Hate, Hurt, Kill Me Now!

Call me

CHAPTER 4

Warning! YAOI, Semi-antagonis!Main chara, M-PREG bikin muntah (ini serius), Alur tidak beraturan, Typo(s) gak masuk akal.

Pair! Johnny x Ten

Taeyong x Ten

NCT adalah punya Sment, saya cuma pinjem nama dan gejolak cinta yang mereka rasakan satu sama lain (?)

.

Happy Reading

Berita itu langsung tersebar luas di media. Wartawan berita bisnis terus berdatangan ke gedung Grup Yeon untuk memastikan informasi yang masih samar-samar di kalangan mereka. Gosip itu sendiri bermula dari perbincangan mulut ke mulut karyawan perusahaan sendiri. Mereka terus mempertanyakan keberadaan Youngho Seo, mantan direktur perusahaan penyiaran CBS yang sekarang selalu berada dalam radius sepuluh meter dari direktur mereka.

"Mulai sekarang dia adalah sekretaris pribadiku. Perlakukan dia seperti kalian memperlakukan sekretarisku yang dulu dan tolong jangan terlalu banyak bicara di belakang."

Ten menegaskan berita itu pada sebuah rapat terakhir di Jumat sore. Seluruh petinggi perusahaan hanya bisa terkesiap dan diam-diam menggunakan ponsel pintar mereka untuk menyebarkan berita tersebut pada para wartawan. Tak ada yang berani berkata-kata pada keputusan tersebut. Mereka bahkan tak mempertanyakan apakah kemampuan si sekretaris baru pantas untuk buatnya menduduki jabatan itu.

"Seo Youngho imnida. Mohon bantuannya."

Sebisa mungkin Johnny menekan harga dirinya. Di hadapan orang-orang yang mungkin berperan dalam penghancuran perusahannya terdahulu, sekarang dia malah membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Meminta sebuah penerimaan yang layak.

"Rapat selesai." Ucap Ten lalu bangkit dari kursinya. Dia berjalan keluar ruangan diikuti Johnny juga Taeyong. "Aku akan pulang sekarang."

Ten berjalan cepat ke pintu keluar gedung. Taeyong yang mendengar perkaatan tuannya langsung berhenti berjalan. Dia membungkukkan tubuhnya pada Ten yang bahkan tak berbalik badan untuk melihat hal itu. Johnny tetap mengikuti Ten walau sebenarnya dia bingung karena laki-laki mungil itu tak kunjung memberikannyya perintah. Pun Taeyong tak memberikannya sinyal untuk berbuat sesuatu.

Saat mereka sudah sampai diluar dan Ten berbelok ke trotoar untuk menjadi salah satu dari para pejalan kaki, Johnny berjalan cepat sampai menghadangnya.

"Mobil anda dimana?" tanya Johnny.

"Apa?" Ten malah balik bertanya.

"Saya akan mengantar sajangnim."

Johnny merasa lidahnya kaku saat mengucapkan panggilan barusan. Dia tidak terbiasa melihat orang yang dia benci kini berbalik menjadi atasannya. Rasanya sangat salah.

"Youngho dengar," Ten mengambil napasnya berat. "Pekerjaanmu adalah sekretaris bukan pelayanku. Kau tidak perlu mengantarku pulang, kau tidak akan aku perintahkan melakukan hal bodoh seperti mengintai perusahaan tetangga, dan kau juga tidak perlu mengajakku bicara diluar kantor. Cukup, datang padaku saat ada berkas yang perlu kutanda tangani. Paham?"

Johnny tak sempat menjawab kalimat panjang itu karena sang atasan sudah terlebih dahulu berlalu. Netranya melihat Ten berhenti di halte bus lalu alat transportasi panjang yang ditunggu Ten membawanya pergi.

Hari itu Johnny tidak melakukan apapun setelah Ten pergi. Dia hanya duduk di kursinya sampai jam kerja selesai lalu bergegas pulang untuk menghindari puluhan pasang mata yang mengintimidasinya.

