Maaf Apdet nya lama. Males sekali mengetik cerita di leptop cacat. Tapi sekarang udah ada yang baru dooong/okeudahan/ Hm.. di fanfic ini saya di flame loh. Wkwkw... seneng deh ada yang ngeflame/remesbonekafudu/ Nggak ngerti sama pikiran ente. Kalau nggak suka ya nggak usah dibaca :v Oke langsung aja. Mungkin disini NaruSasunya kurang. tapi kalau chapter ini ditiadakan bakalan ada yang bolong/apasih/ Yasudah. Douzo~
Naruto (c) Masashi Kishimoto
AwK (c) Kiwok
Rate : T
WARNING!
FANFIC YAOI/BL, (Ya, anda bisa katakan ini gay, tapi bagi saya tidak :v)
INI PAIR NARUSASU. NARUTO SEME DAN SASUKE UKE. Kalau anda haters pairing ini, silahkan tekan tombol back
SEKALI LAGI...
INI PAIRING NARUSASU!
=:=
Saat ini kurang dari dua puluh menit pelajaran akan berakhir. Para murid SMP Konoha memperhatikan guru dengan tenang, atau pura pura memperhatikan guru dengan tenang. Entahlah…
Di kelas 3-1, Sasuke sedang sibuk mencatat rumus rumus fisika dengan telaten dibukunya sampai sesuatu bergetar di kantung celana. Ia berhenti mencatat dan dengan gerakan gesit meraih smartphone di kantungya, ada satu pesan tertera.
Sasuke, kelasmu sudah bubar? Aku ingin bicara nih..!
Bungsu Uchiha itu berdecak, lalu mengetik cepat dilayar touchscreennya.
Belum. Mungkin sebentar lagi. Nanti kekelas ku saja kalau sudah bel pulang, akan ku SMS.
Neji yang melihat Sasuke utak atik HP berucap lirih, menghindari teguran Anko-sensei. "Siapa yang SMS?"
"Namikaze-san. Katanya ingin bicara." Sahut Sasuke sekenanya. Neji hanya mengangguk.
=:=
Bel pulang sekolah akhirnya berdering. Suara erangan bahagia terdengar ketika sensei yang mengajar keluar dari kelas.
"Yang lain boleh pulang, kecuali Uzumaki Naruto." Ucapan Kakashi-sensei sebelum meninggalkan kelas 2-2 berhasil menohok Naruto.
"HEEE?! Nggak bisa begitu dong, Sensei! Aku ada urusan pen—"
"Kau harus mengerjakan tugas dari Asuma-sensei karena kau tadi nggak mengikuti pelajarannya dengan baik!" jelas Kakashi santai. Naruto menggerutu. "Tapi kan tadi Asuma-sensei sendiri yag menyuruhku keluar kelas!"
Kakashi jengkel, ia tahu karakter murid berambut pirang itu keras kepala dan nggak mau kalah, maka satu satunya cara adalah ia melepas masker ajaibnya lalu menatap iris biru Naruto. Pemuda pirang itu langsung diam dan mengangguk patuh. Ketahuilah… dibalik masker Kakashi-sensei, terdapat sebuah mata ampuh untuk menyuruh murid muridnya langsung patuh dengan sekali tatap.
.
"Gaaraaaaaa!" Naruto memohon pada teman seperjuangannya. Pemuda berambut kemeraan itu mendesah kesal, "Iya iya kutemani. Cepat kerjakan soal dari Asuma-sensei! Kalau ada yang nggak ngerti tanya!"
Mata Naruto berbinar haru. "Terimakasih Yang Mulia Gaaraaaa!"
=:=
20 menit setelah bel pulang berdering, seorang pemuda menawan berjalan menyusuri koridor kelas 2 menuju kelas 3. Setiap murid yang melewatinya menyapa dengan ramah. Hingga pemuda menawan dengan perawakan proposional dan aura kinclong itu memasuki kelas 3-1 yang agaknya sepi, melihat seseoang yang ingin ditemui ia berlari.
"Jangan berlarian, Namikaze-san!" Neji yang masih di kelas tiba tiba menyeletuk membuat pemuda yang sedari tadi menjadi pusat perhatian menoleh kearahnya lalu menghampiri. "Neji-kun! Kau makin ganteng saja,"
Neji mendengus namun tetap tersenyum. Ia sudah maklum dengan sikap terlalu memuji lawan bicaranya.
"Kenapa kau ingin menemuiku?" terdengar sebuah suara, Sang Namikaze beralih melihat siapa yang berucap. Sasuke Uchiha.
"Bertengkar lagi dengan kakak?"
