A VOICE TO YOU

Chapter 4 : I Don't Know

Balasan Review

Sasha Solero 007 : Mohon tunggu dengan sabar ya, terimakasih

Aihi : kenapa ya? Maaf, nanti akan aku jawab di dalam chapter aja, nggak seru kan kalau aku kasih tahu

Aoi Yukki : ehem, karena suatu alasan yang nanti pasti aku ungkapkan. Jadi tunggu saja ya . . .

Nakumi : aku juga suka, jika penasaran, silahkan ikuti chapter selanjutnya . . .

White Squill : iya terimakasih sarannya, tapi aku memang kesulitan membuat narasi, dan akan aku usahakan mengecek ulang *walaupun lebih sering malasnya. Untuk kesalahan penggunaan kata atau tata bahasa, iya terimakasih aku akan membenahinya *meskipun sulit. Tapi Terimakasih sangat karena ini membantuku yang masih awam.

Naomi Koala : dalam lubuk hati Natsu sayang sama Lucy? setuju. Dan terimakasih banyak. Untuk Naomi-san, di chapter 3 aku sudah buat NaLu moment, mungkin di chapter 4 akan aku tambah sedikit. Silahkan dibaca . . .

Ndul-chan Namikaze : tenang, sama author tuh tenang, tarik nafas . . . hembuskan. OK! Natsu nanti juga kena karmanya, dan itu harus! Semua pertanyaanmu ingin sekali aku jawab, tapi kalau aku jawab sekarang, nggak seru dong . . . jadi tolong ikuti chapter selanjutnya, ne?

Fic of Delusion : anda ketinggalan? Tidak masalah, yang penting tetap mengikuti. Aku senang kok. Dan yup! Karena keduanya. Kurasa kamu sudah bisa menebaknya, tapi kumohon rahasiakan ya, biarkan para readers berimajinasi, hehe

Hrsstja : aku memang update seminggu sekali. Dan untuk kekejaman Natsu pada Lucy, memang sengaja kubuat demikian. Kenapa? Kalau nggak gitu nggak gereget. Dan aku juga mulai jatuh cinta sama Sting #Lupakan. Tapi tenang, di chapter 4 ini kuusahakan moment NaLu aku tambah

Shiroi tensi : terimakasih. Begitukah? Memang sengaja aku buat demikian, genrenya aja hurt

.

.

.

Fairy Tail milik Hiro Mashima-sensei

.

.

.

"PULANG" kata Natsu

Lucy terhenyak. lagi-lagi ia dikagetkan oleh sikap Natsu. Tadi Natsu meneriakinya, mencemoohnya, lalu memeluknya, kemudian mencemoohnya lagi dan sekarang memintanya untuk pulang. Lucy sungguh tidak mengerti jalan fikiran Natsu. Melihat Lucy yang tak bereaksi, Natsu segera menarik Lucy untuk kembali. Lucy sadar dan berusaha melepaskan diri, tapi Natsu tetap menariknya dengan kasar tanpa mengindahkan penolakan Lucy sedikitpun.

"Cih! Aku melakukannya bukan karena aku ingin. Tapi kalau kau kabur seperti ini, maka aku juga akan celaka" kata Natsu dalam hati

...

Ditengah hujan yang mengguyur kota Magnolia malam itu. Natsu menggenggam erat tangan Lucy. Erat dan sangat erat. Benak Lucy berkecambuk. Hatinya terasa sakit ketika mendengarkan semua perkataan Natsu, tapi sikap Natsu yang berubah tiba-tiba, memeluknya dan memintanya untuk pulang walaupun itu tetap dengan kasar membuat benak seorang Lucy Heartfilia serasa diserang meriam yang seakan meledak seketika. Dadanya mulai panas dan panas tersebut lama kelamaan menjalar ke pipinya. Ia yang berusaha melepaskan diri mulai tenang dan membiarkan Natsu menyeretnya. Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya. Sementara Natsu? ia juga sedang berkutat dengan batinnya.

"Menggenggam tanganmu seperti ini sungguh tidak pernah aku bayangkan. Jika aku boleh mengatakannya, aku benci keadaan ini" kata Natsu dalam hati

"Tapi, apa ini tangan yang telah menepisku waktu itu?" tanya Natsu lagi dalam hati

"Apa ini Natsu? Natsu yang selalu membenciku? Dan apa ini tangan Natsu yang selalu melukaiku? Kenapa rasanya berbeda?" tanya Lucy dalam hati

"Tangannya besar, dan juga . . . hangat" lanjut Lucy dalam hati

Mereka melalui ramainya jalan dan gemerlapnya kota. Entah kenapa waktu seakan bergerak lambat membiarkan dua insan yang tengah dilanda badai di dalam hati mereka.

Tak terasa Natsu dan Lucy sudah sampai di depan rumah kediaman Dragneel. Rumah mewah dengan halaman dan pekarangan luas, yang melihatnya saja membuat Lucy kembali bergetar. Ia mengingat form yang tadi ia sobek. Lucy menghentikan langkahnya, Natsu menoleh.

"Kenapa?" tanya Natsu datar

Lucy menggeleng yang Natsu artikan sebagai tidak mau masuk. Natsu menghela nafas, ia sudah cukup banyak mengeluarkan tenaga untuk marah-marah pada gadis dihadapannya itu. kali ini ia mencoba bicara dengan sabar, walaupun egonya bergejolak dan menolak bahkan berteriak berkata tidak.

"Yang lain khawatir. Kau pasti tidak ingin melihat ibuku jantungan kan?" tanya Natsu dengan kata-kata pedasnya tapi nada suaranya terkesan datar

Lucy kembali menggeleng. Ia menggenggam tangan Natsu erat. Natsu kembali menghela nafas.

"Kita masuk, kau tak mau aku menyeretmu lebih dari tadi kan?" ancam Natsu masih dengan nada datar

Akhirnya Lucy mau masuk rumah. Ketika pintu terbuka, semua orang seketika menoleh, dan betapa terkejutnya mereka, Lucy pulang bersama Natsu atau lebih tepatnya Natsu membawa pulang Lucy. Dan keadaan mereka? Tangan Natsu menggenggam tangan Lucy dan tubuh mereka basah kuyup.

"Lucy!" teriak nyonya Grandine dan segera memeluk Lucy

Pelukan nyonya Grandine membuat genggaman tangan Natsu terlepas. Natsu menaikkan satu alisnya, melihat tangannya yang beberapa saat tadi menggenggam tangan gadis yang sangat ia benci. Capricorn memandang Natsu penuh arti, Natsu hanya tertawa sinis lewat hidung dan berlalu meninggalkan ibunya yang masih sibuk memeluk Lucy tanpa mengkhawatirkan keadaannya.

"Kamu tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka kan?" tanya nonya Grandine

Lucy menggeleng. Nyonya Grandine menghela nafas lega. Virgo tak kuasa menahan air matanya. Pemandangan itu tak luput dari Lucy, dilihatnya Virgo yang meneteskan air mata melihat kepulangannya dengan keadaaan seperti itu. didekatinya Virgo sang pelayan yang selalu setia pada dirinya. Ditulisnya sebuah note.

"Aku pulang, Virgo. Maafkan aku, aku baik-baik saja kok" tulis Lucy dalam note

"Hime" panggil Virgo

Lucy memeluk Virgo. Menenangkan sang pelayan. Melihat adegan bak melodrama tersebut, Wendy tersenyum. Ia tidak menyangka kakaknya akan membawa pulang Lucy. padahal ia sendiri tahu kalau sebenarnya kakaknya senang kalau Lucy pergi dari rumah.

