Title :The Future of Us
Rated :T
Genre :Family / Adventure
Warning :Shounen Ai, Semi-AU, OOC, rombak dari cerita asli ^ ^;
Bisa dibilang sequel dari cerita Insieme :)
KHR Belong to Amano Akira
.
Chapter 4, Determination
.
"Namaku adalah Hayato, Storm Guardian dari Giuda Famiglia—Squad ketiga Millefiore, Sin Squad…"
Tsuna hanya bisa tersentak dan matanya melebar beberapa mili—tidak percaya dengan apa yang ia dengar, walaupun ia tidak mengetahui tentang Giuda maupun Sin Squad, tetapi kata-kata Millefiore sudah terngiang di kepalanya. Millefiore yang menghancurkan Vongola, membunuh pamannya dan juga sahabatnya, serta dirinya di masa ini. Lalu, kenapa Hayato—bisa berada di kelompok itu?
"T—Tsuna-kun, kau tidak apa-apa?"
"Kyoko-chan, aku tidak apa-apa—" Tsuna mencoba untuk tersenyum dan menenangkan sahabat kecilnya itu, "—apakah kau tahu kenapa Hayato-senpai—"
"Eh—Hayato-senpai memang berada di kelompok Millefiore Tsuna-kun, setelah penyerangan itu dan juga setelah ia—"
BUM!
Belum sempat Kyoko menyelesaikan perkataannya, saat asap pink langsung menyelimuti sosok Kyoko. Tsuna yang terkejut tampak menunggu asap itu menipis sebelum menemukan sosok Kyoko yang sedang memegang pulpen dan juga tampak kaget dan juga bingung.
"Eh, Tsuna—kenapa aku disini? Seharusnya aku bersama Hana-chan, dan dimana ini—" sosok Kyoko yang berasal dari dunianya tampak menggantikan sosok sebelumnya.
"E—EH! Kenapa Kyoko-chan juga terkirim kemari!"
…
Giotto yang berada di markas tampak keluar dan menuju ke sebuah makam yang berada di dekat makam Tsuna. Tentu saja ia tahu, makam itu adalah makam dari sahabatnya sekaligus tangan kanan dan juga Storm Guardiannya. Sudah menjadi kebiasaannya untuk mengunjungi makam itu.
Membawa sebuah lily putih dan meletakkannya di atas peti mati milik sahabatnya itu, tersenyum sedih sambil menghela nafas panjang dan juga berat. Rasanya, sampai sekarang ia tidak percaya kalau tangan kanannya itu yang akan tewas terlebih dahulu daripada dirinya. Walaupun G selalu berkata kalau ia akan sebisa mungkin melindunginya, dan tidak akan membiarkannya tewas terlebih dahulu daripada dirinya—tetapi ia tidak menyangka kalau itu benar-benar akan terjadi.
"Kalau saja saat itu aku tidak bertengkar denganmu dan keras kepala G…"
…Flash Back…
"Kau harus tenang Giotto—aku tahu kau kesal pada Byakuran yang mempengaruhi Uni, tetapi kau tidak bisa bertindak gegabah!" pria berambut merah yang tidak berubah sejak 10 tahun yang lalu itu tampak menahan Giotto saat pria berambut kuning itu mencoba untuk menerobos kearah musuh saat ditengah pertemuan dengan Millefiore—bukan hanya Byakuran yang memperkenalkannya dengan Uni—anak angkatnya yang menjadi salah satu aliansinya, tetapi ia berani menyerang beberapa anak buah Vongola.
"Bagaimana aku bisa tenang G, ia mempengaruhi Uni—dan Natsuki menghilang setelah ia mencoba untuk bertemu dengan Byakuran!" Giotto menatap G dengan tatapan kesal, dan hampir saja mereka terkena ledakan kecil yang terjadi di dekat mereka kalau G tidak mencoba untuk mendorong Giotto menjauhi tempat itu.
"Dengar Giotto—aku mengerti, karena Hayato juga menghilang. Tetapi kita tidak boleh bertindak sembarangan, Byakuran memiliki Mare Ring yang tidak mungkin bisa diremehkan!"
"Dan kita memiliki Vongola Ring—apakah itu tidak cukup untuk mengalahkan mereka?" Giotto tampak tidak mau kalah dengan argumen bersama dengan G itu. Ia sudah tidak bisa menahan dirinya untuk membunuh Byakuran yang sudah membuat kedua anaknya itu menghilang.
"Itulah yang diinginkan oleh Byakuran—ia mengincar Vongola Ringmu untuk mendapatkan Tri Ni Sette!"
"Aku mengerti—" menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk menahan dirinya sebelum ia menatap bayangan Byakuran yang ada di dekat mereka. Dengan segera mengaktifkan HDWD, dan sudah beriap dengan Glovenya. Menyadari mode siaga bosnya, G tampak bersiap mengeluarkan panahnya.
"Fufufu~ Gio-kun, bagaimana kalau kau menyerah saja dan memberikan cincin Sky Ring itu padaku—daripada kau melihat sesuatu yang akan membuatmu sangat kecewa~" Byakuran yang seolah tahu kalau Giotto dan juga G berada di tempat itu tampak tersenyum dan sudah bersiap dengan pistol di tangannya. Giotto tampak mencoba untuk muncul—tetapi tentu saja ditahan oleh G.
