Disclaimer:
-Naruto © Masashi Kishimoto-
.
Warning:
-OOC/Canon/Fantasy/Family/Divergence/Typos/Parody-
-Harap beri tau jika ada kesalahan dan kerancuan dalam penulisan-
.
Spesial to:
-Reviewers and readers-
-Terimakasih sudah berkunjung ke sini ^_^-
-Tapi Akan lebih senang jika kalian mau menReview disini-
.
-^-^-^-^-Happy Reading-^-^-^-^-
.
.
Saat kau bertemu hewan bersayap yang indah,
Yang tidak bisa berkicau, namun mampu membuat orang terpana
Ikutilah dia, dia adalah petunjuk jalanmu serta keberuntunganmu
Jangan kau biarkan dia berlalu meninggalkanmu,
Karena sebagian hatimu ada padanya,
Dia akan menuntunmu pada kebahagian, cinta dan kasih sayang
dia penuntunmu, dia kebahagianmu, dan dia keberuntunganmu
jalan biarkan dia pergi.
Ingat dia adalah hewan bersayap yang tidak bisa berkicau
Namun mampu membuat orang terpana.
Ingatlah dan kau harus mengingatnya, ok
Jangan biarkan kau menyesal seumur hidupmu.
Ingat itu baik-baik
.
.
Naruto terbangun dari tidurnya, memperlihatkan sisi semrawut yang ada pada dirinya, rambut blonde yang acak-acakan, mata setengah terbuka karena sebuah benda menempel erat di matanya sehingga membuat pandangannya terhalang. Serta sebuah pulau kecil yang terbentuk di ujung bibirnya. Sungguh mengenaskan melihat keadaan Naruto ini.
Dengan hati setengah tidak rela, Naruto berjalan gotai ke kamar mandi untuk mencuci mukanya yang mengenaskan agar terlebih lebih berseri. Setelah di rasa cukup, kemudian ia usap muka yang basah dengan handuk hingga kering. Setelah itu ia tatap mukanya di cermin, memperlihatkan sisi ketampanan pada dirinya. Jika di lihat-lihat ia mirip seperti Ayahnya.
"Apa maksud mimpiku itu, aku tidak mengerti"
Kemudian Naruto kembali mencuci muka dan membasahi rambutnya. Setelah itu kembali menatap cermin.
"Aku harap pagi ini bisa bertemu Hinata, aku ingin minta maaf padanya."
Setelah itu Naruto berjalan ke kamarnya untuk mengambil handuk, lalu masuk ke masuk ke kamar mandi. Semenit kemudian terdengar suara gemericik air dari Shower yang Naruto On kan. Pada menit ketiga terdengar pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan sisi Sensual diri Naruto, badan Naruto sungguh binaragawan, membuat siapapun terutama para gadis menjerit. Sebelum melangkah Naruto kepakan rambutnya yang basah, uhh tampan sekali Naruto ini membuat Author jatuh cinta padanya :D, Naruto benar-benar tampan seperti Ayahnya jika tidak sedang memakat pelindung kepala.
Lima menit kemudian, Naruto sudah memakai bajunya yang Orange, namun ada sesuatu yang kurang darinya, tapi Naruto tidak tau apa itu. akhirnya Naruto memutuskan untuk diam, tidak memikirkan lagi.
Hari ini tidak akan ada misi yang setiap hari menghantui para Shinobi, sejak invasi pain, konoha tidak lagi mendapat panggilan dari luar. Bagi sebagian orang hal ini merupakan kesempatan bagus untuk beristirahat atau sekedar bersenang-senang dengan kawannya, namun bagi Naruto jika tidak ada misi hidup ini tidak asyik, tidak ada hal menantang yang membuat hidupnya bergairah.
Kruyuk kruyuk, suara perut yang minta di isi, akhirnya Naruto memutuskan untuk pergi ke kedai Ichiraku untuk mengganjal perut yang lapar.
Sampai di sana, Naruto terkejut sudah ada guru Iruka yang siap memesan 2 porsi ramen. Tidak biasanya guru Iruka makan sebanyak itu, membuat Naruto heran dan segera bertanya.
"Guru, tidak biasanya guru Iruka makan sebanyak itu."
Mendengar suara Naruto, guru Iruka menoleh.
"Ah rupanya kau Naruto, guru sudah lama menunggumu dari tadi, ayo cepat duduk."
Sang guru pun menyuruh murid kesayangannya duduk di samping dekat dengan dirinya.
"jadi, ramen ini untukku guru?" tanya Naruto yang masih tidak paham.
