Shame on me. Shame on me.
Bye life. Bye.
Ini apa yang gue tulis. Wkwk~
eh, review pleaseu~
.
.
.
Jongin mengeringkan rambutnya dengan handuk sembari menyiram tembok kamar mandinya. Ekspresinya datar. Bahkan sesekali dia menghela nafasnya kuat-kuat. Hidupnya serasa membosankan akhir-akhir ini; apalagi dengan kesibukannya yang itu-itu saja. Makan, tidur, main game, menonton televisi, dan yang paling tidak penting; melampiaskan kebutuhannya.
"Maafkan Appa, anak-anak."
Paham maksudnya? Yup, setelah melakukannya di ranjang, Jongin mengulanginya di kamar mandi. Seriously, he needs to get laid. Sudah berulang kali Jongin diperingatkan oleh Sehun untuk sekadar pergi ke bar dan mencari pasangan one-night-stand, tapi Jongin selalu menolak. Dia berdalih bahwa sekarang dia bukan orang biasa lagi yang bisa begitu. Banyak orang yang memperhatikan gerak-geriknya; apalagi paparazzi itu. Selalu mengikuti langkahnya kemanapun dia pergi. Bukan berarti Jongin mengeluh. Dia menyadari benar bagaimana popularitasnya yang sedang naik sekarang. Oleh karena itu dia tahu jika dia tidak bisa lagi menjadi Jongin yang berandalan dan menebar kelakuan nakalnya kemana-mana. Bukan nakal, tapi… ya begitulah. Pria hormonal.
Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju ruang tengah. Handuk yang berguna untuk mengeringkan kepalanya itu masih bersarang disana. Helaan nafas keluar dari dirinya berkali-kali. Hidupnya serasa bosan. Dia sadar pekerjaannya melelahkan, tapi menganggur begitu bagi dirinya sangat membosankan. Jongin memainkan ponselnya dan melihat-lihat berita yang ada di sebuah laman. Matanya terbelalak ketika melihat ada gosip dirinya gay. Sejenak Jongin berpikir bahwa itu adalah strategi marketing agar drama web-nya menjadi laku. Dia tidak peduli, lagipula banyak yang mendukungnya untuk gay. Meskipun dengan Baekhyun yang sekarang menelantarkan dirinya dengan pria lain. Bukan Jongin berharap agar Baekhyun bersama dirinya, tapi yang dia tahu, fansnya tidak akan meninggalkan dirinya meskipun dia gay. Yah, meskipun Jongin seseorang yang straight, bukan gay.
"JONGIN!"
Jongin mengalihkan perhatiannya pada monitor pintu yang baru saja berbunyi. Senyumnya mengembang ketika tahu bahwa Kyungsoolah yang baru saja memanggilnya. Dengan jejak kaki yang berjinjit, dia bergegas membukakan pintu untuk partner drama web-nya tersebut. Dia semangat, tentu. Karena ada orang yang akan membuatkannya makan malam tanpa pamrih.
"Sebentar!" lelaki itu membukakan pintu dan melihat seseorang dengan kacamata bulatnya disana, "Masuk, Hyung."
Jujur, Jongin sedikit kikuk. Dengan kejadian sebelumnya dan apa yang dia lakukan di kamar serta kamar mandi tadi mengotori otaknya. Tunggu, otak Jongin sudah kotor. Tidak akan mungkin lebih kotor dari itu.
"Oh, aku membawakan makanan kecil untukmu. Kau mau?"
Jongin mengangguk, "Tentu saja," dia mengikuti Kyungsoo yang sudah mengedarkan dirinya di dalam rumah Jongin, "Chanyeol Hyung sudah pergi?"
"Chanyeollie Hyung? Tentu. Dia langsung menjemput manajermu—tak kukira mereka benar-benar berkencan."
"Baekhyun Hyung menginginkan keturunan dari manajermu—"
"OH?" Kyungsoo menatap Jongin dengan mata yang membulat, "Baekhyunnie Hyung punya gen pembawa?" Jongin mengangguk, "Sama denganku…" gumamnya perlahan.
Meskipun Kyungsoo berusaha membuat suaranya selirih mungkin, Jongin tetap mendengarnya. Tetapi, untungnya, Jongin berpura-pura sibuk dengan makanan yang baru saja Kyungsoo bawa padanya. Lelaki berkulit tanned itu sibuk menyeleksi beberapa snack seperti keripik kentang dan bahkan popcorn disana. Iya, dia pura-pura sibuk, padahal otaknya memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh partnernya tersebut.
"Jongin," Kyungsoo mendudukkan dirinya di kursi di dapur Jongin, "kau ingin makan sesuatu?" tanyanya seakan mengubah topik pembicaraan dan memecah keheningan disana.
