Ketika pagi datang, aku terbangun karena suara dering ponselku. Dengan malas aku meraih ponselku itu, melihat layarnya. Ada telepon masuk dari Lydia, dan kuangkat teleponnya.
"Halo?" tanyaku malas.
"Selamat pagi untukmu juga, Val," kata Lydia dari seberang. "Aku akan menjemputmu pagi ini."
"Apa? Kenapa? Ada apa?" tanyaku, bingung. Jelas saja, aku tidak ingat kalau kemarin ia pernah bilang kalau akan menjemputku pagi ini.
"Tidak ada apa-apa," jawab Lydia. "Aku juga akan menjemput Allison. Jadi mungkin aku akan sampai di rumahmu satu jam lagi. Oke?"
Sebenarnya aku masih tidak mengerti ada apa dengan gadis itu pagi ini. Tapi biarlah. "Oke," kataku akhirnya.
Kemudian aku langsung buru-buru mengambil handuk dan mandi. Usai mandi, aku langsung berpakaian, mengecek tas dan buku-bukuku, kemudian keluar kamar menuju ruang makan. Di ruang makan, aku melihat kakakku dan Stiles di dapur. Sambil agak panik, aku buru-buru meletakkan barang-barangku di atas meja makan dan menyusul mereka ke dapur, berharap mereka belum dan tidak menghancurkan apa pun di sana.
.
.
Disclaimer: Jeff Davis
Warning: Tidak menjanjikan Lime / Lemon, rated M hanya untuk bahasa yang agak menjurus. Sayangnya ffn tak ada rate T+. Berusaha mengikuti alur canon. Agak Mary-sue. Seperti sinetron.
.
The Sister
Chapter 4
by Fei Mei
.
.
"Kalian sedang apa?" selidikku yang buru-buru mengampiri mereka.
Scott dan Stiles langsung menoleh kepadaku, dan memasang wajah sok inosen. Kulihat di depan keduanya ada beberapa lembar roti, kupikir mereka berniat untuk membuat sandwich lagi.
"Membuat sarapan," jawab Scott.
"Ingat terakhir kali kalian ingin buat sarapan?" tanyaku. "Telur gosong dan sayuran yang hancur?"
Scott dan Stiles menggigit bibir sambil melirik satu sama lain.
"Biar aku yang buat sarapan. Kalian berdua, keluar dari dapur," kataku.
"Tidak, Val, ini sebagai ganti kami melarangmu untuk ikut kemarin malam," kata Stiles. "Jadi sekarang kami akan membuat sarapan untukmu."
Sebagai ganti yang semalam? Oh, itu manis. "Baiklah, tapi pastikan makanan yang kalian buat itu bisa kumakan."
"Jangan khawatir, Val, ini hanya roti selai," kata Scott.
Lalu Stiles menambahkan, "dan teh, kuharap tehnya tidak terlalu pahit, atau manis, atau malah hambar, atau—"
"—kuharap tehnya bisa melalui proses pencernaan yang baik dalam tubuhku nanti, Stiles," kataku sambil menyengir.
Jadi aku meninggalkan dapur, menyaksikan kedua pemuda itu sambil duduk di kursi meja makan. Sekitar sepuluh menit kemudian, Scott dan Stiles keluar dari dapur. Kakakku membawa piring dengan tumpukan roti yang katanya sudah diberi selai stroberi kesukaanku, sedangkan Stiles membawa nampan yang di atasnya ada tiga cangkir teh—ia membawa nampan itu dengan amat sangat perlahan, membuatku ingat bagaimana hari-hari pertamaku menjadi pelayan sewaktu di cafe.
Ketika kedua hidangan itu sudah sampai di meja makan dengan selamat, Scott berdeham. "Jadi, kau mau coba yang mana dulu? Roti selai atau teh?"
Kuambil roti selai dan mulai menggigitnya. Sambil mengunyah, aku sedang mencari komentar yang pas: ini antara aku bisa merasakan manisnya gula atau asamnya stroberi. "Kau menaburkan gula di dalamnya?"
Scott salah tingkah. "Eh, soalnya stroberi kan, asam, kupikir mungkin akan lebih enak kalau pakai gula ..."
"Gulanya terlalu banyak, Scott," kataku. "Tapi tidak buruk."
Kakakku menghembus nafas lega, kemudian Stiles seenaknya menaruh cangkir teh di depanku kemudian merebut roti yang belum selesai kumakan. "Sekarang coba teh yang kubuat!"
Aku mulai mengangkat cangkir teh itu dan mulai meminum isinya. "Terlalu manis, Stiles. Kalian berdua ingin membuatku diabetes?"
"Aku tidak pernah membuat teh sebelumnya," elak Stiles dengan polosnya.
"Kau tidak mencicipinya dulu?" tanyaku dan Stiles menggeleng. "Kalau tehnya kemanisan, berarti harus tambah air."
Stiles tersenyum, lalu ia mengangkat cangkir tehku, diletakkan lagi di nampan lalu ia membawanya ke dapur—katanya ia akan tambah air. Ketika aku tinggal berdua di ruang makan dengan kakakku, aku berniat untuk menanyakan apa yang terjadi semalam.
"Bagaimana, kau ingat sesuatu semalam?" tanyaku pada Scott, lalu melanjutkan makan roti selai.
Kakakku mengangguk, kemudian ia menceritakan apa saja yang ia ingat semalam. Saat dia berhadapan dengan bus, Scott ingat malam itu sebenarnya ia sedang tertidur di atas ranjang tapi terbangun saat mendengar suara serigala yang seolah memanggilnya, kemudian ia berubah menjadi manusia serigala dan melompat keluar lewat jendela.
Ketika Scott memegang pintu bus dan hendak membukanya untuk masuk ke dalam, ia ingat wajah Allison—bukan wajah Garrison Meyers—ada di sana untuk minta pertolongan, seperti dalam mimpinya.
Masuk ke dalam bus, baru saja Scott berdiri di dekat kursi supir, ia teringat di mimpinya pernah melempar kursi penumpang kepada Allison yang berusaha keluar lewat pintu.
Scott mendatangi salah satu bangku di sana. Ditemukannya satu kursi yang punya cakaran kuku serigala. Katanya Scott mencoba meraba bekas cakaran itu dan mengingat bahwa itu memang cakarannya. Begitu melihat ke lantai bus, ia bisa mengingat Allison yang terseret di lantai—tapi sosok Allison tiba-tiba berubah menjadi sosok Garrison Meyers. Berarti kejadian di bus itu bukan mimpi, melainkan benar-benar terjadi, Scott dan Garrison Meyers ada di sana.
"Tapi bukan aku yang menyerangnya," kata Scott, tepat saat Stiles kembali ke ruang makan dengan teh yang diakunya sudah ditambahkan air. "Malah aku berusaha untuk menolong Meyers, ia sedang diserang oleh manusia serigala lain."
"Manusia serigala lain?" ulangku. Kakakku pasti berpikir itu adalah Derek, tapi kuyakin itu adalah Alpha yang dicari Derek serta yang telah menggigit Scott.
"Matanya merah, itu pasti Derek," ujar Scott. Tuh, kan.
Tidak mungkin itu Derek. Maksudku, kalau memang Derek yang menyerang Meyers, kenapa ia mau saja memberitahu Scott cara untuk mengingat kejadian itu? Memang sih, kemarin aku sempat mendengar bahwa Derek menginginkan suatu hal dari Scott sebagai imbalan telah membantu—tapi ia tidak bilang apa yang dia mau—tapi mana mau dia membahayakan dirinya sendiri dengan membantu Scott mengingat bahwa dia yang membunuh Meyers?
Saat aku akan bilang itu pada kakakku, tiba-tiba bunyi bel rumah berbunyi. Aku agak terkejut, lalu segera kulihat jam dinding. Sudah jam tujuh, tepat satu jam setelah Lydia meneleponku. Berarti yang memencet bel adalah Lydia, atau Allison kalau Lydia terlalu malas turun mobil.
Aku langsung bangkit dari kursi dan membuka pintu, melihat Allison yang tersenyum lebar ada di depan.
"Pagi, Val," ucapnya ceria memberi salam.
"Pagi, Allison," balasku. Kemudian aku mendengar suara klakson dari mobil Lydia. Kulihat gadis itu menyengir sambil melambai tangan. Jadi aku memberinya salam dengan agak berteriak, "Pagi, Lydia!"
Allison agak terkekeh. "Uh, jadi kau sudah siap berangkat?"
"Oke, aku akan masuk untuk ambil barangku," kataku. "Kau mau masuk sebentar? Ada kakakku di ruang makan."
Ia menggeleng. "Tidak. Lagian kami akan bertemu di sekolah, dan nanti malam—"
"—bowling, aku sudah dengar," kataku sambil tersenyum. "Tunggu sebentar."
