Shokugeki no Souma bukan milik saya. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini
.
.
.
Langit malam membentuk sebuah kurva dan garis berasal dari cahaya bulan kemudian melintas di langit, tabur bintang serupa kilau aura berjibaku dengan rindu. Dingin tidaklah terlalu, malam bagaikan mimpi dan sebuah kenyataan yang tertayang adalah benda-benda di atas kasurku. Termasuk padu padan surat manis di sana, aku mencoba membacanya dan menemukan sebuah arti yang jelas. Ya. Sebuah arti.
.
.
.
Persona
Lirikan tajam dan tatap istimewa dari lelaki ini, buatku terintimidasi beberapa saat. Dia seperti sesuatu yang berbahaya dan tak bisa dianggap enteng. Hayama bukan sembarang orang, dia tampak memiliki pengalaman terselubung soal kehidupan, meski pada saat ini dia tak bicara banyak atau membuat dia tampak lebih hebat dari Nakiri.
Dia mendaratkan tepukan ringan di bahuku bahkan terasa lebih pelan dari yang sering Aldini berikan padaku. Sebuah papan dada ia simpan di kepalaku entah dari mana dia mendapatkannya aku tak sadar sama sekali. Dan dia menyimpan sikutnya di atas sana, menjadikan kepalaku tumpuan.
Aku kesulitan bergerak karena dia menekan kepalaku begitu kuat. Tak begitu jelas apa yang dia lakukan, yang aku tahu ia melafalkan sesuatu dengan bahasa aneh pada Nakiri, aku mengira-ngira kalau itu bahasa India atau sejenisnya.
Dilepaskan tumpuan sikutnya itu, berpaling dia padaku. "Kalau kau sudah baca brosurnya, kau boleh join di klub yang aku buat."
"Tapi aku tak mengerti, apa yang kau tulis di sana?"
Senyumnya manis, menyebar bak mencelupkan pewarna alami ke dalam satu gelas air putih. Hayama mengedipkan mata. "Aku sengaja melakukan itu, Demian. Nah, kalau kau datang, nanti aku beri tahu maksud dari brosur itu."
"Tapi, Hayama-san..."
"Panggil saja aku Akira, bye!"
...dan dia pergi. Tanpa minta maaf atas tragedi ini, aku diam lalu berpikir lagi sembari membalikkan tubuh. Sesaat aku ingin berbicara pada Nakiri, tapi dia terlihat tak dalam mood baik jadi aku diam saja.
"Erina. Aku mau pergi dari sini.." Baru aku ingat apa tujuanku yang sebenarnya, diam di tempat tak masuk akal seperti ini akan menimbulkan masalah baru. Lagi pula kepalaku baik-baik saja dan tak ada masalah penyakit yang meyakinkan kalau diriku harus ke UKS.
"Kau mau kemana, Flower Boy?" Nakiri menghardik kasar, sembari menatap tajam seolah membenci. "Ini ruangan Kepala Sekolahnya!"
"HA? Kau menipuku! Erina!"
Dia sang pelaku malah tertawa sombong. "Hahaha, kau lucu sekali kalau marah, Rain..."
"KAU-"
"Hey, kalian berdua!" Suara tegas, singkat seperti di dalam permainan kartu judi terdengar begitu menyakitkan. Aku menoleh pelan dan mendapati seorang lelaki tua duduk bergaya tradisional tapi metropolis di kursi yang agaknya seperti singasana.
Sang Kepala Sekolah, bertompang dagu dan sedang menunggu, di sebelah kanan di atas meja ada gelas sake kosong yang kurasa hanya hiasan semata. Aku mendekati si Pembawa Berita ini dengan perlahan sementara si gadis Nakiri itu pergi meninggalkan ruangan.
"Aku ke sini memenuhi panggilan anda, Kepala Sekolah."
Dia tertawa kecil, menunjukan seraut senyuman ramah penuh kerutan di wajah. Dia tak melakukan kegiatan yang mencurigakan atau setidaknya membuat gadis Nakiri di belakang sana mendadak masuk untuk mencuri dengar.
