu apa yang ada dalam benak laki-laki tinggi itu?

.

.

Baekhyun dan Chanyeol menghentikan langkahnya saat mereka mendengar suara gaduh dari arah rumah sebelah rumah Baekhyun. Kentara sekali suara dari dalam sana seperti suara panci terjatuh dan pekikan suara laki-laki. Laki-laki mungil di sebelah Chanyeol menghela napas kasar, seolah ia tahu apa yang terjadi di rumah itu. Chanyeol menatap Baekhyun dengan raut muka bingung.

"Suara apa itu?" tanya Chanyeol.

"Sepupuku," Baekhyun menoleh ke arah rumah bercat pastel itu dengan ekspresi datar, "Pasti dia sedang bereksperimen lagi." gumamnya seraya masuk ke rumah itu. Chanyeol semakin bingung dibuatnya. Laki-laki tinggi itupun mengikuti jejak kekasihnya dari belakang.

"Hyung!" seru Baekhyun pada orang di dalam rumah itu.

"Baekkie?" Sebuah suara menyahut. Baekhyun melanjutkan langkahnya menuju arah suara yang berasal dari dapur. Dan detik berikutnya, Baekhyun memperlihatkan ekspresi datar ketika ia mendapatkan seorang laki-laki bermata rusa –dengan berbagai noda di wajahnya– sedang memungut panci di lantai. Ia tersenyum lebar pada Baekhyun seraya bangkit dari posisi berjongkoknya. "Hey, kau baru pulang sekolah?"

"Kau sedang apa, hah?" tanya Baekhyun –tidak mengindahkan pertanyaan laki-laki yang lebih tua.

"Uh..memasak?" Jawabannya terdengar ragu.

Baekhyun melipat kedua tangannya di dada, kemudian menoleh ke tempat 'eksperimen' laki-laki bermata rusa itu. Well, tempat itu seharusnya disebut dapur, tapi entah Baekhyun masih bisa menyebutnya 'dapur' atau apa karena keadaannya benar-benar berantakan. Noda tepung dimana-mana, papan iris yang penuh dengan berbagai buah-buahan, dan–uh..Baekhyun tidak sanggup mendeskripsikannya lebih jauh. Yang pasti tempat itu kacau sekali.

"Memasak apa tepatnya?"

"Kue. Baru saja kumasukkan ke oven." sahut laki-laki cantik itu.

"Dan panci itu untuk apa tepatnya?" tanya Baekhyun seraya menunjuk panci yang dipegang oleh yang lebih tua.

"Um..niatnya aku ingin membuat selai strawberry dan pisang. Tapi entah kenapa tanganku malah menjatuhkan panci ini. Kau pasti terkejut ya sampai masuk kemari?" Laki-laki bermata rusa itu malah terkekeh.

"Ya, kupikir kau hampir meledakkan dapurmu lagi." ledek Baekhyun, membuat laki-laki yang lebih tua cemberut.

"Yak, aku tahu aku memang payah dalam hal memasak, tapi setidaknya aku tidak berhenti belajar memasak." Baekhyun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar pembelaan laki-laki yang tua darinya itu. "Oh ya, itu siapa?" tanyanya ketika mata rusanya melihat Chanyeol di belakang Baekhyun.

"Oh ya, aku hampir lupa." Baekhyun melingkarkan lengannya di lengan Chanyeol, kemudian menarik laki-laki tinggi itu ke hadapannya sepupunya. "Ini kekasihku, Park Chanyeol~"

"Kekasih?"

"Mm-hm," Baekhyun menatap Chanyeol yang sedang menatap Luhan, "Ini sepupuku, Yeol. Dia setahun lebih tua dari kita, namanya Xi Luhan."

Chanyeol tersenyum manis pada Luhan seraya mengulurkan tangannya ke hadapan laki-laki cantik itu. "Namaku Park Chanyeol. Senang bertemu denganmu."

Luhan ikut tersenyum. Iapun menjabat tangan Chanyeol seraya berkata, "Aku Xi Luhan. Senang bertemu denganmu juga." Luhan berbalik menatap Baekhyun. "Yak, sejak kapan kau memiliki kekasih? Kenapa aku baru tahu? Apa Sehun juga tahu?"

