Disclaimer : Masahi Kishimoto

Pairing : MinaKushi

Inspired by : Dota2 (:v)

Warning : OOC, Gaje, Typo(s) dkk.

Minato masih terjaga ditengah malam dengan Kushina yang sudah tertidur lelap disampingnya, matanya masih terbuka lebar menatap atap diatasnya yang berwarna putih.

Dia hanya berusaha mengingat bagaimana ia bisa sampai menjadi seperti ini, sebelumnya ia hanya seorang pemuda berumuran 22 tahun yang hidup dengan normal dan baru saja menyelesaikan studinya beberapa bulan yang lalu. Demi merayakan kelulusan Minato, ayah dan ibu Minato mengirimnya keluar negeri untuk bersenang-senang dan refreshing.

Flashback Minato's POV

Malam ini aku sedang mengepak pakaianku kedalam koper untuk besok, ya besok aku akan pergi ke Amerika untuk bersenang-senang dan refreshing tentunya sebenarnya aku tidak mau melakukan ini tapi ini adalah paksaan ayahku, Jiraiya, umurnya mungkin sudah menginjak kepala 4 tetapi kelakuannya seperti anak muda yang sangat suka menggoda wanita.

"hei Minato, pergilah kau ke Amerika dan bersenang-senanglah. Ayah ingin kau pulang membawa gadis cantik untuk menjadi menantuku hahahaha." aku masih sangat ingat perkataan ayahku malam itu, dan ia masih ingat bau sake yang sangat menyengat keluar dari mulut ayahku.

Aku sudah selesai mengepak barang-barangku dan mungkin aku akan tidur sekarang juga namun ibuku, Tsunade datang dan masuk kekamarku dengan ayah yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri karena terlalu banyak minum seperti biasanya.

"hei Minato, bawalah ini bersamamu dan rekamlah apapun yang kau temukan disana!" titah ibu harus dilakukan. "dan aku ingin kau membawa gadis cantik untukku bersenang-senang disini, Minato." Sambung ayah yang masih setengah sadar karena mabuk.

Ibu langsung saja menyeret ayah dengan wajah geram terukir diwajahnya. Dan benar saja beberapa saat kemudian aku mendengar teriakan seorang pria yang sangat aku kenal, sepertinya ayah sedang dihajar habis-habisan oleh ibu karena ucapannya barusan haha.

Sekilas aku memandang kamera pemberian ibuku yang masih tergeletak di meja. Ini adalah handycam keluaran terbaru yang katanya bisa men-charge dengan bantuan matahari tanpa charger. Sepertinya aku akan sedikit bersenang-senang kali ini. Setelah semuanya selesai aku menengok arlojiku dan waktu menunjukan pukul 8 malam dan aku akan berangkat pukul 5 pagi nanti.

"tidur sebentar sepertinya bagus kali ini." Jujur sebenarnya aku tidak suka bermalas-malasan, tetapi jika sudah tidak ada kerjaan ya mau bagaimana lagi? Dan aku pun tertidur.

Waktu menunjukan pukul 3 pagi dan aku baru saja terbangun dari tidurku. Langsung saja aku menyabet handukku dan segera mandi lalu berangkat ke bandara. Aku diantar oleh sopir pribadi ayah, Ezra, dia adalah sopir pribadi ayah sejak 6 tahun yang lalu.

Sesampainya disana aku menunggu dan duduk di salah satu kursi tunggu di bandara itu, waktu menunjukan pukul 4 lewat 30 menit.

"30 menit lagi ya." Aku pun segera mengecek perlengkapanku dan aku baru ingat kalau kamera pemberian ibuku masih tertinggal diatas meja. "oh sial! Tidak mungkin aku mengambilnya lagi, waktu perjalanan saja sudah satu jam." Aku menghela nafas lalu bangkit dan bangkit.

Ah. aku sedikit kehausan, lalu aku mencari vending machine disekitar sini dan aku menemukannya. Hal yang pertama kulihat adalah vending machine dan yang kedua adalah seorang gadis yang sedang marah-marah tidak jelas sambil menendangi mesin itu. Tidak lama setelah itu dia pergi sambil menggerutu tidak jelas dan aku terkikik melihat kelakuan konyol gadis itu. Kalau kuingat-ingat lagi gadis itu memiliki tinggi 160 cm dan badan ramping. Namun satu hal yang sangat-sangat kuingat adalah rambut merah darahnya yang dapat memikat hatiku walau pertama kali bertemu. Ah persetan, aku sudah terlalu haus. Aku berjalan kearah mesin itu dan segera memasukan uangku dan memilih.

klang kluk.

