"Antonio! Aku tidak menyebutkan namanya tadi, kalau dia dengar bagaimana?!"
"Ugh, maaf Will, aku tidak sengaja tadi."
"Aku mendengarnya—"
Unknown IV
Hetalia © Hidekazu Himaruya
Kata Kirana sambil membalikkan badannya ke belakang, yaitu bangku Antonio dan Willem.
"Bu-bukan begitu, Kirana. Kau salah paham." Willem sedikit panik.
"Sebenarnya, aku hanya mendengar Antonio menyebutkan namaku."
"Syukurlah kalau begitu." Willem menjadi lebih tenang.
"Lalu kenapa kau menyebutkan namaku tadi, Antonio?"
Antonio terkejut, "A-ah yang tadi itu. Ya sebenarnya aku sedang berbicara dengan Willem, karena kau duduk di depanku, tiba-tiba aku jadi ingat namamu dan tanpa sengaja menyebut namamu tadi, yah be-begitulah." Antonio memberikan alasannya yang konyol sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Oh begitu, maaf aku salah paham, Will." dengan polosnya Kirana mempercayai perkataan Antonio, dan meminta maaf kepada Willem.
"Tidak apa-apa, Kirana."
"Untungnya dia percaya." Antonio menghela nafas lega.
"Iya, dan juga tolong jangan lakukan itu lagi, Antonio."
"Iya iya, maafkan aku."
"Tidak apa."
.
.
Akhirnya kelas Antonio pun selesai setelah 15 menit kemudian. Willem menjadi ragu untuk meminta nomor ponsel Kirana. Lalu ia bertanya pada Antonio, "Apakah aku harus benar-benar memintanya?"
"Tentu." jawab Antonio singkat sambil membereskan buku-bukunya dengan sedikit terburu-buru.
"Baiklah akan kucoba. Kau terlihat terburu-buru, apa akan ada acara?"
"Terburu-buru? Tidak, aku hanya ingin lekas untuk membeli sesuatu."
"Sesuatu? Apa itu?"
"Video game."
"Selalu saja. Jadi, kau akan langsung berangkat?"
"Iya. Duluan ya, daah" Antonio melambaikan tangannya pada Willem, dan pergi.
"Secepat itu dia pergi. Dasar anak itu, selalu saja begitu." Willem berjalan keluar kelas dan mencari Kirana. "Kemana Kirana pergi? Apa sudah pulang?" Katanya pelan. Ternyata belum, ia melihat Kirana sedang duduk membaca novel di bangku taman. Dengan segera Willem menghampirinya.
"Hai, belum pulang?" ia menyapa Kirana.
"Oh, hai. Belum, kau sendiri?"
"Belum juga. Boleh aku duduk dan bergabung denganmu?"
Kirana mengangguk, "Tentu saja boleh."
"Terima kasih. Jadi apakah kau suka baca novel?"
"Yah, bisa dibilang aku lumayan suka membacanya."
"Kalau manga, apa kau suka membaca itu?"
"Sejujurnya tidak, entah kenapa aku lebih menyukai novel daripada manga."
"Tapi kau pernah membacanya, bukan?"
"Iya, sesekali. Itu pun hanya Naruto, haha." Kirana mengatakannya sambil tertawa kecil.
"Naruto juga manga yang bagus."
"Kau suka baca manga?"
"Iya begitulah."
"Apa?"
"Banyak, tapi yang paling aku suka Naruto." Ia beralasan, sebenarnya bukan Naruto yang paling ia sukai.
Kirana tersenyum sambil mengangguk. "Apa kau haus?" tanya Willem.
"Hanya sedikit, kenapa?"
"Tunggu disini. Aku akan membeli es krim untuk kita berdua."
"oh, kalau begitu aku ikut denganmu."
"Tidak usah, aku saja. Kau mau rasa apa?"
"Coklat. Setelah kau kembali akan kukembalikan uangmu."
"Baik. Tidak usah, sebentar ya."
"Eh tapi—" Willem langsung menuju kantin untuk membeli es krim, "Apa boleh buat?"
Sekitar 5 menit kemudian, ia kembali dengan membawa 2 es krim rasa coklat.
"Maaf telah membuatmu menunggu, ini." Willem memberikan salah satu es krim tersebut pada Kirana. "Itu tidak lama kok, terima kasih. Ini uangnya." kata si Nesia itu sambil menyodorkan uangnya.
