4 Season High School
Super Junior©SMEnt
4 Season High School©Nurama Nurmala
Friendship
Typo(s), OOC, abal story warning
Cerita sebelumnya…
Dari penjelasan Oh Seonsaengnim… Henry akhirnya mengetahui bahwa sekolah ini disokong oleh 4 kekuatan besar intern di luar OSIS dan organisasi besar lainnya. Empat kekuatan besar yang acapkali disebut sebagai para guardian sekolah adalah: Musim panas yang menjadi unit pertahanan sekolah, Musim semi yang menjadi unit mediator sekolah, Musim Gugur yang menjadi unit penyerangan sekolah, dan… musim dingin yang menjadi otak dan rencana pembangunan sekolah.
Satu rahasia besar yang dikemukakan Oh Seonsaengnim adalah… keempat musim ini tidak pernah akur atau senantiasa bermusuhan. Henry yang berperan menjadi guru BP sekolah ini selain diharuskan menjadi guru yang paling dekat dengan murid, juga berperan ganda menjadi jembatan yang menghubungkan keempat musim.
Berdasarkan informasi dari Kim Kibum bahwa ada seorang siswa yang hendak bunuh diri di atap sekolah, siswa itu tak lain adalah Lee Sugmin dan dia tidak sedang bersiap bunuh diri. Karena kecerobohan Henry, ia tak sengaja mendorong Sungmin hingga mereka berdua berada dalam situasi berbahaya. Leeteuk datang menolong mereka dan akhirnya menceritakan beberapa rahasia mengenai jati diri Kibum si Musim Dingin dan visi misi pribadinya yang bertolak belakang dengan visi misi Musim Dingin sebelumnya.
4 Season High School
Chapter 4 - The Red Velvet Cake
Henry menggeliat beberapa kali sebelum manik itu mengerjap-ngerjap pelan dan memicing bingung. Sebuah ruangan dengan lampu dari lusinan lilin membuat bayangan benda bergerak lincah di ruangan itu. Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali, Henry mendapati beberapa benda usang yang tergolek begitu saja seolah telah ditinggalkan pemilik terdahulunya. Yang menyedot perhatian Henry adalah keberadaan satu set sofa Plutone mewah di tengah ruangan lengkap dengan furniture lainnya. Dan yang membuat Henry tercengang adalah ketika terbangun dari ketidaksadaran yang memaksa sebuah sofa mewah berwarna merah marun yang dikenal sebagai Gold Leaf Furniture menjadi alas tidurnya.
"Dimana ini?" Suaranya tercekat sementara bulir keringat masih hangat membasahi pelipisnya.
"Anda sudah sadar?" Sebuah suara menimpali pertanyaan Henry dengan pertanyaan lain. Henry berusaha menangkap siluet seorang pemuda di balik bayang-bayang yang dimainkan cahaya lilin. Sosok itu pernah Henry lihat beberapa kali. Dia yang memberikan informasi palsu kepada Henry, dan dia pula lah yang terakhir dilihat Henry sebelum Henry benar-benar kehilangan kesadarannya.
Ya.
"Kibum?" Henry mengernyit tak percaya. Apa Kibum yang membuatnya tak sadarkan diri? Benarkah? Untuk apa?
"Apa Leeteuk yang mengirim Anda ke sini?" Henry tercengang namun tak segera menjawab. Ia berusaha bersikap tenang agar ia bisa mengontrol keadaan. "Memangnya… apa yang ia bilang?" Kibum menumpangkan kaki kanan ke atas kaki kirinya lalu bersandar dengan rileks ke punggung sofa yang empuk. "Apa dia bilang saya jahat? Saya sosok setan sebenarnya? Saya… adalah sosok yang ingin menghancurkan sekolah ini?"
….
….
….
Henry berusaha untuk tidak menampilkan ekspresi apa-apa dan lebih memilih untuk memandang Kibum dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Hhhh…" Kibum terdengar menghela napas. "Apa yang sudah Anda ketahui tentang sekolah ini?" Kibum mencondongkan tubuhnya perlahan ke depan, lalu menangkupkan kedua tangannya menutupi bibir. "Apa yang Anda ketahui tentang empat musim? Walau Anda baru satu hari di sini, saya percaya, Anda sudah banyak mengetahui keadaan di sini daripada kelihatannya."
"Ya, aku hanya sedang beruntung," Henry menjawab sekedarnya. "Siapa yang memukulku dari belakang? Apa kau punya antek?" Seketika tawa Kibum pecah ketika mendengar pertanyaan polos Henry sementara kedua manik Henry terlihat lincah menggerus seisi ruangan.
"Antek? Hehehe… dia memanggilmu antekku, Kyuhyunie…" sambil berujar dalam kekehan pelannya, sebuah sosok lain muncul berderap dari balik sebuah pintu. Di tangan kanannya bergelut sebuah senter yang segera ia matikan sementara air muka serius itu sukses membuat Henry merinding sebelum ia sempat mengatakan sebuah kata.