Saat ia menunggu bis yang akan mangantarnya ke rumah yang sekarang dia tempati, sebuah sedang hitam yang familiar menepikan diri di depannya. Seseorang di dalam sana menurunkan kacanya. Dia Taeyong. Johnny mendengus kesal. Kenapa orang-orang yang dia benci kerap kali muncul di hadapannya. Dia sangat muak.

"Aku akan mengantarmu ke rumah. Masuklah."

"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."

"Ada yang mau kubicarakan denganmu. Masuklah." Taeyong seakan tahu jawaban yang akan dia dengar sebelumnya. Karena itu, dia memikirkan hal yang bisa membuat Johnny menuruti perkataannya. "Tentang Herin."

Tetapi saat akhirnya Johnny masuk ke dalam mobil dan Taeyong mengarahkan kendaraan itu ke kediaman Johnny, pembicaraan tentang Herin tak pernah terjadi. Keduanya saling diam. Sesekali Johnny memberikan petunjuk pada Taeyong untuk pergi ke arah yang tepat.

Mobil itu berhenti di sebuah jalan kecil. Di sisi jalan, ada sebuah rumah kecil yang kemudian Johnny klaim sebagai tempat tinggalnya. Taeyong menatap sekeliling diam-diam. Lingkungan biasa, tidak terlihat kumuh pun tidak mewah. Sepertinya Johnny tak benar-benar kehabisan uang dan sangat bijak menggunakannya.

"Terima kasih." Ucap Johnny. Dia tidak menatap Taeyong sama sekali.

"Tidak masalah. Aku duluan."

Taeyong sudah mendapatkan informasi yang dia inginkan. Murni untuk memuaskan rasa penasarannya sendiri. Bukan karena suruhan Ten atau pihak lainnya. Saat dia bersiap melajukan kendaraannya, Taeyong melihat Johnny dihampiri oleh seorang ibu-ibu tua yang kelihatan galak. Dia seperti sedang memarahi Johnny akan sesuatu. Karena hal itu, Taeyong tanpa berpikir dua kali langsung keluar dari mobil dan mendekati kedua orang yang terlibat adu mulut itu.

Johnny tidak menyukai kedatangannya kali ini. Terlihat dari bagaimana caranya memandang seakan meneriakkan kata pergi. Namun, Taeyong tak beranjak. Dia menenangkan sang ahjumma.

"Bawa temanmu ini pergi! Aku tidak tahan dengan kebisingan yang dia ciptakan!" Seru ahjumma itu pada Taeyong. Awalnya Taeyong tak mengerti dengan ucapan ibu itu. Begitu pun Johnny yang berusaha menyangkal dan men-klaim bahwa dia selama ini hidup dengan tenang.

"Banyak wartawan yang berdiri di depan rumahmu sejak kemarin! Aku tidak tahan dengan kebisingan yang mereka ciptakan begitu pula tetangga lainnya. Pergilah! Aku akan kembalikan sisa uang sewamu!"

"Ahjumma! Ini tidak sesuai dengan perjanjian kita! Kau tidak bisa mengusirku begitu saja dari sini!"

"Aku bisa karena ini adalah rumahku! Esok, kau harus sudah tinggalkan tempat ini. Masih banyak orang yang lebih baik ingin tinggal disini, tau!?"

Sepenghujung kalimat itu, sang ahjumma pergi. Kepergiannya membawa amarah Johnny muncul ke permukaan. Dia menendang asal batu di dekat kakinya.

Kemana dia harus pergi sekarang? Rumah itu adalah tempat terbaik yang pernah dia temukan di Seoul. Murah, nyaman, dan lumayan strategis. Sekarang, dengan sisa uang yang ada, dia tidak yakin akan mendapatkan tempat tinggal. Mungkin dia akan jadi gelandangan sampai uangnya cukup untuk menyewa tempat baru.

Dalam emosinya itu, Johnny tanpa sengaja melihat Taeyong yang sebenarnya sejak tadi ada di sampingnya. Jika diingat lagi, sifat kelewat pendiamnya itu tidak juga berubah.

"Apa? Kau mau mentertawakanku?"

Pemuda itu mendapatkan balasan gelengan kepala dari pemuda yang lebih pendek. Taeyong sedikit berpikir. Rasanya, dia ingin membantu teman lamanya itu.

