Betrayal
Disclaimer : Naruto Selalu menjadi milik Masashi Kishimoto, Saya hanya memiliki plot cerita dalam fanfict ini saja.
Warning : Gaje, abal, OOC, Typo dan Miss Typo seperti biasa nya mereka masih enggan meninggalkan saya sendirian.
Sakura's New Apartement, Tokyo Japan
Langit sudah mulai gelap, sinar mata hari sudah meredup sejak satu jam yang lalu di kota Tokyo. Sakura tengah sibuk membongkar kotak kardus terakhir miliknya dan mulai menyusun buku-buku bacaan ayahnya di rak buku diruang tengah, setelah selesai gadis merah jambu itu melipat kardus-kardus yang mereka gunakan untuk memindahkan barang-barang dari apartement lama mereka dan menyimpannya di gudang di dekat dapur kecil nan minimalis mereka.
Sakura menghela nafas puas melihat hasil kerjanya seharian ini dan tersenyum puas. Tidak buruk juga, ia benar-benar berbakat dalam hal mengorganisir segala sesuatu. Sakura berjalan kearah balkon kecil dan mengambil sebuah handuk yang terjemur disana lalu menghilang di balik pintu kamar mandi. Gadis itu menkmati sensasi nyaman air panas yang melenyapkan rasa lelahnya setelah seharian pindah rumah, berendam di air panas memang membantunya melepaskan penat dan lelahnya. Benar-benar nyaman.
Berfikir tentang pindah rumah, keputusannya untuk tidak memberi jawaban pasti akan permintaan Sasuke mungkin sesuatu yang tepat. Bungsu Uchiha itu berhenti mengganggunya dan tidak muncul dihadapannya lagi hari ini, dia benar-benar mengerti keputusan Sakura dengan baik tanpa perlu Sakura menjelaskan panjang lebar apa yang ia inginkan. Namun, dilain sisi gadis merah jambu itu merasa sedikit bersalah kepada bungsu Uchiha itu, bisa saja kan? Pria itu bermaksud baik kepadanya, tapi kembali lagi ia baru mengenalnya selama dua hari belakangan ini dan karena itu sebaik apapun pria itu kelihatannya, ia harus tetap berhati-hati.
Sakura meraih handuknya dan keluar dari dalam bathupnya, mengeringkan tubuhnya sebelum meraih pakaiannya dan keluar dari kamar mandi. Gadis itu beralih kearah dapur membantu ibunya menyiapkan makan malam sederhana untuk mereka berdua setelah selesai menyisir surai merah jambunya. Ia bisa mendengar ibunya terbatuk sekali atau dua kali saat tengah memasak dan memandang khawatir kearah wanita yang sudah melahirkannya itu,.
"Okaa-san baik-baik saja?" gadis itu memandang khawatir ibunya yang kembali terbatuk di tengah-tengah kegiatannya memotong sebuah lobak,
"Aku baik-baik saja Sakura. Tolong cuci kerang-kerang ini sampai bersih." Berusaha mengalihkan pembicaraan mereka, Sakura tahu benar itu. Gadis itu menerima satu buah keranjang berisi kerang laut dan mencucinya di wastafel sambil sesekali memandangi ibunya. Ia tidak bisa kehilangan satu-satunya keluarga yang ia punya saat ini. Ia sudah berjanji kepada ayahnya apapun yang terjadi, ia tak akan membiarkan ibunya menderita sekali lagi, ia belum bisa menepatinya tapi sebisa mungkin ia akan melakukannya.
Gadis itu meletakkan kerang-kerang yang telah ia cuci diatas pantry dan menghentikan gerakan tangan ibunya yang tengah mengaduk kuah sup sejak tadi. Ibunya memandangnya dengan pandangan bertanya tapi Sakura tak menghiraukannya. Gadis itu mengambil alih pekerjaan ibunya dan menuangkan kerang-kerang yang telah ia cuci kedalam supnya.
"Okaa-san istirahatlah, aku yang akan memasak malam ini." Mebuki memandang gadis merah jambu itu dengan tatapan sendunya. Gadis kecilnya berubah banyak sejak beberapa tahun belakangan, ia bangga tapi ia juga sedih karena harus melihat Sakura bekerja sangat keras untuk memberikan tempat tinggal untuk mereka dan mempertahankan nilainya untuk sebuah beasiswa hanya untuk pendidikan yang layak. Apa yang terjadi kepada mereka selama ini benar-benar diluar rencananya dan suaminya.
