"Sakumo dan Kaa-san ingin menjodohkanmu dengan putra bungsu keluarga Uchiha, namanya Uchiha Sasuke."
"Ap-apa?!"
"Calon kakak tirimu, Kakashi itu, dia juga sudah setuju dengan perjodohan ini."
"H-haaahh?!"
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: AU, OoC, banyak pairing minor, Rated M untuk bahasa kasar dan mungkin 'menjurus', sama sekali tidak menjamin kandungan lemon, Sekuel dari I For You. Maaf atas alur waktu yang kurang jelas, karena author membuatnya secara spontan.
.
.
Crossing Field
~Chapter 4: Bunga di Semak Belukar, part 1~
by Fei Mei
.
.
"Hinata, ini nasi gorengmu..." ujar Temari ketika memasuki kamar sahabatnya lagi. Gadis itu melihat Hinata berwajah muram sambil tetap menggenggam ponselnya. "Ada apa?"
"Kaa-san dan Sakumo-san berniat menjodohkanku dengan Uchiha Sasuke, mahasiswa baru di kelas kita itu," ujar Hinata.
"EEEHH?!" pekik Temari. "Sakumo-san itu, eh, dia ayahnya Kakashi, kan? Lalu? Lalu Kakashi sudah tahu tentang ini?"
"Bukannya tahu lagi, Kaa-san bilang dia malah sudah setuju!" raung Hinata pelan. "Aku harus segera telepon Kakashi!"
"Jangan!" sergah Temari saat sahabatnya mulai mencari nomor Kakashi pada kontak ponselnya. "Dia sedang seminar sekarang."
"Kau tahu darimana?" tanya Hinata sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Sasori yang bilang tadi siang, dia sendiri juga ikut soalnya..." jawab Temari pelan.
Pada akhirnya Temari tidak bercerita banyak tentang dirinya dan Sasori pada Hinata. Yah, takutnya Hinata tiba-tiba ingin menelepon Kakashi lagi jika Temari tidak sengaja menyebut pria itu.
.
.
Pada malam yang sama, Sasori sedang menumpang di kamar kos Kakashi. AC di kamar Sasori sedang rusak, dan satu-satunya pemilik kamar di rumah kos itu yang ia kenal ya, hanya sepupunya sendiri, Kakashi. Pria berambut perak dengan gaya melawan gravitasi itu menerima sepupunya dalam kamarnya dengan cukup berat hati. Habisnya mau bagaimana lagi? Sasori adalah saudaranya sendiri, walaupun sepupu, ia tidak tega menolak pria berambut merah itu untuk menginap sementara waktu di kamarnya.
Keduanya sedang sibuk berkutat dengan laptop masing-masing. Entah apa yang di lakukan Sasori dengan laptopnya, yang jelas Kakashi sedang iseng-iseng membuka internet, mencari bacaan.
Tiba-tiba Kakashi berpikir untuk membuka akun blognya lagi yang sudah tak dibukanya sejak dua tahun lalu. Dia memang tidak pernah menulis entry apa pun pada blognya sih, tapi entah kenapa ia merasa rindu saja kejadian saat ia menjadi seorang 'Takoyaki Bulat'. Hmm...kira-kira bagaimana kabar 'Pecinta Kucing' dan 'Bunga di Semak Belukar'?
Ia tidak penasaran dengan kabar 'Double Purple', 'Water Canon', 'Mr White Hair', dan 'Supre RED Hair'. Jelas saja. 'Double Purple' adalah Hyuuga Hinata, kekasihnya sendiri. Ia tinggal menelepon gadis itu saja jika ingin tahu kabar si gadis. 'Water Canon' adalah Temari, Hinata yang memberitahunya. 'Mr White Hair' adalah Mitarashi Anko, yang telah menghapus akun blognya sendiri entah kenapa. Hubungan Anko dan Kakashi tidak seburuk dulu, setidaknya mereka menyandang status 'teman' untuk satu sama lain. Anko akhirnya merelakan Kakashi untuk Hinata, dan berkata pada ayahnya dan Hatake Sakumo untuk membatalkan rencana pertunangan itu. Sedangkan 'Super RED Hair' sendiri adalah sepupu Kakashi yang sedang menumpang di kamar kosnya.