"Jadi, sekarang bagaimana rencanamu?" tanya Taeyong.

"Tidak tau. Apa kantor punya ruangan kosong yang bisa aku tempati sementara?"

Pertanyaan itu tentu saja dibalas gelengan oleh Taeyong.

"Aku tau tempat yang lebih bagus."

.o0o.

Entah sejak kapan hal itu terjadi. Hanya satu hari Ten melewatkan sekolahnya karena sakit dan rasanya ia melewatkan banyak sekali hal. Sepertinya di hari itu, sesuatu yang besar telah terjadi hingga dampaknya terasa hingga sekarang.

Ten memperhatikan lapangan dimana kelas Johnny dan Taeyong sedang melakukan pelajaran olahraganya. Di saat yang sama kelas Irene tengah melakukan pengamatan lapangan untuk entah pelajaran apa. Dia tidak buta untuk sekedar melihat bagaimana Irene menatap Johnny dan Taeyong yang tengah duduk berdua setelah sprint. Ada senyuman kecil yang tiba-tiba terbentuk sesaat setelah wanita itu mengalihkan pandangan dari mereka berdua.

Apa dia benar-benar membalas perasaannya Johnny? Batin Ten bertanya-tanya. Sekaligus ia merasa semakin terancam dengan keberadaan wanita itu. Padahal Johnny semakin dekat dengannya akhir-akhir ini berkat pesan pertama yang dia terima di hari dimana dia sakit. Rasanya, jika laki-laki itu menjauh lagi, Ten tidak rela.

Tanpa diduga, gadis itu mendongak ke atas dimana kelas Ten berada. Matanya menitikkan fokus padanya. Ya, pada Ten. Sekilas Ten melihat adanya kilatan persaingan dilemparkan Irene padanya. Cepat-cepat Ten menggeleng. Mana mungkin gadis baik yang bahkan tidak mengenalnya itu tiba-tiba melemparkan tatapan negatif padanya? Aku pasti sedang berkhayal.

"TEEEN!"

Teriakan samar itu langsung mengalihkan perhatian Ten dari Irene. Teriakan itu ternyata berasal dari Johnny yang kini melambaikan tangan penuh semangat padanya sementara Taeyong hanya berdiri mematung di sebelahnya. Tingkah itu sukses membuat mereka berdua sebagai objek tontonan. Bahkan teman-teman sekelasnya pun kini sudah tergelak. Tak menunggu lama, guru olahraga menghampiri mereka dan menjewer telinga mereka.

"Pft-"

Nyaris saja Ten tertawa melihat ulah teman-temannya itu.

"Kau beruntung sekali, Ten."

"Benar. Punya teman-teman tampan seperti mereka."

Pembicaraan rekan sekelasnya itu Ten abaikan. Tanpa diberitahu pun, dia sudah tau.

Saat jam makan siang seminggu kemudian, seperti biasa Ten pergi ke gudang. Dia pergi lebih cepat karena kelasnya berakhir lebih awal. Begitu sampai di halaman belakang, dahinya berkerut saat melihat pintu gudang yang terlihat sudah terbuka. Ten mempercepat langkah kakinya.

Begitu dia sampai di gudang, matanya membulat. Dia menemukan sesosok perempuan tengah duduk di kursi yang biasa dia pakai.

"Irene noona?" panggil Ten.

Perempuan itu cepat-cepat menoleh ke arah Ten. Senyuman cantik langsung merekah di bibirnya. "Hai, Ten!"

Ten masuk kedalam gudang dengan ragu. Mereka kini berdua di dalam sana. "Sedang apa noona disini?"

"Menunggumu, Johnny dan Taeyong."

Kerutan di dahi Ten semakin bertambah. Setahunya mereka bertiga tidak pernah membicarakan mengenai penghuni baru gudang mereka ini. Lalu, kenapa gadis cantik itu sekarang duduk manis di tempatnya seakan seseorang telah mengundangnya. Kalaupun ada seseorang yang mengundang gadis ini, itu pasti Johnny. Tapi, dia tidak bicara apapun tentang Irene sampai chat terakhir mereka pagi tadi.

