Loving You
Genre : Romance
Rate : T
Pair : GaaHina
Warning : OOC, AU
Summary :
Even if I said it to stop, it won't stop
It's not just won't stop, but I also can't stop it
Because it's you
It's you that own my heart
It's you that driving my heart
Like a crazy who loving you
Happy Reading, Minna! ^^
Chapter 4 : You're that woman.
Seiring dengan deru motor sportnya yang berwarna blue metal memasuki halaman parkir, seseorang dengan mata kelam yang menyandang sebagai siswa SMU Konoha mulai menjelajahi dan mengincar beberapa tempat kosong untuk ia tempati. Begitu ia menemukannya, dengan cepat ia lajukan motornya dan merebut tempat tersebut dari siswa yang tengah mengincar tempat kosong itu. Wajahnya mengukir senyum kejayaan atas keberhasilannya sementara siswa lainnya mengeluarkan umpatan kesal dan bergerak untuk mencari tempat strategis lainnya.
Setelah selesai menikmati keberhasilannya, siswa itu melepas helmnya dan meletakkannya di atas motornya, menutupi spedometer motornya. Kemudian, ia melangkah menuju gedung sekolahnya dengan langkah ringan. Sebelah tangannya memasuki saku celana abu-abu miliknya sementara sebelahnya memegangi tas yang ia sampirkan di belakang punggungnya.
"Yo, Sasuke," sapa seseorang saat ia baru saja menaiki 2 anak tangga dari pintu masuk. Langkahnya terhenti dan dalam sekejap saja ia bisa merasakan sebuah rangkulan hangat dari seorang sahabat. Ia tahu siapa yang baru saja menyapanya bahkan tanpa harus berbalik.
"Ada apa, dobe?" tanyanya balik tanpa membalas sapaan tersebut. Segera saja setelah ia merasa terpanggil, siswa itu langsung menunjukkan wajahnya yang bertanda 3 goresan di kedua pipinya dan tersenyum sumringah.
"Hanya ingin menyapamu saja. Rasanya seperti sudah lama tak bertemu."
Sasuke mengerutkan alisnya pada sahabatnya yang satu ini. Anak itu masih menyengir lebar sementara dirinya keheranan. Memangnya selama ini anak itu ada dimana?
"Kita selalu di sekolah, jadi jangan buat seakan-akan aku baru kembali dari luar negeri," bantahnya dengan wajah khas seorang Uchiha. Namun, hal itu tak membawa pengaruh bagi siswa yang berambut pirang itu. Karena lagi-lagi, ia mengelak dan mengutarakan alasannya.
"Habis kita sudah lama tak jalan bersama. Kau selalu sibuk saat kuajak ke Blues. Belum lagi kita beda kelas."
Siswa yang bernama Namikaze Naruto itu cemberut dan mengutarakan kekesalannya akibat perilaku sahabatnya akhir-akhir ini. Tidak hanya Gaara yang selalu absen, rupanya Uchiha Sasuke juga tidak jauh berbeda.
"Gomen, aku ada beberapa urusan dengan aniki jadi tak bisa ikut," ujarnya meminta maaf. Sedikit banyak ia merasa bersalah karena ia tak mampu menghadiri acara geng yang ia buat sendiri. Naruto yang bisa melihat sebersit penyesalan di mata Sasuke yang selalu terlihat datar, mencoba memaklumi mengapa ia tak bisa menghadiri acara mereka.
"Tak apa-apa, aku mengerti." Pemuda itu tersenyum lebar dan menepuk-nepuk bahu Sasuke untuk menyemangatinya. Sasuke tidak bereaksi apapun tentang perkataan Naruto. Ia malah meneruskan langkahnya yang sempat tertunda. Walaupun begitu, Naruto tidak merasa kesal ataupun kecewa karena tidak dihiraukan. Sebaliknya, ia malah terkekeh dan mengikuti Sasuke masuk ke dalam gedung.
.
