Di sekolah, perang dingin antara Sasuke dan Sasori masih berlangsung. Mereka tak ramai seperti biasanya hingga Ino yang melihatnya ingin bertanya kepada Sai yang juga terlihat depresi.

"Sebenarnya apa yang terjadi disini sih?" Ino memijit pelan pelipisnya yang terasa sedikit pusing.

Kakashi yang ada di ruangannya dengan asyik molor karena beberapa hari ini dia sering berdebat dengan Itachi masalah teriroter wilayah mereka dalam privasi pribadi. Tak menghiraukan Tsunade yang sedari tadi mengetuk pintu untuk masuk kedalam ruangannya.

Di lain tempat jika sekolah mengalami begitu banyak masalah maka di apartemen Ino, Hinata mencoba mencari tempat persembunyian. Sedari tadi ia tak bisa tenang, semenjak ia membaca apa yang dikirimkan oleh Hanabi.

"Kumohon, lindungi aku" Hinata memejamkan matanya dan berinisiatif untuk pergi ke sekolahnya.

Hinata mencoba untuk berdiri tegap dari posisinya yang lemah "Kau disini saja dulu ya?" Hinata mengelus ujung sapu terbangnya dan mendadak mulai lenyap karena sihir telepartnya.

Tak lama setelah Hinata menghilang, Konan membuka pintu kamarnya dan berteriak histeris ketika Hinata tak ada di kasur hangat yang tadi ia lihat. Ya ampun, jika begini ia bisa di cekik adik iparnya, jika tahu begini, ia tak akan meninggalkan Hinata. Konan melangkah perlahan memasuki kamar apartemen Ino dan menemukan benda-benda dari Hinata, sapu terbangnya, bajunya, alat sihirnya dan...cerminnya.

Dengan cepat Konan langsung melesat keluar menemui Itachi dan berharap Itachi tahu dengan isi dari apa yang ia lihat ini. Di sekolah, masih dalam keadaan pelajaran. Hinata perlahan menggeser pintu kelas yang kebetulan saat itu juga adalah jam dari Sasori. Duo Prince eS itu langsung berdiri dan terkejut akan hadir Hinata yang berdiri dengan lemas di ambang pintu.

"Hinata" mereka berdua langsung berlari ke arah Hinata.

"Sensei, maaf aku terlambat" Hinata dengan pelan menggumamkan sebuah kata yang membuat kedua pangeran itu luluh seketika.


My Lovely Witch

Pair : SasuHina, NaruSaku, SaiIno, ItaKo, NejiTen.

Cast : Sasuke, Hinata, Sasori, Itachi, Kakashi, Hiashi, Neji, Ten-Ten, Konan, Sakura, Naruto, Hanabi, Ino dan Sai.

Naruto Masashi Kishimoto.

My Lovely Witch Hachibi Yui.

It's Time To Go, Is It Time To Say Good Bye ?


Konan masih berlari-lari mencari Itachi. Itachi baru akan keluar ketika ia mendengar Konan memanggilnya saat ia menutup pintu.

"Ada apa?" Itachi hanya memiringkan kepalanya ketika melihat wajah Konan yang penuh dengan peluh dan wajah yang pucat pasi.

"Kau mau kemana?" Konan masih mengatur nafasnya yang masih tak beraturan.

"Mengantarkan ini ke sekolah Sasuke dan memberikan ini pada Kakashi" Itachi menggangkat tas yang berisi penuh.

"Kumohon baca ini, sepertinya ada yang tak beres" Konan mengangkat tangannya yang membawa cermin sihir Hinata.

"Ikut aku" mata Itachi juga membelalak ketika membaca isi cermin Hinata.

"Aku lelah" Konan meringsut jatuh di depan Itachi ketika ia akan melangkah.

"Ayo naik, tapi kau yang memakai tas ini ya?" Itachi berjongkok di depan Konan dan memberikan tas penuhnya kepada Konan.

"Baiklah" Konan memakai tas itu dan naik ke punggung Itachi.

.

.

.

"Tunggu, kita kembali lagi" Hiashi dengan tajam menatap semua yang saat itu akan meminum air di halaman Hyuuga.

"E-Eh?" Hanabi dan Ten-Ten sama-sama kaget, apa Hinata tertangkap oleh radar Hiashi yang tajam itu?

"Hinata lagikah?" Neji menatap sekilas Hanabi lalu memandang mata Hiashi yang terpejam.

"Aku tahu dimana dia sekarang" Hiashi membuka matanya dan keluar dari halaman Hyuuga di ikuti semuanya, setelah itu mereka dengan cepat menghilang bersamaan dengan sapu terbang yang begitu cepat melayang menuju dunia manusia.

.

.

.

Di dunia manusia ini, Sai merasa kepalanya terasa pening berat karena hari ini ia sangat tertekan dengan perang antara Sasuke dan juga Sasori. Ino mengantaran Sai ke UKS sekolah. Sedangkan Naruto, ia membantu Sakura untuk mengemasi barang-barang yang ada di gudang karena ia mendapatkan tugas dari Tsunade-sensei untuk segera memaket barang-barang digudang yang akan di kirimkan ke sekolah lain. Mungkin aja menghasilkan uang atau benda berharga gitu.

Sasuke dengan setia memeluk Hinata yang masih lemah di sebelahnya. Sedangkan Sasori dengn kesal selalu menyingkirkan kepala Sasuke yang selalu menempel di bahu Hinata dan juga tangan Sasuke yang melingkari Hinata. Sementara Hinata sih masih pucat-pucat aja.

"Aku mau jalan-jalan sebentar" Hinata berdiri dari duduknya, mengakibatkan Sasuke dan Sasori terkejut.

"Mau ketemani?" Sasuke menawarkan dirinya dengan wajah yang nampak begitu khawatir.

"Bersama denganku saja" Sasori menepis tangan Sasuke dan memajukan dirinya mendekati Hinata, menggantikan Sasuke yang ada disitu.

"Lebih baik aku pergi sendiri saja. Lagipula aku hanya sebentar, kalian tunggu sini saja" Hinata menepis perlahan kedua tangan yang begitu halus dan besar itu. sementara Sasuke dan Sasori hanya bingung, ada apa dengan Hinatanya.

Hinata berjalan dengan gontai ke lorong-lorong kelas. Terkadang banyak siswa yang melihatnya ingin membantunya untuk berjalan. Namun, Hinata selalu menolaknya dengan cara yang beda. Tidak dengan tersenyum ataupun malu-malu seperti biasa. Tapi, kini ia hanya terdiam dengan menunduk begitu saja. Walaupun ia hanya tersenyum tipis, tapi itu tak membuktikan jika ia sedang baik-baik saja.

Hinata berhenti di lorong laboratorium biologi yang sering menjadi tempat favorit Hinata dan juga Sasuke ketika memperhatikan penjelasan Kurenai-sensei. Jika sedang malas, Sasuke selalu bergelayut manis ke Hinata di pojokkan belakang bangku yang telah disediakan di laboratorium itu. Hinata mengelus perlahan pintu dengan kaca persegi di bagian atasnya, gunanya untuk melihat isi lab itu tanpa membukanya. Hinata menitikkan sedikit air matanya, Hinata juga menggesek-gesekkan kakinya yang memakai uwabaki pada lantai koridor yang beralas kayu.