"Kurasa Nii-san tidak sejahat yang aku kira" kata Wendy dalam hati

"Ne, Lucy-san bagaimana kalau kau mandi dan mengeringkan badan. Kau kan masih demam" kata Wendy

"Iya Hime, saya akan menyiapkan air hangat untuk anda" kata Virgo

Natsu mandi, air keluar dari shower membasahi kepala hingga badannya yang tergolong tegap dan berotot. Ia tertunduk sembari melihat pantulan dirinya dicermin. Diingatnya kembali saat dirinya hendak berlalu dari kamar Lucy setelah melihat ibunya menatap Virgo dengan pandangan serius.

Flashback

Natsu melihat dari luar kamar, ia ingat tali yang menjulur dari balkonnya. Natsu terhenyak, tapi kemudian ia tersenyum sinis.

"Apa ini akhirnya? Baguslah, aku tak perlu repot-repot menyiksanya lagi" gumam Natsu dan pergi masuk ke kamarnya.

Namun ketika dirinya baru menyentuh knop pintu, suara seseorang menginterupsinya.

"Natsu-sama, saya ingin bicara pada anda sebentar" kata Capricorn

Wendy melihatnya, tapi ia memilih untuk tidak ikut campur dan turun kebawah. Sementara Natsu meminta Capricorn untuk bicara di kamarnya saja, sepertinya ia tahu kalau Capricorn akan mengatakan sesuatu yang serius.

"Natsu-sama, maafkan atas kelancangan saya. Tapi saya ingin bertanya dan saya mohon anda menjawab dengan jujur" kata Capricorn

Dengan malas, Natsu mengiyakan.

"Natsu-sama, apa anda yang membuat Lucy-sama demam?" tanya Capricorn

"Hn? Apa maksudmu?" tanya Natsu memasang wajah innocent

"Semalam, saya melihat anda masuk kamar Lucy-sama" kata Capricorn

Natsu terhenyak sesaat, namun kemudian ia berhasil mengontrol dirinya untuk tetap tenang.

"Lalu?" tanya Natsu

"Haruskah saya menjelaskannya?" tanya Capricorn

"Kalau iya, memangnya kenapa? Kau ada masalah?" tanya Natsu balik, tak ada raut bersalah sedikitpun diwajahnya

Capricorn naik darah, ia menenangkan diri dengan menghela nafas. Berusaha bersabar dengan tuan muda yang menyandang marga Dragneel tersebut.

"Bagaimana kalau nyonya dan tuan besar tahu?" tanya Capricorn lagi

"Biarkan saja. toh ini juga salah mereka, aku kan sudah menolak dia tinggal disini, ayah dan ibu saja yang bersi keras" jawab Natsu

"Kenapa anda melakukannya?" tanya Capricorn

"Karena aku membencinya" jawab Natsu tegas

"Tidak masalah anda membencinya, tapi memperlakukan Lucy-sama seperti itu salah. Bagaimana kalau keluarga Strauss tahu? Anda yang menjadi calon tunangan putri mereka ternyata tega pada seorang gadis" jelas Capricorn

"Dan bagaimana kalau mereka membatalkan pertunangannya?" lanjut Capricorn

Natsu terhenyak. ia mengerti maksud perkataan Capricorn barusan. Itu bukan tidak mungkin, tapi sangat mungkin mengingat Lisanna yang selalu mengatakan tidak setuju dengan sikap Natsu pada Lucy.

Flashback End

Natsu memukul kaca didepannya hingga membuat kaca tersebut retak. Matanya berkilat, amarah yang amat sangat menghampirinya. Ia menyeringai.

"Lucy Heartfilia. Kau benar-benar mengusik ketentramanku. Sudah berapa kali aku menyiksamu tapi kau bagai penyakit yang tak tersembuhkan. Selalu berdiri seolah tak terjadi apa-apa. Cih! Harusnya tadi aku membiarkanmu saja! tapi tangan ini dengan seenaknya menggenggammu dan menarikmu pulang. Dan juga, kalau tidak karena Capricorn, mungkin aku tidak akan melakukannya. Jangan senang dulu karena aku bersikap baik padamu sekali. esok dan esoknya mungkin akan lebih kejam, Luce" kata Natsu dengan tajam

Malam semakin larut. Hujan terus mengguyur kota Magnolia. Di sebuah kamar yang hanya diterangi cahaya remang-remang, Lucy mengeringkan badan kemudian membuka buku hariannya. Ia mengambil sebuah pena dan mulai menulis. Denting jampun terus berputar menghiasi suasana kamar Lucy. Sang gadis bersurai blonde tersebut menyudahi acara menulisnya dan mulai membaringkan diri di ranjang. Lucy menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Angin masuk melalui celah-celah pintu seolah menyapa sang pemilik kamar yang baru saja kembali dari aksi kaburnya yang tentu saja gagal karena seseorang. iapun meringkuk memikirkan apa yang baru saja terjadi dan dialaminya.

"Natsu membawaku pulang? Apa ini tidak salah? Bukankah Natsu membenciku?" tanya Lucy dalam hati

"Mama, aku sungguh tidak mengerti. Hari ini aku melihat sisi lain darinya" kata Lucy dalam hati kemudian terpejam

...

2 hari kemudian. Seperti biasa, Natsu turun sebelum sampai di sekolah. Wendy dan Capricorn tidak ambil pusing dengan hal tersebut. Tapi berbeda dengan Lucy, entah kenapa ia merasa kecewa? Tapi kenapa? Ia hanya memandang punggung Natsu yang mulai menjauh.

Lucy turun dari mobil diikuti Wendy. Mereka berpisah dikarenakan Wendy masih berada di bangku SMP. Wendy meminta Lucy untuk berhati-hati dan menjaga diri mengingat Lucy baru sembuh dari demam. Lucy hanya tersenyum datar seolah menjawab iya. Lucy melangkah menuju sekolah yang sudah beberapa hari ini tidak ia kunjungi. Ketika di koridor sekolah, Lucy dihadang oleh para fansnya. Siapa lagi kalau bukan Hibiki, Ren dan Eve.

"Lucy! darimana saja kau?" tanya Hibiki seraya meraih tangan kanan Lucy yang masih terperban

Ren meraih tangan kiri Lucy. diperlakukan layaknya tuan putri, Lucy jadi canggung dan malu. Wajahnya sudah memerah.

"Kami merindukanmu" kata Ren

"Apakah kau baik-baik saja? Lucy?" tanya Eve

Lucy mengangguk. Kemudian Eve mengeluarkan sebuah kotak besar yang entah ia dapat dari mana, dan disodorkannya pada Lucy. Lucy tercengang, ia heran apa isi kotak tersebut.

"Kami mendengar kau sakit, jadi kami sengaja membuatkan makanan bergizi untukmu" kata Hibiki

"Kami juga menekankan empat sehat lima sempurna" lanjut Ren

Lucy melepaskan tangannya dari genggaman dua orang fans anehnya itu dan mengambil kotak bento tersebut.

UKH!

Sangat berat. Lucy mengernyitkan keningnya, ia ingin bertanya pada ketiga laki-laki ini tapi tidak memungkinkan untuk dirinya menulis note. Sementara ketiga laki-laki dihadapannya hanya meringis tidak jelas kemudian pamit.

"Mereka memintaku membawa ini sendirian?" tanya Lucy dalam hati

Dengan susah payah Lucy membawa kotak bento yang super duper besar tersebut. Lucy mengeluh dalam hati. Didepan kelas, ia berusaha membuka pintu dengan menggunakan kakinya, tapi seseorang tiba-tiba membukanya. Dan itu adalah Sting. ia terkejut, dan diam. Lucy yang merasa dihalangi mengerutkan dirinya. Ia membentak-bentak Sting dalam hati, meminta Sting untuk segera menyingkir, namun entah apa yang sedang menyambar diri seorang Sting Eucliffe, ia tidak bergeming. Lucy menghela nafas dan menendang kaki Sting membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

"Apa yang kau lakukan Lucy? sakit tahu!" kata Sting sembari mengelus-elus tulang keringnya

"Kau tidak lihat?" tanya Lucy dalam hati

Sting sadar dan segera mengambil alih kotak besar ditangan Lucy. ia mengantarkan kotak tersebut ke meja Lucy.

