Title: Painfully Loving You
Author: applecocoa
Rating: M
Pairing: Kaisoo, Baekyeol, Hunhan
Genre: Switchgender, hurt/comfort, smut, school life, romance, friendship
Disclaimer: I just own the story :)
Summary: Kyungsoo menjadi maid pribadi bagi Jongin, orang yang telah membuat masa depannya hancur. Dan hatinya semakin remuk ketika Jongin memperlakukannya layaknya sampah / "Jangan menangis, Kyung… kau tidak selemah itu." / "Kau memang tidak ada gunanya selain di ranjang ya?" / "AKU BUKAN SEX DOLL, JONGIN-SSI!" / "Dia mengingatmu?" / KAISOO, BAEKYEOL, HUNHAN FIC. GENDERSWITCH.
Warning: Genderwitch/GS, OOC, typos, etc
Kyungsoo pergi ke klinik sekolah dengan langkah tertatih-tatih. Disampingnya, Sehun memapahnya sambil terus menanyakan kaki Kyungsoo. Laki-laki itu tidak pernah puas dengan jawaban Kyungsoo yang diulang-ulang. Kalimatnya hanya terdiri dari "aku tidak apa-apa", "hanya kram biasa", dan "mungkin setelah tidur aku akan sembuh". Dia yakin keadaan Kyungsoo tidak sebaik yang dikatakannya.
"Sampai disini saja. Aku bisa naik ke ranjang sendiri," ujar Kyungsoo.
Sehun melepaskan tangan Kyungsoo dari pundaknya, lalu membiarkan perempuan itu untuk bersandar pada pinggir ranjang. Kyungsoo menyadari tatapan Sehun yang menyelidik dan bertanya-tanya, tapi dia tidak berniat untuk menjelaskan lebih jauh.
"Kyung, sebenarnya…"
"Aku tidak apa-apa, sungguh," potong Kyungsoo. "Hei, pelajaran pertama olahraga bukan? Kau sudah terlambat sepuluh menit, kau harus ke lapangan sekarang. Maaf sudah merepotkanmu," ujarnya cepat-cepat.
"Ya sudah jika kau tidak ingin mengatakannya," Sehun menyerah. Setelah mengucapkan selamat tinggal, dia melangkah pergi dari ruang klinik.
Sepeninggal Sehun, Kyungsoo berusaha untuk naik ke ranjang. Dia merintih ketika bagian bawahnya menyentuh kasur. Rasa perihnya datang kembali, dan dia tidak punya pilihan selain menahan hingga dia dapat terbaring diatas benda empuk itu. Nafasnya terengah-engah ketika dia berhasil menyandarkan punggung pada kasur. Berjalan sejauh lima belas meter ternyata bisa semelelahkan ini.
Kyungsoo berbaring di kasur sambil menatap langit-langit. Suasana terlihat sepi, tidak ada tanda-tanda suster atau pun staff kesehatan di dalam ruangan. Mungkin mereka sedang pergi keluar atau mengawasi anak-anak yang sedang beraktivitas di luar sekolah. Dia merasa bersyukur karena itu berarti dia tidak perlu memberi alasan kenapa dia ada disini dan bagaimana keadaan bagian tubuhnya yang sakit
Tak lama kemudian, terdengar suara selimut yang disibakkan. Dari perkiraan Kyungsoo, dia menduga orang itu berada di pojok ruangan. Orang itu kemungkinan besar laki-laki, karena Kyungsoo tidak mendengarnya membereskan selimut.
"Melarikan diri?" seseorang berdecih. Suaranya terdengar angkuh. Jika Kyungsoo tidak salah, orang itu berbicara tentang dirinya. Dan dia…
Kim Jongin.
Kyungsoo berusaha bertingkah biasa, walaupun dia tahu wajahnya menampilkan hal sebaliknya. Jongin dengan mudah menangkap campuran ekspresi ketakutan dan sedihnya.
"Semalam baru pembukaan, slave. Bersiaplah untuk yang selanjutnya. Ngomong-ngomong, badanmu nikmat juga," ujar Jongin sambil lalu.
Hati Kyungsoo mencelos. Dia meremas seprai di tangannya.
"Kenapa kau tidak ikut olahraga, slave? Dengan lubang yang sudah pernah dijamah, kau seharusnya terbiasa dengan rasa sakit itu."
