Naruto © Masashi Kishimoto

Genre: Adventure, family, Romance

Pairing: Naruto U. & Sakura H.

Warning: AU, OOC, kata-kata tidak baku, gaje, abal

Don't like don't read~!

.

.

.

.

~Happy Reading~!

.

.

Summary:

.

.

Sepasang suami istri yang telah lama menginginkan seseorang anak tapi tidak bisa karena sang istri mandul. Lalu datanglah DIA yang menawarkan kalau dia bisa memberikan anak untuk mereka. Tapi apa jadinya kalau bayi itu adalah bayi berdarah hitam yang banyak di incar. Bahkan sewaktu kehamilan itu dia tidak mengandung selama Sembilan bulan tapi Sembilan tahun.

Kini sang bayi itu akan membawa dampak bagi kehidupan di bumi,dialah sang terpilih. Yang mereka lakukan adalah mamastikan bahwa anak itu jangan sampai jatuh ditangan musuh.

Mampukah mereka…

.

.

Chapter 4

.

.

.

"Jadi begitu ceritanya…'' tanya pria itu kepada seorang pemuda bermasker didepannya itu. Kakashi.

"Begitulah. Aku juga tidak tahu bahwa putri Sakura secepat itu berubah.'' Ucap Kakashi.

"Hm, kau benar. Apa kita harus memberitahu siapa dirinya sebenarnya." Ucap ayah Sakura lagi.

"Entahlah, tapi saat putri Sakura tersadar. Dia pasti akan mempertanyakan kejadian tadi. Dan pasti akan syok juga''

"Hn, kau benar Kakashi.''

Mereka berdua terdiam, sungguh mereka bingung mau menjelaskan kepada Sakura seperti apa. Ketika mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing terdengar suara kaki melangkah ke arah mereka. Mereka menengok. Karura dan Rin baru keluar dari kamar Sakura yang berada dilantai atas.

Tampak wajah sedih jelas terlihat diwajah Karura. Sedangkan Rin di sampingnya sesekali mengelus bahu Karura untuk kuat.

"Bagaimana keadaannya Karura?'' Tanya sang suami ketika Karura duduk disamping suaminya.

"Dia masih belum sadar juga. Dan Gaara menemaninya di kamar. Padahal bilang Rin, tidak ada luka pada tubuh Sakura.'' jawab Karura dengan mata yang berkaca-kaca yang sewaktu-waktu bisa tertumpah kapan saja. Suaminya merasakan apa yang dirasakan sang istri, segera saja ia menarik kepala sang istri kedalam dekapannya. Sesekali mengecup pucuk kepala sang istri.

"Kau tenang saja, Sakura tidak akan kenapa-kenapa.'' Hibur sang suami sedangkan Karura hanya bergumam dan mengangukkan kepalanya.

"Hmmm.''

"Lalu bagaimana dengan Naruto, Rin?'' Kali ini Kakashi yang berbicara kepada Rin di sampingnya. Rin tidak langsung menjawab, dia ragu-ragu.

"i-itu ku rasa lukanya cukup parah dibagian dada. Tadi dia sudah sadar. Tapi, dia langsung merasakan nyeri didadanya, kurasa kekuatanku tidak cukup membantunya. Aku hanya bisa mengurangi rasa sakitnya. Tapi tidak bisa menyembuhkannya. Kekuatanku tidak sebesar punyamu Kakashi.'' Ucap Rin sedih.

"Begitu.''

Mereka semua terdiam. Sungguh mereka sangat prihatin kondisinya Naruto. Belum lagi keadaan Sakura belum sadarkan diri saat ini.

"Tenang saja kita akan cari cara untuk menyembuhkan Naruto.'' Ucap Kakashi.

.

.

.

.

Enghmmm…

"Hn, kau sudah sadar.'' Ucap Gaara yang melihat Sakura mulai tersadar.