"...eh..?" gumam Kakashi, saat ia sedang membaca entry baru di akun blog 'Bunga di Semak Belukar'.
"Apa?" tanya Sasori yang ternyata bisa mendengar gumaman saudaranya. "Kenapa?"
Sasori berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Kakashi, melihat layar laptop pria itu.
"Hm? 'Bunga di Semak Belukar'?" tanya Sasori melihat nama blog yang sedang dilihat Kakashi.
"Sasori, kau ingat ceritaku tentang ayahku akan menikahi ibunya Hinata?" tanya Kakashi, dijawab anggukan kepala Sasori. "Entry blog ini isinya mirip dengan yang dialami Hinata. Maksudku, coba kau baca. 'Bunga di Semak Belukar' adalah seorang gadis dari jurusan sastra –ia tulis itu di biografinya-, lalu ia tulis bahwa ibunya akan menikah dengan seorang duda yang memiliki seorang putra yang bekerja sebagai dosen sastra!"
"Mmm...oh, wow...dia tidak mungkin Hinata, kan?" tanya Sasori bingung.
"Hinata punya seorang adik perempuan, namanya Hanabi, dan ia masuk jurusan sastra juga. Kalau tidak salah Hinata lebih tua 4 tahun dari Hanabi..." ujar Kakashi.
"Maksudnya kau berpikir blog ini adalah milik adik Hinata itu?" tanya Sasori lagi. "Yah, bisa jadi, sih..."
"Ini bahaya!" kata Kakashi. "Maksudku, kalau ini memang dia, kupikir dia pasti tahu Hinata adalah Double Purple, dan yang ia ceritakan di blognya adalah tentang aku!"
"Jangan pesimis dulu, lah. Belum tentu ia tahu, kan?" kata Sasori menenangkan, kemudian ia duduk lagi dan memangku kembali laptopnya. "Omong-omong, tadi ayahmu menelepon lagi?"
"Iya, ia tanya tentang Uchiha Sasuke," jawab Kakashi. "Biacara tentang rencana perjodohannya dengan Hinata.
"Hah?! Hi-Hinata akan dijodohkan dengan Sa-Sasuke?!" tanya Sasori terkejut. "Dan, dan kenapa kau terlihat tenang begitu? Kau tidak mungkin setuju, kan?"
"Ayahku terus-terusan bicara tanpa henti –aku tak bisa mengutarakan ketidaksetujuanku. Dan akhirnya aku kesal, aku pun dengan cepat mengatakan 'aku tidak setuju Hinata dijodohkan dengan Uchiha' disela-sela omongannya dengan sedikit nada membentak, lalu langsung kututup saja teleponnya."
"Seriusan? Terus Hinata sudah tahu tentang rencana perjodohannya dengan Sasuke?"
"Entah. Kupikir ibunya mungkin akan memberitahunya dalam beberapa hari ini..."
.
.
Keesokkan harinya Hinata dan Temari masuk kelas pagi. Tim dosen yang mengajar di kelas yang keduanya masuki itu adalah Sarutobi Asuma, Morino Ibiki, dan Shizune –dosen utamanya adalah Ibiki. Pada kesempatan kali ini, sang dosen utama malah tidak dapat hadir –hanya Asuma dan Shizune saja yang hadir. Aneh sekali, pikir para mahasiswa, karena Ibiki adalah satu-satunya dosen –dosen jurusan sastra yang mengajar mereka- yang tidak pernah absen. Walaupun sedang sakit, ia tetap hadir untuk mengajar. Walaupun anggota keluarganya sedang di rawat di rumah sakit, ia tetap menyempatkan diri untuk masuk ke kelas. Apapun yang terjadi, Ibiki selalu ada pada jadwal mengajarnya. Sungguh, sudah seperti dosen teladan.
