Author : ah ya… author jarang aktif ada di sini, maklumin, sekarang author udah SMA jadi lebih sibuk
Felix : Makanya, like jangan bikin banyak, like cerita dong!
Author : Iya… iya, tau Felix…
Felix : Like, author kayaknya lagi lemes totally!
Author : Soalnya… udah lama nggak nulis, jadi kaku juga, rasanya kayak penulis newbie nih!
Disclaimer : Hetalia miik Hima-papa
Warning : OOC(sedikit), maaf kalo cerita ngawur,hancur dan pengen dilempar sama tomat (Romano : CHIGII!) abal, aneh, AWAS! Typo(s) yang pastinya ada, dll…
Beberapa bulan kemudian…
Bahan-bahan membuat cokelat sudah tertata manis dihadapannya. Apron berwarna putih sudah dipakainya. Sekarang, apa lagi yang harus dilakukan selain memulainya? Langsung saja ia mengambil panic berisi air secukupnya serta beberapa batang cokelat berbeda warna. Tak lupa juga ia mengambil mangkuk tahan panas untuk melelehkan cokelatnya. Karena yang ia buat adalah cokelat special, jadi buku resep sudah menemaninya sejak awal.
Kedua mata emerald-nya menatap buku resep serta bahan-bahan dan juga timbangan secara bergantian. Ia benar-benar hati-hati dalam mengukur karena jika salah sedikit pastinya cokelatnya gagal. Dan masalahnya ia hanya punya bahan-bahan ini. Itu karena semua bahan-bahan tersebut dibelinya menggunakan uang yang disisihkannya sedikit demi sedikit dan jika gagal maka tamatlah riwayatnya. Ia mengigit bibir bawahnya karena merasa kesulitan saat mengukur bahan-bahannya.
Akhirnya, setelah beberapa menit bekerja keras. Ia berhasil membuat cokelat, walaupun sebenarnya yang berhasil hanya kurang lebih tujuh butir saja. Tapi, menurutnya itu sudah cukup baik setelah kerja keras(?) berjam-jam ditambah hacur semua dimana-mana, jadi bisa ditebak seperti apa berantakannya. Tak lupa kotak cokelat sudah disiapkannya. Kotak berisi 5 butir terisi penuh oleh makanan manis itu. Tapi sebelum keluar, tentunya ia membereskan kekacauan di dapur terlebih dahulu.
Mencuci semua peralatan, membuang sampah dan terakhir mengelap meja serta mengepel lantai. Ia melihat jam yang ada di dapur, ternyata jam dua pagi. Ia menghela nafas, kali ini ia hanya tertidur dua jam. Untungnya besok sekolah di bebaskan karena merayakan hari valentine. Dia sudah membayangkan semua kesibukan serta beberapa siswa dan siswi yang kegirangan. Jadi, bisa dibilang di Hetalia Academy saat hari Valentine, siswa maupun siswi bisa saling memberi cokelat. Kecuali saat White Day, maka hanya siswa saja yang memberi cokelat atau hadiah apapun bagi perempuan.
Memikirkan ia akan memberikannya pada Roderich, membuat mukanya memerah. Dan ia menggelengkan kepalanya saat mengingat jam berapa sekarang. Cepat-cepatlah ia berganti pakaian menjadi pakaian tidur dan akhirnya membawa dirinya ke alam mimpi.
"Eliza" Sebuah suara perempuan memanggilnya
"Eliza…"
"ELIZA!" Suara tersebut akhirnya membentak, ternyata teman sekamarnya yang dari Belgium, Bella
"Iya, iya… jangan teriak begitu, sih! Masih pagi" Sanggah Eliza
"Siapa yang bilang masih pagi, hah? Ini jam delapan dan katanya kau mau member cokelat kepada seseorang? Ayolah!"
"J…jam delapan? UWAAAAAAAAAAAAHHHH! Kesiangaaaannnn!" Eliza bangun dengan cepat dan langsung menuju kamar mandi.
Mengingat jam yang sudah melebihi rencana, ia tidak bisa mandi lama. Memakai shower, ia membersihkan badan. Kemudian menggosok giginya dan memakai baju. Cokelat yang dibuatnya tadi malam sudah dipegang dengan erat. Ia juga melihat Bella sudah menenteng cokelat di tangannya. Setelah mengunci pintu, mereka langsung kabur menuju taman.