"Sakura, kenapa tidak mengundang beberapa teman untuk makan malam? Kepindahan kita ke apartement baru ini seharusnya dirayakan bukan?" Sakura menghentikan gerakkan tangannya sebentar, lalu kembali mengaduk supnya sambil menambahkan beberapa bumbu dapur.
"Tidak perlu, Okaa-san. Aku harus membayar cicilan kedua apartement ini bulan depan, lebih baik uangnya di simpan untuk itu saja." Mebuki memandang sendu kembali putrinya,
"Baiklah, kau sendiri yang putuskan Sakura." Sakura mengangguk. Gadis merah jambu itu mematikan kompor lalu bergegas membukakan pintu saat mendengar bel apartementnya berbunyi.
Ia bersumpah akan menendang bokong sialan pria ini kalau tidak ada Naruto dan teman-temannya yang lain disana. Sakura memandang tidak percaya Uchiha Sasuke yang berdiri di hadapannya sekarang dengan tangannya yang penuh dengan tas kertas besar berisi belajaan dan beberapa botol anggur. Tidak hanya dia Naruto dan beberapa teman-temannya yang lain juga ada disana.
"bagaimana bisa…" gadis masih cukup terkejut untuk menutup mulutnya yang masih ternganga
"Aku sudah bilang kan, mengganggu hidup mu adalah hobi baruku akhir-akhir ini. Tunggu apa lagi? Kau tidak mau membiarkan tamu mu masuk?" Sakura menutup mulutnya dan memandang kesal kearah bungsu Uchiha itu.
"Aku bilang kau tidak perlu melakukan hal ini." Ujarnya, Sasuke memutar bola matanya bosan,
"Tidak perlu memulai perdebatan sekarang Sakura. Kau tidak mau membiarkan kami masuk?" Sakura memutar bola matanya
"Siapa Sakura? Kenapa tidak dibiarkan masuk?" Sasuke tersenyum menang saat Mebuki mencul di dari balik punggung Sakura.
"Nyonya Haruno." Sasuke membungkuk sembilan puluh derajat ketika menyapa Mebuki, wanita paruh baya itu menampilkan senyum keibuannya kepada Sasuke.
"Silahkan masuk, Aku sudah pernah melihat Naruto yang lainnya tapi ini baru pertama kali aku melihat mu." Sasuke tersenyum lalu meletakkan belanjaannya diatas meja dapur,
"Nama ku Sasuke Uchiha, dan ini memang pertamakalinya aku datang kesini." Mebuki tersenyum mendengar jawaban Sasuke,
"Uchiha ya…" Sasuke memandang heran wanita paruh baya itu,
"berati kau putra bungsunya Mikoto dan Fugaku, kan?" Sasuke masih terdiam di meja dapur dan mengamati mebuki yang membantunya membongkar tas kertas berisi belanjaannya,
"Anda mengenal orangtua saya?" Mebuki tersenyum dan mengangguk pelan,
"Dulu, sekarang sepertinya sudah berubah. Nah, duduklah diruang tengah dan tolong panggil Sakura ke sini." Sasuke tak berbicara banyak namun bungsu Uchiha itu melakukan apa yang di perintahkan Mebuki.
Sakura tengah duduk di atas tatami mengelilingi meja ruang tamu berkaki pendek bersama Naruto, Shion, Kiba, Gaara, Ino dan Shikamaru juga Sai. Gadis itu tertawa sesekali dan meninju lengan Gaara. Sasuke terdiam sebentar mengamati beberapa potret yang tergantung di dinding ruang tengah yang mungil itu. beberapa foto keluarga dan pria bersurai merah muda yang lebih tua dari milik Sakura tengah tersenyum dan menggendong gadis merah jambu itu ketika usianya masih balita, foto kelulusan Sakura dan beberapa piagam. Sasuke mengamati tulisan-tulisan yang terpampang di atas lembaran piagam yang terpajang di sana. Haruno Energy Inc. dia ingat perusahaan yang bergerak di bidang perminyakan dan gas bumi ini. Salah satu perusahaan besar yang menjadi mitra perusahaan Uchiha sejak lama.
