Handsome Teacher

By: Franciska Sunarya

Chapter 4

Suara lantunan piano membangunkan Baekhyun dari tidurnya. Entah mengapa lagu itu terdengar sangat familiar di telinganya. Setelah mendapatkan seluruh kesadaranya, Baekhyun baru menyadari jikalau dirinya tidak tidur dikamarnya. Kamar yang ditempati Baekhyun terlalu maskulin untuknya. Dia yang biasanya tidur dikamar dengan nuansa pink putih kini berada di kamar yang didominasi warna monokrom dengan sedikit warna biru.

Setelah puas mengamati kamar tersebut, Baekhyun melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuju asal suara piano tersebut. Suara piano itu dari lantai dasar rumah. Entah mengapa lantunan piano ini terdengar sangat indah. Saat ia berhasil sampai ketempat asal suara piano itu Baekhyun terkisap. Piano berwarna hitam tersebut dimainkan oleh Chanyeol Songsaengnim.

' Daebak mengapa ia sangat sempurna. Tampan, bertubuh atletis, kaya dan sekarang ia dapat bermain piano. Ia terlalu sempurna dan seseorang yang mampu memiliki hatinya pasti sangat bahagia...' Baekhyun tenggelam dalam imajinasi tanpa batas tentang Chanyeol. Disisi lain Chanyeol juga melihat Baekhyun dan menyadari bahwa Baekhyun sedang melamun. Ekspresi wajah Baekhyun yang sedikit membuka mulutnya dan tatapan matanya yang kosong berhasil membuat Chanyeol tertawa lepas dan bahkan memegangi perutnya karena terlalu lama tertawa. Menyadari bahwa Chanyeol menertawainya membuat Baekhyun kesal dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

*

Baekhyun merasa suhu udara seperti berniat memanggangnya seperti daging sapi saja. Walau diluar langit sangat gelap dan seharusnya diikuti oleh suhu udara yang berangsur-angsur menurun namun hal itu tak terjadi malam ini. Suhu udara berhasil memaksa Baekhyun pergi keluar menuju kolam renang. Baekhyun duduk dipinggir kolam renang dan memasukkan kakinya ke air kolam tersebut. Sembari menikmati suhu tubuh yang mulai menurun karena air dikakinya, Baekhyun mulai teringat bagaimana ia bisa berakhir dirumah milik Chanyeol ini. Ia hendak diantar pulang oleh Chanyeol dan malah tertidur dikursi depan mobil.

" Bagaimana? bagaimana bisa kau sangat ceroboh dan sangat merepotkan sih Byun Baekhyun" ujar Baekhyun pada dirinya sendiri sambil menepuk dahinya berulang kali. Lalu sebuah tangan besar menghentikan gerakan tangan milik Baekhyun.

" Jangan melukai dirimu sendiri pabo. Lebih baik aku yang memukulmu. Sini" ujar Chanyeol sambil memberikan gestur meminta Baekhyun mendekat.

"Memang apa hakmu hendak memukulku hah??"

"Tentu saja karena orang yang kau repotkan selama ini adalah aku. Pabo"

"Tapi kan bukan aku yang meminta mu untuk mengajakku pergi. Dan oh iya, apa-apan tadi itu. Ajjushi menarik tanganku begitu saja tanpa membiarkan ku berpamitan dengan noona yang baik tadi. Nanti kalau aku bertemu dengannya aku akan mengganti harga kopi tadi tapi menggunakan uang Ajjushi. Hahaha.."

"Mengapa menggunakan uang ku hah? Memang aku atm berjalan mu? Dan juga lebih baik kau tidak bertemu dengannya lagi. Bagaimanapun dia adalah orang asing bila kau bocah lemah ini diculik, aku juga yang akan repot"

"Repot? Yang lebih repot bila aku hilang tentu saja Mama dan Papa ku. Tapi tenang Saem orang yang menculik ku juga pasti tidak akan senang nanti. Karena aku bisa sangat merepotkan sekali." Kata Baekhyun yang diakhiri dengan tawa renyahnya.