"memangnya untuk siapa lagi, kau pasti sedang lapar 'kan. Ayo makanlah, guru yang akan membayarnya?"
"Wah guru memang perhatian, selalu tau apa yang ku inginkan."
Mata Naruto berbinar-binar melihat ramen lezat sudah tesaji di depan mata, asap yang mengepul membuat semangat Naruto meningkat, tanpa basa-basi segera Naruto mematahkan sumpit yang masih erat menempel.
"Selamat makan guru."
Dengan antusias Naruto melahap ramennya yang masih cukup panas. Membuat sang guru yang melihat menjadi khawatir.
"hati-hati Naruto, ramen itu masih panas."
"Toidak guoru, suodah doingin kok" ucap Naruto dengan mulut penuh makanan. Membuatnya terlihat lucu.
Sang guru yang melihat itu, tersenyum lalu mengacak-ngacak rambut Naruto sambil tersenyum, anak ini memang sebuah keajaiban untuk desa Konoha yang merupakan desa daun tersembunyi. Suatu kebanggaan besar memiliki pahlawan baru yang memiliki semangat jiwa tinggi.
"Guru ini membuat rambutku yang sudah rapi berantak tau, nanti tidak lagi gadis yang memperhatikanku" Naruto menata rambutnya yang berantakan karena sang guru yang mengacak-ngacak.
"Kau tidak perlu khawatir, Naruto. Masih ada gadis Hyuuga yang selalu memperhatikanmu." Sang guru kembali mengacak-ngacak rambut Naruto yang sudah cape-cape Naruto rapikan, membuat Naruto kembali kesal. Senang rasanya, mempermainan Naruto, suatu kesenangan yang membuat Iruka bahagia.
"Hei.." Namun saat Naruto akan melampiaskan kekesalannya, sang guru memberikan porsi ramen miliknya pada Naruto, membuat Naruto tidak jadi melampiaskan kekesalan.
"Kau masih lapar 'kan, nih makan ramen milik guru, guru sudah kenyang kok" sodor sang guru, membuat Naruto tersenyum, guru Iruka ini memang tau apa yang di pikirkan Naruto, membuat Naruto bisa merasakan bagaimana kasih sayang seorang Ayah dari sosok hangat Iruka. Bagi Naruto, Iruka adalah keluarga pertama yang ia punya sebelum mengenal sosok kakashi dan Ero sennin si petapa genit yang menulis Novel Icha-icha.
"benar guru, tapi guru belum terlihat makan satu lahap pun."
"guru sudah makan sebelum kau datang, ayo makanlah."
"baiklah guru, Terimakasih, selamat makan."
Naruto kembali dengan antutias memakan porsi ramen milik gurunya, sang guru pun kembali tersenyum melihat ke antusiasan Naruto memakan ramen, sungguh melar perutnya, padahal satu porsi ramen itu cukup besar bagi iruka.
"O, yah guru, siapa gadis hyuuga yang guru maksudkan itu?" tanya Naruto yang baru makan beberapa lahap ramen, karena masih penasaran apa yang gurunya katakan.
Setelah bertanya, lalu Naruto kembali memakan ramen yang di tunda beberapa detik.
"Yang pasti gadis itu adalah..."
Sebelum Iruka menjawab datang Hayate membawa minuman untuk mereka berdua. Iruka pun menjawab "Terimakasih" pada Hayati. Kemudian kembali melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
"Yang pasti dia adalah…"
"Hinata Hyuuga" Iruka dan Hayati menjawab serentak.
Dan itu sukses membuat Naruto "Uhuk Uhukk" tersedak karena kaget. Iruka yang melihat Naruto sedang kesulitan, bergegas mengambil air yang sudah hayati berikan.
"Minumlah Naruto."
Sang guru menyodorkan minuman, tepat di mulut Naruto. Dengan masih kesulitan, Naruto menelan sisa ramen di dalam mulutnya yang belum terkunyah halus dengan sedikit dorongan tenaga, setelah itu meminum air yang di sodorkan gurunya.
"Fiuhh" Naruto menghela nafas, senang rasanya terbebas dari kesulitan. Lalu otaknya kembali memanas, seperti kompor mau meledak.
"Hei kalian, jangan membuat kekagetan saat aku sedang makan, kalian ingin membuatku mati tersedak apa!" Bentak Naruto kasar. Bodo amat apakah dia anak kecil, guru, hokage bahkan tetua dan binatang sekalipun, jika mengganggu acara makannya akan Naruto marahi habis-habisan, mau dapat masalah kek atau tidak semua akan Naruto tanggung sendiri akibatnya.