"Lucy, apa ini?" tanya Sting

"Bento" jawab Lucy dalam notenya

"LU-CHAN!" teriak seorang gadis dengan suara yang melengking

Lucy menoleh, Levy datang dan langsung memeluknya. Ia heran tak alang kepalang kenapa temannya itu memeluknya. Lucy menautkan kedua alisnya.

"Lu-chan, kau baik-baik saja? aku khawatir. Aku tidak tahu bagaimana menghubungimu dan tidak tahu dimana kau tinggal. Aku sangat khawatir sampai berfikir kau pindah sekolah" rengek Levy

"Aku baik-baik saja, Levy" tulis Lucy

"Sepertinya kau terlalu banyak menonton Drama, Levy. Pagi-pagi sudah sedramatis ini, ezt ezt ezt" kata seseorang ikut nimbrung

"Loki! Sejak kapan kau datang?" tanya Levy kesal

"Baru saja" jawab Loki dengan tampang innocent

"Oh ya Lucy, apa itu. baunya sangat menggoda. Apa ini bento buatanmu?" tanya Loki

"Aku mendapatkannya dari Hibiki dan kawan kawan" jawab Lucy dalam note

"APA? Jangan dimakan!" cegah Loki dan segera memeluk kotak bento, mencegah Lucy untuk memakannya

"Hei, Loki. Menyingkirlah atau bento itu akan bercampur dengan keringatmu" ledek Levy membalas Loki

Loki memicingkan matanya. Menatap Levy tajam, ia kesal. Levy hanya tersenyum dan memberi kode untuk menyingkir.

"Loki, jaga sikapmu" kata Sting dan Loki-pun menyingkir

"Ne, mina. Bagaimana kalau kita makan bento ini bersama nanti?" tawar Lucy dalam note

"Makan bersama?" kata Loki

"Dengan Lucy?" lanjut Sting

Seketika kedua pemuda itu menganggukkan kepala dengan mantap.

Di tempat lain, kebun belakang sekolah. Natsu tengah melamun sembari merebahkan dirinya di kursi dengan tas sebagai alas bantal. Ia hanya menatap langit pagi dengan pandangan menerawang. Semilir angin pagi berhembus memasuki jas sekolahnya. Natsu menghela nafas. Tiba-tiba Lisanna muncul dihadapannya.

"Apa yang kau lamunkan pagi-pagi?" tanya Lisanna

"Memikirkanmu" jawab Natsu berbohong

Wajah Lisanna bersemu merah.

"Mungkin" gumam Natsu lirih hingga tak terdengar oleh gadis bersurai perak yang adalah kekasihnya tersebut

"Mou, Natsu. Jangan menggodaku. Tapi sebenarnya apa yang kau lakukan disini?" tanya Lisanna

"Aku sudah menjawabnya kan Lis?" tanya Natsu balik

"Bukan itu maksudku" jawab Lisanna

"Lalu? Jawaban apa yang ingin kau dengar?" tanya Natsu

"Eh? Itu . . ." Lisanna bingung harus menjawab apa, karena ia tidak menyangka Natsu bertanya demikian

Natsu bangun, ia mendudukkan dirinya. Dengan lembut, ia mengulurkan kedua tangannya meraih kedua lengan Lisanna. Ditatapnya Lisanna dengan tajam, tapi bukan pandangan tajam yang biasa ia lontarkan pada Lucy melainkan tatapan tajam seakan penuh kasih sayang.

"Dan apa yang kau lakukan pagi-pagi disini? Apa kau ingin menggodaku?" tanya Natsu dengan senyuman tipis dibibirnya

Lagi-lagi wajah Lisanna dibuat memerah oleh Natsu. melihat reaksi Lisanna, Natsu terkekeh, ditariknya Lisanna mendekat. Lisanna sudah memejamkan mata, menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi . . . tidak terjadi apapun. Hanya terdengar suara Natsu yang terkekeh, Lisanna membuka mata dan merasa malu karena ketahuan mengharapkan sebuah ciuman dari Natsu. Lisanna mendorong Natsu dengan kesal.

"Sudah kubilang jangan menggodaku!" hardik Lisanna

"Tapi kau tergoda kan?" tanya Natsu seraya tersenyum

"Mou, hentikan itu" gerutu Lisanna

"Padahal aku berniat menawarimu untuk makan siang bersama. Tapi tidak jadi, aku akan membaginya saja dengan Juvia" kata Lisanna cemberut

"Apa? Kau tega padaku Lis?" tanya Natsu

"Kenapa tidak?" tantang Lisanna

"Heh? Begitu ya?" kata Natsu tersenyum penuh arti, kali ini ia segera menarik Lisanna dan . . .

CUP

Sebuh kecupan manis mendarat di pipi kanan Lisanna. Natsu sadar dan segera menjauh meninggalkan Lisanna yang masih mencerna apa yang baru saja kekasihnya itu lakukan. wajahnya sudah sangat memerah. Pasalnya, Natsu tidak pernah menciumnya, ia selalu menjaga dan tidak mau menyentuh seorang gadis yang belum menjadi haknya. Tapi entah apa yang sedang menyambar hati seorang Natsu Dragneel hingga berbuat seperti itu.

Jam terus berputar hingga tak terasa sudah menunjukkan pukul 12.00 siang waktu setempat. jam istirahat telah tiba. Seperti yang dijanjikan Lucy pada ketiga temannya, ia membuka bentonya dan memberi kode untuk mendekat. Sting yang posisinya paling jauh harus mengeluarkan sedikit tenaga agar tidak tertinggal dengan Loki yang sudah berhasil merebut makanan pertama di kotak bento Lucy. Rogue tak tinggal diam, ia tentu mengekori sepupunya dan ikut makan. Gray yang melihat ramai-ramai dimeja Lucy, tertarik. Ketika ia mendekat dan melihat makanan super mewah, matanya berbinar-binar, air liur seakan menetes dari mulutnya. Lucy menyodorkan makanan dan tanpa ragu Gray langsung menyambarnya.

Sedangkan Natsu? ia hanya memandang kesal kearah teman-temannya yang tengah tertawa riang sembari makan bento milik Lucy, yang menurutnya entah Lucy dapat darimana. Dengan malas iapun berdiri, melewati mereka. Gray memanggilnya dengan mulut yang penuh dengan makanan.

"Kau mau kemana? Kau tidak ikut makan? Ini enak" kata Gray

"Makan? Lebih baik aku kelaparan daripada harus makan bersama dia" jawab Natsu ketus dan pergi

Semua yang semula mengunyah makanan, menghentikan aktivitas mereka untuk sejenak. dilihatnya Lucy, gadis itu tertunduk mendengar peuturan Natsu berusan. Lagi-lagi Lucy merasa kecewa. Ia bingung kenapa ia merasakan hal yang sama lagi. Tapi kenapa? Tidak tega melihat Lucy yang seperti itu, Sting berusaha menghiburnya.

"Tenanglah, Natsu tidak bermaksud. Dia hanya malu saja. benar kan?" kata Sting

"Hmm . . . Natsu memang seperti itu. biarkan saja" kata Loki

Lucy mengangkat kepalanya, memaksakan diri untuk tersenyum. Tapi ia tidak yakin senyuman seperti apa yang diperlihatkannya. Walau terkesan hambar, tapi entah kenapa semua ikut tersenyum. Mereka merasa lega.