Jadi aku masuk lagi ke dalam rumah, menghabiskan teh buatan Stiles, mengambil barang-barangku yang tadi kuletakkan di ruang makan. Kubilang pada Scott dan Stiles kalau aku akan berangkat ke sekolah bersama dengan Lydia dan Allison. Scott menanyakan kalau Allison ada di rumah bersamaan dengan Stiles yang menanyakan soal Lydia. Aku menyengir. Kemudian mencium pipi Scott lalu melempar senyum pada Stiles.
Aku masuk mobil Lydia bersama dengan Allison. Dalam perjalanan menuju sekolah, Allison mengajakku untuk ikut bowling dengannya dan Lydia nanti malam. Aku menolak dan bilang tidak ingin menganggu kencan Allison dengan Scott serta Lydia dengan Jackson.
"Kau bisa ajak Stiles," kata Allison sambil tersenyum. "Kalian berpacaran, kan?"
Oh, ya, ampun, betapa aku menginginkan status sebagai pacar Stiles, Allison! Tapi aku menggeleng kepala, karena memang aku tidak berpacaran dengan pemuda itu. "Dia temanku dan Scott, Allison, kami tidak pacaran."
Allison menggumam 'oh' pelan. Kemudian Lydia bilang bahwa ia ingin aku ikut ke rumah Allison sepulang sekolah untuk memilihkan baju yang akan dipakai gadis itu untuk pergi main bowling. Aku menuruti keinginannya.
Hanya dua rumah teman sekolah yang pernah kudatangi: rumah Stiles dan rumah Lydia. Lydia punya banyak teman dalam 'perkumpulan gadis cantik'nya, dan sering mengajakku untuk ke rumah salah satu dari teman-temannya itu, tapi selalu kutolak. Aku tidak ingin melihat kamar-kamar gadis yang super feminim seperti teman-teman Lydia, soalnya aku takut sampai iri lantas minta mama membelikan barang-barang yang ada di kamar itu.
Aku sering datang ke rumah Lydia, soalnya aku berteman dengannya sejak SD. Masuk ke kamar gadis itu, memang semuanya barang bermerek. Tapi karena aku sudah mengenal lama Lydia, mungkin itu yang menyebabkan aku tidak iri. Jadi, masuk ke kamar Lydia yang suka bersolek itu sudah cukup buatku, tidak usah ke kamar teman-temannya.
Untuk Allison, kupikir aku tidak masalah datang ke rumahnya. Bukan ingin sombong, tapi mungkin aku tidak akan merasa iri. Allison cantik, kupikir perekonomian keluarganya bagus, kutebak barang-barang di kamarnya pun bermerek walau tidak semahal punya Lydia. Tapi anak yang baru sebulan di Beacon Hills ini selalu rendah hati saat mengobrol denganku, jadi kupikir dia oke.
Kelas pertamaku hari ini adalah kelas bahasa Prancis dan aku sekelas dengan Allison. Ia mengajakku duduk di sebelahnya, dan aku terima ajakan itu. Ms Morrell membagikan kertas tes yang kami kerjakan minggu lalu. Aku dapat A, gara-gara ada satu jawaban yang sebenarnya tidak salah, tapi penulisannya kurang satu huruf. Kulihat Allison yang ada di sebelahku mendapat nilai A+. Aku tidak pernah mendapat nilai segitu di kelas ini.
"Kau jago bahasa Prancis?" tanyaku.
"Oh, bukan jago," jawab Allison, aku bisa melihat rona merah pada wajahnya. "Nenek Moyang kami kebetulan orang Prancis."
"Orang Prancis? Pantas kau cantik!" pujiku.
Allison memutar bola matanya sambil terkekeh. "Kau sendiri harus bercermin, Val. Dan lagi, aku sendiri tidak yakin kalau memang nenek moyang kami orang Prancis. Waktu SMP aku dapat nilai tertinggi di kelas bahasa Prancis, gurunya tanya pada orangtuaku, dan mama dengan santai menjawab seperti itu."
.
.
Ketika semua kelas telah berakhir hari ini, Lydia mengajakku dan Allison untuk langsung ke mobil. Ia bilang ingin memperkenalkan cafe favoritnya—bukan cafe milik Daisy—pada Allison, sekalian untuk makan siang dan bergosip. Aku meminta kedua gadis itu ke tempat parkir duluan, sedangkan aku mencari kakakku yang seingatku kelas terakhirnya tepat di sebelah kelasku.
Benar juga, begitu aku melongokkan kepala ke dalam kelas sebelah, aku melihat Scott dan Stiles yang baru akan meninggalkan meja mereka. Aku berjalan masuk ke dalam kelas itu, dan keduanya langsung tersenyum saat melihatku.
Scott langsung memelukku dengan erat begitu aku menghampirinya. "Val, astaga, aku merindukanmu sekali seharian ini!"
Aku terkekeh pelan sambil membalas pelukannya. "Kau merindukanku karena seharian ini aku hanya bersama dengan Lydia dan Allison?"
Scott mengangguk lalu melepaskan pelukannya. "Oke, kau mau langsung pulang? Kebetulan hari ini tidak ada latihan."
Kugelengkan kepalaku. "Hari ini aku melewatkan soreku dengan Lydia dan Allison. Habis ini kami mau makan siang di luar, lalu ke rumah Allison untuk membantunya bersiap untuk kencan denganmu."
"Lalu kau pulangnya?" tanya Scott.
"Aku akan minta Lydia mengantarku pulang sebelum dia pergi main bowling," kataku, lalu melihat pada Stiles. "Atau kalau tidak, aku bisa telepon Stiles."
Stiles mengangguk, tersenyum, dan memberiku dua jempol. "Tentu, telepon saja!"
"Baiklah, hati-hati," ujar Scott lalu mencium keningku.
Setelah itu aku melambaikan tanganku kepada kedua pemuda itu, dan aku segera berjalan ke tempat parkir, mencari mobil Lydia.
Begitu aku masuk mobil temanku itu, keduanya melempar senyum penuh arti sampai aku bingung. "Kalian kenapa?"
Lydia tersenyum jahil. "Tadi kau sudah lihat, kan, Allison? Mereka adalah kakak-adik yang sangat manis."
Kakak-adik? Mereka? Jangan-jangan mereka melihatku dan Scott tadi. Tapi bukannya mereka bilang mau langsung ke tempat parkir?
Allison terkekeh. "Kalau kau bukan adik Scott, Val, aku pasti akan cemburu setengah mati."
Tuh, ternyata mereka memang melihat kami! "Kalau dia bukan kakakku, Allison, maka aku dan Scott tidak akan seperti itu. Dan kupikir tadi kalian sudah ke mobil duluan!"
"Ketika kau bilang mau menghampiri Scott dulu, aku mengajak Allison untuk menyaksikan betapa manisnya kalian berdua," kata Lydia sambil tersenyum.
Wajahku memanas, kupikir mukaku sudah merona merah sekarang. Kedua gadis yang lebih tua dariku ini tertawa kecil. Allison yang berhenti tertawa duluan, ia menyuruh Lydia untuk berhenti menggodaku dan mulai pergi dari sekolah.
Cafe favorit Lydia tidak begitu jauh dari sekolah. Dengan mobil, lima belas menit sudah sampai. Itu bukan cafe-cafe mewah dan besar seperti yang pernah kudatangi saat Lydia menarikku ikut dengan teman-teman genknya waktu kelas 2 SMP.
Biasa teman-teman Lydia membawaku ke cafe yang mahal, yang sejujurnya aku hanya ingin beli teh sebagai minuman selama di sana. Aku sanggup beli yang lain, dan makanannya juga, tapi aku tidak rela mengeluarkan uang banyak-banyak untuk yang seperti itu. Jadi setiap kali datang dengan mereka, Lydia berusaha jadi teman yang baik untukku. Ia sengaja memesan kue yang cukup besar dan yang tidak akan bisa dihabiskan seorang diri sekali makan. Maksudnya biar bisa dimakan ramai-ramai, dan aku bisa ikut makan. Sampai suatu kali, Lydia berhenti mengajakku untuk ikut ke cafe bersama dengan teman-teman genknya. Ia tidak menjauhiku, ia malah lebih sering mengajakku jalan untuk mentraktirku dibanding jalan dengan kelompoknya. Lydia membawaku ke rumah-rumah makan yang katanya beberapa kali ia datangi, ia bilang aku pasti bisa beli makanan dengan puas di sana. Dia bukan meremehkanku, bukan juga sudah malas mentraktirku, tapi ia hanya ingin menjadi teman yang baik.
Masalahnya, ia sudah jarang membawaku jalan sejak musim semi kemarin, ketika ia akhirnya berpacaran dengan Jackson. Masih, ia masih membawaku jalan tapi jarang. Biasanya seminggu bisa sampai dua atau tiga kali, tapi sekarang mungkin hanya sebulan sekali. Tidak apa sih, aku tidak ingin begitu mempermasalahkannya, karena memang bukan penggila jalan. Hanya saja, teman dekatku cuma Stiles jadinya—Scott tidak termasuk karena ia kakakku—sedangkan aku membutuhkan seorang teman perempuan. Karena itu, ketika Lydia bilang akan membawaku dan Allison ke cafe favoritnya, aku sangat senang. Ini terasa seperti sewaktu gadis itu belum berpacaran dengan Jackson.