Namun kemarahan Naruto, malah di balas tawa oleh mereka berdua, memangnya ada yang lucu apa? Sungguh heran, Bibi kedai sama guru Iruka ini, jangan-jangan mereka sudah tidak beres lagi, harus segera di obari tuh, bahaya. Mungkin,kau saja yang tidak beres Naruto (Author ikut-ikutan, Huaa ampun Naluchan)
Setelah beberapa menit berlalu, keadaan sudah kembali kondusif. Naruto sudah menghabiskan porsi milik gurunya malah Naruto menambah lagi 2 porsi ramen. Sungguh mengejutkan Naruto ini, tapi bagi Hayate itu tidak asing lagi, karena ia sudah hampir sering melihat keadaan Naruto yang seperti kelaparan itu.
"Oh, yah Naruto, kemana pelindung kepalamu?" tanya guru Iruka yang melihat Naruto tidak memakai lambang kebanggaan konoha.
"Di sini guru." Tunjuk Naruto pada dahinya, namun tidak merasakan sesuatu yang keras berbahan metal yang selalu melingkar di kepalanya-pelindung kepala ninja.
"hah mana pelindung kepalaku, ah mungki aku simpan di saku celana." Naruto mengodok saku celana namun tidak mendapatkan hasil. Ia kemudian menyodok saku celana yang lain namun tidak ada juga. di saku baju tidak ada, di kantong peralatan ninja tidak ada juga. Huaa Naruto hampir Frustasi mencari keberadaan pelindung kepala itu, barang itu merupakan hal yang wajib ada pada setiap shinobi sebagai identitas diri untuk mempermudah pengenalan. Jika tidak ada, Naruto bisa di anggap sebagai musuh atau ninja pelarian.
"Kau ini sungguh ceroboh, Naruto. coba ingat baik-baik, dimana kau menyimpan?" umpat sang guru.
"Aku yakin, tadi aku menyimpannya di kantong, tapi kenapa tidak ada yah." Naruto masih sibuk mengorek-ngorek isi kantongnya.
"Mungkin kau lupa memasukannya saat kau pergi."
"Ah mungkin guru benar, aku lupa memasukannya. Kalau begitu aku akan pergi mengambilnya di kamar. dah guru"
Naruto pun pergi sambil melambaikan tangan pada gurunya.
"Ah dia memang selalu cereboh." Hela Iruka, kemudian dari arah samping terlihat seseorang melambaikan tangan sambil berteriak menghampiri Iruka yang tengah berdiri. Setelah sampai ternyata itu Shizune, tapi kali ini tidak membawa binatang peliharaannya,tonton.
"Kenapa kau kemari, tetua memanggilku lagi?" tanya Iruka.
"Bukan, aku hanya memastikan kau tidak memberitahukan Informasi itu pada Naruto, tadi ku lihat kau sedang bersamanya, kau tidak memberitahukan apapun 'kan?" Jelas Shizune yang baru saja mengatur nafas karena habis berlari.
"Maksudmu tentang Sasuke dan Danzou, tenang saja aku tidak memboncorkan informasi apapun, semua terkunci rapat"
"Fiuh syukurlah, kalau begitu aku sekarang akan pergi." Shizune membalikan badan dan saat akan melangkah, Iruka menahan.
"T-tunggu Shizune."
"Ada apa?" tanya Shizune yang langsung berbalik.
Wajah Iruka terlihat memerah, membuatnya terlihat lucu. "A-apa kau sekarang tidak ada waktu? Jika tidak, A-aku ingin mengajakmu p-pergi?" Ucap Iruka dengan nada yang tertahan-tahan karena gugup.
"Ano maaf Iruka-san, aku harus menemani nona Tsunade." Tolak Shizune halus.
"Ah iya aku lupa. Nona Tsunade masih tidak sadarkan diri. Ku harap Nona Tsunade cepat sadar agar segera menjabat hokage kembali. Aku masih tidak terima jika Danzou menjadi Hokage pengganti Nona Tsunade"
"Ku harap juga begitu. Sudah ya, aku pergi Iruka-san. Sampai jumpa." Shizune pun pamit meninggal sedikit kekecewaan dalam hati Iruka. Namun itu hanya berlangsung sesaat karena terlihat Shizune berseru sambil melambaikan tangan padanya.
"kapan-kapan lagi jika kita mau pergi? Sampai jumpa Iruka-san, semoga nanti kita berjumpa lagi."
Iruka mengkedipkan mata, memastikan apa yang di dengarnya memang benar, dia mengatakan saygoodbye pada Iruka. Apakah ini mimpi, lalu Iruka mencubit pipinya, ah terasa sakit, ternyata ini bukan mimpi atau khayalan semata ini nyata. Senang rasanya mendapat respon dari seseorang yang di kagumi.