"Kau ingin tahu bagaimana keadaan Natsuki-kun bukan? Aku bisa memberitahukannya, karena hanya kami—Millefiore yang tahu keberadaan mereka dimana…"
Mendengar kata Natsuki, membuat Giotto semakin marah dan mencoba untuk melepaskan pegangan dari G.
"Tidak Giotto, kau tidak boleh sembarangan!" sedikit berbisik, mencoba untuk menenangkan Giotto yang langsung mendorongnya dengan flame milik Giotto hingga terdorong dan pegangannya terlepas, "Ugh—Giotto, kau bodoh!" G melihat Giotto yang langsung terbang mendekat dan mencoba untuk mengalihkan perhatian Byakuran untuk membawanya keluar dari markas saat itu.
"Aku harus bisa menyusulnya—"
"Kau tahu, yang dilakukan oleh Byakuran-san bukanlah untuk melawan Giotto-san satu-lawan-satu," suara yang tampak muncul tiba-tiba itu membuatnya menoleh kearah asal suara itu. Sosok yang tertutupi oleh bayangan bangunan itu, tetapi G tidak perlu melihat siapa itu—karena ia sudah bisa mengenalinya dari suaranya saja.
"Kau—"
…
"Byakuran, aku bersumpah akan membunuhmu sekarang juga kalau kau tidak memberitahukanku dimana Natsuki berada!"
Giotto tampak terbang dengan flamenya, begitu juga dengan Byakuran yang terbang dengan sayap putihnya. Hanya tertawa, Byakuran tampak menatap Giotto dengan tatapan dingin dan senyuman tipis penuh arti.
"Aku tidak bisa memberitahukannya—karena belum saatnya kau mengetahuinya," Giotto tampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh Byakuran, "ah—tetapi tenang saja, Na-chan akan baik-baik saja selama bersama denganku. Daripada itu, apakah kau benar-benar tidak akan menyesal tidak memberikanku begitu saja cincin Vongola itu?"
"Sampai matipun aku tidak akan memberikannya…"
"Ah, sayang sekali—itu adalah jawaban yang salah Giotto," Byakuran tampak mengangguk-angguk, menatap kearah Giotto sebelum ia hanya diam seolah menunggu sesuatu, "kupastikan kau akan menyesal dengan keputusanmu itu Gio-kun~"
BANG!
Bukan Byakuran ataupun Giotto yang membuat suara tembakan itu. Giotto sadar, sumber suara itu berasal dari tempat dimana ia tadi berpisah dengan G. Kecemasan dan juga ketakutan sudah menguasainya—dengan segera ia terbang menuju ke dalam bangunan yang sudah cukup hancur itu.
Byakuran—mengejutkan ia tidak mengejar Giotto sama sekali walaupun kecepatannya saat ini bisa menandingi Giotto.
"Itu hanyalah sebuah peringatan Gio-kun, kalau kau masih tidak setuju memberikannya—kau akan merasakan kehilangan yang lebih menyakitkan…"
…
"G, kau dimana!" Giotto mencoba untuk berlari di dalam ruangan itu, mencari sang sahabat yang tidak tampak dimanapun. Wajahnya tampak pucat, tidak ingin mengikuti HInya yang mengatakan kalau sesuatu terjadi pada G. Ia tidak akan membiarkan G sampai terluka apalagi tewas.
Suara batuk yang tampak seolah tersedak itu mengalihkan pandangannya pada satu sisi dari bangunan itu. Ia bisa melihat kaki seseorang yang tampak menunjukkan seseorang berada disana. Dan gerakan yang lemah menunjukkan kalau orang itu masih hidup. Saat ia berjalan dan melihat orang itu—tentu ia terkejut saat menemukan kalau yang ada disana adalah G, dalam keadaan terluka parah.
Ia terkena tembakan tepat di dekat dadanya—walaupun tidak mengenai langsung dadanya, darah terus mengalir deras dari tubuhnya.
"G!" segera berjongkok dan mencoba untuk melihat keadaan G yang sudah sangat pucat seperti mayat hidup, "be—bertahanlah G, aku akan memanggil bantuan segera!"
"I—itu tidak akan berguna," nafas G tampak memburu sambil menyerengit—ia mencoba untuk tetap sadar dan terus memegangi luka di tubuhnya. Keringat dingin juga tampak membasahi wajahnya dan kesadarannya tampak semakin kabur, "aku akan mati Giotto—itu adalah hal yang tidak bisa dipungkiri…"
"Ti—tidak, jangan katakan hal seperti itu G, kau akan selamat aku tahu itu…" tampak merasakan tangan Giotto yang gementar, walaupun tidak tahu pasti dimana posisi Giotto, G tampak menolehkan kepalanya dan tersenyum sambil menepuk kepala Giotto.
"Kau selalu menjadi seorang adik kecil untukku—jaga Gokudera dan Hayato oke? Aku yakin kau bisa mengalahkan Millefiore dengan dan tanpa bantuanku…" terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, Giotto bisa merasakan detak jantung G yang semakin melemah dan samar.
"G, kumohon jangan berbicara lagi—Gokudera masih membutuhkanmu, dan bagaimana aku bisa menjelaskannya pada Hayato kalau kau tewas…"
"Mereka bukan anak kecil lagi—" tertawa dan mencoba untuk tetap bernafas meskipun susah dan semua tenaganya seakan hanya digunakan untuk bernafas saja, "—aku yakin mereka akan bisa menerimanya—lagipula, menjadi seorang mafia… aku sudah siap untuk mengakhirinya seperti ini…"
Giotto mencoba untuk memeluk kepala G dan mencoba membaringkannya di pelukannya. Air mata tampak jatuh begitu saja dan membasahi wajah G yang bahkan tidak bisa lagi berbicara jelas.