"Tidak usah, tadi itu pakai uangku saja." hari ini berbeda, namapaknya Willem tidak pelit untuk saat ini. "Aku merasa tidak enak padamu. Sebagai gantinya apa yang bisa kulakukan untukmu sebagai balsannya, Will?"
Dalam hati Willem bergumam, 'Tuhaan, ini saat yang saangat tepat untuk meminta nomor ponselnya!' ia cengengesan. Sambil tersenyum penuh kesenangan Willem mulai mengatakan keinginannya, "Kalau boleh. Aku ingin minta nomor ponselmu. Yaah siapa tahu kita bisa berteman, mungkin."
"Tentu." katanya sembari menjilat es krim coklatnya itu.
Willem terkejut. Sangat, sangat terkejut. Sebuah jawaban yang hanya satu kata—namun, dapat membuat Willem senang (sekali). "Benarkah itu, Kirana?"
"Iya, kenapa tidak? Kau orang yang baik. Dan kita juga bisa berteman. Aku suka memliki banyak teman. Hihihi."
"Terima kasih, Kirana. Berapa nomor ponselmu itu?" sebenarnya Willem ingin teriak, tapi ia tetap berusaha bersikap yang biasa saja, dan tetap stay cool dihadapan orang yang ia sukai, taksiri, cintai, dan sejenisnya.
Kirana mengetik nomor ponselnya di ponsel Willem, "Sudah." Kata Kirana singkat. "Sekali lagi terima kasih." Willem berterima kasih lagi.
"Hei, kau sudah berapa kali mengucapkan kata terima kasih itu?"
"Satu, mugkin?"
"Kau aneh, Will."
"Hahaha entahlah, hari ini aku merasa aneh."
"Hanya menurutmu saja mungkin."
"Tidak tahu juga."
Kirana mengangguk, "Eh Will. Sepertinya aku sudah dijemput. Aku duluan ya. Daah. Dan terima kasih untuk es krimnya." Kirana melambaikan tangannya pada Willem dan langsung pergi.
"Iya, tidak masalah. Berhati-hatilah!" Willem melambaikan tangannya juga. Ia merasa seperti baru saja bermimpi. Ia amat teramat sangat senang sekali. Dan juga es krim yang ia beli belum sempat dimakan tadi.
.
.
Beep beep beep..
Bunyi ponsel Antonio tanda adanya pesan baru yang masuk. Lalu ia membacanya. Ternyata pesan itu dari Willem. 'Hei kau sedang di rumah tidak?' begitu isinya. Antonio membalas 'Iya, Will. Ada perlu apa?' 'Boleh aku datang ke rumahmu?' 'Tentu. Apa kau mau bermain game denganku? Kebetulan aku membeli game cukup banyak tadi.' 'Tidak, tidak. Ada yang ingin aku—bicarakan denganmu.' 'Oh baiklah, aku tunggu'.
Antonio menunggu Willem sambil bermain game barunya. Ting tong, bel rumahnya berbunyi. Sudah pasti itu Willem. Ia berjalan keluar menuruni tangga dari kamarnya yang berada di lantai dua. Dan menuju ke pintu utama rumahnya, lalu membukakan pintu. "Masuklah." dan hanya dibalas dengan sebuah anggukan.
Antonio mengajak Willem untuk ke kamarnya. Lalu menanyakan tentang keperluan Willem itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya si personifikasi Spanyol pada Willem. Dan juga masih sambil bermain game barunya.
"Ah sebelumnya bisakah kau pause dulu gamemu itu?"
"Oh maaf, Will. Baiklah." Antonio menekan keyboard komputernya yang berada di pojok kiri atas, esc, untuk mempause gamenya itu.
"Aku sudah dapat nomornya."
"Benarkah? Apa kau sudah mencoba untuk mengirim pesan untuknya?"
"Masih belum."
"Ke-kenapa?"
"Aku sedikit.. gugup."
"Kenapa harus begitu? Santai saja, bukan?"
"Iya memang. Tapi aku bingung apa pesan yang akan ku kirim kepada dia?"
"Bilang saja, hai. Dia membalas, lalu mengobrol. Simpel bukan?"
"E-entahlah. Aku benar-benar tidak mempunyai ide untuk mengobrol dengan Kirana lewat SMS. Tapi usulanmu itu boleh juga. Akan kucoba!"
