.

.

~~ A LOVE STORY ~~

..

..

Length: 4 of (?)

Cast : Yoochun, Yunho, Jaejoong, Junsu, Shim Changmin

Disclaimer: This story is a work of pure fiction

Warning: OOC, typos, boy's love, boy x boy, yaoi, shounen-ai.


Note: Yunho dan Jaejoong berusia paruh baya disini.

Chapter ini bercerita tentang masa lalu Yunho dan sedikit masa lalu Jaejoong


.

Seumur hidupnya, Yunho tidak pernah menikah. Dia tidak bisa menikah dengan orang lain. Dia akan selalu hidup dengan mengenang kekasih rahasianya. Kekasih yang berjenis kelamin sama dengan dirinya.

.

~ flashback POV ~

.

Jung Yunho, 18 tahun

.

Ketika menyadarai bahwa dirinya menyimpang, Yunho awalnya bingung. Dia tidak mengerti kenapa dirinya tidak tertarik kepada perempuan. Beberapa kali temannya mencoba mengenalkannya dengan adik-adik perempuan mereka. Tapi Yunho tetap saja tidak 'merasakan apa-apa.' Entah kenapa. Dia merasa malas ketika harus melakukan 'manuver' kepada gadis-gadis tersebut. Pada jaman dahulu wanita belum agresif seperti sekarang. Mereka kebanyakan menunggu pendekatan dari pihak laki-laki. Sudah dua kali dia mencoba menjalin hubungan dengan gadis yang diperkenalkan padanya. Gagal. Tidak ada perasaan istimewa kepada mereka.

Memang benar Yunho masih memiliki rasa 'memiliki' terhadap gadis-gadis tersebut. Tapi itu sebatas perasaan 'melindungi' karena gadis-gadis tersebut dianggapnya sebagai makhluk yang lebih lemah daripada laki-laki.

Yunho suka ketika dia memiliki perasaan melindungi kepada gadis-gadis tersebut. Dia tidak keberatan ketika diminta tolong membawakan barang-barang mereka. Dia tidak keberatan diminta tolong membonceng mereka ke pasar. Tapi hanya sebatas itu saja. Tidak ada perasaan istimewa yang terlibat disini.

Hal ini dimulai sejak dia mulai sering pergi ke rumah Tuan Kim. Di sana Yunho berkenalan dengan putra masjikannya tersebut. Tuan Kim mempunyai empat orang anak. Yang pertama laki-laki, sedangkan sisanya anak perempuan. Anak-anak perempuannya bernama Taeyeon, Hyoyeon dan Hyuna. Tuan Kim meminta Yunho untuk mengjarai putranya tentang kegiatan operasional di ladang mereka. Oleh karena itu putranya diminta untuk belajar tentang dasar-dasar pengolahan kepada Yunho sebelum dia mengirim putranya utnuk belajar ke Jepang pada umur 20 kelak.

Ketika pertama kali melihat anak laki-laki Tuan Kim, Yunho sangat kaget. Memang pemuda anak majikannya itu mengenakan kemeja lengan panjang yang rapi dan terkancing.. Memang pemudi itu mengenakana sepatu yang hanya dipakai oleh keluarga kaya.. Memang pemuda itu berambut pendek dan tersisir rapi layaknya penampilan pemuda pada tahun itu.. tapi kulitnya seperti perempuan. Putih dan halus. Sangat kontras dengan Yunho yang berkulit gelap diakibatkan bekerja di ladang. Mata pemuda tersebut bulat dan jernih. Bibirnya semerah bibir perempuan. Hidungnya lurus dan mungil. Pandangan matanya tajam, menyiratkan kecerdasan.

Awalnya Yunho pemuda itu seorang yang angkuh hingga dia memebuka mulut dan menyebutkan namanya. Yunho tertegun. Dia seakan melihat malaikat yang jatuh ke bumi dalm sosok pemuda anak majikannya ini. Penasaran, Yunho pun mengulurkan tangan, mengajaknya bersalaman. Pemuda tersebut terkikik malu sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan.

Suatu perasaan aneh menjalari Yunho, salah satu pegawai kesayangan Tuan Kim. Kenapa hatinya merasakan suatu perasaan lain ketika melihat anak majikannya tersebut? Yunho belum pernah mengalami ini sebelumnya.