"Sakura…" bungsu Uchiha itu membuka suaranya, berjalan mendekat dengan wajah tenangnya, menyembunyikan sejuta pertanyaan yang membombardir benaknya
"Apa?" jawab gadis itu ketus. Masih kesal. Ia tahu benar kalau apa yang ia lakukan mungkin membuat gadis itu kesal.
"ibumu memanggilmu, sepertinya butuh bantuan didapur." Ia sudah duduk di sebelah kanan Naruto saat gadis merah jambu itu beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan kearah dapur.
"Haruno Energy Inc, ya?" Ia bergumam, Naruto yang mendengar gumaman sahabatnya itu menoleh
"apa?" Sasuke menggeleng pelan,
"Bukan apa-apa lupakan saja." Naruto mengangkat kedua bahunya acuh lalu kembali menuang Shake kedalam gelasnya dan menegakknya sekali lagi.
"Bukankah bagi orang-orang seperti kalian sebuah perusahaan berarti lebih dari hanya sebuah perusahaan saja? Bukankah perusahaan sama artinya dengan kehormatan klan kalian?" Kalimat gadis itu saat mereka berpisah pagi ini di depan boutique kakaknya kembali menghantam benaknya, Kehormatan klan? Sebuah perusahaan?
Apa yang terjadi pada perusahaan tambang terbesar milik keluarga Haruno itu? Sasuke bukan seseorang yang peduli dengan bisnis keluarganya, jangan salahkan dia jika dia tidak mengetahui penyebab utama perusahaan sebesar itu gulung tikar. Tapi dalam kurun waktu satu tahun saja? Itu rasanya benar-benar gila.
H&G Boutique Tokyo, Japan
Seorang wanita berdarah campuran Eropa-Jepang itu memarkirkan mobil mewahnya tepat didepan bangunan kokoh sebuah boutique ternama di Jepang itu. Surai pirang strawberry miliknya menari bersama angin yang menerpa wajanya. Iya menutup pintu mobilnya dan berjalan memutari mobilnya kesisi kursi penumpang. Wanita itu membukanya dan melepaskan seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dari tempat duduk bayi yang terpasang di samping bangku pengemudi. Setelah mengeratkan Shall rajutan tebal di leher putranya Guilliana, menutup pintu mobilnya dan menekan tombol kunci otomatisnya dan melangkah masuk kedalam boutique mewah itu.
"Mommy, Kita akan bertemu Mom Hana?" bocah laki-laki itu berbicara dengan Bahasa prancis dengan lancar, Guilliana tersenyum dan mengangguk, seorang pegawai boutique bersurai coklat membuka pintu ganda kaca untuknya dan mempersilahkan mereka masuk.
"Hana…" Suara lembutnya mengalun menyapa pendengaran istri dari sulung Uchiha itu. Hana menoleh dan tersenyum lebar melihat siapa yang datang.
"Guilliana, Duke… My boy!" Ia menghampiri mereka dan secepat kilat mengambil alih Duke dari gendongan ibu biologisnya.
"Mom!" Bocah laki-laki chubby itu memeluk leher hana dan mencium pipi ibu satu anak itu dan tersenyum geli ketika Hana mencium pipi tembemnya.
"Duduklah Guilliana, kau ingin kopi atau mungkin teh?" Hana menuntun mereka duduk di sofa putih letter u miliknya, Duke Mark masih berada di pangkuannya.
"teh saja. Suamiku tidak bisa ikut, dia minta maaf karena tidak bisa hadir keacara fashion line kita. Dan pakaiannya seharusnya sudah sampai." Hana mengangguk dan tersenyum,
"Sudah, pakaian yang kau kirim sudah tiba kemarin. Tetapi ada masalah lainkita kekurangan model. Kaitlyn mencedrai kakinya sendiri di club malam setelah New York Fashion week dua minggu yang lalu, tendonnya tergores dan akan mustahil baginya berjalan dengan heels dengan menggunakan tongkat." Ujar Hana, Guilliana mendesah frustasi, Ia menyesap segelas Ocha yang di sediakan pegawai Hana dan membiarkan putranya bermain dengan Mac Book milik Hana.
