Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, kelambatan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Pairing: FonxFem!Mammon
Rating: M (for safety)
Shera-Than: Sama-sama Shera-Than! Yah, Fon punya alasan sendiri ninggalin si Mammon, nnti ada kok alasannya di chapter ini. Hmm, nggak tau klo Gokudera tuh udah mikirnya sama Haru sih, mungkin karena itu ga pernah kepikiran yaa. Tapi akan dipertimbangkan, dan mungkin kalo jadi bakalan setelah LSIA, karena bikin 2 story dengan OC itu susah. MukuroXChrome juga sebenernya lumayan suka sih soalnya Chrome manis bangett! Sip, sip! Sudah mampir dan saya tinggalkan review kok! Semangat ya lanjutin ceritanya!
Orange Cielo : Yess! FonMammon emang ga pernah bikin bosen! Emang keahlian author ini mempermainakan perasaan dan emosi pembaca #plak-ngaco. Emang paling seneng klo male chara sengsara di awal sih #sadis, tapi berakhir bahagia. Semoga terpuaskan dengan chapter ini yaa!
Please enjoy this story~
.
.
.
Comfort
.
.
.
"Hmm, ada apa dengan Tuan Fon? Tumben sekali dia belum datang," Fernan mengernyitkan dahinya.
Sudah lewat lima belas menit sejak jam sarapan mereka yang biasa, tetapi Fon belum juga datang.
"Tuan Fernan dan Tuan Gio, mari kita mulai saja sarapannya," ucap Mammon yang diikuti anggukan kepala kedua tamunya.
Mammon memakan sarapannya tanpa nafsu. Dia hanya makan beberapa suap sup yang di sediakan dan tidak menyentuh roti ataupun hidangan lainnya. Bahkan, dia mengabaikan susu strawberry kesukaannya dan mencuri pandang ke arah kursi kosong di sebelahnya.
Sepanjang hari saat menemani Fernan, pikirannya berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Fon. Bahkan, hingga matahari terbenam dan makan malam selesai, sang ahli beladiri tidak menunjukkan batang hidungnya.
Rasa penasaran dan khawatir membuat Mammon menolak permintaan Fernan untuk menemaninya malam itu. Pikirannya selalu terbayang ekspresi terluka dan bersalah Fon.
Mammon memberanikan diri pergi ke kamar Fon. Tetapi dia ragu begitu sampai di depan pintu kamar Fon. Tangannya terangkat, berniat membuka pintu itu tanpa mengetuknya seperti biasa ketika teringat peringatan Fon.
"Tidak seharusnya kau sembarangan masuk ke kamar laki-laki,"
Mammon segera menarik tangannya takut. Dia tidak mau Fon marah padanya lagi. Akhirnya, dengan mengumpulkan keberanian dia mengetuk pintu kamar itu.
Tok
Tok
Tidak ada suara dari dalam. Apakah dia mandi seperti biasa? Setelah menunggu selama sekitar sepuluh menit, Mammon kembali mengetuk pintu kamar itu. Masih tidak ada jawaban. Dia mengulangi hal itu sampai lima kali hingga akhirnya merasa ada yang aneh.
Dia mengumpulkan keberanian dan membuka pintu kamar itu yang tidak terkunci.
"Fo-Fon?" Mammon memanggil Fon pelan sambil membuka pintu kamar itu perlahan dan mengintip ke dalam ruangan.
Melihat tidak ada tanda-tanda keberadaan orang, Mammon melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu. Dia mengamati kamar itu dan mengernyitkan dahinya.
Aneh. Kasurnya terlihat rapih. Mammon melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi. Tidak terdengar suara air atau apapun dari dalam. Dia membuka pintu kamar mandi dan melihat lantai dan dindingnya kering. Perasaannya menjadi tidak enak.
Mammon keluar dari kamar mandi dan melangkah cepat ke arah lemari pakaian di kamar itu. Dibukanya lemari itu dengan cepat.
Tidak ada
Mammon melebarkan matanya saat melihat lemari itu kosong. Tidak ada koper berisi pakaian milik Fon. Tatapannya berubah menjadi kosong seperti perasaannya yang tiba-tiba merasa kehilangan.
Sejak kapan dia pergi? Apakah dia kembali ke China? Apakah dia pergi karena kejadian kemarin? Apakah ini salahnya?
Seketika berbagai macam pertanyaan muncul di benak Mammon. Dia tidak ingat sejak kapan dia meninggalkan kamar Fon, saat tersadar dia sudah terduduk di depan pintu kamarnya.
"Pembohong. Kau bilang akan selalu ada di sisiku," gumamnya lirih.
Rasa lelah mental, fisik dan emosional membuatnya tidak dapat menahan rasa kantuk. Dia tertidur di depan pintu kamarnya.