Dia menatap seduktif. "Aku harus memanggilmu apa di sini, nak?"
Aku terkejut dengan pertanyaan itu, tapi berusaha tetap tenang dan bijaksana. Kujawab dengan tingkat keramahan yang sama. "Panggil saya seperti mereka memanggil saya di sini."
Dia mengangguk khidmat. "Bagus. Kau boleh duduk."
Kugeser sedikit kursi ini, duduk santai tanpa perhitungan agak sedikit grogi dan takut melebur menjadi satu. Tapi sebenarnya aku akan lebih panik jika bertemu Azami, karena dia akan bicara dengan cara yang lebih terasa aneh bagiku.
"Ayahmu mengirimkan ini padamu, nak." Di sodorkan sebuah kotak kecil merah dan berukuran sedang, di lengkapi beberapa amplop minta untuk di baca.
Kupandangi benda-benda itu sekilas, terasa aneh mendapati Ayah yang kaku dan to the point memberikan hal-hal seperti ini padaku. Itu bukan kebiasaannya.
Biasanya dia akan memberikan langsung jika itu sebuah hadiah tanpa perlu membungkusnya. Dia selalu bicara ke inti tanpa basa-basi dan kalimatnya terkadang menyakitkan.
"Aneh?"
"Ya, Pak. Saya merasa kalau Ayah... tak perlu memberikan hal ini padaku."
"Aku paham, itu bukan cara Nekta bicara. Aku tahu, dia orang yang sangat serius ketimbang Azami. Tapi, pagi tadi dia memberikan itu. Bukalah."
Aku belum membuka surat-surat itu, meski sangat penasaran siapa gerangan yang menulisnya. Untuk permulaan kusentuh kotak kecil yang terasa dingin di sana layak seksama dan terlatih untuk berlaku pelan.
Berpikir kalau Ayah melakukan hal kelewat romantis dan manis tertayang begini, buatku menahan tawa di atas wajah seriusnya yang galak itu. Tapi lain hal jika Ibu yang melakukannya. Wanita enerjik nan random, kadang aku pusing mendengar ucapannya yang tak jelas itu.
"Oh!" Bola mata biru milikku berkilat takjub ketika membuka kotak. Mataku tertuju asyik pada sebuah lingkaran kecil keperakkan dengan hiasan Phoenix keemasan bertengger angkuh diantara lingkaran. Ada bulatan merah kecil di antara Phoenix itu, sebuah batu mulia yang sangat kecil dan berkilauan.
"Itu cincin..." Kepala Sekolah bergumam pelan, berniat mengutarakan tapi tak ingin terlalu terdengar.
Kusimpan cincin di saku almamater tanpa memakainya, lalu melirik kotak satunya dengan lagak penasaran seperti hendak membuka hadiah Natal atau makan Kalkun saat Thanks Giving.
Di sana, di dalam kotak itu, ada jurnal tebal dan bookmark yang sengaja di siapkan pada beberapa halaman, beberapa buku berbahasa asing kupikir inggris, sebuah foto, novel, flashdisk, laptop baru dan gantungan kunci.
Aku kurang paham kenapa Ayah memberikan semua ini. Ini diluar kebiasaannya. Jika Ayah melakukan hal dramatis, ada rahasia yang ingin dia utarakan.
Aku agak sedikit curiga kalau ini ulah orang iseng yang memiliki maksud tertentu. Tapi, bagaimana aku melihat cincin dan gantungan kunci buatku yakin beratus-ratus persen.
Agak sangat terkesan dengan cara kerja Ayah yang sembunyi-sembunyi jenaka walau terlihat ingin menang sendiri. Aku dibuat tak paham olehnya untuk kesekian kali.
Aku tak pernah memahami cara pikir Ayah. Menurut sudut pandangnya, cara dia merancang strategi sangatlah sederhana kelewat cerdas tapi memusingkan bagi orang lain bahkan mustahil.