"eh, kaleng minumannya ada dua." Aku menatap bingung dan akhirnya aku sadar kalau itu adalah minuman gadis tadi, sepertinya mesinnya macet. "ah sepertinya ini punya gadis tadi."

Aku mencari-cari gadis berambut merah itu kesana-kemari dan aku sangat yakin kalau dia tidak jauh dari mesin minuman itu. Dan benar saja aku menemukannya sedang tertidur diatas kursi tunggu. Oh tunggu, sepertinya dia sangat lelah jadi aku tidak berani membangunkannya. Aku hanya menaruh kaleng minuman itu digenggamannya dan pergi.

Perjalanan dari Jepang ke Amerika cukup memakan waktu…

Pesawat lepas landas dan mendarat dengan mulusnya di tanah asing yang disebut Amerika. Jika bukan karena kenalan ayah, mungkin aku akan kebingungan untuk menghabiskan waktu liburan kali ini.

Kenalan ayah memiliki sebuah resort yang cukup indah di pedalaman hutan yang sejuk dan jauh dari polusi. Aku kesana dengan sopir pribadi milik kenalan ayahku. Ia bahkan sudah menunggu di gerbang keluar ketika aku turun dari pesawat.

Dengan setelan jas hitam dan kacamata hitam bak bodyguard ia menyetir dengan sangat lihai.

Matahari sudah membumbung tinggi ketika aku mendarat di Amerika. Dan perjalanan menuju resort yang diceritakan ayah memakan waktu sekitar 4 jam dengan sekali istirahat di pom bensin.

Sopir kenalan ayahku ini orangnya cukup ramah walau memiliki wajah yang agak sangar. Ia tidak ragu-ragu menceritakan hal-hal yang menarik dikala bosan menyerangku ditengah perjalanan. Bahkan ia menceritakan tentang kedua anak perempuan kembarnya yang saat ini sudah memasuki bangku sekolah dasar.

Ia menjadi single parent sejak istrinya meninggal karena melahirkan. Rintangan demi rintangan ia lalui dengan membagi waktu antara pria pekerja keras dengan seorang ayah yang dicintai kedua putrinya.

Kami sampai di resort milik kenalan ayahku dan mulai menurunkan barang bawaan kedalam villa yang cukup luas. Villa ini luasnya kurang lebih 20.000 meter disertai kolam renang dan taman. Juga villa ini memiliki 3 lantai beserta atap untuk menikmati pemandangan sekitar.

Perjalanan yang jauh ini cukup memakan tenagaku sebenarnya. Aku cukup kelelahan setelah menurunkan semua barang bawaanku. Karena sudah tidak kuat lagi tubuhku, aku merebahkan diri diatas kasur dan terlelap dengan sangat cepat.

End of Minato's POV

Alarm berbunyi dan Minato terbangun dari tidurnya.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Minato sudah cukup lama terlelap hingga akhirnya terbangun di malam hari.

Sebenarnya Minato tidak tinggal seorang diri di villa besar itu. Terdapat 5 orang maid yang menjaga villa itu agar tetap terawat dan tampaknya mereka tengah bersiap-siap untuk tidur dan beristirahat. Minato tidak ingin mengganggu mereka, oleh karena itu ia memutuskan untuk berdiam diri dan keluar dari villa itu untuk melihat-lihat.

Namun sebelum itu ia harus mengganti pakaiannya dulu. Setelan putih yang ia kenakan dari Jepang belum ia lepaskan dan kini pakaian itu sudah tampak kusut. Minato membuka tasnya dan mengambil kaos biru dengan celana jeans. Ketika ia sedang merogoh-rogoh tas miliknya, ia merasakan sesuatu yang keras yang menyelip diantara pakaiannya. Karena penasaran ia menarik keluar benda misterius tersebut.

Itu adalah sebuah kamera yang diberikan oleh ibunya, Tsunade sewaktu di rumah. Tetapi ia sangat yakin bahwa ia meninggalkannya di dalam kamarnya. Tetapi mengapa kamera itu bisa berada di dalam tasnya tanpa sepengetahuan dirinya?

Minato mengecek handphonenya yang tergeletak diatas kasur. Terdapat satu pesan yang belum ia baca. Dan itu adalah pesan dari ibunya.

