Chapter 4


"Paman mandi saja dulu." ujar Taira yang baru saja selesai merapikan bahan makanan di dalam kulkas dan bersiap untuk memasak. Dengan susah payah diambilnya celemek yang tergantung di samping pintu dapur dengan menggunakan kursi. Salahkan Daiki yang mengatur letak gantungan setinggi itu.

Daiki berusaha menahan tawa namun gagal.

"Buwahahaha."

"Berisik! Sana cepat mandi!" dengan muka merah merona, Taira mendorong tubuh Daiki keluar dari area dapur.

"Ya~ mau aku bantu ambil barang di tempat yang lebih tinggi tidak?" ejek Daiki.

"Tidak, terima kasih." Taira mendengus lalu kembali ke counter dapur.

Mengabaikan Daiki yang tertawa di seberang ruangan, Taira mulai berkutat dengan tugasnya, yakni memasak.

Sementara di ruang tv, Daiki mengusap rambutnya sambil tertawa pelan. Kapan terakhir kali ia keramas, huh?

Dengan misi membersihkan diri karena berhari-hari tidak mandi saat penelitian kemarin, Daiki segera masuk kedalam kamar mandi dan melepas segala kain yang melekat di tubuhnya. Setelah berdiri di bawah pancuran, diputarnya keran shower ke temperatur hangat. Membuat seluruh tubuh, mulai dari rambut biru tuanya, tengkuk dan dada bidangnya serta punggung yang terbalut kulit cokelat eksotis, hingga ujung kakinya basah oleh air hangat.

"Ah~ nikmatnya mandi."

Setelah beberapa menit diam menikmati air hangat, Daiki mematikan keran dan meraih botol sampo dan menumpahkan sedikit cairannya ke telapak tangan. Perlahan, kedua tangannya saling digosokkan lalu diusapkan ke rambut dengan gerakan sedikit memijat. Membuat rambutnya penuh akan sampo. Setelahnya ia kembali menyalakan shower dan membilas seluruh busa sampo dari kepalanya hingga bersih.

Setelah selesai bagian kepala, Daiki tidak langsung mengambil sabun mandi. Kedua tangannya kemudian turun dan menggenggam kejantanannya yang sepertinya menegang karena nikmatnya mandi.

Dengan gerakan menggoda dirinya sendiri, Daiki menggerakan tangannya dengan pola naik turun di kejantanannya yang mulai menegang. Daiki membayangkan Mai-chan yang bugil tengah berada di antara selangkangannya dengan wajah merona dan penuh nafsu. Mencoba meraup seluruh kejantanannya dengan mulutnya yang kecil. Sesekali Mai-chan nya tersedak karena kejantanan Daiki mencapai tenggorokannya.

Gerakan Daiki menjadi cepat begitu Mai-chan menatapnya dengan tatapan memohon. Ditambah dengan guyuran air hangat yang menerpa mukanya hingga membuat wajahnya semakin merah. Dengan sekali hentakan, seluruh cairan sperma keluar dari kejantanan Daiki dan mengenai dinding serta lantai kamar mandi. Daiki terengah dengan mata membola. Sial! Kenapa di saat terakhir malah wajah memerah Taira yang terlintas di benaknya?!

..

Makan malam terasa canggung. Taira tidak tahu apa yang terjadi. Padahal sebelumnya mereka baik-baik saja! Tapi sekarang keduanya terjebak dalam keheningan.

"Erm...Taira minta maaf kalau tadi menyinggung Paman." ujar Taira sebelum pergi membersihkan alat makannya.

Daiki meringis. Harusnya ia yang minta maaf pada anak kecil di hadapannya. Tapi bagaimana ia menjelaskan bahwa ia merasa menyesal telah membayangkan hal yang tidak-tidak dengan seorang anak berumur 10 tahun?!

Daiki menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya mengikuti Taira.

"Kau tidak salah apapun. Aku hanya lelah saja." terang Daiki tanpa perlu menjelaskan hal yang sebenarnya.

"Benarkah begitu? Kupikir aku yang salah karena Paman sama sekali enggan menatap kearahku seperti sebelumnya." lagi-lagi Daiki meringis mendengarnya. Dia sebenarnya tidak ingin melihat wajah Taira karena malu. Tapi sepertinya anak kecil dihadapannya malah salah paham.

"Tch. Pede sekali dirimu. Buat apa aku harus sering-sering menatapmu?" gerutu Daiki mencoba menyembunyikan kegugupannya.

Taira menggeram kesal.

"Dasar Paman remang memyebalkan!"

"Apa yang kau katakan, Bocah?!"

Dan keduanya kembali seperti biasanya hanya dengan sepatah dua patah kata tidak biasa.

..

Daiki merenggangkan badan sambil berjalan ke ruang tengah. Dilihatnya Taira tengah membersihkan sofa dengan vacuum cleaner.

"Kau masih lama?"

Taira menoleh.

"Sebentar lagi. Ada apa, Paman?"

"Kau bisa main basket?"

.

.

.

.

Dengan satu pertanyaan dari Daiki membuatnya keduanya keluar rumah dengan tujuan lapangan basket. Daiki dengan sepatu Nike Air Jordan Metallic 5 berwarna hitam biru serta bola basket baru, dan Taira dengan Nike Air Jordan 1 Retro High peninggalan satu-satunya dari orang tuanya. Dengan susah payah Taira berusaha menggulung lengan bajunya yang terlalu panjang. Melihat hal itu membuat Daiki menghembuskan napas lelah.

"Nanti kita beli beberapa baju sesuai ukuranmu."

"Eh?!" manik ruby Taira menatap manik shappire milik Daiki dengan tatapan tidak percaya.

"Memangnya aku boleh memakai uang Paman? Diberi tempat tinggal dan jatah makan setiap hari saja aku sudah bersyukur!"

Daiki menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.

"Anggap saja ini upah pekerjaan rumah yang kau lakukan."

"Terima kasih banyak Paman!"

Taira tersenyum lebar. Dan sangat manis. Membuat Daiki harus membuang muka karena jantungnya mulai berulah lagi.

"Ekhem...jadi, kau sudah tahu beberapa dasar bermain basket?" tanya Daiki mencoba mengabaikan debaran jantungnya.

"Yeah! Tatsuya mengenalkanku pada basket. Lalu Tatsuya juga mengenalkanku pada Alexandra Garcia! Kau pasti kenal Alex kan?!" serunya riang.

"Woah, kau kenal cewek seksi itu?!"

'BUGH'

"Oi! Sakit bocah!" Daiki meringis mengusap lututnya yang ditendang Taira.

"Dasar Paman mesum!"

"Hei! Itu hal wajar, Bocah!"

"Namaku Taira! T-A-I-R-A! Bukan bocah." Taira memberengut kesal. Bibir merah mudanya sedikit dimajukan. Membuat Daiki berusaha untuk tidak menatap bibir yang ingin ia kecup itu. Sial, otaknya mulai tak beres lagi!

'PLAK'

"Ittai!"

"Kenapa Paman memukul wajah Paman sendiri?" tanya Taira bingung.

"Tidak apa. Ayo, biar aku ajarkan cara mainnya." Daiki mengalihkan pembicaraan.

"Yeah! Ayo main!" dan Taira segera melupakan sikap aneh Daiki barusan.

TBC