"Aku akan merindukan suara gesekan kayu ini, hiks" Hinata menangis ketika decitan kayu itu berbunyi memenuhi lorong yang sepi itu.

Hinata kembali melangkah menuju atap, sebelum ia menuju atap, ia berada di lorong yang dekat dengan tangga, dimana ia di antara gudang dan tangga adalah tempat ia beradu rival bersama dengan Karin, berjanji dan berikrar akan mendapatkan Sasuke dengan usaha mereka masing-masing. Tapi kini, semuanya harus berakhir untuk Hinata dan ini akan menjadi jalan terbesar untuk Karin mendapatkan Sasuke. tapi bukan itu yang disesalkan Hinata, Hinata hanya menyesal ketika ia harus berpisah dengan kawan yang menurutnya itu dapat membuat semangat sihir dan posisi Hinata dalam mendapatkan Sasuke menjadi lebih semangat. Hinata menyesalkan jika ia harus di jodohkan bersama dengan Sasori daripada dengan Sasuke. walaupun Hinata tak membenci ataupun tak menyukai Sasori, Hinata hanya menganggap Sasori itu sebagai kakak kecilnya yang dulu selalu memberinya boneka walaupun juga ingatannya tentang itu sedikit lemah karena dulu ia sering jatuh.

Karin yang saat itu baru turun dari lantai atas, melihat Hinata menangis dengan menaiki tangga dengan tatapan kosong. Karin juga melihat ada sekelebat orang yang menaiki sapu terbang sebanyak dua, oh bukan tapi empat orang penyihir menaiki sapu terbang sekaligus di luar ketika tanpa sengaja Karin melihatnya setelah Karin melirik Hinata, mereka kok mirip ya?. Tanpa ba bi bu lagi, Karin hanya turun saja, mungkin Hinata sedang bertengkar dengan Sasuke, yyiippiiiee, akhirnya kesempatan buat deketin Sasuke nih. Pikir Karin dengan senyuman genitnya yang seperti biasa. #ppllaakkk. Gue gak kayak gitu bego ! –Karin-

Hinata tetap melangkahkan kakinya menuju ke arah atap sekolah yang begitu sepi. Hingga ketika ia membuka pintu itu pertama kali, yang ia rasakan adalah sejuknya udara menampar tipis wajah manisnya yang rapuh dan helaian rambutnya yang ia gerai.

"Akhirnya, kau ketemu juga Hinata" Hinata membelalakkan matanya ketika ia mendapati empat orang yang sangat ia kenali. Dua orang di belakangnya menunjukkan wajah kecewa dan bersalah sementara dua wajah yang di depan menunjukkan wajah yang menakutkan dan siap menerkam Hinata.

"T-Tousan"

.

.

.

"Oi Naruto, bantuin aku angkat yang ini napa? Punggungku bunyi nih, masa kamu biarin pacar kamu ini rematik sih. Yang bener aja" Sakura menurunkan delapan kardus besar dari gendongannya dan merenggangkan punggungnya yang pegal.

"Ya elah Sakura-chan! Gimana kamu gak pegal-pegal kalau kamu ngangkat segini banyaknya. Aku aja ngangkat satu udah diseret. Apalagi kamu, delapan kardus dari gudang sampai sini, aku pasti udah ngesot sama nyeret nih kardus" Naruto dengan santai ikut menaruh beban kardus yang ia bawa di atas kardus yang Sakura belum sepenuhnya mendarat di tanah. Jadilah Sakura membawa beban sembilan kardus sementara Naruto dengan santainya mengelap keringat yang turun dari pelipisnya.

Urat-urat di kepala Sakura terasa meledak. Dengan sisa kekuatannya, Sakura membanting kardus-kardus itu hingga menindih Naruto yang belum sempat menghindar "Baka! Apa yang kau lakukan?" Sakura menjitak, memukul, membenturkan, mematahkan(?) Naruto yang terkulai bagiakan kertas tak berbentuk di tanah.

"Lho, itukan Hinata-chan, siapa itu disana. Apa yang mereka lakukan?" Sakura memicingkan matanya ke atap sekolah saat Hinata berbicara dengan beberapa orang asing yang menurut Sakura berpakaian sangat aneh.

.

.

.

Brak

Pintu terbuka menampakkan sosok Karin dengan tatapan yang genit, Sasori dan Sasuke hanya memutar bola mata mereka karena mereka pikir itu tadi adalah Hinata. Eh ternyata malah hasil permak yang gagal muncul dengan wajah sangarnya.

"Sasuke-kun..." Karin memanggil nama Sasuke hingga membuat Sasuke dan Sasori merinding mendengarnya.

"Lebih baik kau pergi saja deh Karin, kau merusak mood kami" Sasori menukaskannya.

"Eh sensei, kenapa begitu sih..." Karin cemberut ketika sensei yang tampan ini mengusirnya. Apalagi disambut dengan hangat oleh anggukan Sasuke.

Derap langkah berat yang memenuhi lorong membuat semua orang melirik siapa orang yang merusak mood yang kedua kali ini. Eh, dia membawa rongsokan yang terpental-pental di belakangnya ya?.

"Sasuke!" Sakura menampilkan wajah horornya juga. Alis matanya saling bertaut, matanya melotot, dengan mulut yang tidak etis membuka lebar dan monyong untuk menarik nafas dalam-dalam karena berlari dengan menggeret rongsokan eh salah maksud saya Naruto yang tepar di tempat karena telah tak berbentuk(?)karena ulah Sakura –atau lebih tepatnya karena dirinya sendiri kali-.

"Lho, haahh aaa hhaaahh ddaa hhaahh Saa haaahh Sooo hhaaahh Ri haaahhhh sensei hahhh ju hhaah di hhaahh di hhhaahh sini?" Sakura mengatakannya tidak jelas dengan megap-megap. Sementara Naruto mulai berdiri bagaiakan zombie dari tangan Sakura, semua siswa yang menatapnya ngeri ketika melihat wajah Naruto yang semakin tak berbentuk.

"Bicara yang jelas!" Sasuke dan Sasori bersamaan karena hari ini mood mereka rusak total karena tiga manusia yang dengan beruntun merusak moodnya. Apakah akan ada orang ke empat atau kelima yang akan merusaknya juga –si Sai sama si Ino-.

"Itu! Hinata, atap, Hinata, atap" Sakura mengatakan itu berkali-kali dengan menunjukkan arah yang tidak jelas.

Karin yang melihatnya hanya mengernyit tak mengerti "Hah? Hinata? Atap? Maksudnya Hinata natap-natap gitu ta?" Karin dengan gamblangnya ngomong seperti itu.

Plak. Tamparan keras untuk Karin. Salah.

"Aarrggghh! Maksud aku, di atap, Hinata sama orang asing!" Sakura dengan tak sabar menarik pipi Karin dengan sangat kerasnya.

"Apa?" Sasuke dan Sasori langsung berdiri.

"Oh, Hinata ya? Tadi aku emang sempat ngeliat dia naik ke atap sama nangis sih, terus di atas aku liat ada orang yang mirip sama dia juga. Aku pikir keluarganya jadi aku biarin" Karin melepas cubitan Sakura di pipinya.

"T-Tidak mungkin" Sasuke menatap tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.