.
.
Kami menghabiskan waktu di cafe sampai mungkin empat jam, padahal piring kami sudah habis pada empat puluh menit pertama. Aku dan Allison tetap duduk di kursi masing-masing sambil mendengar celotehan Lydia. Mungkin karena agak heran kenapa temannya bisa secerewet itu, Allison diam-diam mengirim pesan ke ponselku, menanyakan bagaimana caranya aku bisa tahan berteman dengan Lydia selama bertahun-tahun. Aku terkekeh waktu membaca pesan itu, kulirik si pengirim pesan memutar bola matanya sambil agak tertawa. Lydia terlalu sibuk berceloteh sampai ia tidak sadar kalau aku dan Allison terkekeh.
Kulihat lewat jendela kalau langit sudah gelap ketika Lydia akhirnya selesai berceloteh. Ia menawari kami untuk makan malam sekarang atau pesan untuk dibungkus dan dibawa ke rumah Allison. Tapi Allison bilang agar kami bisa makan masakan mamanya di rumah, soalnya Mrs Argent selalu masak minimal sampai tiga porsi lebih dari porsi yang dibutuhkan. Jadi Lydia membayar makan dan minum kami lalu kami naik mobil gadis itu untuk ke kediaman Argent.
Rumah Allison besar, tidak sebesar punya Lydia, tapi memang besar, sesuai dugaanku. Allison membawa kami masuk ke dalam rumahnya, dan langsung disambut oleh Mrs Argent yang ternyata bisa melihat kedatangan kami dari dapur.
"Valion," sapa Mrs Argent, kupikir Allison pasti sudah memberitahu nama panjangku pada mamanya. "Dan, siapa temanmu yang ini, Allison?"
Sebelum Allison sempat menyebut namanya, Lydia mengulurkan tangannya sambil tersenyum khas. "Lydia Martin. Salam kenal, Mrs Argent."
"Salam kenal, Lydia," balas Mrs Argent dan menyambut tangan gadis itu yang terulur. "Nah, pas sekali, makan malam baru selesai dimasak. Masih hangat, ayo."
Mrs Argent membawa kami ke ruang makan yang ada di depan dapur. Makanan sudah tersedia di atas meja makan, gelas-gelas sudah siap untuk diisi air. Kami duduk mengelilingi meja. Aku tidak melihat Mr Argent, tapi aku tidak menanyakan keberadaannya.
Aku menatap makanan yang ada di hadapanku. "Anda yang memasak ini semua, Mrs Argent?" kemudian aku mengambil sendok dan garpu yang ada di sebelah piring.
"Ya," jawab Mrs Argent. "Sebisa mungkin aku ingin masak makan malam untuk orang rumah tiap hari."
"Kau bisa masak, Allison?" tanya Lydia kemudian ia menyuap makan malamnya.
Allison menggeleng. "Mama sangat jago memasak, tapi aku sangat payah, dan hanya bisa menghancurkan dapur."
Aku berusaha sebisaku untuk menahan tawa. Bukan, aku bukan ingin tertawa karena mengolok Allison, tapi karena aku berpikir dia dan kakakku mirip: sama-sama tidak bisa masak.
"Bagaimana dengan kalian, Lydia? Valion? Kalian bisa masak?" tanya Allison.
"Please, kasihan kuku-kuku ini kalau harus kotor karena memasak di dapur," kata Lydia. "Tapi Val jago."
"Oh? Mamamu jago masak, Valion?" tanya Mrs Argent.
"Eh, aku biasa saja kok, tidak jago. Tapi kupikir mama lebih jago dariku," jawabku.
Tentang mama, sebenarnya aku sudah lama tidak makan masakan mama. Sejak berpisah dengan papa, mama lebih sering ada di rumah sakit. Dia pulang ke rumah biasanya hanya untuk tidur dan mandi, tidak sempat masak untukku dan Scott. Dan saat itu pula aku mau tak mau harus belajar masa sendiri, kadang aku membantu Mrs Martin, mamanya Lydia masak makan siang kalau saat aku datang pas dengan ia sedang di dapur, sekalian belajar masak.
Sejujurnya, makan di meja ini dengan masakan rumah, tepatnya masakan seorang ibu rumah tangga, agak membuatku merasa sedih. Bukan sedih bagaimana sih, tapi rasanya aku merindukan ini. Aku rindu makan masakan rumah yang bukan aku yang masak.
"Kau masih kerja sambilan, Valion?" tanya Mrs Argent lagi.
Kugelengkan kepalaku. "Aku berhenti sekitar tiga minggu lalu."
Mrs Argent menggumamkan 'oh' pelan dan kami melanjutkan makan malam dalam keheningan. Usai makan, Allison mengajakku dan Lydia ke kamarnya sambil Mrs Argent membawa piring-piring kotor ke westafel.
"Perlu bantuan, Mrs Argent?" tanyaku ketika Allison dan Lydia sudah lebih dulu keluar dari ruang makan.
Sambil tersenyum, wanita itu menggeleng. "Naiklah ke atas, Valion."
Aku mengangguk dan keluar dari ruang makan, menyusul kedua temanku untuk naik tangga. Kamar Allison mudah kutemukan karena pintunya masih menganga lebar, jadi aku bisa menemukan Lydia yang sedang duduk di atas ranjang di suatu ruangan, dan aku ikut masuk ke sana. Setelah masuk, kututup pintu kamar itu dan duduk di samping Lydia di atas ranjang yang punya kamar.
Allison sedang melihat-lihat isi lemari bajunya. Ia mengeluarkan satu kaos, lalu Lydia bilang tidak sesuai. Lalu Allison mengeluarkan sebuah gaun pantai yang sebenarnya memang bagus, tapi itu untuk dipakai ke tempat bowling? Please, Allison, jangankan Lydia sang pakar fesyen, aku pun juga akan bilang tidak sesuai. Gadis itu mengeluarkan sampai tiga baju lagi yang tetap ditolak Lydia.
Mungkin Lydia bosan juga, jadi ia bangkit dari ranjang, ingin melihat sendiri isi lemari Allison. Aku terkekeh pelan mendengar bagaimana Lydia menolak setiap baju yang ada di dalam lemari itu. Tapi kemudian ia menarik sebuah baju warna hitam.
Lydia memperlihatkan baju itu padaku. "Menurutmu, Val?"
Aku mengangkat bahu. "Bagus."
Gadis itu menyengir dan menarik Allison untuk menghadap cermin serta menyerahkan baju hitam itu. Allison dengan tatapan bingung melihat pantulan dirinya di cermin sambil mengepaskan baju hitam di depannya. Tidak lama setelahnya, pintu kamar terbuka dan Mr Argent masuk ke dalam kamar.
Pria itu melangkah ke dalam kamar dan tiba-tiba berhenti. Ia melirik pada Allison dan wajahnya seakan baru ingat sesuatu. "Oh, ya, harus ketuk pintu."
Aku agak terkekeh pelan. Jadi Allison mirip dengan Scott, sedangkan Mr Argent mirip dengan Stiles? Ini menarik.
Lalu kulihat Lydia melompat ke ranjang Allison dan sambil pura-pura menggoda Mr Argent, ia mengucapkan selamat malam. Mr Argent membalas salamnya lalu menyapaku, kemudian ia bilang pada Allison bahwa putrinya itu tidak boleh keluar malam ini. Allison ingin membantah tapi papanya tetap bersikeras bahwa anaknya tidak boleh meninggalkan rumah karena ada jam malam yang berlaku di Beacon Hills sejak sebulan ini.
Setelah Mr Argent keluar, Lydia menyengir. "Jadi ternyata sahabat baruku juga jadi anak rumahan. Val anak mami, Allison anak papi. Sempurna."
Iya, sempurna, Lyds, makin lama level sarkastikmu bisa menyaingi Stiles.
"Huh, kadang," kata Allison menanggapi perkataan Lydia. Ia menggambil topi rajut dan memakainya. "Tapi tidak untuk malam ini."
Allison mengenakan jaketnya dan mengambil tas, lalu ia membuka jendela kamar. Aku dan Lydia bertukarpandang, dan tidak tahu apa yang akan dilakukan teman kami ini, jadi kami mendekati Allison yang tiba-tiba memanjat keluar lewat jendela. Gadis berambut hitam itu naik ke atap, kemudian ia melompat sempurna ke bawah. Aku dan Lydia menganga melihatnya.
"Delapan tahun gymnastic," kata Allison."Kalian berdua ikut?"
"Aku akan lewat tangga," jawab Lydia. "Val?"
