TWO MOONS
copyright by BunnySyong a.k.a Choi Hanra
A ChanBaek fanfiction, other pair might appear
Genre(s): Fantasy, romance, Angst, Supernatural
Warnings: a bit western, typo, unidentified plot, alur kacau dan lambat.
DLDR!
CHAPTER 3: SEPARATION AND ECOUNTER
.
.
Chanyeol mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesusaikan pengelihatannya dengan cahaya remang-remang di dalam tendanya. Direnggangkannya tubuhnya yang kaku karena semalaman hanya tidur berlapis sebuah matras tipis. Meskipun panglima muda ini sudah terbiasa dengan alam, maka panglima muda ini bisa tidur dimanapun, apapun kondisinya. Tidak, bahkan sisi manusia Chanyeol bisa menjerit jika tidak dipenuhi haknya.
Samar-samar kelima inderanya mulai bekerja sebagaimana mestinya. Matanya sudah bisa melihat dalam cahaya yang minim, penciumannya tahu bahwa di luar sana embun sudah membasahi tanah perkemahan mereka, bahkan lidahnya sudah bisa mengecap rasa angin yang masuk lewat bukaan kecil di tendanya. Bahkan tanpa perlu membuka pintu tendapun Chanyeol bisa tahu bahwa Sehun sudah berjalan ke arah tendanya dari sisi lain perkemahan. Chanyeol sangat mengenal bau temannya itu.
Chanyeol bangkit dari posisinya yang terlentang dan duduk bersila sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Kembali diingatnya hari ini mereka akan berperang melawan kaum elven, dan pita ungu yang kemarin diberikan Sehun padanya sama sekali tidak membantu.
"Hei, Yeol. Sudah bangun, pangeran tampan?"
Chanyeol mendelik pada Sehun yang sudah terkekeh pelan. Bukan salah Sehun kalau dia memanggil Chanyeol pangeran. Pemuda itu baru berusia 15 tahun, dan sudah menjadi panglima. Ya, Chanyeol memang sudah dianggap dewasa menurut kaum werewolves. Dan penampilan pemuda itu sungguh, jika ada yang bilang dia pangeran, maka semua orang akan percaya.
"Apa maumu? Aku sudah bangun bahkan sejak kau baru melangkahkan kaki keluar dari tenda ayahmu." Ucap Chanyeol dengan nada datar, sedatar ekspresi wajahnya. Sehun kembali terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.
"Astaga, ini masih subuh dan kau sudah memasang tampang seperti itu Yeol? Sepanjang harimu bisa kelam!" canda Sehun yang hanya dibalas Chanyeol dengan gumaman tidak jelas. Sehun mengerti, sangat mengerti kalau sahabatnya itu sedang banyak pikiran. Ini adalah perang pertamanya sejak dia dilantik menjadi Panglima Muda. Berbeda dengan Sehun yang sudah berkali-kali ikut peperangan semacam ini.
"Tanpa perlu kau bilang pun aku tahu hari ini akan jadi sekelam jelaga." Desis Chanyeol yang kini tengah memandangi kedua tangannya. Sehun menggeleng kecil melihat tingkah Chanyeol. Bagaimana bisa Panglima Muda bertingkah macam anak remaja yang tengah kasmaran seperti itu? Oke, Chanyeol memang masih remaja, tapi ini bukanlah saat yang tepat untuk menjadi remaja.
"Yeol, lihat aku. Aku tahu kau takut, aku pun begitu. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Kau Panglima Muda dan aku anak Jendral. Kita harus bisa memberi suntikan moral dan semangat bagi pasukan kita. Sudah, cucilah wajahmu dan berganti pakaianlah. Aku akan menunggumu di luar." Kata Sehun santai sembari bergerak keluar tenda Chanyeol. Chanyeol sendiri hanya bisa menghela napas panjang dan melakukan segala hal yang Sehun katakan.
Baekhyun menyisir rambutnya dengan tangan dan lalu mengikatnya dengan pita cadangan. Pita rambutnya terjatuh entah dimana dan Baekhyun sungguh merutuki kebodohannya itu. Selain karena kini rambutnya berantakan, kaum werewolf itu pasti sekarang bisa membauinya. Tangannya bergerak menggulung rambutnya keatas, membentuk sebuah cepol ketat yang sedikit berantakan dengan sedikit anak rambut yang berjatuhan membingkai wajahnya yang cantik. Bibirnya tak henti menggumamkan kata-kata kasar dalam bahasa elf.
"Baekhyunnie, berhentilah mengutuk. Kau tahu, kalau itu mantra kurasa sudah setengah populasi Liestaum mati terbakar."