"Aku sudah mengirim semua model yang ku punya untuk fashion week disini dan pemotretan di Maldive. Akan sangat mustahil untuk memanggil mereka dari sesi pemotretan." Hana menghela nafasnya, wanita itu bersandar dan mengamati anak laki-laki Guilliana bermain dengan kertas dan pena miliknya.
"Aku tidak yakin ini akan bekerja. Tapi kita harus mencoba agar Fashion line kita tetap bisa berlaga di Tokyo Fashion week." Guilliana mengamati istri Uchiha Itachi itu dan memandnagnya heran saat ia mengambil ponselnya dan memanggil seseorang.
"Sakura… aku hanya ingin tahu apa kau punya waktu besok minggu?" Guilliana memiringkan kepalanya menerka nerka apa yang wanita ini katakan dalam Bahasa Jepang, ia memang memiliki separuh darah Jepang dari ibunya, tapi ia tidak pernah mempelajari bahasanya. Jangan salahkan dirinya untuk hal yang satu itu.
"Baiklah. Aku tunggu jam 10 di boutique. Selamat malam dan… aku tahu Sasuke sedang merayakan kepindahan mu ke apartement baru, tolong katakana kepadanya jangan menyetir saat sedang mabuk Itachi dan Otou-sama bisa membunuhnya kalau sampai dia melakukan itu. terimakasih." Hana mematikan Sambungan telfonnya dan menatap Guilliana yang memandangnya bingung,
"Siapa?" Hana mengangkat bahunya dan menyesap ochanya,
"pegawai baru, dia berbakat menjadi designer dan aku rasa dia berbakat menjadi seorang model juga. Sasuke sedang berusaha mendekatinya tapi saat aku menceritakan tentang dia, Ibu mertuaku memintaku untuk menyelidiki siapa gadis itu. kau tahu, seperti kebanyakan orang kaya pada umumnya. Duke, dia tumbuh luar biasa." Hana memandnag bocah laki-laki yang kini sudah duduk di pangkuan Guilliana dan menyesap coklat hangatnya, lalu berlari lagi bermain dengan kertas gambar dan penanya.
"Dia tidak akan ada di dunia ini kalau kau tidak mau meminjamkan Rahim mu empat tahun yang lalu. Aku bersyukur Itachi bisa memahami keputusanmu dan menerima ide gila ku." Hana tersenyum dan mengangguk,
"Aku akan melakukan apapun yang ku bisa untuk sahabatku. Lagi pula saat itu Itachi ingin menunda momongan tapi aku Ingin memiliki seorang anak. Walaupun Duke adalah anakmu dan Bill tapi menjadi ibu pengganti yang mengandungnya membuatku bahagia. Setidaknya, saat mengandung Meiko aku tahu apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan." Guilliana tersenyum,
"Aku selalu berharap kalau aku yang mengandung anak itu. Tapi kanker payudara dan rahimku yang lemah membuatku harus melibatkanmu. Aku tidak tahu lagi harus berterimakasih seperti apa lagi kepadamu. Anak itu, pasti akan ku jaga kau tidak usah khawatir." Hana tertawa,
"Kau tetap ibunya, Gills. Dia tumbuh menjadi anak yang luar biasa karena wanita yang luar biasa kuat seperti dirimu adalah ibu kandungnya." Guilliana tersenyum dan memeluk putranya Saat Duke berlari menghampirinya.
"Duke, Do you want to spent summer Holiday with me and Dad Itachi here in Japan next Year?" mata bocah laki-laki itu berbinar dan mengangguk antusias.
"Ya Tuhan anak ini." Guilliana tertawa melihat tingkah bocah laki-laki itu.
Sakura's New Apartement, Tokyo Japan
Sakura masih memandang layar ponselnya. Kira-kira kesalahan apa yang ia buat sampai Hana memanggilnya di hari libur? Pasti ada sesuatu yang salah, entah apa itu pasti dia melakukan kesalahan sampai Hana memanggilnya di hari libur. Gadis itu menampik pikiran buruknya dan membantu ibunya membawa nampan berisi sup kerang buatan ibunya ke ruang tengah tempat ia dan teman-temannya berkumpul.