"Tentu saja Sehun tahu. Lagipula bagaimana caranya aku bisa memberitahumu saat kau sedang pergi liburan dan ponselmu rusak?" cibir Baekhyun.

"Ahahaha~ aku benar-benar lupa soal itu. Oh ya, ponselku sudah diperbaiki kemarin. Dan aku punya oleh-oleh untukmu dan Sehun, nanti malam ajak Sehunnie kemari ya!"

"Arasseo. Kalau begitu, aku pulang dulu dan..," Baekhyun menunjuk dapur Luhan dengan jari telunjuknya, "Jangan bakar dapurmu, oke?"

"Ish~ arasseo. Jam delapan ya!"

"Ne~"

Baekhyun dan Chanyeol-pun keluar dari rumah Luhan. Laki-laki mungil itu masih saja membicarakan sesuatu, tapi Chanyeol tidak begitu mendengarkannya. Mata laki-laki tinggi itu malah terus terpaku pada rumah Luhan. Baekhyun tidak menyadari itu karena ia sibuk mengoceh. Dan –sekali lagi– tanpa Baekhyun sadari, Chanyeol menyunggingkan sebuah senyum penuh makna di sudut bibirnya. Entah apa artinya.

.

.

Baekhyun meletakkan nampan berisikan cocoa hangat dan kue kering di atas meja, kemudian duduk di sebelah Chanyeol. Senyuman terkembang dengan manisnya di sudut bibir Baekhyun ketika tangan Chanyeol mengambil salah satu kue kering buatannya.

"Apa itu enak?" tanya Baekhyun dengan mata berbinar-binar. Chanyeol mengangguk pelan.

"Apa sepupumu tidak bisa memasak sepertimu?"

"Luhan Hyung? Ya, dia memang payah dalam hal memasak, tapi anehnya dia suka sekali memasak. Dia sering memintaku mengajarinya, tapi entah kenapa selalu berakhir dengan Luhan Hyung yang hampir membakar dapurnya sendiri."

Chanyeol tertawa mendengarnya. "Well, setidaknya dia mendapatkan guru yang hebat." Baekhyun merona dibuatnya. Laki-laki mungil itu tak kuasa menahan senyumannya karena pujian itu. "Oh ya, Luhan sekolah dimana?"

"Dia sekolah di SM High School. Itu sekolah khusus putra. Dia baru pindah kesini beberapa bulan yang lalu, jadi bahasa Koreanya masih agak kacau."

Chanyeol mengangguk paham, lalu bertanya kembali, "Dia sudah memiliki kekasih?"

"Hm..belum. Meskipun ramah pada orang-orang yang baru ditemuinya, tapi Luhan Hyung itu pemilih sekali dalam hal memilih kekasih. Aku berniat untuk menjodohkannya dengan Sehun, tapi sepertinya Luhan Hyung tidak terlalu peduli padanya."

"Begitukah?"

Baekhyun mengangguk mantap. "Mungkin kau punya teman yang masih lajang yang bisa kukenalkan padanya?"

Chanyeol menggeleng pelan. "Sepertinya tidak ada. Kris sudah memiliki kekasih."

Baekhyun menghela napasnya pelan. "Sayang sekali."

TING TONG.

Baekhyun dan Chanyeol menoleh ke arah pintu rumah Baekhyun bersamaan. Laki-laki yang lebih pendek sempat mengernyit sebelum akhirnya bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu rumahnya. Baekhyun sama sekali tidak sadar bahwa ketika ia pergi dari sana, laki-laki tinggi itu kembali tersenyum penuh makna, entah karena apa. Chanyeol hendak menyesap cocoa di atas meja sebelum tangannya terhenti karena suara Baekhyun.

"Oh Sehun, sudah kubilang berkali-kali untuk mengeringkan rambutmu dengan benar, bukan? Aish~ kau ini!"

Chanyeol menoleh ke arah pintu dan menemukan Sehun berdiri di ambang pintu. Senyuman yang semula terkembang di bibir Chanyeol, kini memudar. Ia sebenarnya tidak terlalu suka Sehun, terutama saat ia terus menerus menempel dengan Baekhyun. Jadi, Chanyeol putuskan untuk meletakkan cocoa-nya di atas meja dan menghampiri HunBaek.

"Ada apa ini?" tanya Chanyeol, membuat HunBaek menoleh ke arahnya.