Hening seperkian detik. Kemudian pemuda berjaz cokelat dipadu jeans beggie biru tua itu cemberut. "Ck! Dia itu kenapa sih? Sekarang cueknya keterlaluan! Kutelpon nggak diangkat, kalau kuajak ketemuan ataupun ngobrol berdua wajahnya pasti bete. Kalau aku jalan dengan teman yang lain dia malah marah marah. Terus ya… ka—"
"Cukup, Namikaze-san." Neji dengan tangkas menutup bibir elok pemuda yang dari tadi ngoceh itu dengan telunjuknya. "Kau membuat Sasuke pusing dengan ocehanmu."
Yang dibungkam melirik Sasuke, benar saja. Wajah bungsu Uchiha itu tampak keruh ia kerap memijit pelipisnya pelan. Pemuda Namikaze menatap benda lain, berucap dramatis kemudian. "Jangan jangan Tachi-kun sudah membenciku? Atau jangan jangan Tachi-kun sudah punya kekasih yang lain? At—"
"Namikaze-san…!" suara Neji menginterupsi, pemuda Hyuuga itu menahan bahu Namikaze yang sedang bergalau ria. "Itachi-san nggak mungkin seperti itu. Kau jangan terlalu berlebihan. Mungkin dia sedang ada masalah pribadi."
"Hm. Nii-san memang kadang labil. Namikaze-san tak usah cemas. Sampai rumah nanti akan ku tanyakan dengannya." Tanggap Sasuke kalem. Lawan bicaranya memandang Sasuke dengan wajah gemas, lalu berhambur memeluk calon ehemadikehemipar-nya. "Kau tetap imut walau sok cool, Sasuke…"
"Lepaskan, Namikaze-saan!" rengut sang raven. Neji terkekeh pelan.
=:=
Naruto hanya bisa mengatupkan mulutnya kuat kuat saat di ceramahi selama 10 menit oleh Asuma-sensei. Setelah selesai di petuahi yang hanya dianggap angin lalu, Naruto keluar dari ruang guru dan menemui sepupu kesayangannya di depan ruang guru sambil membawa tasnya.
"Sangkyu Gaara..!" Ujarnya ceria, namun detik berikutnya ia menggerutu. "Kuso! Guru disini rupaya sensitive! Apa dia tidak capek berbicara sampai berbusa busa gitu?!"
Gaara melirik jengah. "Kau tahu karma yang akan didapat jika mengumpat Guru, huh?" Naruto hanya memonyongkan bibirnya.
"Ck, sekarang kita pul—"
"Ketemu Sasuke dulu!" Seru Naruto langsung. "'Pokoknya hari ini aku ingin mengantarnya pulang!"
Mungkin Naruto terlalu semangat untuk ukuran remaja yang sedang jatuh cinta, tapi ia kurang menghargai jerih payah sepupunya yang sudah membantunya mengerjakan soal biologi dan menungguinya sampai Naruto benar benar diizinkan pulang, tapi pada akhirnya..
… Gaara pulang sendiri,
"Yasudah. Aku duluan." Ia mengucap dengan lidah kelu. Sedangkan Naruto langsung melesat kekelas Sasuke.
.
"SASU-CHAAAAN!" Dengan percaya diri Naruto yang menganggap Sasuke masih dikelas setelah sekolah lumayan sepi berteriak. Ketika melongok kedalam kelas, tiga orang pemuda yang ternyata ada di kelas menoleh kompak. Lalu mereka tercengang, lebih lebih Naruto.
"KYUUBI!" Naruto memekik, ia menuding sambil mendekati sang Namikze yang menatapnya jutek. "Ngapain kau disini?!"
"Terserah aku, Kau juga ngapain disini?!"
Balasan dari orang yang ditunjuk Naruto membuatnya menggeram. "Dengar ya, aku nggak suka kau ikut campur urusanku."
"Siapa juga yang mau ikut campur urusanmu?" Namikaze Kyuubi memutar bohlam matanya. Naruto berdecak, kemudian memanadang Sasuke seketika wajahnya berbinar ceria.
"Sasu-chaaaan~"
Bungsu Uchiha itu bergidik.
"Pffft…" suara orang menahan tawa. Naruto mendelik horror pada pemuda disamping kirinya. "APA YANG LUCU? NGGAK PERNAH LIHAT ORANG YANG LAGI KASMARAN YA?!"
Kyuubi lepas tertawa. Naruto hampir menampolnya.
Neji mengernyit hebat mendengar adik kelasnya membentak sang Namikaze. Maksudnya.. oh, siapa sih yang berani dan tega membentak pemuda dari anak pemilik sekolah dan cucu dari kepala sekolah kalau tak mau mendapat masalah? Neji boleh menginjak kaki Naruto sekarang.