"Hyuuga telah datang" Sasori menggumamkan kata yang tipis namun dapat di dengar oleh Sasuke hingga membuat pemuda itu lari menuju atap.

Sasori mengikuti Sasuke dari belakang. Sedangkan Karin, Sakura dan Naruto juga mengikuti dari belakang. Mereka berlima melewati lorong UKS begitu saja tanpa menghentikan langkah mereka untuk menjenguk Sai yang terbaring di kasur. Sasuke dengan cepat berlari menuju atap sekolah dan tak menghiraukan beberapa murid yang ia tabrak tadi melantunkan kata-kata yang sangat kasar. Kini Sasuke hanya tinggal membuka kenop pintu yang akan mempertemukannya dengan Hinata.

"Hinata"

.

.

.

"Ayo sekarang kita pulang Hinata, untuk apa kau kabur ke dunia manusia ini" Neji mengulurkan tangannya ke arah Hinata.

"Tidak, a-aku tidak mau pulang. Aku ingin disini" Hinata menolak dengan perlahan tangan Neji.

"Apa ini semua karena bocah Uchiha itu?" Hiashi dengan dingin memojokkan Hinata dengan kata-katanya.

"T-Tousan.." Hinata memelas dengan wajahnya yang tak pernah ia tunjukkan pada Hiashi.

"Jika benar ini karena ulah si Uchiha itu, aku tak akan pernah memaafkan bocah itu. apa kau tak tahu akan akibatnya Hinata?" Hiashi geram dengan alasan Hinata tak ingin pulang.

"A-Aku i-ingin bersamanya Tousan" Hinata mulai menangis.

"Kau Hyuuga dan dia Uchiha. Takdir kalian berbeda dan tak akan pernah untuk disatukan. Apa kau mengerti itu Hinata?" Neji menambahkan kalimat yang membuat Hinata serasa ingin menangis semakin kencang.

"Aku akan menghapus semua ingatan tentang dirimu pada kawan-kawan manusiamu. Aku akan membuat mereka merasa tak pernah mengenalmu. Dan aku akan membawamu pulang bagaimanapun caranya dan mau tak mau kau harus pulang" Hiashi dengan tajam menarik lengan Hinata yang ia sembunyikan dibalik tubuhnya.

"Hinata!" Sasuke, Sasori, Sakura, Naruto dan Karin baru datang ke atas atap sekolah yang telah ramai akan perdebatan keluarga Hyuuga.

"Oh, jadi ini rupanya bocah Uchiha itu ya? Apa kau masih bisa bertahan dengan sihir kami yang telah di akui menjadi garis pertahanan depan penyerangan di dunia sihir, hn?" Neji menantang Sasuke dengan melangkahkan kakinya mendekati Sasuke.

"Oh, rupanya Sasori sudah tahu ini semua ya rupanya?" Neji mendekat pada Sasori dan mengacak-acak rambut Sasori.

"Aku tak memberi tahunya lho!" Sasori menjawab delikan mata Hanabi dan Ten-Ten yang ada di belakang Hiashi dengan tatapan horor ke arah Sasori.

"Baiklah jika sudah begini, maka aku juga akan ikut pulang" Sasori melepaskan kacamatanya.

"Memang sudah seharusnya begitu kan?" Hiashi menambahkan kata-katanya sebelum kembali menatap pada putrinya.

"Pada sentuhan terakhir, biarkanlah aku saja yang melakukannya" Sasori mulai merubah pakaiannya menjadi sama seperti Hyuuga. Pakaian seorang penyihir.

"Lho, S-Sensei kok juga ikutan?" Sakura menuding baju Sasori dengan polosnya.

"Maaf ya, aku menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tak pernah kalian ketahui" Sasori menyeringai dengan menatap Sasuke.

"Ada apa ini ribut-ribut?" Kakashi tiba-tiba langsung berdiri di atas kabel sekolah yang begitu tipis. Menengahi pertengkaran kecil di antara keluarga Hyuuga dan murid-muridnya.

"The Lord? Sudah lama sekali kita tak bertemu" Hiashi, Neji, Hanabi dan juga Ten-Ten langsung membungkuk memberi salam kepada Kakashi. Sementara Sakura dan Naruto hanya menganga tak percaya. Karin, dia sih biasa aja. Toh dia juga penyihir.

"Ada apa ini?" Kakashi mengulangi pertanyaannya.

"Aku ingin membawa Hinata pulang kembali ke dunianya" Hiashi mengatakannya to the point.

"Tapi, bukankah putrimu sangat senang untuk tinggal disini?" Kakashi mencoba mengulur waktu dengan berbasa-basi dengan sang ketua Hyuuga itu.

"Sudahlah Kakashi, aku ingin segara pulang dari dunia ini. Ayo Hinata" Hiashi menarik Hinata yang ada dalam pelukan erat Sasuke.

"Lepaskan!" Neji dan Sasuke saling adu tangan untuk mendapatkan Hinata.

"N-Neji-nii...kumohon" Hinata memelas dengan tetap memeluk Sasuke.

"Maaf ya Sasuke, usahamu berakhir sampai disini saja" Sasori memukul bagian belakang kepala Sasuke hingga membuat Sasuke melepaskan pelukannya pada Hinata, dan hal ini menjadi aksen mudah untuk Neji mengambil Hinata dan membiarkan Sasuke jatuh.

Dalam kecepatan cahaya, Itachi muncul di balik Sasuke dan menahan Sasuke yang masih mempertahankan pegangannya pada tangan Hinata. Konan juga tengah berjongkok di lantai dengan mengamati kepergian Hinata yang meneriakkan nama Sasuke walaupun suara Hinata perlahan menghilang.

Sasori menebarkan sihir di atas Sakura dan Naruto, begitu pula dengan Sasuke. Sasori menebarkan sihir yang berguna untuk menghapus ingatan tentang Hinata, dirinya, sihir ataupun kejadian ini dalam pikiran mereka dan tak pernah menganggap Hinata maupun ini pernah ada dan pernah terjadi. Karin yang mengerti akan sihir itu langsung melindungi dirinya dari sihir itu dengan mantra. Kakashi yang melihatnya hanya bisa mengeluarkan nafasnya sejenak. Teringat akan kata-kata Hinata saat di ruangannya dulu.

"Apa yang akan kau lakukan jika ayahmu menarikmu kembali ke dunia sihir dan berpisah dengan Sasuke?" tanya Kakashi penuh harapan dan selidik. Hinata masih diam di tempat tak bergeming sedikitpun.

Masih dalam diamnya, Hinata tak bergerak dan sedikit membuat sebaris senyuman di wajahnya. Dan dengan singkat, Hinata berbalik ke arah Kakashi dengan senyuman yang cerah.

"Walaupun aku harus berpisah dengan Sasuke-kun pada akhirnya, bukankah aku ini masih pengantinnya? Jadi aku tak pernah menyesal untuk menantinya menjemputku lagi. dan jika itu tak akan pernah terwujud, maka aku akan melakukan hal ini lagi. aku akan kabur dari dunia sihir hanya untuk Sasuke-kun" Hinata berbicara lebar tanpa ragu.

