Terima kasih yang bisa meluangkan waktu untuk membaca fanfiction absurd ini :'D /terharu
Warning sudah diperingati di awal ya, kalau masalah genre, genre utamanya itu Drama dan friendship. Jadi, nggak sepenuhnya komedi. Maaf ya ' terus, kalau tentang masalah cerita ini BL atau bukan juga… saya gatau :'v
Anyway, silakan membaca!
…
This is Not Like You Think!
…
Chapter – 3: Rumor?
"Kamu pasti stalkernya Sawa-Sawa Daichi ya?!"
Dan kali ini Daichi-lah yang memasang ekspresi horror. Bagaikan ratusan kolor Ukai yang terbang menghiasi langit, sebenarnya lelaki yang di depan Daichi itu terlalu polos atau memang bodoh?!
"Siapa yang kamu panggil stalker? Kamu aja salah ngeja nama orang!" Seru Daichi. Sugawara menggembungkan pipinya kesal. "Kenapa sih setiap waktu harus ada orang yang namanya Daichi?! Demi apaan aku bosen!" Sugawara berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan kedua tangannya.
"Dan aku nggak suka sama dia!"
Daichi mengangkat alisnya. "Kenapa nggak suka?"
Sugawara melirik tajam ke Daichi. "Hampir semua cewek di sana ngefans gila sama dia. Apalagi Michimiya-san. Tanaka sama Nishinoya juga sampe nangis soalnya para manager klub lebih milih si Sawa Daichi itu dibanding mereka."
Daichi tidak banyak ambil reaksi saat itu, walaupun dia sadar Sugawara tidak suka dengannya dan telah membuat para wanita tergila-gila dengannya. Dia hanya menatap datar Sugawara dan langsung berjalan pergi ke kamarnya. Tapi, langkah itu terhenti saat dia merasakan kalau tangannya dipegang.
"Woi, kamu mau ngapain? Mau pake baju malah pake acara disegat-segat segala."
"Diem dulu, Daichi." Suara Sugawara terdengar rendah. Tatapan matanya juga berubah, melihat Daichi dengan serius. "Luka apa yang ada di pipi kamu? Kok bisa lebam?"
Sugawara menatap Daichi yang parut wajahnya berubah menjadi resah walaupun memang sengaja tidak diperlihatkan. Daichi menepis genggaman tangan Sugawara dengan kasar, "Bukan urusan kamu, Uban." Katanya.
"Uban—?! Geh, bilang dulu dong! Kenapa ada banyak luka di muka kamu?"
"Berisik." Tukas Daichi membalikkan badannya. "Jangan mentang-mentang khawatir ke aku, jijik tau liatnya." Lelaki berbadan kekar itu kembali berjalan ke arah kamarnya. "Lebih baik kamu khawatirin tuh ibu kamu. Pergi gegara pekerjaan sampe ke luar kota seminggu, ninggalin kamu sendiri di rumah."
Lelaki berambut kelabu itu sedikit memiringkan kepalanya. Perlu loading sebentar biar bisa connect. "Berarti selama seminggu aku di rumah sendiri bareng Daichi dong…"
"Hmmm…"
"EH HANJIR GELO! OGAAAAAH!"
-TINLYT!-
Ah, tahun yang melelahkan…
Kenapa kesialan selalu datang menjumpainya?
Hanya Tuhan-lah yang tahu.
Kali ini, Sugawara melihat langit biru cerah di siang hari sebelum bel istirahat habis. Dengan wajah datar, pastinya. Saat sarapan juga, dia hanya bisa menghangatkan makanan bekas tadi malam dengan wajah hampa tidak ada tujuan hidup.
"Suga-kuuun!"
Aduh, jangan suara ini lagi tolong.—Batin Sugawara dengan pasrah. Lelaki itu menoleh, tapi masih menyandarkan kepalanya di tangannya. "Mau apa lagi nih, Michimiya-san?"
Gadis yang ditanya Sugawara itu langsung mencekiknya dan menggoyang-goyangkannya seperti mainan rusak. "SIAPA YANG NYEWA KAMAR DI RUMAH KAMU?! SIAPA?"
"Yaudah diem dulu napa?! Gimana caranya aku jawab kalo kamu—eekh—nyekik kaya gini!"
"Oh iya, maaf." Michimiya langsung melepas cekikannya dan duduk di kursi yang ada. "Jadi, siapa?"
