Judul : Hikari no Honoo

Author : saiganokotoba

Rating : T

Genre : Supernatural, Drama

Character : Kagami (Main), All

Warning : AU

Disclaimer : © Fujimaki Tadatoshi

Kurobas Characters in a different Universe and Storyline

Inspired by Kyoko Karasuma's Case files Manga by Hiroi Ouji and Kozaki Yusuke

*Konbini: Convenience Store

*Oni: Demon Creature in Japan Myth.

*Hikari no Honoo: The Light's Flame


Chapter 4 Faithful Fate


"Dan kau adalah cahayanya."

"Ca-cahaya?" Ujar Kagami bingung. "Aku tidak mengerti leluconmu, Kuroko."

"Itu bukan lelucon." Balas Kuroko serius. "Sekitar 100 tahun yang lalu, ada seorang pendeta legendaris yang tinggal di Gunung Koya. Suatu hari, ia kehilangan penglihatannya dan ia menggantinya dengan mata Oni."

"Eh, Kenapa jadi cerita-"

"Dengarkan dulu." Tegas Kuroko. Membuat Kagami hanya bisa menutup bibirnya dan mendengarkan cerita Kuroko. "Semenjak itu, meskipun samar, tapi ia bisa melihat masa depan yang pasti terjadi. Salah satu ramalannya yang paling terkenal adalah; 'Puisi Langit'."

"Lalu apa hubungannya dengan kita?"

"Tinta yang luntur oleh waktu

Memantulkan warna merah

Pada Langit

Pada Lautan

Bintang yang terbelah membelah langit

Bulan yang tunggal membelah lautan

Ketika malam menjadi buta

Matahari terbit ketika Matahari tenggelam

Kemudian Langit

Kemudian Lautan

Menjadi Jernih."

"A..Aku tidak mengerti. Maksudnya apa, ya?" Kagami tidak pernah dapat nilai bagus jika menyangkut Literatur. Di dalam hidupnya, Cuma komik yang jadi bacaannya.

"Tinta yang luntur itu artinya adalah perjanjian yang rusak. Warna merah artinya adalah Perang yang dilakukan oleh Manusia dan Oni. Kau adalah Matahari. Dan aku adalah Bulan." Jelas Kuroko singkat.

"Terus bagaimana dengan perumpamaan yang lain?"

"Aku tidak hapal semuanya tahu." Ujar Kuroko sambil melirik ke samping, menghindari tatapan kesal Kagami. "Intinya, keberadaan kita berdua sebagai Cahaya dan Bayangan bisa menyelamatkan Jepang."

"Pfft." Kagami kelepasan tertawa. "Lalu darimana kau tahu aku ini Cahayanya?"

"Itu karena.." Kuroko terdiam. "Aku merasa tertarik padamu."

Eh?

"Jangan salah sangka. Bukan tertarik yang seperti itu." Ralat Kuroko cepat. "Hanya saja, sejak pertama bertemu denganmu, aku merasa terhisap oleh keberadaanmu. Sesuatu yang tak bisa kulihat, sesuatu yang menyatukan kita, ada disini." Kuroko menepuk dadanya. "Ketika kita berdua merasa saling tertarik, itu adalah bukti yang kuat."

Dia tidak terlihat seperti sedang bercanda.

Apalagi ucapannya.. bagaimanapun ingin kusangkal, tetap saja benar

Aku juga merasa seperti itu

"Apa kau juga merasa begitu?"

"-Eeh?" Kagami yang sibuk dengan pikirannya sendiri lupa kalau ia sedang berbicara dengan Kuroko. "Soal itu Mung-"

.

"Tolong!" Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang berteriak.

Saat itu mereka berdua memang masih berada di daerah pertokoan yang ramai. Jadi cukup sulit untuk mengetahui darimana sumber suara itu. "Si-siapa itu?!" Kagami panik.

"Biarkan saja." Ujar Kuroko datar.

"Kau bicara apaan sih! Kita tidak bisa diam saja tahu!"

"Tolong!" Suara itu makin mendekat. Dari balik keramaian muncul seorang wanita berumur 30-an dengan pakaian yang menunjukkan kalau ia adalah seorang ibu rumah tangga. Ia tak bisa bernapas dengan teratur karena terus-terusan berlari dan berteriak minta tolong. Meskipun begitu, tidak ada satupun yang berusaha menolongnya.

"Ada apa?" Tanya Kagami sigap mendatangi wanita itu. Barulah setelah Kagami bertindak, orang-orang lain yang berada disana pun ikut berkumpul di sekitar Wanita itu.

"Anakku! Anakku dibawa Oni!" Wanita itu senantiasa tak dapat menahan air matanya. Ia begitu takut. "Di-dia diambil!"