"Tapi bagaimana jika kau tak pernah bisa lagi kembali kesini, maka apa yang akan kau lakukan?" Kakashi masih menyelidiki Hinata yang tersenyum, walaupun kali ini senyumannya sedikit pudar, tapi gadis di depannya itu tetap tersenyum.

"Baik sehat maupun sakit, baik hidup maupun mati nanti, dia selalu memenuhi relung hatiku. Aku tak pernah bisa lepas darinya. Walapun suatu saat nanti aku harus berubah menjadi vampire, akan kulakukan, jika aku tak bisa berubah menjadi vampire, dia selalu ada di hatiku untuk aku percaya akan hal itu"

Walaupun Kakashi telah menganggap Sasuke sebagai anaknya sendiri, tapi ia tak bisa membiarkan jika Sasuke hampa tanpa hadirnya Hinata. Apalagi jika ia tak meminum darah dari pengantinnya, maka ia akan mati bukan. Atau dengan usaha Sasori menghapus Hinata maka Sasuke harus kembali ke usaha semula untuk minum darah dari rumah sakit. Itu sama saja merugikan banyak pihak. Sekarang Kakashi harus bagaimana.

Sakura dan Naruto pingsan setelah kabut asap yang di buat Sasori menghilang. Sasuke yang juga menggenggam erat tangan Hinata juga mulai melentur. Hinata selalu meneriakkan nama Sasuke walaupun suaranya hilang di telah pusaran sihir yang di buat Hiashi. Neji dan Itachi saling beradu tatapan, sepertinya mereka saling punya masalah jika menyangkut adiknya ini. Sasuke, Hinata. Apa yang akan kalian lakukan setelah ini.

.

.

.

Tiga jam setelah insiden itu, Karin yang terbentur karena dentuman sihirnya yang pecah terasa sedikit pusing tapi sihir Sasori tak mengenainya. Sakura dan Naruto juga mulai terbangun dari sihir Sasori. Sasuke yang ada di pangkuan Itachi masih terlelap dalam tidurnya dengan menggumamkan nama yang bagi Sakura dan juga Naruto begitu asing tapi pernah ia dengar dan begitu dekat dengan mereka, Sakura dan Naruto belum sadar benar dari pengaruh sihir Sasori jadi mereka sedikit merasa sangat pusing bagaikan terbentur batu besar yang berat di atas kepala mereka. mereka berdua hanya mengerjap-ngerjapkan mata mereka sementara Karin hanya membenahi kacamatanya dan memijit kepalanya, efek sihir Sasori ternyata begitu berbahaya dan menyakitkan. Kakashi yang melihatnya hanya bisa memijit pelipisnya sementara Itachi mengeluarkan pengobatan sihirnya memutari dahi Sasuke. Konan yang terjongkok di lantai mulai membantu Itachi mengobati Sasuke.

"Hinata..." gumaman Sasuke yang terdengar seperti bisikkan.

"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan selanjutnya Itachi?" tanya Itachi pada Kakashi yang mulai turun dari kabel dan berdiri di depannya.

"Entahlah, apa kita harus menyembuhkannya atau membiarkannya melupakan Hinata?" tanya Kakashi dengan sendu menatap Sasuke yang terlihat seperti mimpi buruk.

"Lebih baik kita lihat saja kondisinya seperti apa jadinya nanti...kurasa aku harus mengobati tiga anak ini dulu" ujar Konan dengan merangkak ke arah Sakura, Naruto dan Karin.

"A-Aku t-tak perlu di obati, aku bisa menjaga rahasia jika kalian inginkan. Aku juga bisa menyembuhkan luka sendiri" Karin mundur ke belakang saat Konan mendekat padanya.

"Biarkan saja, dia juga penyihir jadi kau tak perlu repot-repot" Kakashi menjawab pertanyaan di pikiran Konan yang mengernyit heran akan perilaku Karin.

"Lalu, dia harus bagaimana?" tanya Itachi dengan melihat ke arah Karin yang mendempet di dinding.

"Jika aku bisa membantu maka aku akan membantu...tapi kumohon, kumohon jangan hapus ingatanku juga" Karin meminta dengan memelas pada Kakashi dan Konan.

"Biarkan saja dia, lebih baik Sakura dan Naruto saja yang kita hapus total. Untuk Sasuke, aku masih ragu" Kakashi menimbang-nimbang dengan menyisihkan helain rambut yang menutupi wajah Sasuke.

"Kau terlalu menyayanginya" Itachi memandang wajah Kakashi yang ada di depannya.

"Karena ia dan juga kau sudah seperti anakku sendiri" jawab Kakashi dengan tersenyum masam.

Konan telah memulai pengobatannya pada Sakura dan Naruto yang setengah sadar. Sakura dan Naruto hanya merasa jika yang ada di depan mereka ini adalah butiran kunang-kunang yang berjuta-juta menyerang penglihatan mereka dan mereka merasa kunang-kunang itu masuk kedalam pikiran mereka dan melakukan sesuatu di dalam sana hingga membuat mereka berdua merasa semakin pusing. Hingga akhirnya mereka pingsan lagi.

Lima menit setelah itu, Sakura dan Naruto kembali terbangun dengan wajah yang terheran-heran "Eh? Aku dimana ini? Bukankah tadi aku baru keluar gudang? Astaga kardusnya!" Sakura dengan cepat berdiri dan menyeret Naruto yang masih setengah sadar menggelinding di jalanan.

Karin hanya sweatdrop melihat mereka berdua. Karin menoleh ke arah Sasuke yang juga mulai terbangun. Wajahnya tak seperti biasanya yang begitu hangat ketika bersama Hinata, kini wajahnya sama. Kembali ke wajah asli Sasuke yang dulu, dingin dan tak peduli.

"Ada apa ini? Dimana aku? Apa yang kalian lakukan disini?" Sasuke melirik semua orang yang ada disampingnya dengan tajam, pandangan Sasuke berhenti pada Itachi dan Konan.

"I-Itachi-n-nii..k-kau sudah kembali?" Sasuke tergagap ketika melihat kakaknya tengah ada di depannya dengan wanita yang asing bagi Sasuke.

"Apa kabar? Perkenalkan ini pengantinku, Konan" Itachi tersenyum miris ketika mengulangi pertemuannya dengan Sasuke yang kosong pikirannya.

"Hai" begitu pula dengan Konan yang melambaikan tangannya dengan tersenyum miris.

"Aku mimpi buruk akhir-akhir ini...syukurlah jika kau sudah kembali.." jawab Sasuke berdiri dari duduknya dan meninggalkan atap sekolah, melupakan semua kejadian barusan dan yang terpenting ia melupakan...Hinata.

Esok harinya kembali seperti semula sebelum kedatangan Hinata, tak ada satupun siswa maupun siswi yang mengenal siapa itu Hinata dan juga Sasori-sensei. Bahkan Tsunade pun lupa akan sesuatu yang terjadi. Ingatan semua orang tentang Sasori dan juga Hinata menghilang mendadak di pikiran mereka, terkecuali Ino, Sai, Karin, Kakashi, Itachi dan Konan yang memegang rahasia ini.

