My Black Cat My Prince
Little Blue Rhythm
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 4: Truth Part 1
"Maafkan atas kelancangan kami, Sasuke-sama,"
Sasuke masih terdiam. Ia hanya memandang Hinata dan Naruto yang tengah terduduk hormat. Ia masih sedikit terkejut.
"Hah, bangunlah kalian berdua. Aku benci diperlakukan seperti ini," ucap Sasuke akhirnya.
Hinata dan Naruto akhirnya bangkit. Mereka masih diam.
"Ummm... Bolehkah kita... makan?" ucap Naruto ragu. Ia berusaha memecah keheningan yang tercipta.
"KRUYUUK~" perut Naruto berbunyi.
Sasuke hanya mengangguk dan Hinata kembali menyiapkan makanan. Mereka bertiga makan dalam keadaan diam. Padahal tadi siang suasana di meja makan ini cukup ramai.
"Ummm... Ka-kalau boleh tau, kenapa Sasuke-sama menjadi... Kucing?" tanya Hinata ragu.
Sasuke menatap Hinata lama, lalu akhirnya menghela napas panjang.
"Kaa-san yang mengubahku," jawab Sasuke.
"Mikoto-sama? Memang Anda berbuat apa?" tanya Naruto yang sepertinya mulai membiasakan diri dengan Sasuke.
"Kaa-san kesal dengan sikapku yang acuh," balas Sasuke.
'Terutama terhadap perempuan,' lanjutnya dalam hati.
"Maafkan aku, Sasuke-sama!" ucap Naruto tiba-tiba sambil membungkukkan badannya.
"Huh?" Sasuke menatap Naruto heran.
'Ada apa dengan si kuning ini?'
"Tadinya kukira kau itu kucing hitam yang overprotective terhadap Hinata-chan, jadi aku dari tadi sengaja memanas-manasimu!" ucap Naruto mengaku.
"Maaf, aku tidak bisa menghentikan Naruto-kun walaupun aku sudah tau niatannya itu," tambah Hinata.
'Jadi dia sengaja?!' batin Sasuke geram.
"Hn,"
"La-lagipula, Naruto-kun baru saja menikah seminggu yang lalu," ucap Hinata lagi.
"..."
"..."
"Hah?"
Sasuke benar-benar tidak percaya. Naruto sudah menikah? Lalu apa-apaan sikapnya terhadap Hinata itu? Mau selingkuh?
"Hehe, Hinata-chan sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Sakura-chan, istriku, juga memaklumi perlakuanku terhadap Hinata-chan," kata Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hah, kau membuatku pusing, makhluk kuning!" ucap Sasuke kesal sedangkan Naruto hanya tersenyum lebar.
"Oh iya, apa kau akan tetap di sini, Sasuke-sama?" tanya Naruto.
"Kau mengusirku?"
"Tidak, tidak, maksudku di rumah ini kan hanya ada dua kamar,"
"Aku lupa kalau di sini ada dua kamar," ucap Hinata.
"Hinata-chaaan, ini rumahmu sendiri!"
"Habis, aku kan hanya memakai kamarku dan dapur saja berhubung kamar mandi ada di kamar. Biasanya kan kau yang memakai kamar satu lagi, itu juga jarang, dan aku merapikan rumah sebulan sekali,"
"Iya juga ya,"
Sasuke hanya mengamati Hinata dan Naruto. Rasanya ingin sekali ia berada di antara mereka. Ia kembali merasa terabaikan.
'Mau bagaimana lagi, mereka kan sudah lama bersama,'
"Ehem... Jadi?"
"Anda ingin tidur bersama Hinata-chan?" goda Naruto.
"Naruto-kun!"
"Hei, aku bercanda, Hinata-chan! Anda tidak apa-apa kan tidur sekamar dengan Uzumaki Naruto ini?"
"Hn,"
Tanpa Naruto dan Hinata sadari, pipi Sasuke agak merona. Sepertinya ia sempat menganggap serius godaan Naruto itu.
'Ngomong-ngomong selama ini aku tidur di kamar yang sama dengan Hinata kan?'
Blush!
Sasuke segera menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya.
'Kenapa aku berpikir seperti itu sih?'
"Sasuke-sama? Anda kenapa?" tanya Naruto.
"Tidak," balas Sasuke.
"Hah, aku duluan ke kamar ya. Otakku lelah karena kejadian barusan!"
"Alasan," komentar Sasuke.
Naruto hanya menampilkan cengirannya kemudian berjalan menuju sebuah kamar.
"Te-tempat yang dimasuki Naruto-kun itu kamar satu lagi," ucap Hinata gugup.
"Hn,"
Sasuke memandang langit-langit rumah Hinata. Sungguh berbeda dengan di istana. Luas rumah Hinata bisa dibilang sama dengan luas kamar Sasuke di tambah beranda dan koridor depan kamar Sasuke. Namun, Sasuke suka berada di rumah kecil ini. Tempat ini sungguh hangat.