"Ah, tidak ada apa-apa. Sehun hanya datang kemari untuk meminjam buku catatanku." tutur Baekhyun. Laki-laki mungil itu menatap kesal sahabatnya. "Tunggu disini. Aku akan mengambilkan handuk dan buku catatanku. Aish, bisa apa kau tanpaku, hah?"

"Aku bisa melakukan banyak hal tanpamu. Sudah sana, ambil handuknya." Sehun mengusir Baekhyun. Laki-laki mungil itupun pergi dengan mulut yang menggerutukan sifat menyebalkan Sehun. Sekarang tersisa Chanyeol dan Sehun. Untuk beberapa detik, kedua laki-laki tampan itu hanya bertukar pandang dengan ekspresi yang sama-sama dingin.

"Kupikir kau ada latihan renang?" Chanyeol menyindir secara tidak langsung.

"Kenapa? Kau merasa terganggu?" Sehun membalas.

"Sebenarnya, ya."

Hening.

Entah kenapa atmosfer di antara mereka berubah dingin. Tak ada yang bersuara, mereka hanya saling melempar pandangan tajam satu sama lain. Mengintimidasi satu sama lain melalui mata mereka.

"Kenapa kau mengajak Baekhyun pacaran?" Sehun memecahkan keheningan itu. "Apa tujuanmu?"

Chanyeol mendengus. "Apa maksudmu, hah?"

"Kau mengajaknya berpacaran seolah sudah tertarik padanya sejak lama, tapi entah kenapa aku meragukannya."

Chanyeol melipat kedua tangannya di dada. "Ada apa dengan pertanyaanmu itu?"

"Aku hanya bingung, sejak kapan kau menyukai Baekhyun? Kau tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada Baekhyun sebelum bicara dengannya waktu itu," Sehun memicing curiga pada Chanyeol, "Jadi, kenapa kau tiba-tiba mengajaknya berpacaran?"

"Apa menyembunyikan suatu ketertarikan dan menyatakannya secara tiba-tiba itu adalah hal yang salah?" Chanyeol tersenyum mengejek di ujung kalimatnya. "Kupikir tidak."

Hening kembali.

Chanyeol melayangkan senyuman kemenangannya melihat Sehun dongkol karena ucapannya barusan. Kelihatan sekali laki-laki albino itu sedang menahan emosinya dengan mengeraskan rahangnya. Dia bahkan tidak membalas ucapan Chanyeol barusan. Dan itu semakin membuatnya merasa menang.

"Sehun-ah, Luhan Hyung menyuruh kita untuk–"

Sehun segera menghentikan ucapan Baekhyun –yang baru datang– dengan merebut handuk kecil dan buku catatan di tangan laki-laki mungil itu. Baekhyun agak terkejut. Dia menatap sahabatnya dengan raut bingung, tapi laki-laki albino itu malah menatap tajam Chanyeol tanpa mengindahkan kebingungan Baekhyun.

"Kau kena–"

Baekhyun tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Sehun sudah berbalik pergi. Laki-laki albino itu bahkan tidak menoleh sedikitpun ke belakang dan berjalan keluar halaman rumah Baekhyun. Sedangkan Baekhyun sendiri hanya bisa menatap punggung Sehun dengan raut kebingungan.

###

Sehun menghela napas berat saat ia menutup pintu rumahnya. Kepalanya agak pusing karena semalaman berdebat dengan Baekhyun di telepon. Laki-laki mungil itu memaksanya untuk datang ke rumah Luhan karena laki-laki Cina itu ingin memberinya oleh-oleh dari Jepang, tapi Sehun bersikeras mengatakan padanya bahwa ia sedang tidak enak badan. Baekhyun bukannya merasa prihatin atau khawatir, ia justru menceramahi Sehun panjang lebar, dimulai dari dirinya yang tidak pernah mengeringkan rambutnya dengan benarlah, terlalu lama berenanglah, dan ocehan lainnya yang tidak terlalu Sehun dengarkan. Jika kalian ingin tahu, berdebat dengan Baekhyun di telepon adalah hal terburuk yang pernah terjadi pada telinga kalian. Suara Baekhyun benar-benar memekakan telinga untuk ukuran laki-laki.

"Kenapa lama sekali, bodoh? Aku hampir mati kedinginan disini."

