RinxLen

Warning: bahasanya jahat, alur (sangat) kecepetan, gaje, typo

Seorang gadis berambut honey blonde pendek tersenyum. "Selamat datang, tuan, nona!"

"Maid," panggil seorang gadis. "Aku pesan ini, lalu ini, dan ini."

"Terima kasih, nona. Silakan tunggu sebentar," ucap gadis itu. Ia masuk ke dalam dapur. "Lily-chan! Ada pesanan! Aku tempel, ya!"

"Di tempat biasa saja, Rin-chan," kata gadis yang dipanggil Lily itu. Gadis rambut honey blonde yang tadi dipanggil Rin mengangguk.

"Kalau sedang kerja, jangan main-main!" kata seseorang. Ia pria berambut honey blonde dengan diikat ponytail kecil. Pemuda itu menepuk kepala Rin.

"Baik, Len-sama," ucap Rin. Orang yang dipanggil Len itu tersenyum kecil, dan mencubit pipi Rin.

"Jangan cemberut aja, Rinny~"

"Ah, sudah ah! Len-sama jangan ganggu aku!" kata Rin meronta. Len semakin gemas mencubit pipi Rin.

"Ehem, maaf mengganggu acara pacaran Rin-chan dengan Len-sama. Tapi para pengunjung sudah kesal karena makanan tidak di antar-antar."

"Hai!" kata Rin. Ia mengantarkan makanan dengan cepat dan menyambut pelanggan. Len tertawa melihat Rin.

"Len-sama, anda menyukai Rin-chan?" ucap Lily to the point. Len kaget akan pertanyaan Lily, dan segera merona. Lily menatap Len meminta jawaban.

"Hmm… iya," gumam Len.

"Selamat datang!" kata Rin tersenyum manis. Seorang gadis bertampang dewasa memasuki ruangan itu.

"Kau yang namanya Rin?" ucap gadis dewasa itu tenang. Rin kaget dipanggil, dan mengangguk.

"Ya, namaku Rin Kaganami. Ada apa, nona?" kata Rin. Gadis itu mengamati Rin dengan seksama.

"Hmm…" gadis itu langsung memeluk Rin. "Kyaa! Rin-chan manis!"

"Ano?" tanya Rin.

"Hehehe… namaku Hikari, Shiro no Hikari!" kata Hikari tersenyum. Dilepaskan pelukannya. "Aku kakaknya Len!"

.

.

.

"Eh?" kata Rin.

"Ternyata Len tidak salah pilih pacar ya. Aku beruntung memiliki adik ipar semanis ini!" kata Hikari kembali tersenyum.

"Eh… maksud Nee-sama… aku sama sekali tidak pacaran dengan Len-sama!" kata Rin saat menyadari maksud Hikari.

"Yaaah… padahal aku seneng sama Rin-chan, loh. Coba kalau aku pria, sudah aku pacari dari dulu," kata Hikari menyesal. Tiba-tiba ia terbesit ide. "Rin-chan!"

"Iya?"

"Mau ya jadi pacar Len! Kumohon!" pinta Hikari. Rin melongo saat melihat kakak majikannya itu.

Maaf, kalian bingung ya? Jika Sae jadi kalian, Sae juga bingung. Sekarang Sae bacakan awal ceritanya.

Rin Kaganami, sulung dari dua bersaudara. Adiknya Lenka Kaganami. Cewek tsundere, tapi ia rela membuang gengsinya, demi keluarganya. Ibunya sudah meninggal, ayahnya kabur dari rumah. Rin hanya tinggal berdua. Adiknya hanya setahun lebih muda darinya. Rin sangat disiplin. Namun, ia juga kadang-kadang ceroboh. Untuk memenuhi kehidupan mereka, Rin bekerja dengan seorang pemilik café besar.

Café itu sebelumnya milik kakek dari Len Kagamine. Namun, setelah beliau meninggal, Len menggantikan jejak kakeknya. Memang aneh Rin yang sekelas dengan majikannya. Tapi, Rin memanggil Len saat bekerja dengan 'sama', dan disekolah ia panggil dengan Kagamine-san.

"Kakak…" panggil Len dengan hawa membunuh. Hikari tenang-tenang saja dan tersenyum.