Jongin mendongakkan kepalanya, "Hmm… kau lihat saja di lemari es—kau bisa memilih bahannya disana. Ah," dia tersenyum kecil, "kau bisa menganggap rumahku seperti rumahmu sendiri. Lagipula aku sudah merepotkanmu, 'kan?"
Lelaki berkulit pucat itu tersenyum sembari beranjak untuk meneliti lemari es Jongin, "Santai saja. Lagipula aku tidak akan berteman jika berada di rumah. Ngomong-ngomong, aku ragu jika Chanyeollie akan pulang untuk menjemputku malam ini."
"Tentu mereka akan pergi untuk menginap entah dimana."
Kyungsoo hanya tertawa kecil ketika mendengar gerutu dari Jongin. Dia, sudah mulai menyibukkan dirinya disana. Sesekali dia bertanya pada Jongin yang sudah mulai membuka makanan kecil itu satu persatu. Bahkan dia sudah bisa mendengar suara Jongin yang sedang mengunyah sesuatu. Jongin sendiri terdengar menjawab pertanyaannya dengan mulut yang penuh. Sesaat Kyungsoo menganggap Jongin masih sangat childish. Meskipun di otaknya tidak berhenti memikirkan apa yang mereka lakukan pagi sebelumnya. Iya, Jongin yang childish itu bisa membuatnya mabuk karena menciumnya seperti itu. Kyungsoo sudah merasakan pipinya menghangat. Dengan memikirkan hal itu saja sudah sukses membuatnya tersipu malu.
"Kau membutuhkan bantuan, Hyung?" ucap Jongin dengan mulut penuh dengan keripik kentang kesukaannya.
"Iya. Butuh."
"Apa?"
Kyungsoo membalikkan badannya dan tersenyum, "Duduk dan menonton televisi saja."
"Aku mengganggumu?" tanya Jongin dengan bibir yang mengerucut.
Ah, adorable. Like a kicked puppy.
"Tidak, Jongin. Hanya saja—" Kyungsoo terkikik sendirian, "kau terkadang menjawab ucapanku dengan hal yang tidak sesuai. Aku bertanya apa, dan kau menjawab hal yang sebaliknya."
"Hei! Aku sedang sibuk makan—"
"Shoo! Sana, aku akan menyiapkan semuanya."
Jongin hanya bisa menurut dan menonton pertandingan basket sembari menunggu Kyungsoo yang sibuk di dapurnya. Sesekali dia melirik dan mendapati Kyungsoo yang bergerak kesana-kemari. Jongin tidak mengerti, lelaki itu benar-benar super tiny; mungil. Bahkan dia lebih pendek dari Baekhyun. Meskipun Baekhyun punya badan yang lebih langsing darinya. Hei, bukan berarti Kyungsoo seseorang yang gemuk. Hanya saja… dia berisi. Apalagi yang dilihat Jongin sekarang; his ass—wait. Forget it.
Jongin membuyarkan tatapannya yang mulai mengarah ke daerah yang tidak-tidak. Dia mendaratkan matanya ke televisi kesayangannya lagi. Meskipun kemudian kedua bola matanya menjelajah ke arah sofa dimana dia dan Kyungsoo… make out. Dia menghela nafas dan sedikit merengek. Dia tidak mengerti mengapa pria yang membuatkan makanan untuknya itu benar-benar menyita pikirannya. Baru saja dia mengenalnya dan akrab. Seharusnya Jongin merasa curiga, tapi di dalam hatinya dia sudah menyimpulkan bahwa Kyungsoo lelaki yang baik-baik. Bagaimana tidak, Kyungsoo saja polosnya bukan main—dan siap Jongin kotori dengan otak mesumnya itu.
Sudah lebih dari setengah jam. Jongin sekarang merebahkan dirinya dan membaca webtoon di ponselnya. Sedari tadi dia membiarkan panggilan tidak dikenal itu masuk dan tak dijawab. Entah, mungkin sasaeng fansnya. Dia mencari-cari webtoon apa yang menarik, dan dia mendapati Prince of Prince. Dia tahu itu seri Yaoi, tapi dia tetap membacanya. Hei, membaca Yaoi bukan berarti seorang gay.
Kepalanya menoleh ketika mendengar Kyungsoo terkikik dari kejauhan. Lelaki berkacamata itu juga sedang sibuk dengan ponselnya. Jongin sudah tidak mengindahkan webtoon dan lebih memilih untuk melihat Kyungsoo yang tertawa sembari bersandar di pintu lemari es situ. Ah, sepertinya dia menunggu masakannya matang. Apron milik Jongin yang bergambar Pororo itu dipakai oleh Kyungsoo. Sesaat Jongin menyadari bahwa banyak kesamaan antara Kyungsoo dengan Pororo.