"Iruka, kau sakit? Kenapa kau senyum-senyum sendiri." Kakashi mengibas-ngibaskan telapak tangannya pada wajah Iruka, Iruka tidak berkedip sama sekali membuat kakashi keheranan dan berpikir 'ada yang tidak beres dengan Iruka'.
Kruyuk-kruyuk karena perut kakashi sudah berbunyi, kakashi memutuskan untuk masuk kedai untuk bertemu gadis pelayanan yang cantik itu, tapi kali ini tidak berniat untuk kabur karena Kakashi tidak lupa membawa dompetnya. Tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu lupa membawa dompet yang merupakan benda wajib kedua setelah pelindung kepala.
"Hayate-chan, aku pesan 1 porsi ramen."
"Eh Kakashi-kun, baiklah , 1 porsi ramen akan siap tersaji."
Hei apa-apa kalian,-Chan -Kun, -Chan -Kun. Kalian sudah besar tau, masih saja memakai embel-embel yang kekanak-kanakan itu, harusnya -San atau -Sama. Kalian tidak saling bermain mata kan. (Hei Kenapa Author yang sewot).
-Hinata Love Confession-
Hinata, Neji, Hanabi serta Hizashi, kaka beradik sepupu dan ayah serta paman bagi Neji itu sedang berjalan bersama menyusuri sungai kecil yang di pinggirannya di tanami pohon sakura yang merupakan perbatasan komplek klan hyuuga dengan tanah publik konoha. Tidak biasanya mereka berempat kompak seperti ini, ada apa gerangan hingga membuat mereka kompak, kesambet hantu kah (Hei!). Kejutan apa lagi yang Author akan berikan kali ini (Apa?). yang pasti kejutan ini hanya di beri tau di cerita ini (yaeyalah)
"Apa kau sudah mengingat sesuatu, Putriku?" Tanya petinggi klan Hyuuga-yang merupakan Ayah Hinata dan Hanabi- dengan penuh perhatian.
Ohh Rupanya mereka sedang menemani Hinata jalan pagi untuk menikmati guguran bunga sakura yang terlepas dari rantingnya, serta sebagai ajang pengakraban diri untuk lebih mengenal dekat satu sama lain sekaligus bahan untuk menenangkan pikiran Hinata agar lebih santai sehingga akan mudah mengingat sesuatu.
"Ano ayah.." Seru Hinata malu-malu sambil memain-mainkan jari telunjuknya.
"Apa anakku, apa kau mengingat sesuatu.?" Tanya Sang antara senang jika ingatan Hinata sudah kembali dan khawatir jika keadaan Hinata kembali memburuk.
"Ano, ayah." Hinata masih malu-malu serta masih memainkan jari telunjuknya.
"Neechan, kenapa. Apa neechan sakit?" Tanya Hanabi yang berbalik menatap sang kakak perempuannya.
"Ayo katakanlah Hinata-hime, jangan malu-mau." Neji ikut menimpali.
"Ano..."
"Yah."
"Aku…"
"Hn?"
"Aku.."
"katakanlah?"
Kruyuk kruyuk terdengar bunyi perut yang minta di isi, membuat Hinata merundukan kepala karena malu jika sampai itu terdengar orang lain.
"Kau lapar, Putriku?" Tanya sang ayah yang membuat Hinata merundukan kepala lebih dalam, karena malu. Perutnya sungguh tidak konsisten, berbunyi pada saat yang tidak tepat.
"Jika Hinata-hime lapar, kenapa tidak bilang dari tadi?" Timpal Neji.
Dengan wajah tertunduk dan sedikit malu-malu Hinata mengeluarkan kalimatnya yang tertahan di tenggorokan.
"A-aku malu.."
"Kenapa neechan mesti malu, kita 'kan bagian dari keluarga. Benar 'kan Ayah, Neji-niisan?"
Hanabi ikut berseru, membuat suasana di antara mereka semakin menarik, sehingga memunculkan sisi hangat yang jarang sekali mereka perlihatkan di depan publik. Itulah perlunya pengakraban diri sekalipun satu saudara, agar tidak membuat satu sama lain canggung ketika sedang berbicara.
"Kau benar putriku." Sang ayah mengacak-ngacak rambut anak bungsunya hingga membuat rambut panjang Hanabi berantak lalu sang Ayahpun tersenyum seketika Hanabi mengembungkan pipi sambil merapikan rambutnya. Sisi hangat dari seorang ayah yang belum pernah mereka rasakan, dapat terasa sekarang, inilah hikmah di balik Invasi Pain yang menakutkan.