Aku menganggukkan kepalaku. "Tangga." Kemudian kami keluar dari kamar Allison dan menuruni tangga. "Tidakkah menurutmu kita harus berpamitan dengan salah satu orangtuanya?"
Lydia mengangkat bahu. "Kau duluan."
Tapi aku tidak tahu di ruangan mana Mr Argent dan istrinya berada. Jadi aku tinggal berharap setidaknya Mrs Argent masih ada di dapur. Dan harapanku terkabul, beliau ada di sana, lalu aku masuk ke ruangan itu diikuti Lydia.
"Mrs Argent," panggilku, ketika ia sedang asyik melihat isi kulkas, ia langsung menoleh ketika aku memanggilnya. "Aku dan Lydia mau pamit pulang."
Wanita itu tersenyum. "Oh, baiklah, selamat malam kalian berdua, hati-hati di jalan."
Aku membalas senyumnya kemudian berjalan keluar rumah dengan Lydia. Di luar, kulihat Allison sudah menunggu di depan mobil Lydia. Jadi kami bertiga naik mobil itu.
Baru sekitar lima menit kami meninggalkan rumah Allison, aku melihat ada mobil hitam tak asing untukku tepat di depan kami. Oke, aku memang parah dalam mengingat mobil mana namanya apa, tapi aku tidak begitu parah dalam mengingat mobil mana punya siapa—apalagi kalau sudah beberapa kali naik ke dalamnya. Itu mobil Derek.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku melihat layar ponselku, ternyata ada pesan masuk dari Derek.
'Dari Derek
Biar aku yang antar kau pulang.'
Aku tersenyum melihat pesan itu, jadi aku membalas pesannya dengan 'oke', singkat. Kebetulan tidak jauh dari mobil Lydia juga ada taksi, jadi aku bisa bilang kalau aku akan pulang naik taksi.
"Lydia, biar aku pulang naik taksi, nanti Scott dan Jackson bisa terlalu lama menunggumu dan Allison kalau harus mengantarku," kataku.
"Kau yakin?" tanya Allison. "Maksudku, naik taksi malam-malam?"
"Aku akan baik-baik saja," jawabku sambil tersenyum. "Jalanan masih agak ramai kok, jadi kupikir aku akan baik-baik saja."
Lydia mengangguk dan tersenyum. Lalu ia menepikan mobilnya tidak jauh di depan mobil Derek. Sepertinya kedua temanku ini tidak tahu siapa pemilik mobil hitam itu, dan mereka memang percaya bahwa aku akan naik taksi setelah ini.
"Hati-hati, Val," kata Lydia.
Kubuka pintu mobil. "Oh, bisa minta tolong? Jangan bilang siapa-siapa kalau aku naik taksi, terutama pada kakakku. Kalau dia tanya apa-apa, bilang saja kalau kalian sudah mengantarku."
Allison dan Lydia mengangguk. Jadi aku turun dari mobil. Begitu aku menutup pintu mobil, Lydia langsung membawa mobilnya pergi. Saat melihat mobil itu sudah agak jauh dan mungkin tidak akan bisa melihat posisiku dari sana, mobil Derek menghampiriku.
Sampai di depanku, Derek membuka jendela dan melempar senyum padaku. "Naiklah, Val."
Aku membalas senyumnya kemudian berjalan ke pintu mobil dan membukanya, duduk di samping Derek. "Dari mana kau tahu kalau temanku akan mengantarku pulang dan akan lewat jalan ini?"
"Aku tidak sengaja melihatmu yang akan masuk ke mobil temanmu," jawab Derek sambil mulai mengendarai mobilnya. "Kau tidak apa-apa kalau kuantar? Kakakmu bilang untuk menjauhiku, kan?"
"Aku tahu kau bukan orang jahat, Derek, dan aku yakin aku tidak akan kenapa-kenapa kalau diantarmu pulang. Dan lagi aku tidak ingin Scott dan Jackson menunggu terlalu lama di tempat bowling gara-gara Lydia dan Allison harus mengantarku pulang dulu. Scott mungkin tidak masalah menunggu lama asal aku selamat sampai rumah, tapi aku tidak yakin soal Jackson," jawabku.
Derek mengangguk. "Omong-omong, sepertinya aku harus isi bensin dulu, tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa," kataku.
Jadi Derek masuk ke pam bensin. Ia mematikan mesin mobil dan turun. Baru ia mengambil selang bensin, tiba-tiba ia membuka pintu lagi. "Val, bisa tolong beli air mineral di minimarket itu?" Ia menunjuk ke minimarket yang ada di dalam pagar yang sama dengan pam bensin.
"Tentu," jawabku.
Aku langsung taruh barang-barangku di kursi belakang, lalu turun dari mobil. Derek memberiku uang, dan ia bilang aku bisa beli cemilan atau minum juga kalau mau. Kemudian aku melangkah ke minimarket, masuk ke sana dan langsung ke rak botol air mineral.
Rak itu bersandar dengan jendela yang menghadap ke pam bensin. Ketika aku mengambil satu botol, aku bisa melihat ada mobil merah di belakang mobil Derek serta mobil putih di depannya. Ada dua orang yang berdiri dekat Derek, aku tidak bisa melihat wajah keduanya, tapi kupikir keduanya pasti orang yang membawa mobil merah dan putih itu. Entah kenapa, rasanya aku jadi cemas, soalnya kedua orang itu tidak terlihat sebagai teman Derek.
Segera aku bawa botol air itu ke kasir. Aku tidak mengambil cemilan atau minum apa-apa seperti yang ditawarkan Derek, bahkan petugas kasir pun sampai menawarkan produk makanan kecil yang sedang diskon di minimarket itu tapi kutolak. Memang aku tidak terbiasa untuk jajan. Suka makan cemilan, tapi kurang suka jajan itu sendiri.
Usai membayar di kasir dengan uang yang diberikan Derek, aku keluar dari minimarket. Mobil merah dan putih yang kulihat dari kaca jendela di dalam tadi baru saja keluar melewati pagar pam bensin. Aku segera menghampiri Derek yang masih berdiri di samping mobilnya. Kulihat kedua tangannya terkepal, wajahnya terlihat kesal dan sedang menahan amarah.
"Derek? Kau baik-baik saja?" tanyaku saat sudah di hadapannya.
Ia mengarahkan matanya padaku, kulihat pandangannya melunak. "Aku baik-baik saja, Val."
Aku tidak percaya padanya, sungguh. Wajahnya yang menunjukkan ekspresi kesal saat aku datang tadi itu jelas-jelas menandakan ia tidak baik-baik saja. Aku agak terkejut ketika melihat kaca jendela mobil Derek yang bagian depan telah pecah. "Ada apa dengan mobilmu?"
Derek menghela nafasnya. "Ada yang tidak sengaja melempar batu. Tidak apa-apa."
Lagi-lagi aku tidak percaya padanya. Ingin rasanya aku minta dia untuk menceritakan kebenarannya padaku, tapi kutepis keinginan itu saat melihat Derek memaksakan senyum kecil padaku. Ia seakan sedang menunjukkan kalau ia memang tidak kenapa-kenapa. Kuputuskan untuk tidak menanyakan kejadian yang sebenarnya, lagipula siapa aku sampai ia harus menceritakan semua yang ia alami?
Aku menyodorkan botol air dan uang kembalian dari minimarket. Pemuda yang ada di hadapanku mengambil barang yang kusodorkan dan mengucapkan terimakasih. Derek membuka pintu mobilnya, yang kaca jendelanya pecah itu, pintu pengemudi. Ia meletakkan botol itu di pintu, lalu ia menyapu pecahan kaca yang ada di jok dengan tangannya.
Bisa kulihat kulit tangan Derek terbeset pecahan-pecahan kaca itu dan mulai mengeluarkan darah. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku.
"Tidak apa, Val," kata Derek. "Aku manusia serigala, lukaku akan segera sembuh lebih cepat daripada manusia biasa."
Kuanggukkan kepalaku. Dan saat itu aku baru menyadari satu hal. Tadi Derek memintaku untuk ke minimarket, lalu di sana aku melihat dua mobil itu datang, setelahnya Derek berwajah masam. "Kau tahu dua mobil itu akan datang, makanya kau memintaku ke minimarket?"
"Tidak ada mobil lain yang datang, Val, hanya mobilku di sini," jawab Derek sambil masih menyapu joknya.
Sungguh aku merasa sedih. Ia berbohong kepadaku. Kenapa kau tidak mau jujur, hei, Derek?
Mungkin Derek hanya tidak ingin membuatku cemas. Lalu aku berjalan ke pintu penumpang, membukanya untuk bisa duduk di sebelah bangku pengemudi lagi. Saat aku masuk mobil, pas Derek sudah selesai menyapu joknya dan ikut duduk di sampingku. Aku berniat menyamankan posisi dudukku, jadi aku menumpukan telapak tanganku di jok.