Dia merasa jijik kepada dirinya sendiri. Kenapa dia suka kepada pemuda berkulit putih itu? Kenapa dia selalu mencuri-curi pandang melihat kepada anak majikannya itu? Kenapa Yunho khawatir ketika pemuda itu sakit? Kenapa di malam hari Yunho tidak sabar untuk memejamkan mata dan bertemu dengan pemuda itu keesokan harinya?

Perasaan apakah ini? Apakah perasaan ini tepat? Ini bukan perasaan kepada sesama teman. Yunho tidak menganggap pemuda tersebut sebagai temannya. Yunho menganggap pemuda tersebut adalah... miliknya. Kenapa harus begitu? Yunho bukan orang tuanya. Yunho bukan anggota keluarga pemuda tersebut yang berhak mengklaimnya. Terdapat suatu ketertarikan yang sangat besar kepada pemuda tersebut. Dia bagaikan magnet yang menarik Yunho menuju ke arahnya.

Yunho sempat merasa jijik pada dirinya sendiri. Yunho juga merasa jijik kepada pemuda tersebut. Pemuda yang telah memutarbalikkan dunianya sedemikian rupa. Pernah pada suatu waktu Yunho tidak muncul di rumah Tuan Kim selama berminggu-minggu. Dia beralasan lebih baik mengawasi pekerja di ladang. Tuan Kim tidak ada masalah dengan keinginan Yunho. Toh Yunho memang rajin dan dapat dipercaya. Jika dia mengatakan ada di ladang, maka maka dia memang benar-benar berada di ladang untuk mengawasi buruh disana.

Untuk sementara dia ingin mengembalikan rasionalitas otaknya dengan cara tidak bertemu anak majikannya untuk beberapa waktu terlebih dahulu. Melarikan diri? Mungkin saja. Yunho merasakan pikirannya kalut dan kacau. Tidak paham kenapa pemuda bermata doe tersebut memenuhi hati dan pikirannya.

Untuk melupakan pemuda tersebut, Yunho setuju untuk menjalin hubungan dengan sorang noona yang berusia dua tahun lebih tua. Noona tersebut diperkenalkan oleh bibinya. Untuk sementara waktu, dia merasa tenang. Dia merasa tenang karena tidak 'melawan' kodrat alam dan berhubungan dengan wanita. Dia tidak melawan norma-norma sosial yang berlaku. Dia merasa tenang karena masyarakat tidak akan membencinya. Dia merasa tenang karena masyarakat tidak akan menganggapnay pendosa. Dia merasa tenang karena masyarakat tidak akan memusuhinya. Yunho tidak tahu saja bahwa ketenangan batinnya tidak akan berjalan lama.

.

東方神起

.

Pada suatu hari yang cerah, Yunho sedang beristirahat siang setelah mengawasi buruh tani bekerja mulai pagi di ladang. Buruh-buruh remaja tersebut diberi waktu satu jam untuk istirahat dan makan siang. Biasanya mereka sudah membawa bekal yang dimasak oleh keluarga masing-masing. Buruh-buruh tersebut biasanya makan siang di pinggir ladang. Mereka tidak boleh makan di tempat lain untuk mencegah keterlambatan kembali ke ladang. Sebagai mandor untuk buruh remaja, Yunho diperbolehkan makan di mana pun dia mau. Karena rumahnya dekat ladang, biasanya dia pulang makan siang di rumah bersama ibunya. Ayah Yunho yang tidak mempunyai 'jabatan' apa pun seperti putranya, tentu saja tidka diperbolehkan meninggalkan ladang. Ayah Yunho sendiri bekerja di bagian ladang yang lain dan diawasi oleh mandor yang lebih tua.

Yunho pun beranjak pulang, tidak sabar untuk makan masakan umma-nya. Ketika akan mengambil sepeda kayuhnya, tiba-tiba dirinya dikagetkan oleh sebuah suara menyapanya.

"Yunho-ssi..."

Suara itu terdengar dari belakangnya. Yunho menoleh ke belakang dan mendapati sosok kurus terbalut mantel berwarna gelap. Sepasang kakinya yang juga kurus, terbungkus celana kain berwarna gelap pula. Sepasang sepatu yang mengkilat, melengkapi penampilan pemuda yang berusia dua tahun lebih muda dari Yunho itu. Matanya yang bulat berbinar-binar memandang Yunho.