Tangan Kyungsoo memutih dan kukunya meninggalkan bekas di telapak tangannya. Perempuan itu menolak untuk memandang Jongin. Dia takut emosinya meluap sehingga dia akan menangis atau meledak di depan Jongin. Dengan kejadian seperti semalam, ada baiknya jika dia tidak menyulut emosi Jongin. Laki-laki itu bisa saja melakukan hal yang lebih parah.
"Kau tidak bisa menjawab? Berbicara denganmu sepertinya tidak menarik. Kau memang tidak ada gunanya selain di ranjang, ya?"
Rasa perih seakan tertoreh semakin dalam di hati Kyungsoo.
Perempuan itu mendesah lega ketika dia mendengar suara langkah kaki Jongin yang semakin menjauh.
Sepeninggal Jongin, Kyungsoo mengumpulkan sisa-sisa hatinya yang hancur berantakan. Dia menata hatinya sebisa mungkin, kemudian kembali mengenyakkan diri di kasur. Tidak ada pilihan lain. Toh menangis juga tidak ada gunanya.
"Kenapa kau tidak melawannya?" terdengar suara lain yang lebih berat. Ketika Kyungsoo memalingkan muka, Kris sedang berjalan ke arahnya.
Tak ada yang lebih diinginkan Kyungsoo daripada dikubur hidup-hidup saat itu juga. Dua orang ini ada dalam ruangan yang sama dengannya, tanpa dia ketahui! Seharusnya…
"AKH!" Kyungsoo mengerang ketika tangan Kris melebarkan kedua pahanya. Sesuatu di dalam tubuhnya seakan robek kembali dan dia hampir menitikkan air mata akibat gerakan itu. Mata Kyungsoo terpejam erat-erat dan dia menggigit keras bibirnya. Saat mata besarnya membuka kembali, Kris sudah hilang dari pandangan matanya.
Dipermainkan. Bukankah begitu? Kemarin Jongin dan sekarang ditambah Kris, kapan ini semua akan berakhir?
Jangan menangis Kyung, kau tidak selemah itu…
Dengan energi yang tersisa, Kyungsoo memperbaiki posisi kakinya. Dia lebih memilih untuk kram daripada merasakan perih yang tak ada habisnya seperti ini.
Sebuah tangan menahannya. Kyungsoo mendongak, menemukan seorang laki-laki berwajah tegas memandangnya tepat di kedua bola matanya. Tatapannya tajam menusuk. Kyungsoo meraih tangan Kris dan mendorongnya jauh-jauh. Pemuda itu tadi bertanya kenapa Kyungsoo tidak melawan, bukan? Nah, sekarang dia tidak akan ragu untuk melawan. Yah meskipun yang dimaksud pemuda itu adalah melawan Jongin, bukan melawan dirinya.
"Berhenti!" tegas Kyungsoo.
Kris tidak semudah itu untuk menyerah. Dia mendekati perempuan itu lagi, mengabaikan penolakan dari tangan kecil Kyungsoo, kemudian menelusupkan jari-jari besarnya pada rok Kyungsoo. Perempuan itu hampir saja menjerit saat pakaian dalamnya disentuh Kris. Mungkin terlihat bodoh jika dia melawan, toh kris jelas-jelas lebih kuat darinya. Hanya saja dia tidak ingin disentuh sembarang lagi.
SRET!
Bagian vital Kyungsoo sudah tidak ditutupi oleh apapun.
"ARGH!" Kyungsoo mengerang ketika sebuah benda kecil menyenggol lubangnya lagi. Dia memukul lengan Kris keras-keras, tidak peduli bahwa dia teman Jongin, tidak peduli dia bisa saja menyerangnya saat ini, atau apapun. Yang Kyungsoo tahu, dia ingin orang ini pergi dari klinik sekarang juga.
Kris tidak bergeming, tidak juga memberikan respon. Dia tetap diam sambil menjegal tangan Kyungsoo. Jari-jari panjangnya menelusuri vagina Kyungsoo, mengusap lembutnya dari luar lubang sempitnya. Dia merasa sesuatu yang cair memenuhi lubangnya. Dingin dan agak lengket, tapi dia yakin ini bukan air. Sperma? Entahlah. Yang Kyungsoo bisa saat ini hanyalah meronta. Dia tidak bisa memprediksi.
