Disclaimer: Kuroko no Basuke bukanlah milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi

Warning: AU, Slash, OC, OOC, typo, etc

Rating: T

Genre: Romance, drama, friendship


SPIRAL

By

Sky


Selebaran yang ditinggalkan Sei di dalam topinya adalah selebaran mengenai Yosen Cafe, sebuah kafe baru yang ada di ujung jalan dan terletak tidak terlalu jauh dari tempatnya bersekolah. Kalau dari apa yang Tetsuya dengar dari teman-temannya yang pernah mampir ke tempat itu, khususnya para murid perempuan, Yosen Cafe adalah sebuah tempat kecil yang begitu nyaman dengan pelayannya yang ramah serta tampan, dan jangan lupakan menu-menu yang tersaji luar biasa kreatif sehingga membuat orang-orang yang mengunjunginya betah dan memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap mereka.

Kedua mata birunya yang sejernih warna langit di siang hari yang cerah itu terus menilik selebaran yang bertuliskan 'membutuhkan karyawan baru' di sana, entah ini sebuah kebetulan atau tidak ia akan mencoba peruntungannya, terlebih lagi Tetsuya tidak melihat adanya tulisan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh calon pegawai baru di Yosen Cafe 'kan? Sehingga dengan adanya kemungkinan ia bisa diterima pun mulai tumbuh di dalam hati remaja berparas manis tersebut. Semoga saja kali ini ia bisa mendapatkan hasil yang lebih positif dari sebelum-sebelumnya, dan andai kata Tetsuya diterima bekerja di sana maka ia akan mengucapkan terima kasih kepada Sei yang secara tidak langsung telah memberinya kesempatan untuk bekerja, kalau saja mereka berdua bisa bertemu lagi suatu saat nanti meskipun kemungkinannya sangat tipis.

Berbicara mengenai sang fotografer misterius bernama Sei itu, Tetsuya jadi kepikiran akan satu hal. Remaja berambut biru langit tersebut pada akhirnya meletakkan selebaran yang ada di hadapannya di atas mejanya, ia pun menumpukan dagunya pada tangan kirinya yang terbuka dengan tatapan mata datar masih menilik selebaran tersebut. Sei adalah orang yang telah memberikan selebaran ini padanya dengan cara yang tidak langsung, dan Tetsuya yang sebenarnya tidak terlalu percaya akan yang namanya kebetulan berulang-ulang pun memiliki sebuah pemikiran kalau jangan-jangan Sei adalah penguntit dirinya. Tapi, secepat pikiran itu muncul maka secepat pula pikiran itu kandas, pasalnya untuk apa pemuda seperti Sei menguntit orang yang kelewat di bawah biasa seperti Kuroko Tetsuya? Tidak hanya biasa, ia pun tidak ada istimewa-istemewanya sama sekali, bertubuh kekar saja tidak maka apa yang harus dikuntit dari dirinya? Sungguh, remaja berambut biru langit itu tidak akan percaya kalau ternyata sang fotografer misterius yang bernama Sei itu adalah seorang penguntit, terutama orang yang menjadi sasarannya adalah Tetsuya. Andai kata ada orang yang memberitahu Tetsuya memiliki seorang penguntit bernama Sei, dengan baik hati Tetsuya akan menyarankan orang tersebut untuk segera memeriksakan kesehatan mentalnya pada seorang psikiater, sebab hal itu adalah tidak mungkin.

Berbicara mengenai Sei lagi, Tetsuya masih bertanya-tanya siapa orang itu. Ia sangat yakin kalau pemuda itu bukanlah murid SMA Teikou, ia sedikit lebih tua untuk menjadi seorang murid SMA meskipun dalam sepintas Sei bisa disejajarkan seperti murid SMA dalam penampilannya, mungkin saja ia mahasiswa yang lewat secara kebetulan dan tertarik untuk mengunjungi festival tempo hari tersebut. Tuhan, rasanya Tetsuya lelah sekali akan teori-teori tidak jelas seperti ini, dan lebih baik ia membuangnya jauh-jauh demi kesehatannya sendiri, atau paling tidak untuk kesehatan mentalnya.

Ia tidak ingin memiliki rambut beruban sebelum waktunya, dan apalagi kalau uban tersebut tumbuh karena ia terlalu banyak berpirik mengenai teori-teori konyol akan sang fotografer misterius. Sudah cukup, kata hati Tetsuya yang meronta dan mulai lelah akan sifat konyolnya selama ini.

Daripada termenung dan memikirkan hal yang tidak jelas, Tetsuya pun akhirnya memutuskan untuk beranjak dari dalam kelasnya. Ruangan kelas yang telah ia huni selama setengah tahun terakhir ini memang terkenal sangat ramai, anak-anak di dalam kelas ini memiliki hobi membuat gaduh suasana, tidak peduli apakah mereka laki-laki maupun perempuan. Terkadang Tetsuya heran akan dosa apa yang telah ia perbuat di masa lalu sampai ia dimasukkan ke dalam kelas orang-orang bermasalah, yang notabene sebagian besar penghuninya adalah calon preman. Bahkan guru-guru maupun kepala sekolah Teikou pun rasanya mau lepas tangan pada kelas yang susah untuk dibina ini, tapi setidaknya setelah sebulan menetap di kelas itu Tetsuya pun mulai terbiasa, anak-anak yang ada di sana tidak ada yang mengganggunya meski wajah Tetsuya itu selalu dicap sebagai wajah anak baik-baik yang minta untuk diganggu.