"Apa ada seseorang yang mengundangmu kemari?" tanya Ten dengan nada tak bersahabat. Matanya melirik kotak makan di atas meja yang dia asumsikan sebagai milik Irene. Sepertinya dia berniat menyingkirkan perannya disini. Huh, tidak tau saja kalau menghadapinya itu tidak semudah itu.

Belum sempat perempuan itu menjawab, Taeyong dan Johnny telah lebih dulu datang. Mereka berdua juga memasang wajah bingung melihat kehadiran Irene. Namun, raut wajah Johnny dengan cepat berubah. Dia tersenyum lebar lalu segera mendekati wanita pujaannya.

"Irene-ah. Kau disini?"

"Iya, John. Aku bawa makanan untuk kita." Irene menjawab dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya. Tangannya mendorong kotak makannya mendekat ke Johnny.

Pemandangan itu membuat hati Ten berdenyut sakit. Dia segera mengalihkan pandangannya dari mereka berdua sebagai usaha dari pertahanan dirinya.

"Tuan, duduklah." Tiba-tiba Taeyong telah menarik kursi lain ke seberang sisi dari Irene dan Johnny.

"Taeyong-ah, kau juga makanlah. Aku bawa banyak." Ucap Irene seakan ingin mengalihkan perhatian Taeyong dari tuannya. "Ten juga..."

Ten menggeram marah. Dia mengepalkan tangannya hingga ruas-ruasnya memutih. Tanpa pikir panjang, laki-laki mungil itu segera keluar dari gudang dengan segala kejengkelan menumpuk di hatinya. Dalam benaknya, dia berusaha menyusun rencana untuk membalas perlakuan menyebalkan Irene.

Dia duduk di sebuah bangku yang biasa siswa-siswa lain gunakan saat istirahat di taman. Keberadaannya itu membuat orang-orang melihatnya aneh. Biasanya kan dia menghilang bak ditelan bumi di saat seperti ini. Lalu, datanglah seseorang yang seakan tak pernah lepas dari sisi Ten.

Johnny.

"Kenapa lari begitu saja? Kau membuatku terkejut."

Kedatangan Johnny juga sama membuat Ten terkejut. Ketika telinganya mendengar suara langkah kaki mendekat, dia mengira itu Taeyong. Namun, sosok tinggi itulah yang kini berdiri di depannya dengan wajah kebingungan.

"Kenapa kau kemari? Kau kan sudah susah payah mengundang Irene ke tempat KITA itu."

Seakan tak ingin menyembunyikan kebenciannya terhadap kehadiran Irene, Ten menekankan kepemilikan tempat mereka.

Johnny menghela napas kasar. Dia duduk di sebelah Ten setelah itu sebelum akhirnya membuka mulut, "Aku tidak mengundangnya ke gudang kita. Dia datang dengan sendirinya."

"Oh iya? Maaf tuan Seo, aku tidak percaya. Dan bisa-bisanya kau-"

"Irene datang tiba-tiba dihari saat kamu sakit. Kupikir saat itu kami menyambutnya dengan baik, itulah kenapa dia datang lagi hari ini. Maaf kalau ternyata kau tidak suka dengan kehadirannya."

"Harusnya kan kau tau aku tidak suka padanya! Apa tidak jelas semua sikapku yang menentang hubunganmu dengannya itu? Hyung, peka!"

Saat Ten menyelesaikan kalimatnya, seharusnya Johnny bisa dengan tegas mengatakan bahwa ketidaksukaan Ten terhadap calon tunangannya itu tidak ada hubungannya dengan dia. Ten bisa membenci Irene sesukanya, dan Johnny bisa dengan mudah menganggapnya angin lalu. Namun, pria tinggi itu malah mendekatkan posisi duduknya ke Ten.

"Iya. Maaf aku sudah seakan mengizinkannya untuk bermain di tempat kita. Tidak akan lagi. Lain kali aku akan menyuruhnya pergi. Jangan marah, ya?"