"Aku senang, walaupun hambar Lucy mulai tersenyum sekarang" kata Sting dalam hati

Natsu berjalan menuju kantin. Tapi suara seseorang menghentikan langkahnya. Siapalagi kalau bukan Lisanna Strauss. Dengan wajah yang berbinar, bak mentari di pagi hari, Lisanna mendekat dengan mengacungkan kotak bentonya. Seakan memberi kode untuk meminta Natsu makan siang bersamanya.

Mereka makan siang di atap sekolah. Terik matahari dan hembusan angin menghiasi moment kedua pasangan muda ini. Awan putih berarah mengikuti arah angin dan bergejolak di atas sana. Natsu melirik kotak bento yang dibawa kekasihnya dan mendengus.

"Bukankah kau bilang ingin membaginya dengan Juvia?" tanya Natsu

"Mou, aku kan hanya bercanda. Ini aku buat khusus untukmu, kau tahu!" kata Lisanna menggembungkan pipinya

Natsu meraih sumpit dan mengambil telur gulung.

"Lumayan" fikir Natsu

"Kita sudah lama tidak makan bento bersama kan, fiuh. Aku sangat merindukan suasana ini" kata Lisanna

"Hmm" jawab Natsu masih mengunyah telur gulungnya

Beberapa saat kemudian.

"Ne, Natsu. bagaimana kalau suatu saat tiba-tiba kau tidak mencintaiku?" tanya Lisanna

Natsu terbelalak. Ia menghentikan kunyahannya. Ditelannya telur gulung yang belum sempurna di kunyah itu.

"Apa yang kau bicarakan? Tentu itu tidak mungkin" jawab Natsu pasti

"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa seperti itu?" tanya Lisanna dengan raut wajah sedih

"Itu karena kau yang terlalu banyak berfikir" kata Natsu

"Tapi akhir-akhir ini perasaaku tidak enak. Seakan akan terjadi sesuatu pada hubungan kita" kata Lisanna

Natsu mendaratkan tangannya ke kepala Lisanna, diusapnya kepala sang gadis dengan lembut guna menenangkannya. Wajah Lisanna memerah, matanya berkaca-kaca. Angin bertiup menyapa keduanya. Seakan sudah tenang, Lisanna menurunkan tangan Natsu dan menggenggamnya erat.

"Ya, kau sudah berjanji sebelumnya Natsu, bahwa kau tidak akan meninggalkanku" kata Lisanna dalam hati

Pulang sekolah. Lucy kembali mengikuti Klub bersama Gray setelah berpisah dengan Levy dan Loki yang ikut Klub Sastra. Kenapa Loki ke klub Sastra? Karena dari awal dia memang anggota mereka dan ia hanya menjadi anggota tidak tetap Klub Taekwondo. Di perjalanan menuju Klub, Gray bertanya pada Lucy.

"Ne, Lucy. kenapa Natsu membencimu?" tanya Gray

Lucy terhenyak. ia bingung harus menjawab apa, karena tidak mungkin Lucy mengatakan kalau Natsu membencinya karena tinggal menumpang dikeluarganya dan sudah mengusik ketentramannya. Gray mengulangi pertanyaannya.

"Kenapa?" tanya Gray

"Itu, aku tidak tahu" tulis Lucy

"Apa karena kau tinggal dirumahnya?" tanya Gray lagi

Lucy tentu terkejut. Ia berhenti berjalan dan menoleh menatap pemuda berambut raven tersebut. Gray yang menyadari perubahan ekspresi Lucy, menghela nafas.

"Begitu ya . . ." kata Gray pasrah, sepertinya ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan

"Darimana kau tahu?" selidik Lucy dengan tulisan di note

"Natsu yang mengatakannya" jawab Gray singkat

"Natsu mengatakannya?" tanya Lucy dalam hati

Gray hanya mengangguk.

Klub Basket. Sting membagi dua tim untuk berlatih. Timnya dan Tim Natsu. Entah kenapa kali ini, Natsu terlihat bersemangat atau bisa dikatakan melampiaskan emosinya? Ia bahkan tidak mengoper bola ke teman satu timnya dan hanya bermain sendiri berhadapan dengan sang ketua. Sting tak gentar, ia menghadang Natsu dan . . . berhasil merebut bola ditangan Natsu. mereka bermain sengit, tapi pada akhirnya Tim Natsu kalah dengan selisih 2 skor.

"Permainanmu bagus, Natsu" kata Sting mengulurkan tangannya

Natsu menjabat tangan Sting.

"Kau juga, Ketua" kata Natsu menatap Sting penuh arti

"Istirahat!" perintah Sting

Semua merebahkan diri. Sementara Natsu dan Sting duduk berdua di kursi. Sting memberikan sebotol air pada Natsu dan diterima. Air mengalir melewati rongga tenggorokan dan berhasil melepas dahaganya pemuda bersurai pink itu.

"Ketua, kurasa kau dekat dengan anak baru itu" tanya Natsu datar tapi setengah mencibir

"Begitukah?" jawab Sting setengah bertanya

"Kenapa kau baik sekali padanya?" tanya Natsu

"Entahlah" jawab Sting berbohong

"Dan kenapa kau terlihat membencinya?" tanya Sting

Natsu terdiam untuk sesaat

"Karena aku memang tidak suka" jawab Natsu singkat

Sting mengernyitkan dahinya. Tanda ia kurang mengerti, karena alasan Natsu terkesan klise. Tapi Sting bisa mengerti karena didunia ini tidak perlu alasan untuk membenci seseorang begitupula dengan mencintai.

Klub Taekwondo. Lagi-lagi Hibiki dan kawan kawan menempel pada Lucy. melihat tingkah para anggotanya, Erza tak ambil pusing. Karena ia juga sedang tidak mood latihan, ia lebih memilih menikmati Strawberry cake yang dibawanya hari ini.

Diluar pagar sekolah, sebuah mobil mewah terparkir. Seorang pria paruh baya dengan rambut berwarna pirang tua memandang lekat bangunan sekolah berlabel Fairy Academy tersebut. Sang supir yang berwajah sedikit menyeramkan dengan tindik di hidungnya melirik kaca spion.

"Dia ada disana, Tuan" kata sang supir

"Begitukah?" kata sang majikan dengan nada pertanyaan semi penyataan

Para siswa yang sudah selesai menghadiri klub keluar dari gerbang sekolah. sekolah sudah sepi. Sang pria paruh baya tersebut melihat wajah mereka dari balik kaca, seolah mencari seseorang.

Lucy keluar bersama Erza, Gray, Hibiki dan kawan-kawan. Tapi mereka berpisah karena arah rumah yang berlawanan. Sedangkan Gray ia mengatakan akan mampir dulu kerumah Levy untuk membahas cookies yang akan mereka buat dipelajaran Miarajane-sensei minggu depan. Lucy melihat teman-temannya itu hingga tak terlihat. Lucy berbalik arah dan mulai berjalan ke arah menuju rumah kediaman Dragneel.

Pria paruh baya melihat Lucy tajam. Ia bahkan memicingkan mata guna meyakinkan dirinya kalau penglihatannya adalah benar. Ia terhenyak dan membuka pintu mobil tepat saat Lucy lewat disamping mobilnya. Dan betapa terkejutnya Lucy melihat siapa sosok yang kini berada dihadapannya.

"Lucy?" panggil pria paruh baya

"Ayah?" jawab Lucy dalam hati yang bergetar

"Lucy, itu kau?" tanya sang ayah berusaha mengulurkan tangannya, namun Lucy menepisnya

Sang ayah terlihat tidak terkejut.

"Lucy, pulanglah bersama ayah" pinta sang ayah tiba-tiba

Lucy menatap ayahnya tajam dengan pandangan seolah membunuh. Kali ini, sang ayah terhenyak melihatnya. Pasalnya ia tidak pernah melihat Lucy menatapnya seperti itu.