Sasuke kembali ke kehidupan semula seperti sebelum bertemu dengan Hinata. Sasuke kembali tidur di kamar asramanya sendirian, tapi kini Kakashi menyuruh Itachi untuk tidur dengan Sasuke dikamar asramanya bersama dengan Sai. Konan tetap bersama dengan Ino walaupun tanpa Hinata. Kakashi masih berdiam diri di rumahnya memikirkan jalan terbaik selanjutnya. Sasuke kembali meminum darah dari hasil curiannya di rumah sakit setempat, akhir-akhir ini Sasuke merasa jadi gampang haus dan merasa sangat kurang meminum darah. Rasanya ada yang kurang saat ia meminum darah...rasanya kali ini darah yang ia dapat begitu berbeda dari sebelumnya ia rasakan..yang sebelumnya terasa begitu manis dan memabukkan.

.

.

.

"Semua masalah yang ada di dunia manusia kini sudah aku bereskan" Sasori hanya menepuk-nepukkan telapak tangannya.

"Bagus, kini hanya tinggal Hinata. Ia tak mau makan dan di obati padahal wajahnya terlihat begitu pucat..." Neji memandang kamar Hinata yang jendelanya terbuka dan menampakkan Hinata sedang memandang halaman belakang Hyuuga dengan tatapan kosong di balik jendela besi itu.

"Kami terpaksa mengurungnya karena tadi ia begitu kuat untuk memberontak" Neji mengakhiri kalimatnya dengan memandang Sasori lagi.

"Biarkan aku masuk kedalam boleh?" tanya Sasori dengan meyakinkan Neji.

"Silahkan" Neji memperbolehkan Sasori masuk dengan senyuman tipis.

Hanabi yang sedari tadi memandang Sasori jengkel hanya membuang muka ketika melihat eraksi Neji memperbolehkan Sasori masuk ke kamar kakaknya. Hanabi merasa menyesal ketika semua ini terbongkar. Entah Hanabi menyesal karena ini terbongkar atau karena ulahnya sendiri mengirim kakaknya ke dunia manusia hingga akhirnya kakaknya kini berubah menjadi pendiam dan pemurung, tak seperti kakaknya yang periang dulu. Kini tatapan mata Hinata hanya menerawang halaman belakang keluarga Hyuuga dengan tatapan kosong, tangannya hanya ia permainkan untuk mengelus-elus besi jendela kamarnya yang keras dan kaku. Hinata hanya bisa menggumamkan kata-kata yang parau dan tak jelas.

"Sasuke..." bagaikan mantra, nama itu selalu di sebut-sebutkan Hinata di setiap helaan nafasnya. Tak menghiraukan langkah pelan Sasori yang masuk serta Neji dan Ten-Ten yang mengikuti dari belakang.

"Hai Hinata-chan, bagaimana kabarmu?" Sasori tersenyum hangat pada Hinata yang membelakanginya menghadap jendela besi yang begitu besar.

"Sasuke..." Hinata tak menghiraukan Sasori yang mengajaknya berbicara bahkan Neji yang memanggil namanya pun tak ia hiraukan.

"Hinata, hentikan itu..disini ada tak ada dia, dan kini Sasori akan menghentikan posisinya jadi jangan pernah memanggil nama itu lagi..." Neji mengepalkan tangannya kuat-kuat sementara Sasori hanya mengelus perlahan pundak Neji agar ia tak kasar pada Hinata. Ten-Ten juga menggenggam erat kedua tangannya.

Hinata tak menghiraukan perkataan Neji, Hinata masih tetap pada pendiriannya dengan menyebut nama Sasuke. Hiashi masuk ke kamar Hinata yang nampak ramai dengan para pelayan-pelayan keluarga Hyuuga dan juga Hanabi yang nampak di belakang.

"Jika begini, keluarkan benda yang waktu itu Neji.." Hiashi dengan dingin menyuruh Neji.

"Baik" Neji hanya diam dan menuruti semua perkataan Hiashi yang ada di kamar Hinata saat itu.

"Benda?" Hanabi dan Sasori sama-sama mengernyit ketika mendengar Hiashi.

"J-Jangan-jangan...r-ramuan itu..." Ten-Ten menutup mulutnya tak percaya.

Tak lama setelah itu, Neji datang dengan segelas air dan makanan yang ada di atas nampan dengan botol kecil yang berisi akan cairan berwarna bening di tangan Neji. Neji memasukkan sedikit cairan makanan dan minuman Hinata. Dan selebihnya ia oleskan ke tangan Ten-Ten.

"Kumohon bantulah keluarga kami" Neji mengusapkan cairan bening itu ke telapak tangan Ten-Ten berharap agar Ten-Ten membantunya untuk menghapuskan semua ingatan Hinata dengan cairan sihir yang Ten-Ten ciptakan. Tangan Ten-Ten bergetar ketika ia harus memantrai Hinata dengan sihir yang ia ciptakan sendiri. Ia tak bisa, ia melihat sendiri jika Hinata begitu mencintai pemuda bernama Sasuke itu dan mana mungkin ia tega menghapuskan cinta Hinata dengan mantra, dan mengisi ulang segalanya dengan memori tentang Sasori, Ten-Ten sungguh tak bisa.

"Aku tak bisa.." ujar Ten-Ten dengan nada yang parau dan bergetar, tak lupa tangannya yang bergetar hebat.

"Jika kau tak bisa biar kulakukan dengan kekerasan saja" Hiashi mengambil cairan itu dari telapak tangan Ten-Ten, tapi tangan Ten-Ten tak bisa menerima perkataan Hiashi hingga tangannya mengepal keras dan tak memperbolehkan Hiashi menyentuh cairan itu dari tangan Ten-Ten.

"Maafkan aku Hinata" gumam Ten-Ten lirih dengan sedikit menangis.

"Opprum Disappearproom!" Ten-Ten melemparkan sihirnya yang penuh cairan penghilang ingatan seseorang dengan menggunakan ramuan Opprum Disappearproom yang ia dapat dari gudang The Lord, Ten-Ten melemparkan sihir itu dengan memejamkan matanya kuat-kuat hingga air bening mengalir dari matanya.

Sasori dan Hanabi tak bisa melihat apapun dari Hinata, yang ia lihat hanyalah cahaya putih yang keluar dari tubuh Hinata. Neji dan Hiashi memejamkan mata mereka menghindari sinar putih yang menyilaukan itu. Hinata mengawang di antara udara kosong yang ada disitu saat itu juga. Tatapan mata Hinata masih kosong, tak ada cahaya sama sekali yang menghiashi bola matanya. Hinata juga terlihat begitu lemas dan tak banyak bicara. Hinata masih menggumamkan nama yang ada di pikirannnya saat itu sebelum ingatannya sepenuhnya terhapuskan.

"Sa-su-ke..." Hinata memejamkan matanya ketika cahaya putih yang ada di sekitar tubuhnya berubah menjadi hitam, tak lama setelah itu, cahaya yang hitam tadi berubah kembali menjadi cahaya putih yang menyilaukan dan akhirnya masuk kedalam tubuh Hinata. Tubuh Hinata yang tak di liputi cahaya apapun kembali mengawang dan akhirnya perlahan-lahan turun ke atas ranjang Hinata.

"Bagus, apakah dengan begini ia akan lupa dengan pemuda itu?" tanya Hiashi dengan senyuman yang sedikit terukir di wajahnya.