Antonio tidak bisa berkata-kata. Hingga seperti itu Willem bingungnya, hanya untuk memikirkan apa pesan yang akan ia kirim. "K-kau aneh sekali, Will."
"Biarlah. Sekarang, aku pamit dulu ya, sampai jumpa besok, daah." dengan tidak sopannya, Willem keluar dari rumah Antonio. Berlari seperti orang setengah waras. Ibu Antonio yang sempat melihat Willem sedang berlari itu, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Antonio. Willem nampak seperti orang tak waras. Apa dia baik-baik saja tadi?" tanya ibu Antonio di dapur atas, dengan sedikit khawatir. "Tidak, bu. Ia hanya mengalami—masa-masa pubertasnya." jawab anaknya yang asal-asalan dari kamarnya.
"SMA masih dibilang masa pubertas? Anak laki-laki jaman sekarang memang aneh."
"Begitulah bu."
.
.
Dimalam yang sama, di kamar tempat Willem beristirahat...
"Emm, jadi ketik saja 'hai' lalu kirim. Okay." lalu ia mengetik kata 'hai' diponselnya. "Tidak, tidak. Akan lebih bagus jika ditambah dengan sebuah emoticon."
'Hai.. :*' "Tidak mungkin. Apa aku gila?"
'Hai.. B)' "Jelek."
'Hai.. :)' "Yah. Ini saja, deh." kemudian ia menekan tombol send. Untuk mengirim pesannya pada Kirana.
5 menit berlalu. Willem masih menatap ponselnya, menunggu balasan dari Kirana. "Mungkin tidak dibalas oleh Kirana. Apa yang barusan aku lakukan? Itu gilaa." Ia bertingkah diluar normal. Padahal hanya hal seperti itu saja. Setelah sudah tidak memiliki harapan untuk dibalas pesannya oleh Kirana, ia meninggalkan ponselnya di meja belajar. Lalu ia pergi ke dapur untuk makan camilan, tomat lebih tepatnya.
Sekitar 30 menit setelahnya, ia puas menghabiskan tomat satu mangkuk berukuran besar. Dan kembali menuju kamarnya. Dengan iseng, ia memeriksa ponselnya. "Apa? Satu SMS baru? Ah, paling-paling Antonio, atau teman yang menanyakan pr, dan sebagainya." katanya sebelum mengecek siapa pengirim SMS tersebut. "Kirana!" Willem senang sekali. Isi pesannya 'Hai juga :) apa kau Willem?' dan diterima 30 menit yang lalu. "Agrh! Kenapa tadi aku malah makan sih?! Padahal sudah dibalas!" Sikapnya mulai aneh. Tanpa basa-basi lagi ia membalas pesan itu lagi 'Maaf, kalau aku ganggu. Iya aku Willem, Kau sedang apa? Maaf aku baru balas sekarang.'
'Tidak apa. Aku sedang menggambar. Kalau kau?' dan mereka berdua pun saling mengobrol lewat SMS hingga sedikit larut malam.
.
.
Hampir setiap hari Willem berkomunikasi dengan Kirana dengan berkirim pesan lewat ponsel. Dan itu membuatnya senang. Ia juga sering tersenyum-senyum sendiri ketika akan membalas, membaca, atau mengingat pesannya dengan Kirana. Willem sempat berpikir kalau Kirana menyukainya, tetapi ia juga bingung apa Kirana benar-benar menyukainya seperti yang Willem rasa pada Kirana, atau tidak.
.
.
Hari ini hingga lima hari kedepan, akan ada Ulangan Tengah Semester. Dan pesan terakhir Willem yang dikirimkan kepada Kirana belum dijawab. Ia sempat berpikir, Kirana tidak menjawab pesannya hanya karena akan serius dengan ulangan ini.
Antonio sampai di sekolah jam 06.45. Ketika baru saja melewati pintu gerbang sekolah, ia melihat Willem sedang bersandar pada sebuah pohon yang cukup besar. Ia pun menghampirinya.
"Hei, Will. Kau tidak pernah menghubungiku akhir-akhir ini, kenapa? Tidak seperti biasanya, kau selalu mengirimiku pesan yang sering sekali tidak penting, fusoso." Antonio bertanya dengan sedikit bercanda.