Setelah mengambil tasnya yang ia letakkan di samping meja dan memasukkan selebaran tentang Yosen Cafe itu ke dalam saku blazernya, Tetsuya pun segera berjalan keluar dari dalam kelas yang gaduh tersebut, ia tidak mau berlama-lama berada di dalam kelas terlebih saat jam pelajaran sudah berakhir dan saatnya ia untuk pulang, ia memiliki rencana yang lebih penting daripada menetap di dalam kelas tanpa melakukan apapun. Meski raga Tetsuya tengah menuntun dirinya untuk berjalan keluar dari gedung Teikou, tapi pikirannya lari entah ke mana. Kemarin sore ia sempat mengunjungi sang nenek, dan syukurlah keadaan wanita itu sudah sedikit membaik ketimbang beberapa hari yang lalu, serta sakit kepala yang sering membuatnya pingsan itu sudah jarang untuk terjadi. Meski demikian bukan berarti sang nenek sudah lepas dari apa yang namanya maut dari penyakitnya, beliau masih butuh untuk dioperasi dan perawatan yang lebih lanjut lagi. Melihat hal ini Tetsuya hanya bisa berdoa saja agar neneknya bisa bertahan sampai uang yang ia kumpulkan cukup untuk membiayai operasinya.

"KUROKOCCHI!"

Panggilan itu terdengar sangat familiar, dengan suara cempreng khas sang pemilik dan derap langkah kaki yang terdengar begitu keras. Tanpa berbalik untuk melihat siapa sang empunya suara, Tetsuya sudah bisa menebak siapa orangnya dan ia adalah Kise Ryouta. Sang model yang akhir-akhir ini dinobatkan sebagai satu dari beberapa super model tahun ini memang murid dari SMA Teikou, dan ke mana saja ia pergi dirinya pasti dikelilingi oleh perhatian lebih dari para fansnya serta dikerubungi oleh para perempuan, mungkin hal yang terakhir inilah membuat Tetsuya merasa jengah berada di dekat Kise dalam waktu yang lama. Bila ada satu hal yang Tetsuya tidak sukai setelah berada di hadapan kamera, hal itu adalah menjadi pusat perhatian dari banyak orang, dan bila berada di dekat Kise maka mau tidak mau pun dirinya pasti akan terseret untuk menjadi pusat perhatian.

Menghindari Kise rasanya tidak mungkin meski Tetsuya mampu melakukannya dengan memanfaatkan keberadaannya yang nyaris tak terdeteksi, namun masalanya ia tengah berada di koridor yang sempit dan dari ujung kanan serta kiri tempat itu pun sangat sepi, hanya dirinya dan Kise yang tengah berlari saja berada di tengah-tengah koridor. Entah di mana murid-murid lainnya padahal sekarang ini sudah waktunya mereka pulang Tetsuya tidak memiliki jawabannya, meski pada dasarnya ia tahu kalau mereka pasti masih tertahan di dalam kelas masing-masing karena beberapa guru masih sibuk menerangkan pelajaran sebelumnya sebelum mengijinkan mereka semua untuk pulang.

Sebuah helaan nafas singkat pun keluar dari belahan bibirnya, sebelum dirinya pun membalikkan tubuhnya untuk melihat sosok Kise Ryouta berlari-lari kecil menghampirinya.

"Kise-kun," sahut Tetsuya dengan wajah datarnya, membalas sahutan Kise yang tadi diberikan padanya, hanya saja balasan yang diberikan oleh Tetsuya berbeda jauh dari milik Kise, terdengar sedikit lesu dan luar biasa datarnya.

Namun, suara yang datar serta tak bersemangat dari Tetsuya akibat pikirannya yang berat dan keengganannya untuk bertemu dengan sang model tidak terdeteksi oleh sang pemuda tinggi berambut pirang keemasan tersebut, malahan Tetsuya melihat Kise semakin berbinar ketika Tetsuya menyebut namanya. Sungguh, tidak ada yang bisa menilik bagaimana jalan pikiran Kise dan bagaimana pemuda itu bisa jatuh hati pada Tetsuya, mungkin semua itu adalah hal yang tidak bisa dinalar oleh akal sehat. Tetsuya tidak mau memikirkannya daripada ia mendapatkan sakit kepala lagi seperti yang terjadi beberapa saat lalu.

"Kise-kun kenapa berada di tempat ini? Bukankah seharusnya kau berada di gedung sebelah?" tanya Tetsuya yang penasaran dengan kelakuan sang sahabat tersebut.

Dari tempatnya berdiri, Tetsuya bisa melihat bagaimana wajah Kise yang sedari tadi dihiasi oleh senyuman kini bertambah lebar, seolah-olah ia telah memenangkan sebuah undian berhadiah dengan hadiah utamanya adalah liburan ke Hawai selama dua minggu, dan senyuman yang semakin lebar itu tentu saja sulit untuk Tetsuya artikan.