"Urusanku sudah selesai, kapan urusanmu selesai?" Kyuhyun angkat bicara dengan nada suara sarkastik. Terlihat lelaki kaku yang satu ini enggan memandang Henry. Ia hanya memandang Kibum dengan tatapan yang penuh kebencian.
Henry tahu, bahwa lelaki ini, Kyuhyun, adalah seseorang dengan kesabaran yang luar biasa.
"Sebentar lagi," jawab Kibum sekenanya. "Benar 'kan, Henry Seonsaengnim?" Manik hitam penuh maksud itu mendelik ke arah Henry. Meminta persetujuan dan meminta jawaban.
Henry berkedut canggung. Ia beringsut membenarkan letak duduknya, lebih karena perasaan tak nyaman akan tatapan tajam Kyuhyun yang tertuju langsung kepadanya. "Ya."
Kyuhyun tetap menatap Henry tanpa berkedip.
Beberapa saat kemudian, saat Kibum menghidangkan sebuah Matcha dari tempatnya Kyuhyun mulai melangkahkan kaki. Saat Kibum membiarkan Matcha itu meluncur jatuh memenuhi gelas porselen mahalnya, Kyuhyun dengan bebas menjatuhkan diri di samping Kibum dan bersandar pada sofa.
"Baik, akan kutunggu."
Kibum masih sibuk mengaduk Matcha hijaunya, ia kemudian meretas senyum pelan. "Di luar dingin, kau perlu menghangatkan dirimu," Kibum menyodorkan segelas Matcha yang baru saja dibuatnya pada Kyuhyun, setelah itu ia meluncurkan Matcha ke gelas yang lain. Masih tanpa ekspresi Kyuhyun menjulurkan tangannya, mengais gelas porselen itu dan mulai menenggak Matcha sedap yang masih hangat hasil racikan Kibum. "Saya punya ketertarikan sendiri pada minuman, Henry Seonsaengnim," Kibum mengawali perbincangan ringan yang sebenarnya hanya basa basi sebelum sampai pada topik yang lebih berat. "Saya sedang mencoba membuat Matcha dan Oolong Green Tea, sebelumnya saya sukses dengan Lemonade dan Earl Grey Tea, Anda ingin mencobanya?" Kibum memiringkan kepalanya, sebuah senyuman menyembul di antara wajahnya.
Henry yang tertarik mulai merapikan pakaiannya yang telah disatroni koloni debu dan kotoran ketika ia jatuh berdebum. Ia mulai berdiri da beranjak menuju sofa mewah itu, mengambil tempat duduk berseberangan dengan Kibum dan Kyuhyun lalu bibir tipisnya mulai menjawab sopan santun Kibum. "Tentu, aku ingin mencobanya."
Kibum tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, senyumnya terus terukir selama pembicaraan mereka. Perlahan dan penuh kehati-hatian Kibum mulai menuangkan Matcha ke dalam gelas yang sudah ia persiapkan. Bau harum dedaunan menyeruak dan membuat otot-otot tegang Henry rileks seketika.
"Dia juga hobi membuat kue-kue manis," tutur seseorang yang membuat Henry hampir tersedak karenanya.
"Aku tidak hobi membuat kue manis," bantah Kibum tak terima. Senyumnya hilang, digantikan tatapan kesal yang meradiasikan rasa tersinggung. Sedikit. Bahkan sebenarnya Kibum tak keberatan sama sekali dengan tuduhan Kyuhyun. "Henry Seonsaengnim, saya memang juga senang membuat kue manis untuk teman minum teh. Tapi saya tidak suka makanan manis."
"Suka pun tidak kau tidak akan dipenjara karenanya," ujar Kyuhyun seketika. Kali ini, sekali lagi telak membombardir pernyataan Kibum. "Apa Anda tahu," Kyuhyun menatap Henry tajam seolah yang akan ia sampaikan adalah sebuah rahasia dari sebuah kasus yang benar-benar menjadi misteri. Seperti sebuah kejahatan penggila darah yang hobi membunuh dan menciumi bau anyir darah setiap korbannya. Aura di sekitarnya meradiasikan hawa seperti ketika seorang detektif kawakan di semenanjung Britania sukses menemukan petunjuk dan merangkainya menjadi sebuah tuduhan.
Ya.
Itulah aura yang sedang dihidupkan Kyuhyun saat ini. Namun kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Kyuhyun sangat tidak sesuai dengan air muka serius yang dipajangnya sedari tadi. "Apa Anda tahu, pernah di suatu sore Kibum memanggilku untuk urusan darurat. Aku pikir keadaan darurat apa sampai aku harus cepat-cepat menemuinya. Dengan muka mengerikan dia memintaku duduk di sofa ini, ia memegang Egg Nog di tangan kanannya, sementara meja dipenuhi oleh Fluffalanche, Caramel Supremo, Peach Cobbler, Croissant, Red Velvet Cake, Cherry Trifle, sebuah Madeleine, Key Lime Pie, Jam Cookies, Cannoli, Biscotti, NY Beagel, Eclairs, Castella, dan selusin kue manis yang aku lupa namanya."