Tiba-tiba aku merasakan geretan sesuatu yang tajam pada telapak tanganku, dan aku langsung meringis. Langsung kulihat telapak tanganku itu, melihat ada goresan yang agak panjang di sana, memerah dan mulai mengeluarkan darah. Lampu dalam mobil tiba-tiba menyala, kupikir itu Derek yang menyalakannya. Ia melihat tanganku, kemudian ia memerhatikan bagian jok tidak tertutup tubuhku. Lalu ia menemukan satu serpihan kecil tertancap di sebelah kiri jokku.
Derek langsung melempar serpihan itu keluar dari mobil. "Maaf, Val, aku tidak tahu pecahannya bisa sampai jok sebelahnya." Kemudian ia menarik tanganku yang terbeset, kini ia memerhatikan telapak tanganku yang berdarah.
Ia menempelkan bibirnya di bagian yang terluka, menyedot darah yang ada. Ini seperti saat jariku tertusuk beling waktu di cafe, tetapi kali ini adalah telapak tangan. Lagi-lagi aku bisa merasakan lidahnya menjilat lukaku. Memang, sih, lukaku terasa perih saat terkena bibir apalagi lidah Derek, tapi pada saat itu juga hatiku seperti sedang meleleh. Rasa perih yang kurasakan pada tanganku digantikan dengan perasaan hangat yang aneh dalam dadaku.
"Aku akan beli obat," kata Derek.
"Tidak usah," ujarku. "Aku, eh, bawa tisu di tas. Aku bisa pakai itu sampai darahnya tidak keluar lagi. Di rumah baru kuobati."
"Kau yakin?" tanyanya. Aku bisa melihat wajahnya yang sedang benar-benar cemas.
Kuanggukan kepalaku, tanda 'ya', lalu tersenyum kecil. "Terimakasih, Derek."
Lalu ia meraih tasku yang kutaruh di jok belakang, atau sebenarnya jok tengah. Ia berikan tas itu padaku, ia bilang agar aku segera ambil tisu sebelum ia akan mematikan lampu dalam mobil dan mulai jalan lagi. Aku menuruti perkataannya. Kuambil tisu dari dalam tas, lalu Derek langsung mematikan lampu dan mulai mengendarai mobilnya.
Kurang lebih lima belas menit kemudian, mobil Derek sampai di depan rumahku. Kulihat mobil mama masih belum ada, berarti mama belum pulang. Berarti aku akan sendirian malam ini.
Kuucapkan terimakasihku pada Derek, bahkan sempat menawarinya minum kopi dulu. Tapi ia menolak, ia bilang ada urusan. Jadi begitu aku sudah berhadapan dengan pintu rumah, mobil Derek langsung melaju meninggalkan rumahku.
Masuk ke dalam rumah, memang tidak ada siapa-siapa di dalam. Mama dan Scott belum pulang. Kuputuskan untuk segera mandi dan ganti baju, menghapuskan bau Derek, jaga-jaga kalau kakakku tiba-tiba pulang cepat. Selesai mandi, aku ambil obat dan mengobati telapak tanganku, setelah itu kuambil novel yang ada di atas mejaku. Sudah jam jam sepuluh malam, sih, tapi novel yang satu itu terlalu tanggung kalau tidak diselesaikan malam ini.
Ketika aku sudah menyelesaikan novel itu, melihat ternyata sekarang sudah nyaris tengah malam, aku berniat tidur, aku bisa mendengar pintu kamarku diketuk. Aku langsung bangkit dari ranjang dan membuka pintu, melihat mama ada di depan kamar.
"Mama!" sapaku sambil memeluknya.
Mama membalas pelukanku dan mencium puncak kepalaku. "Belum tidur, Val? Baca buku lagi?" Aku menyengir dan mama memasang wajah pura-pura marah. "Jangan mentang-mentang besok Sabtu, Val. Kau harus tetap tidur cukup walau besok libur. Dan meski tidak sekolah, mama tidak mau putri mama bangun siang-siang."
"Iya, Ma," kataku sambil tersenyum. "Ini aku juga sudah mau tidur, kok."
Tiba-tiba aku mendengar suara grasak-grusuk dari bagian atap, setelah itu ada suara jendela yang dibuka. Suara itu berasal dari kamar yang ada di sebelah kamarku, alias kamar Scott. Aku dan mama memandang heran satu sama lain dan memutuskan untuk ke kamar kakakku. Sebelum masuk ke kamar itu, mama masih sempat mengambil tongkat bisbol.
Mama membuka pintu kamar Scott dan aku ikut masuk dengannya. Kami melihat bayangan seseorang berguling masuk dari jendela Scott dan mendarat di ranjang. Mama dan aku memekik, mama malah langsung nyaris memukul orang itu dengan tongkat yang ada di tangannya, tapi terhenti ketika melihat wajah Stiles.
"Ma?! Val?!" panggil seseorang yang lain. Itu suara kakakku. Kubalikkan badanku dan melihat Scott datang lewat pintu.
"Kenapa kau masuk lewat jendela, Stiles?" tanya mama sambil melipat tangan di depan dada.
"Pintu rumah, kan, dikunci ma, dia tidak punya kunci," kata Scott.
"Kenapa tidak ketuk pintu?" tanyaku.
"Kukira tidak ada orang di rumah?" jawab Stiles dengan nada bertanya.
"Tidakkah kalian berdua," mama menunjuk Scott dan Stiles bergantian dengan telunjuknya, "peduli akan aturan jam malam?!"
"Tidak," jawab Scott dan Stiles bersamaan.
Mama memasang ekspresi agak kaget, tapi kemudian ia bilang bahwa ia tidak akan berceramah malam ini. Sebelum keluar dari kamar, mama sempat mengingatkan Scott agar kakakku itu mengunci jendela kamarnya kalau keluar. Lalu mama mencium pipiku, mengucapkan selamat malam, dan keluar dari kamar Scott.
"Kencan yang menyenangkan, Scott?" tanyaku sambil tersenyum.
Kakakku tersenyum. "Melewatkan waktu dengan Allison, sangat menyenangkan. Tapi kalau sekaligus dengan Lydia dan Jackson, aku bingung mendeskripsikannya."
Lalu aku melirik Stiles. "Kau tidak akan datang seperti itu kalau bukan untuk hal yang penting, kan?"
Stiles mengangguk. Lalu ia bilang bahwa sekitar lima belas menit yang lalu papanya mendapat panggilan. Katanya, Garrison Meyers dinyatakan tewas sekitar jam sebelas. Scott mengepalkan kedua tangannya, lalu ia berlari keluar dari kamar secepatnya.
"Scott!" panggilku.
Tapi Stiles menghentikanku. "Jangan, Val! Dia akan ke rumah Derek, dan mungkin lebih baik kalau kau tetap di rumah!"
Aku menoleh pada Stiles. "Derek? Kenapa Scott ke rumah Derek?"
"Tentu saja karena ia berpikir Derek-lah yang membunuh Meyers," jawab Stiles. "Secara, dia jugalah yang menggigit Scott sampai jadi manusia serigala sekarang."
Kugelengkan kepalaku. "Tidak, Stiles. Derek tidak mungkin membunuh pria itu. Dan bukan Derek yang menggigit Scott, dia bukan Alpha, dia Beta seperti Scott."
Stiles menyerngit. "Apa maksudmu? Alpha? Beta?"
Aku mendesah, dan akhirnya memutuskan untuk memberitahu Stiles soal yang pernah Derek beritahukan kepadaku: tentang Alpha, Beta, dan Omega dalam dunia serigala.
"Jadi ada si Alpha yang Derek bahkan tidak tahu siapa, si Alpha itu yang menyebabkan Laura Hale dan Meyers terbunuh?" tanya Stiles setelah aku menjelaskan apa yang kutahu padanya.
Kuanggukkan kepalaku dan ia ber-wow pelan. Tapi aku jadi kepikiran. Katanya Meyers tewas sekitar jam sebelas, kan? Berarti itu sekitar satu jam lebih dari sejak aku sampai di rumah. Biasanya Derek baru akan meninggalkan rumahku kalau aku sudah masuk rumah atau malah sudah di kamar. Tapi malam ini ia sudah beranjak pergi saat aku baru di depan pintu, lebih lagi kuingat ia bilang kalau ia ada urusan. Mungkinkah urusannya itu ada hubungannya dengan Meyers?
.
.
Aku sedang sibuk membaca kolom lowongan pekerjaan di koran sambil berjalan di pinggir jalan, sampai aku agak terkejut saat mendengar suara klakson kendaraan dari belakang. Segera aku mengalihkan pandanganku dari kertas koran, untuk melihat ke belakang. Sebuah mobil warna merah datang menghampiriku. Jendelanya terbuka dan aku bisa melihat wajah Mr Argent yang seorang diri di dalam mobil.
"Valion, mau ke mana?" tanyanya dari dalam mobil.
Buru-buru aku melipat koran. "Selamat pagi, Mr Argent! Aku, eh, mau pulang ke rumah!"