"Nak, aku tidak akan membiarkanmu membawa benda itu sendirian. Jadi, aku akan menyuruh Ajudan terpercayaku untuk membawa ini ke kamarmu, akan terkesan aneh jika kau membawanya dan akan timbul kecurigaan. Aku sudah berjanji pada Nekta dan Li Xin untuk menjagamu."
Kepala Sekolah seperti mengerti tentang diriku, faktanya kami baru bertemu beberapa saat dalam helaan napas di Tootsuki.
Dalam senyum kian terkembang luas dan lugas, aku membungkuk sedalam-dalamnya sebagai bentuk hormat yang formal dan penuh penghayatan pada orang terkasih di depan sini.
Kuucapkan ini dengan lantang. "Terima kasih, anda sangat baik. Saya tertolong!"
"Aku tidak yakin sampai kapan ini akan bertahan. Hati-hati dengan murid yang terlihat baik padamu padahal dia Ular. Semua manusia diciptakan baik di awal tapi beberapa diantara mereka tidak ada yang mempertahankan itu hingga akhir."
Aku paham.
...aku harus hati-hati.
Terima kasih.
.
.
Langit malam membentuk sebuah kurva dan garis berasal dari cahaya bulan kemudian melintas di langit, tabur bintang serupa kilau aura berjibaku dengan rindu. Dingin tidaklah terlalu, malam bagaikan mimpi dan sebuah kenyataan yang tertayang adalah benda-benda di atas kasurku. Termasuk padu padan surat manis di sana, aku mencoba membacanya dan menemukan sebuah arti yang jelas. Ya. Sebuah arti.
Tertegun aku memandangi, membaca satu persatu surat yang aku dapatkan dan merapalkan beberapa maksud yang tertera di sana. Surat pertama dari Ayah, bernada agak membosankan tapi terkesan memberi tanda penuh kewaspadaan. Dia menuliskan begini...
Untuk anakku tersayang.
Maaf terkesan mengada-ngada, tapi ini penting. Agaknya, ada orang yang tahu siapa dirimu yang sebenarnya atau maksud kita. Dia orang sama yang kau temui sebelum masuk Tootsuki, Ayah merasa begitu. Ayah sengaja tidak mengatakannya di e-mail dan menggantikannya dengan surat, Ayah takut seseorang membajak e-mailmu dan semuanya akan sia-sia. Kepala Sekolah akan kecewa dan dia akan menyesalkan ini. Ayah mohon bertahanlah. setidaknya satu tahun lagi.
Salam, Ayah.
Aku mengkeryit heran, seseorang yang tahu kedokku? Itu mungkin alasan kenapa Kepala Sekolah berhati-hati. Aku memaklumi sikapnya, aku tak boleh terjebak, aku harus bijaksana.
Harus!
Surat kedua dari seseorang yang tampak jelas, tulisannya rapi dan penuh emoticon aneh, agak berlebihan dan terlalu mengada-ngada, tapi isinya sangat manis dan hangat.
Ini dari Ibu. Isinya begini...
Halo, Ibu tahu kalau kau rindu rumah. Tapi, ini tugasmu bukan ^o^/) ? Terima kasih sudah mau membantu Kakak tersayang kita dan berkatmu semua berjalan lancar. Ibu dengar sebentar lagi Tootsuki akan mengadakan test di sebuah kamp, Ibu lupa apa istilahnya, tapi berjuanglah \(`o`") Ibu tahu kau itu anak yang pintar dan hebat, jadi ratakan saja semua murid seperti kau meratakan mentega di atas roti ^o^/)
Kalau itu sih, aku juga tahu, Ibu...
Selanjutnya kulirik flashdisk tergulung kertas putih, bentuknya panjang dan agak tipis. Tetapi kau masih bisa melihat bentuk dan raga dari benda itu sendiri meski kau menyipitkan mata sekalipun.
Sesuatu tertulis di sana sebagai keterangan, tintanya biru dengan kwalitas buruk. Melihat si pembawa menggunakan warna seperti itu, buat mata ini sakit akibat warna yang terlalu terang.
Tepat seperti dugaanku, keterangan pada flashdisk hanya ulasan penggunaan sederhana berupa...
Sambungkan ini pada laptop.