XXXXX
Sudah tiga hari Fon tidak terlihat, sudah tiga hari juga Mammon terlihat tidak fokus dan hampir tidak makan sama sekali.
"Maaf, saya ingin pergi ke taman sebentar," ucap Mammon sambil beranjak pergi dari meja setelah makan malam.
Begitu Mammon pergi, ekspresi Fernan menjadi serius dan dia mengisyaratkan Gio mendekatinya.
"Kelihatannya Storm Arcobaleno itu sudah tidak ada di mansion ini lagi. Sepertinya ini saat yang tepat untuk menjalankan rencanaku melihat kondisi Nona Mammon yang terlihat lemah," ucap Fernan dengan senyum liciknya yang segera dibalas dengan anggukan kepala oleh Gio.
Sementara itu, Mammon duduk di dekat air mancur yang ada di taman belakang sambil menatap bintang. Matanya terpejam merasakan angin malam yang terasa dingin.
"Uhuk…uhuk…," Mammon terbatuk kecil merasakan tenggorokkannya terasa gatal.
Mammon menyentuh dahinya sesaat, merasakan kondisi tubuhnya yang memang tidak terasa sehat. Tetapi dia tidak peduli. Dia masih ingin merasakan hembusan angin dan menatap langit malam untuk mengisi perasaannya yang terasa hampa.
"Nona Mammon, mohon maaf mengganggu waktu anda. Tuan Fernan menginginkan anda menemaninya malam ini," ucap Gio yang tiba-tiba muncul di hadapan Mammon.
Awalnya Mammon berniat menolak, tapi dia teringat sudah beberapa hari ini tidak bersikap sepantasnya kepada klien nya itu. Akhirnya Mammon menganggukkan kepalanya dan mengikuti Gio ke kamar Fernan.
Pikirannya kosong saat mengikuti Gio. Tubuh dan kepalanya terasa berat. Mammon mengabaikan firasat tidak enaknya dan melangkahkan kaki ke kamar Fernan. Lagipula sejak kemarin dia sudah menggunakan ilusi agar penampilannya tetap terlihat normal walaupun dia tidak bisa menyamarkan batuknya.
"Nona Mammon, silahkan duduk," Fernan tersenyum lebar sambil memberi isyarat pada Gio yang segera menganggukkan kepala.
Gio menuju ke salah satu ruangan, mengambil dua gelas dan sebotol wine dan meletakkannya di meja yang berada di dekat jendela, tempat Fernan dan Mammon duduk. Setelah menuangkan wine ke gelas, Gio pergi dari ruangan itu, meninggalkan Mammon dan Fernan berdua.
"Apakah kau baik-baik saja? Kau terlihat tidak sehat?" Fernan berbasa-basi sambil menatap Mammon.
"Terima kasih perhatiannya, saya baik-baik saja," ucap Mammon singkat.
"Hmm, kelihatannya Tuan Fon tidak terlihat beberapa hari ini, apakah dia sedang pergi?"
Beruntung tudung yang dikenakan Mammon menutupi sebagian wajahnya sehingga Fernan tidak melihat ekspresi Mammon yang sesaat menjadi sedih.
"Dia ada urusan dan kembali ke Cina," ucap Mammon tanpa emosi.
"Hoo," Fernan tmenyeringai kecil, merasa penghalangnya sudah tidak ada dan rencananya dapat berjalan dengan baik.
"Silahkan diminum," Fernan mengangkat wine miliknya sambil memberikan gestur kepada Mammon untuk ikut mengangkat gelasnya.
Jujur saja, karena merasa kondisi badannya sedang tidak baik, Mammon tidak ingin menyentuh alkohol. Tetapi dia tidak bisa bersikap tidak sopan begitu terhadap tamu. Dengan terpaksa Mammon mengambil gelas di hadapannya dan bersulang dengan Fernan.
Saat dia meminum beberapa teguk, tiba-tiba kepalanya terasa berat.
Prak
Gelas wine yang dipegang Mammon terjatuh ke atas meja dan menumpahkan isinya. Mammon menatap laki-laki di hadapannya tajam.
"Kau memasukkan sesuatu," ucap Mammon dengan suara menggeram sambil memegang kepalanya.
Fernan menyeringai sambil berdiri dan mendekati Mammon.
"Nona Mammon, saya hanya berusaha membantumu. Kau terlihat tidak bersemangat beberapa hari ini, makanya saya berusaha menghibur anda," ucap Fernan dengan suara rendah sambil menggendong Mammon yang masih berada di bawah pengaruh obat.
"Jangan sentuh, turunkan!" Mammon berusaha mendorong Fernan dengan tubuhnya yang terasa lemah.
Mammon merutuki dirinya yang lengah, tidak menyadari ada obat di dalam minumannya. Biasanya dia selalu waspada dan dapat mengetahui makanan dan minuman yang diberi obat, tapi tidak kali ini. Pikirannya sedang tidak fokus.