Mimpi apa dia semalam? Kenapa Johnny yang ada di hadapannya kini seperti bukan Johnny yang dia kenal? Ten tidak menyangka Johnny akan membujuknya seperti ini dan mengabaikan perempuan di sana yang jelas-jelas berusaha mendekatinya. Sebenarnya laki-laki itu sudah dimabuk asmara atau tidak? Apa mungkin, perasaannya telah luntur untuk gadis baik itu?

Ten menggelengkan kepala, berharap dengan cara itu pemikiran tidak masuk akalnya akan hilang.

"Aku tidak dimaafkan?" Johnny menangkap maksud gelengan kepala itu dengan maksud lain.

"Bukan. Hanya, terpikir sesuatu tadi." Ten terdiam beberapa saat sembari melihat Johnny yang mengangguk patuh. Dia lalu membuka kotak bekalnya. "Ayo makan."

Sementara di tempat lain, Taeyong hanya duduk di kursinya sembari menatap Irene tak gentar. Dilihatnya paras ayu tunangan sahabatnya itu. Iya, dia tidak bisa menampik fakta bahwa Irene sangat cantik, seperti malaikat. Dia mendengar desas-desus pula yang menyebutkan hatinya juga seperti dewi. Penuh asih.

"Jangan kesini lagi. Tuanku tidak akan senang."

"Oh, maaf. Aku pikir kita sudah berteman jadi aku boleh keluar masuk tempat ini seperti kalian."

"Mungkin yang kau maksud hanya Johnny. Dan kau lihat sendiri, satu-satunya orang yang seharusnya menerimamu itu lebih memilih mengejar tuanku."

Irene tersenyum kecut sembari mengalihkan pandangan dari Taeyong. "Aku tidak kesini untuknya. Tapi untukmu."

Lalu jemari lentiknya mendorong kotak makan besar semakin mendekati Taeyong. Senyuman cantik terpatri di wajahnya yang nyaris tanpa cela. Membuat jantung Taeyong berdebar kencang. Laki-laki itu ketakutan.

"Sepertinya, aku memiliki perasaan untukmu."

.o0o.

Seminggu telah berlalu semenjak Johnny ditendang keluar dari rumah kontrakannya oleh sang induk semang. Taeyong yang ada di sana pada saat kejadian, tanpa ragu membawanya ke sebuah gedung yang terlihat tua namun terawat. Bangunan apartemen yang sekarang dia tempati. Harga sewanya sangat murah, nyaris setengah dari harga sewa kontrakan lamanya. Apartemennya sekarang mungkin lebih kecil dari sebelumnya, tetapi dia merasa nyaman disana. Walau terkadang, saat tengah malam dia akan mendengar tetangga sebelahnya menggeram diikuti oleh suara tangisan bayi yang bersahutan, Johnny bisa menoleransinya.

Hari ini akan menjadi hari yang panjang karena dia harus menemani atasannya, Ten, untuk makan siang dengan beberapa relasi bisnis lalu diikuti dengan rapat-rapat lainnya. Setelah itu dia harus menemui Jaehyun untuk membicarakan kasusnya Irene yang berkasnya sudah lengkap. Laki-laki yang lebih muda juga bilang ia menemukan sebuah petunjuk.

Johnny bergegas berangkat menuju kantor saat menyadari hampir melewatkan bis yang biasa dia tumpangi. Di koridor, dia melihat pintu apartemen Taeyong sedikit terbuka. Ya, mereka satu bangunan apartemen, satu lantai. Terlihat seorang laki-laki mungil berdiri memunggunginya sambil menggendong seorang anak laki-laki yang sepertinya hampir berumur lima tahun. Johnny tak terlalu peduli karena dia terburu-buru.

Rapat siang itu berlangsung alot. Pihak relasi menolak untuk memperpanjang kontrak kerja sama mereka. Hal itu nyaris membuat Ten meledak karena marah. Karenanya, dia meminta izin untuk ke toilet sebentar. Namja itu membasuh mukanya sambil menghela napas.

"Dasar, orang tua-orang tua kolot!" untuk meredamkan amarahnya, dia membuka ponsel. Menatap lockscreen ponselnya dengan penuh cinta. Disana adalah foto Minhyung saat masih bayi. Seseorang yang menjadi alasannya untuk tetap hidup.