"Aku belum mengerti, karena ini baru pertama kalinya aku mencoba sihir ini. Aku tak tahu bagaimana cara mematahkan sihir ini, ataupun efek samping sihir ini" jawab Ten-Ten tak kalah dinginnya dengan Hiashi ataupun Neji sebelum memaksanya.

Mata Sasori sedikit membulat, Hanabi apalagi. Hiashi hanya menatap datar sedangkan Neji, tangannya terasa lemas setelah mendengar Ten-Ten. Nampan yang ia bawa perlahan mulai mengendur dari pegangannya. Suara yang di timbulkan pun juga begitu nyaring. Para pelayan yang ada di situ dengan sigap memunguti pecahan-pecahan itu agar nanti tak melukai siapapun. Neji merasa getir ketika ia baru sadar apa yang baru saja ia lakukan pada adiknya. Hatinya begitu sesak hingga sebelah tangannya harus ia gunakan untuk menyanggah dadanya saat bernafas. Ten-Ten yang ada di sampingnya dengan sigap menopang Neji.

"A-Apa yang baru saja kulakukan? A-Aku bukan k-kakak yang baik.." Neji mulai merosot dari pelukan Ten-Ten.

"Apa yang terjadi?" Hinata mulai bangun dari tidurnya dan duduk, semua orang yang ada di ruangan itu terlonjak kaget ketika mendapati Hinata bangun dengan tegap dan terkesan dingin.

"Kenapa kalian ramai-ramai di kamarku?" wajah Hinata terasa begitu kelam bagaikan tak ada ekspresi, wajah Hinata semakin mirip Hiashi saja jika begini.

"Sa...sori? Kaukah itu? Sedang apa aku disini?" Hinata memegangi kepalanya ketika melihat Sasori berdiri dengan melamun.

"Oh, Ah, H-Hei, Hinata...kau masih ingat aku?" Sasori tertawa hambar dan mencoba mengetes ingatan Hinata.

"T-Tentu saja, kau yang dulu pernah bermain bersama denganku, Ino dan juga Sai bukan?" Hinata menebak-nebak dengan gayanya yang seperti Hinata malu-malu. Perlahan Hinata mulai kembali pada sifatnya tapi mata Hinata tetap kosong, tak ada tanda kehidupan pada matanya. Aneh.

" Syukurlah..." Sasori hanya mengelus dadanya tanda lega sedangkan Hiashi hanya memejamkan matanya saja.

"Kau ingat aku?"

"Bagaimana dengan aku?"

Hanabi dan Neji saling berebut tempat untuk emndapatkan perhatian Hinata. Hinata mulai berjalan dengan gontai.

"Kau, Hyuuga Neji..lalu kau Hyuuga Hanabi...dan ini Ten-Ten-nee...lalu T-Tousan dan Sasori. Aku b-b-benarkan?" Hinata berjalan keluar kamarnya dan menghampiri meja makan.

"Rasanya efek samping itu tak ada bukan, Ten-Ten?" Hiashi membuka matanya tajam.

"Tapi itu baru permulaan Hiashi-jiisan, kita belum tahu yang sebenarnya bagaimana ji-"

"Putriku akan baik-baik saja dan yang terpenting dia melupakan Uchiha itu" Hiashi melenggang pergi meninggalkan Hanabi dan Ten-Ten yang masih diam di kamar Hinata.

"Kita harus menghubungi The Lord" Ten-Ten mengambil cermin yang ada di kantong bajunya kemudian ia menghubungi Kakashi dengan tinjauan Hanabi.

Tak ada jawaban dan sinyal dari Kakashi, sial! Dunia manusia memang sangat sulit di jangkau oleh negeri sihir. Ten-Ten membanting cerminnya hingga kini cerminnya menjadi serpihan debu yang tergeletak di atas lantai.

.

.

.

Sudah lima hari ini berlangsung, Sasuke menjadi sering meminum darah dari rumah sakit. Sebelum bertemu dengan Hinata ia biasa menghabiskan satu kantung darah dari rumah sakit tapi kini setelah Hinata pergi, ia menjadi menghabiskan delapan kantung darah dari rumah sakit perharinya. Ini sungguh menyiksa Sasuke. Kakashi yang melihatnya hanya bisa memukul tangannya ke arah meja hingga tangan dan meja beradu keras menimbulkan retakan tipis di atas meja Kakashi. Itachi yang melihat Kakashi seperti ini hanya bisa menghela nafas bersama Konan yang ada disampingnya.

Sai dan Ino yang sebelumnya tak mengerti dengan situasi dan keadaan, hanya bisa histeris. Sasuke yang tak mengerti ketika Ino dan Sai membicarakan tentang Hinata hanya bisa diam dan tak bergerak ketika ada orang yang membicarakan nama tentang Hinata, rasanya Sasuke pernah mendengarkan nama itu. Nama itu terasa begitu familiar di kepala Sasuke. Karin yang mengetahui ini semua hanya bisa memberi tahukan keadaan yang sebenarnya pada Sai dan Ino hingga mereka bisa sedikit tenang dan mengendalikan bicara mereka ketika menyebut nama Hinata.

Sakura, Naruto, Tsunade bahkan teman-teman yang pernah bertemu dengan Hinata maupun Sasori hanya bergidik bahu saja ketika mereka mendengarkan nama itu. Sakura dan Naruto masih bisa beraktivitas seperti biasa, karena mereka manusia.

.

.

.

Sasuke memiliki batas akhirnya untuk menahan siksaan ini lebih lama lagi. Kakashi semakin tak bisa menahannya tapi Itachi masih saja menahannya. Karin yang melihatnya juga menjadi merinding, saat itu Sasuke mengerang kesakitan di kepalanya dan wajahnya terlihat begitu pucat. Sai dan Ino sudah ada di kamar Sasuke yang saat itu memang ingin menjenguk Sasuke. Sakit. Hanya itu definisi tentang Sasuke setelah kepergian Hinata, meninggalkan jutaan kenangan yang terkubur.

"Bagaimana ini?" Ino memegang bahu Sai yang ada di depannya.

"Tenanglah, dia pasti bisa bertahan" Sai menenangkan Ino yang ada di balik tubuhnya dengan senyumannya ketika melihat Sasuke di sembuhkan oleh Kakashi dan Itachi.

"Aku sudah tak bisa melihat semua ini. Jika itu satu-satunya jalan, aku akan mengantarkan kalian untuk masuk kedalam dunia sihir. Aku tak peduli apapun resikonya, yang penting kita harus menyelesaikan masalah ini" Kakashi berdiri dari kursi disamping ranjang Sasuke, pemilik ranjang itu semakin terlihat pucat.

"Lebih baik kita bawa dia ke kamarku yang ada beberapa barang peninggalan Hinata. Mungkin itu bisa membantu..." Ino mulai membuka suaranya dalam keheningan yang teradi di antara tujuh orang ini termasuk Sasuke.

Semua mengangguk setuju, mereka semua tak butuh berjalan karena mereka semua memiliki kekuatan khusus untuk berpindah tempat dengan sihir mereka. dengan telepart, mereka bisa sampai ada di kamar Ino dan Konan yang begitu rapi dan juga ada beberapa barang milik Hinata yang tertinggal.