"Tentu, sayang," Fernan berbisik di telinga Mammon dengan nada sensual, membuat Mammon bergidik jijik.
Fernan meletakkan Mammon di kasurnya dan membuka beberapa kancing kemejanya, membuat Mammon panik walaupun dia tidak memperlihatkannya.
"Nah, aku selalu penasaran dengan wajahmu. Kudengar kecantikanmu dapat membuat lelaki manapun terpesona, bagaikan Aphrodite," ucap Fernan sambil meraih tudung Mammon.
Mammon membulatkan matanya dan bersumpah akan mengutuk siapapun yang berani menyebarkan gosip seperti itu. Walaupun tubuhnya tidak bertenaga, tapi tangannya berusaha mendorong Fernan, melepaskan diri dari laki-laki itu.
"Hmm, tanganmu ini mengganggu juga ya," Fernan mengernyitkan dahinya dan menahan kedua pergelangan tangan Mammon dengan satu tangan.
"Lepaskan!" Mammon mendesis tajam, berusaha menghindari tangan laki-laki itu yang berusaha membuka tudungnya.
Walaupun begitu, usahanya percuma karena Fernan berhasil membuka tudung Mammon. Untungnya walaupun fisiknya melemah dia masih bisa menggunakan kekuatan ilusinya. Dia membuat tudung kabut sehingga wajahnya tetap tidak terlihat oleh Fernan.
"Kau keras kepala juga ya," ucap Fernan sambil mengernyitkan dahinya saat tidak bisa melihat wajah Mammon. "tidak masalah, aku akan melakukan hal lain," ucap Fernan sambil menjilat bibirnya.
Satu tangannya yang bebas melepas jubah milik Mammon, lalu membuka kancing kemejanya perlahan. Mammon terlonjak saat kancing kemejanya mulai dibuka. Dia berusaha meronta, menggerakkan tangan dan kakinya.
"Lepas kau brengsek!" makian Mammon tidak didengarkan oleh Fernan.
Usaha Mammon sia-sia, genggaman laki-laki itu malah mengerat dan membuat tangannya sakit. Kakinya juga ditindih oleh tubuh pria itu sehingga tidak dapat bergerak. Dia memaki dalam hati mengingat Fantasma yang entah kenapa sejak tadi tidak terlihat. Padahal saat masuk ke ruangan itu kodok itu tadi bertengger di bahunya.
"Hmm? Apa ini?" Fernan mengerutkan dahinya melihat lebam di leher Mammon."kiss mark dari kekasihmu?" Fernan mendengus tidak suka dan menundukkan kepalanya, menjilat leher Mammon yang memiliki bercak merah.
Mammon terlonjak kaget saat merasakan bahunya dijilat oleh Fernan. Menjijikan.
"Tenang, sayang. Aku akan membuatkan tanda baru untukmu," ucap laki-laki itu di telinga Mammon membuat Mammon mengernyit jijik.
Mata Mammon membulat saat merasakan gigi tajam laki-laki itu menghujam bagian antara bahu dan lehernya. Dia bisa merasakan darah keluar dari bagian itu.
'Psikopat sialan!' batin Mammon sambil menahan rasa sakit di bahunya dan pusing di kepalanya.
Sementara sibuk menciumi leher Mammon, satu tangannya yang bebas melepaskan boots dan celana panjang milik gadis itu.
Mammon berusaha sekuat tenaga menggerakkan kakinya, yang sia-sia. Tubuhnya semakin berat karena obat, yang di duga obat pelumpuh, dicampurkan ke minumannya. Biasanya dia bisa mentoleransi obat tidur dan obat pelumpuh dosis besar sekalipun, tapi karena kondisi tubuhnya tidak baik, dia tidak bisa mentoleransi obat itu.
"Ukh…Fon," Mammon memejamkan matanya erat sambil menggigit bibir bawahnya, membuat bibirnya berdarah.
Saat Fernan berhasil melepaskan sepatu boots dan celana panjang Mammon, Mammon merasa takut dan jijik. Dia merasa lemah dan tidak berdaya. Bahkan, dia merasa sebentar lagi dia tidak bisa mempertahankan ilusi untuk menutupi wajahnya.
"Ahli bela diri sialan…kau janji…," Mammon menggumam pelan dengan putus asa saat tangan Fernan meraba pingganggnya
PRANGG
WUSH
DUAGH
"Ugh…,"
Mammon yang sejak tadi memejamkan mata membuka matanya perlahan saat mendengar suara gaduh dan merasakan berat yang menindih tubuhnya sudah tidak ada lagi.
"F-Fon," Mammon menatap sang pria Asia dengan tatapan tidak percaya.
Fon berdiri tidak jauh dari Fernan yang sepertinya terkena serangan Fon dan terpental ke dinding dengan keras, terbukti dari bercak darah yang terdapat di dinding. Kaca jendela berserakan di lantai ruangan itu.