"A-ano, apa Sa-Sasuke-sama juga ingin istirahat?" tanya Hinata.
Sasuke hanya menatap Hinata yang sedang gugup.
'Kenapa dia gugup sih?'
"Sikapmu beda sekali. Seingatku kau tidak gugup ketika bersama Sacchi atau pun Uzumaki itu,"
"Sa-Sacchi itu kucing, sedangkan aku sudah lama kenal dengan Naruto-kun," Hinata mencoba membela dirinya sambil menatap ke sembarang arah asalkan bukan ke pangeran di depannya itu.
Sasuke yang tadinya duduk kini bangkit dan beranjak mendekati Hinata.
"Hei, aku dan Sacchi kan sama," bisik Sasuke yang membuat Hinata terlonjak kaget, wajah Hinata langsung memerah seketika.
"Te-tentu saja beda. A-anda manusia sedangkan Sa-Sacchi kucing,"
"Hah, sudahlah. Sekarang temani aku,"
"E-eh? Sa-Sasuke-sama,"
"Hn, diamlah,"
Sasuke menggenggam tangan Hinata dan langsung menyeretnya ke luar rumah. Lebih tepatnya ke halaman belakang. Sasuke ingin menghabiskan waktunya dengan Hinata di sana.
Tanpa Hinata sadari, Sasuke menarik ujung bibirnya sedikit. Ia tersenyum tipis. Akhirnya dia bisa menggenggam tangan Hinata.
'Jadi ini rasanya menggenggam tangannya. Ternyata lebih kecil dari yang kubayangkan,'
"Lihatlah ke atas," perintah Sasuke begitu mereka sudah keluar rumah.
"Uwaaaa,"
Hinata terkagum-kagum melihat pemandangan malam yang disajikan. Hinata memang sudah lama tidak menatap langit malam. Sepertinya langit malam ini sedang cerah.
Sasuke lagi-lagi tersenyum tipis melihat tingkah Hinata. Bahkan sepertinya gadis itu tidak menyadari bahwa Sasuke mempererat genggamannya pada tangan mungil gadis itu. Sasuke juga mengangkat kepalanya, menikmati lautan bintang di angkasa. Dan Sasuke berharap agar untuk saat ini waktu bisa berhenti.
POOOF!
Hinata terkejut.
Sasuke terkejut.
Kini tak ada lagi sosok pangeran yang menggenggam tangan sang gadis. Yang ada hanyalah sang gadis yang menatap heran si kucing hitam.
"Sa-Sasuke-sama? Kenapa jadi Sacchi lagi?"
"Cih, sepertinya aku hanya bisa menjadi manusia dalam waktu dua jam saja,"
"Eh?!"
"Ah, aku baru ingat. Hei Hinata, kau harus bertanggung jawab!"
"Tu-tu-tunggu dulu. A-apa maksud Sasuke-sama dengan... be-bertanggung jawab?" tanya Hinata tidak mengerti.
"Cara melepas 'kutukan' ini. Kata kaa-san orang yang pertama kali menolongku adalah orang yang bisa mengembalikan wujudku. Karena kau yang menolongku jadi kau yang bertanggung jawab," terang Sasuke panjang.
Hinata hanya mengedip-ngedipkan matanya. Ia masih tidak percaya dengan perkataan Sasuke. Hinata yang bisa mengembalikan wujud Sasuke? Yang benar saja.
. . .
Seperti biasa, Hinata bangun lebih awal, sebelum Sasuke atau Naruto bangun. Tentu saja ia bangun lebih awal untuk membuat sarapan. Hinata hanya tersenyum tipis mengingat kali ini ia menyiapkan makanan untuk tiga orang.
"Ternyata memang sudah bangun,"
"Sa-Sasuke-sama?"
Hinata menatap Sasuke. Bukan wujud kucingnya seperti tadi malam. Kali ini Sasuke kembali ke wujud manusianya. Hinata jadi semakin bingung dengan 'kutukan' yang diberikan oleh ibu Sasuke tercinta.
"Setelah empat jam kemudian aku baru bisa kembali ke wujud asliku lagi," terang Sasuke yang mengerti arti tatapan heran Hinata.
"O-oh. Bagaimana istirahat Anda?"
"Buruk. Si kuning itu baik sadar maupun tidak tetap saja tidak bisa diam," protes Sasuke.
Hinata hanya tertawa pelan. Yah, sepertinya Hinata harus bekerja keras lagi akhir bulan nanti untuk membereskan kamar yang ditumpangi Naruto.
Hinata kembali melanjutkan acara memasaknya sedangkan Sasuke menarik salah satu kursi terdekat lalu duduk dan mengamati Hinata yang sedang memasak. Entah mengapa Sasuke ingin melalukan sesuatu. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan.
"Oi,"
"Ya?"