Kusambar benda yang dimaksud dari kertas itu. Benda elektronik sewarna mataku. Dengan sigap dan cekatan kujelajahi isian laptop seperti Investigator yang hendak mengetik Pengakuan Tersangka Pembunuhan Berantai.
Koneksi internet di sini agak aneh, buruk, tak stabil juga tidak terlalu menggairahkan, mungkin karena tempat ini terbelakang?
Pop up berupa file kuning muncul di layar kala koneksi antar perangkat tersambung. Ibarat menemukan peta harta karun, aku langsung mengeksekusi. Ku-klik 2 kali secara serentak hingga menampilkan beberapa file yang diberi nomor seri berurutan, semuanya diawali angka 0.
Kubuka file pertama dengan lagak sok penasaran. Lama-lama rasa penasaran dan kesan misterius berubah menjadi gugup, heran, panik dan takut bergabung menjadi satu kesatuan.
Keterangan file berformat PDF aku terima. Kubuka sambil menghisap jempol demi menghilangkan rasa.
"Artikel tahun lalu, keren..."
Judul berfont besar dicetak miring dan tebal buatku tertarik. Sebagai alasan pertama untuk membaca artikel ini karena judulnya yang menurutku kontroversial.
Artikel ini agaknya dibuat oleh jurnalis amatir Tootsuki, terlihat dari mana yang bersangkutan menuliskan. Dia menulis artikel ini pada sebuah blog yang kurang jelas, aku tahu dari kutipan kecil yang memuat sumber tulisan. Dari artikel yang dibuat, tampaknya ini mengacu pada kegiatan Tootsuki yang tak terlalu disorot media, seperti yang di agung-angungkan.
Wah, berani juga dia membuat tulisan ini. Bukan. Maksudku. Artikel ini terlalu memihak dan agak menyudutkan Tootsuki. Itu letak hebatnya.
Aku membaca tepat seluruh isian artikel dan menemukan beberapa istilah yang aku tak paham. Tapi jurnalis itu menulis keterangan di bawah sebagai aksi terselubung.
Agak menggelikan kala membaca isiannya, si jurnalis tersulut emosi yang berlebih. Ada beberapa paragraf aneh hingga aku tak paham kenapa Tootsuki mempunyai standar semacam ini, seperti yang dia sebutkan di artikel.
Kusebut ini sebagai Neraka dalam damai, berbuat licik di halalkan dan kekejaman hanya sebuah bumbu picisan.
Di bawah sana, dia melampirkan sebuah foto walau sebenarnya di blur tapi kau akan tahu siapa yang dia maksud jika itu seseorang yang terkenal atau kau kenal.
Dia menuliskan begini sebagai keterangan tambahan pada foto tersebut.
Orang yang agaknya mengacaukan sistem akan di keluarkan dari Sekolah.
Baru aku sadar akan satu hal. Ada yang tak asing pada artikel ini. Barisan angka, tulisan yang mendistorsi itu buat kepalaku berputar-putar. Kusambar jurnal yang tergeletak di lantai, mungkin aku tak sengaja menjatuhkannya dan mencari di mana letak orang yang di maksud pada foto juga kejadian-kejadian pada artikel itu.
"Ketemu!"
Jika aku tidak salah.
Orang yang ada di foto blur itu adalah...
'Tok tok'
"Demian-san belum tidur?"
Isshiki? Mau apa dia malam-malam begini?
Kusorot sedikit bayangan diriku di cermin, melihat apa aku terlihat mencurigakan jika aku membuka pintu.
Kubuka pintu, menampilkan sosok lelaki muda peach berdiri anggun, berbalut jaket hitam dan celana panjang putih. Dia... normal.
"Ada apa?"
"Kau lihat... sesuatu yang bergerak?"
"Apa maksudmu?"
Dia yang ditanya tak menjawab, malah membanting pintu dengan kasar, menimbulkan suara kelewat nyaring menyakiti telinga. Angin menerpa helai putih ku, buat diriku memejamkan mata pelan sebab efek yang timbul.