Suara itu berhasil membuat Sehun mendongak. Itu Baekhyun. Laki-laki mungil itu sedang bersandar di pagar rumah Sehun. Bibirnya mengerucut lucu dengan pipi yang merah –akibat cuaca. Sehun tahu benar Baekhyun pasti sudah menunggunya sedari tadi, tapi ia berusaha bersikap biasa saja di hadapan laki-laki mungil itu.

"Kenapa kau datang kemari? Mana kekasih tiang listrikmu itu?"

PLETAK!

"Aish.." Sehun menggerutu setelah Baekhyun memukul kepalanya. Laki-laki albino itu hendak protes, tapi Baekhyun menghentikannya dengan memberikan sesuatu ke hadapannya. Sehun menaikkan sebelah alisnya seraya menatap Baekhyun. "Apa ini?"

"Oleh-oleh dari Luhan Hyung. Kau harus minta maaf padanya karena sudah tidak datang kemarin malam. Jangan lupa katakan terima kasih juga padanya."

"Ck, arasseo, arasseo." Sehun menyimpan oleh-oleh itu di dalam tas-nya sebelum akhirnya berjalan beriringan dengan Baekhyun. "Kenapa kau datang kemari, hah? Si Park itu tidak menjemputmu?"

"Chanyeol bilang dia ada urusan dengan Kris, jadi dia tidak bisa menjemputku."

Sehun berdecak kesal. "Itu sebabnya kau repot-repot datang kemari."

"Yak, seharusnya kau senang karena aku masih ingat padamu." Baekhyun tersenyum sangat lebar. "Bukankah aku sahabat yang baik karena mau pergi berangkat ke sekolah bersamamu sambil memberikan oleh-oleh untukmu?"

Sehun memutar bola matanya seraya mendengus. Laki-laki albino itu sengaja memperlebar langkahnya sehingga laki-laki yang lebih pendek tertinggal di belakangnya. Well, ia tentu saja dongkol dengan alasan Baekhyun datang ke rumahnya pagi ini. Sehun tahu ia tidak punya hak untuk marah pada Baekhyun karena ia bukanlah siapa-siapa selain sahabat Baekhyun. But hell, cemburu bukanlah hal ilegal, bukan?

"Oh Sehun, tunggu aku!" seru Baekhyun seraya mengejar Sehun.

"Aish, cepat sedikit, pendek!"

"Apa?! Kau bilang aku apa?!"

Sehun menghentikan langkahnya, kemudian membalikkan badannya pada Baekhyun –yang tengah menatap kesal padanya. "Tidak ada. Cepatlah, Byun Baekhyun. Kita bisa terlambat."

"Kita tidak akan terlambat, bodoh. Masih ada banyak waktu, jadi bisakah kau berjalan dengan pelan? Udara ini sudah membunuhku, kau semakin memperburuknya dengan berjalan terlalu cepat."

Sehun sempat berdeak kesal. Laki-laki albino itu membuka syalnya, kemudian melemparnya kepada Baekhyun. Baekhyun hendak protes, tapi ucapan Sehun berikutnya membuatnya menghentikan aksinya.

"Kalau kau sampai sakit, aku akan membungkusmu dengan sepuluh selimut, arasseo?"

Baekhyun tahu intonasi Sehun itu mengancamnya, tapi laki-laki mungil itu tetap tersenyum mendengarnya. Well, walaupun sahabatnya itu ketus dan menyebalkan, Sehun tetap peduli padanya. Sehun selalu seperti itu. Jadi setelah melingkarkan syal Sehun di lehernya, Baekhyun segera berlari menyusul Sehun.

.

.

Chanyeol menghentikan acara menendang kerikil di hadapannya ketika ia mendengar suara Baekhyun tak jauh dari tempatnya berdiri. Senyumannya sempat terkembang, tapi kemudian memudar ketika ia melihat Baekhyun jalan bersama Sehun. Raut muka Chanyeol tiba-tiba berubah menjadi dingin.

"Oh? Chanyeol-ah~" seru Baekhyun seraya berlari mendekatinya. "Hey, katanya kau ada urusan dengan Kris?"

"Ya, urusanku sudah selesai. Aku sengaja menunggumu disini, jadi aku bisa mengantarmu ke kelasmu." Baekhyun sontak merona karena ucapan Chanyeol. Laki-laki mungil itu hendak mengatakan sesuatu, tapi suara bass Chanyeol menginterupsinya. "Kenapa kau memakai dua syal?"