Karena Ibiki tidak hadir, maka ditunjuklah seorang dosen yang menggantikan pria yang memiliki goresan luka di wajahnya itu. Dosen pengganti tersebut bukanlah Asuma maupun Shizune, yang adalah anggota tim dosen Ibiki. Yang ditunjuk malah Kakashi. Entah ini yang namanya takdir atau nasib, karena nyatanya kelas Hinata cukup sering dimasuki dosen muda bernama Hatake Kakashi itu.
Pukul 7.10, Kakashi dengan tumben-tumbennya sudah ada di dalam kelas. Biasanya ia paling cepat sampai dikelas 1 menit setelah jadwal kelas dimulai. Kursi-kursi di kelas itu sudah terisi, tetapi tidak ada yang berani berbicara keras-keras –mereka takut karena ada Kakashi dalam kelas.
"Jadi, kalian sudah tahu nilai mid semester kalian yang kemarin?" tanya Kakashi berbasa-basi, masih duduk di kursinya.
"Belum semuanya, sensei!" jawab murid laki-laki berbadan bulat, Chouji.
"Baru pronunciation dan communicative skill, sensei!" jawab seorang gadis berambut merah panjang, Tayuya.
"Oh, mata kuliah yang sering saya bawa di kelas kalian, short essay writing, belum diberitahu nilainya, ya?" tanya Kakashi lagi, dijawab gelengan kepala para mahasiswa. "Yang berhak menilai midsemester kalian bukan saya, sih, tapi tadi pagi sebelum masuk kelas ini saya sudah melihat nilai kelas kalian untuk matkul itu."
"Banyak yang bagus, tidak, sensei?" tanya seorang mahasiswa berambut kuning, Naruto.
"Hmm...yang dapat nilai 90an ada, tapi hanya tiga orang saja," jawab Kakashi. "Ada lima orang yang mendapat 80an dan 70an. Sisanya, 42 orang, mendapat nilai 60 sampai 30. Mengecewakan.
"Saya bingung, kenapa masih ada yang mendapat nilai 30. Yang bodoh itu sebenarnya siapa, ya? Dosen atau mahasiswanya? Kalau dosennya yang bodoh sepertinya tidak, karena toh ada mahasiswa yang mendapat nilai 90 ke atas. Berarti yang bodoh adalah 42 mahasiswa ini.
"Please, kalian ini sudah di tahun terakhir dalam program S2 sastra. Kalau lulus dengan nilai pas-pasan, bahkan pernah mendapat nilai seperti ini, mau jadi apa kalian di luar nanti? Mau jadi sampah masyarakat? Pikir!"
Oh, ya Tuhan, begini lagi. Berceramah dengan menggunakan kata 'bodoh' dan 'sampah' sambil tersenyum sinis. Walau pun sudah berkali-kali mendengar ceramahan Kakashi di kelasnya para warga kelas ini tetap saja jadi kesal.
Akhirnya jam menunjukkan pukul 7.20. Asuma dan Shizune sudah ada di kelas. Kakashi pun mengajar kelas itu sampai 100 menit ke dapan. Kelas berlangsung dengan normal, seakan di awal Kakashi tidak menceramahi mereka. 100 menit berlalu begitu saja –Kakashi cuap-cuap sendiri di depan, para mahasiswa melihat ke arah papan tuis karena takut ditegur Kakashi.
Setelah kelas berakhir, Kakashi keluar begitu saja. Aneh, pikir Hinata. Mungkin tidak hanya Hinata saja yang berpikir demikian. Pasti Temari dan teman-teman sekelasnya juga merasa ada yang janggal. Apanya yang janggal? Kakashi keluar kelas begitu saja. Iya, mananya yang janggal? Letak kejanggalannya adalah Kakashi main keluar begitu saja, tidak menyuruh Hinata membawakan kopi ke kelasnya. Itu.
Seandainya ini terjadi sebelum Hinata tahu bahwa Kakashi adalah 'Takoyaki Bulat' sewaktu 2 tahun yang lalu, mungkin Hinata akan kegirangan sendiri, berpikir dirinya lepas dari pem-bully-an dosennya. Tetapi sekarang gadis ini malah bingung sendiri. Jadilah gadis berambut ungu panjang itu berjalan sendiri ke ruangan Kakashi, sekalian ingin bertanya tentang Sasori.