Teguran Krystal tidak dipedulikan oleh Baekhyun yang masih sibuk menggerutu. Melihat rambut Baekhyun yang berantakan itu, Krystal beringsut mengambil sikat rambut yang dibawanya dan melepaskan ikatan rambut Baekhyun. Disisirnya rambut pirang pucat milik Baekhyun hingga halus yang kemudian diikatnya menjadi sebuah ekor kuda yang rapi sehingga mengekspos bagian tengkuknya yang putih.
"Nah, kalau seperti ini kau lebih cantik, Putri." Canda Krystal santai yang dibalas dengan gerutuan Baekhyun. Krystal sampai heran, gadis 13 tahun itu sudah menggerutu sepanjang pagi dan kini dia masih bisa menggerutu? Memangnya berapa banyak kata kasar yang ada di kamus gadis itu?
Chanyeol menatap sekeliling perkemahan mereka sepintas, berusaha mengingat suara tawa yang muncul disana-sini karena gurauan ringan yang dilontarkan sesama prajurit. Hati kecilnya menjerit, menolak fakta bahwa mungkin hanya setengah yang tersisa dari pasukannya. Beberapa yang beruntung akan kembali dengan baik-baik saja atau hanya sedikit terluka. Yang sedikit kurang beruntung akan kembali tanpa anggota tubuh yang lengkap, dan yang kembali dari sisanya adalah nama dan penghormatan.
"Yeol, kau oke?"
Chanyeol menoleh ke samping, menemukan Jongwoon sudah duduk di sampingnya, senyum tipis menghiasi wajahnya. Diam-diam Chanyeol mencatat dalam hati untuk menanyakan trik tersenyum bahkan dalam situasi seperti ini pada Jongwoon nanti.
Chanyeol menggeleng lemah sebagai jawaban atas pertanyaan Jongwoon. Terlalu banyak hal yang bermaraton di pikirannya. Melihat itu, Jongwoon menepuk pundak Chanyeol, berusaha memberi panglima muda itu semangat dan suntikan moral. Usahanya tampak berhasil, wajah tegang Chanyeol tampak lebik rileks. Jendral itu bangkit berdiri dari duduknya dan mengibaskan debu dari celananya dan menatap Chanyeol.
"Nah, ayo kita bergerak."
Pasukan Baekhyun bergerak dengan kecepatan megerikan, dalam sekejap mereka sudah kembali berada di perbatasan tempat kemarin mereka membunuh dua prajurit dari pihak lawan. Tidak seperti Baekhyun yang sepertinya sangat semangat, Krystal tampak pucat. Ingatannya kembali pada ramalan yang dia buat tanpa sengaja beberapa hari yang lalu.
'Sang Terpilih akan kehilangan matanya dan pergi menyebrangi jurang dalam ke Kegelapan yang hampir abadi.'
"Krys-aire, kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat." Ujar salah satu pemanah yang kebetulan ada di sebelah Krystal. Krystal menggeleng lemah sebagai jawaban dan menatap pemanah itu penuh arti. Tentu saja Krystal tidak baik-baik saja. Dia tahu jelas siapa yang dimaksud dengan 'Sang Terpilih' dalam ramalannya. Baekhyun, kawannya itu memang spesial sedari kecil. Dan Krystal juga tahu jelas, bahwa yang dimaksud dengan 'mata' Baekhyun adalah dirinya, Eldrvarya pribadi Baekhyun. Ramalan itu secara jelas menjeritkan kematian padanya dan kematiannya tidak akan membawa hal yang baik.
Baekhyun memberi kode pada pasukannya untuk bersembunyi, sedangkan dia menarik nafas dalam dan bergerak maju sendirian, memastikan keadaan aman bagi pasukannya. Baekhyun tahu berdasarkan pada insting bahwa pasukan ayahnya ada di sebelah timurnya, tidak terlalu jauh. Bagitu Baekhyun menembakkan panah pertamanya, maka pasukan ayahnya akan bergerak dan mengepung kemah para werewolves itu.
Setelah memastikan situasi aman, Baekhyun kembali ke pasukannya dan diam-diam meminta Krystal agar menyatukan benak mereka berdua. Krystal kuat, tapi dia adalah mata kaki Achilles bagi Baekhyun di peperangan ini. Baekhyun harus bisa memastikan bahwa sahabatnya itu akan tetap aman selama pertempuran. Tetapi Baekhyun juga tahu, saat mereka menyatukan benak, setiap luka fisik yang diterima Baekhyun, Krystal juga akan merasakan sakitnya, juga sebaliknya, setiap mantra yang Krystal ucapkan, energi Baekhyun akan ikut termakan. Dan jika kematian menjemput salah satu dari mereka, maka mereka berdua akan mengucapkan selamat tinggal pada dunia.