.
.
.
"Hei, Jongin."
Jongin membuka matanya perlahan dan mendapati Kyungsoo membungkuk. Wajah mereka berjarak mungkin 20 sentimeter saja. Jongin tertidur. Iya, setelah sibuk mencari persamaan antara Kyungsoo dan Pororo, dia tertidur.
"Ayo makan." Ucap Kyungsoo lembut.
"OH?" Jongin bergerak duduk, "Aku tertidur?"
"Mungkin kau sudah tidur sejak setengah jam yang lalu."
Jongin menghela nafasnya, "Astaga. Aku ini."
Dengan langkah terseret, Jongin mengikuti Kyungsoo dan duduk di meja makan miliknya. Dia melihat beberapa makanan dan side dish sudah ada disana. Perutnya sudah memberontak dan meminta untuk diisi; benar, dia kelaparan setengah mati. Meskipun masih setengah sadar, Jongin melahap makannanya. Ey, hidup Jongin hanya untuk makan dan tidur, atau bahkan mungkin makan sambil tertidur. Matanya menatap ke arah sembarang dengan pandangan kosong, tetapi tangannya bergerak untuk mengambil makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. Semua bergerak otomatis.
Suasana diam tidak berlangsung lama setelah dengan tidak sengaja Kyungsoo tersedak. Dengan terkejut Jongin segera mengambil segelas air dan menyodorkannya pada pria tersebut. Jongin tertawa ketika mendapati mata dan hidung Kyungsoo sudah berair. Mungkin karena makanannya sedikit pedas hingga membuat Kyungsoo seperti itu. Setelahnya, mereka berbincang. Mulai dari kehidupan keseharian mereka, hingga cerita bagaimana Kyungsoo bisa debut menjadi seorang aktor. Bahkan Jongin juga menceritakan tentang galaknya Baekhyun dan bagaimana manajernya menghardik staf drama yang dia mainkan sebelumnya. Jongin bisa melihat Kyungsoo tertawa, bahkan mata bulat itu hilang di balik kelopaknya seperti matahari yang sudah saatnya terbenam.
"Hei, kau bisa tersedak lagi nanti." Ucap Jongin yang tersenyum simpul ketika melihat Kyungsoo tertawa itu.
"Tidak, aku hanya—astaga," Kyungsoo berusaha mengatur nafasnya dan menenggak minum, "aku hanya membayangkan Chanyeol Hyung nantinya—he will be so whipped, you know."
"Ah, aku meragukan itu. Baekhyun Hyung benar-benar menyukai manajermu. Jadi aku pikir dia tidak akan segalak itu."
"Tapi Chanyeol Hyung sangat ceroboh. Meskipun dia lebih tua dua tahun dariku—bahkan manajerku, dia lebih ceroboh dan sembrono. Aku sering mengingatkannya tentang ini itu."
"Well, kita tidak akan tahu. Kita lihat saja nanti. Atau sepertinya kita yang akan menjadi penengah jika mereka bertengkar—ah, aku sudah membayangkan betapa repotnya mendengar suara Baekhyun Hyung."
Lelaki yang duduk di hadapan Jongin itu tertawa lagi. Sekarang Jongin merasa gemas. Ayolah, setiap Kyungsoo tertawa kulitnya yang berwarna pucat itu berubah menjadi merah muda. Pipinya yang chubby juga memancing Jongin untuk mencubitnya. Itu sebuah siksaan bagi Jongin. Benar-benar sebuah siksaan.
Jongin bersikukuh untuk mencuci semua piringnya, tapi Kyungsoo tidak memperbolehkan. Untung bagi Jongin sih. Meskipun sepertinya, Jongin yakin sebenarnya Kyungsoo tidak percaya dengan minus hand yang dimilikinya—karena Jongin sudah menceritakan penyakitnya tersebut. Minus hand, iya. Mudah merusakkan barang yang dipegangnya. Dia hanya bersandar di samping Kyungsoo yang sibuk itu. Mereka tetap berbincang. Benar, mereka terbawa suasana. Hingga tidak sadar jika ada yang baru masuk ke dalam rumah dan sudah duduk di ruang tengah mengawasi mereka.
"Heol."
Jongin dan Kyungsoo menoleh ketika mendengar suara tersebut. Ketika melihat siapa yang ada disana, wajah Jongin berubah layaknya sudah bosan dengan sesuatu.
"YA! Bisa tidak masuk dengan cara yang lebih sopan?" ucapnya.
"Untuk apa? Toh aku sudah tahu apa password apartmentmu, Hyung," lelaki itu beranjak untuk duduk di meja makan dengan tangan yang membawa keripik kentang milik Jongin sebelumnya.