"Aku di-di mana Nii-chan?'' tanya Sakura sambil memperhatikan sekelilingnya.

"Kau di rumah Saku-chan.'' Jawab Gaara.

Sakura bangun dan mendudukan dirinya di atas kasur, dan mengurut-urut kepalanya pelan. Seakan baru tersadar dia tersentak kaget, mengingat Naruto yang tadi melindunginya.

"Na-Naruto… di mana Naruto Gaara Nii.'' Ucap Sakura panik.

"Kau tenang saja, Naruto ada dikamar tamu. Dia baik-baik saja.'' Ucap Gaara menenangin. Sakura yang mendengar omongan Gaara langsung merasa lega. Melihat adiknya sudah tenang, Gaara memutuskan untuk memanggil orang tuanya.

"Aku akan memanggil Kaa-san dulu.'' Ucap Gaara. Sakura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Hum…'' gumam sakura. setelah itu segera saja Gaara keluar dari kamar untuk menemui orang tua mereka, memberitahu bahawa Sakura telah sadar. Sepeninggal Gaara, Sakura termenung dalam pikirannya dan teringat apa yang telah dia lakukan.

aakhhh.

Dia tersentak kaget. Dia mengingatnya, segera ia meremas kepalanya meringkuk ketakutan. Badannya gemetar, mengingat bahwa dia telah membunuh penjahat itu dengan kedua tangannya. sungguh dia tidak habis pikir dia bisa melakukan hal itu.

.

"Sakura?!''

Sakura mendongak, melihat siapa yang memanggilnya, yang ternyata adalah Karura, ibunya. Melihat Sakura yang tersadar segera Karura memeluk putri bungsunya itu. mencium kening dan pipinya berulang kali.

"Oh kami sama, syukurlah kau sudah bangun nak, Kaa-san sangat mengkhawatirkanmu.'' Ucap Karura senang ketika Sakura telah sadar.

"Aku tidak apa-apa Kaa-san.'' Ucap Sakura sambil memeluk ibunya dengan erat. Sedangkan ayahnya menghampiri kedua wanita yang saling berpelukan itu.

"Syukurlah kau tidak apa-apa nak.'' Ucap Tou-sannya sambil mengelus kepala Sakura. Sakura melepaskan dari pelukan ibunya dan menatap orang-orang yang berada dikamarnya. Sakura melihat orang yang datang menolongnya tadi.

"Dia siapa Kaa-san?'' Tanya Sakura sambil menunjuk pria bermasker itu.

"Di-dia adalah…? Karura tidak melanjutkan bicaranya. Dia terdiam, lalu dia memandangi suaminya. Suaminya menghela nafas pelan.

"Kakashi! Hatake kakashi.'' Ucap ayahnya.

.

.

.

"Bodoh! Ternyata semudah itu dia di kalahkan oleh perempuan. Ck, sungguh memalukan.'' Ucap kesal pria yang memakai baju bermotif awan-awan merah. Sama seperti orang yang berada disebelahnya.

"Jangan seperti itu, bagaimana pun dia adalah teman kita Hidan.'' Tegur teman disebelahnya.

"Hn, justru dia teman kita Zetsu,kita sudah memperingatkan untuk tidak gegabah. Tapi apa yang terjadi. Dia malah sudah hancur begini.''

"Ternyata gadis itu kuat juga.'' Ucap Zetsu tanpa membalas perkataan temannya itu.

"Hmm, sepertinya akan sulit menangkap sang putri, belum lagi penjaganya itu Kakashi Hatake dan Rin.'' Ucap Hidan kepada Zetsu yang saat itu mengumpulkan dan membakar tubuh temannya.

"Kau benar. Belum lagi si Dewa kegelapan yang menginginkan kekuatan anaknya sendiri.'' Jawab Zetsu membenarkan perkataan teman serekannya itu. Sungguh mereka akan sulit mendapatkan Sakura, karena sang Dewa kegelapan tidak akan tinggal diam mengetahui bahwa mereka juga mengincar anaknya selain dirinya.