Rasanya memang tidak enak sih, melihat Michimiya dengan tatapan penuh harapannya. Rasanya kasihan. "Em, jadinya gini." Sugawara menggaruk tengkuknya. "Yang sewa kamarnya, namanya emang Daichi. Tapi bukan Sawa Daichi yang kamu idolain. Namanya Sakamoto Daichi. Dia murid baru di kelas 3-4—"
"AAAAHK TUHKAN!" Michimiya langsung menjambak rambut pendeknya. "HARUSNYA AKU SUJUD TIGA JAM DI DEPAN KUIL KEMAREN LUSA!"
"Jangan berlebihan! Udah takdirnya itu!" Sugawara berusaha menenangkan Michimiya dengan rusuh. "Tapi bukannya harusnya kamu udah tau kemaren?"
"Aku nggak masuk sekolah, masuk angin gara-gara sujud satu jam."
"Demi Tuhan, kepala kamu kesambet apa sih? Ngidolain dia sampe kaya kucing liar aja."
Michimiya menghapus airmatanya saat ia duduk di lantai tadi. Kemudian dia berdiri, pamit ke Sugawara, dan pergi dalam diam sedangkan teman-teman sekelasnya melihatnya dengan canggung. Tapi, memang benar sih. Sugawara bakalan malu juga jika dia berada di posisinya.
…
Sugawara berjalan di koridor sekolah. Matahari yang ada di atas bersiap turun dan istirahat empat jam lagi. Dia harus pergi ke gymnasium. Rasanya malu kalau kapten terlambat sedangkan para anggotanya sudah ada.
"Sugawara-san, bisa bicara sebentar?"
Lelaki yang dipanggil menghentikan langkahnya dan melirik yang memanggil. Yah, sepertinya dia akan terlambat masuk klub. "Oh, waketos, ya?"
…
"Sugawara-san tidak datang…" Gumam Hinata memegang bolanya. Kageyama melihat Hinata yang terus merenung, rasanya bikin gatal saja. "Memangnya apa yang kamu harapin kalo Sugawara-san dateng?"
Hinata menoleh ke Kageyama. "Kalo gaada Sugawara-san, aku nggak bisa receive bola!"
"Jadi kamu main volley Cuma ngandalin Sugawara-san aja gitu?"
"Hih! Bukan gitu maksudnya!"
"Udahlah, kalian jangan banyak berantem. Kita coba e-mail dia." Kata Asahi menenangkan Hinata dan Kageyama. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengetik:
Kepada: Suga
Subjek: Tentang latihan di klub
Teks: Suga, kamu ada dimana? Yang lain udah nunggu di gymnasium.
"Nah, udah tuh. Sekarang kita mungkin… pemanasan dulu kaya biasanya." Ujar Asahi sambil berdiri, tiba-tiba ponselnya bergetar. "Eh, dia membalasnya dengan cepat."
Hinata dan Kageyama langsung mendekati Asahi beserta ponselnya. "Mana? Mana? Apa yang dia bilang?"
Kepada: Asahi
Dari: Suga
Subjek: Izin
Teks: Barusan tadi aku mau pergi ke sana, tapi sekarang aku ada di perpus. Soalnya tadi ada waketos minta bantu data anggota klub volley tahun lalu. Katanya sih tugas dari ketos, terus nanti dikasih ke Takeda-sensei. Dan kayanya aku bakalan izin, soalnya banyak banget yang harus didata, mana sendiri lagi. Aku ga akan sempet latihan. Bilang maaf ke yang lain ya!
"Yah, Suga-san nggak hadir…" Gumam Yamaguchi yang tiba-tiba ikutan. "Tapi, bukannya kalo soal ngedata mah biasanya ke manager kan? Kenapa waketosnya mintanya ke Suga-san buat yang ngerjain?"
Semuanya menoleh ke Yamaguchi. "Mungkin dia cuma pingin ngerepotin Suga-san." Jawab Tsukishima dengan acuh tak acuh, walaupun dia sadar ucapannya tidak sopan.
"Tsukki!"
"Tapi bisa jadi Yamaguchi dan Tsukishima bener." Gumam Asahi. Lalu, sesosok wanita pun muncul di antara kerumunan laki-laki itu. "Biar aku yang memeriksanya, sekaligus membantunya." Kata Kiyoko.
Nishinoya dan Tanaka langsung memasang wajah horror. "KIYOKO-SAN, JANGAN IKUT!"
"BENER! NANTI KAMI DI SINI GIMANA?!"
"TANPA ADA KIYOKO-SAN SEMUA LATIHAN TIDAK BERARTI!"
"Kalian, jangan kekanak-kanakan," Kiyoko menepuk kepala mereka dengan buku. Dan pada saat itu juga, wajah Nishinoya dan Tanaka langsung tenang seperti biksu. "Kiyoko-san memukul kita dengan buku." Kata Nishinoya.