"Ya aku akan merasa kesulitan karena merindukan sifatmu yang sangat merepotkan dan manja itu" Chanyeol berkata sambil berjalan menuju masuk rumah.

"hah apa saem? Aku tidak dengar?"

"cepat masuk bila tidak ingin aku kunci diluar"

"yak Ajjushi tunggu aku"

*

Malam itu Baekhyun benar-benar menyebalkan. Ya itu yang terlintas dipikiran Chanyeol. Bagaimana mungkin ia mengatakan ingin pergi untuk memakan ice cream pada jam 11 malam. Bila Baekhyun bukan anak dari sahabat ibunya mungkin Chanyeol sudah secara otomatis mengusirnya keluar dari rumah karena tidak berhenti merengek.

"Ayolah Ajjushi aku sangat ingin makan ice cream. Karena suhu malam ini panas kan sangat menyegarkan bila makan ice cream apalagi rasa strawberry. Belikan ice cream kumohon."

"Arraseo aku akan belikan tapi awas kalau minta hal aneh lainnya"

Chanyeol berjalan menuju pintu depan dan menyadari kalau Baekhyun mengikuti nya.

"We? Kenapa ikut? Kau diam saja disini sedangkan aku akan pergi membelinya ditoko ujung jalan" perintah Chanyeol.

"Tapi... Aku takut dirumah ini sendirian. Bila ada hantu gimana saem?? Kalau aku diculik oleh seseorang seperti yang Ajjushi katakan bagaimana??" ujar Baekhyun sambil menarik-narik ujung Hoodie milik Chanyeol.

"Haduh. Rumah ini aman bocah. Yang punya sandi rumah nya ibu dan aku jadi tidak usah banyak tingkah. Mau dibelikan atau tidak hah?"

Kata-kata Chanyeol tadi sepertinya meyakinkan Baekhyun bila rumah ini aman.

"Arraseo"

*

Chanyeol sudah selesai membeli ice cream pesanan Baekhyun dan hendak berjalan menuju rumahnya. Namun langkahnya terhenti karena ponsel miliknya berbunyi menandakan seseorang sedang menelponnya. Saat melihat nama yang tertera pada ponselnya, Chanyeol merasa malas untuk mengangkatnya. Ia memasukan kembali ponsel tersebut dan melanjutkan langkahnya. Ponsel milik Chanyeol terus berbunyi dan akhirnya maksa Chanyeol untuk mengangkatnya.

"We?"

"Aigo, mengapa kau sangat dingin Oppa. Apakah kau tidak menyapa ku dulu. Seperti ' Hello Honey' atau 'Hai Baby' itu kata yang harusnya kau ucapkan?"

"Cih. Kau ini sangat menggangu. Aku akan tutup telpon nya."

"Tunggu Oppa. Aku hanya ingin bertanya, siapa Byun Baekhyun itu? Dan apa hubunganmu denganya?"

"Dia hanya murid ku disekolah dan hubungan kami bukan lah urusanmu"

"Bukan urusanku ya. Tapi bagaimana bila aku menyakiti nya? Dan bukan urusan ku kan bila anak itu bahaya? Baik lah aku ingin pergi tidur supaya bisa bertemu dengan mu dalam mimpi. Dah Oppa"

"Hei tamara! Sialan"

Pikiran Chanyeol berputar. Dia sangat ingin mengucapkan sumpah serapah pada wanita itu. Setelah terdiam selama 5 menit karena pikiranya yang kalut, Chanyeol teringat akan Baekhyun dan langsung berlari menuju rumah.

Sesampainya dirumah pikiran Chanyeol lebih kalut lagi setelah ia melihat pintu depan terbuka dan tidak berhasil menemukan Baekhyun didalam rumah.

'apakah ini ulah tamara?' Ujar Chanyeol dalam hati. Ia berusaha sebaik mungkin untuk menghapus pikiran buruk nya tentang keadaan Baekhyun. Chanyeol berjalan keluar gerbang dan memanggil Baekhyun.