.

.

.

Sakura memasuki sebuah kamar yang dimana kekasihnya berada di dalam kamar itu. Dia menghampiri Naruto yang sedang terbaring. Tampak sekali di wajah sang kekasih kesakitan. Sungguh mengingat percakapannya tadi dikamarnya, membuatnya sedih.

.

Flashback

.

"Dia siapa Kaa-san? Tanya Sakura sambil menunjuk pria bermasker itu.

"Di-dia adalah…? Karura tidak melanjutkan bicaranya. Dia terdiam, lalu dia memandangi suaminya. Suaminya menghela nafas pelan.

"Kakashi! Hatake kakashi.'' Ucap ayahnya.

"Hatake Kakashi? Ucap Sakura. Dan tiba-tiba saja dia merasakan déjà vu. Dia seperti terseret dalam masa lampau .

.

.

Flashback

.

sehari sebelum penyerangan kerajaan

.

.

.

Tampak alun-alun kerajaan sedang ramai hari ini. ya hari inimereka akan mengadakan pesta penyambutan kelahiran untuk sang putri. Setelah sekian lama mereka menunggu. Para rakyat menyambut dengan suka cita.

Semua orang yang berada dikerajaan sedang sibuk, Raja dan Ratu memperhatikan mereka di balkon utama, dikamar mereka. Sang surya pagi menerangi sang Raja dan Ratu yang saat itu juga bersama anak mereka. Sakura baby.

Raja dan Ratu tidak pernah bosan memandang buah hati mereka. Walau Sakura yang masih kecil saat itu kerjanya hanya tertidur, tapi mereka tetap bahagia melihatnya. Raja mengalihkan pandangannya ke depan. Memandang awan yang cerah saat itu.

"Kau tahu mebuki? Aku merasa kehidupanku saat ini sangat lengkap dengan adanya kalian berdua disisiku.'' Ucap Kiazhi. Sang Ratu yang mendengarnya hanya menatap bingung sang suami.

Sang suami yang mengerti akan kebingungan sang istri segera saja mengalihkan pandangannya, menatap istri dan sesekali memandang wajah tidur kecil Sakura.

"Kalian adalah harta yang paling berharga untukku, seumur hidupku.'' Mebuki tersenyum mendengar perkataan suaminya.

"Kau dan juga Sakura adalah hadiah yang terindah oleh kami sama untukku. Aku tidak tahu bagaimana bisa tanpamu. Terimakasih sudah bersabar bersamaku.'' Ucap tulus Mebuki.

Kiazhi tersenyum lembut mendengar perkataan sang istri, begitupun Mebuki dia juga tersenyum lembut hingga akhirnya wajah mereka mendekat, semakin mendekat. Hingga akhirnya kedua bibir itu saling bertaut lembut.

Tanpa menghimpit buah hati mereka, mereka berciuman dengan lembut secara perlahan-lahan. Meresapi rasa bibir pasangan masing-masing. Dan tanpa disadari oleh mereka, Sakura kecil membuka matanya, mata hijau itu memperhatikan kedua orang tua mereka.

Walau dia tidak mengerti apa yang di kerjakan oleh orang tuanya, tapi Sakura tertawa tanpa suara.

.

.

.

Kakashi memandang sebal kepada ayahnya, Hatake Sakumo. Seharusnya hari ini dia bisa bermain sama teman-temannya. Tapi yanga ada dia harus mengikuti sederet pelatihan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa. Dia benci, dia kesal.

Semenjak lahir putri sakura, ia sudah mendapatkan perintah bahwa ia akan menjadi pengawal atau pelindung untuk sang putri. Dia menyumpahi sang putri, gara-gara dia, ia menjadi kehilangan masa kanak-kanaknya.

.

.