Gadis merah jambu itu merasa ada yang kurang di sekelilingnya. Ia mengamati satu-persatu sahabatnya namun ia tidak bisa menemukan sosok Hinata diantara mereka. Kemana dia? Gadis merah jambu itu meraih mangkuk nasi dan sumpitnya, Sasuke tengah menertawakan lelucon konyol Naruto saat Sakura berdeham dan membuka suara.
"Hinata tidak ikut dengan kalian?" ia membuka suaranya, bagaimana bisa ia melupakan gadis indigo itu? yeah, Salahkan pantat ayam Uchiha ini untuk masalah yang satu itu. ia terlalu kesal untuk mengingat kalau Hinata tidak ada bersamanya.
"Aku bertemu dengannya tadi pagi dirumah, dia memintaku mengantarnya ke Museum tapi aku memiliki pekerjaan yang lain jadi aku menolaknya. Dia bilang ada tugas yang harus ia selesaikan hari ini." Sakura mengangguk mengerti dengan penjelasan Sasuke,
"Apa dia tahu kalau kalian kesini?" Sasuke hanya diam dan mencomot nasi dimangkuknya sekali lagi,
"Shion mencoba menelfonnya tapi tidak diangkat." Sakura menghela nafasnya, ketidak hadiran Hinata disini membuatnya merasa tidak enak.
"Aku akan ambilkan Shakenya lagi." Ujar gadis merah jambu itu lalu ia beranjak dari tempat duduknya.
"Sakura…" Ia hampir terlonjak dan menjatuhkan kedua botol Shake di tangannya saat Sasuke masuk kedalam dapur dan memanggil namanya,
"Bisa tidak sih tidak membuat ku terkejut. Kau ini menyebalkan sekali." Sasuke tersenyum tipis sambil memandang gadis itu,
"Boleh bertanya sesuatu?" tanyanya,
"Nanti. Kau bisa tanyakan semua yang ingin kau tanyakan padaku nanti. Aku harus memberikan sake – sake yang kelewat banyak ini untuk mereka." Ujarnya, Sasuke mengangguk lalu mengikuti gadis merah jambu itu dari belakang. Sakura memberikan Sake-sake itu kepada teman temannya dan berjalan kearah balkon sambil menenteng beer kaleng di tangannya. Sasuke mengikuti langkah gadis itu yang kini tengah duduk di kursi memandang langit malam.
"Apartemen mu lumayan juga." Ia membuka suara, Gadis merah jambu itu tersenyum lalu memandangnya tapi di detik berikutnya ia kembali memandang langit malam.
"Kau sedang berusaha menghinaku." Ujarnya, Sasuke tertawa rendah,
"Tidak, untuk seorang mahasiswa di tahun ketiga kau lumayan juga bisa membeli sebuah apartement dari hasil keringat mu. Aku percaya kalau kau serius belajar di bawah bimbingan Hana-nee dia pasti akan membuat debutmu sebentar lagi." Sakura tertawa dan meninju pelan lengan kekar Sasuke.
"Jangan membuatku terbang terlalu tinggi." Sasuke menegak beernya.
"Boleh bertanya sesuatu?" Sakura mengangguk lalu beralih memandang irish sekelam malam milik bungsu Uchiha yang duduk di sampingnya.
"Apa? Aku sudah berjanji akan menjawabnya." Sasuke mengangguk,
"Apa kau adalah putri dari Komisaris Haruno? Pemilik perusahaan tambang Haruno Energy Inc?" Sakura menghela nafasnya dan memandang langit sekali lagi sebelum mengangguk.
"tapi tidak lagi. Ayahku sudah lama meninggal dan perusahaan itu sudah lama gulung tikar. Tidak banyak yang bisa keluargaku lakukan. Ayahku memendam rasa malu sebagai pimpinan klan karena telah gagal menjaga kehormatan keluarga. Dia meninggal dua tahun yang lalu dan aku tidak bisa berbuat banyak.
Ayahku melakukan apapun untukku tapi aku tak bisa memberikan apa yang sepantasnya bisa ia dapatkan." Sakura menegak beernya, airmatanya sudah diujung tapi ia berusaha keras menahannya agar tidak jatuh, Sasuke memandang gadis kuat yang baru dua hari ini ia kenal mendadak menjadi rapuh.