"Siapa?" tanya Kakashi dari dalam, saat Hinata mengetuk pintunya.
"Hyuuga Hinata," jawab Hinata berhati-hati. Jelas, ia tidak mungkin menjawab hanya 'Hinata' saja, karena siapa tahu saja ada orang lain di dalam.
"Hhh..." Kakashi menghela nafas beratnya, begitu keras hingga Hinata bisa mendengarnya dari luar. "Masuklah, Hinata."
Gadis itu pun membuka pintu kayu di hadapannya. Ia melihat Kakashi sedang menghadap layar komputernya, seperti biasa.
"Ada apa? Kau mau berinisiatif membawakan kopi untukku?" tanya Kakashi.
"Kau tahu tentang perjodohanku dengan Uchiha Sasuke?" tanya Hinata.
Tentu saja, ayahku sudah membicarakan hal itu padaku," jawab Kakashi.
"Dan kau setuju?" tanya Hinata lagi.
"Tentu saja tidak."
"Okaa-san bilang kau sudah menyetujuinya."
"Ayahku pasti yang bilang pada ibumu bahwa aku setuju –padahal aku tidak setuju sama sekali."
"Kalau kau memang tidak setuju, kenapa kau bisa begitu tenang?!"
"Maksudnya kau tidak percaya, begitu?" tanya Kakashi yang kesabarannya tidak panjang. "Terserah kau mau percaya aku atau ibumu. Yang jelas jika kau lebih percaya ibumu, kau bodoh!"
Hinata merasa seperti baru saja ditampar oleh kata-kata Kakashi. Kenapa pria itu jadi marah? Bukankah harusnya ia sendiri yang marah? Kesal, Hinata pun langsung keluar dari ruangan pria itu. Ia berniat langsung kembali ke kosnya, berhubung hari itu ia sudah tidak ada kelas lagi.
Sesampainya di depan pagar rumah kosnya, Hinata melihat ibu adiknya sudah menunggu dia.
"Kaa-san? Hanabi?" tanya Hinata sambil menghampiri ibunya. "Sedang apa kalian disini?"
"Kaa-san ingin mengajakmu makan malam di rumah Sakumo-san!" jawab ibu Hinata.
"S-Sakumo-san?" gumam Hinata. Rumah Sakumo...berarti rumah Kakashi...?!
"Iya, Sakumo-san mengajak Kaa-san dengan kau dan Hanabi untuk makan malam di rumahnya malam ini. Putranya, Kakashi, juga akan ikut makan malam. Katanya mereka juga akan mengajak keluarga Uchiha untuk makan malam bersama dengan kita!" jelas ibu Hinata senang.
"Apakah...apakah aku harus...?"
"Tentu saja kau harus pergi! Besok pagi-pagi biar Sasuke-kun yang mengantarmu ke kampus, toh dia juga sekelas denganmu, kan?" kata ibu Hinata. "Nah, sekarang kau cepat berberes dan mandi. Kaa-san sudah membawakan gaun untuk kau pakai."
"Gaun?!"
"Hanya gaun pendek biasa. Jangan khawatir, berlengan kok! Yah, tapi bagian belakangnya ada yang transparan..."
"Transparan?! Kaa-san!"
"Ya ampun, jangan khawatir! Pria muda disana hanya ada calon kakak tiri dan calon tunanganmu saja, tidak masalah, kan?"
.
'Justru itu masalahnya, Kaa-san!' rutuk Hinata dalam hati.
.
.
Pukul tujuh malam, akhirnya ketiga orang bermarga Hyuuga itu tiba di kediaman Hatake. Rumah itu begitu besar dan bercat putih. Dan Hinata pun baru teringat bahwa Temari pernah bilang Kakashi adalah anak tunggal seorang konglomerat, yang uangnya cukup bahkan lebih untuk tujuh keturunan.