Fernan yang merasakan tulang rusuk dan bahunya patah saat terpental berusaha mengangkat kepalanya, menatap Fon walaupun lehernya terasa sakit dan dia bisa merasakan darah di kepalanya menetes dari pelipis.
Aura membunuh yang kuat terpancar dari sang pemuda Asia. Suasana di ruangan itu menjadi dingin dan mencekam. Tidak ada senyum di wajah pemuda itu. Ekspresinya mengeras dengan tatapan tajam yang sangat menusuk. Andaikan tatapan bisa membunuh, Fernan pasti sudah mati.
Fernan hanya bisa gemetar di tempatnya dengan wajah pucat melihat ekspresi dan aura yang dipancarkan Fon, ditambah dirinya terluka parah hanya dengan satu serangan dari pemuda itu. Saat Fon melangkah mendekati pemuda itu pikirannya teralihkan.
"Croak!"
"Uuk!"
Fantasma dan Lichi yang bertengger di bahunya menarik rambut dan kerah pakaian pria itu, menunjuk ke hal yang lebih penting dari Fernan. Beruntung posisinya membelakangi Mammon dan suasana di sana gelap sehingga Mammon tidak bisa melihat ekspresinya saat ini. Ekspresinya pasti bisa membuat gadis itu semakin ketakutan.
Fon menarik napas dalam dan menghembuskannya, berusaha menenangkan diri, setelah itu membalikkan badannya dan berjalan ke arah Mammon yang memperhatikannya.
Saat sudah berada di dekat gadis itu, Fon mati-matian menahan ekspresi wajahnya dan berusaha untuk tidak membunuh laki-laki yang saat ini sedang meringkuk ketakutan di belakangnya.
Kedua tangan Mammon menggenggam bagian tengah bajunya, terlihat kemeja hitam panjang yang biasa dia gunakan kancingnya terbuka seluruhnya, tidak hanya itu celana panjang dan sepatu boots gadis itu juga barada di lantai. Ditambah dengan tubuh gadis itu yang gemetar.
"Mammon kau-,"
Plak
Saat Fon mendekat dan berniat menyentuh Mammon, gadis itu tersentak, menampik tangan Fon dan memundurkan tubuhnya ketakutan.
"Croak!" Fantasma segera meloncat ke pangkuan Mammon, berusaha menyadarkan majikannya yang terlihat ketakutan.
"Fantasma," Mammon menggumam sambil meraih kodok di hadapannya dengan satu tangan.
"Mammon, ini aku," Fon berusaha mempertahankan nada lembut dan ramahnya agar tidak membuat gadis itu takut.
Mammon takut-takut mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Fon.
"Fantasma tadi memanggilku kesini saat aku baru kembali dari Cina," ucap Fon dengan senyumnya dan mengulurkan satu tangannya.
Perlahan dan ragu, Mammon membalas uluran tangan itu. Fon tersenyum lega. Dia mengambil jubah Mammon yang ada di lantai dan menutupi tubuh gadis yang masih gemetar itu dengan jubahnya, lalu menggendong Mammon. Mammon sendiri sudah tidak punya tenaga untuk berontak, ditambah dia masih merasa takut karena kejadian tadi.
Sebelum keluar dari ruangan itu, Fon berhenti. Sedikit ditekannya kepala Mammon ke dadanya, agar gadis itu tidak melihat ekspresinya.
"Jangan pernah menunjukkan dirimu dihadapanku atau Mammon lagi. Aku dapat dengan mudah menghancurkanmu dan Famiglia mu, seorang diri," ucap Fon dengan tatapan tajamnya sekali lagi.
Fernan tidak bisa mengeluarkan suaranya dan hanya bisa menganggukkan kepalanya cepat. Kesadaran laki-laki itu hilang saat langkah kaki Fon sudah tak terdengar lagi.
XXXXX
Mammon tidak berani mengangkat kepalanya dan melihat ekspresi Fon. Dia hanya diam menunduk sepanjang perjalanan Fon menggendongnya ke kamarnya.
Begitu mereka sudah sampai di kamar Mammon, Lichi dan Fantasma melompat ke meja di ruangan itu, membiarkan kedua majikan mereka.
Fon duduk menyamping di kasur Mammon, menyingkirkan jubah yang menutupi tubuh Mammon dan berniat membaringkan gadis itu di kasur ketika Mammon malah menggenggam bagian depan bajunya erat.
"Mammon?" Fon mengerutkan dahinya dan menatap Mammon, dengan wajah masih tertutup ilusi, yang masih menundukkan kepalanya, menolak untuk melihat ke arah Fon.
Fon menyadari tubuh Mammon yang masih gemetar dan memutuskan membiarkan Mammon berada di pelukannya sampai gadis itu tenang.