Tanaka pun mengangguk penuh arti.
Dan Asahi tersenyum hampa. Dia akan mengurus semua anggota ini selama dua setengah jam tanpa Sugawara dan Kiyoko.
…
"Nama, kelas, nomer absen, tanggal lahir, universitas, duh, kenapa banyak banget sih?" Gerutu Sugawara menulis dan mencari data itu dengan malas. "Kalo gini sih pulangnya bisa malem!"
Kiyoko memasuki perpustakaan dan melihat Sugawara berada di sebelah jendela besar. Gadis itu mendekatinya, dan duduk di depannya. "Lagi ngerjain apa, Suga?"
Lelaki itu menoleh, dan langsung kaget setelah melihat keberadaannya. "Eh, Shimizu-san. Ini, ada tugas dari Takeda-sensei, katanya." Jelas Sugawara agak gugup karena kaget. Kiyoko melihat semua data itu satu per satu. "Emangnya ini diperluin?"
Sugawara mengangkat kedua bahunya. "Pas diliat sih, sebenernya nggak terlalu, kata aku. Ini nggak ada hubungannya sama klub volley." Katanya dengan sepasang mata sayu.
Melihat mata sayunya Sugawara, Kiyoko jadi penasaran. "Ada apa?"
Pemilik kedua mata itu melihat Kiyoko. Sugawara menghembuskan napasnya, tersenyum tipis, dan kembali mengerjakan tugasnya. "Harusnya aku nggak mikir gini, tapi, rasanya hari ini kaya hari sial."
"Hm… terus?"
"Ibuku kerja ke luar kota sampe seminggu. Jadi aku bakalan di rumah sama Daichi si anak baru kelas 3-4. Kalo dia anak baik sih, nggak apa-apalah! Kalo ini, tampang sangar kaya preman." Sugawara terkekeh sambil menulis.
Kiyoko masih terus memandangnya. "Sakamoto Daichi?"
"Iya, dia orangnya." Kata Sugawara sambil menggeleng-geleng kepala dengan senyuman sembari menulis.
"Aku denger rumornya, kemaren dia berantem sama anak Shiratorizawa."
"Eh?"
Gerakan pulpen menulis itu seketika berhenti. Sugawara menatap Kiyoko dengan tidak percaya. "Daichi… berantem sama anak Shiratorizawa?" Ulangnya dengan suara bergetar. "Anak Shiratorizawa? Siapa?"
Kiyoko sedikit panik melihat reaksi Sugawara yang tiba-tiba pucat itu. "Tapi ini hanya rumor, ya. Aku sebenernya nggak terlalu percaya, tapi kayanya kamu harus tau, berhubungan kamu roomate-nya dia." Jelas Kiyoko dengan nada yang menenangkan. "Katanya dia berantem sama Ushijima Wakatoshi. Kalau bisa tanyain ke Daichi, takutnya salah."
Kepala Sugawara sedikit tertunduk. "Oh.. gitu ya. Btw makasih udah kasih tau ya. Bahaya kalau rumor itu nyebar, apalagi kalau bohong."
"Iya. Kalo gitu ayo kerjain lagi sampai selesai."
…
"Eh? Tapi Sensei tidak minta ini, lho." Jawab Takeda-sensei dengan heran. "Lagian ini kan alumni. Mana mungkin dipake." Takeda-sensei meletakkan dokumen itu di meja. "Sugawara-kun, maaf, tapi yang kamu kejakan itu percuma aja."
Saat itu, jam menunjukkan pukul lima sore. Matahari sudah setengahnya terbenam dan memancarkan sinar jingga ke langit-langit. Mungkin memang indah jika dilihat, tapi tidak dengan Sugawara sekarang.
"Tapi, Takeda-sensei, waketos bilang ke saya kalau ketua OSIS nyuruh saya bikin ini buat Sensei!" Seru Sugawara tidak terima.
Takeda-sensei sempat khawatir melihat paras Sugawara yang pucat. Dia menghembuskan napas. "Ketos sekolah kita akhir-akhir ini emang sering ngerjain orang bawa-bawa nama guru. Ada murid yang disuruh cetak proposal festival tahun lalu, terus pas ke ruang guru nggak ada yang minta."
"Tapi kalau tulisan tangan gini—sampai sepuluh lembar lagi, bisa dibilang keterlaluan. Nanti Sensei sama guru yang lain bakal bahas masalah ini. Dan mudah-mudahan yang kamu kerjain itu bisa berguna, walaupun keliatannya nggak." Jelas Takeda-sensei panjang lebar.