" Baekhyun!! Byun Baekhyun!!"

"Wait Ajjushi. Tunggu sebentar!" Terdengar suara Baekhyun dari arah samping rumah. Tanpa pikir panjang Chanyeol langsung berlari kearah suara tadi. Chanyeol melihat Baekhyun sedang memberi makan seekor kucing dengan sepotong roti.

"Kenapa keluar rumah?" ucapan Chanyeol berhasil mengalihkan pandangan Baekhyun yang tadinya terarah pada si kucing sekarang beralih kepadanya.

"he he maaf. Tadi kulihat kucing ini sangat kurus jadi aku putuskan keluar dan memberinya makan. Bukankah kucing ini lucu."

Chanyeol menghembuskan nafas lega karena berhasil menyingkirkan pikiran buruk nya. Tapi hal ini membuat Chanyeol sedikit waspada akan hal yang dikatakan oleh Tamara, bahwa Tamara akan menyakiti Baekhyun. Itu berarti Chanyeol harus membuat Baekhyun tetap berada pada pengawasan nya. Karena Chanyeol mengerti bahwa Tamara adalah wanita yang nekat dan bisa dibilang tidak waras.

Baekhyun berdiri dan mengambil plastik berisi ice cream pesanan Baekhyun tadi. Namun saat membuka plastik tersebut bibir Baekhyun berubah cemberut.

"We? Ada yang salah? Aku membelikanmu ice cream strawberry pesananmu dan sekarang kamu tidak senang?"

"Yakk Ajjushi! Ice cream ini meleleh"

"Hahaha..."

Tawa lepas Chanyeol menggema dimalam itu. Ia lupa karena terlalu khawatir mengenai keadaan Baekhyun tadi.

"Miane. Aku sunggu minta maaf. Malam ini kamu tidak jadi usah makan ice cream strawberry"

"Ahhh Ajjushi. Aku ingin ice cream. Bagaimana mungkin Ajjushi mengatakan tidak usah makan? Ajjushi aku ing..."

Ucapan Baekhyun terhenti karena Chanyeol berjalan mendekatinya dan merapatkan jarak antara mereka. Chanyeol membungkukkan tubuhnya untuk menyamakan tinggi mereka. Saat Chanyeol terus mendekat wajah Baekhyun sudah menyerupai strawberry yang sangat matang. Merah merona. Jarak antara wajah mereka hanya 3 cm.

"Aku akan menggantikan ice cream mu besok. Arraseo?"

Chanyeol mengamit tangan Baekhyun dan mengajaknya masuk rumah. Sedangkan wajah Baekhyun sudah berangsur-angsur kembali seperti semula. Jantung Baekhyun yang tadinya hendak berlari meninggalkan tubuhnya.

"Tapi Saem, aku sangat ingin makan ice cream."

"Baiklah. Akan ku berikan"

"Sungguh? Rasa apa? ..."

Pertanyaan Baekhyun tentang ice cream yang akan diberikan Chanyeol bertebaran selama mereka berjalan memasuki rumah hingga pertanyaan-pertanyaan tersebut berubah menjadi desakan yang lama-kelamaan membuat Chanyeol merasa kesal. Chanyeol berusaha bersabar dan memilih untuk duduk di sofa. Tapi rengekan Baekhyun tentang ice cream itu tidak berhenti. Karena benar-benar berang, Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan membuatnya duduk disampingnya.

"Bisa kah kau diam?" tanya Chanyeol sambil menatap Baekhyun tajam.

"Tapikan tadi Ajjushi berjanji akan memberikan ice cream. Sekarang mana ice creamnya?"