"Ada apa, adikku yang manis, imut, shota?" kata Hikari polos.

"Jangan panggil aku seperti itu, Baka Onee."

"Jangan memanggilku Baka Onee, Shota Aho."

"Siapa yang kau panggil Shota Aho, Hikapon?"

"Hallo? Hikapon siapa, pisang busuk?"

"Maaf menyela pembicaraan kalian," ucap Lily. "Tapi para pelanggan sedang menonton kalian."

Hikari dan Len kaget, dan berwajah merah. Rin mau tidak mau tertawa geli. Len tersenyum. "Len-chaaan~ kamu suka sama Rin-chan, ya?" kata Hikari blak-blakan. Len langsung blushing, dan menunduk. "Ciee… pisang!"

"Namaku LEN, Baka Onee."

"Maaf, banana freak," ucap Hikari. "Makanya, pisang bau, bilang saja sama Onee-mu yang sangat pengertian ini. Pasti aku akan bantu percintaanmu," kata Hikari sambil menjentikkan jarinya.

"Ogah."

"Nani!?"

"Nanti minta imbalan, lagi."

"Tenang aja, banana freak. Aku tidak akan minta imbalan, tapi minta PJ aja! Hehehe…"

"Amit-amit. Lagipula, kau sendiri belom punya pacar."

"Buat apa pacar? Lebih baik ngoleksi anime Vocaloid daripada punya pacar," kata Hikari polos.

"Aku juga mau bantu!" sela Lily.

"Buat?" kata Len.

"Aku mau naikkin gajiku! Masa selama 2 tahun gajiku segini saja? Pokoknya, kalau Len-sama jadian sama Rin-chan, aku mau gaji dinaikin!" protes Lily.

"Terserahlah. Pokoknya, aku bodo amat," ucap Len meninggalkan mereka.

"Lily-chan~ kamu satu sekolah sama Rin-chan dan Len-chan, kan?" kata Hikari.

"Iya, Onee-sama!"

"Panggil aja Hikari mulai sekarang, karena kita sekarang ada rekan kerja! Namanya, 'Misi-Perjodohan-Len-Agar-Dapet-PJ'!" kata Hikari semangat.


SKIP TIME

"Kagamine-san!" panggil Rin.

"Ada apa, Rinny?"

"Bisakah kau berhenti memanggilku Rinny? Malu, tahu!" kata Rin. Disodorkannya buku bertulis 'Len Kagamine' kepada Len. "Dari Gumiya-sensei!"

"Trims," ucap Len cuek.

"Hai, Rin!" panggil Lily.

"Lily-chan!" kata Rin menghampiri Lily yang berada di jendela kelas. "Ada apa?"

"Mau main doang. Eh, ada Len-sama," ucap Lily. "Moshimoshi, Len-sama!" teriak Lily.

"Jangan berteriakpun aku sudah dengar, L-I-L-Y-C-H-A-N," ucap Len dingin. Tentu saja ia dengar, karena jarak antara berdiri Lily dengan jarak tempat Len duduk hanya dua langkah.

"Maaf, L-E-N-S-A-M-A," balas Lily tidak kalah jutek.

"An-ano… kenapa auranya seram?" ucap Rin ketakutan. Tiba-tiba Lily tersenyum manis.

"Aku pergi dulu ya. Siap-siap untuk nanti pulang sekolah, ya!" kata Lily berlari pergi.

"Dadah. Tapi, maksudnya pulang sekolah? Oh, mungkin untuk kerja maksudnya," kata Rin. Ia menghampiri Len. "Nee… Len-sama. Maaf! Maksudku Kagamine-san," kata Rin. "Err…"

"Panggil Len saja. Tanpa sama, tanpa san," kata Len. Ia menutup bukunya, dan memandang Rin. Rin langsung salah tingkah, dan seperti cacing kepanasan. "Ada apa, Rinny?"

"Aku… err... sebenarnya tidak pantas ngomong begini, sih," ucap Rin gugup. Len menunggu. "Aku… ehm… boleh minta naikkan gaji?"

.

.

.

"Ha?" kata Len. Dipikir mau nembak…

"Keuangan keluargaku sangat kritis. Jadi hanya aku yang menopang hidup kami sekeluarga. Akhir-akhir ini, harga air meningkat, listrik dan bensin juga. Lalu bahan makanan sehat susah dicari, karena banyak penipuan," jelas Rin.