Yunho melepas topi caping yang dipakainya. "Ne?"

"Annyeong, Yunho-ssi," sapa pemuda itu. "Ini kubawakan makan siang." Pemuda itu mengambil sebuah kotak dari dalam tas kain yang dibawanya. Pipinya yang putih bersemu malu. Kepalanya sedikit menunduk ketika memberikan kotak makan siang itu kepada Yunho. Tangannya terlihat gemetar.

Yunho tidak langsung menerimanya. Keningnya berkerut. "Apakah ibuku yang menitipkannya padamu? Kenapa ibuku tidak mengantarkannya langsung padaku?"

Pemuda di depannya tertegun. Kemudian dia cepat-cepat menggeleng. "Tidak, hyung." Lantas dia terdiam.

"Lalu ini makanan dari siapa?" tanya Yunho lagi.

"Ini dariku, hyung. Makanan ini kubuat khusus untukmu."

Yunho terdiam. Pemuda itu pun ikut terdiam. Kedua tangannya yang memegang kotak masih menggantung di udara karena Yunho belum menerimanya.

"Apa maksudmu?"

"Eh?" Sepasang mata bulat itu mengerjap bingung.

"Apa maksudmu memberiku bekal makan siang?"

"Tidak ada maksud apa-apa, hyung. Aku hanya ingin kau merasakan masakanku."

"Kau memasaknya sendiri?" tanya Yunho dengan terkejut.

Pemuda itu mengangguk. Benar-benar seperti istri yang mengantar bekal makan siang untuk suami... Sedetik kemudian Yunho mengutuki dirinya sendiri. istri apanya? Demi Tuhan, dia seorang namja!

Pemuda itu semakin malu ketika Yunho melihatnya dengan tatapan bingung. Dia menghenyakkan kotak makan itu ke tangan Yunho. "Makanlah." Dia cepat-cepat berlalu dari hadapan Yunho. Setelah pemuda itu pergi, Yunho merasakan pipinya memanas. Dipandangnya kotak makan yang ada di tangannya. dia tidak jadi pulang ke rumah.

Seolah mendapat lampu hijau, hari-hari berikutnya pemuda itu semakin sering mengirim bekal untuk Yunho. Itu memang menjadi tujuannya. Dia sangat ingin bertemu dengan Yunho, namja yang telah mencuri hatinya. Sudah berminggu-minggu mandor itu tidak datang ke rumah.

Dibesarkan dengan tiga orang saudara perempuan membuat pemuda itu mempunyai sifat feminin dalam dirinya. Dia pandai memasak dan tidak suka dengan kegiatan di luar rumah yang menguras keringat dan tenaga. Hari ini pemuda itu memberanikan diri mengunjungi ladang sepulang sekolah. Pemuda itu mengawasi Yunho dari kejauhan sebelum memberikan bekal makan siang.

Sosok Yunho benar-benar berbeda dengan dirinya. Laki-laki itu bertubuh tegap dan termasuk sangat tinggi untuk ukuran orang Korea. Kulitnya berwarna kecokelatan akibat bekerja di bawan terik matahari sejak SMP. Meski Yunho selalu mengenakan baju lengan panjang ketika bekerja, tapi si pemuda cantik tahu bahwa tubuh mandor itu berotot. Yunho mempunyai aura melindungi dalam dirinya. Hanya dengan melihatnya saja, si pemuda merasa terlindungi. Dia ingin Yunho melindunginya. Entah dari apa, dia sendiri juga tidak tahu.

Si pemuda mengirim makan siang dua kali seminggu. Tiap tiga hari sekali dia merasakan kerinduan untuk melihat Yunho. Cinta pertamanya adalah seorang namja. Dia tidak bisa menahannya. Sayangnya sudah ada seseorang yang mendampingi Yunho. Tapi si pemuda cantik tidak akan menyerah. Semua sah dalam cinta dan perang. Dia akan mencoba untuk bersikap lebih agresif. Membawakan makan siang dan pernah sekali dia meminta appa-nya, Tuan Kim, untuk mengundang Yunho makan malam di rumah mereka. Tuan Kim tidak keberatan karena mengingat bahwa Yunho adalah salah satu pegawai kepercayaannya.