Itachi memapah Sasuke untuk berjalan dan melihat barang-barang milik Hinata yang tertinggal. Ada cermin, alat sihir, dan yang terpenting yang membuat Sasuke mengingat jelas adalah sapu yang tua. Sapu tua itu melayang ketika Sasuke berjalan sendiri mendekatinya, tanpa bantuan Itachi. Sapu itu memukul Sasuke dengan kerasnya dan mulai mengamuk di depan Sasuke.

"H-Hei! Apa-apaan ini?" Sasuke menutupi kepalanya dari pukulan sapu terbang itu.

"Apakah kau mengenali barang-barang ini Sasuke?" Ino menanyakan perlahan dan sangat pelan hal ini kepada Sasuke yang termenung ketika sapu itu memeluknya.

Sasuke tak tahu harus berbuat bagaimana lagi, ia bingung harus bagaimana, mengelus sapu itu atau bagaimana. Ketika Sasuke akan mengelus sapu itu, tiba-tiba siluet bayangan seorang gadis tengah tersenyum dengan rona merah dengan tulus ke arahnya. Matanya yang terpejam dan lekukan bibirnya ketika tersenyum, Sasuke ingat betul bayangan gadis itu. aroma manis vanilla dan harumnya bunga lavender tiba-tiba menguar dari pikiran Sasuke saat menggambarkan sosok gadis itu. kenangan di pikiran Sasuke bagaikan roll film yang diputar begitu cepat hingga ia merasa pusing. Bayangan gadis itu sedang bersama dengannya, tertawa dan bergandengan bersama, berciuman, menangis, dan Sasuke melihat dirinya sedang...menghisap darah gadis itu. yang membuat Sasuke menangis saat itu juga adalah ketika ia melihat siluet gadis itu berteriak memanggil namanya walaupun ia tak bisa mendengar gadis itu, ia menggenggam tangan gadis itu begitu kuat dan setelah itu semua mengabur. Bayangan akan gadis itu, semuanya terasa sangat menyesakkan apalagi ketika gadis itu meronta-ronta ketika menjeritkan namanya, gadis itu melawan ketika jemarinya terlepas dari genggaman tangan Sasuke. semuanya begitu jelas ia ingat hingga ia menggumam...

"...Hinata" Sasuke menetekan air matanya dan wajahnya yang pucat kini sedikit merah.

"Kemana Hinata, dimana dia sekarang" Sasuke membalikkan badannya menghadap ke semua orang yang ada disitu dengan menunduk.

"Dia dibawa kembali ke dunia sihir" Kakashi menjawabnya dengan sangat pelan dengan menatap Sasuke, walaupun saat itu Kakashi tidak menatap mata Sasuke.

"Bawa aku kesana sekarang" mata Sasuke mulai memerah.

"Kau marah bukan jika dia diambil dari kita?" Sasuke menoleh ke arah sapu terbang yang ada di genggamannya.

"Karena kita sama-sama Sasuke, kumohon bantu aku untuk datang menyelamatkan Hinata" ucap Sasuke mantap pada sapu terbang Hinata, walaupun sejak dulu ia tak suka Hinata menamai sapu terbangnya dengan namanya tapi selama itu bisa membantu, Sasuke mengikhlaskan namanya.

"Hei, aku tak bsia berpikir...kita kan belum menyembuhkannya tapi bagaimana bisa ia.." Itachi menggantungkan kalimatnya ketika melihat Sasuke berbicara dengan sapu terbang Hinata.

"Karena cinta bisa mematahkan sihir apapun, termasuk sihir atau apapun yang menghilangkan ingatan seseorang itu dari ingatan orang lain. Cinta pasti bisa mematahkan sihir itu dan mengembalikan sosok yang begitu berarti di hidup mereka" Kakashi menjawab dengan tersenyum simpul ketika Sasukenya telah kembali.

Semuanya telah siap untuk berangkat. Kakashi, Itachi, Konan, Sasuke, Ino, Sai dan Karin. Awalnya Sasuke menolak Karin ikut tapi karena ini dunia sihir dan Karin memang seorang penyihir maka Sasuke tak bisa melanggar aturan itu. hukum sihir berlaku bung!

Sasuke menaiki sapu terbang Hinata, sedangkan Ino dan Sai memakai satu sapu. Sama seperti Itachi dan Konan yang menggunakan satu sapu pinjaman Kakashi. Karin memakai sapu terbangnya sendiri. Ia, Sai da Ino telah memakai pakaian sihir mereka. begitu juga dengan Kakashi, ia mengenakan pakaian yang sama dengan penyihir yang lainnya tapi yang membuatnya berbeda adalah masker penutup wajahnya tidak ada dan yang ada kini hanyalah pelindung yang memutari seluruh tubuhnya bagaikan bumi yang berevolusi.

Jika para penyihir menggunakan pakaian sihirnya maka Sasuke, Itachi dan Konan menggunakan pakaian vampire mereka. dengan pakaian vampire yang biasanya dan juga mantel hitam yang berkibar-kibar seperti vampire di kebanyakan film, kulit yang pucat terlihat begitu kontras ketika berpadu dengan warna hitam mantel mereka. tak ada taring yang keluar, yang ada tinggallah mata mereka yang merah. Menandakan jika mereka adalah klan Uchiha, klan Vampires. Mereka kini sudah bersiap-siap dan bergegas pergi dari dunia manusia untuk ke negeri sihir. Kakashi sedikit mengucapkan mantra sihir dan membuat langit membuat sebuah kode dan juga mantra sihir di langit-langit hingga menampakkan langit yang tadinya jernih dan terang, berubah menjadi sedikit teduh dan magic circle yang begitu besar di langit. Langit perlahan-lahan robek dan hancur. Menampakan sinar yang begitu menyilaukan, dengan cepat, semua yang telah siaga di sapu terbang mereka langsung masuk kedalam kubangan langit itu. tak peduli apa yang terjadi nanti yang terpenting mereka harus masuk. Selepas mereka masuk, langit berubah kembali ke suasana semula yang tenang dan cerah.

.

.

.

Sasuke dan yang lainnya telah masuk kedalam negeri sihir. Negeri yang begitu ramai akan penyihir yang sangat luar biasa, para penyihir seperti Ino, Sai, Karin dan Kakashi, biasa saja melihat negeri sihir yang begitu menakjubkan. Sasuke, Itachi dan Konan hanya menganga melihat menakjubkannya dunia sihir.

"Kau lihat gerbang itu?" Kakashi menunjuk gerbang besar yang tak jauh dari mereka berpijak di antara padatnya orang berlalu lalang di kota.

"Ya" jawab Konan mewakili Itachi dan Sasuke yang terpukau.

"Itu adalah penghubung antara dunia kami dengan dunia kalian yang ada di dunia manusia" Kakashi menjelaskan hal itu dengan sedikit membuka kerah bajunya yang membuatnya sedikit gerah.

"Ayo kita segera ke Hyuuga" Sasuke dengan tujuan awalnya memantapkan diri untuk segara menemui Hiashi dan yang lainnya, termasuk Sasori.

Semua yang ada saat itu kembali terfokus lagi mulai terbang ke arah dimana tempat para Hyuuga bernaung. Ino dan Sai hanya sedikit ragu ketika mengingat status Sasuke yang sebagai klan Uchiha datang untuk menantang Hyuuga.

