EXO, The Tree of Life
.
A fanfiction by Lee Hyungseo and Kim Minhyun
.
SAAT yang kunanti-nantikan hampir tiba. Aku sudah berjanji pada adik-adikku kalau musim panas ini aku akan mengajak mereka berlibur. Mungkin ke Incheon, mungkin juga ke Busan, yang jelas aku ingin mengajak mereka berlibur ke pantai yang bukan tempatku bekerja sehari-harinya.
Bisa kubilang, setiap hari aku melihat laut, kapal-kapal, seragam-seragam tim penyelamat, dan hampir setiap minggu aku menyaksikan ada saja orang yang tercebur atau menceburkan dirinya sendiri ke laut untuk mengakhiri hidup. Aku bekerja pada sebuah asuransi, tetapi aku lebih suka menyebutnya sebagai: pekerjaan yang menjurus pada praktik. Sejak dua tahun lalu, hidupku terdedikasikan untuk orang lain. Aku banyak menyelamatkan nyawa orang, banyak juga menyaksikan orang-orang mati, dan tidak jarang juga aku gagal menyelamatkan hidup beberapa dari mereka.
Pertanyaanku hanya satu, mengapa orang-orang bodoh itu harus repot-repot mengakhiri hidup mereka ketika sebenarnya mereka tahu toh pada akhirnya hidup mereka bakal berakhir juga? Jujur saja aku ini sebenarnya cukup agamis, dan berasal dari keluarga yang juga sangat agamis. Bayangkan orang-orang itu mati, dan aku membiarkan mereka begitu saja. Rasanya seperti aku tega membiarkan nyawa mereka melayang-layang tidak keruan di dunia. Bukankah manusia tidak pantas mendapatkan itu di akhir kehidupannya? Itulah fungsinya surga dan neraka, supaya orang-orang bisa mati dengan damai dan menemukan tempat mereka nantinya. Tetapi mereka lebih memilih untuk mengakali takdir dan mengakhiri hidup mereka lebih awal, membuat tuhan murka dan akhirnya justru menyengsarakan kehidupan mereka sendiri. Tidak, aku tidak bisa menerima hal itu.
Jadi aku rajin bekerja. Menyelamatkan orang-orang, dan membuat hidup mereka lebih baik lagi. Begitu juga hari ini, hari terakhir sebelum libur musim panas, sebelum jadwal kerjaku digantikan oleh rekanku yang lain. Setidaknya satu lagi hari kerja tak akan membunuhku. Aku hafal sekali hari-hari di mana banyak orang bunuh diri. Natal, tahun baru, perayaan-perayaan, liburan; biasanya mereka melakukan itu karena kesepian yang sudah lama menggerogoti hidup mereka. Dan aku yakin itu juga karena mereka tidak banyak merenungi diri di tempat mereka beribadah, dan aku sangat menyayangkan hal itu.
Sebisa mungkin aku selalu mendatangi kediaman keluarga Byun. Sebanyak-banyaknya belajar dari sang kakek buyut keluarga yang kuno itu. Mereka tinggal di pinggiran Busan, jauh dari pantai, tetapi kediaman mereka selalu terasa damai dan sejuk bagiku. Aku selalu mendatangi kediaman mereka sebelum pergi ke laut. Mereka membuka tempat peribadatan kuno mereka agar bisa digunakan umum. Aku selalu berdoa dan memohon keselamatan, berjaga-jaga kalau tiba-tiba saja sesuatu terjadi padaku nanti. Hanya... tindakan jaga-jaga.
Semakin aku dekat dengan kehidupan vertikalku, semakin damai rasanya. Aku tidak lagi terbebani rasa takut akan kegagalan dan semacamnya. Tetapi meski begitu, aku cukup takut akan satu hal; ketakutan yang muncul ketika aku melihat seniorku gagal melaksanakan tugasnya. Dia bukan hanya gagal menyelamatkan nyawa orang yang seharusnya dia selamatkan, tetapi juga gagal menyelamatkan nyawanya sendiri. Dia adalah senior kesayanganku, sangat berdedikasi dan menyayangi manusia. Tetapi orang baik memang harus selalu pergi lebih dahulu. Dan aku takut, kalau-kalau aku berakhir dengan kematian yang tidak kuinginkan.
Kunikmati sisa-sisa pagiku hari itu, tepat sebelum ponselku berdering keras sekali.
"Ya?"
Suara di balik sana memanggil namaku dengan antusias. "Hyung! Hyung! Kudengar besok kau mau mengajak kami jalan-jalan!"