"Ayah, kau membuat rambutku berantakan tau."
"Hei Hanabi." Panggil Neji.
"Yah, ada apa Neji-niisan." Sahut Hanabi lalu menoleh kearah Neji yang sekarang merundukan badan, membuat Hanabi kaget karena jarak mereka cukup dekat.
"Kau lucu sekali Hanabi-hime." Senyum Neji seperti senyum Sai saat pertama bertemu Naruto, senyum yang mengandung kepalsuan, karena setelah itu Neji melancarkan aksinya yaitu mengacak-ngacak rambut Hanabi yang telah susah payah di rapikan. Membuat Hanabi melancarkan aksinya yang tertahan.
"Niisan, awas kau yah." Umpat Hanabi yang langsung memukul badan Neji, otomatis membuat Neji harus berjalan cepat menghindari serangan demi serangan yang Hanabi lancarkan padanya.
"Ampun Hanabi-hime, ampun"
Hinata yang melihat tingkah lucu dari adik dan kakak sepupunya tersenyum lalu di susul sang Ayah yang terdengar tertawa halus, lalu Neji yang memang sudah terlebih dahulu tertawa namun tidak terbahak lalu Hanabi yang ikut tertawa karena semua orang terlihat tertawa. Akhirnya mereka pun bersama-sama tertawa, melepas kegundahan yang selama ini tertahan dalam hati. kebersamaan membuat mereka mengakrabkan diri sehingga membentuk ikatan kuat yang sulit di lepaskan.
Kou yang baru sampai di TKP keheranan, 'Ada apa ini, apa yang terjadi' pikir Kou. Untuk menghormati akhirnya Kou ikut tertawa –meski heran- namun tidak terbahak supaya tidak menganggu ke akraban mereka.
Setelah selesai,Hizashi kaget karena sudah ada Kou diantara mereka.
"Doushita (ada apa)Kou.?"
"Summimasen (maaf) Hizashi-sama, Anda di panggil tetua ke kediamannya" Jelas Kou sambil merundukan wajah lalu mengangkatnya kembali setelah selesai bicara.
"Ada apa tetua memanggil saya?"
"Saya juga belum tau pasti, mungkin membicarakan masalah klan, Hizashi-sama?"
"Baiklah. Sebelum pergi, bisa kau belikan gula-gula untuk Hinata.?" Tawar Hizashi.
Sebelum Kou menjawab 'baiklah' Hinata telah mendahului, membuat Kou diam, tidak berkutik sama sekali.
"Tidak perlu repot-repot ayah, aku bisa beli sendiri, lebih baik ayah pergi bersama Kou,pasti tetua sedang menunggu kedatangan Ayah."
Mendengar penjelasan putri sulungnya membuat sang ayah berpikir dua kali, benar juga apa yang dikatakan putrinya. Akan menambah masalah jika tetua sampai marah karena lama menunggu kedatangan mereka.
"Baiklah putriku. Neji, tolong jaga Hinata baik-baik sampai aku kembali?"
"Baik Hizashi-sama."
Neji membungkukan badan sampai pamannya tidak terlihat lagi batang hidungnya. Kepergian petinggi klan dan Kou, diganti oleh 3 bocah ingusan yang terlihat akan menghampiri mereka dan benar saja, mereka sedang mendekati Hanabi.
"Hanabi, Ayo kita main?" ajak Moegi yang kini sedang memegang lengan Hanabi.
Neji heran, kenapa mereka bisa masuk kompleks hyuuga. Dari mana, ah ia neji lupa ada pembangunan di beberapa titik, sehingga anak-anak bisa berkeliaran masuk ke kompleks hyuuga. Sebenarnya bukan hanya kompeks Hyuuga yang sedang mencanangkan pembangunan, kompleks Nara, kompleks Inuzuka, kompleks Aburame, hampir semua klan yang ada di konoha sedang sibuk merehab bangunan yang hancur lembur akibat invasi pain. Mungkin terkecuali dengan klan uchiha yang sudah hampir punah, hehe V.
Sebelum di seret lebih jauh oleh 3 bocah ingusan yang hobinya ngisengin orang. Hanabi menoleh pada Neji untuk memastikan kepastian darinya. Setelah mendapat anggukan dari Neji, Hanabi pun tersenyum lalu pergi bersama kawanan bocah yang mengajaknya bermain.
Tinggallah Neji dan Hinata seorang diri,mereka menjadi bingung, tidak ada topik menarik yang bisa di bahas, tapi walaupun ada topik itu tidak membuat suasana tegang mencair pasalnya mereka merupakan tipe orang 'hemat bicara' jadi susah untuk mencairkan suasana.