"Lucy" panggil Jude

Lucy menyingkir, ia tidak mau tangan ayahnya menyentuhnya. Karena itu mengingatkannya pada memori yang tidak ingin ia ingat. Sang ayah mendekat dan mendekat, Lucy yang semula mencoba untuk kuat, lama kelamaaan menjadi takut, ia merasa ayahnya akan menyeretnya kemudian menyiksanya. Lucy gemetaran, hingga tinggal beberapa centi lagi tangan Jude menyentuh Lucy, seseorang berteriak.

"Hentikan!" kata seseorang

Seseorang itu adalah Sting. Ia datang tepat waktu layaknya seorang pangeran yang menyelamatkan sang putri dari mara bahaya. Sting mendekat dan menghalangi Jude untuk menyentuh Lucy. Lucy berlindung dibalik punggung Sting dan memegangi lengan jas sekolah pemuda itu. Sting dapat merasakan Lucy yang gemetar.

"Maaf. Tapi Lucy tidak ingin anda mendekat. Jadi saya sarankan jangan mendekatinya" kata Sting memperingatkan

"Kau tidak tahu siapa aku nak?" tanya Jude datar

"Haruskah saya tahu? Yang saya tahu Lucy tidak ingin anda mendekat dan melihat anda. Jadi jangan mendekat dan saya harap anda pergi" kata Sting mengusir ayah Lucy

Parameter kemarahan Jude naik seketika.

"AKU AYAHNYA!" bentak Jude

"DAN SAYA TEMANNYA!" bentak Sting tak mau kalah

Jude terbelalak. Tangannya mengepal.

"Lucy, apa ini temanmu? Sungguh mengecewakan. Dari dulu kau selalu memilih teman yang salah. Lihatlah! Dia bahkan tidak memiliki sopan santun!" kata Jude

Lucy tambah bergetar, ia mengelengkan kepala. Menidakkan perkataan sang ayah.

"Kumohon hentikan tuan, atau saya bisa mengadukan anda atas tuduhan ketidaknyamanan?" ancam Sting

Jude menghela nafas, ia menjauh dan masuk ke mobilnya. Meninggalkan Lucy dan temannya. Sepeninggalan Jude, Lucy tidak kuat berdiri dan terduduk, Sting tentu terkejut, ia segera berjongkok dan menanyakan apakah Lucy baik-baik saja. namun tak ada jawaban, mata Lucy tengah menerawang, sekujur tubuhnya bergetar hebat, bahkan matanya mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba . . .

TAP

Sting mendekap Lucy, seolah mengisyaratkan untuk tenang. Lucy tak bergeming, Sting mempererat dekapannya, hingga Lucy merasa rileks dan membenamkan wajahnya didada bidang milik Sting. Sedangkan tangan Sting yang satunya membelai lembut rambut Lucy.

"Lucy, tenanglah. Semua sudah baik-baik saja. aku ada disini" kata Sting

Natsu keluar dari gerbang, ketika ia berbelok. Ia melihat Sting yang tengah mendekap Lucy. Mata Natsu mengkilat, kebencian kembali mendatanginya. Ia menggenggam erat tangannya dan ingin sekali rasanya mendorong Lucy ke jalanan dan meninju wajah Sting.

"apa yang mereka lakukan? apa gadis itu berakting lagi? bersikap sok lemah dan mengeluarkan air mata buaya? Sungguh akting yang luar biasa. Tapi kau tidak bisa menipuku. Sekarang nikmatilah simpati yang kau dapat selagi bisa" kata Natsu dalam hati

Matahari bergerak menuju ufuk barat. Langit berwarna jingga, sebuah pemandangan yang sangat indah di sore itu. di pinggir sungai, duduklah kedua siswa SMA Fairy Academy. Disanalah sekarang Lucy dan Sting berada. Lucy duduk sembari memeluk lutut, matanya menatap air yang beriak di sungai dengan pandangan sendu. Ia kembali mengingat peristiwa yang baru saja terjadi hingga perlahan sorot jingga menyinari wajahnya. Wajah cantik yang sangat terluka, membuat siapapun yang melihatnya ingin menyentuh dan mendekapnya erat. Setidaknya itulah sekarang yang dirasakan Sting. Tak tahu harus mengatakan apa atau bertanya bagaimana, ia hanya mampu menatap dari samping wajah gadis yang akhir-ahir ini masuk ke kehidupannya. Mereka tetap seperti itu selama beberapa waktu. Perlahan, terdengar suara hembusan nafas yang berat dari Lucy. Lucy mengambil note dan menuliskan sesuatu.

"Terimakasih" tulis Lucy

"Tidak apa, aku ikhlas" jawab Sting

"Maaf, selalu merepotkanmu" kata Lucy lagi dalam note

"Jangan difikirkan, aku tidak merasa direpotkan kok" jawab Sting seraya tersenyum

"Terimakasih, aku tak tahu harus berterimakasih dengan cara bagaimana" tulis Lucy

"Hanya jangan pernah menahan apa yang kau rasakan dihadapanku" jawab Sting seraya mengalihkan pandangannya ke sungai

"Menangislah kalau kau ingin menangis, marahlah kalau kau ingin marah atau kau bisa memukulku. Kalau kau butuh sandaran, aku akan dengan senang hati meminjamkan bahuku padamu" lanjut Sting dengan mulus

Kata-kata itu seakan mengguyur hati seorang Lucy Heartfilia. Hatinya yang baru saja diterpa awan mendung, menjadi terang seketika. Mata Lucy berkaca-kaca, wajahnya mulai memerah dan dengan perlahan diraihnya tangan Sting. Membuat sang pemuda spike pirang itu terkejut.

"Terimakasih telah mau berada disampingku, Sting. Aku merasa beruntung bisa bertemu denganmu" kata Lucy dalam hati

"Lucy" kata Sting pelan

Di kediaman Dragneel. Wendy pulang dengan wajah lesu, ia berjalan sembari menyeret tasnya. Dengan sigap, Capricorn menawarkan diri untuk membawa tas nona mudanya itu, Wendy melemparnya dan sang pelayanpun menangkapnya. Kalau seperti ini, jelas sekali ia adik Natsu Dragneel. Tapi walaupun demikian, ia tetap menyapa sang kakak yang tengah asyik membaca sebuah buku sambil merebahkan diri di sofa.

"Nii-san tidak baik membaca buku sambil tiduran" kata sang adik dan melangkahkan kakinya menuju lantai atas

"Urusai!" kata Natsu

"Nii-san yang urusai" balas Wendy dengan lesu

Natsu mengernyitkan alisnya. Ia menghela nafas berusaha bersabar. Tiba-tiba, pintu terbuka dan seseorang masuk. Itu adalah Lucy. merasakan kehadiran seseorang yang sangat ia benci, mata Natsu sedikit menyipit. Diliriknya jam dan sudah menunjukkan pukul 06.00 PM waktu setempat. Sudah hampir menjelang malam.

"Kalau tidak niat pulang tidak usah pulang" sindir Natsu

Lucy berhenti sejenak. matanya yang semula sudah baik-baik saja, berubah menjadi sendu lagi. Dengan berat, Lucy melangkahkan kakinya, berusaha tidak memperdulikan perkataan Natsu barusan.

"Dasar pencari kambing hitam" kata Natsu lagi (Author : maksud Natsu adalah, jika Lucy tidak pulang, ia yang akan disalahkan)

Mendengar penuturan Natsu lagi, hati Lucy serasa tersayat. Giginya bergetar.

"Masuk sana. Kau mengganggu udara yang kuhirup" kata Natsu dengan dingin

Lucy menuruti apa yang Natsu katakan. Sepeninggalan Lucy, Natsu meletakkan bukunya, dipandanginya langit-langit rumahnya. Bola matanya berputar dan ia menautkan kedua alisnya.