Jujur, saat ini Tetsuya sangat malas bertemu dengan Kise, dan ia melakukan hal ini pun juga karena terpaksa serta sang pemuda sudah berada di gedung sekolahnya. Kalau boleh memilih, remaja berparas manis dengan sepasang iris berwarna biru langit tersebut akan lebih memilih untuk kabur saja dari sana, meninggalkan Kise sendirian. Tetsuya sudah memiliki agenda tersendiri, dan untuk bercengkerama seperti ini sesungguhnya ia tidak memiliki waktu yang banyak.

"Aku ingin mengunjungi Kurokocchi, sekalian kita bisa pulang bersama-ssu," jawab Kise, wajahnya yang sarat akan kebahagiaan karena bertemu dengan Tetsuya cukup bisa terlihat, layaknya sebuah matahari kecil yang bersinar terang di atas langit, cukup silau.

Kedua mata Tetsuya menerawang untuk beberapa saat kemudian, rasanya pulang bersama dengan Kise adalah pilihan yang buruk, mau tidak mau ia harus menolaknya. Ia bukanlah orang jahat yang menolak ajakan seorang teman tanpa alasan, namun di sini kenyataannya Tetsuya memiliki alasan yang bagus. Mungkin hari ini ia memang tidak akan mengunjungi sang nenek di rumah sakit, seperti apa yang sering ia lakukan beberapa hari terakhir ini setelah ia pulang dari sekolah, namun ia memiliki agenda yang sangat penting dan hal ini berhubungan dengan brosur yang terselip di dalam saku blazer yang Tetsuya kenakan. Kalau seandainya Tetsuya menerima ajakan yang Kise tawarkan padanya, tidak hanya kedamaiannya akan terancam karena tingkah laku fansnya Kise yang bisa Tetsuya gambarkan sangat beringas, namun rahasianya bisa terbongkar kalau sebenarnya Tetsuya tengah kesulitan dan membutuhkan banyak uang, sampai-sampai dirinya yang notabene adalah murid sekolah menengah atas yang masih berada di bawah umur harus bekerja.

Yang tahu akan rahasianya ini hanyalah dirinya dan Kagami, Tetsuya tidak butuh Kise untuk mengetahuinya karena ia sangat yakin hasilnya tidak akan baik.

"Maaf, Kise-kun, kurasa aku harus menolak tawaran Kise-kun untuk pulang bersama," kedua kakinya kembali bergerak maju untuk keluar dari gedung Teikou, ia pun juga disusul oleh Kise yang mengikuti Tetsuya dari belakang.

"Kurokocchi! Kenapa kau menolaknya?" Rengek Kise, suara cemprengnya itu sedikit membahana karena lingkup sempit yang menyelubungi mereka berdua. "Apa ini karena Kagamicchi yang maunya memonopoli Kurokocchi? Jadinya Kurokocchi tidak mau pulang bersamaku-ssu? Ayolah, Kurokocchi...kau tidak akan rugi kalau pulang bersamaku."

Air mata buaya yang jumlahnya tidak terkira itu pun merembes keluar dari pelupuk mata Kise, sebuah pemandangan aneh namun tidaklah jarang terjadi itu bisa Tetsuya lihat secara jelas. Dalam hati Tetsuya bisa merasakan dirinya merasa heran, kenapa temannya yang berprofesi sebagai model majalah terkenal ini memiliki sifat kekanakan seperti ini, padahal dari apa yang Tetsuya lihat dari majalah yang memuat Kise sebagai modelnya, Kise Ryouta terlihat tidaklah cengeng dan selalu terkesan dewasa serta serius dalam setiap inchi. Sepertinya Tetsuya membenarkan istilah kuno yang mengatakan kalau orang tidak bisa menilai buku hanya dari sampulnya saja.

"Hal ini tidak ada hubungannya dengan Kagami-kun, Kise-kun," jawab Tetsuya dengan kalem, kedua matanya pun terlihat berbinar secara sesaat ketika dirinya melihat pintu keluar yang ada di depannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun ia langsung membuka pintu tersebut dan keluar dari dalam gedung besar Teikou, menyambut udara luar yang langsung menimbulkan sensasi dingin pada kulitnya. "Ada urusan yang harus aku selesaikan saat ini."

Bicara mengenai Kagami, Tetsuya memang tidak melihat sosok teman baiknya semasa kecil itu di mana-mana sedari tadi, bahkan pemuda yang sekelas dengannya tersebut juga terlihat membolos pada pelajaran terakhir yang seharusnya tidak dilakukannya. Meskipun Tetsuya tahu Kagami adalah orang yang mudah bosan pada pelajaran karena kemampuan otaknya yang terkadang berada di bawah rata-rata, Tetsuya tidak pernah mengira kalau sahabatnya itu akan berani membolos seperti itu, dan terlebih lagi membolos bukanlah gaya dari Kagami.