"Ini krim khusus vagina," ujar Kris, seakan-akan tahu akan apa yang dia pikirkan. "Semalam Jongin pasti berbuat kasar."
Bagaimana dia bisa tahu? Oh iya, semalam dia ada di rumah Jongin.
Aku pasti terlihat seperti perempuan murahan sekarang.
Kris agak bergidik memandang lubang Kyungsoo yang hancur. Jongin memang tidak pernah main-main dalam hal ini. Jika sudah urusan ranjang, Jongin memang egois. Pelacur, fans, teman lama, relasi kerja, semuanya akan berakhir dengan vagina yang hancur setelah berhubungan dengannya. Kris pikir perempuan paling beruntung di dunia ini adalah keluarga Jongin. Laki-laki tidak pernah mau menyentuh keluarganya sembarangan, bahkan seujung rambut sekalipun.
"Kau sudah kuperingatkan untuk pergi," lanjut Kris.
Kyungsoo masih bungkam. Tangan dan kakinya bergeliat kecil, berusaha melepaskan diri dari sentuhan Kris. Bagaimanapun juga, ini bagian privatnya.
"Ini tidak semudah yang kau kira. Aku mohon berhenti."
"Kau mau rokmu basah?"
"Basah? Maksud–"
Perempuan bermata besar itu terbelalak ketika Kris mengangkat roknya. Bercak darah menempel di bagian belakangnya. Dia bahkan tidak menyadari noda itu ada di seragamnya. Apa dia terlalu memaksakan diri untuk berjalan sejauh 4 blok? Atau memang luka di kewanitaannya benar-benar parah?
"Pulanglah dengan bus sepulang sekolah," sela Kris. "Kau tidak melakukan peringatanku kemarin. Kau akan tahu akibatnya jika kau tidak melakukannya lagi."
.
.
.
Sekolah sudah hampir sepi ketika Kyungsoo berjalan menuju halte bus. Dia memang sengaja pulang ketika suasana sudah sepi. Akan runyam jika orang-orang bertanya mengenai cara jalannya yang kelewat pincang itu. Mata besarnya membulat ketika melihat sesosok Jongin disana, bersama dengan segerombolan laki-laki dengan seragam yang berbeda dengannya. Anak-anak dari sekolah lain, itu yang Kyungsoo tahu. Tapi dia tidak tahu apakah itu geng berandal atau bukan.
Tapi Kris menyuruhku untuk datang kesini. Aku tidak ingin hal seperti semalam terjadi lagi.
Kyungsoo melepas nametag dan menutupi wajahnya dengan poni. Dia berjalan menunduk sambil menggenggam erat-erat tasnya. Pulang dengan bus… sepertinya bus yang sedang berhenti ini akan segera dinaikinya. Soal tujuan… dia mungkin akan pergi ke rumah Baekhyun saja. Dia akan meminjam uang pada sahabatnya itu untuk membayar ongkos bus.
TIIIN TIIIN
Ada suara klakson tepat dibelakangnya. Kyungsoo tidak bergeming. Dia bisa ketinggalan bus jika dia berhenti.
GREP!
Badan Kyungsoo dibalikkan oleh seseorang, dan tiba-tiba saja Kris sudah ada di depan matanya. Laki-laki itu menyeretnya masuk menuju sebuah mobil.
"Tunggu, apa ini?"
"Anggap saja ini bus."
Tidak menunggu waktu lama, Kyungsoo masuk ke dalam mobil itu. Kris ada di kursi depan, memegang setir. Kyungsoo duduk dibelakangnya. Matanya mengawasi sekeliling dengan was-was. Setiap ruang dalam mobil Kris terasa perlu untuk diperiksa lebih jauh olehnya. Dia yakut jika Kris mendekati Jongin dan gerombolan itu, lalu dia diserahkan pada mereka.
Kyungsoo berhenti mengeksplorasi sekeliling ketika laki-laki tinggi itu menyuruhnya untuk tiduran di kursi. Tidak lupa dia memberikan sebuah sapu tangan padanya, katanya untuk menutupi wajah. Kyungsoo tidak tahu apa maksudnya, tapi dia setelah ingatan kejadian semalam muncul kembali, tanpa berpikir dua kali dia segera melakukannya.