"Aku ingin membantu,"
"Eh? Ti-tidak usah. I-ini tidak akan lama,kok,"
Jujur saja, Hinata kaget mendengar menuturan dari Sasuke. Hinata benar-benar tidak tau jalan pikir pangeran satu itu.
"Aku. Ingin. Membantu." Sasuke kali ini menekankan setiap kalimat yang ia ucapkan.
Hinata hanya menghela napas pasrah. Bagaimanapun juga yang sedang ia hadapi adalah pangeran Uchiha. Akan susah untuk menolak segala keinginannya.
"Baiklah. To-tolong potongkan wo-wortel itu panjang-panjang," ucap Hinata akhirnya.
"Aku tidak tau caranya,"
"..."
"..."
'Kalau begitu kenapa mau membantu!' Ingin rasanya Hinata menjerit seperti itu. Namun bukan Hinata namanya jika ia benar-benar menjerit. Hinata lebih memilih menghela napas lagi.
Hinata mematikan kompor yang sedaritadi menyala untuk beberapa saat. Kemudian Hinata menghampiri Sasuke sambil membawa pisau, talenan, dan wortel. Setelah itu, Hinata memperagakan cara memotong wortel kepada Sasuke.
Sasuke hanya diam mengamati tangan-tangan Hinata yang dengan lincah memotong wortel. Sebenarnya, ini adalah pengalaman pertama Sasuke memasak. Di samping curi-curi kesempatan agar Hinata lebih dekat dengannya, ia juga penasaran dan ingin mencoba memasak.
"Lalu jadinya begini. A-apa Anda mengerti?"
"Hn,"
"Ka-kalau begitu, aku mo-mohon bantuannya," ucap Hinata lalu beralih lagi ke kompor yang tadi sempat ia abaikan.
Sasuke menatap Hinata yang kembali melanjutkan acaranya di dekat kompor. Setelah mengamati Hinata beberapa saat, Sasuke mulai memotong-motong wortel seperti yang tadi dicontohkan Hinata. Ternyata cukup sulit juga memotongnya agar ukurannya sama. Bahkan tak jarang jari-jari Sasuke tergores pisau.
'Kukira ini mudah,'
"Sudah," ucap Sasuke akhirnya.
"Terima kasih," ucap Hinata lalu menghampiri Sasuke dan mengambil potongan-potongan wortel hasil karya Sasuke.
Sasuke langsung menyembunyikan jari-jarinya yang terluka saat Hinata mendekatnya. Ia tidak mau Hinata melihat luka-luka di tangannya.
"Nah, setelah ini tinggal menumisnya,"
Sasuke kembali mengamati Hinata. Sepertinya Hinata tidak menyadari bahwa Sasuke menyembunyikan jari-jarinya. Hinata bahkan tidak berkomentar tentang hasil karyanya itu.
"Oh iya Sasuke-sama. Setelah ini biarkan aku mengobati jari-jarimu, ya," ucap Hinata tanpa mengalihkan perhatiannya dari masakannya.
"Khh,kau tau ya,"
"Hihihi, soalnya Naruto-kun juga melakukan hal yang sama saat pertama kali membantuku," ucap Hinata sambil bernostalgia.
Lagi-lagi Sasuke kesal. Kenapa nama pemuda kuning itu disebut-sebut sih?
"Nah, makanan sudah selesai,"
Kemudian Hinata meletakkan makanannya dan mengambil kotak P3K lalu mengobati jari-jari Sasuke yang terluka. Hinata sejujurnya cukup kagum dengan pangeran di hadapannya itu. Memang ini pengalaman pertama sang pangeran memotong wortel. Namun, jika dibandingkan dengan Naruto saat pertama kali membantu Hinata, sang pangeran jauh lebih terampil. Bahkan luka yang didapati tidak sebanyak Naruto.
"Hoaaam. Pagi Hinata-chan, Sasuke-sama,"
"Selamat pagi, Naruto-kun,"
TOK TOK TOK
"Iya, sebentar,"
Begitu Hinata membuka pintu, Hinata langsung disambut dengan sebuah pelukan erat oleh seorang wanita berambut merah panjang. Tak jauh dari mereka, ada seorang pria berambut pirang.
"Hinata-chaan!"
Hinata kaget, begitu juga Sasuke, dan rasa kantuk Naruto langsung menghilang begitu melihat kedua orang yang pagi-pagi datang ke rumah Hinata.
.
.
.
Chapter empat telah hadir...
Hehehe... saya senang banyak yang menikmati cerita ini. Maaf kalo alurnya kecepetan. Maaf juga kalo pendekripsiannya kurang jelas.
Tapi...
Terima kasih telah membaca cerita ini.
Btw, kemungkinan chapter-chapter selanjutnya bisa lama update. Idenya lagi kena macet...
Yap, saya tunggu reviewnya lagi ya...
Terima kasih.