"Mammon, tubuhmu panas, apa kau demam? Bisa tolong kau singkirkan ilusimu?" Fon bertanya dengan nada khawatir.
"Mmm,"
Fon mengamati ilusi Mammon yang perlahan menghilang dan melihat wajah gadis itu terlilhat merah. Dia menempalkan tangannya di dahi Mammon dan merasakan panas tubuh Mammon cukup tinggi.
"Apakah ini alasan kamu tidak bisa melawan Fernan?"
Mammon menggelengkan kepalanya pelan.
"Obat…di wine..," gumam Mammon dengan suara pelan.
Walau hanya berupa bisikan dan bukan kata-kata yang jelas, Fon mendengarnya dengan baik. Dia dapat menyimpulkan kejadian tadi dengan cepat. Ekspresi wajahnya mengeras untuk sesaat karena laki-laki itu berani memberikan obat seperti itu kepada Mammon yang sakit.
"Umm, Mammon, apakah kau bisa mengancingkan kemejamu terlebih dahulu?" Fon bertanya dengan sopan.
Mammon mengangkat pandangannya yang sedikit kosong dan terlihat tidak fokus untuk pertama kalinya dan menatap Fon. Matanya lalu mengarah pada kemejanya yang terbuka, tangannya yang tadi menggenggam kedua sisi kemejanya kini menggenggam erat pakaian Fon.
"Oh,"
Mammon lalu melepaskan genggaman tangannya pada Fon dan berusaha mengancingkan pakaiannya. Tangannya terasa lemah dan bergetar, tidak bisa memasukkan satu kancing pun. Melihat Mammon yang kesulitan, Fon akhirnya menawarkan membantunya.
"Mammon, kelihatannya pengaruh obat itu masih ada. Mau kubantu?" Fon menawarkan diri yang dibalas anggukan lemah dari Mammon.
Fon berusaha tidak melihat ke arah dada Mammon yang terekspos, membungkukkan badannya agar bisa melihat lebih jelas kancing kemeja Mammon dan gerakannya berhenti saat memegang satu sisi kemeja gadis itu, melihat ada darah, lebih tepatnya bekas gigitan tepat dimana Fon memberikan kiss mark pada Mammon beberapa hari yang lalu.
"Mammon, apa dia melakukan hal ini?" Fon bertanya dengan nada dingin.
Jemarinya menyentuh luka di antara bahu dan leher Mammon, membuat gadis itu meringis sedikit, merasakan perih yang sempat terlupakan.
"U-um," Mammon mengangguk pelan sambil menunduk, entah kenapa merasa takut mendengar suara Fon.
"Dasar bodoh!" Fon membentak Mammon dengan suara keras, tidak hanya membuat Lichi dan Fantasma yang hampir tertidur meloncat, tetapi juga membuat gadis itu terlonjak kaget. "sudah kubilang jangan masuk ke kamar laki-laki sembarangan!" ucap Fon dengan nada yang masih meninggi.
"M-muu..ma-hiks…ma..af,"
Mendengar suara Mammon yang mencicit ketakutan, serta tubuhnya yang bergetar dan tangannya yang menutup mulutnya membuat Fon tersadar kesalahan yang dilakukannya.
Fon merutuki dirinya yang segera diserang perasaan bersalah. Mammon sedang sakit dan baru mengalami hal buruk, dia malah memarahi gadis yang mental dan fisiknya sedang lemah itu.
"Ma-Mammon,"
Panggilan dari Fon malah membuat gadis itu berusaha membulatkan tubuhnya, berusaha membenamkan tubuh kecilnya yang gemetar dan isak tangis tertahan. Gadis itu takut. Lagi.
Mulut Fon terasa kering melihat keadaan Mammon karena perbuatannya. Dia membuat gadis itu menangis dan takut lagi.
"Ma..af,"
Terdengar suara kecil dan lemah di antara isak tangis yang tertahan itu. Suara tercekat yang dipaksakan keluar, membuat yang mendengar merasa hatinya hancur.
Fon segera menarik lembut Mammon ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung kecil itu agar tenang dengan satu tangan melingkari tubuhnya
"Maaf, aku tidak seharusnya mengatakan hal seperti tadi. Aku melampiaskan amarahku padamu karena merasa kesal tidak bisa melindungi dirimu," ucap Fon lembut dengan penuh rasa menyesal.
"Maaf aku malah membuatmu menangis seperti ini padahal aku berjanji untuk melindungimu dan berada di sisimu," ucap Fon lembut.
"Maaf," ucap Fon berulang-ulang dengan lembut dan perlahan hingga tangis Mammon perlahan berhenti.
"M-muu, kau se-seram," ucap Mammon setelah tangisannya berhenti, tinggal napasnya yang belum teratur.