Mesin mulai menyala kembali. Mobil Kris melaju dengan kecepatan rendah, kemudian berhenti.
"Oh hei, Kris!" sapa seorang laki-laki.
"Ada apalagi kali ini?" tanya Kris.
"Biasa, taruhan. Kami sedang membicarakan harga. Menurutmu berapa seharusnya dia dibayar?"
Kyungsoo menyibak sedikit sapu tangannya. Dari balik kain tipis itu, dia mengintip keluar jendela. Seorang perempuan dengan seragam yang sama dengannya duduk diantara laki-laki. Wajahnya terlihat biasa saja dan tidak ada sesuatu yang aneh dari mereka semua. Mungkin Jongin dan kawan-kawannya tidak seburuk yang dia kira. Bisa saja mereka hanya berjanji untuk belajar kelompok atau–
Perempuan itu mengarahkan tangan seorang laki-laki pada selangkangannya.
Tidak, ini buruk.
Kyungsoo bergidik dan menutup wajahnya kembali dengan sapu tangan.
"Ah, aku tidak tahu. Oh iya, aku pulang duluan. Amber sedang sakit, aku perlu memeriksakannya sekarang juga," ujar Kris.
"Amber? Jadi kau sedang bersama Amber? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Bisakah–"
"Maaf, mungkin lain kali saja. Demamnya parah sekali. Badannya bahkan semakin kurus," kilah Kris.
Ada jeda sebentar diantara pembicaraan mereka. Kyungsoo mengira orang itu sedang melongok ke dalam mobil dan melihat keadaannya–yang dia kira Amber.
"Betul juga. Wajahnya pasti pucat sekali ya, sampai-sampai dia tidak mau memperlihatkannya."
"Ya, seperti itulah. Baiklah, annyeong," ujar Kris. Bersamaan dengan itu, mobil kembali melaju.
.
.
.
Kyungsoo dan Kris berjalan-jalan kemanapun yang Kris inginkan. Restoran, bioskop, café, taman, toko… Kyungsoo tidak kenal seluk beluk Seoul, sehingga dia hanya dapat menyetujui ajakan Kris. Setidaknya, Kris membawanya ke tempat-tempat yang 'normal', bukan tempat semacam pub atau diskotik.
Berjam-jam bersama bukan berarti mereka telah membicarakan banyak hal. Kecanggungan selalu datang ketika mereka membuka pembicaraan. Jawaban dari mereka pun tidak pernah lebih dari satu atau dua kalimat. Malah kadang Kris hanya enajwabnya dengan kata "ya" atau "tidak". Topik mereka tidak pernah jauh dari jam, makanan yang seharusnya dibeli, serta dimana sang pelayan berada. Kadang juga ditambah dengan Kyungsoo yang meminta maaf karena Kris-lah yang membayar semuanya, mulai dari tiket bioskop hingga makanan.
Sudah jam 9 malam ketika mereka pergi taman kota untuk yang keempat kalinya. Sudah terhitung satu jam juga mereka berdiam di mobil dengan mulut yang bungkam dan mata yang memandang keluar jendela. Kyungsoo memikirkan bagaimana jadinya jika dia pulang sekarang. Akankah Jongin marah?
"Aku pergi sebentar," ujar Kris. Sesaat kemudian, pintu terbuka dan tertutup kembali dengan cepat.
Kyungsoo memandang bintang-bintang di langit. Ibunya dulu pernah menyuruhnya untuk dia menggantungkan setiap harapannya pada setiap bintang yang dia hitung di langit. Ketika dia kecil, dia tidak percaya bintang jatuh dapat mengabulkan permintaannya. Dia lebih percaya bahwa bintang yang ada di langit adalah pengabul cita-cita yang sesungguhnya. Ketika dia beranjak dewasa, dia tahu bahwa maksud ibunya bukanlah berharap pada bintang, melainkan agar tidak putus harapan. Hidup begitu berat, karena itulah mimpi ada.