"Hyunnie, ada werewolves dekat sini. Mereka bergerak." Bisik Krystal. Baekhyun menyiapkan busur dan anak panahnya, begitu juga dengan seluruh pasukannya. Baekhyun memberi kode pada pasukan panahnya untuk berpencar dan pasukan pedangnya maju, menjadi umpan. Baekhyun dan Krystal sendiri ikut dalam pasukan umpan itu.
Baekhyun bisa melihat prajurit werewolves dari balik pohon tempatnya bersembunyi. Pasukan ayahnya sudah dekat dan dia hanya tinggal memulai perang ini. Begitu anak panahnya lepas dari busur, pilihannya hanyalah menyerang atau diserang.
Baekhyun membidikan anak panahnya kearah werewolf pertama yang mengekspos dirinya. Segera dilepaskannya anak panah itu dari busurnya dan anak panah itu menancap lima senti di sebelah kepala werewolf tadi, memicu keributan di kawanannya. Baekhyun memang sengaja tidak membidik titik vital werewolf tadi, karena peranan pasukan umpan hanyalah untuk membuat pihak lawan bingung. Pasukan panah Baekhyun tampak menyadari tembakan tadi, tanda untuk memulai strategi mereka. Tampak anak panah yang melesat dari berbagai arah, tetapi tidak satupun anak panah itu yang menancap di tubuh para werewolves. Para werewolves itupun tampak panik, melihat seragan dari berbagai arah.
Dan disaat seperti itulah terdengar raungan marah dari kawanan itu.
Krystal mengeratkan pegangannya pada pedang yang tergantung di pinggangnya. Benaknya yang tiba-tiba kabur dan tidak jelas juga membuat Baekhyun bingung. Baekhyun merasa sesuatu terjadi dalam dirinya, seperti raungan tadi memicu suatu reaksi aneh dan asing bagi tubuhnya. Tubuh Baekhyun seperti mengenali raungan tadi.
Baekhyun berusaha mengeyahkan pikiran tadi dari benaknya, mengabaikan sensasi aneh yang menyenangkan dalam tubuhnya. Sensasi asing yang familiar. Ingin rasanya Luna melempar busurnya dan berlari ke arah raungan tadi berasal.
Krystal menggenggam tangan Baekhyun erat, benaknya menekan benak Baekhyun lembut sembari menyalurkan mantra sederhana tanpa sihir yang bertujuan agar benak Baekhyun bisa lebih tenang dan berhenti menggeliat. Krystal sendiri merasakan sesuatu setelah mendengar raungan tadi.
'Sudah saatnya, mata Sang Terpilih akan terambil dan Sang Terpilih yang buta akan menyebrangi jurang dengan Kegelapan disisinya.'
Dan seiring suara berbisik itu membisiki alam bawah sadar Naina, Perang Dataran Dawngard dimulai.
Chanyeol terengah.
Matanya menatap sekeliling, pasukan elitnya hanya tinggal tersisa setengah. Serangan anak panah yang membabi buta di perbatasan tadi sungguh membuat pasukannya kacau balau. Pasukan Sehun yang berada di arah yang berlawanan dengan pasukannya pun mengalami hal yang sama. Prajurit-prajurit non-shifter panik, dan para shifter tanpa pikir panjang segera berubah wujud.
Kembali dilihatnya Sehun yang sudah berada disampingnya dengan kondisi yang tidak kalah berantakan dengan Chanyeol. Strategi para elven kali ini sungguh berbeda dengan pola yang selalu mereka gunakan di peperangan-peperangan sebelumnya. Chanyeol mengambil kesimpulan bahwa mereka memiliki perancang strategi yang baru yang jelas lebih hebat daripada perancang strategi yang sebelumnya.
Dua jam lalu, ketika serangan itu dimulai, Chanyeol sudah mengeluarkan raungan marahnya yang pertama sebagai Panglima Muda. Sejak diangkat sebagai panglima oleh Jongwoon, Chanyeol sungguh sangat menata rapi emosinya, tetapi begitu menyadari siapa dibalik semua serangan anak panah di perbatasan, benteng yang dibangun Chanyeol dengan rapi runtuh sepenuhnya.
Dia menyadari Baekhyun ada di perbatasan.
Dia menyadari Baekhyun adalah perancang strategi baru kaum elf.
Dia menyadari Baekhyun dalam bahaya yang luar biasa besar.