Jadilah Yunho dan kedua orang tuanya bertandang ke rumah Tuan Kim yang mempunyai rumah paling bagus di wilayah desa tersebut. Yunho mengenakan bajunay yang paling baik, sebuah kemeja lengan panjang yang baru dikanji dan celana kain. Kedua orang tua Yunho merasa terhormat karena bisa diundang makan malam di rumah majikan mereka. Tuan Kim sendiri sudah mempunyai rencana untuk Yunho. Dia akan memberikan Yunho tugas tambahan dan menaikkan bayarannya. Kinerja Yunho sangat baik sehingga Tuan Kim tidak ragu untuk memberinya tanggungjawab lebih.

Entah siapa yang memulai. Sejak acara makan malam itu, hubungan Yunho dan anak majikannya menjaid lebih dekat. Si pemuda cantik tidak hanya mengirim makan siang dua kali seminggu tapi kini menjadi empat kali seminggu. Yunho sendiri bukannya tidak menyadari perhatian yang diberikan oleh pemuda cantik itu.

Yunho menyerah kepada perasaannya sendiri. Tidak mencoba untuk menampiknya. Dia juga menyukai anak majikannya. Bahkan dia pun sduah memutuskan hubungan dengan yeojachingu-nya yang berusia dua tahun lebih tua itu. Si noona tidak terima diputuskan oleh Yunho. Meski diirnya bukan berasal dari keluarga kaya, tapi dia merupakan gadis tercantik di desa mereka. Dia tidak paham kenapa Yunho memutuskan hubungan dengannya. Dia menerima Yunho meski dia punya banyak pengagum di luar sana yang lebih kaya dari pemuda itu. Yunho yang memilihnya, kenap juga Yunho yang memutuskan hubungan dengannya? Apakah dia hanya dianggap mainan saja?

Pertanyaannya terjawab ketika suatu hari dia memerhoki Yunho jalan berdua dengan putra Tuan Kim. Sepintas tidak ada yang mencurigakan ketika dua orang naja berjalan berdua. Masyarakat juga tahu bahwa Yunho dan putra Tuan Kim berhubungan karena urusan pekerjaan. Tapi sebagai yeoja, si noona mempunyai sensitivitas tersendiri akan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak hanya tampak dari luarnya saja. Dari luar, Yunho dan putra Tuan Kim memang layaknya rekan kerja, tapi si noona bisa melihat bahwa mimik wajah kedua orang itu tidak seperti mimik wajah dua orang rekan kerja pada umumnya. Ketika berjalan berdua, mimik wajah putra Tuan Kim akan sedikit menunduk dan tersipu malu. Mirip gadis remaja yang sedang jatuh cinta. Mikik wajah Yunho akan terlihat penuh kasih ketika memandang si pemuda cantik.

Si noona mencium ada sesuatu yang tidak benar di sini. Hal ini ditambah lagi dengan perbuatan putra Tuan Kim yang sering mengirim bekal makan siang untuk Yunho di ladang. Itu adalah kelakuan seorang gadis kepada kekasihnya! Bukan kelakuan namja pada umumnya. Si noona ragu tent5ang hal ini. Apakah kedua namja itu berhubungan? Bagaimana bisa? Bukankah mereka sama-sama namja? Bukankah ini tidak benar?

Untuk membuktikan kecurigaannya, pada suatu malam si noona mencoba membuntuti Yunho yang akan menuju ke rumah Tuan Kim. Benar saja. Dirinya melihat Yunho berciuman dengan putra Tuan Kim di depan pintu gudang, tak jauh dari rumah Tuan Kim. Ciuman itu canggung dan berlangsung cepat. Tapi hati si noona semakin yakin jika dua orang namja itu mempunyai hubungan yang tidak sewajarnya. Si noone pun melompat keluar dari tempat persembunyiannya. tentu saja mereka berdua terkejut dengan kehadiran seseorang. Dengan gugup merke berdua saling menjauhkan diri tapi terlambat. Si noona menuding-nuding Yunho dan putra Tuan Kim.

"Kalian pendosa! Desa ini akan kena azab!" teriaknya histeris. Dia lantas berlari menghilang di kegelapan malam.

.

東方神起

.