"Kau tidak perlu menangis bukan—" suaranya berbisik, lebih tepatnya ia memaksakan dirinya untuk berbicara. Tangannya mencoba untuk menghapus air matanya, "—bukankah aku sudah berjanji, aku akan melindungimu. Tidak akan aku biarkan orang lain membunuhmu…"
…
"Katakan juga pada si bodoh itu—" menarik Giotto sehingga mendekatinya, mencoba untuk membisikkan sesuatu yang membuat Giotto menutup matanya dan menahan tangisnya lagi.
"Kau harus mengatakannya sendiri G…"
"Giotto—"
…
"Baiklah, tetapi kau harus bertahan—kumohon G…"
"Paman Giotto/ayah!" suara Gokudera dan juga Tsuna tampak terdengar dari kejauhan. Giotto menoleh keasal suara, menemukan Gokudera dan Tsuna, dan juga Knuckle dan Ryouhei. Dengan Sun Flamenya, mungkin G bisa selamat—yang harus ia lakukan hanyalah membuat G tetap sadar.
"G, Knuckle dan juga Ryouhei sudah ada disini! Kau hanya perlu tetap sadar dan berbicara dengan—" kata-kata Giotto tampak terputus saat melihat G yang matanya sudah tertutup. Dadanya tidak naik turun seperti tadi, membuat matanya terbelalak dan mencoba untuk menepuk pipi G dan membuatnya sadar, "—G? H—Hei, sadarlah G…"
…
"Kalau saja aku tidak meninggalkanmu saat itu—aku pasti bisa menghentikannya untuk membunuhmu," menautkan kedua tangannya seolah berdoa, menutup matanya dan mengeratkan giginya, "maafkan aku G…"
BUM!
Suara yang tampak tidak asing itu terdengar dari dalam peti mati itu. Giotto tampak terkejut dan mencoba untuk mundur melihat apa yang meledak di dalam peti itu. Ia tidak ingin membuat G melihatnya seperti orang bodoh—seperti saat ia terburu-buru meninggalkannya hanya untuk dipancing oleh Byakuran.
"Aku tidak mengerti—serangan apa tadi," suara yang tampak terdengar bebarengan dengan suara peti yang bergeser, "lalu apa-apaan penutup itu…"
Mata Giotto seolah tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat—saat ia menemukan G yang tampak bergerak dan juga berbicara. Bahkan ia tidak sadar kalau itu adalah sosok G yang lebih muda daripada yang ada di masanya. G tampak menoleh dan menemukan Giotto yang menatapnya.
"Giotto?"
Mendekat dan segera melingkarkan tangannya di leher G, tidak mengatakan apapun selain membenamkan kepalanya di bahu G yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
…Sebelumnya…
"Giotto—kau harus melakukan sesuatu!"
G yang tampak berada di ruangan Giotto terlihat panik dan juga tidak tenang. Selain karena Tsuna yang menghilang, bagaimana ia bisa tenang saat melihat anaknya menghilang juga—dan terjadi didepan matanya sendiri. Ia tidak bisa membiarkan semua itu terjadi lagi—tidak pada Giotto ataupun pada semuanya.
"Kita harus segera menyelidiki apa yang terjadi—mungkin kalau Tsuna penyebabnya sudah diketahui, tetapi kenapa Gokudera juga menghilang—" mengetuk mejanya dengan telunjuk, tampak tidak sabar dan juga cemas dengan keberadaan anaknya itu, "—apakah Gianni dan juga Spanner sudah mengetahui penyebabnya?"
"Tadinya mereka menyimpulkan ada yang salah dengan Juunen Bazooka, tetapi dengan menghilangnya Gokudera, sepertinya mereka harus mencari tahu asal dari serangan itu," Giotto tampak tidak kalah cemas, tetapi ia harus bisa tenang dan mencoba untuk memikirkan semua kemungkinan.
"Kau memanggilku dan Yamamoto, Giotto-dono?"
Suara Ugetsu tampak membuat mereka berdua menoleh untuk menemukan Ugetsu dan juga Yamamoto yang berada di sana sambil tersenyum kearah mereka. Giotto mengangguk dan mereka berdua berjalan masuk kedalam ruangan itu.
"Apakah kalian bisa melakukan penyelidikan di reruntuhan markas Bovino? Tanpa diketahui oleh Lampo dan juga Lambo—" Giotto menatap Ugetsu dan juga Yamamoto dengan tatapan serius. Ia tidak ingin Lampo dan juga Lambo mengingat kembali saat markas tempat mereka berada hancur karena serangan mafia lainnya. Makanya ia lebih memilih untuk mengirim Ugetsu dan juga Yamamoto untuk menyelidikinya, "—aku ingin kalian menemukan blue print dari Juunen Bazooka dan membawnaya padaku…"
"Baiklah—kami akan mencoba untuk mencarinya," walaupun tersenyum, Ugetsu tampak menunjukkan tatapan serius dan juga dingin. G tampak hanya berdecak kesal dan melihat sebuah peluru bazooka yang terbang menuju ke ruangan Giotto. Matanya membulat, ia berbalik dan mencoba untuk mendorong Giotto.