"A-aw! Panas," Kyungsoo hampir melompat ketika benda panas menyentuh tangannya. Dia memandang sekeliling. Kris sedang berada di luar mobil. Dua gelas minuman tergenggam di tangannya. Uap yang cukup pekat menandakan bahwa minuman itu masih panas. Dari baunya, siapapun juga dapat mengetahui bahwa Kris membawa kopi dan cokelat. Minuman yang tadi Kris sodorkan pada Kyungsoo adalah cokelat.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu kaget."
Kyungsoo mengangguk canggung. Dia mengulurkan tangan keluar jendela, kemudian mengambil minuman yang tadi disodorkan Kris. Laki-laki itu bersandar pada mobil ketika Kyungsoo telah mengambil minumannya. Dia menyesap kopinya pelan-pelan.
"Aku minta maaf."
"E-eh? Hm… kau sudah mengatakannya tadi."
"Jangan bodoh. Kau tahu maksudku."
"Aku… seharusnya aku yang meminta maaf. Sudah berapa won yang kau habiskan hari ini?" ujar Kyungsoo canggung.
Suasana mendadak hening. Beberapa detik kemudian, dia mendengar Kris mendengus keras. Apa dia melakukan kesalahan? "Itu tidak seberapa," ujarnya. Kyungsoo melongok keluar, memandang ekspresi Kris yang sulit untuk dimengerti. Sesaat kemudian, dia melihat Kris meremas gelas plastik di tangannya keras-keras. Kopi panas itu meluber keluar, membasahi tangannya dalam satu waktu. Kyungsoo terbelalak. Minuman itu masih sangat panas.
"Kris!?"
"Waktu itu kau keluar dari SM karena hamil, bukan?"
Belum selesai kekagetan Kyungsoo, rasa kaget yang lain memenuhi dadanya.
"Kau mengandung anakku, bukan?"
Kyungsoo menelan ludah. Dia kira Kris tidak mengetahuinya.
"Bagaimana bisa kau masuk kembali–"
"Hmm sepertinya sudah malam. Aku harus pulang sekarang," potong Kyungsoo. Cepat-cepat dia membuka pintu yang jauh dari tempat Kris bersandar, kemudian pergi dari mobil itu. Tepat ketika dia akan melangkah turun, Kris sudah berada di depannya, memandangnya lekat, seakan setiap pertanyaannya menuntut jawaban.
"Kau mungkin salah orang, Kris. Dan yah, aku tidak bohong kalau aku harus pulang. Jongin-ssi bisa…"
"Aku sudah menelponnya. Kau tidak perlu khawatir tentang dia lagi."
"Tetap saja–"
"Dengan apa kau akan pulang? Kau sudah mengatakan bahwa kau tidak punya uang."
Kyungsoo seakan terkena skakmat. Secara tidak langsung dia menunjukkan bahwa dia panik dan ingin menghindari percakapan. Kris pastilah mengerti bahwa secara tidak langsung dia mengatakan 'iya' pada pertanyaannya barusan.
"Aku akan antar kau pulang, tetapi dengan satu syarat. Kau harus menjawab semua pertanyaanku saat kita berada di dalam mobil."
Kyungsoo pernah berjanji bahwa dia tidak akan mengumbar masalah pribadinya pada siapapun selain ketiga sahabatnya. Kyungsoo juga mengerti bahwa suatu saat janji itu akan terlanggar, kapanpun waktunya atau siapapun orangnya. Dia hanya tidak menyangka bahwa Kris-lah orang itu, dan sekaranglah waktunya.
Kris bahkan menjadi orang pertama yang mengetahui bahwa hati Kyungsoo sakit ketika Jongin memperkosanya dan memperlakukannya seperti sampah tadi pagi. Dia tidak bermaksud mengatakan semuanya. Tapi Kris terus saja memborbardirnya dengan bermacam-macam pertanyaan, hingga akhirnya dia terpojok dan terpaksa mengakui segala hal.
Dua jam cukup untuk menguak sebagai besar hidup Kyungsoo. Janinnya yang keguguran karena tertabrak mobil, ibunya yang tinggal di Gyeonggi sendirian, ayahnya yang sudah meninggal, ibu Jongin yang menyekolahkannya di SM, sahabat-sahabatnya yang selalu bersamanya…
"Kau menyukai Jongin?"
Bahkan pertanyaan satu ini.
"Tidak, kupikir."
"Tapi kupikir sebaliknya."