Seperti tahu akan apa yang ada di dalam pikiran Tetsuya, Kise-pun tersenyum lebar dan mencengkeram lengan Tetsuya dengan erat sebelum ia menyeret remaja itu untuk ikut bersama dengan dirinya, yang terpaksa dilakukan oleh Tetsuya dengan sejumlah protes yang keluar dari mulutya.

"Kise-kun, kita mau ke mana? Aku harus segera pergi!" Ronta Tetsuya yang terpaksa mengikuti langkah kaki Kise, kalau tidak maka dirinya bisa jatuh karena tarikan Kise pada lengannya sangat erat.

"Kagamicchi dan Aominecchi sedang main one on one di lapangan basket-ssu, dan dari tampang Kurokocchi aku bisa tahu kalau Kurokocchi sedang penasaran akan keberadaan Kagamicchi," jawab Kise dengan nada riang gembira, seolah-olah ia tidak menyeret Tetsuya untuk ikut bersama dengan dirinya, bahkan penolakan yang Tetsuya berikan tadi juga mendapat kesan terlupakan begitu saja.

Seharusnya Tetsuya tahu akan hal ini daripada memikirkan ke mana sahabatnya menghilang, sudah pasti Kagami akan lebih memilih untuk menantang Aomine Daiki di lapangan basket daripada mengikuti sebuah pelajaran yang sangat membosankan di dalam kelas. Dan dari apa yang Kise katakan tadi, remaja bermata biru langit tersebut sudah mampu menebak bagaimana jalan cerita berikutnya. Pasti Kagami kalah dalam beberapa seri lalu ia kembali menantang Aomine sampai dirinya mencetak kemenangan.

Kise, Kagami, dan Aomine mungkin berada dalam gedung sekolah dan level yang berbeda, namun ketiganya adalah tim inti dari tim basket sekolah menengah atas Teikou, yang setiap tahun selalu mencetak juara nasional dan membanggakan nama sekolah mereka. Tetsuya mungkin sangat menyukai basket, dan selalu memiliki cita-cita untuk masuk ke dalam tim basket sekolah mereka, hanya saja ia tidak lah memiliki bakat seperti para jenius yang telah ia sebutkan lagi, bahkan dihari pertama ia mencoba menyerahkan formulir pendafarannya kepada senior ia malah mendapat ejekan serta cercaan kalau orang seperti Kuroko Tetsuya tidak akan bisa masuk menjadi anggota inti maupun bergabung ke dalamnya. Tentu saja hal yang bersifat begitu menghina dirinya tersebut membuat Kagami naik darah dan memukuli sang senior tersebut, namun akibat dari perkataan yang pedas itu pada akhirnya Tetsuya pun tidak jadi ikut mendaftar.

Pengalaman yang buruk tersebut selalu membayang-bayangi langkah Tetsuya setiap kali ia lewat lapangan basket, perkataan yang tajam terus menusuk dirinya meski remaja berparas manis tersebut mencoba untuk melupakannya, tapi apa bisa ia melakukannya secara kilat? Meski demikian Tetsuya juga bersyukur dirinya tidak masuk ke dalam tim basket, sebab ia sendiri memiliki prioritas yang jauh lebih besar dari itu semua untuk saat ini, dan kesehatan sang nenek serta usaha mencari uang jauh lebih penting.

Harusnya ia segera menghindar sebelum Kise mencengkeram tangannya seperti ini, dengan begitu dirinya 'kan bisa kabur dengan leluasa tanpa perlu diseret Hmseperti seorang tahanan yang akan melarikan diri dari penjara, ia harus segera ke Yosen Cafe sebelum kafe tersebut terlalu ramai dipadati orang, mungkin saja dengan begitu ia bisa bertemu dengan sang pemilik kafe dan pada akhirnya mendapatkan pekerjaan. Tetsuya merasakan pikirannya melayang jauh entah ke mana pada saat ini, mungkin hal ini dikarenakan oleh bayangan-bayangan yang menggambarkan kalau ia akan diterima bekerja nantinya. Tapi, kalau pun ada kemungkinan positif dalam bayangannya, hal tersebut pun juga memungkinkan ada kemungkinan negatif yang akan datang, contohnya adalah sang pemilik kafe akan langsung menolak permohonannya untuk bergabung dalam sekali lihat, sebuah alasan klasik kalau Tetsuya adalah anak di bawah umur akan menyertainya.

Ekspresi datar Tetsuya pun kini bertambah sedikit masam memikirkan dua kemungkinan yang persentasenya 50:50 tersebut, dan entah kenapa langkah kakinya terasa begitu berat layaknya ada besi yang mengikatnya seperti besi yang terikat pada kaki tahanan di penjara.

"Uwaaa... mereka berdua ini monster atau manusia-ssu?" Suara Kise yang cukup keras tersebut langsung mengalihkan pandangan Tetsuya, membuyarkan lamunannya yang tergambar secara tidak jelas tadi.

Remaja yang baru memasuki usia keenambelasnya tersebut tidak menyadari kalau mereka berdua sebenarnya telah memasuki lapangan basket, dan sekarang ini tengah berdiri di samping tempat Aomine dan Kagami tengah melakukan one on one dengan sangat intens

Kedua mata Tetsuya melebar ketika mereka mengamati bagaimana sang pemain tengah beraksi di tengah lapangan. Gerakan yang begitu cepat, menangkis, dribble, sampai dunk pun diperlihatkan dengan begitu mulus, dan hal ini pun membuat Tetsuya semakin takjub dengan kedua pemain basket tersebut.