"Kau seorang diri? Mau diantar?" tawarnya.
"Oh, tidak usah, Mr Argent, aku bisa jalan kaki sampai rumah. Paling, eh, sekitar dua puluh menit juga sampai," kataku.
"Dan kau hanya butuh sepuluh menit untuk sampai rumah kalau dengan mobil," kata Mr Argent. "Masuklah, Valion."
Aku tersenyum kecil, dan akhirnya menyerah juga. Aku masuk ke mobil dan duduk di sebelah Mr Argent yang mengendarai mobil. Setelah aku mengenakan sabuk pengaman, pria itu mulai mengendarai mobilnya lagi.
"Habis dari mana, kau tidak dengan Scott?" tanya Mr Argent.
"Scott ada latihan Lacrosse dengan Stiles di sekolah. Tadi aku hanya ke kios majalah," jawabku jujur.
"Ke kios majalah dan membeli koran?" tanyanya sambil mendelik ke arah koran yang tadi kubaca. "Kau unik, Valion."
Aku tertawa gugup.
"Kudengar dari istriku, kau berhenti kerja, kenapa?" tanya pria itu lagi.
"Eh, Scott bilang pekerjaan itu tidak pantas untukku, lalu ia memaksaku untuk berhenti," jawabku yang sebenarnya tidak lengkap.
"Oh, jadi kau beli koran untuk mencari lowongan kerja, diam-diam agar kakakmu tidak tahu?" tebak Mr Argent. Sial, apa dia cenayang?!
Kurasakan wajahku menegang karena tebakannya benar. "Anda tidak akan bilang siapa-siapa, kan? Terutama Scott? Ia pasti akan marah padaku!"
"Aku tidak akan bilang siapa-siapa. Tapi kenapa kau begitu ingin kerja, Valion?" tanya Mr Argent.
Aku mendesah. Aku tidak yakin kalau aku harus cerita pada pria yang duduk di sampingku ini. Maksudku, iya pasti dia adalah orang baik—terlepas fakta ia pernah memanah lengan kakakku karena orang ini berprofesi sebagai pemburu, tapi aku baru mengenalnya sekitar sebulan. Astaga, aku jadi merasa akhir-akhir ini terlalu mudah percaya pada orang yang baru kukenal!
Tapi kalau aku tidak menjawab pertanyaan Mr Argent, kupikir ia akan terus menanyakannya padaku. Ia seperti penasaran, dan aku merasa sedang diinterogasi. Jadi aku menjawabnya, toh dia bilang tidak akan bilang siapa pun.
"Kalau aku kerja sambilan, setidaknya mama tidak perlu memberiku uang jajan, uang makan siang, atau keperluanku yang kecil-kecil. Jadi gaji mama dari rumah sakit bisa untuk bayar air, listrik, pajak rumah," jawabku. "Sejak aku berhenti kerja, mama memaksaku menerima uang makan siang darinya. Sekalipun aku masih ada uang sisa yang diberikan bosku saat aku berhenti, mama tetap ingin aku jajan dari uang yang ia dapat. Dan sejujurnya aku jadi bosan di rumah sendirian saat sore tiap hari."
Mr Argent menghela nafas, lalu kulihat ia tersenyum lembut padaku. "Kau anak yang baik, Valion. Kalau kau ceritakan itu pada mamamu, ia pasti akan sangat bangga padamu."
"Kalau Allison seperti itu, apa kau juga akan bangga, Mr Argent?" tanyaku.
"Tentu," jawab Mr Argent. "Valion, kalau kau sedang kesulitan dalam hal uang, kau bisa selalu datang ke rumahku."
Kugelengkan kepalaku cepat-cepat. "Tidak, tidak. Aku tidak mau meminjam uang, itu sama saja berhutang."
"Aku tidak bilang soal pinjam-meminjam," kata Mr Argent, tepat saat mobilnya sampai di depan rumahku. "Tapi kalau kau memang butuh bantuan, datanglah kapan pun. Aku dan istriku akan membantumu."
Mr Argent tersenyum. Tapi aku bingung. Bagaimana ia bisa bersikap begitu murah hati pada gadis remaja yang belum lama ia kenal? Aneh.
.
.
Hari Senin, kegiatan sekolah berlangsung seperti biasa, tapi hari ini tidak ada latihan Lacrosse. Kelas pertamaku hari ini sama dengan kelas Scott dan Stiles: kelas sejarah.
Tempat duduk selalu dibebaskan oleh guru, kecuali kalau ada yang ribut dan si guru kelas ingin memisahkan tempat duduk anak-anak yang sering ribut sendiri. Jadi setiap kali kami bertiga ada di kelas yang sama dan kebetulan ada tiga kursi yang berdekatan, kami akan duduk di tiga kursi itu. Kali ini aku duduk di sebelah Scott, dan Stiles ada di belakang kakakku itu.
Semenit setelah bel tanda sekolah mulai bunyi, guru sejarah kami masuk ke dalam kelas sambil membawa buku sejarah dan setumpuk rendah kertas putih. Aku menduga kertas-kertas itu adalah hasil tes sejarah minggu lalu. Guru sejarah kami ini mulai membagikan lembar-lembar kertas putih yang ada di tangannya, sedangkan Stiles terus-terusan mencolek punggung Scott untuk menanyakan soal Derek. Tepat saat Stiles bilang ia tidak akan tanya-tanya lagi, si guru sampai di mejaku dan memberiku selembar kertas.
Tepat dugaanku, itu adalah kertas tes minggu lalu yang sudah diberi nilai. Sang guru meletakkan secarik kertas di atas mejaku. Di pojok kertas itu tertulis namaku dan nilai A. "Bagus, Miss McCall, jangan seperti kakakmu."
Aku langsung menggigit bibir kemudian melirik kakakku. Selanjutnya ia berjalan ke belakangku. Stiles minta aku menunjukkan nilaiku. Jadi aku hanya memiringkan sedikit kertas tesku. Scott dan Stiles langsung ber-wow-ria sampai guru sejarah kami tiba di meja Stiles. Setelah Stiles melihat nilainya sendiri, wajahnya langsung girang dan menunjukkan nilai A padaku. Kulemparkan senyum padanya, lalu aku melihat wajah kecewa kakakku saat menerima lembar tesnya. Agak kulongokkan sedikit kepalaku dan melihat huruf D di sudut kertas tes Scott.
"Wah, kau harus belajar lebih lagi, Sobat," komentar Stiles.
"Jangan murung, Scott, ini hanya satu tes saja, tes pertama di semester ini, tidak apa," kataku sambil tersenyum kecil. Scott menatapku dan memalas senyumku. Aku yakin, kalau kita bukan sedang jam pelajaran, ia akan memeluk dan mencium keningku setelah aku mengatakan itu.
"Kau mau kubantu belajar?" tawar Stiles. "Oh, atau mungkin kau lebih ingin belajar dengan adikmu?"
"Tidak usah, aku sudah janjian dengan Allison untuk belajar di rumahnya pulang sekolah," jawab Scott.
"Berarti kau akan pulang denganku saja hari ini, Val," kata Stiles sambil tersenyum padaku. Kemudian ia menepuk bahu kakakku. "Belajar di rumah Allison, selamat, Scott!"
Aku menyerngit. Kenapa Stiles memberi selamat pada kakakku?
Tapi kakakku seakan paham ucapan selamat Stiles. "Kami hanya akan belajar saja."
"Oh, tidak, kau tidak akan hanya belajar," ujar Stiles sambil tersenyum penuh arti.
"Bisa beritahu maksudnya apa?" tanyaku, bingung.
Scott dan Stiles langsung menatapku heran.
"Aku lupa adikmu begitu polos, Scott." Stiles menyengir.
Kakakku memutar bola matanya. "Stiles, tolong jangan—"
"Nih, Val," kata Stiles sambil memotong perkataan Scott. "Scott akan belajar di rumah Allion. Berdua saja, dan pasti di kamar Allison. Walau mereka mengaku akan belajar, menurutmu apa yang akan dilakukan seorang perempuan dan seorang laki-laki yang berpacaran dan sedang berduaan dalam satu ruangan tertutup?"
Aku memutar otakku, masih bingung. Kulihat Scott melotot pada Stiles, ia seakan sudah siap menerkam sahabatnya. Tapi Stiles seakan tidak peduli.
"Ayo, Val, coba pikir," kata Stiles lagi. "Pacaran, berhubungan intim, empat huruf, huruf depan dan paling belakang adalah S?"
Kemudian aku baru sadar. Maksudnya ... 'seks'?
"Oh," gumamku pelan sambil menunduk. Kuyakin wajahku merona merah gara-gara memikirkan kata itu.
Lalu kudengar suara pukulan. Kulihat kakakku menjitak kepala Stiles. "Jangan tanamkan kata seperti itu di otak adikku, Bodoh!"
.
.