"Giotto awas!" berhasil untuk mendorong Giotto kebawah meja kerjanya, tetapi bazooka itu sukses tertembak ke arahnya. Ugetsu dan juga Yamamoto yang tampak terlambat menyadari hal itu, menoleh kearah jendela untuk menemukan dua buah peluru lagi yang menuju kearah mereka.
BUM!
Giotto yang baru saja bangkit tampak mengaduh sambil memegangi kepalanya—mencoba untuk melihat keadaan sekelilingnya, dimana Yamamoto, Ugetsu, dan juga G sudah tidak ada disana.
…
"Sebaiknya kau lihat cara bertarungku dulu Gokudera-kun," Ugetsu tampak tersenyum dan menatap kearah Gokudera yang berada di belakangnya. Lambo dan juga I-Pin tampak mencoba untuk melindungi Haru, Gokudera sendiri tampak kesal karena terlihat tidak berguna.
"Aku benci saat kau dan juga kakek tua itu menganggapku lemah," Gokudera berdecak kesal dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ugetsu tampak hanya tertawa dan menepuk kepala Gokudera.
"G tidak pernah menganggapmu lemah—ia hanya khawatir kau akan terluka," Gokudera hanya mendengus saat mendengar hal itu. Wajahnya tampak memerah karena perkataan dari Ugetsu itu—sebenarnya ia tahu kenapa ayahnya selalu menganggapnya seperti anak kecil, "jadi—untuk kali ini biarkan aku menghadapi mereka…"
"Terserah saja—" Gokudera melihat Ugetsu yang sedang mengeluarkan kotak lainnya dan bersiap membukanya. Melempar keatas kotak itu—dan saat akan menangkapnya, tiba-tiba saja asap pink menutupi Ugetsu membuat Gokudera terkejut, begitu juga dengan orang-orang dibelakangnya—Lambo, Haru, dan juga I-Pin.
"Hm?" Ugetsu yang lebih muda 10 tahun lamanya tampak membawa pedang, tetapi tidak sadar akan kotak yang jatuh begitu saja tanpa sempat ditangkap olehnya.
"Hahi? Apa yang terjadi—" menoleh perlahan, menatap horror saat melihat Haru, I-Pin, dan Lambo yang juga berubah.
"Oh—sial, kenapa disaat seperti ini!" Gokudera tampak sangat terkejut dan panik, mencoba untuk berfikir jernih dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Kenapa Ugetsu, Haru, I-Pin, dan Lambo bisa bertukar tempat juga dan kenapa harus disaat seperti ini.
…
"K—Kyoko-chan, kenapa kau—!"
"Huh, dimana ki—" baru saja Kyoko melihat sekeliling, tiba-tiba saja sebuah peluru dengan flame berwarna merah tampak mengincar Tsuna dan juga Kyoko.
"Awas!" dengan segera ia mendorong Kyoko yang berada di depannya, dan serangan itu mengenainya telak.
"H—Huh, darah?" Kyoko melihat darah yang mengotori tangannya—bukan darah dari tubuhnya tetapi darah yang terciprat di tangannya. Menoleh ke depan, saat melihat Tsuna terbaring tidak sadarkan diri, "Tsuna-kun!" berlari dan akan menghampiri Tsuna saat itu. Tetapi, Hayato tampak berdiri dan menghalangi Kyoko untuk lebih dekat pada Tsuna.
"Ha—Hayato-san…"
"Kyoko-san, maaf—aku harus membunuhmu. Kau hanya sedang sial karena berada di saat yang tidak tepat," Kyoko tampak merinding melihat tatapan dingin dari Hayato yang membuatnya berkeringat dingin. Hayato mengeluarkan pistol yang ada di dalam sakunya, mengacungkannya tepat didepan kepala Kyoko saat itu, "dendamlah pada orang-orang yang tidak bisa melindungimu…"
Baru saja peluru akan ditembakkan dan Kyoko tidak bisa bergerak dari tempatnya, ketika tiba-tiba saja flame sky sudah muncul dan Tsuna bergerak untuk menjauhkan Kyoko dari dekat Hayato saat itu.
"T—Tsuna-kun…"
"Oh, kau tampaknya sudah semakin kuat Tsunayoshi—perubahan HDWDmu meningkat sedikit daripada saat Battle Ring—" Hayato tersenyum dan berbalik untuk melihat Tsuna yang hanya diam membelakanginya. Tangannya dikepalkan sangat kuat, dan ia hanya bisa menurunkan Kyoko tanpa mengatakan apapun sebelum berbalik dan menatap Hayato dengan tatapan kosong.
"Apa yang terjadi selama 10 tahun ini—kenapa Hayato-senpai berada di dalam pihak musuh!"
…
"Waktu bisa mengubah segalanya—kau mendengar juga dari Ugetsu-san bukan?" Tsuna tampak menyadari arti dari tatapan sedih yang ditunjukkan Ugetsu saat mengatakan hal itu. Apakah mungkin, Ugetsu juga mengetahui kalau Hayato berada di pihak musuh saat ini?
"Tetapi ini semua—"
"Aku tidak punya waktu banyak untuk meladenimu Tsunayoshi—aku akan menghabisimu dengan segera, atau Byakuran-sama akan mengetahui kalau kau masih hidup…"
…
"Ah, Gokudera-kun—ayahmu mencarimu kemana-mana!" Ugetsu yang tampak masih belum sadar kalau bukan berada di masanya tampak sangat senang melihat Gokudera berada di depannya setelah beberapa menit yang lalu ia melihat G yang sangat cemas dengan keadaan Gokudera.