"Sakit! Apaan sih, rambut berbi!" Naruto mendecih.
"Kau tahu sopan santun nggak!? Namikaze-san bukan orang sembarangan disini!"
Naruto berjengit tidak suka. "Namikaze-san? Siapa yang kau— oh… jadi kau mau sok sokan cari muka dengan nama Namikaze, huh?" pemuda itu melirik Kyuubi.
"Namaku mememang Namikaze Kyuubi, kau saja si anak mami!"
"Itu karena aku merendahkan diri, bodoh! Kau pulang sana, ganggu tahu!"
"Naruto!" Sasuke tiba tiba membentak. Ruangan sekitar langsung hening. Semua memandang sang Raven dengan bingung, tapi Sasuke hanya menahan kikuknya dengan wajah masam.
"Ahahaha… Maafkan dia Sasuke, adikku ini emang minta ditampol. Tampol saja, dia sudah kebal." Kyuubi berucap sambil memukul mukul pelan kepala Naruto yang lebih pendek 3 cm darinya.
"Kalian kakak-adik?" Neji nimbrung.
"Begitulah, " jawab Kyuubi simple.
"Lalu nama Uzumaki itu?"
"Marga ibuku. Kenapa? Kau tak suka? Mau protes hah!?" Naruto sewot mendadak. Pemuda berabut panjang disana hanya mendecih.
Sasuke mendesah lalu ia beranjak dari duduknya. "Aku pulang dulu."
"Tunggu Sasuke! Biar kuantar," Neji menggandeng tangan pemuda Raven itu. Naruto berjengit tak suka, iapun menggandeng tangan Sasuke yang satu lagi. "Aku juga akan mengantarmu!"
"Lepaskan." Sasuke menggeram. Para seme yang mengincarnya langsung melepaskan tangannya. Bedanya, Neji tersenyum maklum. Sedangkan Naruto menggerutu dan cemberut.
Tiba tiba sesuatu bedering. Ponsel Neji. Pemuda Hyuuga itu mengangkatnya dan mundur beberapa langkah untuk sekedar pembicaraan privasi. Tak lama Neji memutus sambunganya. Ia menghela nafas lalu menatap Sasuke dengan senyum terpaksa. "Kau pulanglah. Aku sedang ada urusan keluarga. Jangan lupa makan, ya."
"Hn.. kau juga hati hati." Balas Sasuke.
"Cih, pake sok sokan gentle!" Naruto mencibir, malah mendapat sikutan dari kakaknya. Detik berikutnya Naruto melongo melihat Neji mengecup pipi Sasuke.
"HYEEEEEEE! Apa-apaan kau!" Ia langsung menarik Sasuke kepelukannya. "Sasuke punyaku tahu! Ngapain cium cium, brengsek!"
"Cih, Sudah kukatakan kalau Sasuke punyaku." Neji tersenyum ironi, lalu keluar dari kelas. Sebelumnya ia mengangguk kepala hormat untuk Kyuubi.
"Punyaku!" Naruto masih jengkel. Sasuke yang masih dalam pelukannya dipeluk makin erat.
"Se-sesak!" ia meronta melepaskan diri. Naruto tersadar lalu melepaskan, "ehehe.. maaf."
"Na, Sasuke. Ayo pulang, kuantar dengan mobilku." Kyuubi berucap lembut. Dan tanpa basa basi menolak, Sasuke langsung mengangguk. Entahlah, mungkin dia lelah..
"Che! Kalau gitu aku juga ikut naik mobilmu!" Naruto menyela.
"Kau bukannya bareng Gaara?" Kyuubi terlihat enggan.
"Dia sudah pulang duluan. Sudah deh, nggak usah banyak tanya. Aku mau nganter Sasuke pulang!"
Kyuubi dan Sasuke mendengus kesal, namun akhirnya mereka menuju kediaman Uchiha dengan mobil Kyuubi.
=:=
Diperjalanan hening. Dari Kyuubi maupun Naruto tak ada yang berbicara, apalagi Sasuke. Namun ketika mata pemuda kuliahan yang sedang menyetir menoleh ke sisi kiri, ia cukup memekik.
"Kenapa?" Naruto bertanya.
"Sasuke tertidur." Kyuubi berbisik.
"Eh? Katamu rumahnya dekat! Pasti dia kelelahan."
"Dekat kalau jalan kaki lewat jalan pintas. Kalau naik mobil, harus putar arah, tahu! Jangan dibangunkan, nanti saja kalau sudah sampai."