Tetsuya tidak heran lagi melihat kemampuan Kagami, yang notabene adalah teman masa kecilnya. Sedari kecil Kagami Taiga memang menyukai basket, dan hampir tiap hari ia selalu bermain dengan bola basket serta menantang beberapa orang untuk melawannya dalam permainan ini, meski orang tersebut jauh lebih dewasa dari Kagami. Namun, yang membuat Tetsuya semakin takjub adalah orang yang bernama Aomine Daiki ini.

Permainan Aomine sedikit mirip dengan Kagami, street basketball, dengan gerakan yang lincah dan akurat serta liar. Tetsuya tidaklah terlalu mengenal Aomine, ia hanya tahu pemuda berambut biru tua itu adalah murid dari kelas khusus Teikou dan juga salah satu anggota tim basket sekolah mereka, bahkan pengetahuan kalau Aomine yang juga super model seperti Kise saja ia baru tahu beberapa waktu yang lalu. Tapi setelah melihat performa yang ditampilkan oleh Aomine di lapangan basket seperti ini dirinya jadi tahu mengapa pemuda tersebut terpilih sebagai super model seperti Kise, ia memiliki tubuh yang bagus serta wajah yang tampan, dan jangan lupakan kulit eksotis yang jarang dimiliki oleh orang-orang Jepang. Remaja berambut biru langit itu meletakkan tangan kanannya pada pipinya sendiri, ia bisa merasakan pipinya sedikit memanas namun semua itu langsung tertutup setelah dirinya mengeleng-gelengkan kepalanya sendiri untuk beberapa saat, mengusir beberapa pikiran aneh yang masuk ke dalam otaknya karena melihat sosok Aomine Daiki yang tengah bermain basket bersama Kagami.

"Mereka hebat ya-ssu... Tapi aku juga tidak kalah dengan mereka," ujar Kise dengan tiba-tiba, dan dalam hati Tetsuya merasa berterima kasih kepada Kise karena suaranya yang lumayan cempreng itu mampu membuat Tetsuya tersadar sehingga dirinya bisa kembali pada realita.

"Kise-kun, apa mereka berdua selalu bermain seintents ini?" tanya Tetsuya setelah dirinya diam selama dua menit lamanya untuk kembali mengamati permainan Aomine dan Kagami tersebut.

Kepala kuning Kise pun mengangguk kecil, sementara bibirnya mengerucut sedikit ke depan, tanda kalau ia sedikit merajuk karena tidak pernah diikutsertakan dalam permainan mereka berdua. "Benar, dan itu terkadang sangat menyebalkan-ssu. Kagamicchi selalu menantang Aominecchi bertanding one on one, alasannya itu untuk membalaskan dendam dan memberikan Aominecchi pelajaran. Dan terkadang pula Aominecchi sendiri yang menantang Kagamicchi-ssu."

"Tapi mereka berdua kelihatan sangat hebat," perkataan yang keluar dari mulut Tetsuya memang beralasan, tidak heran kalau mereka berdua bersama dengan Kise selalu mendapat gelar ace dari tim basket sekolah mereka.

"Memang-ssu, tapi aku juga hebat, Kuroko-cchi!" Di sini Tetsuya bisa melihat beberapa bintang imajiner mengerubungi sosok kuning Kise. "Mungkin kapan-kapan kita berdua bisa main one on one-suu, hanya aku dan Kurokocchi seorang. Bukankah itu sangat romantis-ssu? Seperti kencan saja!"

Ide yang keluar dari mulut Kise itu ternyata terdengar cukup keras, membuat kening Tetsuya mengernyit untuk beberapa saat lamanya karena ragu, juga karena ia bingung harus menyebut Kise itu bodoh atau tidak peka. Bagaimana ia bisa melawan Kise yang notabene adalah seorang jenius dalam dunia basket sementara dirinya tidak lebih dari seorang pecundang dalam dunia basket? Rasa-rasanya Tetsuya ingin memukul kepala Kise karena ide bodohnya tersebut, namun remaja berparas manis itu jauh lebih sopan daripada melakukan kekerasan seperti yang ada di dalam pikirannya, yang bisa Tetsuya lakukan hanya menghela nafas kecil.

Mungkin perhatian mereka berdua masih terfokus pada satu sama lainnya, dalam pembicaraan kecil mereka sampai keduanya tidak sadar sebuah basket yang seharusnya dimainkan oleh Aomine dan Kagami melesat ke arah mereka, sehingga tanpa sadar bola tersebut langsung mendarat dengan begitu mulus tepat di atas kepala Kise, membuat tubuh pemuda berparas tampan tersebut tersungkur di tanah.

"SAKIT-SSU! KAGAMICCHI...KAU SENGAJA YA-SSU!" Raung Kise seraya berdiri dari posisi menyedihkannya, kepalanya yang benjol itu langsung ia usap untuk beberapa saat lamanya agar rasa sakitnya hilang.