"Gaara," panggil seorang wanita berambut pirang tepat ketika maniknya menemukan Gaara masih mengenakan baju yang sama seperti semalam. Gaara tidak mengambil pusing soal ocehan kakaknya yang begitu cerewet. Justru, ia malah terus berjalan dan mengabaikannya begitu saja.
"Gaara, dengarkan kalau Nee-sanmu sedang berbicara. Kenapa kau baru pulang? Gaara!"
Gaara terdiam oleh bentakan Nee-sannya. Langkahnya terhenti di sana walaupun tubuhnya tidak berbalik. Wanita pirang yang disebut Nee-san itu juga tidak menghampiri Gaara. Ia hanya berdiri sembari berkacak pinggang, menatap adiknya dari balik punggung bidangnya.
"Gaara, jawab pertanyaanku. Kemana saja kau semalam?"
Helaan nafas terdengar meluncur keluar dari bibir Gaara. Pemuda bersurai merah bata itu masih belum mau membuka mulutnya tentang kejadian semalam. Karenanya, wanita pirang itu semakin mengamuk.
"Kau tidak ingin menjawabku?"
Gaara melirik lewat punggungnya sekilas dan memasang wajah lelah. Nee-sannya masih berdiri di sana dengan tatapan mengancam. Bahkan, wanita itu tak bergerak sedikitpun dari posisinya. Gaara tahu bahwa ia tak boleh mengabaikannya apalagi menganggapnya sebagai angin lalu. Wanita itu memang terlahir keras. Sedikit saja ia mengabaikannya atau melawan, ia bisa disiksa seperti waktu itu. Tentu saja, Gaara tak mungkin mau mengulanginya lagi. Jadi, ia berbalik menghadap wanita itu dengan tatapan malas.
"Ada apa?" tanyanya kembali. Mata hijaunya tidak menatap langsung pada wanita itu, melainkan terarah pada daerah luar pintu. Memastikan bahwa seseorang yang ia bawa baik-baik saja.
"Aku yang seharusnya bertanya! Kemana kau semalam?"
Gaara menguap sekilas. Matanya kembali pada wanita pirang di hadapannya setelah tahu bahwa gadis lain di dalam mobilnya baik-baik saja. "Sasuke mengadakan pesta besar dan aku mabuk, jadi aku tidur di tempatnya hingga pagi," bohongnya. Ia tak bisa mengatakan kenyataan bahwa semalam ia menginap di rumah seorang gadis.
Wanita itu mengendus beberapa kali dan mengambil langkah untuk memastikan inderanya masih bekerja. "Tak ada bau alkohol di bajumu. Kau tidak sedang berbohong kan?"
Keringat dingin mulai bermunculan di dalam telapak tangan Gaara. Salah satu penanda bahwa ia sedang gugup atau berbohong. Wanita itu mencuri pandang ke arah telapak adiknya dan kembali pada mata adiknya.
"Kenapa aku harus berbohong?"
Terjadi suasana intens di antara keduanya yang masih saling membaca pikiran lawan. Wanita itu menaikkan sebelah sudut bibirnya dan membalas, "Mana kutahu? Mungkin karena kau baru berbuat dosa? Menginap di rumah seorang 'teman perempuan', misalnya?"
Gertakan gigi terdengar saat suasana di sana masih hening. Ruangan yang mereka tempati saat itu cukup besar, sehingga gertakan gigi terkadang bisa tak terdengar. Namun, telinga yang mendengarnya sekarang ini tak mungkin salah. Ia yakin bahwa Gaara baru saja tertangkap basah.
"Jujur saja, kau tidak benar-benar ke rumah si Uchiha itu, bukan?"
Gaara tidak menjawab pertanyaan itu. Ia membisu dan berusaha mengatup mulutnya. Dari awal ia sudah tahu, wanita ini memang tak mungkin dikecoh. Mereka sudah hidup selama 16 tahun. Terlebih lagi, ia lebih dominan dididik olehnya. Hal ini membuat Gaara merasa bahwa ia harus lebih lihai.