Naruto mencibir, "Siapa juga yang mau membangunkanya?" mata shafirnya menatap lekat pemuda yang kerap tertidur, "Wajah tidurnya cantik sekali. Aku betah melihatnya."
"Idiot. Kau suka dengannya?" Kyuubi memekik tertahan.
"Bukan suka, tapi cinta."
"Cih! Gombalan apaan tuh. Sasuke sudah punya Neji."
"Sok tahu!" sela Naruto kesal, "Neji hanya temen Sasuke! Yah.. kalau nggak mau dibilang babunya sih,"
Kyuubi menoleh sekilas ke jok belakang. "Jaga mulutmu bodoh! Kau yang barbar ini nggak pantas dengan Sasuke yang kalem dan pendiam. Aku lebih mendukung Sasuke dengan Neji."
"Oho~ sayangnya itu takan terajadi. Sasuke akan jadi milikku."
"Terserahlah… capek ngomong sama kepala duren." Kyuubi fokus kembali menyetir. Naruto menyupah serapah dan hanya dianggap kentut kutilang. Tak sampai semenit, ia sudah memasuki perumahan tempat tinggal Uchiha.
"Sasuke… sudah sampai." Uzumaki sulung itu menepuk pelan pipi Sasuke.
"Eh? Udah sampai? Jadi ini rumah Sasuke?!" Naruto memekik. Sasuke mengerjap perlahan, lalu matanya terbuka seutuhnya.
"Ah.. maaf aku ketiduran." Sesal bungsu Uchiha itu lalu membuka kenop pintu mobil. "Mampir?"
"YA!" Seru Naruto seketika. Terdengar Sasuke mendengus. Niat basa basinya gagal.
"Tadaima…" pintu rumah dibuka, Naruto dan Kyuubi mengekor dari belakang.
"Okae—Eh? Kyuubi-nii?" Sai yang menyambut Sasuke mengernyit ketika melihat Kyuubi.
"Ah.. maaf mengganggu." Kyuubi tersenyum. Sai menggeleng. "Tidak. Aku sedang tidak banyak tugas. Ng.. tapi Itachi-nii belum pulang kuliah. Apa perlu ku tel—"
"Tidak. Tidak usah ditelpon. Aku tahu ia sibuk…. akhir akhir ini,"ucapan diakhirnya sedikit diseret. Naruto risih. "Apaan sih kau? Melankoli banget! Ah… Sumimasen menganggu Sai-san." Menatap Sai dengan senyum lima jarinya. Pemuda SMA disana menatap bingung. "Kau.. untuk apa kesini?"
"Ng.. untuk menemani Sasuke pulang. Sepertinya ia kelelahan."
Sai langsung menoleh pada adiknya yang kerap minum air putih didekat dispenser. Sasuke lalu men death glare Naruto. "Diam kau, Dobe."
"HEEEH!? Aku berkata yang sejujurya, Teme! Kalau kau tidak kecapekan nggak mungkin ketiduran dimobil dengan wajah cantik padahal jaraknya nggak terlalu jauh!"
Sasuke melotot dengan wajah padam. Bangkitlah emosi Sai, pemuda dengan senyum nggak pernah terlihat iklas itu gondok adek kesayangannya digombalin. Yah.. dia memang nggak bisa menggobal sih.
"Eqhem!" tegurnya kencang. "Sasuke, kau naik kekamar. Ganti baju habis itu makan."
"Eh? Kekamar? Aku ikut kekamar Sasu—"
BUAGH!
Tas Sasuke melayang ke wajah Naruto. Wajahnya kesal namun raut kemerahan masih tampak."Kau ini berisik! Cerewet! Bawel! Banyak tanya! Dobe! Idiot! Kuning! Aneh! Je—"
"Tapi kau suka kaaaan?"
Naruto sudah mengeliminasi jarak. Hidungnya sudah menyentuh dengan hidung kecil Sasuke. Dan ketika hendak menempelkan gumpalan pulmnya dengan sang Raven, kerah belakangya ditarik dengan sadis.
"Kyuubi brengsek! Kau pengganggu tahu!"
Jitakan ringan dari Kyuubi. "Apa kau mau dibunuh Sai, huh? Kau bukan siapa siapanya dan mau main asal cium?! Bego!"
Naruto melirik Sai yang balik memandangnya nyalang, tangannya sudah mengepal kuat menahan gejolak ingin mengasingkan Naruto kemanapun. Pemuda kuning itu nyengir, "Ng.. yang tadi tubuhku lagi dipengaruhi Iblis rubah. Ehe.. he.. nggak bermaksud ngapa-ngapain Sasuke kok." Alibi absurd Naruto hanya ditanggapi dengusan Sai.