Keesokan harinya warga desa dikejutkan dengan kemarahan Tuan Kim. Dia pergi ke rumah keluarga Jung dan memaksa kedua orang tua Yunho untuk mengikutinya ke ladang. Waktu itu ayah Yunho tidak berkerja karena sakit jadi kedua orang tuanya ada di rumah. Di pinggir ladang, tanpa ampun lagi Tuan Kim memukuli Yunho dan menendangnya.

"Keparat tidak tahu diri! Makhluk menjijikkan! Kau telah menodai putraku!" teriak Tuan Kim dengan murka. Kedua orang tua Yunho bingung kenapa majikan mereka memukuli pekerjanya. "Anak kalian menjalin hubungan dengan putraku! Tidak ada hal seperti itu di dunia ini! Itu bejat! Amoral! Menjijikkan!"

Kedua orang tua Yunho menangis sambil bersujud di depan Tuan Kim. Berharap dia akan mengampuni putra mereka. Tuan Kim tidak peduli dan terus memukuli Yunho. Yunho pasrah dan tidak melawan.

"Aku akan segera mengirimkan putraku ke Jepang. Dan kalian..." tunjuk Tuan Kim kepada keluarga Jung. "...pergi dari sini! Kubunuh kalian jika masih ada di desa ini!"

Warga desa yang menyaksikan insiden ini sangat shock. Tidak mengira ada hubungan seperti itu di desa mereka. Jangankan hubungan sesama jenis, untuk hubungan 'normal' pun tidak bisa bebas sepenuhnya. Biasanya mereka dijodohkan oleh orang tua atau keluarga amsing-masing. Sekarang malah ada kejadian di luar batas dan kebiasaan warga desa. Mereka memandang keluarga Jung dengan jijik. Umma Yunho tidak bisa berhenti memangis. Dia dipapah oleh suaminya sepanjang perjalanan mereka pulang ke rumah. Yunho mengikuti di belakang. Kepalanya tertunduk lesu. Wajahnya lebam tapi dia tidak peduli sementara warga desa kasak kusuk membicarakan mereka. Orang tuanya sama sekali tidak berbicara kepadanya malam itu. Yunho juga langsung masuk kamarnya, menyembuhkan luka-lukanya. Mereka bertiga melewatkan makan malam.

Keesokan harinya, Yunho dikejutkan dengan penemuan tubuh kedua orang tuanya yang menggantung di gudang belakang rumah. Karena tidak kuat menahan malu, appa dan umma-nya mengakhiri hidup mereka berdua. Keduanya meninggalkan surat wasiat untuk Yunho di kamar. Mereka berdua meminta maaf kepada anak tunggal mereka itu. Yunho tidak sempat bersedih karena terlalu terkejut dengan rentetan peristiwa yang menimpa dirinya. Dengan langkah kaku seperti robot, Yunho menuju ke rumah kepala desa untuk menyampaikan berita kematian kedua orang tuanya. Malangnya, tidak ada seorang pun yang mengunjungi rumah keluarga Jung untuk mengucapkan bela sungkawa. Mereka menganggap keluarga Jung adalah keluarga pendosa dan tidak perlu diberi ucapan bela sungkawa sekalipun.

Hanya ada seorang pelayat yaitu kepala desa. Itu pun hanya sebentar, sekedar berbasa basi saja dalam melaksanakan tugasnya untuk menemui warganya yang mengalami musibah kehilangan anggota bawah rintik hujan, Yunho menguburkan mayat kedua orang tuanya tanpa ada pelayat satu pun. Semua paman dan bibinya tinggal di kota lain. Selain surat dan telegram, tidak ada alat komunikasi lain pada masa itu. Yunho membiarkan saja. Tidak menyurati paman dan bibinya.

Sesuai tradisi Korea, putra tertua menjadi orang yang paling berkabung. Selama tiga hari, Yunho tidak makan dan tidak tidur. Dia melakukan tradisi itu tanpa ditemani seorang pun. Semua dilakukannya secara otomatis. Hatinya terasa kebas. Tidak mampu merasakan apa pun. Musibah bertubi-tubi menimpa dirinya: melakukan 'aib,' dipecat dari pekerjaannya, hingga peristiwa bunuh diri kedua orang tuanya. Di hari keempat, dirinya seperti mati segan, hidup pun tak mau. Yunho tidak tahu apa yang harus dilakukan sampai dia bertemu dengan teman masa kecilnya yang kini tinggal di ibukota. Dirinya diajak untuk bekerja di luar negeri. Tanpa pikir panjang dia mengiyakan ajakan temannya itu.