Sehun tahu bahwa sahabatnya memiliki alasan sentimental kenapa dia tidak mau berhadapan dengan keluarga Reiheym yang sudah dia pahami sejak lama. Chanyeol tidak ingin sesorang terluka. Dan seseorang itu ada disini, mengumpankan dirinya. Sehun tahu Chanyeol menyimpan sesuatu dan memutuskan untuk tidak ikut campur. Itulah alasan dia memberikan pita rambut Baekhyun pada sahabatnya itu.
Chanyeol bergerak pasti kearah perbatasan, tempat Baekhyun berada. Sehun yang tahu rencana temannya itu berusaha menghentikannya, yang tidak digubris oleh Chanyeol. Panglima Muda itu sudah mengganti prioritasnya dalam perang ini. Prioritasnya tak lagi memenangkan perang, melainkan keselamatan Baekhyun.
Saat itulah Chanyeol melihat Baekhyun. Busur tergenggam di tangannya. Luka yang ditorehkan cakar salah satu rekannya tampak begitu mengerikan, menganga dalam dan terus mengeluarkan darah. Napasnya terengah dan pendek-pendek. Hati Chanyeol nyeri membayangkan berapa banyak pasukannya yang harus dan sudah Baekhyun habisi.
Krystal menyadari kehadiran Chanyeol dan mengalihkan perhatiannya pada pemuda itu. Tidak ada yang berubah darinya, wajahnya masih persis sama seperti saat masa kanak-kanak mereka, juga caranya menatap Baekhyun. Semuanya masih persis sama.
Sebuah alarm berdering di kepala Krystal. Ada yang membahayakan nyawa Baekhyun. Sesuatu mengarahkan pandangannya kearah barat, arah yang dibelakangi Baekhyun. Matanya terbelalak melihat sesosok prajurit musuh yang membidikan panahnya pada Baekhyun. Reflek kedua kaki Krystal membawanya bergerak kearah Luna.
"LUNA, AWAS!"
Prajurit itu melepaskan anak panahnya, Krystal tanpa sadar langsung melepaskan mantra begitu dirinya berada di belakang Baekhyun dan membunuh prajurit itu, kematian yang cepat. Krystal sudah seja tadi memutuskan kontak benaknya dengan Baekhyun, itulah mengapa Baekhyun tidak bisa merasakan ancaman bahaya. Baekhyun menolehkan kepalanya dan melihat hal terakhir yang ingin dilihatnya.
Panah yang dilepaskan prajurit tadi menembus tubuh Krystal, tepat dimana jantungnya berada. Ujung anak panah menyembul di punggungnya. Baekhyun terpaku melihat tubuh Krystal yang ambruk ke depan. Air mata merebak di mata Baekhyun begitu sadar dengan apa yang terjadi. Tubuhnya jatuh berlutut di samping Krystal. Diraih dan dibaliknya tubuh temannya itu ke pangkuannya dan memaksa temannya itu untuk menatap matanya.
Krystal menatap Baekhyun sayu, darah menyembur dari mulutnya seiring tarikan nafasnya yang berantakan. Tangannya terangkat dan mengelus pipi Baekhyun yang basah karena air mata.
"Krys. Krystal, bertahanlah kumohon.." ucap Baekhyun lirih sembari terisak. Krystal menggeleng lemah dan tersenyum lembut pada Baekhyun. "Kau dan aku sama-sama tahu apa yang akan terjadi Baek. Setidaknya aku berhasil menyelamatkan Tuanku." Bisik Krystal.
Baekhyun menggenggam tangan Krystal yang ada di pipinya dan dikecupnya tangan sahabatnya itu. Air mata mengalir lebih deras dari kedua matanya. Krystal hanya bisa tetap tersenyum pada gadis itu dan menolehkan kepalanya pada Chanyeol yang masih terpaku menyaksikan apa yang terjadi.
"Hei, aku titip dia padamu." Ujar Krystal perlahan, namun telinga Chanyeol bisa mendengar dengan jelas apa yang disampaikan alfakyn itu dan menangguk. Krystal kembali menatap Baekhyun dan kembali tersenyum.
"Sudah saatnya Baek, bersiaplah. Aku akan merindukanmu, milady."
Krystal menutup matanya perlahan dan menghela nafas terakhirnya. Baekhyun terdiam, bahunya berguncang karena tangis. Dijeritkannya nama Krystal ke langit, mendeklarasikan rasa sedihnya. Dia tak hanya kehilangan seorang perapal mantra dan prajurit yang hebat. Dia juga kehilangan teman dan saudaranya.