"Jawab aku, Gaara," ucapnya dengan penuh penekanan pada setiap katanya. Wajah Gaara saat ini boleh terlihat tenang namun di dalam dirinya ia sedang berpikir keras. Bagaimanapun caranya wanita ini takkan ia perbolehkan menemui Hinata. Gadis itu tak bersalah. Jadi, Gaara akan lakukan apapun untuk menghindari kejadian fatal itu.
"Tak usah berpikir macam-macam, Gaara. Kau tak benar-benar ke rumah si Uchiha itu kan?"
Hatinya sudah siap. Ia tinggal menghitung dari satu hingga tiga lalu menjawab dengan kata-kata yang telah ia rangkai sedemikian rupa.
"Aku harus bilang seperti apa agar kau percaya?"
Tanpa memberi luang lagi, Gaara berputar balik ke arah kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan membiarkan kakaknya sendiri terdiam di sana layaknya orang bodoh. Dengan sekali helaan nafas, ia menyadari bahwa adiknya sudah tumbuh besar dan mulai melawannya yang sudah mengaturnya sejak kecil.
"Uchiha itu benar-benar telah mencuci otaknya," gumamnya lalu kembali pada aktivitas sebelumnya.
.
"Kau dimarahi Nee-sanmu?" tanya Hinata saat Gaara baru selesai melakukan aktivitas paginya. Ia juga sudah berganti pakaian menjadi seragam SMA Konoha. Kini, mereka berdua sedang berada di dalam mobil Audi R8 milik Gaara.
"Dia hanya penasaran kemana aku semalam."
Gaara menstarter mobilnya dan mulai menginjak pedal gasnya seiring ia menjawab pertanyaan Hinata. Dari spion tengah, ia mampu melihat wanita itu berdiri di depan pintu utama rumahnya, mencoba menangkap alasan Gaara menggunakan mobilnya ke sekolah.
"Lalu, kau jawab apa?"
Laju kendaraan dipercepat oleh Gaara, dengan tujuan menghindar dari penglihatan wanita pirang itu. Sesekali, matanya melirik kaca spion tengah dan memastikan bahwa wanita itu tidak nekat untuk mencoba mengikutinya.
"Aku bilang aku mabuk dan tidur di rumah temanku," ujarnya setelah melihat kondisi telah berubah aman.
"Dia percaya?"
Gaara mengedikkan bahunya dan menyalakan sen kiri, bersiap untuk belok di gang depan. Keheranan tampak di wajah gadis itu saat melihat jawaban dari Gaara. Namun, ia tidak mengatakan apapun lagi, takut membuat Gaara kesal atau marah. Jadi, ia hanya menunduk dan membiarkan segalanya menggantung seperti itu.
"Dia tidak mengatakan apapun lagi," jelas pemuda itu menyadari kelakuannya. Matanya sempat melirik pada Hinata yang menengadah, untuk menatap padanya. Melihat betapa menggemaskannya ekspresi gadis itu, Gaara menghentikan pandangannya dan fokus ke jalanan depan dengan jantung berdebar kencang.
"Apa itu berarti kita aman?"
Gadis itu masih menatap ke arah Gaara dengan antisipasi tinggi. Entah mengapa, ia tidak bisa tenang sebelum ia tahu semuanya berjalan baik-baik saja. Tanpa mengetahui bahwa Gaara sendiri kelabakan mengurusi debaran di dadanya, matanya terus ia bawa menuju wajah pemuda itu.
"Entahlah," jawabnya singkat. Kemudian, ia membelokkan setirnya ke arah kiri dan menekan pedal gas sedikit lebih kencang. Kebiasaan lainnya bila ia sedang merasa gugup.
Hinata menarik kembali tubuhnya dan menghempaskannya pada jok kursi. Ia membaringkan kepalanya dan menoleh ke arah jendela. Hatinya masih khawatir soal kakak Gaara. Ia takut bila Gaara yang kena imbasnya karena menginap di rumahnya.
Sementara mobil terus berjalan mengarah SMU, keduanya hanya terdiam. Tak ada yang berminat memulai percakapan lagi. Semenjak Gaara sibuk mengurusi dirinya dan Hinata yang khawatir akan masalah kakak Gaara, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
.