"Ada perlu apa kemari?" tanya Jongin datar.
"Mengunjungimu. Kau tidak merindukan adikmu ini? Sama sekali?"
Jongin duduk di hadapan lelaki itu dan merebut keripik kentang miliknya, "Tidak, Kim Mingyu. Aku bosan denganmu," dia mengetuk dahi adiknya dan tertawa, "ah, Mingyu-ya, perkenalkan, ini Kyungsoo Hyung, partnerku di drama nanti."
"Hei, Hyung!" Mingyu mengusap-usapkan tangan bekas keripik kentang itu ke celana dan menjulurkannya pada Kyungsoo yang sekarang duduk di samping Jongin, "Aku Kim Mingyu, adik lelaki labil ini."
Kyungsoo tertawa kecil karena Jongin menggertak Mingyu baru saja, "Aku Do Kyungsoo, senang berkenalan denganmu, Mingyu-ya."
Awalnya Jongin merasa lucu. Karena adik satu-satunya itu berkenalan dengan Kyungsoo yang menjadi partnernya. Tapi lama-kelamaan dia ingin mengusir adiknya sendiri. Ah, Mingyu sendiri sama seperti Sehun; Bubbly. Hanya saja Mingyu lebih hiperaktif dari lelaki berwajah vampir itu. Seperti sekarang, baru sebentar saja, Mingyu sudah akrab dengan Kyungsoo seperti sudah lama kenal. Dan itu sukses membuat Jongin merasa ditelantarkan dan hanya menjadi pendengar saja. Tidak, Jongin tidak cemburu. Hanya saja dia merasa disisihkan.
"Kim Mingyu." Ucap Jongin yang kemudian membuat tawa Mingyu terhenti.
"Yeah, ma Big Bro?"
"Kau tidak ingin pulang ke apartmentmu sendiri?" tanya Jongin terus terang.
"Kau mengusirku, Hyung?"
"Bukannya aku berhak mengusirmu?"
Mingyu membuat ekspresi tersindirnya, "Kau benar-benar tidak menyukai adikmu sendiri?"
"YA! You, son of a bitch," Jongin menggerutu dan berjalan untuk menyeret adiknya ke depan pintu, "pulang sekarang sebelum Wonwoo menerorku karena mencarimu kemana-mana."
Mingyu yang didorong oleh Jongin itu hanya mendelik dan mendecakkan lidahnya, "Wonwoo sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. By the way, Hyung—" Mingyu melihat keadaan sekitar sebelum berbisik, "kau berkencan dengan Kyungsoo Hyung?"
"HISH! Aku bukan gay sepertimu—"
"Tapi kau cemburu melihatku berbincang dengannya. Kau tidak bisa membohongiku!"
Jongin menoleh ke belakang—untuk melihat Kyungsoo ada atau tidak—dan berbisik lagi, "HUSH! Sana! Pergi sebelum aku menelepon Eomma dan mengatakan kau selalu membolos kelas—"
"Aku tidak seperti dirimu, Dimwit," Mingyu mendelik pada kakaknya itu, "aku yang akan mengatakan pada Eomma bahwa kau memanggil Eomma dengan sebutan bitch—"
"EH? Aku tidak menyebutnya begitu—"
"You called me son of a bitch so our mom is a bitch—okay, sepertinya kita sama-sama sons of a bitch," Mingyu mulai memakai sepatunya, "aku baru dicasting menjadi seorang idol, Hyung." Ucapnya.
"Benarkah? Aku harus senang atau bagaimana—"
Mingyu berdiri dan mengangkat kepalan tangannya seperti akan memukul Jongin, "Kau seharusnya bangga padaku, Bajingan."
Jongin terkekeh saat melihat eskpresi emosi adiknya itu, "Aku bangga padamu, Gyu. Hanya saja, aku minta kau tidak membawa-bawa namaku disaat menjadi trainee nanti. Aku tidak ingin namamu menjadi buruk bahkan sebelum kau debut. Kau tahu sendiri netizen pasti akan mengkritikmu layaknya kau mendompleng namaku—"
"Aku mengerti, Hyung. Thanks, by the way. Ah Hyung."
"Hm?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa?"
Lelaki itu membuka pintu dan kemudian berbalik badan hanya untuk memegang kedua pundak milik kakaknya, "Jangan membuat Kyungsoo Hyung hamil sebelum kau menikah dengannya." Ucapnya sebelum akhirnya berlari untuk menyelamatkan diri.
"YA! Son of a bitch—" Jongin menggerutu, "wait, we are sons of a bitch, I guess." Gumamnya yang kemudian terkekeh sendirian.
.
.
.