"Tunggu. Tadi kamu bilang kamu yang menopang hidup kalian sekeluarga?" tanya Len. Rin mengangguk. "Ke mana orang tuamu?"

"Ehm… Okaa-san dan Otou-san… sudah meninggal tiga tahun yang lalu," ucap Rin menunduk. Len merasa bersalah, dan mengusap kepala Rin.

"Gomenne," ucap Len pelan.

"Tapi, tidak apa-apa kok! Aku kan kuat, bisa hidup berdua saja dengan Lenka-chan sudah cukup buatku, tehee…" kata Rin tertawa. Namun di balik wajahnya itu, Len bisa melihat kesedihan tersirat dari mata gadis itu. Entah kenapa, Len memeluk Rin dengan hangat.

"Maafkan aku."

"Tidak apa-apa, Len-sama."

.

.

.

JIIIT… sepertinya ada yang melihatnya…

"Kagamine-san! Kaganami-san!" tegur seseorang. Mereka berdua menoleh. "Kalau mau pacaran, silakan keluar dari kelas saya, dan kembali jika sudah selesai!" kata Gumiya-sensei.

"Sensei!" kata Len dan Rin panik. Mereka langsung kembali ke tempat duduk mereka dengan wajah merah.

"Kalau kalian ingin pacaran terus, jangan masuk kelas saya dan kalian diijinkan pacaran di luar!"

"Gomen, sensei."


SKIP TIME

"Rin-rin!" panggil Lily.

"Ada apa, Lily-chan?" kata Rin.

"Ayo!"

"Kerja? Yuk!" kata Rin semangat. Namun, kali ini Rin diseret oleh Lily masuk ke dalam mobil. "Eh?"

"Hallo, Rin-chan!"

"Nee-sama?" kata Rin kaget melihat orang yang duduk di kursi supir. (karena Hikari lebih tua dari Len, sedangkan Len sudah 2 SMA, gadis itu sudah memiliki SIM.)

"Kita mau ke mana, Onee?" tanya Len cemberut sambil melipat tangannya di dada.

"Tenang saja, pisang. Kau pasti suka tempat ini," balas Hikari cengar-cengir. "Lily-chan, Rin-chan, Len-chan, sudah pakai sabuk pengaman?"

"Sudaaah," kata Lily. Lily duduk di kursi sebelah sopir, dan Rin dan Len duduk di belakang. Hikari tancap gas, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan 70 km/jam.

"Onee-samaaaa!" teriak Rin."Kita bisa ditilang polisi!"

"Tenang saja, tenang saja!" kata Hikari tenang. Mereka sampai di sebuah tempat yang ramai.

"Ini di mana?" kata Len.

"Di taman bermain!"

.

.

.

"Tidak senang ya?" kata Hikari memasang mata memelasnya.

"Sama sekali tidak. Ayo, kembali bekerja," kata Len dingin.

"Hai, Len-sama," kata Rin setuju.

"Lho, kenapa kalian dingin seperti itu?" kata Lily. "Kami sengaja berbuat begini untuk kalian, tahu!"

"Huh! Dasar pisang hideyoshi! Pokoknya, aku minta pajak! Ayo, Lily-chan!" kata Hikari. Ia dan Lily masuk ke dalam mobil, dan dalam dua detik, mobil itu menghilang.

"Ano, Len-sama?"

"Iya?"

"Sekarang kita bagaimana?" ucap Rin. Rin dan Len di tinggal berdua oleh Hikari dan Lily.

"Sial, tidak ada jaringan," kata Len menggumam sambil mengotak-atik handphonenya. "Rin, kita pulang naik taksi saja," kata Len. "Rinny?"

"Maaf, Len-sama! Di sana sepertinya menyenangkan, jadi aku melamun. Gomenne!" ucap Rin tersadar dari lamunannya.

"Sudahlah, ayo masuk," kata Len menunjuk salah satu kedai permainan. Mereka bermain di sana.

"Len-sama mau main apa?" tanya Rin.

"Len. Aku mau main tangkap ikan," ucap Len. Difokuskan matanya, dan… syut! Len berhasil mendapat ikan.