Meski selama ini dia tidak menumpahkan kasih sayangnya secara eksplisit, yang menurut Taeyong termasuk dalam kategori keras. Namun, dia sebagai sosok ibu selalu berusaha ada untuk putranya. Dan Ten juga merasa Minhyung dapat menerima kasih sayangnya dengan baik. Terbukti dengan perilakunya yang baik dan ada kalanya sedikit nakal. Tipikal anak kecil.

Tanpa sadar dia menjelajahi galeri ponselnya untuk menemukan lebih banyak foto Minhyung. Dia sibuk melihat-lihat sampai akhirnya sebuah foto membuat jemarinya terdiam.

Foto Minhyung dan Herin yang sedang berusaha membantunya menghias gaun pengantin. Matanya terfokus pada sosok mungil putri dari sahabatnya, mantan sahabatnya. Dia masih sangat kecil. Untuk berdiri saja seperti tongkat kayu yang diterpa angin. Terhuyung kesana-kemari.

Ada perasaan hangat saat dia melihat foto itu. Seakan mengingatkannya pada Johnny dan Taeyong yang dulu pernah berjanji untuk membuatnya terus merasa bahagia. Lee Minhyung dan Seo Hyein. Jarinya bergerak untuk membuat gambar itu menjadi lockscreen barunya. Minhyung yang masih bayi itu, kini sudah tumbuh sebesar ini dan memiliki adik secantik ini.

"Sajangnim!" seruan itu membuat Ten terperajat sampai melepaskan genggaman tangannya dari ponsel. Benda persegi panjang itu lalu meluncur bebas ke bawah hingga terbentur porselen wastafel. Mata Ten membulat sempurna kala melihat ponselnya itu retak-retak. Dia membeku. Banyak sekali, kenangan di dalam ponsel itu.

"Astaga!" Johnny, yang tadi memanggil Ten segera mengambil ponsel Ten dari wastefel. Takut benda itu semakin rusak karena terkena air. Tapi melihat bentuknya yang retak di mana-mana membuat Johnny meringis. Sudah tidak ada harapan. "M-Maafkan saya."

Ten mengatur napasnya. Dia kaget, marah, dan sedih. Rasanya dia ingin mendamprat wajah Johnny saat itu juga karena membuatnya hilang kendali atas dirinya sendiri. Tetapi saat Ten melihat raut wajah bersalah Johnny, perasaannya mendingin. Dia mengingat raut wajah itu, pernah ada dan ditujukan untuknya.

"Bisa kita membahas ponsel ini nanti, sajangnim? Relasi kerja kita sudah menunggu. Dan, saya punya sedikit rencana yang mungkin bisa berhasil membuat mereka menyerah dengan penawaran anda."

Ten berusaha bangun dari alam khayalannya. Bukan waktu yang tepat untuk memikirkan masa lalu, ataupun hatinya yang sakit. Sekarang dia harus bekerja, profesional.

"Bagaimana?"

.

Saat perjalanan pulang dari restoran dimana Ten akhirnya mendapat apa yang dia mau, Johnny membuka pembicaraan mengenai ponsel atasannya yang rusak.

"Saya akan menggantinya."

"Punya uang dari mana? Lebih baik tabung uangmu untuk menyerangku di kemudian hari."

Johnny ingin menggeram dengan kalimat Ten yang sarat ejekan. Padahal ponsel yang rusak pun sudah sangat jadul. Mungkin keluaran lima tahun lalu. Harganya juga pasti sudah sangat murah sekarang.

"Saya akan bawa ke tempat service. Mungkin bisa diperbaiki."

"Ya. Itu lebih baik."

Selama ini Ten tidak menunjukkan raut wajah berarti. Dia menatap keluar jendela seperti ponsel itu tak berharga. Jika benar-benar tidak berharga, seharusnya dia bisa langsung bilang dan tidak perlu membuat Johnny merasa bersalah seperti ini.

"Tolong, perbaiki. Ada banyak hal di dalam sana."

.

Johnny langsung datang ke rumah Jaehyun setelah pekerjaannya selesai. Sedikit terlambat dari yang mereka janjikan karena tiba-tiba rapat terakhir ditunda setengah jam. Baru beberapa kali dia mengetuk pintu rumah itu, Doyoung sudah membukakan pintu untuknya. Lengkap dengan senyuman manis menyambutnya.