Jongin mendapati Kyungsoo duduk di ruang tengah dengan pakaian yang sudah rapi. Bahkan dia duduk dengan tenang bersama ponsel yang tergenggam di kedua tangannya. Jongin merasa pria tersebut terlihat sangat mungil. Bahkan terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan dirinya—apalagi Mingyu.
"Jongin, sepertinya aku pulang sekarang." Ucap Kyungsoo yang menyadari jika Jongin sudah kembali.
"Chanyeol Hyung menjemputmu?"
Kyungsoo menggeleng, "Aku bisa naik taksi saja."
Jongin menimang pernyataan tersebut. Dia tidak tega jika harus membiarkan Kyungsoo pulang sendirian. Bukan berarti Kyungsoo seseorang yang lemah, tapi tetap saja. Jongin baru saja merepotkan dirinya, dan membiarkannya pulang sendirian? Hei, Jongin bukan laki-laki yang setega itu. Tapi, dia tidak akan bisa keluar rumah sembarangan. Ayolah, banyak yang mengawasinya. Jika dia masih aktor rookie seperti Kyungsoo sepertinya tidak akan ada masalah. Tapi Jongin sudah punya banyak paparazzi, tentu dia tidak seharusnya ceroboh dan sembrono.
"Apa kau tidak lebih baik menginap disini saja?" Jongin melihat Kyungsoo yang membelalakkan matanya, "Jangan mengira yang tidak-tidak, Hyung. Kau bisa tidur di kamar milik Mingyu disana—dan Chanyeol Hyung pasti akan menjemputmu besok pagi. How? Sounds good, right?"
"Hmm… tapi—"
"Lagipula aku tidak mungkin membiarkan kau pulang sendirian dan aku, juga tidak mungkin mengantarkanmu pulang—yea, you know, paparazzi everywhere—"
"Okay."
"Hm?"
"Aku akan menginap disini, Jongin."
Dengan senyum puasnya, Jongin berjalan dan mendudukkan dirinya di samping Kyungsoo. Baru pertama kali setelah beberapa tahun dia mendapat teman di apartmentnya yang normal. Maksudnya, jika dengan Sehun, dia akan bertengkar dan saling memaki. Wait, dengan Baekhyun juga. Hm, dengan Mingyu pula. Mungkin semuanya. Sekarang, dengan Kyungsoo, dia merasa apartmentnya lebih penuh, tapi bersuasana tenang.
Dia sudah menyiapkan makanan kecil yang dibawa oleh Kyungsoo di meja ruang tengah itu. Mereka menonton sebuah film yang entah, mereka sendiri juga belum pernah melihat sebelumnya. Sesekali mereka mengomentari akting dari pemainnya jika ada yang janggal. Tapi selebihnya, mereka hanya dia di antara suasana gelap ruang tengah tersebut—karena Jongin sudah mematikan lampunya. Hanya terdengar suara televisi dan kunyahan makanan. Atau mungkin sesekali Kyungsoo dan Jongin tertawa jika ada adegan yang lucu.
"UHUK!"
Jongin menoleh dan mendapati Kyungsoo tersedak; lagi. Kemudian, Jongin berlari untuk mengambilkan segelas air untuk lelaki yang sekarang menghadap dirinya tersebut.
"Kau ini, jangan tertawa kalau sedang makan." Ucap Jongin dengan tangan yang mengacak-acak rambut lelaki itu.
Kyungsoo menenggak air itu dan kemudian menaruh gelasnya, "Tapi itu benar-benar lucu. Astaga, tenggorokanku terasa sakit—"
Jongin terperanjat. Mereka hanya berjarak beberapa senti. Bahkan Jongin bisa melihat sedikit pantulan dirinya dari mata bulat Kyungsoo. Ah, Kyungsoo melepas kacamatanya. Mata polos itu menjadi hal yang menarik bagi Jongin hingga dia tidak sadar jika sudah mengamatinya dalam waktu yang tidak sebentar. Tapi, setelahnya, tatapan itu bergerak turun. Tepat di bibir Kyungsoo yang berwarna merah muda. Entah, Jongin sendiri tidak mengerti mengapa bibir itu bisa berwarna hingga terlihat begitu menarik.
Jarak yang semula mungkin sekitar delapan senti bergerak menyempit. Hingga akhirnya, jarak itu sudah hilang dengan sendirinya. Jongin memejamkan matanya dan melekatkan bibirnya dengan milik Kyungsoo, yang sekarang juga dengan mata tertutup. Awalnya hanya sebuah ciuman polos, hingga akhirnya Jongin yang memulai. Lelaki itu menghisap bibir Kyungsoo dengan perlahan, dan tangannya mulai menarik badan Kyungsoo agar lebih dekat. Hisapan itu semula kecil, hingga akhirnya terasa butuh. Suara decakan mulai terdengar jelas dari sana. Bahkan jarak badan mereka sudah lenyap; tak berjarak; menempel.