"Kita terlambat satu jam pelajaran," ujar Hinata begitu mereka tiba di gerbang sekolah. Bunyi bel khas SMU Konoha terdengar kencang hingga luar gerbang. Terlihat melalui jendela, beberapa guru ada yang berlalu lalang keluar masuk ruangan untuk mengajar di kelas lain. Helaan nafas keluar dari bibirnya.
Sementara Hinata mengeluh, Gaara sudah mulai menarik starter dan bersiap mengemudi lagi. Ia menarik gigi dan menekan pedal gas kembali. Merasakan pergerakan pada mobil, Hinata menoleh pada Gaara dan menaikkan sebelah alisnya.
"Kita mau kemana?"
Pemuda itu tidak menoleh. Pandangannya tetap fokus pada jalanan di luar sana. Namun, bibirnya bergerak menjawab pertanyaan gadis itu sebelum ia mengulangi tindakannya semalam. "Jalan-jalan."
Hinata melebarkan matanya yang berwarna putih. Ia menengok kembali ke arah gedung sekolah yang sudah jauh tertinggal di belakang dan berbalik menatap Gaara pada akhirnya. Kemudian, jemarinya menunjuk pada gedung sembari bertanya, "Kita bolos?"
Gaara menaikkan alisnya sebagai pengganti persetujuannya. Ia melirik sedikit pada jok di sampingnya untuk melihat reaksi gadis itu. Seperti yang sudah diduganya, gadis itu terkejut akan idenya dan merasa canggung. Tak perlu diragukan lagi, ini pasti kali pertama bagi gadis itu untuk melewatkan satu hari sekolahnya.
"Lalu, kita akan jalan-jalan kemana?"
Gaara memutar setirnya ke arah kiri dan melajukan mobilnya lebih cepat. Dengan wajah datar dan nada cuek, ia memberitahukan tujuan pasti mereka, "Blues."
Sekalipun Hinata adalah seorang siswi dengan hobi memasak, ia tetap tahu tempat seperti 'Blues' itu. Di sana, banyak terdapat pria hidung belang dan wanita penghibur. Tak jarang juga ditemukan banyaknya remaja berbau alkohol di sana. Tempat itu bagaikan idaman setiap remaja sejenis Gaara.
"B-Blues?" tanyanya memastikan pendengarannya. Batinnya terus memaksakan pikiran bahwa ia memang salah mendengar. Namun, kekuatan batinnya memudar ketika anggukan Gaara dikonfirmasi. Pria itu benar-benar akan membawanya ke klub malam itu.
Hinata menundukkan kepalanya. Nalarnya mulai bekerja secara aktif. Bibir bawahnya ia gigit untuk meredam keresahan. Di sela-sela kecemasannya, ia menghela nafas beberapa kali. Sebenarnya, ia ingin sekali mengatakan bahwa ia tak menyukai ide pria di sampingnya. Tapi, ia tak berani menyatakannya. Masalahny, ia seorang gadis dan ia lemah. Kalau Gaara menyerangnya secara tiba-tiba karena dia berbicara begitu, apa yang harus ia lakukan?
Di tengah-tengah kekacauan pikiran Hinata, Gaara sempat melirik ke arah gadis itu dan menyadari keresahannya. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas melihat kekhawatiran gadis itu. Pikirannya pasti sudah mengarah pada 'sesuatu' yang tidak-tidak. Namun, ia tidak mencoba untuk menjelaskan ambigu yang ada. Sebaliknya, ia membiarkan gadis itu berpikir sesuka hatinya sementara ia akan menikmatinya. Baginya, pemandangan dan suasana seperti ini terasa menyenangkan untuknya. Hinata terlihat lebih menggemaskan dari biasanya
.
Setelan one-piece dress membaluti tubuh seorang gadis berkulit putih susu. Dengan top yang dibuat dengan model terbuka pada punggung membuat dirinya terlihat seksi. Gaun itu didesain dengan model seakan menggantung pada tubuh penggunanya karena tali yang terikat pada belakang leher. Warna ungu-hitam yang mendominasi membuat dirinya terlihat dengan image elegan. Gaun itu sengaja didesain dengan model pendek selutut untuk memperkaya nilai estetika yang telah terkandung.