"Aku fikir dengan mengatakan bahwa aku akan memberikan nya rengekan mu akan berhenti namun justru membuat mu makin menjadi"

" Ajjushi meyebalkan. Aku mau pulang. Dah"

Baekhyun berdiri dan berjalan mengambil tasnya yang berada di meja. Melihat hal itu Chanyeol merasa sedikit bersalah karena telah berbuat hal yang kurang baik pada Baekhyun. Baekhyun sudah sampai lorong saat Chanyeol tiba-tiba menarik tangannya. Lalu Chanyeol memojokan tubuh Baekhyun pada tembok dan menatap Baekhyun lekat-lekat. Baekhyun memberikan tatapan yang sangat tajam pada Chanyeol.

"We?"

"Bisakah kau tenang. Bila ingin pulang akan aku antar"

Chanyeol berjalan menjauh menuju sofa. Baekhyun memandang punggung Chanyeol dan menatapnya dengan tatapan yang yang mampu menusuk punggung tersebut secara harafiah bila tidak dihentikan dengan Chanyeol yang tiba-tiba berbalik dan mengatakan

"Kau sungguh ingin pulang?

"Ya. Sangat ingin pulang. Aku tidak mau melewatkan malam dengan manusia yang jahat seperti Ajjushi"

" Tapi kamu akan SENDIRIAN dirumah, karena bibi memberi kabar kalau harus menginap dirumah kakek mu"

Kata sendirian yang ditekankan oleh Chanyeol seolah memberi efek pada Baekhyun. Raut wajahnya terlihat berubah dan memperlihatkan wajahnya yang sedikit ketakutan. Chanyeol merebahkan dirinya pada sandaran sofa dan melihat Baekhyun masih berdiri disana sambil melihat ujung kakinya.

"Oi bocah. Kamu mau berdiri disana semalaman? Kemarilah aku tahu kamu tidak beranikan dirumah sendirian. Aku akan mengantarkanmu pulang besok pagi"

Ajakan Chanyeol itu membuat Baekhyun menyerah dan akhirnya memilih duduk disisi sofa yang jaraknya paling jauh dari Chanyeol. Mereka disana selama 15 menit. Saat hendak menawari Baekhyun minum Chanyeol menemukan Baekhyun telah tertidur pulas. Seulas senyum pun terlihat pada wajah Chanyeol. Chanyeol membawa Baekhyun kekamarnya dan meletakan tubuh Baekhyun pada kasurnya. Setelah menutupi tubuh Baekhyun dengan selimut, Chanyeol terpaku pada wajah Baekhyun yang dapat dikatakan cantik untuk seorang laki-laki , tidak Baekhyun sangat cantik. Ia mengamati wajah itu dengan sangat detail mulai dari mata, hidung dan berakhir pada bibir perwarna pink milik Baekhyun. 'Warna yang sangat menggoda dan bagaimana seorang pria dapat memiliki wajah yang sangat cantik seperti ini' pikir Chanyeol. Tiba-tiba Baekhyun mengguman

"Hei Ajjushi mana ice cream strawberry ku hah? Cepat berikan"

Hal itu membuat Chanyeol tertawa kecil dan mengusap rambut coklat Baekhyun.

"baiklah besok akan ku berikan"

*

Dia berjalan dengan tempo yang cepat. Rasa rindunya pada kekasihnya mengganti rasa lelah yang tadi hinggap dibahunya namun sekarang rasa yang tertinggal hanya rasa semangat karena hendak bertemu dengan kekasihnya. Saat melalui sebuah toko kue, ia memutuskan membeli sebuah kue rasa coklat kacang. Dengan sebuah kue di tanggan ia mempercepat lajunya. Bahkan saat rumah berwarna putih itu terlihat oleh matanya, ia mulai berlari menuju ke sebuah rumah yang penuh kenangan untuknya.

Sesampainya dirumah itu, ia menghentikan langkah dan mengatur nafasnya. Setelah 6 bulan tidak berjumpa dengan kekasihnya. Senyum besar terpahat diwajahnya. Ia memasuki rumah itu tanpa kesulitan dan berjalan dengan berjinjit untuk memberikan kejutan. Ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi dari kekasihnya saat melihatnya. Wanita itu akan berteriak dan memberikan senyum yang indah. Tawa renyah akan kembali hadir dalam setiap percakapan mereka. Semua kenangan akan wanita tersebut mulai muncul.

