Chapter 4 : Memori yang dimanipulasi
Summary : Naegiakhirnya berhasil mengubah masa lalu, akankah masa depan ikut berubah? Jika iya, apa perubahannya?
Sudut pandang orang pertama (Naegi):
Pengarahan oleh Monokuma sudah selesai, semuanya kecuali Owada dan Ikusaba sudah berkumpul di luar gedung olahraga. Setelah berbincang cukup lama, kami memutuskan untuk berkumpul di ruang makan. Setelah berdiskusi sebentar, kami memutuskan untuk menginvestigasi sekolah.
Kami memutuskan untuk melakukan investigasi secara terpisah. Asahina dan Sakura memeriksa semua jendela dan kemungkinan jalan keluar yang ada. Maizono dan Fujisaki memeriksa kamar mandi dan ruang laundry. Yamada dan Hagakure memeriksa dapur dan gudang. Togami memeriksa kamar para siswa dan tempat pembakaran sampah. Fukawa, Ishimaru, dan Celes memeriksa UKS dan ruang A/V. Kirigiri memutuskan untuk investigasi sendiri. Sedangkan aku dan Leon memeriksa ruang-ruang kelas yang ada di lantai 1.
Proses investigasi berjalan dengan lancar. Aku dan Leon telah mengecek 1 ruang kelas dan bergegas untuk menuju ruang ke-2. Saat berada di ruang kelas yang ke-2, Leon mengajakku berbicara.
"Hei Naegi!" Leon berbicara padaku. Pada saat itu aku sedang memeriksa bagian depan kelas.
"Menurutmu apa yang baru saja terjadi? Apakah perkataan si beruang itu harus kita percayai?" Leon berbicara sambil memeriksa meja dan kursi. Wajahnya terlihat gelisah.
Aku tidak kaget karena aku sudah mengalami semua hal ini sekali, tetapi aku memutuskan untuk berpura-pura kaget.
"Hmm, aku juga masih kaget sih. Tapi aku rasa beruang itu serius. Lihat saja itu!" aku menjawab sambil menunjuk kamera yang dipasang didekat papan tulis.
"Oh itu? Aku juga sudah melihatnya." Leon berjalan mendekati Naegi.
"Ada kamera di segala arah, mungkin beruang itu mencoba mengawasi kita." Leon berkata sambil menaruh tangannya di dagu.
Kami memeriksa beberapa laci dan lemari, tetapi hasilnya nihil. Setelah beberapa menit, aku memutuskan untuk kembali ke ruang makan.
"Kita mendapat tugas yang mudah. Hanya ada 2 ruang kelas di lantai 1, dan semuanya bersih. Ayo kembali ke ruang makan untuk melaporkan hasil investigasi kita." Aku mengajak Leon kembali ke ruang makan.
"Kenapa terburu-buru Naegi? Aku yakin tim yang lain masih belum selesai menginvestigasi." Leon berkata santai.
"Kalau dipikir-pikir, kau tadi merupakan yang paling terlambat berkumpul di gedung olahraga, jadi semuanya belum bisa mengenalmu dengan baik." Leon menepuk-nepuk bahuku.
"Semua yang ada di gedung olahraga sudah saling berkenalan dan berbincang-bincang sendiri. Hanya kamu, Kirigiri, dan Togami yang nggak kelihatan tertarik untuk berkenal-kenalan. Kalian hanya memperkenalkan nama dan bakat saja." Leon memandangku seolah-olah aku ini seorang anak yang kuper. Tak menunggu balasanku, dia meninggalkan kelas. Aku mengikutinya dari belakang.
"Anu, bukannya aku nggak ingin berkenalan dengan kalian, aku cuma nggak sempat." aku menjawab sambil mengejarnya dari belakang.
"Nggak masalah. Aku mengerti kok." Leon menoleh ke belakang lalu berbicara lagi.
"Berbeda dari si Togami dan Kirigiri, siswa Super Duper Highschool Level Lucky sepertimu nggak mungkin sok serius ataupun sok misterius. Paling kamu cuma gugup karena banyak orang yang belum kau kenal disini." Leon menyeringai. Tentu saja itu membuatku merasa sedikit tersinggung.