Yunho menjual rumahnya. Terlalu banyak kenangan sedih disana. dengan emnumpang kapal laut, dua bulan kemudian Yunho dan temannya pergi ke tanah kebebasan, Amerika. Mereka berlabuh beberapa minggu kemudian di Los Angeles, sebuah kota di mana banyak terdapat imigran asal Korea. Kondisi yang benar-benar berbeda bisa ditemuinya disana. Mulai dari bahasa, makanan dan budaya yang berbanding terbalik dengan Korea, hingga berbagai ras manusia ada disana. Untuk pertama Yunho shock melihat orang dengan warna kulit putih dan hitam, bukan ras dengan kulit kuning seperti dirinya. Maklum, Korea adalah bangsa yang homogen. Pada tahun itu, hanya ada satu ras dan satu warna kulit saja. Perbedaan segala hal antar Korea dan Amerika benar-benar membuka mata dan pikirannya.

Yunho tidak tahu kapan dia akan pulang ke Korea. Dia juga tidak yakin jika warga desa akan menerimanya kembali. Untuk sementara dia harus bertahan di tanah ini. Awal mulanya dia sangat canggung tapi mau tidak mau dia harus menyukainya karena dia hidup di tengah sistem Amerika. Dia belajar budaya dan bahasa mereka. Bersama dengan imigran gelap asal Meksiko, awalnya dia bekerja sebagai buruh di sebuah lahan pertanian penghasil jeruk. Dia menabung uah upahnya yang tidak seberapa. Tidak lupa dia juga menjalin koneksi dengan banyak orang. Salah seorang kenalannya menolongnya untuk bekerja di wilayah kota, bukan bekerja di pedesaan. Dia mendapat pekerjaan sebagai pembantu umum di restoran Cina yang ada di LA. Pendapatannya pun mulai membaik. Dia bekerja hampir enam puluh jam seminggu.

Setelah tabungannya terkumpul, dia pun mendaftar kuliah pada usia 26 tahun. Lulus empat tahun kemudian dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik asal Korea yang berlokasi di LA juga. Dengan kondisi ekonomi yang semakin membaik, Yunho merasa perlu memiliki 'keluarga' supaya kelak dia bisa mewariskan hartanya.

Pada umur 36 tahun, dia mengadopsi Yonghwa (14 tahun), Jessica (12 tahun), Nicole (10 tahun) dam Krystal (5 tahun). Dia sengaja memilih anak-anak yang sudah besar karena mereka sudah bisa mengurus diri sendiri. Dia juga lebih banyak mengadopsi anak perempuan supaya kelak mereka bisa merawatnya ketika sudah tua. Yunho mempekerjakan pengasuh untuk mengurus rumah tangganya.

Meski tidak menikah, dia juga ingin merasakan 'memiliki' anak. Selain itu dia juga ingin menolong anak-anak malang yang tidak punya orang tua supaya mereka kelak bisa hidup dengan lebih baik. Yunho menyekolahkan mereka di sekolah Korea-Amerika yang ada di LA. Dengan begitu anak-anaknya akan tahu budaya leluhur mereka, tidak hanya budaya Amerika saja.

Ketika Yonghwa si sulung beranjak remaja, Yunho meninggalkan kehidupannya di Amerika dan mengajak keempat anaknya tinggal di Korea. Ketika pertama kali datang ke Korea, Yonghwa berusia 19 tahun dan siap menjadi mahasiswa. Jessica masih berumur 17 tahun, Nicole 15 tahun dan si magnae Krystal berusia 10 tahun.

Dari awal, Yunho menegaskan kepada anak-anaknya bahwa dia hanya berminat kepada sesama jenis. Karena sebelumnya hidup di Amerika yang penuh dengan kebebasan terhadap hak pribadi, anak-anaknya paham dengan pilihan pribadi ayah mereka. Mereka tidak keberatan jika itu adalah pilihan Yunho. Mereka bahkan meminta Yunho untuk menikah. Yunho bilang bahwa dia tidak mempunyai 'partner' dan tidak berminta untuk menikah. Dia hanya ingin menjalani hidup bersama anak-anaknya.

.

東方神起

.