Dari tempatnya berdiri, Tetsuya hanya melihat pemandangan yang begitu tidak asing terjadi di sana, dimana Kagami memberikan tatapan penuh kekerasan kepada Kise yang merengek dan menyebut dirinya adalah korban penganiayaan Kagami di tempat itu. Yang bisa Tetsuya lakukan hanya diam bergeming, tidak bergerak sekalipun dan hanya melihat semua itu terjadi di sana dengan begitu alami. Remaja berparas manis tersebut pun kini menggeleng-gelengkan kepalanya untuk beberapa saat lamanya, merasa lucu sendiri karena dirinya adalah penonton setia dari adegan yang tidak pernah gagal membuatnya terkesan, katakan saja dia jahat tapi ia sangat menyukai momen seperti ini.

Merasakan sepasang mata menatap dirinya lebih dari sepuluh detik lamanya pun membuat Tetsuya mengalihkan pandangannya, kepalanya menengadah untuk beberapa saat lamanya sampai kedua matanya pun bertemu pandang dengan sepasang mata berwarna sapphire gelap yang masih menatapnya dengan lekat, penuh makna yang melekat di balik bola mata indah tersebut.

"Aomine-kun, apa kabar?" ujar Tetsuya dengan suara halus, bibirnya yang berwarna merah muda alami tersebut melengkung sedikit untuk membentuk ulasan senyum yang indah, sebuah senyum yang membuat ketiga individu yang ada di lapangan basket bersama dengan dirinya merasakan nafas mereka tercekat.


Dengan tas sekolah masih terbawa rapi di bahu kirinya dan selebaran tentang Yosen Cafe terbuka dengan rapinya di tangan kanannya, Tetsuya pun akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam tempat tersebut. Kesan pertama yang Tetsuya miliki mengenai bangunan ini adalah kafe tersebut sangat bagus, desainnya minimalis namun elegan dengan tempat yang cukup besar. Beberapa nuansa klasik pun terpasang di tempat ini, bahkan Tetsuya sendiri sedikit bingung apakah dirinya memang memasuki sebuah kafe kecil yang baru buka atau malah memasuki ruang jamuan minum teh dari zaman Victoria.

Bunyi bel yang berbunyi akibat pintu yang terbuka pun membuat perhatian Tetsuya semakin takjub saja, begitu klasik dan entah kenapa andai saja dirinya diterima bekerja di tempat ini maka ia akan betah, tidak heran kalau orang-orang yang berkunjung ke tempat ini selalu memberikan kesan yang bagus.

"Selamat datang di Yosen Cafe, apa ada ya... eh, Kuroko-kun?"

Kedua mata Tetsuya mengerjap pelan ketika namanya serasa dipanggil, sepertinya pelayan yang menyambut kedatangannya itu mengenal dirinya. Tubuh Tetsuya serasa membeku di tempat, kedua matanya pun terbuka sedikit melebar sementara darahnya berdesir cukup kencang ketika dirinya melihat siapa orang yang memanggil namanya tadi.

Seorang pemuda bertubuh cukup tinggi dengan badan yang atletis, kulit putihnya cukup bersih dan rahangnya kelihatan kuat. Rambut potongan pendek berwarna hitam pekat dengan sedikitnya menutupi mata kirinya, dan jangan lupakan akan tahi lalat yang tersemat di samping mata kanannya itu tentu membuat Tetsuya mengenali siapa orang yang berdiri di hadapannya ini, orang yang tadi menyambutnya dengan cukup sopan. Sang pelayan kafe tersebut adalah kakak angkat dari Kagami Taiga, dia adalah Himuro Tatsuya.

"Himuro-kun, apa kabar?" sahut Tetsuya setelah memberikan anggukan dengan begitu sopan, apalagi hal ini ditujukannya kepada seorang pemuda yang berusia tujuh tahun lebih tua darinya itu.

"Kuroko-kun, tidak biasanya aku melihatmu mengunjungi kafe selain Maji burger. Kurasa ini sebuah peningkatan," Himuro Tatsuya tersenyum simpul melihat sosok Tetsuya yang tiba-tiba cemberut karena kebiasaannya disebutkan seperti itu. "Mau membeli vanilla milkshake?"

Tetsuya menggeleng kepalanya sebagai jawaban 'tidak'. Bukan rahasia umum lagi kalau Tetsuya sangat menyukai vanilla milkshake, hampir tiap hari ia selalu membeli minuman yang terbuat dari susu putih dan berasa vailla tersebut. Bila ada orang yang bertanya pada padanya akan mengapa Tetsuya selalu mengkonsumsi minuman berlemak dan dapat menyebatkan diabetes itu setiap hari, ia hanya akan menjawab kalau dirinya suka akan rasanya, padahal selain itu sebenarnya Tetsuya menyukai vanilla milkshake karena minuman tersebut mampu membuatnya merasa baikan setelah mendapatkan pemikiran yang pelik. Sedikit mirip dengan narkoba untuk pencandunya.