Sugawara sedikit terdiam, mengangguk tanpa suara. Kiyoko yang ada di sebelahnya pun pamit, dan mereka berdua kembali ke kelas melewati koridor dalam diam.
Lelaki itu terdiam dari langkahnya, membuat si gadis ikut terdiam, menoleh ke belakang. "Shimizu-san, maafin aku. Aku bener-bener ngerepotin kamu. Ini juga salah aku kenapa sok-sokan terima tugas itu. Aku emang bodoh." Katanya, sambil menunduk seperti rukuk ke gadis itu.
Kiyoko sedikit membelalakkan matanya, merasa sedih juga, melihat betapa frustasinya orang yang ada di belakangnya saat ini. Gadis itu mendekat ke Sugawara, dan memegang pundaknya. "Apapun masalahnya," gadis itu berkata dengan senyuman.
"Jangan terlalu salahkan diri kamu sendiri."
Sugawara melihat wajah Kiyoko. Dan seketika wajahnya sendiri merah padam.
Sementara itu…
Nishinoya dan Tanaka membuka mata lebar-lebar.
"NOYA-SAN! INSTING AKU NGERASAIN KIYOKO-SAN DALAM BAHAYA!"
"SEKARANG LAGI ADA DI MANA?!"
"MASIH DI SEKOLAH!"
"Kalian, bisa duduk manis sebentar nggak?" Tanya Asahi sambil menarik kedua kerah seragam mereka.
-TINLYT!-
Sugawara meletakkan barang belanjaannya ke meja makan dan duduk di depan kolam ikan koi, sambil memberi mereka makan. "Sei-nii, aku harus ngapain kalo udah kaya gini?" Gumamnya menatap langit. Namun, kata-kata itu malah membuat dirinya makin terpuruk.
Langit memberikan warna gradasi dari jingga ke warna ungu tua dengan indah ditambah dengan cahaya matahari yang menembus awan-awan. Sugawara berdiri, memberikan pelet terakhir untuk para koinya, dan mulai membuat makan malam.
Baru saja Sugawara memotong daun bawang, terdengar suara pintu rumahnya dibuka dengan kunci. Kenapa anak itu pulangnya malem terus sih?—Pikir Sugawara dalam hati sambil melihat Daichi yang tersentak kaget saat melihatnya.
Sugawara sedikit merasa lucu saat melihat ekspresi daichi yang seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan sesuatu dari ibunya. Yah, asalkan tidak ada bercak darah dan memar-memar di sekeliling wajahnya…
Sugawara membelalakkan matanya. "YA AMPUN KAMU KENAPA BISA JADI KAYA GINI?!" Serunya panik.
"Cih, telat amat sih responnya." Cibir Daichi, lalu berjalan. "Misi. Aku mau mandi."
"Siapa yang ngelakuin ini?"
"Hah?" Daichi menoleh ke Sugawara dengan wajah serius-menyebalkannya itu.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Sugawara dengan suara meninggi. Daichi mulai kesal dengan apa yang Sugawara lakukan. "Ini bukan urusan kamu. Awas, aku mau mandi." Jawab Daichi dengan acuh tak acuh.
Bukannya menjauh, Sugawara malah menghalanginya. "Justru itu juga urusanku! Kita kan roomate! Jawab, sama siapa? Siapa yang melakukannya? Kemaren kamu juga pipinya sedikit memar! Apa jangan-jangan kamu berantem sama Ushijima anak Shiratorizawa itu?!"
Kesabaran Daichi menghadapi Sugawara sudah habis, dia memukul tembok dengan sisi kepalan tangannya sehingga menimbulkan suara dentuman keras. "Kamu gapunya hak buat ikut campur, uban! Memangnya kamu ini siapanya aku? Cuma roomate kan? Apa harus roomate peduli sama orang kaya aku? Kamu gaada—"
"AKU ITU PEDULI KARENA AKU UDAH NGANGGAP KAMU SEBAGAI TEMAN! NGERTI NGGAK SEKARANG?!" Teriak Sugawara kencang.
Daichi agak tersentak karena tidak pernah mengira jika Sugawara akan semarah dan… sefrustasi ini. Dia hanya bisa menatap mata kecoklatan milik Sugawara dalam diam. Daichi sebenarnya tidak kaget dengan kemarahan Sugawara. Tapi, ia kaget saat mendengar apa yang dikatakan Sugawara barusan.
Heh, temen, ya? Lucu banget.