"aku tidak tahu apapun tentang bisnis keluargaku. Yang aku tahu aku hanya ingin berdiri diatas kakiku sendiri. Bisnis, perusahaan dan uang bukankah hanya bersikap sementara? Aku tidak pernah mengerti apa arti dari itu semua sekalipun aku, kita di besarkan di satu lingkungan yang sama. Tapi bagi ku, semua hal itu adalah sumber dari kemunafikan berada.
Jika sebuah keluarga hancur dan terpecah belah hanya karena tiga hal mengerikan yang kau sebutkan barusan, maka ketiga hal itu tidak bisa disebut sebagai kehormatan keluarga. Ibuku, dia selalu menanamkan padaku jika, anak-anak adalah kehormatan keluarga yang sesungguhnya. Aku tidak tahu kau akan terima dengan pendapatku atau tidak tapi, menutup pintu untuk orang-orang yang ingin dekat denganmu, bukanlah solusi yang tepat Sakura. Kau bisa bekembang lebih baik dari yang seharusnya." Sakura tersenyum tipis
"Aku tahu. Ngomong-ngomong aku mencemaskan sesuatu." Gadis itu menghela nafasnya,
"apa?" Sasuke memasang wajah bingung kearahnya
"tidak. Hana-senpai menelfonku tadi, dia memintaku datang ke boutique di hari minggu. Menurutmu apa yang akan terjadi? dan, selain itu aku merasa bersalah kalau Hinata tidak ada disini. Dia yang memberikan bantuan banyak sekali termasuk memberikan uang muka untuk apartement ini. Aku harus mengganti uangnya atau paling tidak dia harus datang keacara ini." Sasuke menghela nafas dan mengeluarkan ponselnya, Sakura hanya memandangnya bingung,
"Hinata, ini aku." Sakura menaikkan sebelah alisnya memandang tak percaya bungsuUchiha yang kini berdiri menghadap arah berlawanan dan bersadandar pada pagar pembatas.
"tugas mu sudah selesai? Aku dan yang lainnya mengadakan pesta kecil kecilan di apartement baru Sakura, tidak keberatan kalau aku memintamu datang? Tidak, tidak perlu bawa macam-macam, kami sudah siap dengan persiapan pestanya. Baiklah, ibiki akan menjemputmu sebentar lagi. Aku ? tidak aku tidak bisa, Naruto sedang menyiapkan panggangan untuk bbq dan dia butuh bantuan. Kau tidak keberatan kalau ibiki yang menjemputmu kan? Baiklah, sampai bertemu." Ia memutus sambungan telfonnya dan memandang Sakura yang masih terpaku menatapnya,
"Kau meminta Hinata datang?" Sasuke mengangguk dan menegak Shakenya,
"ini adalah House warming party untuk apartement baru mu. Tidak sepatutnya kau menekuk wajah mu seperti itu." Sasuke mengacak acak surai pink Sakura sambil tertawa rendah lalu merangkul gadis merah jambu itu.
"besok minggu. Setelah kau bertemu dengan Hana-nee keberatan temani aku ke museum arsitektur? Anggap saja ajakan ini adalah ajakan kencan dariku." Sakura membebaskan dirinya dari Sasuke dan memandangnya
"sejujurnya Tuan Uchiha, kau bukanlah tipe pria yang akan aku kencani tapi karena kau sudah bersikap manis dengan tidak mengganggu hari ku selama seharian ini, aku rasa aku bisa menjadi teman kencanmu untuk hari minggu besok." Usai bicara demikian gadis merah jambu itu menyingkir dari padangannya dan masuk kedalam, membantu shion dan ino menyiapkan bahan-bahan bbq
"Teme, bantu aku mengangkat pandangannya." Naruto berteriak tepat didepan wajahnya, nyaris membuatnya jatuh terejengkang kebelakang.
"Tidak perlu berteriak Dobe." Dengan satu kalimat terakhir itu Ia menghampiri Naruto dan mengangkat panggangan bbq ke balkon.
Hinata's Apartement, Tokyo Japan
Hinata masih memandang layar ponselnya dan belum beranjak dari tempat duduknya, iya masih ingat kalimat Sasuke saat ia mengajaknya pergi untuk menemaninya ke museum design tapi pria itu menolak dengan alasan sedang mengerjakan sesuatu. Terlebih lagi, kalimat peringatan yang di tujukan padanya untuk tidak mencampuri urusannya. Sasukenya sudah berubah. Sasuke tidak pernah menolak ajakkannya dan bungsu Uchiha itu juga tidak pernah memintanya untuk menjauhi masalah pribadinya.