Fon melepaskan tubuh Mammon dari pelukannya, tapi masih membiarkan gadis itu di pangkuannya dengan posisi sebelumnya.
"Maaf, aku berjanji tidak akan begitu lagi," ucap Fon dengan senyum menyesal sambil menyeka air mata di wajah Mammon dengan jarinya.
Dipandangnya lekat wajah Mammon dan melihat bibirnya berdarah. Berusaha menahan emosinya, Fon mengusap lembut bibir Mammon.
"Ini juga karena laki-laki itu?" tanya Fon khawatir yang dibalas gelengan cepat.
"A-aku menggigitnya," ucap Mammon sambil mengalihkan pandangannya, tidak mampu menatap Fon yang masih mengelus lembut bibirnya.
"Hmm,"
Tatapan Fon melembut. Dia merasa lega karena laki-laki itu tidak mencium Mammonnya.
Entah kenapa Mammon merasa malu, seperti ada sengatan listrik dari bibirnya yang membuat kepalanya makin pusing dan tubuhnya terasa panas. Oh, bukan. Dia memang demam.
Kepala Mammon terkulai lemas di dada Fon karena kelelahan, perlahan-lahan kesadarannya menghilang.
"Mammon?"
Merasakan napas Mammon yang bergerak teratur dan gadis itu yang sejak tadi diam membuat Fon khawatir. Dia mengubah posisi Mammon kembali seperti semula dan melihat mata gadis itu terpejam.
Fon menghela napas lega dan membaringkan Mammon di kasur setelah mengancingkan kemeja gadis itu. Ketika berniat pergi, tangan Mammon menggenggam pakaian Fon, membuatnya berhenti.
"Ja..ngan…pergi," Mammon menggumam pelan dalam tidurnya, membuat Fon menatapnya dengan rasa bersalah.
Karena melihat reaksi Mammon yang takut saat berada di dekatnya, dia pikir lebih baik mereka menjaga jarak dan tidak bertemu terlebih dahulu. Dia tidak mau melihat Mammon yang gemetar dan terlihat waspada setiap saat bersamanya. Melihatnya seperti itu membuat Fon sedih. Tetapi sekarang dia sangat menyesal meninggalkannya.
Fon melepaskan genggaman Mammon di pakaiannya dengan lembut, lalu mencium tangan Mammon.
"Aku akan segera kembali," ucap Fon sambil mengelus kepala Mammon dengan lembut.
Begitu keluar dari kamar Mammon, Fon langsung menuju dapur dan melihat koki sedang menyiapkan bahan makanan untuk sarapan esok pagi.
"Ah, Tuan Fon, selamat malam," koki itu langsung menyapa Fon saat melihat pria itu di dapur.
"Maaf, boleh saya minta obat untuk demam?"
"Baiklah, saya ambilkan. Apakah Tuan Fon tidak terlihat beberapa hari ini karena demam?" Koki itu bertanya sambil mengambil obat di lemari.
"Ah, tidak saya ada urusan dan baru kembali. Obat itu untuk Mammon,"
"Eh, untuk Tuan Mammon? Apakah Tuan sakit karena jarang makan ya?" koki itu menggumam pelan yang terdengar oleh Fon.
"Eh? Apa maksudnya?"
"Hmm, sebenarnya sudah dua hari Tuan Mammon tidak menyentuh makanannya sama sekali, mungkin itu sebabnya dia sakit. Sebenarnya sudah tiga hari ini Tuan Mammon terkadang tidak fokus, mengabaikan Tuan Fernan dan entah kenapa tidak bersemangat,"
Fon terdiam mendengar perkataan koki itu.
"Ja..ngan…pergi,"
Apakah itu karena dia pergi tanpa mengatakan apapun?
"Um, maaf, apakah saya boleh menggunakan bahan masakan di sini?" Fon tersenyum ramah kepada Koki yang segera mempersilahkan Fon.
Begitu Koki itu pergi, Fon mulai membuat bubur untuk Mammon.
XXXXX
Rasa hangat dan nyaman yang menyelimuti tubuhnya hilang, membuat Mammon bergerak dalam tidurnya. Perlahan matanya terbuka dan mengamati sekelilingnya lemah.
Kepala dan tubuhnya terasa berat, begitu juga dengan matanya. Mammon menyentuh matanya yang terasa panas dan juga sedikit basah. Dipaksanya tubuh itu untuk duduk, masih menatap kamarnya yang gelap.
"Fon," gumam Mammon pelan, merasa kesepian dan sedih.
Apakah Fon pergi lagi meninggalkannya? Karena dirinya membuat Fon marah?
"Hiks…,"
Fisik dan mentalnya yang lemah membuatnya tidak bisa menahan air matanya. Mammon menangis membayangkan Fon meninggalkannya lagi. Dia ingin bertemu dengan Fon.
Cklek
"Mammon, kau sudah bangun?"