Baekhyun kembali menjerit, tetapi bukan karena sedih, melaikan rasa sakit yang menderanya. Dadanya terasa panas, kepalanya berputar, perutnya mual dan mulutnya terasa kering. Tangannya mencengkram begian dada kirinya, tempat jantungnya berada. Dicobanya berdiri, namun dia tidak bisa merasakan kakinya sendiri. Chanyeol bergegas mendekati Baekhyun dan meraih tangan gadis itu. Kulitnya tampak merah dan melepuh, nafasnya tersengal. Chanyeol bisa merasakan sesuatu yang ganjil dalam tubuh Baekhyun, seolah-olah sesuatu akan meledak dari tubuh gadis itu. Seketika itu pula Chanyeol melihat sebuah tato hitam familiar tergambar di dada gadis itu, tepat dibawah tulang selangkanya.
Chanyeol mendengus, pantas selama ini dia tidak bisa melacak Baekhyun, meskipun sudah meninggalkan tanda itu padanya. Krystal menyembunyikan keberadaan tanda itu dengan hidupnya. Selama dirinya bernafas maka Baekhyun tidak akan pernah bisa dilacak oleh Chanyeol atau serigala manapun dan gadis itu tidak akan pernah mengingat Chanyeol. Dan sekarang, setelah kematian Krystal, tato itu kembali muncul.
Diam-diam Chanyeol memuji kepandaian Krystal, dia menyisipkan mantra kecil yang akan memicu ledakan energi dari dalam tubuh Baekhyun. Cara yang menyakitkan bagi Baekhyun, tapi ledakan itu akan menyelamatkan dirinya dari orang-orang jahat.
Mata Baekhyun menatap Chanyeol sayu, setengah tertutup. Nafas pendek-pendek keluar dari mulutnya yang terbuka sedikit. Chanyeol bisa merasakan suhu tubuh gadis itu menurun, bukan pertanda baik. Sebentar lagi.
"SEHUN! LARI! SEMBUNYIKAN DIRIMU!" teriak Chanyeol pada Sehun yang masih berdiri diam di posisinya sejak awal. Sehun sadar akan peringatan Chanyeol dan segera merubah wujudnya dan berlari sejauh mungkin. Chanyeol meraih Baekhyun kedalam pelukannya dan membenamkan wjah gadis itu di dadanya.
Sesaat kemudian Baekhyun pingsan dan gelombang energi luar biasa besar bisa dirasakan sampai penjuru Liestaum yang paling tersembunyi. Ledakan energi yang memusnahkan segala makhluk yang tidak membawa sihir dalam darah mereka dalam radius 2 mil.
Sangjoon menggebrak mejanya gusar. Putrinya hilang dalam medan perang. Sudah dikerahkannya pasukan untuk mencari putrinya di seluruh penjuru Dawngard dan yang mereka semua kembali dengan tangan kosong.
"Master."
Sangjoon mengangkat kepalanya dan menemukan Ryeowook di pintu ruang kerjanya, sepucuk surat tergenggam di tangannya. Ryeowook melangkah maju dengan mantap dan anggun, lalu meletakkan surat itu di meja Sangjoon dan berbalik meninggalkan ruangan kerja tuannya itu.
Sangjoon membuka surat itu dan membacanya sepintas. Dihelanya nafas panjang dan dibakarnya surat itu dengan api dari tangannya. Surat itu membawa sedikit ketenangan bagi hatinya. Surat itu membawa kabar bahwa Baekhyun masih hidup dan baik-baik saja. Tetapi Sangjoon tahu, siapapun yang menulis surat itu bukanlah putrinya dan siapapun yang menulis surat itu tidak punya intensi untuk memberitahu dimana Baekhyun.
"Ryeowook!" serunya memanggil pelayan setianya itu. Tak lama kemudian Ryeowook sudah sampai di ruangan kerja Sangjoon. "Ya, master."
"Panggil Kris pulang. Dia harus membawa Baekhyun pulang."
TBC
NYENYENYENYE GUE UPDATE
HAdeh ini panjang banget TT gue sedih ngetiknya... feel adegan fightnya gadapet, jadinya shameful banget gini aaaaa gue sedihhhh
OKEY. sekian dulu yaaa, akan coba bunny update sesering mungkinnn
dan bytheway, buat chingudeul sekalian yang kena banjir, himnae! stay strong yaa, semoga banjirnya cepet pergi dan gabalik-balik lagi..
dan buat kalian yang punya kkt, buat yang mau add bunny silakan! uname Bunny: shasashasyong
let's be friends, ne?
ANNYEONGG
THANKS TO:ALL MY REVIEWERS, READERS, SIDERS, FOLLOWERS, DAN SEMUA YANG MEMFAVORITKAN FF INI.
THIS FF WILL BE NOTHING WITHOUT YOU. YOURE AMAZING.