"Dia ada di ruang kerja. Pergilah kesana sementara aku akan buatkan makan malam."

"Wo... Kau bisa memasak?"

Doyoung memicingkan matanya sebelum akhirnya pergi ke dapur. Meninggalkan pertanyaan Johnny mengambang begitu saja.

Sepeninggal Doyoung, Johnny tak menyianyiakan waktunya. Dia pergi ke ruang kerja Jaehyun di lantai dua.

"Hei!" Sapanya.

"Akhirnya kau datang John. Duduklah."

Johnny duduk berseberangan dengan Jaehyun. Sebuah meja memisahkan mereka. Dengan sabar dia menunggu Jaehyun mengutak-atik laptopnya.

"Lihat ini. Aku mendapatkannya di perusahaan yang mengelola CCTV gedung apartemenmu sebelumnya." Jaehyun memutar posisi laptopnya menjadi menghadap Johnny. "Disaat yang sama, semua rekaman CCTV yang dikelola secara otonomi oleh pengelola apartemen menghilang. Ini rekaman CCTV di bagian lobby."

Johnny memicingkan matanya. Mencoba mengidentifikasi seseorang yang lewat di lobby apartemennya itu. Seseorang yang tak asing.

.

"Taeyong-ah! Taeyong-ah! Tadi aku menggambal di sekolah!"

Minhyung tergesa-gesa mendekati Taeyong yang baru muncul saat jam makan malam. Laki-laki kecil itu dengan semangat menunjukkan gambarnya pada yang lebih tua. Di belakang, Herin mencoba mengejar Minhyung hingga terjerembab, tetapi langsung bangkit lagi tanpa menangis lalu meminta gendongan dari Taeyong.

"Oh. Kau menggambarnya?" Taeyong mengambil kertas dari tangan Minhyung dan di saat yang sama meraih Herin. Gambaran yang hanya berisi krayon itu membuat dahi Taeyong mengherutkan dahinya. Tidak mengerti apa itu. "Ini... bagus..."

"Taeyong-ah! Itu salah lihatnya! Halusnya begini!" Minhyung membenarkan letak gambarnya dan barulah Taeyong mengerti. Gambar seorang laki-laki. "Itu Taeyong!"

"He?"

"Makan malam sudah siap. Cepatlah kemari." Suara Ten mengintrupsi. Minhyung yang mendengar suara ayahnya segera berlari mendekat. Meninggalkan Taeyong yang kebingungan dan Herin yang heran dengan Taeyong. Gadis kecil itu meronta, seakan mengatakan ketidaknyamanannya dengan keterdiaman Taeyong.

"Apa yang dia gambar?" tanya Ten sembari duduk di kursinya. Dia membiarkan Taeyong mendudukkan Herin di kursi bayi lalu duduk di sebelahnya.

"Aku." Taeyong menunjukkan gambarnya. Saat itu, Ten tengah sibuk memberikan nasi ke piring Minhyung.

"Dia sangat menyukaimu."

"Ne! Aku menyukai Taeyong! Dia kan ayahku!"

Sejenak. Hanya beberapa detik tubuh Ten membeku setelah mendengar penuturan itu dari putranya. Taeyong dengan jelas melihatnya. Terbesit rasa bersalah di hatinya.

"Makan yang banyak ya Minhyung ya..."

Taeyong meletakkan kertas gambar Minhyung di tempat yang aman agar tidak kotor. Dia menerima makanan yang diberikan Ten, lalu mereka berempat makan dengan diam. Sesekali, Ten akan menyuapi Herin dengan bubur bayi.

Setelah makan malam usai, seperti biasanya Taeyong tidak akan langsung pulang. Kali ini dia menemani Minhyung hingga tertidur di kamarnya. Tiba-tiba saja, Minhyung merengek minta didongengi. Padahal biasanya dia tak semanja itu. Taeyong yang kaku langsung bingung. Dia tidak tahu bagaimana cara mendongeng yang benar. Tapi paksaan dan puppy eyes Minhyung membuat Taeyong menyerah.