"Oh, ini? Ini milik Sehun. Cuaca hari ini dingin sekali, jadi dia pinjamkan syal miliknya padaku."

Chanyeol langsung memakukan pandangannya pada Sehun yang berdiri di belakang Baekhyun. Ia menatapnya tajam, begitupun dengan Sehun. Namun itu tidak berlangsung lama karena bel masuk berbunyi.

"Ayo, kita ke kelas~" ucap Baekhyun seraya menarik lengan Chanyeol. Merekapun berjalan beriringan, meninggalkan Sehun di belakang mereka.

.

.

Chanyeol melemparkan tas ke atas mejanya begitu ia sampai di kelasnya. Kris yang duduk di sebelahnya sempat terkejut, tapi begitu ia melihat wajah Chanyeol yang terlihat kusut, laki-laki yang lebih tinggi itu mengernyit.

"Kau kenapa? Kupikir kau mau menunggu Baekhyun di depan gerbang." tanya Kris.

"Memang."

Tautan alis Kris semakin dalam dibuatnya. "Lalu, kenapa kau terlihat kusut begitu?"

"Oh Sehun. Siapa lagi?"

Kebingungan Kris-pun terjawab dan itu merubahnya menjadi sebuah tawa. "Kenapa lagi laki-laki albino itu?"

"Dia sepertinya mencurigaiku."

"Benarkah?" tanya Kris –setengah terkejut. Ia memperbaiki posisi duduknya agar bisa bertatapan langsung dengan sahabatnya itu. "Lalu, bagaimana?"

Chanyeol mendelik ke arah Kris. "Bisakah kau berhenti bertanya? Aku pusing mendengar kau bertanya terus."

Kris tertawa puas melihat ekspresi jengah Chanyeol. Laki-laki berambut pirang itu menepuk pundak Chanyeol, berusaha menenangkannya. "Hey, santai saja, kawan. Lagipula itu hal yang wajar saja, bukan? Oh Sehun itu memang sahabatnya Baekhyun dan lagi sepertinya laki-laki itu menyukai Baekhyun. Berhati-hatilah."

Chanyeol mendengus. "Dia bukan sainganku."

"Ya, selama niat busukmu itu tidak ketahuan, kau pasti akan baik-baik saja." Kris mencibir.

Chanyeol menatap jengkel Kris. "Memangnya siapa yang pertama kali mengajukan ide ini, hah? Itu kau, bodoh!"

"Hey, aku'kan tidak memaksamu." Kris membela diri, membuat Chanyeol memutar bola matanya. "Tenang saja. Bukankah kau bilang kau sudah sedekat ini untuk mendapatkan targetmu? Kau harus bersabar, oke?"

Chanyeol menghela napasnya, kemudian memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak. "Kau benar," Ia menyeringai ke arah Kris, "Dan aku bisa bersabar."

Kris hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat seringaian yang terlihat jahat itu. "Aku tidak percaya kau benar-benar melakukan ini padanya. But well, good luck, buddy."

.

.

Sehun menghela napas panjang untuk yang ke-sekian kalinya. Kim Seonsaengnim tidak masuk kelas karena suatu alasan yang tidak jelas. Jadilah kelasnya dibebaskan dari pelajaran kesukaannya –matematika– dan situasi ini terasa begitu membosankan bagi laki-laki albino itu. Sementara teman-temannya yang lain mengobrol, bercanda ria, dan membeli makan di kantin, Sehun memilih untuk tidur. Well, ketidakhadiran Kim Seonsaengnim sepertinya tidak buruk juga.

"Se-hun-nie~"

Sehun membuka matanya –yang baru saja terpejam dua detik yang lalu, kemudian menatap datar Baekhyun –si pemanggil namanya tadi. Tapi setelahnya Sehun menyesal. Kenapa? Karena sahabatnya itu yang tengah nyengir kuda padanya. Ugh, Sehun tahu benar senyuman itu. Laki-laki mungil itu pasti menginginkan sesuatu darinya.

"Kau mau apa?" tanya Sehun.

"Kita main game yuk?"

Sehun menaikkan sebelah alisnya. "Game?"

"Mm-hm. King's Game."