"Tidak apa. Aku sadar bahwa mungkin aku mengganggumu. Jadi, aku jarang mengirimimu pesan akhir-akhir ini."
"Aku tidak yakin, dan kau tidak mengganggu, kok. Oh ya, ulangan kali ini berada di kelas masing-masing, kan?"
"Yah, kenapa? Apa kau sudah belajar?"
"Sudah pastinya."
"Sekarang aku yang tidak yakin. Apa kau bermain game semalam?" Willem mendekatkan wajahnya ke Antonio dan menyipitkan matanya, tidak yakin.
"Ha-hanya sebentar ko-kok."
"Berapa menit?"
"Menit?! Untuk bermain game paling tidak harus ada minimal satu jam. Menit? Main game apa itu?"
"Lalu kau bermain game berapa jam?" Willem semakin mendekatkan wajahnya pada Antonio.
"Sepertinya hanya lima jam. Sudahlah wajahmu membuatku takut, Will." wajah Antonio memerah.
Tanpa mereka ketahui, dari belakang ada murid lain yang mendorong Willem. "Ugh!" mereka berdua terjatuh. Antonio terjatuh dan terbaring di lantai. Dan Willem nyaris sekali jatuh. Ia tidak terjatuh karena kedua telapak tangannya dapat menahan di permukaan lantai, di sela-sela lengan Antonio. Dan Antonio berada di bawahnya. Wajah mereka sangat dekat, hingga dapat merasakan hembusan udara kotor yang keluar dari masing-masing hidung keduanya. Mereka saling memandang dengan posisi tidak mengenakkan. Murid lainnya yang menyaksikan adegan itu pun tertawa. "Hahahahahaha! Antonio, ternyata seleramu yang seperti itu ya? Menggelikan sekali hahaha!" kata salah seorang murid lelaki yang tadi turut melihat mereka terjatuh.
"Willem, cepat berdiri!" pinta Antonio. Dan Willem pun berdiri.
"Hei itu tadi hanya sebuah kecelakaan!" Willem membela diri, namun memang seperti itulah kenyataannya. "Ya! Dan kalian harus percaya itu. Tadi ada seorang murid yang mendorong Willem, dan tanpa sengaja kita terjatuh!." sambung Antonio.
"Hei, Antonio! Memang ada yang memintamu untuk menjelaskan? Tapi ya sudahlah kita tidak percaya itu. Hahahaha." sambung murid laki-laki tadi, "Oh ya. Untuk murid perempuan yang menyukai Antonio, jangan berharap kalian bisa berkencan dengannya. Karena yang Antonio sukai itu Willem. Hahaha!" dan yang lainnya, khususnya murid perempuan hanya menatap Antonio dan Willem dengan aneh.
"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Mereka tidak tahu kejadiannya, bukan? Lebih baik kita ke kelas sekrang."
Wajah Antonio memerah, entah karena apa. Lalu Willem menggeret tangan Antonio. Ia berlari kecil dikarenakan langkahnya bergerak karena geretan tangan dari Willem. Lalu Antonio tersenyum, senyum yang sepertinya ia nampak begitu bahagia.
Willem melihat Antonio yang sedang tersenyum aneh, "Kau kenapa, Antonio? Senyummu aneh."
"Ah, tersenyum? Ti-tidak. Aku sama sekali tidak tersenyum, Will."
Setelah cukup menjauh dari tempat kejadian tadi Willem melepas tangan Antonio, "Maaf. Tadi aku menggeretmu. Apa tanganmu sakit?"
"Tidak. Tidak sakit sama sekali."
"Syukurlah. Ayo masuk, sepertinya sebentar lagi bel."
Wajah Antonio memerah kembali, dan menggangguk dengan senyum anehnya itu lagi. Dan Willem hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan bingung.
.
.
Sekitar lima menit lagi ulangan akan dimulai, Willem dan Antonio hanya duduk di bangku mereka masing-masing sambil menunggu guru pengawas datang. Lalu Willem mulai bertanya pada Antonio.
"Apa menurutmu tadi Kirana melihatnya?"
Antonio menundukkan kepalanya, "Entahlah. Tapi, kurasa tidak."
"Syukurlah. Semoga saja memang begitu."
Antonio mengangguk yang tampak lesu.
"Hei, kau kenapa?" tanya Willem perhatian.
"Tidak, tidak apa." Antonio masih mengangguk.