Namun suasana sunyi itu, dapat di cairkan oleh kedatangan seseorang yang jika dilihat dari jauh seperti panda berjalan, dia adalah...
"Tenten." Panggil Neji yang melihat tenten sudah mendekat.
"Yo Neji, Yo Hinata." Sapa Tenten, namun yang membalas sapaannya hanya Neji seorang, sedangkan Hinata terlihat keheranan.
"Siapa wanita panda ini kak?"
Kenapa Hinata jadi menyebalkan seperti Sai yang jika akan bicara tidak pernah di pikir dulu siapa lawan bicaranya. Membuat teten mengembungkan pipi karena tidak terima di panggil wanita panda. Sementara Neji yang menyimak malah terkikik, sungguh geli mendengar panggilan itu, Hinata begitu polos.
Tenten yang melihat Neji menahaan tawa, menatap Neji sebal. Lalu mendekati Neji.
"Kenapa kau terkikik, ada yang lucu" Bisik Tenten, namun tidak diberi jawaban dari Neji, malah menjawab dengan hal yang tidak berhubungan dengan pertanyaan.
"Hinata amnesia, bahkan dia tidak tau siapa dirinya. Ku mohon, bersikaplah seolah-olah kau baru pertama mengenalnya, tenten?" Bisik Neji pada telinga Tenten, membuat pipi Tenten menjadi merah karena jarak meraka cukup dekat.
Tenten tidak berani menoleh pada Neji karena malu, Ia menjawab dengan sebuah anggukan yang pasti akan di mengerti oleh Neji. Setelah memberi tau Tenten, Neji mengenalkannya pada Hinata.
"kenalkan ini Tenten, teman niisan setim saat genin bersama lee dan Guy-sensei."
"Salam kenal tenten." Hinata menyodorkan tangan sambil tersenyum lalu tenten balas menjabat sambil berucap "salam kenal juga." Dengan tersenyum seolah baru pertama mengenal Hinata
Setelah jabatan selesai, Hinata mencoba mengakrabkan diri dengan mengatakan...
"Tenten, aku suka rambutmu yang seperti telinga panda itu."
Glek, keseimbangan tenten goyang, perasaannya terasa tercabik-cabik, membuat tenten ingin menangis tapi tidak bisa, akhirnya tenten hanya bisa mengumpatkan kekesalannya dalam hati, 'Hinata, kenapa kau begitu polos.' Lirih tenten dalam hati.
Neji yang memang dari tadi coba menahan tawanya agar tidak terbahak, akhirnya tidak tertahan lagi, ia tertawa melepas apa yang tertahan selama ini. Sebelum neji Nencapai klimaknya, Tenten menginjak kaki Neji, dan itu cukup membuat Neji meringis kesakitan sehingga membuat reda tawa yang akan mencapai tahap terbahak-bahak itu.
Setelah suasana cair mereda, Tenten menyampaikan tujuan kedatangannya kemari, suasana malah berubah menjadi tegang.
"Ada informasi dari Shikamaru dan Sakura, bahwa Sasuke akan menjadi penjahat buronan internasional serta Danzou akan menggantikan posisi Nona Tsunade sebagai Hokage." Jelas Tenten.
"Benar yang kau katakan ini tenten" Kaget Neji, sementara Hinata yang menyimak malah mengkedutkan alis karena heran, siapa Sasuke? Siapa Danzou dan apa itu Hokage? Hinata benar-benar tidak paham sama sekali apa yang di informasikan Tenten.
"Benar,Neji. Informasi ini dari sumber yan bisa di percaya. Danzou menggantikan Posisi Nona Tsunade karena akan ada pertemuan lima kage di negara Tetsu no Kuni (Negara besi)."
"Ada apa, sampai lima kage harus di pertemukan.?"
"Menurut Temari akan dibentuk aliansi shinobi serta memutuskan apakah Sasuke akan menjadi pejahat internasional. Sasuke telah bergabung dengan akatsuki serta membunuh Jinchuriki Hachici yang merupakan adik Raikage"
'Apakah karena alasan itu paman di panggil tetua.' Bisik Neji "Sasuke benar-benar menjadi penjahat, apa yang akan di lakukan Naruto jika ini sampai terjadi?!"
"Neji, sebaiknya kita berangkat, teman-teman telah menunggu kedatangan kita untuk membicarakan masalah ini, Naruto tidak akan di ikut sertakan karena ini menyangkut tindakan pencegahan yang dilakukan itu jika ini sampai terjadi."
"Baiklah, Kita berangkat sekarang."