Kyungsoo menarik kepalanya dan membuka mata. Dia melihat lelaki di hadapannya itu juga mulai membuka kelopaknya. Dia juga bisa memperhatikan bibir Jongin basah; mengkilap. Mungkin karena air liur mereka yang sudah bercampur satu sama lain. Otaknya masih kelabu. Belum mengerti mengapa kejadian itu terulang lagi. Sampai-sampai, dia juga belum tersadar, jika mereka saling menatap satu sama lain dalam waktu yang tidak sebentar, sebelum akhirnya, Jongin menarik tengkuknya agar mendekat.
Bibir itu bertumbukkan lagi. Bahkan seperti sedang kelaparan dan memakan satu sama lain. Kali ini justru semakin menuntut dibanding sebelumnya. Dan tak lama setelahnya, Jongin mendudukkan Kyungsoo di pangkuannya; lagi. Jongin juga melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Kyungsoo—dengan keadaan bibir yang masih terpaut satu sama lain. Setelah bosan, Jongin menurunkan bibirnya ke arah leher. Tunggu, bekas siang tadi masih baru saja membiru, dan sekarang Jongin sudah memberinya lagi.
"Jongin…"
Kyungsoo hanya bisa meremas pundak Jongin perlahan. Tapi suara rinntihan yang keluar dari bibir Kyungsoo itu malah membuat Jongin semakin semangat saja. Telapak tangannya itu bahkan sudah meraba pinggang Kyungsoo. Dia merasa tangannya hangat, dan semakin hangat ketika sudah berada di daerah punggung lelaki itu. Semua berjalan semakin parah, hingga Kyungsoo mulai merasa pinggulnya bergerak dengan sendirinya. Walaupun akhirnya—
"Jongin!" seru Kyungsoo dengan mata yang terbelalak.
Jongin, yang telapak tangannya masih berada di balik baju Kyungsoo itu menghentikan aksinya dan menatap Kyungsoo horor, "Hyung—"
"Aku duduk di atas—wait, Jongin, why are you getting hard—"
"Tunggu—" setelah dia menyadari apa maksud Kyungsoo, dia mendorong lelaki itu dan berlari ke dalam kamarnya. Dengan keringat dingin dia bergegas menuju kamar mandi dan… menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.
.
.
.
"Stupid dick! Stupid hormones! Stupid Jongin! Argh—"
Jongin, yang sudah menyelesaikan urusannya itu menggerutu. Dia masih berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya selama mungkin lebih dari setengah jam. Dia tidak siap mental untuk melihat Kyungsoo. Berkali-kali dia merutuki dirinya dan meyakinkan bahwa dia bukan seorang gay. Dia hanya terbawa suasana dan sedang dalam keadaan butuh. Need some sex stuffs, bla, bla, bla, yada, yada—
Hingga akhirnya, dia memberanikan diri. Dia membuka pintu kamarnya sedikit dan melihat Kyungsoo yang memilin jarinya—dengan ekspresi kesal—layaknya baru saja ditolak oleh ibunya untuk membeli sebuah mainan. Iya, persis. Kau bisa membayangkannya, 'kan? Dan ketika melihat Jongin keluar dari kamarnya, Kyungsoo dengan cepat berdiri dari tempat duduknya.
"Jongin, aku ingin pulang."
Kalimat itu terucap dan… membuat Jongin kecewa. Walaupun dia sebenarnya juga lega. Tapi dia memahami bagaimana sikap Kyungsoo tersebut. Dia tahu Kyungsoo takut jika Jongin melakukan apa-apa padanya tapi dia bersumpah, dia tidak bermaksud untuk itu. Dengan anggukan lemah, Jongin mengiyakan apa yang dikatakan Kyungsoo dan mengantarkan lelaki tersebut.
Di dalam mobil, mereka terdiam. Jongin sendiri menyetir dalam keadaan yang bingung. Ingin dia meminta maaf tapi dia tidak tahu dari mana harus memulainya. Sempat dia melirik ke arah Kyungoo dan melihat gurat canggung disana. Wajar, hey, itu sangat wajar.
"Hyung, maafkan aku…" gumam Jongin lirih.
Kyungsoo mengangguk, "Unexpected, huh? Lupakan saja, Jongin. Apartmentku di depan, by the way."
Sedikit kelegaan, Jongin mulai mengurangi kecepatan mobilnya. Meskipun suasana di antara mereka belum cair benar, tapi setidaknya, dengan permintaan maaf yang keluar dari bibirnya, Jongin merasa bebannya sedikit terangkat.
"Thanks, Jonginnie." Ucap Kyungsoo yang kemudian keluar dari mobil Jongin.