"S-Sabaku-san, gaun ini terlalu pendek dan terbuka," keluh Hinata ketika mereka telah tiba di lobby Blues. Jemarinya mencoba untuk memperpanjang gaunnya untuk mencapai di bawah lutut. Dirinya yang biasa mengenakan celana jeans tak biasa mengenakan pakaian seperti ini.
"Menurutku, yang ini masih lebih baik dari yang warna biru tadi," ucap Gaara santai sembari menuntun Hinata untuk berjalan masuk ke arah klub. Gadis itu terlihat tidak tenang dan terus mengeluh betapa terbukanya gaun yang dikenakannya. Kini, rona merah bahkan menghiasi wajahnya.
"H-Habis Sabaku-san tidak membiarkanku memilih sendiri," keluhnya kembali sembari menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia membenci kondisi ini. Dirinya yang harus merasa malu karena hal-hal yang sebenarnya sepele.
"Santai sajalah, hal ini tidak seseram yang ada di bayanganmu," balas Gaara dengan senyum terukir. Ia merangkul bahu terbuka milik Hinata dan mengajak gadis itu masuk bersamanya saat ia membuka pintu klub. Tepat ketika pintu tersebut dibuka, suasana klub mulai terasa. Bau-bau alkohol dan suara yang berdebam di setiap sudut ruangan. Hanya selangkah saja di ruangan itu telah berhasil membuat kepalanya pusing. Tanahnya tempat dia berdiri seakan berputar. Kini, pandangannya menyebar ke seluruh wilayah dan mempengaruhi titik fokus pandangannya.
"Kau tunggu di sini," pesan Gaara ketika mereka tiba di sebuah meja yang terletak di pojok ruangan. Hinata duduk di salah satu kursi yang disediakan dan menatap pada Gaara. Keraguan terpancar dari wajah gadis itu. Tentu saja, ia cemas akan lingkungan di sekitar tempatnya duduk. Gaun yang dikenakannya sangat mengundang perhatian, bagaimana bila ada yang mengincarnya? Begitulah kira-kira arti dari tatapan Hinata pada Gaara.
Pemuda itu menyadari ketakutan gadis bermata pucat itu. Jemarinya terangkat untuk mengelus pelan surai indigo Hinata. Ukiran senyum mulai tampak pada wajah tampannya. Dalam sesaat saja, ia mampu menenangkan gadis itu hanya dengan satu kalimat, "Aku takkan lama."
Anggukan kecil merespon kalimat itu. Setelah mengelus kepala gadis itu sekali lagi, ia berbalik dan melangkah ke arah meja bartender. Dia juga bukan seorang pria bodoh. Pemuda mana yang takkan tertarik pada gadis yang dibawanya, terutama dalam ruang lingkup klub ini. Karenanya, ia berusaha untuk mengambil minuman secepat mungkin dan kembali pada meja Hinata.
Sementara itu, di tempat Hinata menunggu, gadis itu tengah memandang ke seluruh ruangan. Ia mencoba mempelajari apa saja yang ada di dalam klub tersebut. Tak lama, pandangannya terhenti pada satu titik. Manik matanya menangkap sesosok pria yang setengah mabuk, menatap ke arahnya dengan muka mesum. Perlahan-lahan, pria itu makin mendekat ke arahnya. Sebelah tangannya menggenggam sebotol bir yang terlihat mahal. Dilihat dari penampilannya, ia masih berusia sekitar pertengahan antara 20 - 30 tahun.
"Sendiri saja?" tanyanya disertai dengan kekehan kecil. Hinata tidak berniat menanggapi pertanyaan macam itu, jadi ia hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Dalam kebisuannya, ia berusaha mencari sosok Gaara dalam pandangannya.
"Hei, gadis manis. Mau menemaniku kalau begitu?" tanyanya pria itu kembali. Kini, lengannya mulai menyentuh pundak Hinata yang terbuka dan merangkulnya dengan sensual. Pada tahap ini, Hinata mulai cemas dengan keadaannya. Ia hendak memberontak namun pria itu melakukan pemaksaan sehingga dirinya tak mampu melawan. Kekuatan antara mereka bisa disamakan dengan istilah langit dan bumi.