"Kakashi bukan seperti itu cara menganyunkan pedang. Kau harus tegap dan tanganmu juga harus kuat dan mata harus tetap focus. Kalau kau begitu kau akan dengan mudah ditumbangkan oleh musuh.'' Ucap tegas Sakumo. Cukup sudah pikir Kakashi.

Brakk.

Kakashi menghempaskan begitu saja pedangnya ke tanah. Sudah cukup dia bersabar sekarang dia sudah tidak tahan lagi.

"Apa yang kau lakukan Kakashi.'' Ucap Sakumo marah. Kakashi tidak menjawab dia meninggalkan tempat itu. sang ayah geram, segera saja dia mencekal kasar tangan sang anak.

Greeebb.

"Seorang pelindung tidak seharusnya pergi dari tugas yang diberikan .''

"Tugas ini tidak pernah aku inginkan ayah. Aku tidak memilih ini SEMUA. Kenapa? Kenapa sekian banyaknya orang, kenapa putri Sakura memilihku! Aku benci putri, aku BENCI!'' Teriak Kakashi marah.

Sakumo dapat melihat tatapan benci dari sang anak. Dia menghela nafas menahan amarah.

"Kakashi…'' panggil sang ayah pelan sambil memegang kedua pundak putranya. Dia mensejajarkan tingginya dengan Kakashi. "ayah tahu kau tidak suka semua ini. Tapi kamulah adalah yang terpilih, nona Sakura memilihmu, dan nona Sakura membutuhkanmu.''

"Tapi aku ingin tidak mau ayah. Hiks aku tidak mau.'' Ucap Kakashi sambil menangis. Ayahnya tersenyum, dia menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Kakashi sambil berujar.

"Ayah tahu nak, kau ingin seperti teman-teman sebayamu. Tapi ketahuilah nak. Hidup sang putri ada ditanganmu.'' Kakashi mendongak menatap ayahnya bingung. Dia mencermati setiap perkataan ayahnya.

"Putri memilihmu karena suatu alasan. Putri mempercayakan segalanya padamu Kakashi. Lindungilah dia. Kau saat ini adalah keluarganya, pelindungnya, dan juga saudaranya.

"Lihatlah punggung tanganmu Kakashi.'' Kakashi memperhatikan punggung telapak tangannya yang ditunjuk oleh ayahnya. "tanda ini adalah bukti bahwa kau sangat berarti buat putri Sakura.'' Ucap ayahnya.

Kakashi kecil itu berhenti menangis. Dia melihat, dipunggung telapak tangannya yang ternyata ada sebuah tato bergambar bunga Sakura. kecil cantik.

"Ini adalah bukti bahwa kau sangat berarti untuk putri, percayalah nak putri Sakura menyanyangimu walaupun dia masih bayi.'' Jelas ayahnya. Sakumo bangkit meninggalkan kakashi yang masih asik memandangi tato kecil itu.

Seperti tersihir akan kecantikan tato itu, Kakashi tersenyum sambil bergumam dalam hati, dia berjanji bahwa dia akan menjadi kuat dan melindungi putri Sakura walau itu harus mengorbankan nyawanya sekaligus.

Ya dia berjanji.

.

.

.

"Kakashi perkenalkan ini adalah putri Sakura.'' ucap Mebuki. Mebuki mensejajarkan tingginya dengan Kakashi sehingga Kakashi melihat dengan jelas bagaimana rupa sang putri yang akan dia lindungi.

Kakashi tersihir oleh kecantikan bayi mungil itu. Apalagi ketika bayi kecil itu atau Sakura membuka matanya. Mata hijau yang tak berdosa itu menatap wajah Kakashi. Kakashi menjulurkan tangannya mengusap lembut pipi tembem itu dengan jari telunjuknya.

.

.

Stttt.

.

.

Perasaan hangat mengalir dalam hatinya tak kala Sakura baby mengenggam jari telunjuk Kakashi yang mengusap pipinya. Sakura tertawa tanpa suara. Kakashi menyukainya Sakura.