'Aku sudah menaruh kameramu didalam tas. Jangan tanya mengapa aku melakukan itu, karena aku adalah ibumu dan aku selalu tahu tentangmu.' begitulah yang tertulis disitu.

Minato tersenyum miris. Ibunya sangat mengenal sifat ceroboh Minato dalam meletakkan barang-barangnya.

Ia keluar dari villa itu dengan membawa kamera dan berjalan jalan disekitar. Jalan setapak yang diterangi oleh lampu kelap yang cukup remang-remang. Tempat ini sedikit menakutkan jika Minato lihat baik-baik.

Semakin lama ia berjalan semakin gelap penerangan yang tersisa. Lampu-lampu yang dipercaya sebagai penerang jalan kebanyakan sudah mati dan terkadang kedip-kedip menyisakan kesan horror. Minato berjalan di tepi jurang yang sudah dipagari oleh kayu agar aman bagi pejalan kaki didekatnya. Minato terhenti dan menatap kamera pemberian ibunya baik-baik. Ia menyalakan kamera itu dan mulai mengetesnya.

Beberapa kali ia otak-atik kamera itu hingga akhirnya paham dengan tombol dan fitur yang tersedia di kameranya. Kamera milik Minato memiliki fitur infrared. Jadi pada malam hari, Minato tetap bisa melihat jalan walau agak cukup sulit.

Kesunyian di tempat Minato berpijak sedikit demi sedikit menyerang mental Minato yang tengah sendirian disitu. Beberapa kali ia merasa tengah dilirik oleh sesuatu dari kegelapan malam. Minato mencoba mencari asalnya namun tidak bisa ditemukan sama sekali.

Dan itu bukan hanya satu atau dua kali saja, melainkan berkali-kali. Karena jengkel, Minato menghampiri tempat yang ia yakini terdapat sesorang yang mengawasinya itu. Tempat itu adalah sebuah pohon besar yang berjarak 10 meter dari tempatnya berdiri saat ini.

Minato mengampiri pohon besar itu, karena pencahayaan yang sangat minim ia menggunakan fitur infrared dari kamera (Handycam). Selangkah demi selangkah terlewati dan jarak antara Minato dengan pohon itu semakin menipis. Hawa sekitar semakin dingin dan dingin, lalu menjadi lebih sunyi bahkan suara jangkrik pada malam hari pun cukup sulit didengar.

Minato mengecek pohon itu tetapi tidak menemukan apapun. Ia memutari pohon itu berulang kali namun hasilnya tetap nihil.

"Ah apa yang sebenarnya terjadi?" Minato agak kesal.

Ia kembali menuju jalan yang terdapat lampu pencahayaan tadi. Ia berjalan menggunakan kamera sebagai sumber penerangan. Ia terhenti dan terkejut. Di kamera yang ia pegang itu entah kenapa ada sebuah simbol di sudut layarnya yang berbentuk seperti persegi yang artinya berhenti.

Minato sangat yakin bahwa tadi ia tidak memencet tombol merekam atau apapun itu kecuali penerangan infrared.

Karena penasaran Minato pun melihat hasil rekaman tidak sengaja yang ia abadikan tadi.

Rekaman itu menggambarkan Minato yang tengah berjalan menuju pohon besar itu. Minato memperhatikan rekaman itu dengan sangat teliti hingga akhirnya ia menghentikan dan memutar balik rekaman itu.

Samar-samar Minato melihat sebuah pergerak dari balik pohon yang ia tuju. Sesuatu yang tampaknya berekor cukup panjang itu bersembunyi dibalik pohon lalu memanjat ketika Minato cukup dekat.

*Grrrshhh

Minato mendengar suara dengkuran setengah mendesis tepat dibelakangnya.

Ia mematung selama beberapa saat, jari jemarinya dengan tenang menekan tombol kembali dan memulai rekaman baru.

Perasaan tak enak yang sedari tadi menyerang punggung Shiro ternyata benar ada sebuah makhluk yang mengawasinya dari kegelapan malam.

Minato berbalik dengan cukup pelan dan tenang. Sedikit demi sedikit sudut pandangnya berputar ke belakang.

"Graaaaaah!" makhluk itu berteriak dengan kencang lalu menerjang tubuh Minato.