Perkataan Leon membuatku berpikir. Dia menganggapku tak kenal dengan siapapun yang ada disini. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Karena aku mengenal mereka semua, aku jadi tidak bisa bertingkah natural. Apalagi jika aku mengingat apa yang terjadi pertama kalinya. Hal ini membuatku tidak nyaman, sehingga aku berusaha untuk mengganti topik pembicaraan.
"Maksudmu aku tak berkenalan terlalu jauh karena aku hanya seorang pemuda yang kuper?" aku membalas perkataannya.
"Pertamanya sih aku pikir begitu, tapi setelah bicara sama kamu seperti ini kayaknya aku salah. Semoga saja kita bisa berteman dengan baik. Hahaha..." setelah mengatakan itu, Leon mempercepat langkahnya untuk menuju ke ruang makan.
Kalau dipikir-pikir, aku memang belum mengenal Leon dengan baik saat pertama kali bertemu dengannya. Alasannya karena dia membunuh Maizono dan akhirnya dieksekusi setelah Class Trial yang pertama. Ingatan-ingatan buruk mulai mengisi kepalaku lagi, aku memutuskan untuk mempercepat langkahku untuk menuju ke ruang makan.
"Lihat saja! Aku tak akan membiarkan kau mati Leon." aku berteriak dalam hati.
Sesampainya di ruang makan, kami disambut oleh seseorang. Owada duduk di sebuah kursi di meja makan. Aku amati, ada banyak benda hitam di atas meja.
"Yo! Lama sekali kalian. Aku menunggu hampir setengah jam tahu?" Owada menyambut kedatanganku dan Leon.
"Hei Owada, apa yang beruang itu lakukan padamu?" Leon membalas sambutan Owada.
"Dia hanya menyuruhku membagikan Buku Pedoman Elektronik Siswa ini kepada kalian semua. Sialan, menyuruhku membawa 15 langsung, berat sekali." Owada mengeluh, tapi masih belum berhenti sampai disitu.
"Cih! Beruang itu menasihatiku tentang bagaimana kekerasan dilarang di sekolah ini. Lalu menghukumku dengan menyuruhku membawa barang-barang berat. Benar-benar sok disiplin." Owada tersenyum sendiri. Aku dan Leon tertawa mendengarnya. Tiba-tiba, seseorang masuk ke dalam ruang makan dan duduk di sebelah Owada.
"Dia sendiri yang mencoba menyuruh kita membunuh satu sama lain, sekarang dia melarang kita menggunakan kekerasan. Apa-apaan itu, dasar panda bau." suara itu berasal dari Ikusaba. Dia masuk ke ruang makan dengan santai.
"Junko-san, kau tidak apa-apa? Monokuma tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan?" aku bertanya padanya.
"Kenapa kau begitu lama di dalam sana, aku bahkan sudah keluar dari tadi." Owada bertanya penasaran.
"Aku nggak begitu mendengarkannya jadi aku tak begitu ingat apa yang terjadi. Tapi dia tak melakukan hal yang aneh-aneh tuh. Tapi rasanya, kepalaku agak pusing setelah keluar dari gedung olahraga" Junko menjawab dengan santai, dia memegang kepalanya dengan tangan kirinya.
Entah cuma perasaanku saja, tetapi sepertinya ada yang berbeda dari Ikusaba, aktingnya sebagai Junko terlihat lebih natural. Seperti tidak sedang menyamar sama sekali. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang kau tak apa-apa." aku menarik nafas lega.
"Hmm, ada apa ini Naegi-kun? Kenapa kau begitu peduli padaku? Janga-jangan kau suka aku? Maaf ya, tapi kamu bukan tipeku." Ikusaba tersenyum menyindirku. Rasanya memang ada yang aneh dari tingkah laku Ikusaba, tapi aku tak ingin memikirkannya sekarang.