Sehun mendengus seraya membenamkan wajahnya kembali di lipatan tangannya. "Malas."

"SEHUUUUUUNNIEEEE~~~"

Ugh. Sehun benar-benar benci setiap kali Baekhyun memaksanya dengan aegyo cemprengnya itu.

Sehun berdecak kesal. "Aish, arasseo, arasseo." Laki-laki albino itu akhirnya menyerah. Baekhyun tertawa gembira, kemudian menarik Sehun ke lingkaran yang terdapat beberapa teman sekelasnya. Saat mata Sehun menangkap sosok Jongin di lingkaran itu, alisnya bertautan sempurna. "Sedang apa kau di kelasku?"

"Bolos." jawab Jongin santai.

Sehun sungguh tidak kaget mendengarnya.

"Oke, ini peraturan baru, tidak boleh menolak perintah Raja. Setuju?" tutur Jongdae. Semua yang ada di lingkaran itu mengangguk mantap –kecuali Sehun. "Sip, kita mulai ya!"

Jongdae mengocok kaleng berisikan sumpit kayu bertuliskan nomor dan tulisan 'Raja'. Setelah laki-laki berwajah kotak itu berhenti mengocoknya, ia meletakkannya tepat di tengah-tengah lingkaran. Sontak orang-orang dalam lingkaran itu mengambil sumpit kayu cepat-cepat dan melihat perannya. Ada berbagai macam ekspresi disana, dimulai dari poker-face, senyam-senyum tidak jelas, sampai angguk-angguk tidak jelas. Mereka menyembunyikannya sebisa mungin agar pemain lain tidak mengetahui nomor mereka.

"Siapa Raja-nya?" tanya Jongdae.

"Aku!" seru Baekhyun. Sontak semua orang dalam lingkaran itu menatap Baekhyun. Si laki-laki mungil tersenyum penuh makna seraya menelusuri setiap wajah dalam lingkaran itu, sedangkan yang lainnya sibuk memasang ekspresi poker-face masing-masing. "Nomor satu dan tiga, ciuman!"

"Aish.." Jongin mengumpat pelan. Baekhyun dan yang lainnya memekik gembira. Kecuali satu orang. Kecuali Do Kyungsoo. Laki-laki bermata belok itu memasang mimik kesal. Jongin melirik malas ke arah Kyungsoo, begitupun laki-laki bermata besar itu. Ups, sekedar informasi, mereka sering adu mulut semenjak kelas satu.

"Cium, cium, cium!" seru orang-orang dalam lingkaran –kecuali Kyungsoo dan Jongin.

"Ugh..demi apapun, aku benci melakukan ini." kata Jongin seraya menangkup pipi Kyungsoo.

Kyungsoo berdecak kesal. "Kau pikir aku melakukannya secara sukarela, hah?"

"Oke, mari sedikit bicara dan banyak cium." Jongdae menginterupsi dan berhasil mendapatkan death glare dari JongSoo.

Jongin menatap bibir Kyungsoo dengan mimik jijik, begitu pula Kyungsoo yang terlihat tidak rela bibirnya dinodai laki-laki berkulit tan itu. Jongin menutup matanya rapat-rapat seraya memanyunkan bibirnya. Jarak bibir Jongin semakin dekat dan dekat dan dekat dengan bibir Kyungsoo dan–CUP!

"WUEEEEEEKKHH!" seru JongSoo bersamaan setelah bibir mereka menempel sekitar satu detik. Semua orang dalam lingkaran refleks tertawa terbahak-bahak melihat tingkah dua laki-laki itu. Baik Jongin maupun Kyungsoo, mereka sama-sama mengusap bibir mereka kasar dengan seragam mereka –berusaha menghilangkan bekas ciuman itu.

"Aish, sialan. Sudahlah, ayo kita kocok lagi." gerutu Jongin. Yang lain tidak banyak komentar –meski sebagian besarnya masih menertawakan JongSoo– dan segera memasukkan sumpit kayu masing-masing ke dalam kaleng. Jongin mengocoknya, kemudian meletakkannya di tengah-tengah lingkaran. Orang-orang dalam lingkaran segera mengambil sumpit kayu dan melihat peran mereka yang baru.

"Raja, dimana kau?" tanya Jongdae.