Di lain tempat, Sasori masih setia berada di tempat para Hyuuga, karena kini mereka akan melangsungkan acara mereka yang memang sudah sangat keduanya tunggu-tunggu. Hanabi dengan cuek selalu membuat Sasori marah-marah sedangkan Hinata dengan pandangan kosongnya sedikit menghela nafasnya dan menyiram bunga. Neji duduk di samping Ten-Ten dengan menyeduh teh hangatnya. Ten-Ten hanya tersenyum miris ketika melihat Hinata nampak sedikit berbeda. Hiashi, dia mengamati semua keluarganya dan juga calon keluarga itu dengan sedikit tersenyum tipis.

Hinata melangkahkan kakinya menuju ke bunga yang ada di depan pintu belakang halaman rumahnya. Meninggalkan semua keluarganya yang bersantai dan bercanda ria di taman halaman belakang yang teduh. Ketika Hinata menyiram ke bunga terakhirnya, tiba-tiba ada seseorang yang jatuh bersamaan dengan sapu terbang miliknya.

"S-Sasuke...kemana saja kau? Aku mencarimu lho" ucap Hinata girang ketika sapu terbang miliknya memeluknya.

"H-Hinata.." gumam orang yang kini ada di depannya.

"K-Kau siapa?" sinar mata Hinata yang awal mulanya redup kini mulai bersinar lagi. cahaya di matanya kini kembali. Apakah ini...rasanya Hinata sangat merindukan saat ini dan orang yang ada di depannya ini tapi dia ini...siapa?.

"Mustahil" gumam orang itu lagi.

.

.

.

Sasuke memegangi sapu terbang Hinata dengan erat, kini sapu terbang Hinata sangat lepas kendali. Dari jauh Sasuke sudah dapat melihat kediaman Hyuuga yang begitu besar dan juga megah. Semua yang lain tertinggal di belakang, ini semua karena sapu terbang Hinata begitu tak sabar ingin segera bertemu dengan tuannya. Sasuke menyuruh agar sapu terbang Hinata ini bersembunyi di balik semak-semak dan menunggu yang lainnya. Dari balik semak-semak yang begitu rindang itu, Sasuke bisa melihat sosok gadis yang berjalan dengan begitu gontai. Sosok gadis yang begitu ia rindukan. Ketika gadis semakin dekat dengan Sasuke, tiba-tiba sapu terbang Hinata menerobos masuk hingga masuk ke kediaman Hyuuga.

"S-Sasuke...kemana saja kau? Aku mencarimu lho" ucap gadis itu dengan girang.

"H-Hinata.." gumam Sasuke ketika ia berjalan mendekati gadis itu.

"K-Kau siapa?" ucap Hinata, gadis yang ada di depan Sasuke. mata Hinata yang awalnya redup begitu bercahaya ketika ia melihat kehadirannya. Ada begitu banyak yang tersirat di matanya. Ada kerinduan, terkejut dan rasa...takut.

"Mustahil" Sasuke dengan wajah terkejutnya memandang Hinata syok.

"Hinata!" teriak Sasori dari kejauhan dengan tampang yang syok juga ketika melihat kehadiran Sasuke di depan Hinata, tapi Sasori buru-buru menghapus wajah itu karena ia mengingat jika Hinata pasti melupakan Sasuke.

"S-Sasori-kun.." Hinata dengan tampang bingungnya segera menoleh ke arah Sasori.

"Apa? Hey Kau! Apa yang telah kau lakukan pada Hinata-ku? Kau sudah curang, seharusnya kau tak boleh bermain curang. Bukankah Hinata sejak awal memang memilihku, lalu kenapa sekarang dia melupakanku?" Sasuke meledak ketika melihat Sasori menarik Hinata untuk berlindung di belakangnya.

"Aku memang dari awal telah kalah, tapi ada titik dimana aku akan menang, Uchiha" ucap Sasori dengan menyeringai dan menekankan kata Uchiha. Sedangkan Hinata sejak tadi telah mengamati Sasuke.

"U-Uchiha?" tanya Hinata dengan sedikit menyembulkan kepalanya.

"Ya, Aku memang Uchiha, Aku Uchiha Sasuke" ucap Sasuke dengan menepuk dadanya.

"-Sasuke?" Hinata semakin memiringkan kepalanya dan merasa ini begitu familiar.

Sasori merasa semakin panik ketika Hinata semakin berjalan untuk mengeluarkan dirinya, apakah efek ramuan itu tak bekerja?, "Jangan Hinata! Dia adalah musuh!" ucap Sasori ketika Sasuke akan menyentuh jemari Hinata.

"Apa kau mengenalinya?" tanya Sasori ketika Hinata menghentikan pergerakannya.

"Tidak..a-aku tidak mengenalnya" ucap Hinata dengan wajah yang begitu pucat dan juga kecewa.

"Apa yang terjadi?" Hiashi muncul dari belakang Sasori setelah mendengar teriakan Sasori yang terdengar hingga ke taman halaman belakang. Semua orang yang ada disitu ikut menghampiri keramaian kecil yang terjadi di antara Sasuke, Hinata dan Sasori.

Semua orang yang ada disitu nampak begitu terkejut ketika melihat kedatangan Sasuke di dekat pintu belakang rumah Hyuuga, lengkap dengan pakaian vampirenya. Tak lama setelah itu, Kakashi dan yang lainnya mendadak muncul di belakang Sasuke. membuat keterkejutan para Hyuuga semakin bertambah.

"Kau ternyata tak bisa aku beri tahu ya, Kakashi?" Hiashi menekankan kata-kata itu dengan geram ketika mendapati orang-orang yang sama ketika berada di atap waktu itu, kecuali dua manusia itu.

"Karena Sasuke dan Itachi telah aku anggap sebagai anakku, jadi aku tak bisa membiarkan mereka" jawab Kakashi santai.

"Kalau ini yang kau mau, maka dengan terpaksa kita harus perang" jawab Hiashi dengan wajah yang sedikit memerah.

"Jika perang yang kau inginkan, maka kami akan menyanggupinya untuk mendapatkan kembali Hinata" ucap Kakashi yang membuat semua orang yang ada disitu mengeluarkan tongkat mereka semua.

"Baiklah, mari kita berperang" ucap Hiashi yang disertai dengan keluarganya untuk menyerang orang asing yang ada di halaman rumahnya.

Sasuke hanya memandang Hinata, gadis yang saat ini juga melupakannya, apakah ia juga...?.


T.B.C

Gyaaa, maafkan atas keterlambatan saya dalam mempublish fic yang ini. Sungguh maafkan saya.

Tugas sekolah saya lagi berat-beratnya.

Berangkat sekolah dari subuh, pulangnya sore hampir maghrib...malamnya les dan belajar.

Kapan saya ngetiknya? #ngejambak rambut sendiri.

Jadi curcol dah...

Pokoknya reviews dah...makasih banget dah buat para riviewer yang selalu ngeriview dan buat para silent rider dan para reader yang lainnya. Makasih udah mau baca dan nunggu fic abal saya...

Untuk chap 5, akan saya usahakan untuk jauh lebih baik dari yang ini. Dan untuk chap depan, akan saya usahakan untuk ngetik cepat. Dan untuk-

#plaaakk woy durasi woy!

Oh iya, maaf, kalau begitu terima kasih ^^a