"Sasuke, kenapa kau nggak menghidar? Padahal saat si Bodoh ini monyongin bibirnya, bisa saja kau menaboknya?" Pertanyaan Kyuubi jebakan betmen.-. Naruto langsung menyeringai, "Sudah jelaskan? Sasuke itu suka padaku. Bentar lagi juga resmi meni—"
—BUAAGH!
"Namikaze-san… Sudah kulakukan." Sasuke berujar kalem. Menahan mati matian rona wajahnya agar tidak kemerahan. Apa kata dunianime kalau Uchiha terpesona dan nggak bisa menghindar atau menabok orang idiot.
"Kyuubi." Tiba tiba suara bariton khas memanggil. Anak kedua keluarga Uchiha telah pulang. Mengetahui mobil sport oranye terpakir dirumahnya ia tahu ada tamu 'spesial' yang berkunjung.
"Tachi-kun, Okae—"
"Untuk apa kau kesini? Pulanglah!"
Kyuubi tak habis pikir ucapannya dipotong dengan dingin. Ia menatap gusar.
"Namikaze-san mengantarku pulang tadi." Sasuke berbicara mendekati kakaknya.
"Nee, nee, Aku juga ikut mengantarnya lho, Itachi-san!" Naruto berseru ceria. Itachi menatapnya lalu mengernyit, "Naruto Uzumaki. Untuk apa kau ke—""
"Dia adikku." sela Kyuubi kemudian. "Maaf kalau aku dan dia menganggu. Aku pulang dulu,"
"Eeeh?! Tu-tunggu Kyuubi! Aku belum main kekamarnya Sasuke niih. Adaw! Jangan main asal nempeleng, dong!" Serapahan Naruto hanya ditatap datar oleh keluarga Uchiha yang ada ketika sang Uzumaki dan Namikaze itu keluar dari kediaman Uchiha.
.
"Nii-san, Ada masalah apa dengan Namikaze-san?" Sasuke bertanya, pandangannya tak suka.
"Tidak ada. Aku hanya sedang lelah."
"Maksudmu?"
"Kau tak akan mengerti. Dan... cepat ganti baju sana!" Itachi mendorong Sasuke memasuki kamar. Sadar adik yang satunya menatap serius dengan mata kosong, ia berceletuk. "Oh ya, Sai... Pacarmu sepertinya menunggu didepan."
"Eeh!?" Sai sadar dari lamunnya memikirkan sikap Itachi. Ia segera medekati pintu.
"Maksudku..., bohong. Berhenti berfikir untuk mencari tahu urusanku."
Ketahuan. Sai nyengir ironi. "Aku ini peka, lho. Lagi ada masalah kan?"
Itachi melotot pada sang adik, Sai terkekeh lalu menduduki sofa ruang tamu. "makan malamnya aku mau makan Chicken Katsu."
Guratan kesal tertera di dahi Itachi.
"Aku juga mau, Nii-san." Sasuke menimpali dengan kalem dari dalam kamarnya.
"Ara... Baiklah baiklah!" Itachi segera menuju dapur untuk memasak makan malam.
=:=
"Hoi.. hoi! Pelan pelan nyetirnya, Kyuubi!" Naruto menahan ngeri ketika mobil sport kakaknya melaju kencang.
"Kyuubi!"
"Naruto," sang kakak mulai melambatkan mobilnya. "Ciri ciri orang minta putus hubungan itu... apa dengan cara mengacuhkan?"
Naruto tidak sebodoh yang pembaca bayangkan. Ia mengerti kakaknya kerap sedih karena masalah cinta. "Apa yang kau maksud itu Itachi-san? Kau berhubungan dengannya?"
"Sudah lama. Dasar kolot!"
Perempatan siku muncul di dahi Naruto, menggeram. "Kau kan tak pernah cerita! dan jangan panggil aku kolot kalau kau tak tahu berapa umurmu sendiri!"
"Ah... kau memang bukan adik yang asik." Kyuubi mendesah lalu mulai memacu gas mobilnya.
"Hwaa Kyuubi! Pelan pelan! Iya iya... kudengarkan keluh mu! Apaan sih!?"
Laju mobil kembali lambat.
"Sudahlah... urusi saja urusan cintamu. Hati hati, keluarga Uchiha sangan protektif terhadap Sasuke."
Naruto lalu terdiam. Walau ia sering bertengkar dengan kakaknya yang jarang bertemu karena Naruto diseret seret sang ibu keliling dunia, ia sangat tahu kalau Kyuubi nggak pernah se galau ini kalau bukan masalah cinta yang sudah serius. Catat, yang sudah serius...
End of Chapter 4