"Aku ke sini untuk tujuan lain, Himuro-kun," gumam Tetsuya dengan begitu singkat. Tangan kanannya yang memegang brosur dari Yosen Cafe tersebut langsung memperlihatkan brosurnya kepada Himuro yang masih berdiri di hadapannya.

"Brosur ini...padahal kami belum sempat menyebarkannya karena pemilik tempat ini masih sibuk, dan bagaimana kau bisa mendapatkannya, Kuroko-kun?"

Kedua mata Tetsuya mengerjap untuk beberapa saat kemudian. Himuro mengatakan kalau kafe baru ini belum sempat menyebarkan brosur seperti yang ada di tangannya ini ke khalayak umum, lalu bagaimana Sei bisa memilikinya? Apakah pemuda misterius berambut merah itu adalah pegawai di tempat ini sampai ia bisa mengambi salah satu brosur dan memberikannya secara tidak sengaja kepada Tetsuya? Rasanya kepala Tetsuya pusing saja memikirkan kemungkinan seperti itu bisa terjadi, namun rasanya tidak mungkin juga.

"Ah... seseorang memberikannya padaku, Himuro-kun," jawab Tetsuya dengan nada pelan, kali ini kepercayaan diri yang ia bangun sedikit runtuh setelah mengetahui fakta yang cukup mengejutkan terkejut. "Tapi...apakah aku bisa menanyakan akan hal ini? Maksudku melamar pekerjaan di sini, Himuro-kun?"

Tatapannya yang lurus tersebut mengarah langsung kepada Himuro yang balik menatapnya untuk beberapa saat lamanya, dan semakin lama waktu mereka bertatapan itulah yang membuat hati Tetsuya semakin gundah. Apakah dirinya akan ditolak lagi karena masih berada di bawah umur seperti apa yang terjadi dikebanyakan tempat? Tapi Tetsuya tidak boleh pesimis, orang yang ada di hadapannya ini adalah Himuro Tatsuya, kakak angkat Kagami yang juga satu dari beberapa orang yang mengetahui kondisi Tetsuya dan neneknya, mungkin saja pemuda manis berambut hitam tersebut mau membantu Tetsuya untuk mendapatkan pekerjaan ini.

Harapan boleh saja muncul di dalam benak Tetsuya, namun kenyataan lah yang bisa menjawab semua itu dan di sini Tetsuya pasrah akan segalanya. Tangannya yang memegang selebaran tersebut sedikit bergetar, dan sebuah keringat yang berasal dari pelipisnya pun turun menuju ke pipi sebelum jatuh ke balik kemeja seragam sekolah yang masih ia kenakan. Dalam hati Tetsuya berdoa kepada Tuhan agar ia mendapatkan pekerjaan ini, sebab hal ini adalah satu-satunya harapan yang tersisa. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan bekerja dengan giat serta menjauhkan semua pemikiran gila maupun tidak masuk akal dari otaknya kalau saja Tetsuya diterima bekerja di tempat ini, di Yosen Cafe.

"Himuro-san?" Panggil Tetsuya, degup jantugnya yang masih tidak beraturan itu terus berdetak semakin cepat seiring dengan rasa gugup yang ia rasakan. Tetsuya sedikit khawatr kalau Himuro mampu mendengar suara degup jantungnya yang lumayan keras tersebut.

Mungkin rasa bingung lah yang kini tengah menyelimuti tubuh Himuro sampai ia memandang Tetsuya dengan cara aneh seperti itu, mungkin saja hal ini dikarenakan oleh bagaimana brosur yang belum sempat dicetak itu bisa jatuh ke tangan Tetsuya, apalagi brosurnya dalam bentuk selebaran. Seperti itulah asumsi yang Tetsuya miliki melihat bagaimana diamnya Himuro Tatsuya terlihat begitu aneh.

Tersadar dari lamunannya, Himuro hanya memberikan senyum kecil kepada teman sang adik angkat. "Maaf, Kuroko-kun, tapi menerima pegawai baru bukanlah keputusan yang ada di dalam tanganku, semuanya ada di tangan pemilik kafe ini," jawab Himuro dengan nada lembut, selembut mungkin agar Tetsuya tidak tersinggung.

Meski hal itu bukanlah keputusan Himuro sendiri, Tetsuya meyakinkan dirinya kalau ia masih bisa mendapatkan pekerjaan ini. "Lalu, bisakan aku bertemu dengan pemilik tempat ini, Himuro-kun?"

"Itulah masalahnya, Kuroko-kun, hari ini sang pemilik kafe sedang tidak berada di tempat karena pekerjaan lain yang harus diselesaikannya. Kemungkinan besar ia akan kembali lagi setelah makan malam, apa mungkin kau mau menunggunya dulu, Kuroko-kun? Atau mungkin kembali lagi besok, aku akan membuatkan janji dengannya."

"Tidak, aku akan menunggu pemilik kafe saja. Kalau kau tidak keberatan, Himuro-kun,"

"Tentu saja aku tidak keberatan. Ayo aku antarkan ke salah satu meja di mana kau bisa menunggunya." Dengan kalimat yang bersifat mengajak itu pun Himuro mengantarkan Tetsuya ke sebuah meja yang ada di sudut ruangan, di sana ia pun mengambil tempat duduk dan menunggu sang pemilik kafe untuk datang.