"Persiapkan dirimu, parasit!" kata Natsu dalam hati

Malamnya, setelah makan malam, Lucy kembali ke kamar. Ia menghidupkan komputer dan mencari resep membuat cookies. Melihatnya saja entah kenapa membuat Lucy bersemangat, seolah ia melupakan kejadian hari ini. Dengan segera ia mencatatnya.

"Yosh, dengan ini aku bisa berterimakasih pada Sting, Ganbatte! Lucy!" kata Lucy menyemangati dirinya yang tiba-tiba bersemangat

Seminggu kemudian.

Kelas 1-5 pelajaran Mirajane-sensei. Semua siswa sudah bersiap menuju ruang praktek tak terkecuali Natsu yang satu tim dengan Lucy. Mirajane-sensei memberi pengarahan bagaimana cara menggunakan alat dan sebagainya, kemudian meminta semuanya mengeluarkan bahan yang dibawa. Setelah selesai memberi pengarahan, sang guru cantik bersurai perak tersebut meminta semuanya Start. Lucy mengambil celemek dan mengenakannya. Sementara Natsu, dengan enggan ia mengenakan celemek yang menurutnya sangat tidak cocok dengan dirinya. Melihat Natsu, tiba-tiba bibir Lucy sedikit tertarik, iapun tersenyum. Natsu tentu tidak suka, ia mendengus. Lucy mulai prepare dan sang partner hanya melihat saja tanpa berusaha membantu. Dari jauh, Sting melihatnya.

"Apa? Kenapa?" tanya Rogue melihat kemana Sting melihat

"Tidak ada" elak Sting

Rogue hanya mengangkat bahunya. Tak mau ambil pusing dengan sikap sang sepupu.

"Apa itu?" tanya Natsu

"Apa yang kau masukkan?" tanya Natsu lagi

"telur" jawab Lucy dalam hati

"Apa itu? bukan kacang kan?" tanya Natsu memastikan, ia sedikit mengernyitkan dahi seraya mendekati Lucy dengan menyilangkan kedua tangan didada, memperhatikan campuran bahan di mangkuk.

Lucy menoleh menatap Natsu, namun kemudian ia menggeleng. Natsu menghela nafas, tiba-tiba . . .

PLAK

"Hoi! Jangan pukul kepalaku!" pekik Natsu seraya menoleh, tapi didapatinya sang guru yang kini tengah dalam mode satan soulnya. Aura hitam mengelilingi Mirajane-sensei, membuat orang yang berada disekitarnya bergidik ngeri. Natsu menelan ludah.

"Natsu. Ini tim, bukan individu. Kalau seperti ini aku tidak akan segan-segan untuk memberi nol besar pada nilai praktekmu" kata Mirajane-sensei dengan menekankan setiap katanya

"Baiklah. Baiklah" jawab Natsu dengan terpaksa atau kalau tidak, ia bisa mendapat pukulan setara dengan Erza.

Mendengar itu, Mirajane-sensei kembali ke mode normal. Ia tersenyum ramah sambil menepuk kedua tangannya.

"Ara ara. Itu baru muridku" kata Mirajane-sensei kemudian meninggalkan tim Natsu

"Ne, apa yang bisa kubantu?" tanya Natsu

Lucy mempraktekkan cara mengaduk, dengan setengah mood Natsu mengiyakan dan mengambil alih pekerjaaan mengaduk adonan. Awalnya Natsu kesal, tapi pekerjaan mengaduk ternyata menyenangkan, ia memutar-mutar adonan layaknya mainan, kedua alisnya bertaut, ia semakin serius dan serius hingga Lucy menepuk bahunya. Sang empunya tersentak dan menyudahi acara main-mainnya.

"Apa?" tanya Natsu kesal

Lucy mengambil kembali adonan yang telah Natsu aduk. Lucy sedikit berfikir, rasanya ada yang kurang. Dicicipinya adonan. Melihat itu, Natsu penasaran, ia mendekati Lucy lagi dan semakin dekat, matanya tak lepas untuk tidak memperhatikan gadis bersurai blonde itu.

"Garam" kata Lucy dalam hati dan memasukkan sedikit garam pada adonan kemudian diaduknya lagi.

Natsu tak melepaskan pandangannya, segala gerak-gerik Lucy benar-benar ia perhatikan secara detail.

"Apakah ini si parasit?" tanya Natsu dalam hati

Lucy mencolek sedikit adonan dengan jari telunjuknya. Dipandanginya adonan itu dengan sesaat, melihat itu Natsu menaikkan satu alisnya. namun tiba-tiba dengan perlahan Natsu meraih tangan Lucy dan mencicipi adonan di jari Lucy. ia mengernyitkan dahi, merasakan apa yang kurang dari adonan mereka. sementara Lucy tentu terkejut, matanya membulat, sedikit rona tipis muncul di kedua belah pipinya.

"Hmm . . . ini enak" kata Natsu dengan wajah innocent

Bibir Lucy sedikit terbuka saking terkejutnya. Natsu belum sadar dengan apa yang tengah ia lakukan. dengan segera Lucy menarik tangannya dan Natsu terdiam. Ia mengerutuki dirinya yang bisa-bisanya terbuai dengan suasana. Sementara Lucy, dengan gemetar ia mencuci tangannya, dipandanginya jari telunjuk yang baru saja disentuh oleh bibir Natsu. Wajahnya memanas, ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menyadarkan diri.

"cih! Sialan!" gumam Natsu seraya menyeka bibirnya

Natsu memuang muka, berusaha mengalihkan dirinya untuk tidak melihat sang gadis bersurai blonde yang sangat ia benci. Tak sengaja matanya melihat tim lain, tim Loki dan Aquarius. Mereka terus berdebat karena Aquarius yang sebentar-sebentar membuka ponsel, membuat Loki harus bekerja sendirian, mereka terlibat adu mulut. Natsu hanya tersenyum melalui hidung, menertawakan tingkah temannya itu. sekilas matanya melihat ponsel milik Aquarius, dan seperti mendapat klik diotaknya, Natsu menyeringai.

Cookies sudah matang. Semua siswa membungkusnya dan maju satu persatu guna menilaikan hasil masakan mereka. Lucy maju diikuti Levy dan yang lain. Gray mendekati Natsu

"Oi! Flame Head. Bagaimana timmu?" tanya Gray

"Apanya?" tanya Natsu pura-pura bodoh

"Dan jangan menyebutku seperti itu, Ice Princess" lanjut Natsu

"Baiklah, Natsu" kata Gray membenahi

"Bagaimana bekerja satu tim dengan Lucy?" tanya Gray

"Tidak buruk" jawab Natsu ketus

"Itu artinya kau menyukai satu tim dengannya?" selidik Gray

"Aku tidak bilang suka kan, hanya tidak buruk saja" jawab Natsu

"Hoh? Begitukah?" goda Gray

Natsu emosi, ia sedang dalam mood tidak baik gara-gara aksi mencicipi adonan ditangan Lucy tadi dan sekarang dengan tidak tahu dirinya Gray menggodanya. Hal itu sudah cukup untuk menaikkan parameter kemarahan Natsu, ditariknya dasi Gray.

"Tutup mulutmu" kata Natsu dengan mata yang menajam, membuat Gray mati kutu seketika dan melepaskan cengkraman Natsu

"Eh? Kenapa kalian?" tanya Levy yang datang tiba-tiba. Ia heran melihat Gray yang merapikan dasi dan empat siku-siku muncul di dahi Natsu. Lucy datang, ia memandang Levy seolah bertanya apa yang terjadi, sang sahabat hanya mengangkat bahunya tanda ia tak mengerti.