Saat yakin bila sang kekasih tidak ada di lantai dasar, ia memutuskan untuk beranjak ke lantai atas. Terdengar tawa manis dari sang kekasih dari kejauhan. Pintu berwarna biru menyambut kedatangannya dengan seribu kenangan. Ia membuka perlahan pintu tersebut dan semua senyumnya pudar dalam sekejap. Kenangan indah yang muncul mendadak pecah berantakan bagai cermin yang pecahannya mengenai setiap sisi dari hatinya. Wanita yang merupakan alasanya memilih negara asing dari pada kampung halamannya, wanita yang selalu memberikan cinta, perhatian, ketulusan dan memberikan pengertian mengenai arti cinta yang tak pernah ia dapat di dalam keluarga sekarang tengah bermesraan dengan seorang pria asing. Wanita itu melihat nya dengan tatapan terkejut dan berusaha menjelaskan namun seluruh pikirannya telah terbang menuju semua masa indah yang sekarang seperti sebuah pecahan kaca yang bila ia ingat selalu memberikan goresan luka pada hatinya.

Ia memilih berjalan meninggalkan rumah yang sekarang menjadi kuburan bagi semua kenangan itu. Mengabaikan semua kata yang terucap dari wanita itu.

"Oppa, tunggu aku bisa jelaskan"

Wanita itu mengikutinya dan terus memanggilnya hingga keluar rumah. Pendengaran seolah tertutup, tidak ada satu katapun yang mampu ia pahami sekarang. Bahkan saat sebuah klakson sebuah mobil berbunyi dengan sangat keras dan cahaya lampunya yang membutakan mata itu tertuju padanya, ia tetap berjalan tanpa peduli dengan nyawanya yang mungkin bisa terancam pada setiap langkah. Dan benar saja suara sebuah mobil silver yang melaju dengan sangat cepat berderu di depan langkahnya menghantam tubuhnya yang bisa dibilang telah mati ketika membuka pintu berwarna biru itu.

Pandanganya mulai kabur hanya indra pendengaranya saja yang mampu memberikan sedikit gambaran mengenai apa yang terjadi di sekelilingnya. Sayup-sayup terdengar suara wanita menangis dan memanggil namanya. Terdengar pula suara ambulance yang berada sangat dekat denganya. Semua suara itu hanya membuat matanya sangat berat dan hal yang terakhir dia ingat adalah sebuah suara yang menyatakan penyesalanya.

*

Guncangan pada tubuhnya membuat Chanyeol terbangun dari tidurnya dan menemukan Baekhyun duduk dipinggir kasur sambil mengenakan kaus kebesaran miliknya.

"Ajjushi ini sudah sangat terlambat. Jika kau tidak bangun sekarang kita akan terlambat kesekolah. Dan aku ingin segera pulang secepatnya. Bagaimana mungkin aku pergi kesekolah dengan baju yang sama..."

Suara Baekhyun dipagi hari sudah membuat Chanyeol tersadar sepenuhnya dan bahkan langsung melupakan ingatan yang seharusnya sudah lama terkubur. Chanyeol tersenyum kecil saat melihat Baekhyun mengeluarkan tas kecil yang berisikan seperangkat make-up. 'Bagaimana mungkin seorang pria membawa make-up kemana pun ia pergi?' pertanyaan itu terlintas dalam pikiran Chanyeol namun ia sadar bahwa Bekhyun bukan pria biasa. Chanyeol menguap dan menggaruk kasar rambutnya sambil terus memperhatikan aktivitas Baekhyun di depan cermin. Entah mengapa semua gerak-gerik yang dibuat oleh Baekhyun sangat menarik bagi Chanyeol.

"Hei Mr. Park Chanyeol bisakah kau lebih cepat lagi. Apakah kau perlu disiram oleh air?" tanya Baekhyun yang sudah sangat kesal menunggu Chanyeol.