Ketiganya kini masuk ke kediaman Hatake dipandu oleh seorang pelayan rumah itu, dibawanya mereka langsung ke ruang makan. Di ruang makan, Hinata bisa langsung melihat Sakumo dan Kakashi sudah duduk di kursi mereka. Melihat ketiga perempuan ini datang, Sakumo dan putranya pun berdiri menyambut mereka.
"Maaf kami agak terlambat, tadi agak macet..." kata ibu Hinata.
"Ahaha, jangan khawatir, keluarga Uchiha juga belum datang!" kata Sakumo, kemudian mempersilahkan ketiganya duduk.
Sakumo duduk di paling ujung. Ibu Hinata duduk di sebelah Hinata dan berseberangan dengan Kakashi. Di sebelah Hinata ada Hanabi.
Sekitar sepuluh menit berlangsung sambil menunggu datangnya keluarga Uchiha. Ruang makan itu hanya dipenuhi oleh suara obrolan Sakumo dan calon istrinya. Kemudian pintu ruang makan terbuka lagi. Seorang pria yang mungkin seumuran dengan Kakashi masuk ke ruangan itu. Pria itu berambut biru gelap yang nyaris hitam. Dan kebalikan dengan gaya rambut Kakashi yang melawan gravitasi, rambut pria satu ini jatuh lurus, panjang dan diikat rendah.
"Ah, Itachi!" sapa Sakumo sambil berdiri. "Semuanya, ini adalah Uchiha Itachi, pemimpin Grup Uchiha, menggantikan ayahnya yang baru saja pensiun."
Di belakang Itachi ada seorang pemuda yang seumuran dengan Hinata. Mirip sekali dengan Itachi, tapi ya, lebih muda. Hinata dan Kakashi kenal wajah itu. Itu adalah wajah Sasuke.
"Nah, Hinata, kau pasti sudah kenal dengan Sasuke, kan? Kalau tak salah dia jadi mahasiswa baru di kelasmu," ujar Sakumo, Hinata hanya mengangguk dan melempar senyum kecil pada Sakumo. "Kalian hanya berdua saja, Itachi?"
"Tidak," jawab Itachi sembari duduk di kursi di sebelah Kakashi. "Masih ada saudara perempuan kami, ia sedang di kamar kecil, sebentar lagi juga kemari."
"Aaahh...ya, ayahmu pernah cerita bahwa beberapa tahun yang lalu ia mengadopsi seorang gadis yang baru ditinggal mati kedua orangtuanya..." ujar Sakumo.
"Ah, itu Nee-san," kata Sasuke sambil melihat ke arah pintu yang terbuka.
Seperti biasa, kalau mendengar pintu terbuka, orang-orang akan melirik ke arah pintu dan melihat siapa yang baru saja datang. Itachi, Sasuke, Sakumo, dan ibu Hinata melemparkan senyum mereka pada seorang perempuan yang baru memasuki ruangan itu. Hinata dan Hanabi tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Berbeda dengan yang lainnya, mata Kakashi terbelalak melihat perempuan itu.
Tubuh perempuan itu tidak begitu tinggi ataupun rendah. Kulitnya putih, walau tidak seputih keluarga Hyuuga. Senyumnya terpampang jelas di wajahnya, seakan bibir merahnya sudah diciptakan untuk selalu tersenyum. Rambutnya hanya smpai sebahu, warnanya biru, dan menggunakan jepitan bunga berwarna biru di rambutnya yang terihat halus itu.
Kakashi sontak berdiri dan ia menggumamkan sesuatu.
.
"...Konan...!?"
.
.
~TBC~
.
.
Omaigat, ini kayak drama sinetron banget ya jadinya? Orang udah mati, ternyata masih idup. LoL. Tapi jangan khawatir, fict ini gak akan sampe 1k chapter kok, gak kuat juga nulisnya. Wkwk.
Jadi, Konan ternyata masih hidup! Bagaimana dengan Kakashi? Terlebih lagi, bagaimana dengan Hinata? Apakah 'Bunga di Semak Belukar' memang adalah Hanabi? Saksikan di episode berikutnya! #plak
Review!