"Wah, Len-sama hebat!" ucap Rin kagum. Len malu sendiri dan blushing. "Len-sama kenapa? Sakit?" ucap Rin khawatir.

"Ti-tidak! Ayo pergi!" ucap Len menutupi rona wajahnya. Rin hanya bertanya-tanya.

Lalu, mereka pergi makan.

"Rin mau makan apa?" tanya Len.

"Hmm… aku mau… orange juice, orange mix dan orange ice cream," kata Rin.

"Kalau aku… banana juice, banana split, banana ice cream, banana mix," ucap Len.

"Baik," ucap pelayan walaupun ia juga bingung kenapa mereka berdua bisa memperlihatkan sisi maniak mereka tanpa abal-abal.

"Psst!" panggil seseorang berkacamata hitam. "Bagaimana?"

"Bagus, Lily-chan!" balas seorang lagi. Hikari dan Lily menguntit Len dan Rin.

"Strategi A!" Lily berjalan ke arah Rin yang sedang meminum orange juice nya.

"Maaf, nona?" kata Lily.

"Ya?" balas Rin.

"Sebenarnya hari ini aku sedang kencan dengan pacarku, tapi ternyata ia sakit tiba-tiba akibat naik jet coaster. Maukah nona menggantikan aku untuk naik ini? Tentu saja dengan pacar nona," ucap Lily.

Rin langsung blushing. "I-Ia bukan pacarku!"

"Tolonglah," kata Lily.

"Baiklah," kata Rin. Len yang tadi sebentar ke toilet bingung saat ia kembali Rin sudah seperti tomat matang.

"Rinny, ada apa?" tanya Len. Pemuda itu mengusap kening Rin, yang membuat gadis itu tersentak kaget.

"A-a-aku tidak apa-apa," kata Rin sambil memalingkan wajahnya. Len terdiam.

"Ano, Len-sama?" panggil Rin. "Kamu mau naik ini?" tanya Rin sambil menyodorkan tiket yang diberikan Lily.

"Apa? Kau yakin?" ucap Len saat melihat tiket tersebut.

"Eh? Memangnya kenapa?"


SKIP TIME

"Kyaaa!" jerit Rin saat mereka sudah sampai di puncak, lalu turun ke bawah. Mereka di beri tiket jet coaster oleh Lily. Setelah bermain itu, Len hanya terdiam dengan wajah pucat pasi. "Len-sama? Kau tidak apa-apa?" Len tidak menjawab, dan hanya menahan diri agar tidak muntah.

"Rin. Aku mau ke toilet dulu ya," kata Len sambil berjalan dengan terhuyung-huyung. Rin hanya menatapnya dengan cemas.

Selesai muntah di kamar mandi, Len berjalan menabrak seseorang. Ia menabrak kakaknya sendiri, namun ia sama sekali tidak menyadarinya.

"Ah! Maaf!" kata Len.

"Eh, bana- ehem! Maksudku, tidak apa-apa," kata Hikari. "Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa. Rasanya aku mengenalimu," kata Len meneliti. Hikari hanya berkeringat dingin.

"Masa? Banyak yang bilang begitu padaku," kata Hikari. "Sudah ya, Ia segera menghampiri Lily, yang tidak di kenali Len saat itu.

"Len-sama!" panggil Rin. Len menghampirinya. Ia membuat posisinya menghadap Rin.

"Ya?"

"Lihat deh," ucap Rin sambil menunjuk koala (? Memangnya ada koala?).

"Lily, Strategi B," kat Hikari. Ia mengambil benang dan menariknya. Rin yang sedang berjalan tersandung. Len yang ada di depannya menahan tubuh Rin.

"Hati-hati," kata Len datar. Rin segera berdiri, dan blushing berat.

"Ma-maaf." Di balik wajah datar milik Len itu, ia merasa gembira setengah mati, tapi tetap memakai poker facenya.

"Se-sekarang mau ke mana?" kata Rin gugup.

"Terserah," kata Len tetap dengan wajah datarnya. Di lain tempat tapi enggak jauh-jauh amat, Hikari dan Lily sedang ber-tos-ria.

"Yes!" kata mereka. "Strategi terakhir, strategi C!"