Kenapa? Dua tahun di Jerman bisa membuatnya berubah banyak. Apakah ini karena dua tahun masa studynya di Jerman atau karena Sasuke sudah memiliki seorang wanita yang di sukainya dan itu bukan Hinata? Tapi siapa? Sakura? Tidak mungkin. Mereka baru bertemu selama dua hari dan akan terlalu cepat untuk menarik kesimpulan bahwa Sasuke menyukai Sakura. Hinata menggelengkan kepalanya. Gadis itu mengambil potongan silet di laci nakas di sebelah tempat tidurnya dan mulai menyayat sendiri lengan kirinya. Darah segar mengalir dari luka yang ia buat sendiri. Ini hukuman. Berfikiran buruk tentang sahabat yang selalu melindunginya adalah kesalahan besar. Hinata membuang silet itu ke tempat sampah dan mencuci lukanya dengan air dari wastafel di dapurnya. Perih. Tapi tidak akan sesakit luka yang ada di hatinya.
Selesai membasuh lukanya dengan air dari keran wastafel gadis indigo itu meraih kotak P3K dan mulai merawat lukanya. Memberinya antiseptic dan membalutnya dengan perban. Nyeri dan Perih. Dua kata itu yang pantas menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini. Hinata menghapus air matanya dan menyapukan make up tipis di wajahnya, menyisir surai indigonya, dan mengambil beberapa pil dari laci meja riasnya. Menegak pil-pil itu dengan segelas air lalu mengambil tas tangan dan kunci mobilnya. Sasuke sudah mengundangnya. Walaupun ini adalah pesta biasa dirumah Sakura, ia ingin bertemu Sasuke dan membuat pria itu melihatnya.
Sakura's Apartement, Tokyo Japan
Sakura beranjak dari posisinya yang tengah memanggang daging dengan Sasuke dan menyerahkan tugasnya itu kepada Naruto saat bel intercom di pintu apartemennya berbunyi. Saat melihat Hinata dari layar intercom nya gadis itu tersenyum riang dan bergegas membuka pintu apartementnya. Hinata tersenyum manis dan memberikan pelukan kepadanya lalu menyodorkan sebuah paperbag besar berisi makanan dan beberapa hadiah.
"Kenapa tidak bilang kalau kau akan mengadakan House Warming party padaku? Aku kan bisa membantu mu dan Bibi Mebuki untuk menyiapkan pestanya." Hinata menggerutu sambil melepas Stilleto nya di genkan dan menggantinya dengan sandal rumah. Ia memberikan pelukan singkat kepada Mebuki dan menyapanya sebentar sebelum bergabung dengan teman-teman yang lainnya.
"Aku tidak merencanakannya sama sekali Hinata, mereka tiba-tiba datang dan menyerbu masuk, merubah ruang tamuku jadi tempat berpesta dalam hitungan menit. Salahkan Tuan Uchiha di sana itu, dia yang menyiapkan semua ide gila ini." Hinata tersenyum hambar dan beralih memandnag Sasuke yang memandang Sakura dengan pandangan bertanya,
"Aku? Aku hanya berusaha membuatmu senang di hari kepindahanmu. Bibi katakana padaku apa artinya sebuah kepindahan ke rumah baru tanpa membuat pesta Housewarming party?" Mebuki hanya tersenyum menanggapi pertanyaan bungsu Uchiha itu dan menggeleng pelan.
"Lihat? Bahkan ibumu menyukainya Sakura. Berterimakasihlah sedikit karena aku sudah membuat mu terlihat baik di mata teman-teman mu." Sakura menghampiri pria itu dan mengambil alih tempat Naruto. Ia memukul pelan lengan kekar Sasuke dengan pencapit yang ia gunakan untuk memukul daging.
