Minggu pagi yang berbeda dari biasanya. Kebanyakan penghuni sakurasou hari ini berlibur. Terksecuali Sorata, Mashiro dan Nanami. Mereka punya alasan masing-masing untuk tidak berlibur. Bagi Sorata, liburannya ini terkunci oleh dua hal, yang pertama, naskah gamenya yang harus banyak diperbaiki. Dari mulai sistem hingga faktor eksternal lainnya. Yang kedua, tentu saja Mashiro's Duty. Berhubung pasti Mashiro tidak akan pulang ke inggris karena kemauannya sendiri maka Sorata terpaksa mengikuti rencana mashiro ini. Penjelasan tentang Sorata tadi juga berlaku bagi Mashiro. Dia sebagai, mangaka terkenal sejak 3 bulan lalu, harus menyelesaikan naskah selanjutnya dan harus mengirimnya kepada editor, ayano, selaku penghubung Mashiro dengan penerbit. Bagi Nanami, ia harus berlatih menjadi seiyuu. Tapi tiba-tiba, sekitar pukul 10 pagi, Nanami datang ke kamar Sorata untuk berbicara dengannya.

"Kanda-kun, aku sepertinya tidak akan berada di Sakurasou liburan ini," kata Nanami

"ah ya sudah. Tunggu.. alasannya apa?"

"hmm.. tempat lesku mengadakan latihan di luar, jadi... kira-kira aku tidak akan di Sakurasou selama 3 hari ke depan. Apa kau tidak apa-apa?"

"ya tidak apa-apa. Lagipula apa yang akan terjadi deh? Kan ada Chihiro-sensei,"

"oh iya aku lupa," setelah Nanami memberitahu Sorata, ia meninggalkan kamar. Tinggal lah Sorata yang masih berdiri diam dalam kamarnya.

"mendadak banget sih Nanami pergi," ia berkata dalam hati seraya menepuk kepalanya sendiri. Ia pun membereskan pakaian miliknya dan Mashiro. Dipisahnya pakaian Mashiro, dia berencana akan memberikan pakaian ini setelah ia selesai menyortir pakaian.

"yosh, sudah selesai, aku harus memberikannya ke Shiina sekarang," ia pun mengangkat pakaian Mashiro dan membawanya ke atas. Langkah kaki Sorata menemaninya dalam kesunyian. Tibalah ia di depan kamar Mashiro.

"oy Shiina, ini bajumu! Tolong ambil," ia mengetuk pintu.

Tiba-tiba pintu itu terbuka di depannya. Lalu tangan halus keluar dari dalam kamar dan mengambil setumpuk pakaian dari tangan Sorata secepat kilat. Sorata terkejut. Tak pernah Mashiro begitu agresif mengambil pakaiannya sendiri. Setelah syok dengan keterkejutan itu. Sorata ditarik dengan keras oleh Mashiro ke dalam kamarnya.

"hei shiina, ada apa ini..." ia pun terlempar oleh tarikan tangan Mashiro dan mendarat tepat di depan tubuh Mashiro. Dalam sekejap saja, hati Sorata kembali berdetak cepat. Jika di drama-drama, posisi ini adalah posisi memeluk seorang perempuan, sejauh yan Sorata ingat.

"hei shiina, ini..." setelah Sorataa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Mashiro menjauh. Gadis itu lalu berdiri mendekati tembok. Melihat Sorata dengan tatapan takut.

"Sorata, kau mesum,"

"memangnya siapa yang membuat ku melakukan pose itu hah?!"

"bukan aku,"

"tentu saja kau, shiina. Kenapa kau tiba-tiba menarik ku dengan keras seperti itu? Apa yang kau rencanakan?"