"Bella, cokelat ditanganmu untuk siapa?" Tanya Eliza ingin tahu
"Oh, ini? Umm… buat Antonio sama Lovino" Jawab Bella tersipu malu
"Kok dua-duanya?"
"Habis Antonio suka cokelat sedangkan Lovino imut menurutku"
"Alesan yang nggak masuk akal…" pikir Eliza
Dilain tempat, di asrama Hetalia University
Ludwig sedang mendapat telepon, mukanya terlihat khawatir dan sesekali ia mengangguk. Ia membalas telepon itu dengan bahasa Jerman yang cukup panjang dengan nada khawatir juga. Tentu saja hal ini membuat perhatian kakaknya tertuju padanya. Gilbert menepuk pundak adiknya. Selanjutnya Ludwig meminta orang yang menelepon tadi menunggu.
"Bruder, salah satu pabrik kita di Finlandia terbakar habis. Tidak ada yang tahu penyebabnya dan kita diminta kesana secepatnya" Ludwig bertanya pada yang meneleponnya lagi
"Sekarang… juga?" Tanya Gilbert tak yakin
"Ja bruder! Dan jika bisa kau mempersiapkan diri, kalau aku sih sudah"
"Kenapa harus hari Valentine? ! Kenapa tidak besok saja? Dasar tidak awesome"
"Bruder, aku tahu hal itu… tapi ini kan kecelakaan, jadi tak ada yang bisa memprediksi"
"Ja… ja… aku tahu, Ludwig"
Gilbert langsung melesat ke kamar mandi, kemudian mengeringkan rambutnya dan memakai baju. Saat menyisir, ia sebenarnya memikirkan perkataan Eliza sewaktu itu. Oh ya, bicara soal Eliza, ia sudah lama tidak bertemu gadis yang selalu membawa penggorengan kemana-mana itu. Jadi ingin tahu, apakah gadis itu membuat cokelat atau tidak. Jika ya, untuk siapa? Gilbert langsung menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran anehnya tersebut. Tidak mungkin ia jadi terus kepikiran gadis yang seperti itu,
-kan?
"Bruder! Ayo cepat, kupikir mobil dari perusahaan akan menjemput sebentar lagi" Ludwig masih saja mengkontak orang kepercayaannya
Gilbert tak membalas, ia keluar dari kamarnya dan sudah berpakaian rapi. Memakai baju formal walaupun tak memakai dasi. Adiknya mengangkat sebelah alisnya.
"Kau tak pakai dasi, bruder?" Tanya adiknya
"Aku lupa menaruh dasiku, cepatlah kita turun" Gilebrt sudah melangkah duluan
Si adik menghela nafas, ia tahu bahwa kakaknya sebenernya sedang kecewa. Yah, mau diapakan lagi memang kebakaran itu salah satu resiko murni yang pastinya tak ada satupun dapat mengetahuinya. Ludwig hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti Gilbert dari belakang. Banyak gadis-gadis menyapa mereka bahkan ada yang mencoba memberikan cokelat. Tapi, untuk pertama kalinya ia menolak semuanya. Bahkan ia tak menyapa gadis-gadis tersebut. Hal ini justru membuat Ludwig sedikit khawatir.
Masalahnya, sang kakak sangat berbeda dan terkesan keluar dari karakternya. Biasanya ia akan membalas sapaan gadis-gadis berisik itu dan dengan narsisnya mencoba menggoda juga. Tapi melihat sang kakak seperti ini, ia takut kakaknya terkena suatu penyakit. Atau mungkin ia malah menelan obat-obatan sehingga berhalusinasi. Langsung saja tangan Ludwig bertemu wajahnya.
"Itu tidak mungkin" Pikir Ludwig
Mereka meniggalkan sekolah megah tersebut dengan keheningan diantara keduanya.
Gilbert merasa busan, teramat sangat. Ia sebenarnya lebih memilih untuk menulis diari atau blognya. Untungnya si burung kecil yang selalu bertengger di kepalanya cukup menghibur. Selain ia elus-elus dan didekatkan ke pipi, ia bahkan melempar-lempar keatas layaknya bola. Ludwig disampingnya justru melihat kakaknya dengan tatapan merinding. Benar-benar sang kakak sudah keluar dari karakternya dan kelewat batas normal.
"U…umm… Bruder, ada apa denganmu sih? Se…sepertinya ada yang salah?" Ludwig bertanya dengan nada yang pelan
"Yah, merasa bosan saja" Jawab Gilbert simpel
Ludwig tak mau bertanya apa-apa lagi. Apalagi melihat bandara sudah ada di hadapan mereka. Langsung saja Ludwig membeli tiket VIP menuju Finlandia, sesekali ia melihat jam tangannya. Setelah mendapat tiket, Ludwig mengajak kakaknya untuk naik pesawat.