Kiazhi dan Sakumo yang melihat itu tersenyum. Bahkan Mebuki memandang dan tersenyum kepada kedua pria itu. kedua pria itu mengangguk kepada Mebuki. Mebuki tersenyum senang.

"Kakashi?!" Panggil mebuki lembut. Kakashi segera saja mendongak menatap sang ratu didepannya. Mebuki tersenyum sambil mengelus kepala Kakashi dengan penuh kasih sayang.

"Berjanjilah kau akan selalu bersama Sakura.'' Ucap Mebuki. Kakashi segera saja mengangguk kepalanya dengan tegas.

"Aku berjanji Ratu, aku akan melindungi sang putri.'' Ucap tegas Kakashi. Mebuki tetawa haru. Segera saja dia mendaratkan ciuman kecil ke arah Kakashi dan memeluknya.

"Aku percaya.''

.

.

.

Flashback off

.

.

"Anda pasti bingung siapa saya tuan putri. Perkenalkan saya adalah Kakashi Hatake. Pelindung anda. Dan dia adalah Rin.'' Ucap Kakashi sambil membungkuk hormat dengan berlutut satu kaki dan kepala menunduk. Begitupun juga yang dilakukan oleh Rin.

Sakura turun dari ranjangnya, menghampiri Kakashi dengan uraian air mata.

Brukkk.

Sakura berlutut mensejajarkan dengan Kakashi. Dia menangis. Dia ingat siapa orang yang sedang membungkuk hormat kepadanya. Segera saja dia memeluk erat Kakashi. Kakashi semula kaget apa yang dilakukan oleh putrinya itu. Tapi segera saja dia tersenyum dibalik maskernya dan membalas pelukan Sakura.

Dia tahu pasti putri Sakura sudah mengingat siapa dia sebenarnya.

Suara isak tangis pun menjadi melodi dikamar itu. semuanya memandang haru, Rin pun yang tadi berlutut mendongak dan berdiri, menatap dan tersenyum lembut. Kedua anak manusia dihadapannya menangis.

Baru kali ini dia melihat Kakashi menangis.

"Hiks, hiks, hiks, aku merindukanmu Kakashi Nii.'' Kakashi tersenyum mendengar Sakura merindukannya. Dia melepaskan pelukannya menatap wajah Sakura yang menangis. Dia menghapus cairan bening itu dengan lembut.

"Jangan menangis putri, aku juga merindukanmu.'' Ucap Kakashi. Sakura semakin menangis dengan keras.

"Huaaaaa.'' Segera saja dia memeluk Kakashi dengan erat. Kakashi terkekeh melihat Sakura, betapa cengengnya putrinya itu.

Semua yang berada di ruangan itu tersenyum menyaksikan interaksi Kakashi dan juga Sakura. Karura memeluk suaminya. Dia memandang suaminya begitupun juga suaminya memandang Karura. Mereka tersenyum. Segera saja suaminya itu mencium kening sang istri.

.

.

.

"Sakura?'' panggil sang ayah dan Sakura pun menengok ke arah ayahnya yang ada dibelakangnya tanpa melepaskan tangannya yang berada di leher Kakashi.

"Sudah saatnya kau tahu siapa keluargamu yang sebenarnya…''

"…"

"…"

"…"

Sakura menghapus air matanya. Dia berdiri diikuti oleh Kakashi. Sebelum dia berbcara dia mengambil nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Sakura menatap satu-persatu orang yang berada disitu.

"aku adalah seorang putri mahkota dari kerajaan konoha. Dan aku adalah putri mahkota dari Raja Kiazhi dan Ratu Mebuki.'' Ucap sakura jelas.

"Ja-jadi kau sudah tahu?!'' ucap ayahnya kaget.

"Hmm.'' Gumam sakura sambil mengangguk.

"Maaf ayah menyembunyikannya selama ini darimu.'' Sakura menggeleng.