Mereka berdua pun berangkat dengan melupakan keberadaan Hinata, mereka lupa jika ada Hinata berada dekat dengannya sedang menyimak apa yang mereka sedang bicarakan –walau Hinata tidak paham isi topik yang sedang di bahas-. Karena mereka terlalu keasyikan bertanya-jawab sekaligus karena ini menyangkut permasalahan komplek yang melibatkan seluruh Shinobi negara besar.
Tinggalah Hinata seorang diri, menikmati guguran Sakura yang jatuh tertuip angin. Semiliir angin membuat kesejukan di sekitarnya sehingga membuat rambut panjang Hinata melambai tertiup hiliran angin bersamaan guguran bunga Sakura.
Hinata bingung, tidak ada yang bisa di lakukanya. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk bersantai menikmati sakura yang terjatuh beramai-ramai menciptakan keindahan di depan matanya. Saat Hinata sedang menikmati guguran sakura, datanglah seekor binatang bersayap yang indah mendekatinya, setelah dekat ternyata itu seekor kupu-kupu yang Hinata kenal, ia kira kupu-kupu 'Cinta' yang kemarin menemani Hinata.
"Hei kupu-kupu, aku baru pertama melihatmu, aku kira kau ' cinta' kau kenal dengan 'cinta' dia teman kupu-kupuku yang aku kenal kemarin, jangan-jangan kau kemari ingin menemaniku menikmati guguran sakura yah. Bagaimana Indah bukan?"
Hinata bicara begitu panjang, namun tidak terdengar balasan dari sang kupu-kupu. Memang dia seekor insekta yang tidak bisa berdialog dengan manusia, Hinata memakluminya, tapi yang Hinata herankan dia tidak seperti 'Cinta' yang jika setuju selalu memutari badannya, itu merupakan isyarat bahwa Sang kupu-kupu setuju dengan apa yang dikatakan Hinata.
Sang kupu-kupu malah terlihat diam di pundaknya, lalu saat hinata akan menangkapnya sang kupu-kupu malah terbang seolah-olah ingin mengatakan 'Ayo tangkap aku kalau bisa' akhirnya Hinata pun mengikuti kemana sang kupu-kupu terbang, biarlah kakinya melangkah sesuai apa yang di inginkan hatinya, semoga saja ia bisa menemukan sebuah keberuntungan.
-Hinata Love Confession-
"Aduh aku yakin, tadi aku menyimpan pelindung kepalaku di sini."
Suara yang sudah di yakini adalah suara Naruto -karena yang sedang mencari-cari keberadaan pelindung kepala hanya Naruto seorang-. Naruto terlihat mengobrak-ngambrik kamarnya hingga tidak bersisa lagi kerapihan di beberapa titik, suasana kamarnya terlihat seperti kapal Lion Air yang terjatuh di pantai Bali, sungguh naas dan tidak berbentuk, coba bayangkan baju-baju tercecer di mana-mana, selimut tidak tergulung rapi, Sepray yang tidak berada pada tempatnya, bantal yang tidak memakai baju, plastic makanan yang tidak di rapikan, ah pokoknya keadaan kamar Naruto sungguh mengenaskan, tidak lagi bisa di bilang tempat tinggal manusia tapi lebih pantas di sebut gudang atau kandang hewan.
Saat Naruto hampir Frustasi dan ingin membantingkan guling ke lantai, tiba-tiba datang seekor kupu-kupu yang masuk dari kaca jendela yang terbuka. Sehingga membuat pandangannya teralihkan pada si kupu-kupu yang kini—dengan sialnya- hinggap di hidungnya, membuat pergerakan Naruto terhenti, karena tidak ingin Si kupu-kupu itu kabur.
Beberapa detik kemudian pergerakan Naruto masih diam, masih wenak dengan posisi yang ingin membanting guling ke lantai tapi tidak terbanting juga. Tanpa di duga-duga sang inseksa itu memberi kenang-kenangan terindah buat Naruto berupa Ekresi (pembuangan sisa metabolisme) kepada hidung Naruto -tepat di dekat lubang hidung Naruto—membuat Naruto mencium ada bau menarik yang membuat dirinya ingin muntah seketika. Yah walaupun Sisa Ekresi itu kecil, tapi yang namanya Kotoran itu dimana-mana tepat tidak sedap alias bau. Dan sialnya, kenapa harus dekat lubang hidungnya. Memangnya hidungnya ini tempat kakus apa.
"Huaaa sialan kau, kupu-kupu brengsek, Ku bunuh baru tau rasa kau!"