"Disini~" Jongin mengacungkan sumpit kayunya dengan bangga. Laki-laki berkulit tan itu menelaah orang-orang dalam lingkaran dengan saksama. Namun tanpa orang lain sadari, Jongin menyunggingkan senyuman yang tak biasa –nyaris menyeringai. Senyuman itu ia tujukan pada Jongdae yang duduk di sebelah Baekhyun, memberikan semacam kode. Dan laki-laki berwajah kotak itu mengerti. Dengan senyuman yang serupa, Jongdae pura-pura memperbaiki posisi duduknya, padahal matanya mengintip nomor di sumpit kayu milik Baekhyun. Sedangkan tugas Jongin adalah mengintip nomor milik Sehun –yang tidak dijaga terlalu ketat oleh pemiliknya. Mata unta milik Jongdae menemukan nomor dua di sumpit Baekhyun. Ia memberikan kode pada Jongin dengan menggaruk pipinya dengan dua jari. Jongin mengangguk paham. Sebisa mungkin ia mempertahankan ekspresi datarnya padahal laki-laki berkulit tan itu sudah tertawa setan dalam hati.

"Oke, nomor dua dan empat..," Jongin menyeringai, "..ciuman~"

"Siapa nomor empat?" tanya Baekhyun polos. Sehun mengangkat tangannya –dengan polos. Jongdae dan Jongin sama-sama menahan tawa mereka dengan menunduk dalam. Laki-laki bermata sipit itu kelihatan terkejut melihat sahabatnya memiliki sumpit kayu bertuliskan nomor empat. "Kau pemilik nomor empat?"

Sehun mengangguk. Baekhyun melongo. Laki-laki bermata sipit itu kemudian memperlihatkan sumpit kayu miliknya yang bertuliskan nomor dua. Kali ini, Sehun yang terkejut. "Kau nomor dua?"

"Ya, kalian nomor dua dan empat, harap berciuman sekarang!" Jongdae main perintah.

Baekhyun menghela napas kasar. "Apa boleh buat. Sehun-ah, kemarilah."

Sehun mematung. Pipinya agak memerah dan matanya bergerak gelisah.

"Apa yang kau lakukan? Cepat kemari." Baekhyun memerintah dengan entengnya.

"Ya, Oh Sehun, kenapa kau diam saja? Cepat cium Baekhyun~" goda Jongin seraya menyenggol lengan laki-laki albino itu.

Sial.

Ia masuk perangkap Jongin dan Jongdae. Itu sangat jelas. Tapi bodohnya, Sehun baru menyadarinya setelah Jongin menyenggolnya tadi.

"Yak, kenapa lama sekali? Cepatlah, nanti keburu bel istirahat berbunyi." Kyungsoo ikut-ikutan mendesak. Dan itu hanya membuat jantung Sehun semakin berpacu cepat saja. Mereka tidak mengerti situasi yang dialami Sehun, makanya bisa berkata seenteng itu. Aish, tahu seperti ini, aku tidak mau ikutan game sialan ini! –umpat Sehun dalam hati.

"Aigoo~ kau ini lambat sekali sih?" Baekhyun berdecak kesal seraya bangkit dari duduknya. Ia mendekati Sehun yang kelihatan agak panik ketika jaraknya dengan Baekhyun memendek. Laki-laki yang lebih pendek menangkup pipi Sehun dan itu menghasilkan kejutan listrik di jantung Sehun. Sehun ingin sekali menahan Baekhyun, tapi suaranya tidak mau keluar dan badannya malah mematung di tempat. Dan sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Baekhyun sudah menempelkan bibirnya di atas bibir Sehun.

Oh Sehun dan Byun Baekhyun berciuman.

Sehun melotot. Jongin dan Jongdae menyeringai bagai setan. Kyungsoo menatap Baekhyun takjub.

Seseorang tolong katakan pada Oh Sehun untuk menghirup oksigen secepatnya sebelum jantungnya berhenti berdetak.

TBC

Demi apapun, saya suka banget HunBaek moment disini. BTW, kenapa saya jadi suka banget sama si muke datar itu ya? (._.)

Oke, moga kalian juga suka moment mereka. Alasan Chanyeol akan saya ungkap di chapter depan. Tapi review dulu ya~!

Big thanks untuk semua readers yang sudah memberikan review dan klik fav/follow. Tetap hargai karya saya ya *deep bow*