'aku... tidak tahu," tiba-tiba Mashiro tersipu. Ia berbalik dan berjalan menuju meja komputernya. Sorata secara reflek mengikutinya ke meja komputer dan melihat apa yang terpampang di monitor. Matanya melebar. Ia seperti mengenali kejadian ini. Seperti sebuah de ja vu, ia mengenali kejadian ini. Ya, ia yakin. Kejadian ini terjadi 1 minggu yang lalu. Malam saat hujan itu. Dibawah payung itu, Sorata membaca author notes. Itu membuatnya terkejut.

Dia ingat malam itu. Malam yang mungkin tidak ia lupakan. Pelukkan tangan Mashiro dengan tangannya. Kehangatan yang mereka bagi berdua. Terlihat seperti date di malam yang dingin ditemani hujan. Tiba-tiba Sorata tersenyum mengingat hal itu.

"hmm Shiina kau... menulis kejadian malam itu?"

"iya,"

"alasannya apa?"

"Sorata, apa kau tahu. Malam itu selalu teringat dalam mimpiku. terutama ketika aku memluk tanganmu,"

sejak kapan Shiina menjadi ekspresif begini? sejauh yang aku tahu dia itu emotionless. kata sorata dalam hati.
Sorata terkejut. Ia tak pernah berpikir bahwa Shiina mengalami hal itu. Baginya, Mashiro adalah seorang gadis tanpa ekspresi yang hatinya tidak bisa ditebak oleh siapapun. Dan ia yakin, Mashiro tak pernah mengingat hal tersebut. Sorata pun memberanikan diri bertanya.

"Shiina, apakah kau pernah mengalami hal ini?" Sorata bertanya dengan hati-hati.

"tidak sering,"

"berarti kau pernah merasakan hal ini sebelumnya?"

"bisa dibilang begitu. Yang masih aku ingat ketika culture festival dan... ini,"

Sorata kembali terkejut. Ia bingung.

Sorata tak pernah menyangka perubahan Shiina akan secepat dan sejauh ini. dalam hatinya, sorata berharap Shiina akan kembali ke dirinya yang dulu. yang hanya memikirkan tentang manga-nya. di sisi lain, hati sorata berbicara bahwa ia ingin shiina yang seperti sekarang. yang selalu menganggap dirinya ada. bukan. tetapi shiina yang menaruh Sorata tepat dalam hatinya. terjadi konflik batin di sana. Shiina manakah yang ia inginkan. yang sekarang atau yang dahulu.

"sorata,"

panggilan Mashiro membuyarkan lamunan sorata. ia kembali ke dunia nyata sekarang.

"oh maaf. aku melamun tadi. apa kau yakin ingin memasukkan kejadian itu dalam manga mu?"

"iya," mashiro mengangguk.

tak ada yang bisa Sorata lakukan sekarang. yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah berharap bahwa manga ini akan berakhir bagus. Sorata pun pergi meninggalkan Mashiro. tapi tiba-tiba tangan hangat menggenggam tubuhnya dengan halus. tangan mashiro sekrang melingkari tubuh Sorata.

Sorata terkejut. ia mlihat ke belakangnya. di sana Mashiro memeluknya.

"jangan pergi. temani aku hingga nanti tertidur,"

Sorata tidak bisa menolak permintaan mashiro. terutama saat ini. ia pun menuruti permintaan mashiro.

manga itu mungkin akan selesai sebentar lagi. dan deadlinenya hari ini. malam ini mashiro terpaksa kembali tidur larut untuk menyelesaikan manganya.

anak ini begitu bekerja keras. aku harap tuhan membantunya, walau sedikit. aku ingin melihat ia bahagia. bagaimana pun. untuk saat ini tujuan hidup ku ada dua, melihatnya bahagia dan berharap naskah game ku pun diterima nantinya. aku tak boleh lepas harapan sekarang.

sementara mashiro tetap membuat manga-nya. Sorata menatap mashiro lekat-lekat. itu bukan karena dia kasihan atau iba terhadap mashiro, tetapi karena alasan...

cinta yang ia miliki terhadapnya.