"Hahi, Gokudera—dimana kita sekarang?"
"Disaat yang seperti ini—kau pasti bercanda, kenapa harus pada saat seperti ini harus berganti?" Gokudera menjadi pucat pasi, dan satu-satunya orang yang sedikit mengetahui pertarungan di masa ini selain musuhnya adalah dia. Ugetsu mungkin kuat, tetapi yang menjadi masalah adalah Haru, I-Pin, dan juga Lambo.
"Pa—paman, kau harus melindungi Haru, I-Pin, dan juga Lambo! Bawa mereka segera menjauh dari tempat ini!"
"Hm?"
"Hahi?" Haru tampak bingung dengan perkataan Gokudera, begitu juga dengan Ugetsu yang tampak masih mencerna tempat yang ada di sekeliling mereka.
"Jangan hanya berkata 'hahi' saja perempuan bodoh! Ini adalah satu-satunya cara untuk keluar dari tempat ini dengan segera!" Gokudera tampak mengamuk mendengar kedua jawaban yang benar-benar santai itu.
"Apa maksudmu dengan bodoh itu!"
"Ah, ini dimana ya?" Ugetsu menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan menyadari kalau ia sudah berpindah tempat dari ruangan Giotto menuju ke sebuah tempat yang asing baginya.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan—" Gokudera berbalik saat melihat serangan dari Nozaru yang mengarah padanya, "—sial!"
BUM!
Ledakan tampak berada di sekeliling Gokudera, Ugetsu, I-Pin, Haru, dan juga Lambo.
…
"Ke—kenapa senpai, kau tahu bahwa Byakuran adalah orang yang menghancurkan rumah kita bukan? Yang membuat semua ini terjadi—"
"Aku memiliki alasan tersendiri kenapa mengikuti Byakuran-sama," Hayato menatap Tsuna tampak mengeratkan giginya, tampak beberapa peluru yang diselimuti oleh storm flame muncul dan akan mengenainya. Dengan segera ia terbang dan mencoba menghindar dari semua peluru yang ada di sana.
"Kecepatanmu cukup mengejutkan—aku tidak pernah ingat 10 tahun yang lalu kau sekuat ini," Hayato mencoba untuk menghindari semua serangan dari Tsuna, walaupun beberapa kali tampak serangan darinya ditangkis ataupun di balikkan padanya atau dihisap menggunakan Zero Point Breakthough Reverse Edition, "saatnya aku sedikit lebih serius…"
Membuka sebuah box yang ada di tangan kanannya, kali ini tidak langsung memunculkan sesuatu—tetapi saat Tsuna akan menyerangnya tepat di depan Hayato, ia tersenyum dingin dan menatap Tsuna.
"Kau masih jauh lebih lemah dari dirimu di masa ini—terlebih seranganmu itu terlihat ragu mengenaiku, Tsunayoshi—" saat Tsuna sadar, sebuah panah dengan storm flame sudah menusuk bahunya hingga tembus.
"Tsuna-kun!" Kyoko tampak menatap horror saat tubuh Tsuna terjatuh begitu saja dan tergeletak seakan tidak sadarkan diri. Hayato tampak hanya diam dan menatap Tsuna—tidak ada pergerakan dari mereka berdua saat itu.
…
Di tempat lain—sangat dekat dengan tempat Tsuna dan juga yang lainnya bertempur, tampak seseorang sedang menerima telpon sambil berjalan dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku mengerti—" suaranya yang tampak lebih tegas dan juga tetap sama seperti dulu tampaknya sudah cukup bisa dikenali siapa pemilik suara itu, "—kau selalu merepotkan, tidak perlu kau ingatkan itu…"
…
"Hn—aku akan mengatasi musuh yang ada di sini," menutup handphonenya dan melihat beberapa suara ledakan yang terjadi di dalam dan diluar gedung. Seseorang tampak berjalan mendekatinya dan menepuk pundaknya.
"Yang mana yang kau pilih?"
"Sepertinya—melawan para Sin Squad itu lebih menarik, untuk kali ini—kuserahkan Black Spell padamu," dan dengan segera ia bergerak menuju ke dalam gedung dan pria lainnya tampak bergerak menuju ketempat Gokudera, Haru, I-Pin, Lambo, dan juga Ugetsu.
…
"Kau tidak bisa menyerangku lagi Tsunayoshi?"
"A—aku tidak ingin bertarung denganmu senpai," Tsuna tampak mengeratkan kepalan tangannya dan mencoba untuk bangkit walaupun darah tampak mengalir dari bahunya yang terluka karena Flame Arrow itu. Tatapannya tampak sedih dan juga sakit, bukan karena luka itu, tetapi karena kenyataan kalau yang ia hadapi adalah Hayato—seseorang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, "aku benar-benar tidak bisa—"
…
"Kalau begitu—matilah kau disini sekali lagi, Tsunayoshi…" sebuah pistol tampak teracung tepat di depan kepalanya. Tsuna tidak bergerak, tidak menatap Hayato yang berada tepat di depannya. Ia hanya menunduk dan membiarkan rambutnya jatuh begitu saja. Saat pelatuk akan ditarik, sesuatu tampak menahan gerakannya—dan membuat peluru yang tertembak itu meleset hanya beberapa centi dari tubuh Tsuna.