Mammon langsung mengangkat pandangannya, menatap Fon yang berjalan cepat ke arahnya sambil membawa nampan.
"Ada apa? Kenapa menangis?" Fon bertanya dengan khawatir, segera meletakkan nampan yang dibawanya di meja kecil di samping tempat tidur dan duduk di tepi kasur.
"Muu,"
Mammon tidak menjawab pertanyaan Fon dan langsung memeluk laki-laki itu, membuat Fon kaget. Fon mengubah posisi mereka, menarik Mammon ke pangkuannya dan menyenderkan tubuhnya.
"Ada apa?" Fon kembali bertanya dengan nada lembut sambil mengelus punggung gadis yang masih menangis itu.
"Ku-kukira…kau kembali…ke Cina," gumam Mammon pelan, membuat Fon merasa ada yang
"Mana mungkin aku meninggalkanmu dalam keadaan begini," ucap Fon menenangkan.
"Bohong," Mammon menggenggam baju Fon erat dengan tubuh gemetar.
"Kau benar, maaf. Aku meninggalkanmu kemarin,"
"Muu," Mammon tidak bisa menahan isakannya mendengar kata-kata Fon.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, aku janji," ucap Fon serius.
Mammon tidak menjawab, hanya saja tangisannya perlahan berhenti.
"Mammon, aku akan mengukur suhu badanmu. Kau harus makan dan minum obat," ucap Fon sambil meraih termometer di nampan dan memberikannya pada Mammon.
Fon mengubah posisi Mammon agar gadis itu duduk di pangkuannya dangan kepala bersandar di bahunya.
"Aku sudah membuatkanmu bubur, kudengar dari koki kau belum makan sejak kemarin," ucap Fon sambil mengambil mangkuk berisi bubur dan sendok.
"Muu," Mammon mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan begitu, kau harus minum obat agar cepat sembuh. Kalau kau sakit, kau tidak akan bisa menjalankan misi dan mengumpulkan uang," ucap Fon dengan lembut dan mulai menyuapi Mammon.
Mammon menatap sendok di hadapannya dan dengan terpaksa membuka mulutnya, membiarkan Fon menyuapinya. Fon tersenyum melihat Mammon yang walaupun terlihat terpaksa berusaha menelan buburnya.
Bubur yang tersisa masih lebih dari setengah, tetapi Mammon menolak untuk makan lagi sehingga Fon menyudahinya. Fon mengambil termometer yang diberikan pada Mammon dan melihat suhu badan Mammon yang sangat tinggi.
"Kau harus minum obat dan banyak istirahat," ucap Fon dengan khawatir dan perhatian sambil memberikan obat pada Mammon yang segera diminum olehnya.
Melihat Mammon yang terlihat gelisah dan tidak nyaman, Fon akhirnya bertanya.
"Ada apa? Kau terlihat tidak tenang,"
"Muu, bajuku lengket," Mammon menatap Fon dengan dahi berkerut.
Yah, kemeja yang dipakai Mammon memang terlihat tidak nyaman untuk tidur ditambah kemejanya basah karena keringat. Bubur yang tadi dimakannya juga sempat jatuh di kemejanya.
"Hmm, kemejamu memang basah dan kotor. Lebih baik kau ganti baju," ucap Fon.
Fon menyenderkan tubuh Mammon di tempat tidur dan berjalan menuju lemari pakaian Mammon, lalu mengambil pakaian tidur milik Mammon setelah meminta izin pada pemiliknya. Dia segera menuju Mammon dan memberikan pakaian itu padanya. Saat berniat pergi dari kamar itu, Mammon menarik ujung pakaian Fon.
"Ada apa?" Fon bertanya dengan lembut.
"Gantikan,"
"Eh?"
Fon hampir tersedak mendengar perkataan Mammon. Melihat tatapan sayu dan tidak fokus itu, juga suhu tubuhnya yang sangat tinggi memang tidak heran kalau gadis itu tidak punya tenaga untuk mengganti pakaian sendiri.
Fon menelan ludah, mengingat Varia sama sekali tidak mempekerjakan perempuan, kecuali Mammon. Genggaman yang memegang ujung bajunya melemah dan tangannya terjatuh di kasur. Tidak mungkin Mammon bisa mengganti pakaiannya sendiri.
"Ba-baiklah," Fon merasa suaranya serak saat mengatakan hal itu.
Dengan ragu dia duduk di tepi tempat tidur dan mulai membuka kancing kemeja Mammon. Sempat terbesit dipikirannya untuk menutup matanya, tapi hal itu malah akan merepotkan. Saat sudah membuka seluruh kancing kemeja Mammon, Fon menghentikan gerakannya dan menatap luka di antara leher dan bahu Mammon.
Melihat Fon menatap luka di dekat lehernya, tanpa sadar tubuh Mammon kembali gemetar dan tangannya terkepal lemah.