Dalam pesawat, keduanya tak ada yang angkat suara. Benar-benar hening dan sepi. Gilbert melihat keluar, gumpalan awan putih menghiasi pandangannya. Ludwig meminta kopi, entah kenapa kelakuan kakaknya yang berbeda ini membuatnya pusing. Apalagi tekanan dari keadaan yang tidak menguntungkan ini. Diam-diam dalam pikirannya ia merutuki bencana yang datangnya tiba-tiba. Pastinya, serentetan kata 'menderita kerugian besar' sudah masuk list utama dalam pikirannya. Bukan hanya pikiran, surat kabarpun pasti akan memberitakan hal ini. Disaat inilah ia berharap jadi orang biasa yang tak punya apa-apa selain keluarga utuh nan bahagia, sayangnya kedua orang tuanya sudah memiliki perusahaan besar sejak ia kecil, jadi ia sedikit terlantar. Namun apa daya, memang nasi telah jadi bubur dan iapun sudah mendirikan perusahaannya sendiri, bukan? Jadi, resiko macam begini pasti akan dialaminya. Seperti biasa, ia pasti akan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya jika sudah berada dalam titik lelah batin.
Gilbert juga mulai bosan, sesekali ia menguap lebar karena rasa kantuk yang mulai menyerang. Pada akhirnya ia sudah melayang ke alam mimpi.
"Bruder! Ayo bangun, kita sudah sampai" Ludwig mengguncangkan badan kakaknya
"Iya, iya aku bangun" Gilbert mengucek matanya, tak lupa menggerakkan kepalanya sehingga rambut keperakannya bergerak dan merapikannya menggunakan tangan
Baru saja kedua bersaudara itu melangkah, angin dingin khas Negara Nordik sudah menyapa meraka. Gilbert langsung saja memaki keadaan Negara tersebut memakai bahasa Jerman. Adiknya swetdrop, ia juga lupa, seharusnya membawa jaket tebal kalau datang ke Negara ini. Tapi, untungnya ada orang dari kantor cabang di Finlandia yang membawakan mereka trench coat.
"Bagaimana keadaan diasana?" Ludwig sedang mengancingkan trench coat-nya
"Yah, parah tuan. Untungnya korban terparah hanya luka-luka dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit, Beilchmidt-san" Disampingnya seorang wanita yang berambut hitam lebih pendek darinya menjawab pertanyaan Ludwig
"san? Sepertinya kamu dari Asia ya? Bukannya rasis, tapi hanya ingin tahu saja"
"Memang, aku baru dipindah ke kantor Finlandia dua bulan yang lalu. Namaku Sakura Honda"
"Hmm… baiklah, berapa kerugiannya?"
"Aku belum mengkonfirmasi tentang hal itu, Beilschmidt-san. Tapi yang pasti, ditaksir kerugian mencapai sekitar satu juta Euro"
"Ach, I see…"
"Go…gomenasai, ah… ano… maksudku maafkan aku"
"Tak perlu minta maaf, Frau Honda, semuanya kecelakaan"
"U..umh!" Wanita yang bernama Sakura itu membungkuk, ia kemudian mundur ke belakang Ludwig
Ludwig menggelengkan kepalanya, "Ada-ada saja…"
Mereka langsung saja masuk ke mobil yang menjemput. Sama seperti tadi, Gilbert masih diam tak mau bicara. Ternyata mood-nya masih jelek juga. Entah sudah berapa kali ia menghela nafas hari ini.
"Bruder, aku tahu kita melewatkan valentine… tapi memangnya ada orang yang special sampai ingin ditunggu seperti ini?" Kejanggalan kakaknya membuat keingintahuan Ludwig mencapai batasnya
"Ja, ja… West, lama-lama jadi kepo! Aku memang menunggu seseorang memberikan cokelatnya sih… Walaupun pasti si prissy aristocrat yang justru dapat cokelatnya itu, tidak awesome" Gilbert menopang dagunya dengan pandangan bosan ke luar mobil
"Maksudmu, kamu cemburu, bruder?"
"A…apaan sih? ! A…aku tidak cemburu! Cemburu itu perasaan tidak awesome, tahu!"