"Ah aku tau!"
Antonio menoleh pada Willem, "Tau apa?"
"Kau terlihat lesu setelah kejadian tadi. Aku tahu disana ada banyak murid perempuan yang menyukaimu. Tapi karena mereka melihat kejadian tadi itu, mereka jadi tidak menyukaimu lagi. Karena itu kau marah padaku." Nada Willem merendah.
"Tidak, bukan karena itu."
"La-lalu?"
Antonio terdiam, sepertinya ia tidak akan menjawabnya. Dalam hati ia berkata 'Kenapa yang kau lebih khawatirkan itu Kirana? Kau malah mengira aku lesu karena murid perempuan yang jadi tidak suka padaku lagi yang bahkan kau sudah tahu kalau aku tidak menyukai satupun dari mereka. Aku lesu karena—kau lebih mengkhawatirkan Kirana daripada sahabatmu yang sudah lama dekat denganmu ini.' Seketika ia melamun.
"Heii kenapa kau melamun? Jawab pertanyaanku kenapa tiba-tiba kau lesu begini?"
"Entahlah. Aku akan ke toilet bila guru pengawas sudah datang, katakan padanya aku akan menyusul." tanpa menunggu tanggapan dari Willem, Antonio langsung beranjak dari bangkunya dan berjalan keluar. "Baiklah. Tapi aku yakin kau tidak mendengar perkataanku barusan, Antonio."
Ketika Antonio hendak membuka pintu kelas, pintu itu sudah terbuka terlebih dulu karena ada seseorang yang membukanya dari luar. Dan yang membuka itu adalah Kirana yang baru saja sampai di kelas. Antonio kesal. Kesal karena melihat wajah Kirana walaupun karena tidak disengaja. Ia langsung membuang mukanya dan berjalan melewati pintu yang seakan-akan tidak ada orang di pintu itu.
Tak lama setelah itu, guru pengawas datang sambil membawa kertas jawaban dan soal ulangan. Setelah ia duduk di kursi yang telah disediakan oleh 2 guru pengawas, salah satu guru pengawas pun mengabsen murid-murid yang berada di kelas itu. Hingga saat nama Antonio dipanggil, Willem mengatakan bahwa ia sedang di toilet dan akan segera menyusul.
Hanya tersisa waktu empat puluh lima menit untuk mengerjakan soal, dan Antonio malah baru saja datang. "Apa yang membuatmu begitu lama, Carriedo?" tanya si guru pengawas. "Tidak ada. Boleh aku duduk?" jawab Antonio cuek, "Silahkan dan selesaikan segera, waktunya hanya tersisa empat puluh lima menit. Kertas jawaban dan soal sudah ada di bangkumu."
"Terima kasih." Antonio tersenyum yang dipaksakan dan menuju bangkunya. Ia duduk lalu mengerjakan soalnya.
Ulangan pertama selesai, Willem merasa ada yang aneh dengan Antonio. Anehnya adalah biasanya Antonio akan mengajak Willem ke kantin untuk makan tomat bersama disana. Tapi kali ini tidak, Antonio bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Willem setelah ulangan selesai. Ia hanya langsung keluar kelas, dan pergi entah kemana.
Karena sedikit khawatir, Willem mencari Antonio. Setelah cukup lama ia mencari Antonio, ia menemukan sahabatnya itu. Dan seperti biasa sepertinya ia sedang memainkan sebuah game di PSPnya sambil duduk di bangku yang di sampingnya terdapat pohon yang besar. Willem mengahampirinya, "Hei, Antonio. Kenapa kau sedikit berbeda?"
"Kenapa kau selalu memanggilku dengan 'hei'?" Antonio menjawab tanpa menolehkan pandangannya ada Willem, dan masih asyik dengan gamenya.
"Kenapa memangnya?"
Antonio mematikan PSPnya, "Lebih baik kau pikirkan Kirana." lalu Antonio pergi meninggalkan Willem tanpa melirik sedikit pun wajah Willem. "Apa maksudmu, Antonio? Jangan pergi dulu aku ingin bicara padamu!"
^bersambung~
Note : haha. Waktu yang lama untuk mengetik fic yang abal ini, wkwkwk. Mau review? Silahkaan ^^ saran sangat dibutuhkan, loh. Dan juga maaf kalo ada typo.. =w=
^TNT~