Beberapa menit kemudian, semuanya mulai datang satu persatu dan berkumpul di ruang makan. Yang terakhir datang adalah Togami dan Kirigiri. Kami semua berkumpul di meja dan bersiap berbagi hasil investigasi masing-masing.
"15 siswa sudah berkumpul disini. Berarti tak ada yang terbunuh selama investigasi, baguslah kalau begitu." Celes berbicara pertama.
"Kalau begitu ayo kita mulai! Dengan ini aku nyatakan Pertemuan Rutin Murid ke-1 dimulai!" Ishimaru berkata lantang.
"Baiklah, pertama, ini Buku Pedoman Elektronik Siswa milik kalian masing-masing. Jangan sampai hilang. Monokuma bilang bahwa barang ini sangat penting. Barang ini berisi data kalian masing-masing. Nama lengkap, jenis kelamin, bakat, golongan darah, dan sebagainya. Ada beberapa peraturan yang harus kita turuti di sekolah ini, dan semuanya tertulis di situ." Owada membagikannya satu-persatu kepada kami semua.
Setelah semuanya mendapatkan milik masing-masing, kita langsung berbagi hasil investigasi.
"Aku dan Sakura mencoba membuka semua jendela yang ada, tetapi tak ada yang dapat terbuka. Sakura bahkan mencoba untuk menghancurkan dindingnya, tetapi sia-sia." Asahina melapor pertama, Sakura hanya mengangguk di sebelahnya.
"Saat akan memeriksa UKS dan ruang A/V, aku menemukan tangga untuk menuju ke lantai 2. Sayangnya tangga itu tertutup jeruji." Celes melapor sambil memainkan rambutnya sendiri.
"Di dalam UKS dan ruang A/V sendiri tidak ada hal yang mencurigakan! Kalian semua boleh bertanya pada Fukawa untuk memastikannya." Ishimaru juga ikut melapor.
"Dengan kata lain, kita hanya bisa memeriksa lantai 1 bangunan ini." Kirigiri menambahkan.
"Ruangan asrama terlihat biasa-biasa saja, tak ada hal yang mencurigakan sama sekali." Togami melaporkan hasil investigasinya.
"Aku juga menemukan ruang pembakaran sampah, tetapi ruangan tersebut tertutup jeruji, jadi tak bisa kuperiksa lebih lanjut." Togami menambahkan sambil memperbaiki posisi kacamatanya.
"Kulkasnya penuh dengan makanan, jadi kita tak perlu khawatir tentang makanan. Monokuma bilang kulkasnya akan diisi ulang setiap hari." Hagakure melaporkan penemuannya dengan bangga.
"Juga ada beberapa buah dan sayuran segar yang cukup untuk sangat lama. Jadi kita tak perlu takut kelaparan." Yamada menambahkan.
"Aku memeriksa kamar mandi dan ruangan laundry, tak ada hal yang aneh di sana." Maizono memberitahu seluruh siswa tentang hasil investigasinya.
"Aku dan Naegi memeriksa ruangan kelas yang ada di lantai 1, tapi tak ada apa-apa." Leon melaporkan hasil investigasi kita.
"Kami berdua hanya menyadari bahwa kamera dipasang dimana-mana." aku menambahkan.
"Eh-em, apakah ada hal lain yang ingin dilaporkan?" Ishimaru bertanya kepada semuanya.
"Kita tak berhasil menemukan jalan keluar maupun pelakunya. Penyelidikan ini tidak ada artinya." Fukawa terdengar pesimis.
"Tapi, ada satu hal yang dapat kita pastikan." Celes tersenyum.
"Fakta bahwa kita terjebak dan tak ada jalan keluar dimanapun." Celes meneruskan.
"Argh... Apa yang harus aku lakukan." Fukawa semakin panik.
"Kau dengar sendiri apa perkataan Monokuma kan?" Togami berkata tiba-tiba.
"Jika ingin keluar dari sini, bunuh seseorang." kata Togami datar. Semua siswa langsung terlihat suram lagi.
"Hentikan! Itu nggak lucu." Ikusaba menanggapi perkataan Togami.