Ludwig justru tersenyum geli dan pertama kalinya sang kakak melihat hal ini
"A…apaan sih? Lud, sekarang kau jadi tidak awesome!"
"Mukamu merah, bruder"
Langsung saja muka Gilbert memandang Ludwig masam, sedangkan justru ia sebenarnya ingin tertawa.
"Ja aku mengaku, kau puas, hah? Huh! Tidak awesome"
Mobil itu berhenti di depan tempat kejadian perkara. Benar-benar sudah rata dengan tanah. Bangunan yang semula sangat luas sudah tak bersisa. Hanya meninggalkan tumpukan abu serta arang berwarna hitam. Ludwig sweatdrop, saat ia tak angkat suara, seorang anak kecil yang memakai sweater berwarna merah muda mendatanginya. Ia menangis sekaligus memeluk suatu barang. Ludwig menyadari anak itu dan mendekatinya.
"Schatz, mana papa-mu?" Ludwig tahu kalau anak kecil itu sebenarnya anak dari orang kepercayaannya
"D…dia ada *hiks* ada di *hiks* rumah sakit, aku *hiks* disuruh untuk memberikanmu ini" Gadis itu memberikan barang yang ternyata berisi foto
Ludwig melihat satu persatu foto tersebut. Ia awalnya tak mengerti, namun tulisan bahasa Jerman dibalik salah satu foto menjelaskannya. Ia hanya mengangguk dan membisikkan sesuatu hal yang menyebabkan mata kakaknya melebar.
"Was? ! kau serius, West? Dasar orang tidak awesome yang kurang kerjaan" komentar Gilbert
"Itu artinya kita bisa menghabiskan seminggu disini, untuk menyelesaikan semua masalah" Si adik memasukkan kembali foto-foto tersebut ke amplop cokelat.
"Haaaahhhh" Gilbert mengacak rambutnya kesal, ia misah-misuh tak jelas, mengikuti adiknya menuju hotel terdekat yang tentunya menjadi tempat mereka tinggal sementara di Finlandia yang dingin tiada tara.
Hetalia Academy, puncak perayaan Valentine
"Roderich… Roderich, tolong terima cokelatku" Elizaveta, gadis dari Hungaria sedang bicara pada dirinya sendiri, berjalan sambil memeluk cokelat buatannya dalam dekapannya
"Emma malah meninggalkanku lagi! Ukkhh… bagaimana memberikannya ke dia kalau begini trus… ini perasaan aja atau, si Mr. sok awesome itu nggak keliatan batang hidungnya ya? Nah, kenapa malah mikirin si laki-laki menyebalkan nan narsis itu, lagi? Seharusnya yang diutamakan ialah Roderich" Pikir Eliza risau
Gadis itu kemudian berlari meninggalkan koridor yang sepi. Tujuannya ialah memberikan cokelat itu sekarang, tapi dijamin, lapangan pasti penuh oleh laki-laki maupun perempuan yang saling memberikan cokelat. Ia mencari orang Austria itu dan ketemu, sayangnya tumpukan berisi cokelat sudah penuh ditangannya.
"Ahh… haruskah kuberikan juga? Tapi melihat tangannya… ahh, kucoba saja" Eliza mendekati laki-laki tersebut
"U…umm, Mr. Edelstein, ma… maukah menerima cokelatku?" Elizaveta menunjukkan cokelatnya dengan wajah yang memerah
"Ahh, cokelat ya? Tapi aku sudah penuh, lagian… belum tentu kumakan, paling-paling kuberikan kepada orang lain atau bahkan jika tak ada yang mau, kau tau lah berakhir dimana" Laki-laki itu dengan santainya berlalu meninggalkan Eliza.
Mendengar perkataan menyakitkan dari laki-laki yang disukainya, Eliza diam ditempat. Badannya terguncang, bahkan matanya mulai memanas serta berair. Tanpa memperdulikan orang yang ditabraknya, ia berlari menuju ruangan asramanya. Menutu pintunya bahkan menguncinya. Ia langsung duduk lemas di lantai, bahkan sudah menangis. Mendengar pengumuman pasangan beruntung saat acara valentine, membuatnya bertambah sedih. Ia menutup jendela serta gordyn-nya. Ia menangis tersedu-sedu. Ia tak percaya perkataan menyakitkan yang dilontarkan, bahkan tanpa mengatakan maaf terlebih dahulu. Mungkin, mungkin saja kalau ada Gilbert, cokelat yang sudah susah payah ia buatkan akan diterimanya dengan senyuman, ah bukan, cengiran khasnya itu. Bahkan mungkin saja ia sudah mengatakan 'awesomenya cokelat ini' padanya.