Ditepuk kedua belah bahu ini oleh Isshiki, dia menundukkan sedikit kepala, menatap dalam diam juga penasaran yang menyergap.
Aku jadi... bimbang.
"Waktu itu kau mau bilang sesuatu 'kan Rain? Apa itu? Katakan... aku tak suka rahasia."
Kusimpan telapak tanganku di atas punggung tangannya "Kupikir aku sudah melupakannya..."
Layaknya bertemu dengan perompak. Aku di dorong dengan tenaga yang relatif keras hingga keseimbanganku hilang.
Seketika, dalam ritme yang hilang tanpa jejak. Aku terjatuh cukup dalam, tetahan kepalaku ini oleh telapak tangan Isshiki yang terasa lebar dan besar.
Kutatap dua bola mata hijau yang menatap penuh minat, seperti layaknya aku menikmati buah zaitun langsung dari pohon.
Jemari satunya merayap agresif, menjelajahi lekuk leherku ini dengan pelan penuh rasa damai. Ia mendesahkan pelan sebuah nama tepat di telingaku. "Rain..."
Seluruh tubuhku terasa sangat panas, naluri bergerak luas untuk meminta Isshiki menghentikan semua. Aku merasa ada sesuatu yang meledak di bawah sana.
Wajahku merona hebat dengan alasan yang spektakuler. Kulit leherku mulai terasa aneh dengan sapuan hangat yang dilakukan orang ini. Kelembutan selanjutnya yang kemudian kurasakan ketika dia sedang mencium kulit leherku, lalu menjadi sakit ketika dia melakukan hal sulit kudeskripsikan.
Dia berujar pelan tepat di depan wajahku. "Apa kau takut padaku?"
"Tolong... jika kau memang tahu soal ini jangan katakan pada orang-orang. Aku akan sangat hancur."
Wajah Isshiki mendadak lebih serius dari sebelumnya, rasanya aku menjadi pucat pasi. "Aku tanya apa kau takut padaku?"
"Tidak. Aku menghormatimu, tapi tolong jangan lakukan ini..."
"Kau memang sejak awal takut padaku, 'kan? Tapi... aku selalu memikirkanmu. Kenapa?"
"Kau tak tahu apa-apa. Yang aku takuti bukan dirimu, tapi sesuatu yang lebih dari itu. Kau bukan alasannya."
"Kau tahu?" Dari leher, jemarinya turun ke bawah. Dia melanjutkan. "Ada satu yang membedakan antara aku dan kau."
Ia berhenti, menyeringai tatkala rupaku menjadi takut, dia berjalan perlahan, menyimpan jemarinya di atas dadaku lalu menekannya pelan.
...lalu
'bruk'
"Aw..."
Aku terjatuh dari kasur, kening membentur lantai cukup keras. Aku tidak tahu apa aku meninggalkan bekas luka atau memar, aku sedikit pusing.
Kuamati sekeliling, sinar matahari memendar luas di kamar, laptop masih dalam keadaan menyala, begitupun dengan surat-surat yang tergeletak di atas kasur.
Aku ketiduran.
Yang tadi itu hanya mimpi. Mimpi macam apa?
Aku bergegas keluar, mengunci pintu kamar dan bergerak memeriksa keadaan. Di koridor aku bertemu ( lagi ) dengan Isshiki, memakai pakaian yang sama dengan yang ada di dalam mimpiku tadi.
Dia sedang menyender di tembok juga menundukkan kepala serta menyimpan kedua tangannya di saku jaket hitam.
Kusapa dia. "Selamat Pagi."
Dia mendongak, menampilkan senyum yang tak biasa. "Pagi..."
"Apa kau baik-baik saja?"
Tidak. Pertanyaanku salah. Sosok peach yang kulihat bercengkrama dengan Sakura tidak sama seperti waktu itu. Dia mencoba mendekat, berdiri di depanku dengan ekspresi yang sulit aku deskripsikan.
Selanjutnya hanya peluk hangat yang aku terima dan aroma zaitun yang dimilikinya menular padaku.
"Aku janji." Dia berkata begitu, pelukan dia pererat. "Aku minta maaf."