"Tidak ayah, ayah tidak salah.'' Ucap Sakura. Dia tidak ingin ayahnya merasa bersalah kepadanya.

"Aku tahu, ayah melakukan semua ini untuk melindungiku. Aku juga baru tahu ketika aku melihat Kakashi. Aku melihat masa laluku. Walau baru sedikit.'' Ucap Sakura lagi. Semua memandang Sakura yang tertunduk.

.

.

"Dan ada satu hal lagi Sakura.'' ucap ayahnya. Sakura mendongak menatap ayahnya itu dengan heran.

"kau adalah …''

"ANAK BERDARAH HITAM"

.

.

.

.

Flashback off

.

.

"Apa yang harus kulakukan Naru… maafkan aku, maaf karena aku, kau jadi terluka karena melindungiku. Hiks hiks hiks maafkan aku naru…"

"..."

"..."

"..."

Setttttt

Sebuah tangan menyentuh pipinya. Menghapus bulir-bulir air mata yang terjatuh dari kedua mata emerald itu. Sakura mengangkat kepalanya, mendapati sang mata safir itu tersenyum hangat kepadanya. Sungguh membuat Sakura ingin lebih keras lagi untuk menangis.

"Hiks hiks hiks Na-Naruto…'' panggil sakura sedih.

"Jangan menangis Saku-chan. Aku paling benci melihatmu manangis Nee… sudah ku bilang untuk tidak cengeng."

"Hm, tidak.'' Ucap Sakura sambil menggelengkan kepalanya. Naruto tersenyum, Naruto mengulurkan tangannya memegang dagu Sakura dan membawa wajah itu untuk bisa dilihat oleh kedua matanya.

"Aku tidak apa-apa Saku-chan.'' Sakura menggelengkan kepalanya lagi.

"Kau terluka parah Naru… aku sudah dengar sendiri dari Rin. Bahwa hiks ka-kau hiks terlu-luka pa-hiks parah.'' Ucap Sakura sengungukan. Naruto tersenyum.

Naruto mencoba untuk bangun dan duduk di ranjang dengan sedikit meringis, sakit di bagian dadanya. Sakura yang melihat itu segera membantu Naruto.

"Kemarilah Saku-chan.'' Ucap Naruto mengulurkan tangannya agar Sakura mendekat. Sakura yang mengerti, segera naik keatas ranjang dan segera menyusupkan dirinya didalam dekapan Naruto. Naruto memeluknya erat.

.

.

"Naru…"

"Hm.''

"a-aku… aku…"

"aku sudah tahu Saku-chan. Tadi Rin dan Kakashi-san memberitahukanku. Kau tenang saja aku tidak akan meninggalkanmu.''

"Ta-tapi Naru… a-aku…''

"Sudahlah Saku-chan. Apapun yang terjadi kita akan sama-sama. Meski kau adalah malaikat atau setan atau semacamnya. Aku tidak akan meninggalkanmu.''

"Tapi aku tidak ingin orang-orang yang kusayang melindungiku dan terluka olehku Naruto.'' Naruto tersenyum mendengar perkataan sang kekasih.

"Justru aku tidak melindungimu, aku akan sangat terluka Saku-chan. Kau adalah segalanya untukku.''

Ucap Naruto sambil memandang kedua mata Sakura seakan menegasi bahwa dia serius akan ucapannya.

"Kau janji tidak akan meninggalkanku…''

"Aku janji.''

Sakura tersenyum haru dan langsung saja ia menarik kepala Naruto dan menciumnya lembut dan di balas lembut juga oleh Naruto.

.

.

.

Sebuah mobil Quarto warna biru donker sedang melintasi jalan tol. Pengemudinya seorang pemuda ganteng dan cool bernama Uchiha Sasuke. Yang saat itu baru saja pulang dari rumah kekasihnya Hyuga Hinata.