Mungkin, Gilbert tidak akan melakukannya. Apalagi sifatnya yang baik pada wanita. Bagaimana sewaktu dulu pemuda itu mencoba mengalihkan perhatiannya. Ah, cinta itu memang buta, terkadang membuat siapapun lupa. Membuat siapapun tak menyadari kalau orang yang menyayangimu serta peduli padamu ada di dekatmu. Membuatmu lupa bahwa tidak selamanya orang yang kau sukai akan menerima kasih sayangmu itu. Atau bahkan lebih parahnya memainkannya layaknya suatu hal yang tak berharga. Ia memeluk lututnya erat, membiarkan cairan asin tersebut membasahi pipinya.
"Gilbert, kenapa kau menghilang, padahal… kau pasti akan meledekku habis-habisan karena ternyata orang yang kusukai malah menolak cokelatku mentah-mentah. Mungkin kau akan mengatakan bahwa ini adalah karma atas apa yang selalu kulakukan padamu, mungkin kau akan tertawa sepuasnya, benarkan, Gilbert?" Ia bicara pada dirinya sendiri, entah kenapa rasanya ia sudah menjadi orang tak waras.
"Gilbert… Gilbert… aku… rindu kamu" gumamnya pelan
Di conference room, Hotel Hilton, Finlandia
Gilbert, Ludwig serta rombongan dari perusahaannya sedang mengadakan makan malam. Sebentar lagi mereka akan mengadakan rapat untuk membahas segala hal, mulai dari anggaran yang dikeluarkan untuk para korban serta rencana kedepan untuk pabrik yang terbakar tersebut. Akankah pabrik itu jika dibangun akan direlokasikan atau tetap pada tempat terbakarnya tersebut. Sebenarnya Gilbert setengah hati berada di tempat ini, ia lebih memilih kabur menuju bar terdekat daripada ikut rapat.
Saat disela-sela makannya, ia mendengar suara berbisik memanggil namanya. Ia melihat ke kanan, kiri bahkan kebawah. Membuat koleganya kebingungan dengan tingkah Gilbert.
"Err… tuan Gilbert, kenapa anda malah melihat-lihat ke berbagai arah?" Tanya laki-laki berambut pirang dihadapannya
"kepo!" Pikir Gilbert
"Ahh… tidak apa-apa, aku… hanya merasa ada seseorang yang melihat ke arahku saja" Gilbert berbohong
"ohh… mungkin wanita yang mengejarmu seperti biasa"
"Bukan, dummkopf!"
Ia melanjutkan makannya, tapi bisikan itu muai terdengar lagi. Kali ini lebih jelas serta suaranya terdengar sedih.
"E…Eliza! Itu suara Eliza, aku tak salah lagi! Ada apa? Apa ia terlibat masalah yang parah?"
"Bruder?" Panggil adiknya
Gilbert berdiri dari tempat ia duduk, tentu membuat semua perhatian di meja tersebut tertuju padanya.
"West, aku sedang tidak enak badan. Maaf aku tidak menemanimu untuk rapat kali ini, permisi" Gilbert kemudian meninggalkan meja tersebut.
Keluar dari ruangan tersebut, Gilbert justru langsung berlari. Entah ia akan kemana, yang pasti dalam pikirannya ada satu hal yang ia jadikan prioritas utama.
"Eliza, ada apa denganmu?Sungguh, aku tak tahan mendengar suaramu yang tidak awesome! Bukannya pada awalnya awesome, tapi justru bertambah tak awesome kalau menangis, tahu!" saat berlari meninggalkan hotel, ia bahkan ditatap oleh beberapa orang, tapi ia tak peduli dan tetap berlari.
Author : ahhhh akhirnya selesai dalam waktu dua hari, nggak nyangka saya hiatus lama ya? Maaf saya nggak bales review dulu, maleeesss #digebukreader
Alfred : Lama beudddhhh, Author!
Author : Alfred, kok bisa jadi alay sih?
Alfred : kata Indonesia itu cool, dudette!
Author : itu nggak keren! Makanya jangan percaya sama cewe gaje gitu!
Alfred : umm… Author, kayaknya orangnya dateng tuh!
Author : Hah? *liat belakang* GYAAAA!
Selanjutnya, adegan kejar-kejaran ala Tom and Jerry terjadi
Alfred : yaudah, We want your review guys!