"O-Oni?!" Seru salah seorang pejalan kaki yang berkumpul tadi. Sepertinya ia berniat menolong namun tak menyangka kalau Oni menjadi masalahnya.

"Kemana Oni itu pergi?" Tanya Kagami berusaha tenang.

"Ia- Ia- Itu!" Tiba-tiba wanita itu menunjuk ke arah langit. Saat itu juga Kagami langsung mendongakkan kepalanya, lalu ia menemukan hal yang mengerikan. Seorang Oni berwarna hijau melompat melintasi bulan purnama malam itu. Dengan seorang anak di kedua tangannya.

"Itu Oni!" Orang-orang lain yang berniat membantu atau sekedar ikut-ikutan saja langsung membubarkan diri. Tidak ada yang berani mempertaruhkannya nyawanya untuk seorang anak kecil yang mereka tidak kenal.

"Tenang saja, aku akan membawanya kembali!" Ujar Kagami, mencoba membuat ibu anak itu tenang. "Kuroko! Bantu aku!"

"Tidak."

Jawaban Kuroko membuat Kagami terkejut.

"Kau bicara apa sih! Kita harus menolong anak itu!"

"Kenapa aku harus menolong manusia?"

Apa? Apa katanya?

Benar juga.. Kuroko.. bukan manusia

"Lalu kenapa kau menolongku waktu itu?!"

"Karena itu kau."

"A-"

Waktu itu.. Kuroko baru bergerak ketika aku tersudut

Ia sama sekali tidak melakukan apa-apa ketika teman yang lain diserang

"Baiklah, aku akan melakukannya sendiri!"

Kagami pun berlari meninggalkan Kuroko yang tetap pada prinsipnya. Ia pun berlari mengikuti Oni yang loncat dari gedung ke gedung itu. Ia sama sekali tidak bisa menyamainya dengan kekuatan kakinya sekarang. Oni itu terlalu cepat.

Sialan, kalau begini aku akan kehilangan dia.

.

Sial!

Aku tak mau kehilangan lagi

Aku tak mau siapa pun mati

Seperti waktu itu

.

BRAK!

.

"Hei! Lihat-lihat dong!" Kagami yang terburu-buru tak sengaja menabrak seseorang yang baru saja keluar dari dalam konbini.

"Maaf, Ma- Kau!"

"Loh, kau kan yang waktu itu!"

Betapa terkejutnya Kagami ketika ia bertemu lagi dengan orang yang menyelamatkannya waktu. Si Opsir hitam sombong. Meskipun ia ingin sekali mengejeknya sekarang, tapi ada hal yang lebih penting dari itu. "Ke-kebetulan sekali!" Kagami memegang kedua pundak Aomine dengan keras. "Aku butuh bantuanmu!"

"Huh? Aku baru saja mau makan es krim dengan tenang." Keluh Aomine sambil melirik es biru yang baru dibelinya itu.

"Bukan saatnya untuk itu! Kau Opsir khusus Oni kan? Ada Oni yang menculik seorang anak!" Seketika raut wajah Aomine langsung berubah. "Dia-"

"Cukup, tunjukkan kemana arahnya."

"Ah." Kagami pun melihat ke atas, mencoba mencari dimana Oni itu. Tapi sayang, ia terlalu lama terhenti disitu. Ia sudah benar-benar kehilangan Oni itu.

Si-Sial.. Bisa-bisanya aku kehilangan jejaknya

Tidak. Tenang dulu.

Coba pikir.

Coba rasakan.

Kemana kira-kira Oni itu pergi.

Tak mungkin ia terus-terusan berlari.

Pasti ia berhenti juga.

Kagami menarik napasnya dalam-dalam sambil mengamati satu persatu gedung yang ada disana. Kemudian ia berhenti pada satu gedung kecil yang ada di tengah-tengah gedung hotel dan Mall. "Di-disana!"

"Yosh!" Aomine pun langsung tancap gas menuju gedung itu.

Aku tak tahu kenapa aku bisa tahu.

Tapi aku yakin, Oni itu memang ada disana.

"A-Aku ikut!" Kagami pun ikut berlari di belakang Aomine. Opsir khusus Oni itu berlari luar biasa cepat, walaupun tidak sehebat Oni. Tapi pasti dia sudah berlatih sejak kecil, gerakannya itu sangat berpengalaman. Padahal usianya sebaya dengan Kagami.

"Kau tinggal saja! Kau tak akan bisa melakukan apa-apa!"

"A-Apa?!" Kagami yang kesal pun akhirnya bisa menyamai langkah dengan Aomine. "Kalau tidak kuberitahu mana mungkin kau tahu ada Oni yang sedang beraksi!"