"T-Tolong lepaskan," pintanya pelan. Tangan pria itu meremas bahunya tanpa sadar, membuat Hinata meringis pelan karena kesakitan.
"Tak perlu sungkan-sungkan, gadis manis. Aku tahu kau ingin juga, bukan?" Bibirnya mendekat ke arah tengkuk Hinata dan menghembuskan nafasnya di sana setelah mengucapkan perkataannya. Sengatan bau alkohol menusuk penciuman Hinata hingga membuatnya tersedak.
"T-Tolong lepaskan aku. Aku benar-benar tak ingin," pintanya dengan sedikit memberontak kali ini. Ia menjauhkan tengkuknya dari bibir si pria. Saat itu, secara tak sengaja, kakinya menendang-nendang ke arah kaki pria itu dan menyentaknya dengan kencang sekali. Untungnya, usaha tersebut berhasil. Pria itu langsung melepaskan cengkeramannya dan menjauh sembari meringis kesakitan. Tatapannya kini penuh dengan amarah. Hinata yang sempat merasa lega, kini harus mengecap ketakutan lagi.
"Kau!" bentaknya kencang. Ia mengangkat botol birnya tinggi-tinggi dan hendak melemparkannya ke arah Hinata. Gadis itu yang tak tahu lagi harus bagaimana, memejamkan matanya rapat-rapat dan mengeratkan pegangannya pada ujung gaunnya. Kali ini, bila Gaara masih belum menghampirinya, habislah dia.
Prang!
Bunyi pecahan kaca terdengar memenuhi area sekitar Hinata. Meskipun klub ini bising, suara itu masih mampu terdengar jelas. Beling-beling dari sisa pecahan itu pun berhamburan kemana-mana dan hampir menyilet lengan atas Hinata. Ringisan bermunculan dari bibir gadis itu. Karena pejaman matanya, ia tak mampu melihat kemana saja pecahan itu berpantulan.
Sedikit demi sedikit, gadis itu membuka matanya. Sebuah siluet terlihat berada tepat di depannya. Analisisnya mengarah pada seseorang yang mungkin mengambil posisi sedekat itu dengannya. Hembusan nafasnya pun terasa menyentuh pipi, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Kemudian, ia membuka matanya sedikit lebih lebar dan menemukan surai merah milik seseorang berada di hadapannya. Kini, ia sudah bisa memastikan sosok di hadapannya. Karena itu, ia membuka matanya seutuhnya untuk melihat seseorang yang ia panggil namanya tanpa henti di dalam hati.
"Kau baik-baik saja?"
Tepat ketika Hinata menatap padanya -pada mata Emerald di hadapannya- , suara berat khas orang tersebut menyentuh gendang telinganya. Jarak mereka yang begitu dekat menahan nafas Hinata. Kehangatan merasuki dadanya. Darahnya mengalir lebih cepat dari biasanya. Tak pernah ia merasakan emosi semacam ini. Bahkan di pelupuk matanya, menumpuk sejumlah air mata untuk dikeluarkan. Bahagia dan lega bercampur aduk. Entah harus ia beri nama apa perasaan ini.
"S-Sabaku-san," panggilnya dalam gemetar. Tatapan keduanya masih melekat. Mendengar namanya dipanggil dengan penuh nada rindu, Gaara mengulas sebuah senyum tenang. Dengan satu gerakan, ia melingkari leher gadis itu dan membawanya untuk bersandar pada dadanya. "Aku datang di saat yang tepat, bukan?"
Anggukan kecil terasa saat Hinata menjawab pertanyaan Gaara. Pria bersurai merah menghembuskan nafas lega. Sejenak kemudian, ia melirik pada pintu keluar klub yang terletak di samping titik pandangnya. Di sana, dua orang keamanan tengah menyeret keluar pria yang hampir mencelakai Hinata barusan. Tanpa ia sadari, hatinya yang sempat tercekik akibat kecemasan melonggar. Bila saja kedua keamanan itu tidak datang tepat waktu, ia pasti sudah menghajar habis-habisan pria mabuk itu, sebagai balasan telah menyentuh Hinata.