"Hmm, maafkan aku, Hyung."
"It's okay. Lupakan saja."
Jongin mengangguk dan membiarkan Kyungsoo berjalan menjauh. Sampai akhirnya, dia menyadari ada sebuah ponsel yang tergeletak di kursi penumpang. Dengan sigap, Jongin mengambil ponsel itu dan berlari menuju Kyungsoo yang belum masuk ke gedungnya. Sebelum berpisah, Jongin sempat mengusap rambut Kyungsoo perlahan. Dia menganggap sebagai permintaan maaf dan untuk mencairkan suasana. Sebelum akhirnya Kyungsoo masuk dan Jongin kembali ke mobilnya. Entah, itu sebuah sikap ceroboh atau bodoh dari Jongin. Karena Jongin tidak memakai penutup wajah—sekadar topi atau masker—sama sekali.
.
.
.
"KIM JONGIN! YOU DICKHEAD! GET YOUR ASS UP!"
Jongin menggeram ketika mendengar suara Byun Baekhyun yang baru saja masuk ke kamarnya. Itu masih jam delapan pagi, tapi jam sepuluh, dia sudah harus ada di kantor untuk pembacaan skrip pertama. Hari itu sudah dua hari semenjak kejadian-mengantarkan-Kyungsoo-pulang, dan sejak itu pula, baik Jongin maupun Kyungsoo tidak bertukar kabar sama sekali. Jongin mendudukkan dirinya dengan rambut yang masih seperi buah nanas, tidak karuan sama sekali.
"Aku ingin menceritakan banyak hal padamu jadi kau harus bangun, dan mandi, dan sarapan, dan bersiap-siap, dan kemudian kita pergi untuk pembacaan skrip pertamamu. Ini pekerjaan baru, Jongin. Bangun, atau aku akan memotong adikmu."
"Wait—what?"
"Your morning wood."
Jongin menundukkan kepalanya, "Motherfucker." Umpatnya dan kemudian menyeret badannya menuju kamar mandi.
Tak beberapa lama, Jongin mendengar teriakan Baekhyun dari luar, "Jangan membuang anak-anakmu! Itu akan lebih lama lagi!"
"Hish, dipshit." Gerutunya.
Jongin keluar kamarnya dalam keadaan rapi setelah 15 menit. Tidak butuh waktu lama baginya. Lagipula dia malas mendengar ocehan Baekhyun yang makin lama makin tidak tertahankan itu. Dia segera melahap roti panggang yang sudah dibuatkan oleh Baekhyun, dan dengan roti yang masih bersarang di muka bibirnya, dia berjalan di belakang manajernya seperti anak ayam yang mengikuti sang induk.
Sesampainya di dalam mobil, Baekhyun, yang juga selama dua hari tidak bertemu dengan Jongin itu menceritakan bagaimana pengalamannya berkencan dengan Chanyeol. Bahkan dia sudah mengumumkan pada Jongin untuk mencari manajer cadangan—dia mengatakan bahwa dia siap untuk punya keturunan dari Chanyeol—dan itu membuat roti Jongin yang semula berisi Nutella serasa berubah menjadi kotoran telinga. Iya, kotoran telinga, karena Baekhyun hanya mengatakan Chanyeol ini, Chanyeol itu, Chanyeol bla, bla, bla, yada, yada—
Sejujurnya, otak Jongin memikirkan hal lain. Memikirkan bagaimana sebentar lagi dia akan bertemu dengan Kyungsoo. Dia bisa membayangkan bagaimana canggungnya nanti—meskipun sebenarnya dia tidak mau membayangkannya. Jongin sendiri bahkan tidak berani untuk mengirimkan pesan pada Kyungsoo walaupun sekadar menanyakan apakah Kyungsoo sudah buang air atau belum—tunggu, maksudnya sudah makan atau belum.
Jongin ternyata menjadi yang termasuk akhir hadir disana, karena begitu dia masuk ke ruangan, dia sudah melihat yang lainnya. Walaupun belum semuanya. Dia, mendudukkan dirinya di samping Kyungsoo, yang sudah datang terlebih dulu. Lelaki itu—seperti biasa jika sedang gugup, memilin jari-jemarinya. Kepalanya tertunduk. Jongin tahu, dan Jongin sadar jika Kyungsoo menghindari dirinya.
"NAH! Akhirnya sudah lengkap!" seru Jongdae ketika melihat seseorang yang baru saja datang.
Jongin menoleh, "What the fuck." Gerutunya ketika menyadari siapa orang tersebut.
Soojung. Gadis itu baru saja datang dan menyapa semua orang disana dengan ceria. Ah, umpatan Jongin juga menyadarkan Kyungsoo dari dunianya sendiri. Kyungsoo mengikuti kemana arah mata Jongin tertuju. Dan ketika dia menemukan siapa obyeknya, dia mengerti. Karena sebelumnya Jongin sudah menceritakan apa dan siapa seorang Jung Soojung.