Minato yang tidak bisa menahan dorongan dari makhluk itu sedikit terpukul mundur hingga sampai di pagar pembatas jurang. Pagar kayu itu retak dan patah karena tekanan makhluk yang cukup kuat itu. Lampu penerangan yang mati hidup berulang kali seakan berusaha menguak sosok yang menyerang Minato itu.

Suatu makhluk seperti manusia namun memiliki sayap dan ekor layaknya iblis. Kulitnya berwarna biru gelap khas lautan dalam yang mengerikan. Dan wajahnya sangatlah aneh. Mulutnya membelah 3 kepalanya dengan 2 mata seperti makhluk pada umumnya. Giginya yang tajam berulang kali saling bergemeretak dan liurnya menetes-netes.

Makhluk itu terus mendorong Minato hingga akhirnya mereka terjatuh kedalam jurang yang dalam dan gelap itu.

"Aaaaah!" Minato berteriak layaknya manusia normal pada umumnya.

'Apakah aku akan mati disini, Ibu, Ayah?' Minato membatin dengan sedih.

Minato terjatuh ke bawah dengan kecepatan yang cukup cepat, namun beruntungnya sebelum tanah beradu dengan tubuhnya, Minato beberapa kali menghantam ranting-ranting pohon kecil sehingga melambatkan percepatan jatuhnya sehingga ketika ia sampai di permukaan tanah, cederanya tidak terlalu parah kecuali lecet-lecet saja.

"Ooof~" Minato merasa nyeri di lengan kirinya yang masih memegang kamera handycam dengan kuat. Sebuah ranting kecil menancap di lengan kirinya.

Minato memang saat itu tidak membawa perban atau perlengkapan P3K apapun yang bisa ia bawa. Ia tidak menyangka bahwa perjalanan malam yang akan ia nikmati berubah menjadi mimpi buruk yang menakutkan.

Kameranya tidak mendapatkan kerusakan yang cukup berarti selain lecet dan layar yang retak tetapi masih bisa menampilkan gambar. Selain itu semua fitur kameranya masih berjalan dengan normal.

Minato berjalan dengan pelan, walau cederanya tidak terlalu parah ia masih merasa sedikit shock dan punggungnya agak nyeri karena terjatuh dan beberapa kali menabrak ranting pohon.

Minato berjalan selama beberapa saat dan terhenti disebuah bangkai yang tergeletak di tanah. Itu adalah sosok yang menyerang Minato tadi. Sepertinya ia terjatuh langsung ke tanah tanpa mengalami perlambatan dari ranting-ranting pohon yang menahannya.

Dalam hati Minato berterimakasih kepada dewa.

Minato merekam bangkai monster yang sudah tak bernyawa itu dari atas sampai ke bawah dan meninggalkannya.

"Aku terjatuh ke dalam jurang dengan monster ini. Entah bagaimana caranya aku harus kembali keatas dan pulang. Aku tidak mau berlama-lama ditempat menyeramkan ini."

Sebuah lolongan aneh menggema di hutan yang gelap itu. Suara itu menyebar dengan sangat besar. Bukan seperti lolongan serigala, namun seperti singa yang kesakitan. Atau jangan-jangan itu adalah monster yang sama spesiesnya seperti bangkai tadi.

Minato menjadi agak takut, ia menarik nafas dalam-dalam lalu berjalan menjauhi sumber suara itu.

Ditengah hutan yang lebat dan gelap dengan dibantu penerangan dari bulan dan handycam, Minato berjuang untuk bertahan hidup.

Flashback End

And then, finally the chapter 4 comes out!

Maaf semuanya karena telat update (Setahun lebih dikit). Banyak hal terjadi begitu saja dengan cepat dan tiba-tiba TS udah menginjak kelas 12 aja XD. Awalnya karna iseng, TS coba bikin cerita baru gitu (Semacam web novel) tapi stuck di cover buku. TS gak kenal tukang gambar biar bisa dibikinin cover novel TS :(. Karna stuck disitu, TS akhirnya menemukan file DWNS nyempil di sela-sela folder XD. Dan alhasil, lahirlah chapter 4.

Mungkin bagi beberapa dari kalian sedikit familiar dengan chapter diatas. TS dapet ide dari sebuah game yang MCnya dikejar-kejar psikopat sambil bawa kamera Handycam. Kalian pasti tahu jika penggila game horror hihihihihi. Ok thx sudah semangatin TS hingga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kembali DWNS. Tunggu chap selanjutnya ya!