"Sabaku-san," gumam Hinata, menyadarkan pemuda itu dari lamunannya. Gadis itu melepaskan pelukan Gaara dan tersenyum penuh kelegaan pada pria bermata jamrud itu. Dengan penuh ketulusan, ia berucap terima kasih atas bantuannya dan menyumbangkan senyuman manisnya.
"Terima kasih sudah menepati janjimu," ujanya. Gaara yang melihat pemandangan itu, hanya mampu speechless di tempat. Tak disangkanya, Hinata bisa terlihat semanis otu dalam pandangannya. Dari awal, ia memang tak pernah menyesali keputusannya untuk meraih gadis ini dalam genggamannya. Kini, bukan hanya sekedar 'tak ada penyesalan' belaka, melainkan ditambah dengan 'rasa syukur' atas pertemuan mereka. Seharusnya, ia berhutang terima kasih pada Anko karena telah mempertemukannya dengan gadis ini.
"Hal ini sudah menjadi tanggung jawabku," balasnya dengan penuh wibawa. Senyum masih belum lepas dari wajah tampannya. Kini, ia tahu sekarang bagaimana rasanya mencintai seorang wanita, seperti yang dikatakan Sasuke. Kau akan selalu ingin menggenggamnya dalam tanganmu dan melindunginya sampai batas maksimalmu. Dan wanita itu adalah Hyuuga Hinata.
To Be Continue
A/N : Sejujurnya, author kurang suka dengan chapter kali ini. Soalnya, di chapter yang ini, idenya mendadak karena kehabisan 'Muse' . Karena itu , bila ada yang tak sesuai dengan ekspetasi dan harapan, Ruu minta maaf sebesar-besarnya. #bow
Review Reply :
Kaze no Nachi : Oke deh, makasi buat supportnya Kaze-san ^^
lovesseta : arigatou buat pujiannya dan gomen atas keterlambatan updetnya -''
Animea Lover Ya-ha : haha.. maklum yah. Aku author baru debut di genre Anime ini, adi agak kurang populer. Ditambah dengan keterlambatan setiap kali updet makanya FF ini agak kurang menonjol . ^^
Makasi Nea-san buat support dan fav-nya.. ^^ Akan kuusahakan supaya FF ini tetep ga ngebosenin ..
: Gapapa kok, dessy-san. Aku memaklumi karena ini juga FF debutku dalam genre Anime, jadi agak kurang populer. Belum lagi authornya jarang updet ==''
buat saran, kritik dan support yang dessy-san berikan, aku menerimanya dengan senang hati ^^ Akan aku coba praktekkan yah dalam FFku
penelopi : Wah, siapa ya? siapa donk? –ditendang-
hehe, kalau mau tahu , tetep ikutin donk ff ini -promosi-
oh iya, panggilnya jangan pake senpai. Biar akrab, panggil Ruu-chan aja ;)
flowers lavender : Gomen Lavender-san. Aku ga bisa memenuhi permintaanmu. Gomen.. ;(
Yurayuki : Iya.. Gaa-kun kan Cuma tampangnya aja yang sangar, tapi hatinya manis banget kayak gula. Istilahnya, tampang sekuriti, hati hello kitty –digampar Gaara-
Haii, arigatou supportnya Yura-san –eh, boleh kan kupanggil begitu?-
Diane Ungu : Haha.. mungkin karena efek lingkar hitamnya yah. *lho?
Hai, arigatou buat supportnya .. ^^
kOcchi zenrei : thanks, L-chan for ur support. I really appreciate it so much . ^^ I will do better for my stories, more and more. Let's just fight together, both of us. XD
amichy : mm.. Jadi hal itu baik atau buruk ? #plak
hehe .. bercanda kok.. by the way, arigatou buat review-annya.. Gomen bila tidak sesuai harapan .. =.=