"Pasti ada hal lain yang bisa kita lakukan." Leon menambahkan.
"Sudah jelas kan? Kita harus beradaptasi..." Celes berkata pelan.
"Haa? Jadi kamu setuju untuk tinggal di sini." Ikusaba membalas perkataan Celes, lalu Celes membalasnya lagi dengan tenang.
"Di situasi seperti ini, bukan yang pintar maupun yang kuatlah yang akan bertahan hidup, tetapi..." Celes belum sempat menyelesaikan perkataannya, tapi aku ikut berbicara.
"...hanya yang dapat beradaptasi pada perubahan yang akan bertahan hidup kan?" aku menyelesaikan perkataan Celes. Aku sudah sering mendengar Celes mengatakan itu sebelumnya. Perkataanku ini sedikit mengejutkan Celes.
"Hmm, Naegi-kun, ternyata kau mengerti juga ya?" Celes tersenyum.
Aku masih bisa mengingat semuanya dengan jelas, motif Celes saat membunuh Yamada. Pada Class Trial ke-3, aku berhasil membuktikan bahwa Celes membunuh Yamada, dan motifnya adalah karena Celes ingin segera kabur dari sekolah ini. Walaupun Celes selalu berbicara tentang adaptasi, Celes sendiri sebetulnya tak ingin beradaptasi, tetapi dia selalu memasang wajah sok kuat. Tentu saja hanya aku yang mengetahui perasaan Celes yang sebenarnya, karena ini adalah memori dari kenyataan yang sebelumnya. Aku memandang Celes, aku merasa sedikit bersimpati kepadanya. Seandainya dia tak egois dan menutupi emosinya yang sesungguhnya, mungkin pada saat itu dia tak akan membunuh siapapun.
"Celes-san..." aku berkata pelan, Celes menoleh.
"Ada apa Naegi-kun?" Celes tersenyum kepadaku.
"Aku tahu perasaanmu yang sebenarnya." aku berkata pelan. Perkataanku ini berhasil membuat Celes terlihat kaget, tetapi akhirnya dia tersenyum lagi.
"Aku tak mengerti apa maksudmu Naegi-san. Berhenti mengatakan hal yang aneh." Celes membalas dengan ketus.
"Ngomong-ngomong teman-teman, aku punya saran untuk kita semua." Celes berdiri dari tempat duduknya.
"Coba perhatikan buku panduan kalian, ada peraturan yang mengatakan tentang jam malam, benar kan? Disini tertulis bahwa pada jam 22.00 sampai jam 07.00 merupakan jam malam, daerah yang boleh dijelajahi pada jam malam dibatasi..." Celes membuka buku panduan elektroniknya dan membacakan peraturan tersebut, semuanya juga membuka buku panduan mereka masing-masing.
"Terus kenapa dengan peraturan ini?" Ikusaba berbicara ketus.
"Mudah saja, aku ingin kita membuat peraturan tambahan kita sendiri." Celes menambahkan.
"Terus, peraturan apa?" Hagakure bertanya.
"Peraturan tambahannya adalah, kita..." sebelum Celes menyelesaikan perkataannya, aku memotongnya lagi.
"...tidak boleh keluar dari kamar asrama pada jam malam. Benarkan Celes-san?" aku memperhatikan ekspresi wajah Celes, sekali lagi Celes terlihat kaget, lalu tersenyum.
"Benar. Kita tak boleh keluar dari kamar pada jam malam." Celes menganggukan kepalanya.
"Memangnya kenapa?" Fukawa bertanya pada Celes.
"Tanpa aturan itu, kita akan menghabiskan waktu setiap malam meringkuk dalam ketakutan. Siapa tahu ada yang akan membunuhmu saat kau tertidur." Celes menjelaskan.
"Eh!" Maizono, Fujisaki, dan Asahina kedengarannya ketakutan mendengar penjelasan Celes.
"Tentu saja, ini hanyalah peraturan yang kita buat sendiri. Jadi tak ada yang bisa memaksa kalian untuk menurutinya. Ini tergantung kalian mau bekerja sama atau tidak." Celes kembali duduk di kursinya.