Entah dia terlalu cepat menjalankan mobilnya karena jalanan sepi. Tiba-tiba saja mobil yang di kendarainya berhenti mendadak sampai suara remnya terdengar seperti menjerit.

.

Ciiiiiiiittttttt…!

.

Sasuke menggeram dan segera keluar melihat siapa yang hampir di tabraknya, ternyata yang hampir di tabraknya itu adalah seorang gadis berambut merah memakai kacamata.

Deg

Sasuke sempat terpesona melihat perempuan itu, perawakannya yang tinggi, sekal, kulit putih bersih, rambut merah panjang sepunggung di urai lepas. Sungguh kecantikannya sempat memukau Sasuke. Tapi dia secepatnya tersadar.

"Kau tidak apa-apa.'' Tanya Sasuke sambil membantu gadis itu berdiri.

"Hm, aku tidak apa-apa.''

"Hn, maaf tadi aku hampir menabrakmu.'' Ucap Sasuke dengan tampang datar. Gadis itu sempat mengeryit tidak suka. Menurutnya orang ini biarpun meminta maaf sama saja seperti tidak minta maaf kalau dengan wajah dingin seperti itu.

"Tidak masalah tadi aku juga yang salah menyebrang tanpa memperhatikan jalanan dulu." Ucap gadis itu sambil tersenyum tipis dan senyum itu membuat hati sasuke terperangah kagum. Ternyata senyum tipis itu memancarkan daya tarik yang sangat tinggi.

Tapi sasuke tidak ingin terlarut dalam kagumnya segera saja dia alihkan dengan mengajak gadis itu berbicara.

"Hn. Kau ingin kemana malam-malam begini.''

"Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin bertemu dengan tuan putri.'' Ucap gadis itu. Sasuke menatapnya bingung.

"Aku baru saja berada di bumi ini, jadi aku tidak tahu tuan putri berada di mana. Aku sudah melacak auranya, tapi tenagaku sudah terkuras habis saat menuju ke bumi.'' Dan perkataan perempuan itu membuat Sasuke makin menekuk dahinya.

"Apa maksud perempuan itu? Baru berada di bumi? Apa dia hantu?'' tanya sasuke dalam hati. Tapi setelah diteliti mulai dari atas sampai bawah dia tampak seperti manusia biasa bukan hantu yang melayang diatas udara.

"Siapa namamu.'' Tanya perempuan itu dan membuat Sasuke segera tersedar dari tatapannya yang mengintrogasi perempuan yang ada didepannya.

"Uchiha Sasuke.'' Ucap singkat Sasuke.

"Aku Karin.'' Ucap Karin sambil menyodorkan tangannya ke arah Sasuke untuk berjabat tangan. Sasuke sempat memandang tangan mulus itu dengan bingung.

"Kenapa?" Tanya Karin aneh. "apa aku salah, bukankah manusia dibumi ini kalau berkenalan menjabat tangan.'' Ucap Karin polos. Dan sukses membuat Sasuke bertanya-tanya siapa perempuan yang ada di depannya. Apa dia orang gila. Pikir Sasuke.

Sasuke segera menyambut uluran tangan perempuan cantik itu.

"Kau yakin tidak tahu mau kemana.'' Tanya Sasuke ketika melepas jabatan tangannya dari Karin.

"Hmm.'' Gumam Karin dan menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.

"Rumahmu? Aku bisa mengantar kerumahmu kalau kau mau.'' Tanya Sasuke lagi.

"Hmmm, apakah aku mempunyai rumah di bumi ini.'' Karin justru balik bertanya dengan wajah bingung. Cukup sudah, ucap batin Sasuke kesal.

"Baiklah, aku tidak ingin meladeni orang gila sepertimu.''

"Orang gila?'' Karin mengerutkan dahinya "hei… kau menyebutku orang gila.'' Ucap Karin tidak terima.

"Hn.'' Ucap Sasuke singkat sambil masuk kedalam mobilnya, sebelum dia menutup pntu mobilnya segera saja ditahan oleh Karin.