"Oh ya, Levy. Bagaimana nilainya?" tanya Gray kemudian mencairkan suasana

"85" jawab Levy

"Kau lihat Natsu, tim kami mendapat 85" ledek Gray

"Cih!" kata Natsu kesal

"Nilai tim Lucy lebih tinggi" lanjut Levy yang membuat Gray langsung Down

Natsu melipat kedua tangan didada, dengan bangga ia tersenyum jahat pada Gray.

"Tim Lucy mendapat nilai 92" kata Levy

"NANI?" Gray melotot

"Hoh? Kurasa aku yang menang, Gray" kata Natsu dengan sombongnya

Melihat hal yang jarang dilihat, Lucy sedikit tersenyum. Ia tidak pernah melihat Natsu seperti itu, selama ini Natsu yang selalu dilihatnya adalah Natsu yang selalu bicara kasar dan berwajah menyeramkan seolah ingin membunuhnya dalam sekali tatapan. Namun, tiba-tiba Lucy ingat. Minggu lalu Sting sudah mengantarkannya ke dokter dan sudah menghiburnya. Dan semalam ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan cookies pada Sting. Walaupun yah . . . walaupun ada sedikit bantuan Natsu.

Lucy mendekati Sting.

"Ya Lucy, ada yang bisa aku bantu?" tanya Sting

Lucy mengeluarkan notenya.

"aku ingin memberikan ini padamu. Anggap ini sebagai tanda terimakasihku" tulis Lucy

"Tidak apa Lucy, aku sudah bilang aku ikhlas" kata Sting

"Kau tidak mau menerima cookiesku?" tanya Lucy dalam note

Tentu Sting salah tingkah, ia tidak ingin membuat gadis dihadapannya itu kecewa. Sebenarnya ia tidak enak hati dengan Natsu, karena itu buatan tim mereka. Dan lagi, sepertinya Lucy hanya membuat sedikit. Melihat tak ada sisa cookies di meja Lucy. Mata Lucy berubah sendu, melihat itu dengan segera Sting mengambil cookies dari tangan Lucy.

"Terimakasih" kata Sting

Rogue menyikut Sting.

"Hoh, kau menerimanya" goda Rogue

"Urusai" gumam Sting

Tiba-tiba . . .

"TIDAK!" teriak Loki kemudian segera menghambur kearah Sting dan merebut bingkisan cookies dari tangannya. Teriakan Loki tentu sukses membuat semua teman satu kelasnya menoleh padanya, tak terkecuali Aquarius yang sangat kesal bercampur malu dengan rekan satu timnya itu.

"Ini untukku, boleh kan Lucy?" kata Loki dengan wajah momohon

"Kembalikan Loki, itu milikku. Lagipula, kalau kau meminta setidaknya sopanlah sedikit" kata Sting dengan sabar

"Tidak, mana boleh ketua saja yang untung. Aku juga ingin" jawab Loki seperti anak kecil

"Baiklah, kembalikan. Aku akan membaginya separuh padamu" kata Sting bijak menanggapi sikap Loki

"Aku ingin bagian ¾" pinta Loki

"Itu terlalu banyak Loki" kata Sting tertawa renyah

"Kalau tidak mau ya sudah" kata Loki

"Kembalikan atau kau akan menyesalinya, Loki!" kata Sting melempar tatapan mautnya

Loki langsung memberikan bingkisan cookies, Sting mengulurkan tangannya guna merih bungkusan tersebut. Tiba-tiba . . .

TAP

"Ini milikku!" kata Natsu yang muncul tiba-tiba

Spontan Sting dan Loki menoleh. Didapatinya Natsu yang sudah berdiri dengan genggaman bingkisan cookies diangannya. Tanpa mengindahkan keduanya, Natsu berlalu meninggalkan kelas yang sudah berakhir. Loki meneriakinya.

"Natsu! kembalikan!" teriak Loki

Diambang pintu, Natsu berhenti. Ia menoleh dan menatap tajam Loki seakan ingin membunuhnya.

"Kau mengatakan sesuatu? Loki?" tanya Natsu

"Tidak Natsu, tidak" elak Loki dan Natsu-pun pergi

Sepeninggalan pemuda bersurai pink itu, Sting menghela nafas. Menahan amarah yang mungkin bisa meledak saat ini juga. Berdebat dengan Loki gara-gara sebungkus cookies dan berujung tidak mendapatkan satupun. Sungguh kurang beruntung dirinya.

"Maaf Sting. Aku akan membuatkanmu lain kali" kata Lucy dengan note

"Tidak apa, Lucy. jangan difikirkan" jawab Sting menenangkan, padahal ia merasa kecewa

Natsu terus berjalan dikoridor sekolah dengan menggenggam cookies hasil buatan timnya. Ia berhenti dan memandangi bingkisan ditangannya.

"Cih! Apa yang aku lakukan!" keluh Natsu kemudian membuang bingkisan itu ketempat sampah yang berada tak jauh darinya

Tak lama kemudian, seseorang berdiri di dekat tempat sampah dimana cookies Lucy dibuang. Seseorang itu memungutnya.

Esoknya setelah jam pelajaran Fried, jam pelajaran Gildarts-sensei. Kelas 1-5 mulai bersiap, mereka pergi ke raung ganti guna mengganti seragam mereka. Lucy membuka tasnya, namun ia tidak menemukan baju olahraganya.

"Ketinggalan" kata Lucy dalam hati

"Lu-chan. Ada apa?" tanya Levy

"Bagaimana ini? Bajuku ketinggalan" tulis Lucy

"APA? Yang benar saja! Gildarts-sensei tidak akan mengizinkanmu ikut pelajarannya kalau tidak membawanya. Cepat pinjam dikelas 1-1. Aku tunggu di ruang ganti" kata Levy

Kelas sudah sepi, Lucy keluar kelas dan menuju kelas 1-1. Ya, jam sebelumnya kelas itu mengikuti jam olahraga. Tapi Lucy ragu untuk masuk, karena ia tak mengenal satupun siswa dikelas itu, belum sempat ia mengetuk pintu kelas, suara seseorang menginterupsinya.

"Apa yang kau lakukan? dari kelas berapa kau?" tanya seorang guru dengan bola voli ditangannya

Lucy tersentak, ia ketahuan.

"kelas 1-5" tulis Lucy

"Huh? Kenapa kau tidak segera ganti baju?" tanya sang guru dengan galak, ia tak lain adalah Gildarts-sensei

"Maaf, aku lupa membawanya" jawab Lucy dengan notenya

"Kau bilang apa?" teriak Gildarts-sensei

"Pergi! Jangan ikut jam pelajaranku! Aku tidak memiliki murid yang tidak disiplin" kata Gildart-sensei mengusir Lucy

Dengan lemas, Lucy menuruti perkataan sang guru.

"Tunggu. Setelah ini, aku akan menghukummu. Jadi jangan pergi kemana-mana dan berdiamlah di kelas" kata sang guru

Lucy melangkahkan diri menuju kelas, sekilas ia melihat Natsu keluar dari kelas tapi ia menghiraukannya. Lucy sedang tidak mood karena baru seminggu menjadi murid baru, ia sudah mendapat masalah. Ia menghela nafas panjang. Di kelas, ia hanya duduk. Kelas sangat sepi. Diluar sana, terdengar suara teriakan teman-temannya yang tengah berolahraga. Lucy mengerutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya menjadi pelupa. Hembusan angin masuk melalui jendela yang terbuka, meniup rambut gadis blonde dan membuatnya menari-menari. Lucy menyangga rambutnya di telinga, namun angin kembali meniupnya. Lucy mengeluarkan sebuah gantungan berbentuk seperti jimat berwarna merah, ia memandangi gantungan itu.