"Ka-kau marah?" dengan takut dan suara serak, Mammon menyuarakan pertanyaannya sambil memandang Fon, berusaha melihat emosi sang ahli bela diri.
Fon mengangkat pandangannya dan baru menyadari tubuh Mammon yang gemetar, tangannya yang terkepal serta tatapan gadis itu yang berkaca-kaca takut.
"Tidak, aku tidak marah padamu. Luka ini, aku akan membersihkan darahnya," ucap Fon sambil mengambil handuk bersih dan air hangat yang tadi sudah disiapkannya untuk menyeka keringat Mammon.
"Mmmh,"
Fon hanya bisa menelan ludah mendengar Mammon yang mendesah setiap kali tubuhnya diseka oleh handuk yang basah. Awalnya dia hanya berniat menyeka luka Mammon, tapi melihat keringat di tubuh gadis itu, akhirnya Fon memutuskan untuk menyeka keirngat di tubuhnya.
Merasa di ambang batas, Fon mengambil pakaian tidur Mammon dan memakaikannya pada gadis itu. Setelah itu Fon membaringkan Mammon kembali di tempat tidur.
"Istirahatlah," ucap Fon dengan senyum lembut sambil menyelimuti Mammon.
Saat Fon berniat beranjak dari tempat tidur, Mammon menarik pelan lengan baju Fon.
"Kau akan pergi?" Mammon bertanya dengan nada sedih dan ekspresi memelas yang membuat Fon berdebar.
"Tidak, tentu saja tidak. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur," ucap Fon sambil duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Mammon yang tadi menggenggam lengan bajunya.
Mammon tidak mengatakan apapun dan tetap menatap Fon.
"Ada apa?"
Mammon membenamkan wajahnya di bantal dan menutupi wajahnya dengan selimut dan sedikit mengintip saat Fon bertanya.
"Kau akan pergi lagi saat aku bangun," gumam Mammon sambil mengintip dari balik selimut.
'Ma-manisnya!' Fon membatin sambil meletakkan satu tangannya menutupi wajahnya.
"Ti-tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu tanpa mengatakan apapun lagi, aku janji," ucap Fon setelah berhasil menguasai dirinya.
Mammon menatap Fon dengan tatapan kosong selama beberapa saat, lalu memundurkan tubuhnya hingga membuat jarak dengan Fon. Setelah itu Mammon mengangkat selimut di sisinya dan menepuk tempat di sebelahnya.
"Umm, Mammon?" Fon menelan ludah melihat tatapan memelas Mammon.
"Kau harus menemaniku tidur, jadi kau tidak bisa pergi ke mana pun," ucap Mammon.
"Aku tidak bisa-," ucapan Fon berhenti melihat Mammon mulai memasang ekspresi sedih dan kecewa dengan mata sedikit berkaca-kaca, terlihat sangat manis dan imut.
"Muu, kau tidak mau?" ucapnya dengan nada memelas yang membuat Fon tidak dapat menolak lagi.
"A-aku akan menemanimu," ucap Fon dengan nada pasrah, tidak kuasa menolak sikap manis dan imut Mammon yang tidak pernah dilihatnya.
Fon masuk ke dalam selimut dan berbaring menghadap Mammon. Mammon segera merapatkan tubuhnya ke tubuh Fon begitu laki-laki itu berbaring dan menempelkan kepalanya di dada Fon sambil menghela napas lega, membuat sang pria Asia itu berdebar.
"Ma-Mammon,"
"Muu?"
Mammon mengangkat kepalanya dan menatap Fon dengan senyum manis yang malah membuat Fon kehilangan kata-kata. Fon meneguk ludah dan melingkarkan tangannya di punggung dan kepala Mammon, lalu kembali membenamkan kepala Mammon di dada nya untuk menyembunyikan wajahnya sendiri yang sudah memerah.
Sejak pertama mengenalnya sampai saat ini, baru pertama kali dia melihat senyum Mammon yang sangat manis seperti itu. Fon bisa merasakan Mammon yang bergerak dengan bingung di pelukannya.
"Tidurlah, aku akan menemanimu," ucap Fon untuk menenangkan Mammon.
Tidak lama setelah Fon mengatakan hal itu, Mammon tertidur sambil menggenggam bagian depan baju Fon, seakan tidak ingin pria itu pergi dari sisinya.
"Ah, kalau seperti ini, aku bisa salah paham," gumam Fon sambil tersenyum kecil.
Satu tangannya terangkat, mengelus lembut pipi putih dan pucat itu. Fon mencium puncak kepala Mammon yang tertidur dengan lembut.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi,"
To be continued….
XXXXX
Yeayy udah mendekati akhir!
1 chapter terakhir menyambut White Day!
Di sini Mammon nya manja karena lagi demam, jadi maklumin aja ya klo OOC
Please review!