Umpat Naruto lalu mengusut kotoran di hidungya dengan tisu yang ada di meja, pergerakan Naruto membuat sang kupu-kupu terbang kesana-kemari. Dengan sigap, Naruto gunakan guling yang ia pegang untuk memukul-mukul makhluk terbang nan mungil itu, tapi seberapaun Naruto kuat ia tidak berhasil membuat mati si kupu-kupu yang menurutnya keparat itu.
.
Ingatlah Naruto, dia adalah hewan bersayap yang tidak bisa berkicau, namun mampu membuat orang terpana.
.
Terdengar bisikan di telinga Naruto, yang membuat dirinya berhenti bergerak.
Hewan bersayap yang tidak bisa berkicau, tapi mampu membuat orang terpana ?!
Naruto mengeja. Memangya hewan apa itu?! Pikir Naruto yang entah kenapa otaknya belum mencair juga, apa jangan-jangan saluran ke saraf otaknya tersumbat.
.
Bodoh, dia ada di hadapanmu.
.
"Hei" Naruto tidak terima dirinya di panggil bodoh, menurutnya dia pintar-pintar saja, tapi hanya sedikit sih. (Huaa ampun Naluchan ampun ?!). Naruto menoleh kesana-kemari tapi tidak menemukan seorang pun, yang ia temukan hanya si kupu-kupu menyebalkan yang asyik terbang dengan bebas kesana-kemari mengitari kamarnya yang 'indah'.
.
Oi Naruto, kau benar-benar bodoh yah, dia itu kupu-kupu yang akan kau bunuh
Susah yah bicara denganmu, harus dengan dengkul
.
"Hei, jangan sembarang kau. Kalau berani, tunjukan dirimu. Dasar pengecut!"
.
Ingat Naruto, dia adalah keberuntunganmu,
Penuntunmu pada cinta dan kasih sayang
Jangan membuatmu menyesal seumur hidupmu.
Aku Pastikan kau akan bahagia
.
"Cerewet sekali kau. Ia ia aku percaya. Sekarang, cepat tunjukkan dirimu!"
.
Ah, maaf Naruto, ada panggilan dari Bos Kami-sama. Aku harus pergi. Dahh, sampai jumpa
.
"Oi oi jangan pergi dulu, aku belum selesai bertanya tau?"
Namun tidak terdengar lagi celotehan dari suara yang entah dari mana datangnya, Naruto juga tidak tau bahkan wujudnya sekalipun Naruto tidak tau, sungguh mistis sekali, membuat bulu kuduk Naruto berdiri dengan tegaknya tanpa di komando Sang tuan. Namun detik selanjutnya terdengar umpatan Naruto.
"Terpana dari mananya, malah membuatku enek melihat kupu-kupu menyebalkan itu, dasar suara aneh yang bodoh !"
.
Kau panggil aku bodoh, akan ku kutuk kau jadi rubah.
.
Naruto celingak-celinguk, suara aneh itu terdengar lagi.
"Silangkah, itu tidak mempan. Karena Aku memang jinchuriki Rubah ekor 9."
.
Oh begitu yah, kalau begitu akan ku kutukan kau jadi...
Namun dari ujung sana –disebrang lain yang tidak tau asal usulnya- terdengar ancaman yang membuat dia –yang mau kutuk Naruto—minta ampun beberapa kali.
'Jangan sembarangan kutuk orang, atau kau ku pecat. Cepat selesaikan tugasmu, kau membuat takdir manusia terhambat.' Suara itulah yang terdengar, dan setelah itu tidak terdengar suara yang aneh berhiliwir lagi.
.
Naruto yang menyimak, tertawa terpingkal-pingkal. Dia di marahi bosnya, lucu sekali. Sekarang tidak ada lagi yang memarahi Naruto jika ia mengatakan bahwa 'Dia (orang yang yang mengutuk Naruto) itu memang anak bawahan yang payah'.
Kemudian Naruto teringat pesan si suara aneh itu. saat Naruto akan menemui si kupu-kupu untuk meminta kepastian apakah dia memang pembawa keberuntungan (?). Si kupu-kupu telah menghilang membuat Naruto harus berkeliling mencari keberadaannya, dan ternyata dia sudah ada di ambang pintu, siap untuk menemui alam bebas di luar sana.
Dengan masih ada perasaan ragu 'apakah dia memang sebuah keberuntungan' Naruto mengikutinya walau hati mengatakan 'apa benar?!'. Namun kakinya ini tidak berkompromi dengan hati, Si kaki terus saja melangkah mengikuti kemana si kupu-kupu terbang. Semoga saja benar, Naruto menemukan keberuntungannya dengan mengikuti langkah si kupu-kupu.