Hikari berjalan menuju Rin, dan menyenggolnya. Di belakang Len, ada Lily yang mendorong Len. Brukk! Kedua gadis itu kabur dan mengintip.

"Ma-ma-maaf!" kata Rin memegang mulutnya. Karena dorongan kedua cupid cinta itu (?) Len dan Rin bertabrakan dan… ehem… berciuman. Gadis itu menunduk berkali-kali. "Maaf, Len-sama!" gadis itu panik, dan berkata. "A-a-a-aku pulang dulu ya! Terima kasih atas hari ini!" dan melesat ke belahan dunia lain.

Len hanya terdiam sambil memegangi bibirnya.


SKIP TIME

Seharian itu Rin dan Len saling menghindar. Setiap bertemu, salah satu dari mereka membuang muka. Lily sampai tertawa geli melihat mereka. Akhirnya, saat kedua mahluk itu dipanggil.

"Kaganami, Kagamine, tolong bantu bawa barang ke gudang," perintah Gumiya-sensei. Kedua orang itu mengangguk.

Saat mereka berjalan dalam diam, Gumiya-sensei merasa hawa tidak enak, dan menghindar.

"Ee-etto," kata Rin gugup. "Soal kemarin…"

"Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan," kata Len datar. Rin merasa tidak enak hati.

"Sebenarnya… ada yang mau aku bilang sama Len-sama," kata Rin.

"Apa?" kata Len datar.

"Tapi jangan kaget ya."

"Iya. Cepat, apaan?" kata Len tidak sabar.

"Hmm… sebenarnya… a-aku… dari dulu… hm… aduh, gimana ya ngomongnya," kata Rin. Len tetap menunggu. "Aa-ku… suka sama Len-sama," ucap Rin, seperti bergumam, nyaris tidak terdengar. Tapi Len mendengarnya, dan dia terbalak.

"Maaf. Aku salah dengar, tadi. Kau bilang apa?" kata Len tidak percaya.

"Ti-tidak apa-apa. Maaf, tolong lupakan," kata Rin buru-buru berjalan. Len menaruh barang miliknya, dan memeluk Rin dari belakang. "Len-sama?"

"Aku juga suka sama Rin. Suka sekali," kata Len. Rin bisa merasakan hembusan napas Len di telinganya.

"Apa? Len-sama menyukaiku?" kata Rin tidak percaya.

"Iya. Aku suka sekali sama Rinny." Rin tersenyum, dan menggenggam tangan Len.

"Hmm… terima kasih, Len-sama. Aku juga suka sama Len-sama," kata Rin.

"Yeees!" teriak Lily dan Hikari bersamaan dari jendela.

"Onee-chan!? Lily-chan!?" kata Len melongo.

"Yes! PJ, PJ, PJ!" teriak Hikari sambil menyodorkan tangan.

"Naik gaji! Naik gaji!" teriak Lily.

"Sebentar sebentar… kalian menjodohkan kami?" tanya Rin bingung.

"Ya! Tepat sekali, Rin-chan!" kata Lily dan Hikari bersamaan. Len kesal, dan langsung menggendong Rin ala bridal style.

"A-a-a-apa yang kau lakukan Len-sama?" kata Rin panik sekaligus malu.

"Kita tidak bisa terus di sini. Ayo kita cari tempat yang tenang dan sepi untuk memupuk cinta kita, Rinny~" kata Len dengan senyum nakalnya.

"Eh, Len-sama! Tunggu dulu!"


End of RinxLen


Sae: selesai! Gomenne lama!

Ann: gomenne buat Shiro no Hikari, karena perannya terlalu kasar bicaranya, sembarangan, tidak sesuai dengan watak Hikari-san

Hotaru: karena beberapa ada yang enggak ngerti tentang kedudukan kelasnya, sekarang kami akan membacakan kelas mereka.

Shou: kelas ada A, B, dan C. semua berurutan dari tingkat anak-anak pinter untuk kelas A, kelas B untuk anak-anak nilai standar, dan kelas C untuk anak-anak kurang.

Nao: kelasnya…

Lui = 2-A

Ring = 2-A

Luka = 3-A

Gakupo = 3-B

Rin = 2-B

Len = 2-B

Yuu: sekian dulu ya!

Hikaru: jangan lupa baca dan reviewnya, ya!