Belum sempat lagi merespon apa yang terjadi—tubuh Hayato langsung terbanting ke samping, dan membuatnya menjauh baik dari Kyoko maupun Tsuna. Tsuna yang mendengar benturan itu terkejut dan menoleh kearah siluet sosok yang ia kenal saat itu sedang membelakanginya.
"Bangun herbivore—" sosok itu menoleh dari sudut bahunya, dan ia bisa melihat mata biru pucat milik pria itu yang menatap tajam kearahnya, "—bukan saatnya untuk merengek pada musuh…"
"Pa—paman Alaude?"
…
"Sial—aku hanya bisa menyelamatkan I-Pin saja," Gokudera yang memegang tubuh I-Pin dan mencoba melindunginya saat serangan terjadi. Dengan segera bangkit dan mencoba untuk melihat keadaan Ugetsu, Haru, dan juga Lambo. Terkejut—saat menemukan Haru dan juga Lambo yang tampak dilindungi oleh Ugetsu, 'p—paman Ugetsu bisa langsung melindunginya dalam waktu yang sangat singkat dan tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi disini? Benar-benar Rain Guardian Vongola…'
"Heh, ada apa? Apakah hanya segini saja kemampuan Rain Guardian Vongola?"
"Sial—aku harus bisa menahan mereka," Gokudera mengeluarkan beberapa dinamit yang sudah berada di sela jarinya.
"Hah—kau fikir bisa mengalahkanku hanya dengan dinamit itu?" Nozaru tampak tertawa dan mendengus melihat Gokudera yang seketika itu berhenti dan berdecak kesal.
'Ia benar—aku tidak mungkin bisa mengalahkan senjata itu hanya dengan dinamit ini,' mengeluarkan box weapon dan melihat cincin Vongola di tangannya.
'Bayangkan apa yang menjadi tekadmu Gokudera-kun…'
"Kau tidak perlu mengatakannya paman—karena sampai kapanpun, aku selalu memiliki tekad yang kuat!" Gokudera melihat kearah cincin Storm miliknya, menggenggam tangannya untuk mengeluarkan flame yang dikatakan oleh Ugetsu di masa itu, 'aku harus mengubahnya menjadi flame…'
Dan beberapa saat kemudian flame berwarna merah tampak menyelubungi cincin yang digunakan oleh Gokudera. Sosok yang tampak akan mendekati mereka itu tampak berhenti dan menatap cincin Gokudera.
"Oh, tidak kusangka akan berhasil—"
…
"Kau tidak ingin bertarung dengannya?" Tsuna tampak menatap Alaude yang berasal dari masa ini, tampak tidak berbeda dari masa 10 tahun yang lalu namun hanya tubuhnya yang tampak lebih tegap dan nada suaranya yang semakin mendingin, "jangan bercanda—kau sudah menjadi Omnivore dimata Kyouya dan ini jawaban dari semua yang disimpulkan Kyouya?"
"Te—tetapi aku, kenapa harus aku yang bertarung dengan Hayato-senpai?"
"Fikirkan saja—apa yang membuatmu harus bertarung dengan mereka," berbalik dan menatap Tsuna dengan tatapan dingin tepat di depannya, "apa yang membuatmu harus bertarung dengannya…"
…
"A—aku," Tsuna menundukkan kepalanya, mencoba untuk berfikir jawaban dari pertanyaan Alaude, "—aku harus melindungi teman-temanku dan keluargaku…" flame yang tadi tampak meredup kini semakin membesar. Cincin yang diletakkan menjadi liontion kalung itu tampak diselubungi juga oleh flame berwarna orange, "meskipun itu—harus kubayar dengan nyawaku…"
Alaude yang menatap itu tampak hanya diam dan senyuman samar terlihat di wajahnya saat itu. Kyoko yang melihat itu hanya bisa diam dan tampak sedikit membelalakkan matanya—sifat Tsuna tampak sangat berbeda dari yang ia lihat sebelumnya. Hayato yang tampak menoleh dan menemukan semua itu tampak membelalakkan matanya dan mencoba untuk menyerang Tsuna kembali.
"Ada yang berbeda—"
"Ada apa senpai, apakah kau ingin menghentikan pertarungan ini?" Tsuna menatap Hayato yang tampak sedikit terkejut sebelum senyuman dingin tampak di wajahnya.
"Menurutmu begitu? Tetapi tidak mungkin aku menghentikannya Tsunayoshi—" mengeluarkan box lainnya, memasukkan cincin yang sudah dialiri oleh flame ke dalam lubang kotak itu. Kali ini dua buah lempengan dengan flame storm tampak muncul dan mendekati Tsuna. Dengan segera Tsuna bergerak menghindar tetapi senjata itu tampak mengikuti kemanapun ia pergi.
"Jadi—ia mendeteksi flame milikku?"
"Begitulah, kau tidak akan bisa lari kemanapun—mereka akan menyerap flame besar yang kau keluarkan, dan kecepatan mereka akan bertambah hingga akhirnya mencapai 1.5 kecepatan dari sang target. Kau tidak akan bisa menghindarinya Tsunayoshi…" Hayato tampak hanya diam dan menyilangkan kedua tangannya. Tsuna mencoba untuk mencari cara—dan bergerak menuju ke arah Hayato berharap ketiga benda itu mengenainya.