"Yongie... Aku akan tampil belnyanyi untuk hali ayah..." celoteh Minhyung. Tangan kecilnya memainkan ujung buku cerita. "Dulu, aku berlnyanyi untuk Papa di hali ibu. Jadi, untuk hali ayah... aku halus belnyanyi untuk siapa?"

"Untuk papa juga." Sahut Taeyong.

"Haluskah?" terdengar kesedihan di pertanyaan itu. Taeyong pun tak sampai hati untuk membalas ucapannya. "Yongie, teman-teman punya dua olang tua, kenapa aku hanya satu?"

Taeyong tahu, pertanyaan itu cepat atau lambat akan muncul juga. Dia sudah menduga di usianya sekarang, Minhyung akan lebih peka terhadap sekitarnya. Terhadap perbedaan laki-laki dan perempuan, terhadap perlakuan papanya yang berbeda dari ibu teman-temannya, dan juga hal yang itu. Konsep tentang keluarga yang lengkap. Dua orang tua, dan anak. Semua taman kanak-kanak pasti mengajarkannya.

Ingatan ngeri Taeyong tentang hari itu terputar lagi. Saat dia melihat tuannya terbaring lemah di kasur sambil memeluk Minhyung yang masih merah. Tali pusar bayi itu masih terambung dengan Ten, darah menggenang di ranjang. Tuannya itu nyaris meregang nyawa tanpa dia tahu. Saat itu, dia ingin membunuh Johnny karena membuat tuannya menderita seperti itu.

"Karena kasih sayang papa sudah cukup besar untuk Minhyung."

Minhyung mengerutkan dahinya bingung. Kalimat itu terlalu sulit untuk dicerna otak anak berusia lima tahun sepertinya.

"Sudah, Minhyung tidur ya?"

Taeyong merapikan selimut yang membungkus tubuh Minhyung. Merasa bahwa dia akan segera tidur, Taeyong berjalan menjauh. Dia harus segera pulang juga.

"Appa," tubuh Taeyong menegang. Dia berbalik menatap Minhyung. Seakan meminta penjelasan akan apa yang baru saja dia katakan. "Appa..."

"Ssst... Minhyung, kau tahu peraturannya kan sayang?" tergesa, Taeyong berusaha menghentikan Minhyung yang siap menangis.

"Appa... Hiks..."

"Oh, tidak-tidak. Jangan menangis sayang." Taeyong memeluk Minhyung dengan erat. Hatinya terasa tersayat sekarang. "Hanya saat kau berulang tahun, panggil aku begitu saat tanggal 3 Agustus, dan aku akan menyambutmu dengan tangan terbuka sayang. Bersabarlah."

Minhyung menangguk lemah. Tangisannya tak berhenti sampai akhirnya dia tertidur di pelukan Taeyong.

"Sudah?"

Saat Taeyong meletakkan Minhyung lagi di ranjang dan menyelimutinya, Ten datang bersama Herin yang juga tertidur.

Taeyong beerdiri dengan canggung. Dia takut sikapnya terhadap Minhyung barusan dilihat Ten.

"Aku melihatnya." Ujar Ten sambil meletakkan Herin di sebelah Minhyung.

"Maafkan aku."

"Kali ini aku maafkan."

"..."

"Sejujurnya aku melihatmu dalam diri Minhyung. Mungkin karena kau yang memberinya nama."

Mereka berdua terdiam cukup lama. Taeyong bisa mendengarkan deru napasnya beradu dengan milik Ten. Dalam diam itu, dia berusaha merangkai kata. Namun gagal.

"Ada yang ingin kau katakan, Taeyong-ah?" Kali ini, Ten menatap dalam orangnya, sahabatnya.

"Aku menyanyangi Minhyung-mu, Ten."

.

.

TBC

.

A/N BODO! Akhirnya menyerah dengan alur yang membawa Taeten begitu manis begini! UGH! Padahal gak pingin mereka punya hubungan romantis, tapi... sulit sekali

Ok! Mungkin ini tiba-tiba jadi lebih condong ke Taeten... but, i can't help it!

Tetap johnten! Johnten...