"Ha ha ha ha. Kalau seseorang yang dasarnya ceroboh sampai kapan pun akan ceroboh rupanya. Kau lihat dulu dengan benar hari apa ini. Jika kau ingin membantu membersihkan sekolah silahkan saja"

Chanyeol berjalan menuju lantai dasar dan langsung menuju dapur untuk memasak sarapan. Ia ingat bila Baekhyun belum makan apapun semalaman. Chanyeol berfikir makanan seperti apa yang disukai Baekhyun karena tidak mendapat titik terang, Chanyeol akhirnya memutuskan memasak sarapan sesuai dengan kebiasaanya.

"Saem, apakah rumah ini selalu sepi seperti ini? Dimana Bibi?" ucap Baekhyun yang tiba-tiba berada dimeja makan.

"Heem. Pergi"

"Apa-apaan itu? Kau sangat irit dalam kata-kata pagi ini. Apa kau kesal karena aku membangunkanmu?"

"Tidak"

Chanyeol berjalan menuju meja makan dengan piring dikedua tanganya.

"Wah daebak. Ternyata saem pintar sekali memasak. Ini terlihar sangat enak."

"Sudah hentikan bicaramu dan makan saja. Kau belum makan sejak semalam kan"

"Uhhh rupanya Ajjushi ini sangat perhatian padaku. Terima kasih Ajjushi dan selamat makan"

Baekhyun makan dengan lahap dan menunjukan ekspresi yang sangat lucu setiap kali menyuap makanan. Melihat lahapnya Baekhyun makan, Chanyeol justru tersenyum dan memilih untuk mengamati Baekhyun. Bagaimana cara ia makan, berapa lama ia mengunyah makanannya, dan bagaimana ia mengangguk setiap kali selesai menelan makanan itu. Semua hal itu sangat lucu dimata Chanyeol dan tanpa sadar memberikan senyum yang jarang muncul selama 1 tahun ini.

"Ajjushi tidak lapar? Kenapa tidak makan?"

"Tidak. Ini untukmu saja" sambil mendorong sedikit mangkuk nasinya pada Baekhyun.

Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang sangat lucu dimata Chanyeol

"Aniyo. Ajjushi juga harus makan. Apalagi pekerjaan mu sebagai seorang guru tentu membuatmu penat"

"Iya aku sangat penat apalagi bila semua murid ku adalah kau"

Baekhyun cemberut dan mengambil mangkuk yang disodorkan oleh Chanyeol tadi. Dengan sumpit yang digunakan, Baekhyun mengambil sedikit nasi dan menyuapi Chanyeol

"Ajjushi harus makan. Baekhyun yang manis ini akan menyuapimu sampai kenyang. Aaaa..."

Chanyeol sedikit kaget akan hal yang dilakukan Baekhyun. Ia sedikit malu saat disuapi Baekhyun, namun setiap suap makanan yang diberikan Baehyun membuat nya senang.

"Lihat bagaimana cepatnya nasi dalam mangkuk ini habis. Harusnya Ajjushi lebih peduli pada dirimu dan aku" ujar Baekhyun sambil menuangkan air pada gelas Chanyeol.

"Kasihan padamu?"

"Iya. Bila Ajjushi tidak makan dan jatuh sakit, aku akan sedih dan sangat cemas memikirkanmu. Apa Ajjushi tega membuat ku si pria yang cantik ini didera perasaan cemas dan sedih huh?" ucapan Baekhyun itu diikuti dengan tawa renyah. Sarapan pagi ini diakhiri dengan perasaan Chanyeol yang kacau balau. Bukan kacau karena sedih atau pun marah namun justru senang dan sedikit bingung.

Bersambung

Cuap-cuap sesaat ya:

Hai semua

Akhirnya bisa update setelah melalui perjuangan yang tidak mudah akhirnya selesai juga nih chapter. Maap ya kalo ada agak bingung bacanya karena perubahan sudut pandang. Yah ini lah chapter 4 semoga kalian suka.

Follow,like dan review ya