"Hmh... dengan kata lain, tak masalah jika aku melanggarnya bukan." Togami berkata seolah-olah mengatakan bahwa dia tak akan mengikuti peraturan yang dibuat Celes ini.
"Tidak, aku tak bisa melarangmu, Togami-san." Celes membalas dengan senyuman.
Suasana sempat mendadak hening, sampai akhirnya Ishimaru berbicara.
"Whoa, lihat sudah hampir jam malam. Sebaiknya kita menutup acara kita sampai disini saja. Semuanya ayo kembali ke kamar kalian." Ishimaru berteriak pada semua siswa.
"Baik-baik, tak perlu berteriak-teriak." Yamada mengeluh sambil beranjak dari tempat duduknya. Beberapa siswa yang lainnya juga ikut bubar.
Para siswa mulai keluar satu persatu, sampai akhirnya hanya tersisa aku, Ikusaba, dan Celes di ruang makan. Ikusaba bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke dapur. Tak lama kemudian, Celes berdiri dan bersiap untuk pergi. Namun sebelum Celes pergi, dia bertanya sesuatu padaku.
"Naegi-kun, dari tadi kau selalu memotong pembicaraanku, apa maksudmu sebenarnya? Bagaimana kau bisa tahu apa yang ingin aku katakan?" Celes penasaran.
"Aku sudah bilang kan." jawabku.
"Aku tahu perasaanmu yang sebenarnya. Mungkin kamu tak mengenaliku, tapi aku mengenalmu." jawabku.
"Naegi-kun, kalau hanya berbicara semua orang juga bisa." Celes berkata datar.
"Aku tak ingat pernah bertemu denganmu sebelum masuk ke sekolah ini. Bagaimana mungkin kau bisa mengenalku. Dipikir sampai kapanpun tetap tak masuk akal." kata Celes sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku bisa membuktikan bahwa aku memang mengenalmu." aku membalas perkataannya.
"Menarik, mana buktinya?" Celes mengulurkan tangannya.
"Buktiknya bukan barang..." aku menggelengkan kepalaku.
"Lalu apa?" Celes terlihat tak sabar.
"Buktinya adalah namamu, Taeko-san." aku mengatakan nama Celes.
Celes kaget, dia memandangku dengan curiga. Tetapi dengan cepat, dia langsung memasang wajahnya yang biasa.
"Sepertinya kau tidak berbohong ya? Kau memang mengenalku. Sangat mengenalku. Tapi aneh, kenapa aku tak bisa mengingat siapa dirimu Naegi?" Celes tersenyum, aku hanya bisa terduduk di kursiku.
"Jika kau tahu sampai sejauh itu tentang diriku, kau pasti bukan orang sembarangan." Celes berkata pelan.
"Celes, sekarang kau percaya kan? Jika kau memiliki masalah, kau boleh mengatakannya padaku." pada saat aku mengatakannya, Celes terlihat sedikit tersinggung.
"Kau anak yang menarik." Celes tersenyum padaku, tetapi senyumannya yang ini tak begitu terlihat meyakinkan.
"Aku akan terus mengawasimu, Makoto Naegi." Celes membalikan badannya dan bergegas kembali ke kamarnya, sementara aku masih duduk terdiam di kursiku.
"Aku akan menyelamatkanmu Celes." aku berkata dalam hati.
Saat aku akan segera berdiri untuk meninggalkan ruang makan, ada yang memanggilku dari dapur.
"Hey, Kau masih disini Naegi? Apa kau mau apel?" Ikusaba keluar dari dapur dengan membawa 2 buah apel.
"Ah, tidak perlu, terima kasih." aku menolak dengan sopan.
"Tak usah terlalu kaku begitu. Ini tangkaplah!" Ikusaba melempar sebuah apel ke arahku. Akhirnya aku terpaksa menangkapnya.