"Sebelum memulai pembacaannya, aku ingin bertanya pada kalian berdua." Ujar Kris yang duduk di sebelah Jongdae.
"Kami?" tanya Kyungsoo polos.
Kris mengangguk, "Kalian berdua… berkencan?"
Jongin dan Kyungsoo dengan reflek memberikan wajah terkejut. Dan kemudian, dengan reflek pula mereka bertukar pandangan satu sama lain.
"Kalian belum membuka berita yang baru saja di posting? Baru sepuluh menit kalian sudah menjadi headline di beberapa website!" seru lelaki tersebut.
Jongin dan Kyungsoo tidak mengerti. Walaupun mereka melihat sekitar, dan semua orang disana mengeluarkan ponselnya. Mereka mengecek apa yang dimaksud oleh Kris. Beberapa diantara mereka memberikan tanggapan yang seperti 'I know these two—'; 'Dating? Benarkah?'; yang paling heboh tentu saja Soojung yang langsung berteriak 'tidak mungkin'—dan sukses membuat semua orang disana mengalihkan perhatian mereka dari ponsel kepada dirinya.
"Dua hari lalu, kalian bersama?" tanya Kris.
"Dua hari lalu—" Kyungsoo tercekat.
Melihat Kyungsoo yang kesulitan menjawab, Jongin menyela, "Iya, kami bersama. Kyungsoo Hyung… hanya datang ke apartmentku dan memasakkan aku makanan, dan kami makan bersama—tapi ada adikku juga—dan setelah itu aku mengantarkannya pulang—aku belum melihat fotonya!" ucap Jongin yang menjurus ke arah blabbering; ocehan.
Dengan cepat sebuah ponsel disodorkan tepat di depan wajah Jongin—ini kelakukan Byun Baekhyun, yang memberikan wajah datar dan menuntut sebuah penjelasan besar. Jongin melihat foto-foto tersebut. Bahkan ketika Jongin berlari mengejar Kyungsoo—di depan apartment; dan bahkan ada ketika Jongin mengusap rambut—okay, bukti yang cukup sebenarnya.
God, kill me. Right now. No way. Batin Jongin yang melakukan scrolling di ponsel Baekhyun.
"Jadi?" tanya Kris menuntut.
"Ya?" Jongin mendongakkan kepalanya. Dia sempat melihat Kyungsoo yang sudah berkeringat—Jongin yakin itu keringat dingin—tersebut. Dengan perasaan khawatirnya, Jongin mengalihkan telapak tangannya dan menggenggam tangan Kyungsoo yang sudah sangat basah.
"Jadi? Kalian?"
"Kami—kami berteman. Berteman dekat."
Kris mengangguk. Sepertinya dia memahami apa yang dimaksudkan oleh Jongin. Meskipun sebenarnya dia menuntut jawaban lebih dari lelaki tersebut.
"Tunggu, aku meragukan itu." Ucap Jongdae dengan senyumnya yang mengembang.
Jongin memberikan pembelaannya lagi, "OH? Tidak mungkin, kami benar-benar berteman—"
"Tapi, Jongin-ssi," Jongdae menegakkan badannya dan mengacungkan jari telunjuknya, "bekas merah itu mengatakan hal lain."
"Bekas… merah?" ucap Jongin tidak mengerti.
Jongdae mengarahkan jari telunjuknya pada lehernya sendiri dan mengatakan, "Hickeys. Hickey yang ada di leher Kyungsoo. Itu… kau yang melakukan, 'kan, Jongin-ssi?"
Dengan panik Jongin menarik pundak Kyungsoo dan menghadapkan lelaki ringkih itu ke arahnya. Dia membuka sedikit kerah baju Kyungsoo dan menemukan sebuah bekas merah yang sebenarnya hampir hilang itu. Dan sesaat kemudian, dia merutuki apa yang baru saja dia lakukan.
"Well, kalau kau bukan yang melakukannya, kau tidak akan panik seperti itu Jongin-ssi," Jongdae tertawa kemudian, "ah, sepertinya akan ada headline baru; first web drama dengan real gay couple—"
Ucapan Jongdae sudah tidak terdengar bagi Jongin dan Kyungsoo. Mereka masih menatap satu sama lain dengan tatapan horor. Di dalam benak mereka seperti ada angin topan, hingga tidak bisa mencerna dengan benar. Sebelum akhirnya, kegiatan hening tersebut dibuyarkan oleh Baekhyun yang mendorong kepala Jongin dan berkata, 'control your hormones, you hoe —' itu.
.
.
.
TBC.