Selama beberapa jam ke depan, Tetsuya hanya bisa melihat pemandangan beberapa pelanggan masuk ke dalam kafe dan kemudian keluar setelah menikmati makanan di sana. Ia pun juga melihat beberapa pelayan lain yang bekerja di tempat itu selain Himuro, dan entah kenapa Tetsuya merasa suasana yang ada di sini sangat nyaman, serasa ia berada di dalam rumahnya sendiri, dan terlebih pelayanannya juga sangat ramah. Bahkan tanpa memesan pun Himuro mengantarkannya sebuah vanilla milkshake gratis padanya, kataya minuman itu untuk Tetsuya yang saat ini sedang menunggu sang pemilik kafe untuk datang.

Tetsuya sedikit heran akan bagaimana rupa sang pemilik kafe, apakah ia terlihat seperti seorang laki-laki paruh baya dengan kacamata tebal seperti yang pernah Tetsuya lihat tempo hari? Atau mungkin seorang wanita yang berada pada usia 30an dengan make up tebal namun ramah seperti pemilik kafe yang tidak jauh dari rumahnya. Bagaimana pun rupa sang pemilik kafe, Tetsuya berharap ia tidak akan terlalu gugup ketika berhadapan dengannya, sehingga sang pemilik kafe yakin kalau memilih Tetsuya sebagai pegawainya bukanlah pilihan yang salah.

Bibirnya yang mengerucut pada ujung sedotan vanilla milkshake-nya itu pun langsung menjauh untuk beberapa saat lamanya, kedua matanya menatap ke sekeliling di tempat ini sampai mereka menatap ke dinding sebelah yang dihiasi oleh bingkaian beberapa foto yang sangat indah dan terkesan begitu artistik. Siapapun orang yang mengambil gambar-gambar tersebut pasti orang yang sangat profesional dan tahu akan apa yang dikerjakannya, bahkan dari sudut pandangnya sendiri Tetsuya bisa menemukan kecintaan yang luar biasa di setiap jepretan gambar yang terpatri pada bingkaian kemilau tersebut. Rasa cinta yang dituangkan pada karya pekerjaan, mungkin kedengarannya sangat konyol dan bodoh bagi beberapa orang, namun hal itu sangatlah penting untuk mendapatkan hasil yang bagus dan maksimal, Tetsuya sangat mempercayai kalau fakta itu memang benar adanya. Terlebih dirinya juga melihat beberapa mahakarya yang terpajang pada dinding kafe tersebut, memberikan nuansa yang indah serta klasik.

Kedua matanya terus beredar dari satu gambar ke gambar yang lain, sampai dirinya tiba pada sebuah gambar berbingkai yang membuat nafasnya tercekat. Tetsuya bisa merasakan kedua matanya bertambah semakin lebar serta jantungnya berdegup dengan sangat keras ketika dirinya menatap gambar yang sangat tidak asing tersebut. Bibirnya yang terkatup rapat tadi menjadi sedikit terbuka, rasa tidak percaya yang bercampur dengan rasa penasaran menyelimuti dirinya dengan begitu erat, bahkan hampir saja Tetsuya melupakan bagaimana caranya bernafas dalam waktu dekat ini.

Bagaimana gambar itu bisa diambil dan terpajang di tempat seperti ini pun membuat Tetsuya merasa penasaran, tanpa sadar remaja itu meletakkan jemari tangan kanannya untuk menutupi mulutnya sendiri.

Tidak mungkin, batin Tetsuya berteriak hebat saat semua perhatiannya tertumpu berat pada gambar yang sebenarnya sangat indah dengan aksen kemisteriusan di sana.

Warna orange dengan matahari sore mendominasi gambar foto tersebut dan bayangan yang bergradasi manis menyelimutinya adalah kombinasi yang begitu indah, namun yang membuat Tetsuya terkejut adalah model yang menjadi titik utama pada foto tersebut. Tetsuya sangat mengenal orang dalam foto tersebut, ia selalu melihatnya setiap hari ketika ia berdiri di depan cermin, iya...model dari foto yang diambil di bawah senja matahari tidak lain adalah dirinya, fotonya ketika ia tengah duduk di taman rumah sakit beberapa minggu yang lalu. Bagaimana bisa fotonya berada di Yosen Cafe serta dipajang dengan indahnya pada salah satu dinding adalah pertanyaan yang besar.

Mungkin orang lain tidak akan tahu kalau model dari foto tersebut adalah Tetsuya, bayangan sinar matahari sukses menyamarkan wajahnya, namun warna rambut itu serta postur sang model adalah yang membuat Tetsuya mengenali dirinya sendiri di dalam jepretan sang kamera milik fotografer, yang sekarang tengah terpajang di salah satu dinding kafe ini tanpa sepengetahuannya.


AN: Semua yang tertulis dalam fic ini menggunakan sudut pandangnya Tetsuya. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir dan membacanya fic sederhana ini, terima kasih pula kepada kalian yang menyempatkan diri untuk meeview, memfollow, dan memfavorit Spiral

Author: Sky