"Percuma Tsunayoshi—" menutup matanya, dan tiga benda itu tampak berbelok saat berada di depan Hayato, "benda ini tidak akan mungkin mengenai sang pemilik. Sudah kukatakan tidak akan ada cara untuk menghindarinya…"
…
"Kalau begitu, aku akan berhenti untuk mengindar—" menghentikan gerakannya, mencoba untuk berhadapan satu lawan satu dengan ketiga benda itu.
"Tsuna-kun!" Kyoko tampak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Tsuna. Tetapi dengan segera Alaude menghentikan gerakan Kyoko dan menatap Tsuna dengan tatapan dingin.
"Ia tahu apa yang ia lakukan—ia bisa menangkap benda itu…" Alaude, Hayato, dan juga Kyoko tampak menatap Tsuna yang jaraknya semakin dekat dengan ketiga benda itu. Dengan cepat—Tsuna menyelimuti ketiga benda yang terbang kearahnya itu dengan sky flame dan membekukan mereka bertiga.
"Jadi—ia bisa menghentikan dark slicer?"
"Aneh sekali—" bergerak lebih cepat daripada sebelumnya, "—aku merasa tubuhku sangat ringan…"
…
"I—ini," Gokudera melihat flame berwarna merah yang tampak keluar dari cincin Vongola miliknya, "—dying will flame…"
"Itu flame yang sama dengan kami bukan?" Nozaru tampak menatap Gokudera begitu juga dengan Tazaru yang ada di sebelahnya. Tazaru sendiri tampak menatap cincin yang dikenakan oleh Gokudera—seolah ia mengetahui dan menyadari cincin itu. Tiba-tiba saja suara dari handphone milik Tazaru terdengar, dan segera diangkat oleh pria itu.
Beberapa saat tanpa ada serangan atau apapun, Nozaru menatap kearah Tazaru yang tampak menutup handphonenya.
"Ada apa aniki?"
"Sepertinya akan kuberikan mereka untuk kau lawan sendiri Nozaru—ia ingin berbicara denganku sekarang," menghela nafas dan menatap Nozaru yang tampak mengangkat bahunya dan tidak perduli.
"Tenang saja, aku sendiri bisa mengalahkan mereka semua—"
"La—lalu yang harus kulakukan adalah memasukkannya ke dalam kotak ini," tampak ragu dengan apa yang akan dilakukannya, saat ia mencoba untuk memikirkan apa yang akan terjadi saat ia membuka kotak itu, sebuah serangan yang tidak ia duga menuju ke arahnya, "—wha!"
DHUAR!
"Apa yang membuatmu ragu Gokudera?" suara dan juga siluet yang terbentuk diantara asap itu membuat Gokudera membelalakkan matanya. Menemukan sosok pria berambut hitam dengan sebuah plester menempel di hidungnya.
"Pa—paman Knuckle?"
"Aku sudah mendengar semuanya dari Giotto, benar-benar waktu yang tidak tepat untuk bertukar masa ya—" tertawa ringan, Gokudera bisa melihat bagaimana sifat Knuckle yang sedikit tenang saat dibandingkan dengan 10 tahun sebelumnya, "—kau sudah bisa mengeluarkan flame itu. Dan sudah mengerti bagaimana cara memakainya, lalu apa yang kau ragukan?"
"Hm? Siapa lagi dia?" Nozaru melihat kearah Knuckle yang sedang berbicara dengan Gokudera. Sementara Tazaru sudah pergi meninggalkannya untuk menemui seseorang.
'Be—benar, aku tidak boleh ragu—' menatap box itu dan mencoba untuk menggerakkan tangannya, "aku tidak boleh memikirkan apapun—mau setan atau apapun yang akan keluar, aku yakin bisa menggunakannya untuk mengalahkannya!"
Memasukkan cincin itu kedalam lubang yang ada di kotak itu, saat kotak terbuka—sebuah benda berbentuk moncong pistol dan kepala tengkorak sudah berada di tangan kirinya.
"A—apa ini! Tengkorak?"
"Oh, jadi itu yang disebut senjata baru milik Gokudera?" Knuckle tampak sangat tertarik melihat senjata yang ada di tangan Gokudera.
"Jadi selama ini ia menyimpan senjata itu—aku harus segera menyerangnya sebelum sesuatu keluar dari benda itu!" dengan segera menerjang kearah Knuckle dan juga Gokudera. Gokudera yang tampak panik mencoba untuk melihat senjata barunya.
"O—Oi, paman apa yang harus kulakukan dengan benda ini?"
"Jujur, Gokudera di masa ini tidak mengatakan apapun tentang benda itu—" tertawa lepas, membuat Gokudera berfikir apakah Knuckle tertular oleh Ugetsu atau Yamamoto 10 tahun ini hingga menjadi santai seperti itu, "—kau harus mencari tahu sendiri Gokudera!"
Knuckle mencoba untuk menghalangi serangan dari Nozaru yang sepertinya lebih mengincar Gokudera daripada Knuckle.
"A—apa yang harus kulakukan," Gokudera melihat sebuah tulisan yang muncul diatas kepala tengkorak benda itu, "be—berikan peluru? Tetapi aku tidak menggunakan pistol!"
"Matilah—" Nozaru yang bisa melepaskan diri dari Knuckle tampak bersiap berada di depan Gokudera dan akan mengibaskan sabitnya.