Kyungsoo menunduk tanpa respon. Dia bahkan tidak bisa berbohong.
Kris menepikan mobil. Kyungsoo memandang sekitar, mengenali bahwa itu adalah halaman rumah Jongin. Dia turun dari mobil, bersamaan dengan Kris yang berjalan disampingnya. Mereka masuk ke dalam rumah Jongin, dan segera saja setelah itu, mereka mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar.
"Kau sudah tahu apa itu," ujar Kris.
Suara itu semakin keras, diikuti dengan suara tawa banyak laki-laki di dalam ruangan. Kyungsoo bergidik.
"Satu perempuan untuk banyak orang. Kau tahu kan apa maksudnya?" kata Kris lagi. "Apa kau benar-benar ingin pulang?"
Kyungsoo menggeleng keras-keras. Ketakutannya datang lagi.
Dengan satu gerakan tangan, Kris menariknya keluar ruangan, membawanya pergi kembali dari rumah Jongin.
.
.
.
2 bulan kemudian…
"Kyung, lihat! Aku dapat fotonya lagi!" Sehun berteriak senang sambil menunjukkan handphone-nya. Di wallpapernya, terdapat seorang perempuan berambut cokelat muda sedang menguncir rambut.
"Mau sampai kapan kau menjadi secret admirer? Utarakanlah perasaanmu padanya. Kau kan laki-laki," kata Kyungsoo.
"Aku tahu. Aku hanya ragu. Kau serius kan kalau Luhan dan Chanyeol tidak ada hubungan apapun?" tanya Sehun. Wajahnya antara penasaran dan berharap.
"Oh ya ampun! Kapan aku mengatakan seperti itu?" pekik Kyungsoo.
"Kemarin. Ah, kau bercanda ya saat itu? Atau kau membohongiku? Atau semuanya berubah hanya dalam waktu sehari?" tanya Sehun. Kali ini wajahnya terlihat agak panik.
"Sepertinya aku berbicara tanpa sadar saat itu. Sebenarnya hubungan mereka lebih dari teman," Kyungsoo mengetuk-ngetukkan jari di dagunya. "Kau mau tahu hubungan mereka yang sebenarnya?"
"Sepasang kekasih? Kalau iya tidak usah kau beritahu," jidat Sehun menempel pada mejanya. Dia memandangi wallpaper handphone-nya sekali lagi, merasa tidak rela.
"Hubungan mereka sebenernya adalah… sahabat!" ujar Kyungsoo. Dia tertawa terbahak-bahak ketika Sehun menyipitkan matanya, merasa dipermainkan.
"Kau tahu? Jantungku sudah hampir terjun!"
"Yah! Sudah utarakan saja perasaanmu. Aku dukung kalian sepenuhnya!" Kyungsoo memberikan sebuah jempol padanya.
Sehun menepis jari kecil Kyungsoo. "Tidak semudah kelihatannya, Kyung. Chanyeol selalu ada di dekatnya, begitu juga dengan fans-nya yang tidak terhitung itu. Belum lagi "murid-murid"-nya yang sebenarnya hanya moron yang ingin diajari oleh guru cantik. Dan… dan… teman-temannya di klub olimpaide… dan Chanyeol… dan Baekhyun yang bisa membantingku kapan saja… dan Chanyeol lagi…"
"Kenapa selalu Chanyeol?" tanya Kyungsoo. Dia memang sengaja tidak mengatakan bahwa dia dekat dengan Luhan, Baekhyun, dan Chanyeol. Raksasa yang memintanya. Dia ingin melihat seberapa serius usaha Sehun untuk mendekati Luhan. Kadangkala, dia memang bertindak seperti seorang ayah. Mungkin karena dia satu-satunya laki-laki diantara mereka berempat.
"Dia yang paling menyebalkan setiap kali aku mendekati Luhan. Aku mendekat beberapa meter saja, dia sudah memelototiku. Kau bisa bayangkan ketika mata besarnya itu melebar? Ugh rasanya aku bukan hanya terintimidasi, tapi juga tersinggung. Kapan mataku bisa sebesar dia…"
Kyungsoo tertawa lagi. "Baiklah, baiklah. Yang jelas kau harus bergerak cepat, oke? Banyak laki-laki menanti Luhan. Fighting, ne?"