"Terimakasih, walaupun nanti aku akan dihukum, tapi entah kenapa hatiku bisa tenang" kata Lucy dalam hati

Bel berbunyi. Pergantian jam pelajaran. Para siswa kelas 1-5 mulai gaduh masuk kelas. Aquarius dengan segera menuju bangkunya, mencari ponsel untuk segera mengirim pesan pada sang kekasih. Namun, tidak ada. Ponselnya tidak ada.

"Ponselku" kata Aquarius

"Kenapa?" tanya temannya

"Ponselku tidak ada. Bagaimana ini? Itu pemberian Scorpio, satu-satunya didunia ini" kata Aquarius mulai panik

"Kapan terakhir kali kau melihatnya?" tanya temannya lagi

"Sebelum jam pelajaran Gildarts-sensei, aku menaruhnya di tas, tapi tidak ada. Bagaimana mungkin hilang? Ponsel tidak memiliki kaki kan?" jawab Aquarius

"Kenapa? Kenapa?" tanya yang lain

"Ponsel Aquarius hilang!" jawab teman Aquarius dengan suara keras

"Hilang?" semua heran

"Siapa yang terakhir kali keluar kelas?" tanya yang lain

Seketika semua mata melihat ke arah Lucy. Lucy heran, kenapa semuanya menatapnya curiga, ia tidak melakukan apapun hingga harus ditatap seperti itu. salah satu dari mereka mendekati Lucy.

"Lucy, kau tidak ikut jam olahraga kan? Apa kau melihat seseorang mengambil ponsel Aquarius?" tanya teman sekelas Lucy

Lucy menggeleng.

"Benarkah? Jadi hanya kau sendiri di kelas?" tanyanya lagi

Lucy mengangguk.

"Apa kau yang mengambilnya?" tuduhnya

Lucy langsung menggeleng. Ditulisnya sebuah note.

"Aku tidak mengambilnya" tulis Lucy

"Hanya kau yang berada dikelas, jadi siapa lagi? Semua kelas sedang di tengah pelajaran, tidak mungkin mereka masuk kesini" kata teman sekelas Lucy berusaha memojokkan Lucy, Aquarius mendekat.

"Lucy, apa itu benar?" tanya Aquarius

"Tapi aku sungguh tidak mengambilnya" jawab Lucy

"Aku tidak bermaksud menuduhmu, walaupun kau mengatakan tidak, tapi kau berada di situasi yang salah, jadi maaf kalau aku mencurigaimu" kata Aquarius

"Sungguh" jawab Lucy

"Bisakah kau tunjukkan tasmu? Dengan begitu aku dan yang lain bisa tahu apa kau benar atau tidak" pinta Aquarius

Dengan senang hati Lucy mengeluarkan tasnya. Aquarius membuka tas Lucy, ia memeriksa apa yang berada didalam tasnya, hanya buku-buku pelajaran, sebuah gantungan kecil berwarna merah berbentuk seperti jimat dan . . . ponsel. Aquarius terbelalak, ia mengambil ponselnya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Lucy, kau mengambilnya?" tanya Aquarius

"Aku tidak tahu kenapa itu ada didalam tasku, bukan aku, sungguh" elak Lucy

Natsu dan kawan-kawannya masuk, kelas terasa tegang. Gray dan Loki mengernyitkan dahi, mereka mendekat ke arah kerumunan. Dari jauh, Natsu tersenyum penuh arti.

"Kali ini, aku akan bermain cantik, Lucy Heartfilia" kata Natsu dalam hati

"Kalau kau mengatakan iya, aku akan memaafkanmu dan melupakan hal ini" kata Aquarius lagi

"Aquarius, aku sungguh tidak mengambilnya. Kumohon percayalah padaku" tulis Lucy

"Apa kau punya bukti?" tanya yang lain

"Apa kau punya alibi?" tanya yang lain ikut menyudutkan Lucy

"Hoi, Hoi, ada apa ini?" tanya Gray

"Lucy mengambil ponsel Aquarius dan tidak mau mengaku. Jelas-jelas ponsel Aquarius ditemukan di dalam tasnya" jawab salah satu dari mereka

"Apa itu benar, Lucy?" tanya Gray

"Aku sungguh tidak mengambilnya, Gray" jawab Lucy dalam note

"Lucy tidak mungkin mengambilnya!" bela Loki

"Apa dia punya bukti?" tanya Gray

"Gray, Lucy bukan orang seperti itu" kata Loki

"Aku tahu. Tapi setidaknya Lucy perlu bukti untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah" kata Gray

Tiba-tiba, Brak. Pintu terbuka, Gildarts-sensei masuk. Ia heran melihat kelas yang gaduh dan para muridnya tengah berkumpul mengelilingi seseorang.

"Ada apa ini?" tanya Gildarts-sensei

"Lucy mengambil ponsel Aquarius dan tidak mau mengaku" jawab teman Aquarius

"Lucy, yang mana Lucy?" tanya Gildarts-sensei

Mereka menyingkir, kini terlihatlah Lucy yang tengah berdiri sembari menggenggam erat note ditangannya. Sang guru mengenalinya, itu adalah murid yang tadi tidak membawa baju olahraga.

"Kau! Ikut bapak" kata Gildarts-sensei

Lucy mengikuti Gildarts-sensei. Sepeninggalan mereka, semua berkasak-kusuk.

Sungguh tidak dipercaya, tampangnya sangat kalem tapi ternyata sifatnya seperti itu

Dia pendiam pasti karena menutupi keburukannya

Wajah innocentnya itu benar-benar, dia aktris yang baik hingga bisa berakting sok lemah seperti itu

Aku sungguh kecewa, kukira dia adalah pribadi yang baik

Apa dia semiskin itu hingga mencuri?

Dasar pencuri!

Mendengar cibiran teman satu kelasnya, entah kenapa senyuman Natsu tambah melebar.

"Kau lihat Lucy? tidak ada didunia ini yang percaya pada seseorang sepenuhnya. Dan manusia, hati mereka rapuh. Jika tidak kuat hanya dengan sekali tiupan saja, mereka bisa tumbang. Seperti layaknya sebuah kepercayaan, mereka mempercayaimu sebagai teman, tapi satu kesalahan kecil saja, mereka bisa membencimu. Lalu bagaimana denganku yang mendapat sebuah pengkhianatan dan penghinaan besar darimu? Jadi aku tidaklah salah disini, kaulah satu-satunya orang yang salah. Kau pantas mendapatkan ini, Lucy" kata Natsu dalam hati

To Be Continue

Yo Mina-san

Bertemu lagi dengan Nao di A Voice to You chapter 4. Maaf kalau sudah chapter 4 tapi alur atau penulisanku masih berantakan atau ceritanya yang semakin nggak jelas. Mohon dimaafkan karena sesungguhnya aku memang lemah dalam bahasa indonesia, karena aku selalu berkutat dengan angka-angka dan kotak-kotak di Excel #Lupakan.

Niatnya di chapter ini kebencian Natsu memuncak, tapi kalau begitu kurasa alurnya terlalu cepat. Dari awal aku menargetkan fic ini hanya sampai chapter 6 saja, tapi prediksiku meleset! Kufikir akan lebih panjang, hehe.

Kembali ke cerita. Natsu mulai berubah, tapi berubah lagi. Disini Natsu sudah mulai goyah, tapi siapa yang tahu? Kini Natsu bermain cantik karena ia sudah mendapatkan Warning.

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca fic aku yang nggak jelas ini. tapi aku sangat senang kalian mau mengikuti, dan mereview fic aku. Kutunggu reviewnya lagi agar aku bisa tahu bagaimana aku harus mengembangkan cerita, yang jujur akhir-akhir ini aku kekurangan inspirasi.

Ingat! jangan hanya jadi pembaca saja ya . . .