Kim Jaejoong, namja paruh baya itu merenung di kamarnya. Pikirannya melayang ke masa lalu. Perlahan dia bangkit dari ranjangnya. Dibukanya pintu laci meja kecil dekat ranjang. Ada sebuah buntalan kain disitu. Jaejoong membukanya dan tampaklah sebuah kotak berukuran 20 cm x 10 cm yang terbuat dari logam.

Matanya terpejam. Dia mendekatkan kotak itu ke hidungnya. Rasanya dia masih bisa mencium bau masakan yang tertinggal. Memorinya kembali mengingat peristiwa puluhan tahun silam. Jaejoong biasa menggunakan kotak logam ini untuk mengantarkan makan siang bagi kekasihnya. Cinta pertamanya ketika remaja, Jung Yunho, salah satu pegawai kepercayaan ayahnya. Jaejoong tidak bisa menahannya. Dia memang jatuh cinta kepada namja itu. Dan dia juga tahu bahwa Yunho tertarik padanya.

Awalnya Yunho menolaknya. Tapi lama kelamaan mereka tidak bisa menghindari percikan 'api' di antara mereka. Dugaan jaejoong benar. Salah satu cara tercepat meraih hati seorang namja adalah melalui perutnya. Oleh sebab itu dia selalu mengantarkan masakan untuk Yunho beberapa kali seminggu.

Setelah hubungan mereka diketahui oleh appa-nya, Tuan Kim segera mengirim Jaejoong untuk belajar ke Jepang. Padahal seharusnya dia baru akan berangkat kesana umur 20 tahun kelak. Tuan Kim mempercepat keberangkatannya dengan tujuna untuk menjauhkan dia dari kekasihnya. Jaejoong ingat dia bersimpuh di dean ayahnya supaya tidak memberangkatkan dia ke Jepang. Tuan Kim tidak mengubah keputusannya. Jaejoong berangkat ke Jepang sambil menangis karena meninggalkan orang tua dan adik-adiknya. Dia juga tidak bisa bertemu lagi dengan Yunho.

Dia mendengar bahwa kedua orang tua Yunho bunuh diri. Pasti kejadian tersebut sangat berat untuk ditanggung oleh Yiunho. Ingin rasanya dia menemani kekasihnya. Menghiburnya. Jaejoong tidak berdaya ketika ayahnay menguncinya di kamar sehingga tidak bisa kemana-mana. Jaejoong berangkat ke Jepang dengan perasaan hancur. Dia bersedih untuk dirinya. Dia bersedih untuk Yunho yang ditinggal kedua orang tuanya. Dia bersedih untuk hubungan mereka berdua.

Tok... tok... tok...

Sebuah ketukan di pintu kamar mengembalikan ingatan Jaejoong ke masa kini. Dia menoleh ke arah pintu kamarnya yang separuh terbuka.

"Jae ahjussi..." Sebuah kepala muncul dari balik pintu. Yoochun, namja berusia 26 tahun itu memanggilnya.

Bibir Jaejoong membentuk pout. "Sudah kubilang untuk memanggilku hyung, CHun."

Yoochun tampak salah tingkah. Namja di depannya ini memang suka bertingkah aegyo. Tidak mau dipanggil ahjussi melainkan hyung. "Maaf, hyung." Yoochun mengusap hidungnya yang gatal. "Kami menunggumu di ruang makan. Kenapa kau tidak muncul di sana?"

"Eh?" Jaejoong melirik jam beker di atas meja. Jam 12 lebih. Memang sudah waktunya makan siang. "Aku keasyikan melamun, Chun." Jaejoong cepat-cepat membungkus kembali kotak makan ditangannya lalu mengembalikannya ke dalam laci.

Yoochun tidak bisa mencegah rasa ingin tahunya. "Apa itu, hyung?"

"Oh... ini..." Jaejoong terkikik sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. "Kapan-kapan aku akan bercerita padamu. Sekarang ayo kita makan."

.

~ TBC ~

.


.

Author's zone

January.4.2014

Hello, I'm back ^^ Comeback saya emang sengaja bareng dengan comeback DBSK :p Setelah sebulan lebih hiatus, jadi agak kehilangan feel nulis. Sori kalo chapter ini membosankan x_x

-Nina-

Twitter: _SummerCassie_

FB: /SummerCassie5