Sehun menaikkan kepalan tangannya dengan lemas.
Seorang laki-laki masuk ke dalam kelas dengan ekspresi bosannya. Dia melewati bangku Sehun dan Kyungsoo, melirik acuh tak acuh pada Kyungsoo dalam waktu singkat, kemudian duduk di bangku paling belakang. Sesaat kemudian dia sibuk dengan handphonenya.
"Kyung, aku mau beli permen dulu. Siapa tahu aku bisa bertemu Luhan di lorong nanti."
Kyungsoo mengangguk. Dia kemudian mendengar pemuda yang sibuk dengan handphone itu –Jongin– berbicara dengan lawan bicaranya. Jongin membicarakan benyak hal tentang pelajaran. Dari istilahnya yang aneh-aneh, Kyungsoo dapat menyimpulkan bahwa Jongin membicarakan biologi.
Semakin lama, istilahnya semakin aneh dan Kyungsoo mulai merasa tidak nyaman. Kata-katanya mulai familiar di telinga Kyungsoo, tapi dia yakin ini pasti…
"Maksudmu vagina Kyungri? Hahaha kupikir dia sudah pernah melahirkan."
Benar bukan?
"Kyungsoo? Aku sering mencobanya selama beberapa bulan ini. Ngomong-ngomong, dia bukan tipe orang yang akan menerima ajakan ranjang. Jadi aku selalu melakukannya dengan spontan dan paksaan. Aku jamin bermain dengannya akan menarik, walaupun dia tidak ahli dalam ranjang. Kupikir dia seperti sex doll."
Bahkan dia menyebut semuanya seakan itu hanya mainan…
.
.
.
"Kyung, kau yakin tidak apa-apa?" tanya Kris. Kyungsoo mengangguk. "Bisakah kau berbohong dengan wajah seperti itu?"
"Kris, aku sedang tidak ingin membicarakan apapun padamu. Aku ingin ke atap sendirian kali ini."
Laki-laki tinggi didepannya ragu-ragu mengelus pundak Kyungsoo. "Baiklah. Kau bisa pergi ke lapangan basket jika kau memerlukanku."
Kyungsoo mengangguk. Dua bulan ini menjadi waktu baginya untuk dekat dengan Kris. Pemuda itu ternyata tidak seburuk yang dia kira. Dia mendengarkan setiap ceritanya, baik itu cerita seputar guru galak hingga hatinya yang retak setelah Jongin menggunakannya sebagai pemuas nafsu. Kris sering membawanya pergi dari rumah Jongin. Tujuan mereka kali ini lebih beragam – rumah ketiga sahabat Kyungsoo, bekerja seharian menjadi kasir atau pelayan toko, belajar di taman kota, melihat kontes anjing, dll. Obrolan mereka semakin bermacam-macam dan mereka telah terbiasa untuk melempar lelucon, melupakan bahwa mereka pernah mengalami masa lalu yang kelam. Bagi Kyungsoo, Kris adalah sahabat barunya. Walaupun begitu, tak pernah terlintas di benaknya untuk dekat dengan Jongin juga. Laki-laki itu masih terlalu jauh untuk diraih.
Sesampainya di atap,hal pertama yang Kyungsoo lakukan adalah merosot di tembok. 2 bulan, dan dia masih belum terbiasa. Jongin masih saja memandangnya seperti wanita yang bisa ditarik ke ranjang kapan saja. Tak beda jauh dengan pelacur, setara dengan perempuan murahan. Dia sudah lelah pergi ke sekolah dengan kaki pincang. Dia sudah lelah dilihat sebagai perempuan yang tak ada artinya.
Tak terasa air matanya mengalir. Ini air mata yang pertama setelah kejadian kali pertama dia diperkosa Jongin. Setiap orang punya batas, bukan? Dan inilah batas Kyungsoo. Dia sudah lelah. Cinta membuat hatinya lebih rapuh ketika Jongin mengeluarkan kata-kata tajamnya.
Baiklah Kyung, lupakan saja perasaanmu padanya.
"Oh hei, slave."
Kyungsoo menempelkan wajah pada lututnya. Setidaknya jangan sekarang… Jongin tidak boleh melihatnya ketika dia lemah.