"Kenapa memukulku?" Sakura menaikkan kedua bahunya,
"Hukuman untukmu yang suka merusak hari orang lain. Tuan Uchiha, kau harus belajar untuk mengurangi kebiasaan burukmu itu atau gadis gadis yang sedang kau dekati akan berlari menjauhi mu." Sasuke tersenyum pelan dan meletakkan daging hasil paggangannya di piring. Memberikan piringnya kepada Shion dan menyuruh kekasih Naruto itu mendistribusikan kepada yang lainnya.
"Aku tidak perlu takut tentang itu, Nona Haruno. Karena sebenarnya gadis yang aku dekati sekarang ini sedang berdiri di sampingku." Sakura menghentikan gerakkan tangannya dan memandang Sasuke sebentar. Ia memandnag kedalam sepasang irish sekelam malam milik pemuda Uchiha itu dan tidak menemukan kebohongan apapun, tapi sekali lagi kenyataan menamparnya.
"Ini. Makan dan habiskan ini." Ia menyerahkan piring berisi tiga potong danging sapi panggang itu kepada Sasuke dan mendorong pria itu untuk masuk kedalam ruang tamu dan menyisakan dirinya sendirian di balkon bersama Naruto.
"Kau tidak bisa menutup pintu masuk untuk Sasuke selamanya Sakura." Gadis itu menoleh, Naruto sudah berdiri di sebelahnya memanggang satai berisi daging dan paprika untuk dirinya sendiri, sebelah tangannya sibuk membolak-balik apa yang sedang ia panggang dan sebelahnya lagi menggenggam kaleng bir.
"Aku bukan orang yang pantas, perbedaan kami sangat jauh Naruto-senpai dia berhak mendapatkan seseorang yang lebih layak." Naruto menegak beernya dan bersandar pada tembok pembatas di balkon Sakura, memandang wajah gadis itu lalu tersenyum pelan,
"Kau menyukainya." Sakura memandang Naruto dengan wajah terbelalak,
"Aku tidak menyukainya… bagaimana mungkin aku berani bermimpi untuk bersamanya." Naruto tertawa rendah,
"Uang dan kedudukan. Sasuke bukan seseorang yang mementingkan itu semua begitu juga dengan keluarganya. Sakura, yang harus kau ketahui adalah, kau tidak bisa melarang perasaan seseorang untuk jatuh cinta kepadamu dan kau juga tidak berhak menghalangi perasaan mu untuk mencintai seseorang. Membodohi orang lain mungkin hal berdosa, tapi membohongi dirimu sendiri? Kau jauh akan lebih berdosa." Naruto melempar kaleng beer kosong ke bak sampah mini yang ada di sudut balkon dan mengambil piring plastik sebelum masuk kedalam untuk menikmati barbeque nya.
Sakura terdiam. Gadis itu mengambil dua potong daging dari panggangan dan ikut masuk kedalam apartemennya. Duduk di sebelah Shion sambil memakan perlahan makannya. Sepasang irish emerald miliknya masih enggan meninggalkan Sasuke sendirian. Makanan yang ada di mulutnya saat ini terasa seperti bola karet yang sulit ia telan dan hancurkan dengan gigi-giginya.
Kami-sama masih pantaskah dia? Setelah kehormatan keluarganya hancur dan perusahaannya gulung tikar, masih pantaskah dia mengharapkan Sasuke Uchiha? Putra konglomerat kaya yang baru dikenalnya selama dua hari? Apa yang akan di katakana bosnya kalau dia lancang menyukai adik ipar bosnya itu? Sakura menggelengkan kepalanya. Tidak ini tidak benar. Dia tidak bisa mencitai Sasuke Uchiha. Tapi bukankah ada pepatah yang mengatakan jika semakin kita menyangkal maka kisah cinta yang kita sangkal itu akan menjadi kenyataan? Apa yang harus ia lakukan?
TBC. Ini udah kelewat lamaaa…. Saya tahu kok… tapi bener-bener gak punya waktu karena tugas kuliah udah numpuk puk puk puk ketambahan aku baru sakit dan harus di rawat selama dua minggu, jadi minta maaf banget kalau baru update dan hasil updatenya kurang memuaskan.
Seperti biasa, gak ada karya yang sempurna selain karyanya yang maha kuasa. Karya saya pasti banyak kekurangan, mohon kritik dan saran seta koreksi dari kalian semua. Semoga chapter ini memuaskan.
See you in next chapter
Aphrodite girl 13 hahh