"Kalau begitu kuatnya, harusnya kau tak usah memberitahuku!" Aomine mempercepat larinya sehingga Kagami pun tertinggal lagi di belakang.

"Sialan!" Makin lama, jarak mereka makin membesar. Aomine sudah tak terlihat lagi. Tapi Kagami tak mau menyerah. Ia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri, kalau anak itu selamat.

Soalnya aku sudah janji

Kagami pun akhirnya sampai ke gedung tersebut dan langsung menaiki tangganya untuk sampai ke bagian atap. Rasanya kakinya sudah lelah sekali, ingin rasanya ia istirahat. Tapi semangatnya lebih besar dari itu. Ia terus mendaki dengan kekuatannya yang tersisa.

Aku tak boleh kalah.

"Kau janji akan melindungiku, kan?"

.

Aku sudah janji!

"HEI!" Kagami akhirnya sampai di atap, ia membuka pintu dengan kasarnya. Tapi sepertinya, perjuangannya cukup sia-sia. Karena pemandangan yang ia lihat saat itu adalah Aomine yang berdiri di depan Oni yang sudah terbelah dua. Dengan seorang anak laki-laki berusia lima tahunan menangis ketakutan di pojok.

"Kau terlambat." Ujar Aomine sambil mengatur napasnya. Sepertinya telat sedetik saja, anak itu sudah jadi santapan makan malam Oni tersebut. "Si hijau ini." Aomine menendang mayat Oni tersebut. "Jenis Oni yang suka sekali dengan daging anak-anak."

"Kau. Sebenarnya apa?" Tanya Kagami dengan perasaan cemas di dadanya. Ia sudah dua kali melihat aksi Aomine, tapi baru kali ini ia merasa bahwa laki-laki itu memang pantas ditakuti. Apa ia Oni juga?

"Aku?" Aomine pun menggendong anak yang ketakutan itu di punggungnya. "Bukankah lebih baik kau bilang namamu sebelum menanyakanku?"

Sebenarnya bukan nama yang dimaksud oleh Kagami, tapi biarlah. "Ka-Kagami Taiga."

"Oke, Kagami." Aomine pun berjalan ke arah pintu keluar yang ada di belakang Kagami. "Sudah dua kali aku bertemu denganmu dalam kejadian seperti ini. Dan sebagai seorang pendeta, aku tak boleh memungkiri kebetulan ini."

Pendeta? Jadi dia bukan Oni?

"Aku yakin, kita pasti terhubung oleh suatu takdir. Semoga sampai saat itu tiba, kita berdua, masih diijinkan untuk hidup." Aomine pun melewati Kagami yang berdiri kaku. "Aomine Daiki. Itu namaku."

Aomine telah pergi. Sementara Kagami hanya terdiam disitu. Entah kenapa ia merasa kalah. Ia merasa tak berguna.

Aomine sama sepertinya, seorang manusia.

Tapi ia bisa menyelamatkan anak itu.

Sementara Kagami tidak.

Apa yang kulakukan?

Meskipun aku ingin menolong anak itu

Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kuperbuat

Untuk bisa mengalahkan Oni itu

.

Aku lemah

.

"Brengsek!"

Kagami memukul keras pagar kawat yang ada di sebelah kirinya.

.

.

"Aomine-san! Kau tidak apa-apa? Maaf atas keterlambatanku!"

"Yo, Ryou! Makasih sudah datang, kau bisa lakukan pemurnian untuk anak ini?" Aomine rupanya sudah menelepon rekannya untuk membantunya membereskan pekerjaan ini. Ia memindahtangankan anak itu kepada Sakurai Ryou, rekannya yang ahli dalam pemurnian dan juga pengobatan.

"Ah baiklah.. Tapi, apa kau tidak mau mencoba melakukannya?"

"Kau sudah tahu kan." Jawabnya dengan nada berat. "Aku tak bisa melakukannya."

"Ma-Maaf!" Sakurai pun segera melakukan pemurnian pada anak itu. Sementara Aomine menggerakan tulang-tulang lehernya yang kaku. Setelah mendengar suara krek yang ia inginkan, ia pun memandang ke arah bulan purnama.

Kagami Taiga

Padahal saat itu ia tampak kebingungan dengan posisi Oni itu.

Tapi hanya dengan sense-nya, ia bisa mengetahuinya

Dia, bukan orang biasa

.

Tetsu

Mungkin dia orang yang sebenarnya kau cari.

.

.

To be continued

Quiet short compare to previous chapter!

Please kindly review if you read this

You can comment even if you don't have FFN account! :)