Perempuan itu melompat dan segera berlari dari atap. Baru saja dia akan membuka pintu, sebuah tangan dibelakang punggung Kyungsoo menahan pintu itu.
Mungkin hidupku tidak akan pernah lepas dari kesialan.
"Apa yang kau inginkan, Kim Jongin-ssi?"
"Pertanyaan sinis macam apa itu?" tawa Jongin. "Well, kita belum pernah mencoba 'itu' di sekola, bukan? Bagaimana kalau…"
Baru saja dia berpikir tentang sakit hatinya, dan penyebabnya lagi-lagi tersodor dengan jelas.
Tangan Kyungsoo gemetar menahan amarah dan…
PLAK!
Kyungsoo tidak tahu darimana keberanian itu muncul.
Dan Kyungsoo lupa menghapus air matanya sebelum Jongin menatapnya.
"Dasar perempuan," Jongin berdecih.
"Pernahkah kau memikirkan bahwa tidak semua perempuan suka dengan perlakuanmu?" tanya Kyungsoo.
"Tentu saja. Lalu?"
"Lalu?" ulang Kyungsoo. "Kau tidak peduli?"
"Untuk apa?"
Hening.
"Bagaimana jika keluargamu tahu dan mereka kecewa? Akankah kau mengatakan bahwa kau tidak peduli?"
"Asalkan aku tidak merusak nama keluarga, kupikir mereka tidak akan mengganggap itu sebagai masalah."
"Jadi begitu," mata Kyungsoo berkaca-kaca tanpa dapat dia kendalikan. "Orang-orang yang menyayangimu tidak akan berpikiran seperti itu, Kim Jongin-ssi. Mereka ingin kau jadi laki-laki yang bermoral. Tidakkah kau tahu bahwa perlakuanmu sudah kelewatan?"
"Apa slave kecil ini sedang mencoba memberi kuliah? Atau kau sedang mencoba untuk mengata-ngataiku?" ujar Jongin. Seringai kecil terlihat di sudut bibirnya.
"Jongin-ssi, apa kau tau rasanya dikecewakan oleh oleh orang yang kau sayang?"
"Hah?"
"Sesungguhnya, pernahkah kau menyayangi seseorang?"
Mata mereka bertemu. Kyungsoo memandang Jongin lekat-lekat pada kedua bola matanya, mengabaikan air mata yang mengaburkan pandangannya. Biarlah dia terlihat lemah untuk kali ini. Ini akan jadi yang pertama dan terakhir. Semoga.
"Apa yang sebenarnya kau coba untuk katakan?" ujar Jongin sarkastis.
Tak bisa berpikir lebih jauh lagi, Kyungsoo meraih tangan Jongin. Dia menempatkan tangan besar itu di dada kirinya. "Ada banyak orang yang menyangimu, Jongin-ssi. Seperti inilah kira-kira detak jantung orang yang menyayangimu. Dan orang-orang ini tidak ingin kau bertindak terlalu jauh."
Air mata turun ke pipi Kyungsoo dan menetes ke pergelangan tangan Jongin.
Kyungsoo menunduk dan menghapus air matanya cepat-cepat. "Aku tahu pernyataan ini sangat bodoh dan menggelikan. Aku hanya… tidak tahu harus mengatakan apalagi agar kau tidak lagi memperlakukanku semaumu. Aku bukan sex doll, Jongin-ssi!" ujar Kyungsoo. "Saranghaeyo," ucap lirih, sepertinya tidak dimaksudkan untuk dapat didengar Jongin. Tapi samar-samar laki-laki itu dapat masih dapat mendengarnya.
Sebelum Jongin dapat meminta Kyungsoo untuk memperjelas kalimat terakhirnya, wanita itu sudah berbalik. Dia menghilang bersama dengan bunyi debam pintu dan gaung di tangga.
Dan entah kenapa, ada perasaan bersalah ketika Jongin melihat air mata di pergelangan tangannya.
.
.
.
TBC
Sorry for really late update. Bener-bener harus kerja keras buat bagi waktu antara sekolah dan ngetik. Maaf buat segala macam typos dan kata-kata yang ga enak dibaca. Aku ga begitu teliti dalam ngedit-ngedit. Jadi silahkan komen buat yang punya kritik, saran, koreksi, dll :)