Kelas kedua adalah matematika, aku duduk dengan Lydia. Setelah itu kelas bahasa Prancis, bersebelahan dengan Allison. Terakhir adalah kelas seni rupa, tidak ada teman dekatku yang ikut kelas ini, jadi aku duduk seorang diri.
Mr Wan, guru seni rupa kami, menurutku adalah guru tersantai yang ada di Beacon Hills. Dia tidak pernah marah, mungkin hanya menegur, Tidak pernah menghukum secara langsung, tapi kalau muridnya sudah sangat keterlaluan ia akan langsung bawa ke kepala sekolah. Tidak pelit nilai, padahal seni rupa bukan ilmu pasti. Ia membiarkan para muridnya makan, minum, mengobrol, mendengarkan musik, jungkir balik sekalipun dalam kelasnya, tapi ia tetap menuntut murid-murid menyelesaikan tugasnya sebelum bel akhir pelajaran. Bahkan pernah saat sekitar tiga orang siswa yang sedang asyik mengobrol soal permainan video terbaru, Mr Wan malah ikut mengobrol dengan serunya.
Yang paling enak dari kelas seni rupa adalah, murid yang telah menyelesaikan tugasnya sebelum bel berbunyi boleh keluar kelas—kalau setelah kelas seni rupa tidak ada kelas lain lagi berarti boleh langsung pulang. Karena aku tidak punya teman untuk mengobrol di kelas ini, aku jadi bisa menyelesaikan lukisanku lebih cepat dari yang lain. Aku langsung memberikan hasil lukisanku hari ini pada Mr Wan, lalu membereskan tas dan keluar dari kelas.
Koridor kelas masih sangat sepi. Kupikir wajar karena masih dua puluh menit lagi sampai bel bunyi. Scott maupun Stiles pasti masih di kelas. Jadi walau aku keluar kelas duluan, percuma saja, tidak bisa langsung pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dan menunggu di sana.
Tiba-tiba aku merasakan tanganku ditarik seseorang dari salah satu belokan dekat perpustakaan. Ia menarikku untuk masuk belokkan itu. Ketika aku ingin teriak, ia langsung membekap mulutku dengan tangannya yang sama.
Tapi begitu aku melihat wajahnya, aku terkejut, dan ia melepaskan tangannya dari mulutku. "Derek?!" ujarku agak berbisik. Ia mengangguk. "Kenapa kau ada di sini?!"
Ia tidak menjawab. Tapi aku bisa melihat wajahnya pucat dan penuh peluh, tampangnya terlihat begitu lelah. Derek tidak berdiri dengan tegap seperti biasa. Aku lebih terkejut lagi saat melihat cairan kental warna merah mengalir di tangan kirinya.
"Derek, kau kenapa? Tanganmu, kau berdarah!" pekikku pelan.
"Scott, aku harus bertemu Scott," kata Derek sambil terengah-engah.
"Scott," gumamku pelan.
Aku langsung merogoh tasku, mencari ponsel. Setelah dapat, aku langsung coba telepon kakakku, tapi tidak diangkat. Kucoba telepon sekali lagi, sama juga. Lalu kucoba telepon ke ponsel Stiles karena aku tahu mereka berdua sekelas saat ini. Tapi sama juga, Stiles tidak mengangkat teleponnya.
"Scott dan Stiles tidak menjawab teleponnya, mereka pasti masih di kelas," kataku, cemas.
Kulihat setetes darah dari tangan kiri Derek yang mengalir lewat jarinya jatuh ke lantai. Warnanya bukan merah seperti darah umumnya, menurutku itu agak hitam dan lebih kental dari seharusnya. Entah memang ada yang salah dengan tubuh Derek atau memang seperti itukah darah manusia serigala?
Kucoba untuk menelepon Scott lagi, tapi terhenti ketika Derek memegang tanganku. "Kau gemetaran, Val."
Aku bingung. Masa iya, aku gemetaran tapi tidak sadar?
"Jangan cemas, Val, aku tidak apa-apa," kata Derek, berusaha tersenyum, tapi aku tahu dia pasti sedang menahan rasa sakitnya.
"Apanya yang tidak apa-apa, Derek? Tanganmu berdarah, wajahmu pucat! Dan kalau kau mencari Scott sampai datang kemari, itu pasti sudah serius!" ujarku.
Hal aneh yang terjadi adalah air mata mengalir di pipiku. Astaga, kenapa aku jadi menangis?
Derek, dengan tangannya yang sehat, mengusap pipi dan mataku. "Aku tidak apa-apa, Val, jangan menangisi aku."
"Aku tidak menangisi—mungkin ini hanya karena aku takut darah," kataku.
Lalu bel berbunyi. Pintu-pintu kelas mulai terbuka. Aku tahu aku harus segera membawa Derek keluar dari gedung sekolah. Tapi ke mana? Tentu aku harus mencari Scott atau minimal Stiles, tapi ya itu dia, aku tidak tahu keduanya di mana.
Ponselku berbunyi. Kulihat layar ponsel, kulihat nama Stiles di sana, ia menelponku balik.
"Val? Ada ap—"
"Stiles!" potongku. "Kau bersama dengan Scott?"
"Eh, tidak, katanya dia ingin langsung ke tempat Allison," jawab Stiles. "Ada apa, Val? Kau baik-baik saja? Kau di mana?"
Derek pasti bisa mendengar setiap perkataan Stiles. Soalnya Derek bilang padaku untuk minta Stiles bawa jipnya di tempat parkir, biar maksudnya kami berdua bisa langsung masuk jip dan Stiles langsung bawa keluar sekolah. Kuturuti perkataan Derek.
Stiles kaget. "Derek?! Derek Hale, dia ada di sekolah?! Astaga, kenapa dia ada di mana-mana?! Baiklah, kau bawa dia ke tempat parkir, aku akan telepon Scott."
Setelah memutuskan telepon, aku membantu Derek berjalan keluar sekolah lewat pintu belakang. Tubuh Derek tidaklah ringan, dan kupikir wajar. Tapi ketika kami sudah di tempat parkir, baru melihat jip Stiles, Derek seakan kehilangan kekuatan pada kakinya dan aku tidak mampu menopang tubuhnya, jadi ia terjatuh terlentang di atas aspal—tepat di depan jip Stiles.
"Derek!" panggilku, berusaha membuatnya tetap dalam kondisi sadar.
Stiles langsung keluar dari jipnya, dan tiba-tiba Scott datang menghampiri kami.
Scott menarik lengan kanan Derek biar pemuda yang lebih tua itu duduk. "Apa yang kau lakukan di sini?!"
"Aku kena tembak," kata Derek dengan suara lemah.
"Dia tidak terlihat baik, Sobat," kata Stiles.
Wajah Scott jadi cemas. "Kenapa kau tidak sembuh?"
Ah, ya. Kenapa aku tidak kepikiran soal manusia serigala yang seharusnya bisa menyembuhkan diri sendiri? Tapi kalau melihat darah kental yang mengalir di tangan Derek, aku tidak yakin kalau kemampuan untuk menyembuhkan diri itu sedang bekerja.
"Aku tidak bisa," jawab Derek. "Itu ... itu jenis peluru yang berbeda."
"Peluru perak?" tanya Stiles, terdengar antusias.
"Bukan, bodoh," dengus Derek.
"Jadi itu artinya perempuan itu bilang kau punya waktu empat puluh delapan jam," kata Scott.
"Siapa? Perempuan mana?" tanya Derek agak kaget.
"Perempuan yang menembakmu," jawab Scott.
Tiba-tiba aku bisa melihat bola mata Derek berubah warna. Aslinya yang berwarna hijau, berubah menjadi biru. Kutebak warna biru tersebut adalah warna matanya ketika berubah menjadi manusia serigala. Tepat saat kejadian ini berlangsung, mobil-mobil di belakang jip Stiles membunyikan klakson. Aku jadi tambah cemas sendiri.
"Apa yang kau lakukan? Hentikan!" pekik Scott.
"Itulah yang kukatakan tadi, aku tidak bisa!" balas Derek.
Kemudian Scott dan Stiles membawa Derek masuk ke jip Derek, duduk di jok belakang. Derek menyuruh Scott untuk mencari peluru yang sama dengan yang ditembakkan padanya. Ia bilang, kakakku membutuhkan dirinya. Ia bilang lagi, Scott pasti bisa melakukannya karena Allison adalah seorang Argent.
"Val, kau mau langsung pulang atau ... ?" tanya Scott.
"Aku ikut Stiles," kataku dengan yakin. "Aku khawatir, Derek tidak terlihat baik sama sekali dan aku ingin membantunya."
"Kau bisa bantu apa?" tanya Scott bingung.
"Aku tidak tahu!" raungku. "Aku hanya, eh, berpikir kalau aku harus ikut membantu!"
Scott mengangguk. Dia mendorong tengkuk leherku agar bisa mencium keningku. Ia mengatakan kalau aku harus hati-hati. Setelah itu aku langsung masuk jip Stiles, duduk di samping Derek di jok belakang. Setelah aku duduk, Stiles langsung membawa jipnya dengan sangat cepat keluar dari area sekolah.