"Sekarang," kata Sugawara dengan napas yang memburu. "Coba bilang. Kamu berantem sama siapa?"
Tidak ada yang bisa Daichi lakukan kecuali mejawab pertanyaan sialan itu. "Kemaren aku emang berantem sama Ushijima di Shiratorizawa. Dan tadi aku berantem sama yang namanya Oikawa, anak sekolah Aoba Johsai. Mereka walaupun banyakan tapi kalah sama orang kaya aku." Kekeh Daichi beralasan untuk meremehkan kekuatan mereka.
Tatapan Sugawara kemudian melemas, lalu memelas. "Kenapa kamu berantem?"
"Aku cuma jawab satu pertanyaa—"
"Kenapa?" Sugawara menyela perkataan Daichi. Dan lawan bicaranya hanya menggerutu kesal.
"Karena mereka nyerang aku duluan."
"Kenapa kamu bales?"
"Soalnya mereka pingin aku bales mereka. Yaudah aku bales."
"Atau maksudnya kamu melayani apa yang mereka mau karena mereka sadar dan perhatian terhadap keberadaan kamu?"
Deg.
Kata-kata Sugawara tepat sasaran ke alasan Daichi yang sebenarnya. Daichi terdiam.
Sugawara memutar bola matanya dan menarik tangan Daichi agar lelaki yang badannya lebih besar itu duduk. "Woi, pelan-pelan bisa napa?!" Seru Daichi saat dirinya duduk di sofa, dan tidak menyadari jika wajah Sugawara akan sangat dekat dengan wajahnya. Yah, kira-kira sepuluh senti.
Daichi langsung membelalakkan matanya dan membuat ekspresi kaku seperti patung. Apa yang sebenarnya anak ini inginkan?!
Tangan Sugawara perlahan memegang luka Daichi. "Mulut kamu bisa sampe robek begini, ya… terus luka di pipi kira-kira besok bisa membiru kalo begini." Gumamnya. Daichi bisa mencium bau aroma daun bawang dari jemari kaku nan lentik milik Sugawara. "Tunggu, aku ambil air panas dulu buat bersiin lukanya." Katanya sambil berlari kecil ke kamar mandi.
Jujur, Daichi hanya bisa diam tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.
Parasnya.
Kulit pucatnya.
Mata bulatnya.
Pipi tembamnya…
Nggak pernah ada orang yang mau liat muka aku sampe sedeket itu—
Terlihat Sugawara telah menyediakan air hangat di meja tamu. Kemudian dia mengambil kotak berwarna putih dari lemari dan menaruhnya di meja itu juga.
Dia membuka kotak putih yang ternyata itu kotak P3K, lalu mengambil detol dan dimasukannya cairan itu ke air hangat. Wajah Sugawara kembali mendekati paras yang penuh luka itu dengan semangkuk air hangat, membuat Daichi ingin bersumpah entah untuk alasan apa.
"Mungkin ini bakalan agak sakit. Jadi, bilang aja ya kalo aku nekennya terlalu keras." Katanya sambil tersenyum kikuk.
Apa, dia senyum? SENYUM? Padahal tadi udah keliatan mau murka banget, tapi kenapa dia masih bisa senyum?!—Batin Daichi tak habis pikir. Malah, rasa perih dari lukanya itu mengalahkan rasa kaget yang ia rasakan.
"Nah, selesai." Sugawara kembali tersenyum dan menepuk kedua lutunya dengan tangan. "Kalo yang bekas tonjokkan itu, kamu ambil aja es batu di kulkas. Aku mau bikin makan malem dulu." Jelas Sugawara berjalan ke dapur. Sebelum itu, dia menoleh ke Daichi yang memegang plester di sisi bibirnya.
Lelaki berambut kelabi itu cemberut. "Dasar gatau tata krama." Katanya sambil berlalu.
Daichi mendengar perkataannya, dan agak malu. "… trims." Sugawara terkikik, mendengar gumaman sang roomate-nya itu.
Sangat lucu.
-This is Not Like You Think!-
Mungkin chapter ini masih banyak kurangnya, kaya kurang panjang, kurang humor, dll. Tapi saya di sini mau banyakin adegan sweetnya :D
Terima kasih yang mau membaca, sekali lagi! Saya seneng banget XD
Kritik dan saran bisa dicantumkan di review ya! Akan saya terima dengan senang hati :3
Terima kasih kepada: Kim San Poo, Miracle Usagi, dan Vie Amaru yang bersedia mereview cerita absurd karya saya ini! *love for you all~*
Sampai jumpa di lain kesempatan!