"Eh? Dia… memintamu memakan semua itu?" Tanya Henry tak percaya.
"Ya, dan karena itu aku ijin selama 3 hari karena keracunan makanan manis."
"APA?!" Henry membeliak tak percaya. Satu detik kemudian tawanya meledak di tengah ruangan penuh lilin sementara sepi mencekam sekolah di tengah malam buta.
4 Season High School
Chapter 4 - The Red Velvet Cake
"Aku jadi bingung…" ruangan konseling itu sepi mengingat para murid dan guru tengah menunaikan kegiatan belajar mengajar pagi ini. Seusai mencicipi Matcha buatan Kibum yang ternyata luar biasa nikmat dengan rasa asli yang tidak begitu pekat itu, Henry bersama-sama Kibum dan Kyuhyun meninggalkan sekolah bersama-sama. Mereka menaiki taksi yang sama dengan tujuan yang berbeda arah. Henry dengan penuh tanggung jawab menurunkan Kibum dan Kyuhyun di rumah mereka terlebih dahulu, lalu terakhir, ketika kewajibannya tuntas barulah taksi itu meluncur menuju apartemennya di kawasan Bucheon.
"Leeteuk memberikanku sebuah informasi penting tentang Kibum yang berniat menghancurkan sekolah, lalu ketika aku menemui Kibum, aura dan sisi mengerikan memang tidak pernah lepas dari sosoknya. Dia bukan sengaja memunculkan aura itu, tapi aura itu yang mengikutinya," Henry memutar otak hingga tak sadar seseorang menyelinap melewati pintu ruangannya dan berjalan-jalan dengan sepatu hak tinggi di depannya. "Tapi, ketika aku berbincang-bincang dengannya, dia bertransformasi menjadi sosok yang hangat, aku tak mengerti… benar-benar tak mengerti. Apa dia sedang berpura-pura?"
"Apa yang tidak Anda mengerti, Seonsaengnim?"
"Eh?"
Sebuah suara menimpali obrolan skeptis Henry pada dirinya sendiri. "Apanya yang tidak Anda mengerti?"
"Oh Seonsaengnim? Sejak kapan kau ada di sini?"
"Ck, ck, ck… Anda tetap tidak bisa mengatur bahasa Anda ya~" Oh Seonsaengnim awalnya berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun kemudian sedetik kemudian ia sudah tenggelam dalam kikihan-kikihan kecil. "Tadi, apa yang tidak Anda mengerti?"
"Begini, Oh Seonsaengnim," Henry membenarkan letak duduknya, lalu menatap Oh Seonsaengnim dengan tatapan penuh harapan. "Apa Anda akan lebih percaya pada apa yang Anda dengar dan lihat, atau pada apa yang Anda rasakan?"
"Soal empat musim ya?" Tebakan Oh Seonsaengnim ini sukses membuat Henry terkaget-kaget. Oh Seonsaengnim meretas senyum maklum di sana. "Bukankah saya sudah bilang sebelumnya bahwa keempat musim itu saling bermusuhan dan akan melakukan apapun untuk saling menjatuhkan?"
"Ya, kau sudah pernah bilang."
"Dan apa tugas Anda di sini?"
"Guru… BP?"
"Ya. Dan itu menuntut Anda untuk… tidak memihak siapapun."
"E—"
"Dari gumaman Anda barusan, dan dari lontaran-lontaran pertanyaan yang sebenarnya lebih diajukan kepada diri Anda sendiri saya menangkap bahwa Anda sedang menentukan siapa yang akan Anda pihak, siapa yang akan sering Anda ajak bicara, dan siapa yang akan Anda jadikan patokan."
"…."
"Mereka semua tak bisa dipercaya. Semuaya. Mereka semua sakit jiwa, termasuk Lee Sungmin."
"A-apa?"
"Dan tugas Anda adalah menyembuhkan mereka," Oh Seonsaengnim hendak melangkahkan kakinya menuju pintu namun sebuah kotak berwarna merah merenggut perhatiannya. Ia berjalan ke arah kotak itu, membukanya, dan terkejut bukan main. "Oh, well… Red Velvet Cake, Anda punya selera yang bagus, Henry Seonsaengnim," tanpa ragu Oh Seonsaengnim menggambil sejumput cake itu dan mencicipi penuh nikmat. Semburat kepuasan tercermin dari pipi merahnya yang semakin ranum dan senyumnya yang terus mengembang. "Ini lezat! Ini benar-benar lezat! Dari mana Anda membeli ini, Henry Seonsaengnim?"
"Ti-tidak… dimanapun?" Henry memandang Red Velvet itu dengan tatapan bingung.
To Be Continued…
AN: Semoga pernyataan Oh Seonsaengnim untuk tidak mempercayai siapapun dapat benar-benar dipahami Henry ya ^^