"Maaf ya tuan saya bukan orang gila.'' Ucap Karin tidak terima di bilangi dirinya orang gila.

"Hn, seterahmu.'' Ucap Sasuke menarik pintu mobilnya paksa dan segera menghidupkan mobilnya meninggalkan gadis itu sendiri.

"Heiii….'' Teriak Karin. Karin hanya mendengus melihat Sasuke pergi meninggalkan dirinya sendiri.

"Huffft… dasar manusia dingin.'' Kesal Karin. Seketika wajahnya berubah sendu. "dimana lagi aku mencari putri" ucap Karin sedih. Dia sudah lelah seharian ini dia memakai kekuataannya. Dia ingin istirahat kembali ketempat asalnya, itu tidak mugkin. Kalau dia bisa dia akan melakukannya sekarang. Mana saat ini perutnya lapar minta diisi.

Sasuke sempat melirik ke kaca spion melihat Karin yang terdiam sendiri di pinggir jalan tol yang melihati mobilnya.

"Ck, sial.'' Geram Sasuke tidak tega melihat gadis itu padahal Sasuke tidak pernah perduli kepada siapa-siapa kecuali pada sahabat, pacar, dan keluarganya. segera saja Sasuke menghentikan mobilnya dan memundurkan kebelakang di mana gadis itu berada.

Karin sempat bingung melihat Sasuke yang memundurkan mobilnya dan membuka salah satu pintu mobil yang berada tidak jauh tempatnya berdiri.

"Naiklah.'' Ucap Sasuke. Karin tidak menjawab malah dia menatap heran kepada sasuke.

"Aku tidak menculikmu, aku Cuma mau menawarkan tumpangan buatmu. Tidak baik seorang perempuan berjalan di tengah malam seperti ini.'' Setelah mempertimbangkan tawaran Sasuke, akhirnya Karin menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam mobil Sasuke.

Dan ketika Karin memasuki mobil Sasuke, segera saja Sasuke mencium harum wangi mawar. Aroma wangi itu semakin lama semakin terasa memenuhi ruangan mobil tersebut. Padahal sasuke tidak memakai pengharum mobil.

.

.

.

.

Tbc

Balas review:

Ryuza light uzumakiboy : wew, thanks senpai dah review walau singkat. Hehehe. Review laginya ^^

Azzaqiyy :ni udah updet ^^ review laginya ^^

Armelle 'AquaMar' Eira : chap ini sudah terjawab kan ^^ review laginya ^^

Ocha chan : terimakasih udah bilang fict abalku ini bagus ^^ tenang aja, bakalan sampai tamat kok ceritanya. insyaAllah ya ^^.

Ini dah update. Review lagi ya ^^

Ps. Jangan panggil senpai panggil aja lily alnya aku masih amatiran hehehehe ^^

NS : ya sakura emank serem hehehe ^^ review lagi ya ^^

Viva La Vida : moment narusaku nanti ada waktunya sendiri kok ^^ review lagi ya ^^

Lily tsuki to hoshi males login : makasih senpai dah mau baca fict gaje abalku ini ^^

Ini dah update. Review lagi ya ^^

NaruSaku : ini dah update. Review lagi ya ^^

Kaname : shika suka ma saku ntar dijelasin kok ^^. Ini dah update review lagi ya ^^

Untuk guest bisa gak kamu tulis namamu ya, biar aku enak manggilnya apa ^^

Kalau naruto apa dia mempunyai kekuatan? Itu sudah pasti tapi disini kekuatannya belum muncul.

Jadi tetap baca and review ya ^^. Jangan lupa law review tulis namanya ^^ dan terimakasih dah mau baca fict gajeku ini.

.

.

.

So… bagaimana menurut para senpai yang baca chap 4 ini. gajekah? Wkwkwkwk :p

Aku harap gak kecewa ama chap 4 ini.

Akhir kata review plissss ^^