"Gokudera!"
"Bisakah aku menggunakannya!" Gokudera mencoba untuk menodongkan benda itu kearah Nozaru yang ada di depannya. Dan saat itu, tiba-tiba saja sebuah flame seolah meledak dan mengenai Nozaru yang ada di depannya. Menatap Nozaru yang tampak terdorong sedikit, asap tampak mengepul di sekeliling mereka.
"Be—benda ini menembakkan sesuatu…"
"Apa-apaan itu? Tidak sakit sama sekali," Nozaru yang sedikit terkejut tampak melihat tubuhnya dan tidak ada apapun yang terluka.
"Geh—tidak ada efek sama sekali?"
"Kau sedikit mengejutkanku bocah—tetapi—" saat ia akan bergerak kearah Gokudera, tampak ia yang semula terbang tidak bisa bergerak bahkan akan jatuh. Saat melihat kebawah, flame merah yang menyelimuti kakinya tampak menghilang, "—gaah! Beraninya kau melakukan itu dengan tampang yang tidak berubah seperti orang bodoh! Aku akan membunuhmu!"
"A—apakah hanya itu yang bisa kau lakukan!" Gokudera melihat kearah senjatanya lagi, dan kali ini terlihat tulisan lain yang ada di sana, "—gunakan dinamit?"
"Saatnya untuk mati—bocah…"
"Be—benar juga, aku hanya memikirkan cara di masa ini tanpa memikirkannya untuk menggabungkan benda ini dengan senjataku," Gokudera masih fokus pada senjatanya meskipun Nozaru sudah berada di dekatnya. Dan saat sabit itu tampak akan mengenainya, Gokudera meletakkan salah satu dinamitnya dan mengarahkannya pada Nozaru, "makan ini—" menembakkan flame itu lagi hingga terjadi ledakan sungguhan yang saat ini sudah bisa melukai Nozaru.
…
"Kau tidak akan sadar betapa kuatnya dirimu sekarang Tsunayoshi—" Hayato tampak menatap kearah Tsuna yang masih mengaktifkan flamenya dan menatap dingin kearah Hayato. Kakinya tampak beku karena flame milik Tsuna—yang bertujuan untuk membuatnya tidak kabur dari tempat itu, "—tetapi kau masih jauh lebih lemah daripada dirimu di masa ini…"
"Apa yang akan kau lakukan lagi sekarang, Hayato-senpai?"
"Untuk sementara, aku akan mundur—" sebuah kabut berwarna indigo tampak muncul, sebelum sosok yang sangat Tsuna kenal itu muncul di samping Hayato, "—kau datang terlalu lama Rokudo…"
"Kufufu~ kukira kau bisa mengatasinya dengan baik Hayato~" Rokudo menatap kearah Tsuna dan baru menyadari kalau Tsuna yang seharusnya sudah tewas berada disana, dan usianya 10 tahun lebih muda dari yang ia kenal di masa ini, "oya—pantas saja kau tampak kewalahan menghadapinya…"
"Jangan banyak bicara—kita harus melaporkan semua ini pada Byakuran-sama," dengan menggunakan ilusi nyatanya, Rokudo tampak melepaskan es itu dari kaki Hayato membuatnya bisa bergerak kembali, "lebih baik kita pergi saja…"
"Tu—tunggu! Apakah kau fikir aku akan membiarkan kalian berdua pergi—" Tsuna akan menyerang mereka berdua saat Alaude mencoba untuk menghentikan gerakannya, "—pa, paman Alaude?"
…
"Tidak dengan luka seperti ini—" Alaude menatap dingin Tsuna yang tangannya mengeluarkan darah cukup banyak. Bahkan di saat tubuh Tsuna prima, mungkin ia tidak akan bisa mengalahkan mereka berdua.
"Kufufu~ baiklah kalau kau ingin kita pergi—"
"Tunggu! Ke—kenapa," Tsuna menundukkan kepalanya, terlalu banyak hal yang membuatnya shock di zaman ini sejak pertama ia terkirim ke masa ini. Baik Rokudo maupun Hayato tampak berhenti namun tidak berbalik ataupun merespon perkataan Tsuna, "ka—kalian tahu bukan, Millefiore adalah kelompok yang menghancurkan markas Vongola. Membunuh paman G dan juga Yamamoto—kenapa kau masih mengikuti kelompok yang membunuh ayahmu senpai!"
…
"Kau salah Tsunayoshi—" kali ini Hayato tampak menoleh dan melihat Tsuna dari sudut bahunya, menatapnya dengan dingin, "—bukan Byakuran-sama yang membunuh ayahku…"
"Eh?"
"Aku—yang membunuhnya, dengan tanganku sendiri…"
…To Be Continue…
Cio : *uhuk* another cliff—or not?
Kozu : Sok inggris aja sensei =="
Cio : biarin :p dan yay! Buat Hayato yang jujur bilang kalau dia yang bunuh G! Dan yep, makanya pas di flash back G keliatan kaget pas denger suara orang sebelum dia ditembak x3
Ah thanks for Felicia & Zhao Gui Xian 4 the review X3
I don't know why other people didn't review this story u.u; because OTF gets 11 review for 2 days *tears drop*
Felicia : Untuk alasan, silahkan ikuti jalan cerita sampai chap pertengahan XD
Zhao Gui Xian : Makasih buat nemuin Typonya XD dan jawaban sama seperti diatas :3