"Orang bilang, apel mengandung acetylcholine yang dapat merangsang otak untuk menghasilkan mimpi yang indah. Aku tidak tahu itu benar atau tidak, tapi tak ada salahnya mencoba kan?" Ikusaba sekarang sudah duduk di sebelahku. Entah kenapa, tapi rasanya tingkah lakunya memang sedikit aneh. Apakah Monokuma menyuruh Ikusaba untuk berakting seperti ini? Yah, bagaimanapun juga dia sudah memberiku sesuatu, jadi aku harus berterima kasih.
"Terima kasih, Ikusaba-san." aku mengucapkan terima kasihku kepada Ikusaba. Saat itulah aku sadar bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan besar.
"Celaka, tanpa sadar aku memanggil Ikusaba dengan nama aslinya." Aku bergumam dalam hati, aku panik. Jika sampai Ikusaba tahu bahwa aku tahu identitasnnya yang sebenarnya, pasti Monokuma juga akan tahu. Itu berarti aku pasti akan segera tamat. Celaka!
"Naegi-kun..." Ikusaba menatap mataku, tapi aku tak berani menatpnya kembali. Aku takut mendengar apa yang akan dia katakan setelah ini.
"Anu... Siapa itu Ikusaba-san?" wajah Ikusaba terlihat bingung. Aku kaget, bagaiman bisa Ikusaba tak mengenal dirinya sendiri. Apakah ini hanya akting? Aku mencoba memperhatikan ekspresi wajahnya. Wajah Ikusaba benar-benar terlihat bingung, seperti memang tak kenal siapa itu Ikusaba. Kalau memang dia sedang berakting, aku yakin dia pantas mendapat julukan Super Duper Highschool Level Actress. Permasalahannya satu, Ikusaba bukanlah Super Duper Highschool Level Actress. Itu berarti dia tidak sedang berakting.
"Anu, Enoshima-san?" aku mencoba memanggilnya Enoshima.
"Iya? Ada apa Naegi-kun." Ikusaba menjawab dengan santai, sama sekali tidak panik walaupun aku telah mengatakan nama aslinya. Jangan-jangan...
"Apakah kamu punya saudara perempuan?" aku bertanya, memastikan kebenaran.
"Hah, kenapa kau tanya seperti itu? Tidak, aku tidak punya saudara perempuan. Memangnya kenapa?" Ikusaba menjawab pertanyaanku dengan cepat dan jelas. Tak salah lagi, ini bukan akting. Aku mengamati wajahnya dengan seksama, terdapat bintik-bintik di sekitar wajahnya. Itu berarti dia benar-benar Mukuro Ikusaba.
"Tidak apa-apa, hanya penasaran kok. Hahaha..." aku tertawa canggung.
"Kau benar-benar orang yang aneh Naegi." sambil memakan apelnya, Ikusaba berbicara padaku.
"Apa kau tidak takut, berdua denganku disini. Aku bisa saja membunuhmu dengan mudah lho." Ikusaba tertawa ringan.
"Tentu saja tadi itu aku hanya bercanda, tapi kamu memang harus lebih berhati-hati, Naegi. Jangan mudah mempercayai orang lain. Apalagi setelah apa yang dikatakan oleh beruang sialan tadi." Ikusaba melanjutkan perkataannya. Beberapa menit berlalu, aku hanya duduk terdiam sambil mengamatinya dengan tak percaya. Setelah beberapa menit, Ikusaba berdiri dari kursinya.
"Ah, sudah larut, aku harus tidur, bye." setelah menghabiskan apelnya, Ikusaba pergi menuju ke kamarnya. Aku mengamatinya dari belakang. Aku tak ingin mengakuinya, tapi aku tahu apa yang terjadi.
"Tidak salah lagi, ini pasti ulah Monokuma." aku bergumam dalam hati.
"Sama seperti yang dia lakukan padaku dan yang lainnya. Monokuma pasti telah memanipulasi memori milik Mukoro Ikusaba, sehingga sekarang dia benar-benar menganggap dirinya Junko Enoshima." pikirku.
"Sialan! Bahkan saudaranya sendiri dia jadikan salah satu pemain dalam permainan maut ini."
~bersambung~