Melewati gerbang depan sekolah, aku membantu Derek melepas jaketnya. Karena aku duduk di sebelah kiri Derek, aku bisa melihat lengannya yang berdarah. Di lengannya itu ada satu lubang—pasti di situlah ia kena tembak—dan ada garis-garis urat panjang di sekitarnya. Seketika itu juga aku jadi merasa mual bercampur cemas.
"Jangan lihat, Val," kata Derek. "Jangan lihat kalau kau takut, aku tidak apa-apa."
"M-mungkin, mungkin aku lebih merasa cemas daripada takut," ujarku.
"Kau mencemaskan aku?" tanyanya.
"Tentu saja aku cemas!" kataku, lalu buru-buru menambahkan. "Maksudku, kau tiba-tiba datang dihadapanku dengan kondisi seperti ini, jelas aku akan cemas!"
"Eh," panggil Stiles, ia agak melirik ke Derek. "Jangan menodai jok jipku dengan darahmu, ya, kita sudah mau sampai."
"Sampai ke mana?" tanyaku. Apa mungkin tadi kakakku sempat menyuruh Stiles membawa Derek ke suatu tempat?
"Sampai ke rumah Derek," jawab Stiles.
"Apa? Kau tidak bisa membawaku ke sana!" kata Derek agak membentak.
"Aku tidak bisa membawamu ke rumahmu sendiri?" tanya Stiles bingung.
"Tidak di saat aku tidak bisa melindungi diriku sendiri!" seru Derek.
Lalu Stiles langsung menepikan jipnya di pinggir jalan dan mematikan mesin. Kemudian ia menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Derek. "Apa yang terjadi kalau Scott tidak menemukan peluru ajaib itu, hm? Kau akan mati?"
"Belum," jawab Derek pelan. "Aku punya jalan terakhir."
"Jalan terakhir? Apa?" tanyaku.
Sebelum Derek sempat menjawab, pemuda itu agak meringis sambil menatap tangannya. Stiles dan aku ikut melihat tangan kekar Derek. Lengan yang agak terluka itu terlihat berkedut.
"Oh, ya ampun, apa itu? Apa itu beracun?" tanya Stiles. "Mungkin harusnya kau keluar saja dari mobilku."
"Stiles!" pekikku.
"Jalankan mobilnya, sekarang," kata Derek dengan nada rendah.
"Aku merasa sebaiknya kau tidak usah memerintahku dengan tampangmu yang sekarang, oke?" kata Stiles. "Bahkan kalau aku mau, aku bisa saja melemparmu keluar dari jipku dan membiarkanmu mati di jalan."
"Stiles!" pekikku lagi.
"Jalankan mobilnya, atau aku akan merobek tenggorokkanmu ... dengan gigiku," kata Derek.
Stiles terlihat meneguk ludah sekali, lalu menghadap depan lagi. Ia menyalakan mesinnya dan mulai menjalankan mobil. Tapi aku tahu sebenarnya Stiles juga tidak tahu harus membawa Derek ke mana. Kalau aku yang bawa mobil, mungkin tujuan pertamaku juga adalah rumah Derek. Namun Derek benar, ia tidak sedang tidak bisa melindungi dirinya sendiri saat ini, jadi rumahnya sendiri pun tidak aman untuknya saat ini. Si pemilik jip bilang bahwa ia hanya akan berkeliling tidak menentu sampai Scott memberi kabar. Derek tidak masalah pada ide itu.
Jadi Stiles mengendarai jipnya. Derek tidak terlihat membaik, mungkin malah makin kesakitan. Kulitnya yang dari awal sudah pucat, jadi makin pucat, ditambah dengan ekspresi wajahnya yang sedang menahan sakit. Stiles menyalakan AC mobilnya, tapi Derek masih keringatan seakan jip ini begitu pengap.
Aku melihat Derek dengan tatapan sedih dan bingung. Aku sendiri yang memutuskan untuk ikut jip Stiles, tahu aku tidak akan bisa membantu, tapi tetap ingin ikut. Stiles membantu dengan mengendarai jipnya. Scott membantu—sudah pasti—dengan mencari peluru di rumah Allison. Sedangkan aku? Kerjaku dari tadi hanya merasa cemas saja.
Melihat peluh Derek yang masih membanjiri wajahnya, akhirnya aku mengambil sapu tangan dari dalam tasku. Aku menempelkan sapu tangan itu di pipi Derek, berusaha mengelap wajahnya. Mata pemuda itu yang tadinya tertutup untuk menahan rasa sakit, langsung terbuka begitu merasakan keberadaan sapu tanganku di wajahnya.
Kusisipkan senyum kecil di bibirku sambil terus mengelap wajah Derek. Ia berusaha untuk membalas senyumku.
"Maaf aku tidak bisa membantumu," bisikku.
"Kau sudah membantuku," ujar Derek lirih dan pelan.
"Dengan mengelap keringatmu?" tanyaku sambil mengangkat sebelah alis.
"Itu juga, tapi ada yang lain," katanya, membuatku bingung. "Kau ada di sampingku, itu yang penting."
"Bagaimana mungkin dengan aku ada di sampingmu, itu sudah membantu?" tanyaku bingung.
"Walau tidak membuatku sembuh tapi kau membuatku merasa lebih baik dengan ada di sampingku," katanya. Kurasakan tangan kirinya menggenggam tanganku, tidak erat, karena lengannya terluka. "Jadi kalau kau ingin membantuku, itu cukup dengan tetap di sisiku saja."
Derek tersenyum lembut padaku sambil terus menggenggam tanganku. Aku mengangguk. "Tentu saja. Maksudku, tidak mungkin aku meninggalkanmu yang sedang seperti ini!"
Kami berdua saling menatap mata satu sama lain. Sebenarnya aku bukan berencana untuk menatap matanya, tapi mata Derek lebih dulu memandangiku, jadi aku tertarik untuk menatap mata hijau pemuda ini.
Suara Stiles agak mengagetkanku. "Apa yang harus kulakukan padanya?" Kutebak ia sedang bicara dengan Scott lewat telepon. "Omong-omong, aku sudah bisa mencium sesuatu darinya." Aku mengangkat alis, Derek mengeluarkan bau apa memangnya? "Seperti kematian!"
Aku langsung memutar bola mataku. Oh, Stiles.
Sang pemilik jip masih mengendarai mobilnya sambil menelepon. "Val masih di sini, baik-baik saja." Setelah itu Stiles mendecak dan menyerahkan ponselnya pada Derek. "Kau tidak akan percaya ke mana Scott suruh aku membawamu, Derek."
Derek mengambil ponselnya yang masih terhubung dengan kakakku. Pemuda di sampingku ini langsung menanyakan kalau Scott sudah menemukan pelurunya. Perkataan Derek yang berikutnya menandakan bahwa kakakku masih belum berhasil. Hari sudah mulai gelap, dan Scott belum juga keluar dari rumah Allison.
Kalau kakakku dan Allison hanya belajar saja, kupikir seharusnya sekarang sudah selesai dan kakakku bisa langsung mencari peluru. Kalau mereka melakukan hal yang lain juga selain belajar, itu lain cerita. Hal lain, seperti sek—tidak! Uh, gara-gara pembicaraan dengan Stiles tadi pagi di kelas, aku jadi ingat lagi. Bagus, sekarang wajahku jadi agak merona merah. Terimakasih untuk gelapnya langit, Stiles sedang sibuk mengendarai jip dan Derek sibuk bicara lewat ponsel, keduanya tidak ada yang sadar kalau aku sedang gugup.
Derek menyerahkan ponsel Stiles lagi. Aku masih tidak tahu Stiles akan membawa kami ke mana—tepatnya, membawa Derek ke mana. Tapi jalan yang kami lewati tidak asing buatku. Tidak jauh di depan kami ada klinik hewan, tempat Scott kerja paruh waktu, dan sekarang Stiles menepikan jipnya.
Astaga, Scott tadi menyuruh Stiles membawa Derek ke klinik hewan?! Oke, aku tahu Derek adalah manusia serigala, tapi ia bukan seekor serigala sehingga kalau sakit harus dibawa ke klinik khusus hewan! Tunggu, kenapa aku jadi kesal sendiri? Aneh.
Sambil berusaha menepikan jipnya, Stiles mendapat pesan, kupikir dari kakakku. Lalu ia menanyakan pada Derek, "Apa Nordic Blue Monkshood familiar untukmu?"
"Itu adalah jenis langka dari Wolfsbane, Scott harus membawakanku peluru itu," kata Derek.
"Kenapa?" tanya Stiles.
"Karena aku akan mati tanpa itu," kata Derek pelan.
.
.
~TBC~
Next: #HereComesTheAlpha
.
.
A/N: Spoiler: 2 plot twist akan terjadi di season 3.