"Oh, sial. Aku ketahuan," gerutuku. "Siapa yang memberitahumu? Eomma?"
"Ada deh." Adikku yang satu itu benar-benar membuatku... gemas. "Makanya, hari ini jangan pulang malam-malam ya, Hyung! Aku bakal pulang membawa jajangmyeon buatmu nanti!"
"Ya, ya, terserah kau saja."
Suara di balik sana tertawa. "Oke, sampai ketemu nanti, Hyung! Kami sayang padamu!"
Telponnya diputus. Tumben sekali dia mengatakan kata-kata yang membuatku gatal-gatal begitu.
Akhirnya kuselesaikan doaku. Seperti biasa, memohon keselamatan untukku dan orang lain. Setelah itu aku bisa meninggalkan kediaman Byun dengan tenang.
Aku berlari memutari kuil milik keluarga Byun, melewati pagar depan yang terbuka lebar, menemukan sosok Byun Baekhyun yang berdiri terpaku menatapku. Aku merasakan sesuatu menggerayangi tengkuk dan tanganku yang tertutupi jaket. Seolah ada suatu hubungan di antara aku dan Baekhyun yang aku sendiri tidak tahu apa. Aku tidak pernah berbicara pada Baekhyun, tetapi rasanya seperti aku benar-benar mengenalnya. Baekhyun juga menatapku dengan cara yang sama. Dia melihatku berlari dengan heran. Ada sesuatu yang dilihatnya dari dalam diriku. Sesuatu yang menyelubungi diriku yang hanya dirinya saja yang bisa melihat. Aku tidak bisa berhenti karena aku tidak punya alasan untuk berhenti. Jadi sebisa mungkin aku mencoba untuk menghiraukannya, berlari lebih jauh.
Sejenak, lautan terasa asing bagiku. Bau asin dan angin lembab terasa amat menyengat. Air asin yang biasanya menggelitik kaki kini terasa menusuk-nusuk. Aku tidak mengerti mengapa. Entah memang seperti itu atau mungkin sebenarnya cuma sugesti karena keterpakuanku tadi. Aku masih dihantui wajah Baekhyun yang berdiri mematung dan melihatku seolah-olah aku ini monster. Entahlah, aku tidak mengerti tentang ini. Dan pada akhirnya yang kulakukan seharian hanya berpatroli kesana-kemari menikmati deburan ombak yang cukup besar untuk hari ini dan embusan angin yang membelai leherku yang jenjang.
Perahu yang kutumpangi melaju dengan tenang, sesekali berguncang karena ombak atau karang, setelah itu kian melaju secepat angin membawa kami. Aku hampir terlelap dibuatnya, ketika tiba-tiba seorang dari anak buahku berteriak begitu keras, memanggil-manggilku dan beberapa awak kapal yang lain. Seseorang baru saja terjun bebas dari jembatan gantung di atas laut. Satu lagi percobaan bunuh diri di tempat ini, dan aku harus cepat bertindak.
Kubelokkan perahu secepat yang aku bisa. Aku memacunya dengan brutal, melihat jauhnya jarak di antara aku dan orang itu. Dia jatuh ke laut dan tidak muncul lagi ke permukaan. Sialnya lagi, ombak sedang besar-besarnya saat itu. Orang itu memang sinting.
"Aku harus melompat. Tidak mungkin mengambilnya dengan tali!" Aku berteriak di tengah deburan ombak.
"Kau tidak bisa melompat ke sana! Ombaknya sangat besar!"
"Kalian tidak akan bisa mencapai karang-karang itu!"
"Tunggu, Sunbae! Jangan nekat!"
Aku tidak menggubrisnya. Cepat-cepat kulepaskan sepatu dan kukenakan jaket penyelamat yang kusimpan di bawah dek. Aku terjun ke dalam laut, menyelam ke tempat yang aman dari ombak, di mana segalanya berwarna biru tua. Sangat gelap. Sesosok manusia melayang-layang di dalam air, entah bagaimana aku yakin dia masih hidup dan pasti bisa bertahan. Aku tidak memiliki oksigen yang cukup di dalam paru-paruku, jadi aku kembali naik ke permukaan. Di atas perahu, empat orang anak buahku menyiapkan tali dan menjaga agar perahu tetap seimbang meski dihajar ombak. Salah satu dari mereka melemparkan sebuah pelampung dengan tali ke arahku. Aku tidak bisa menggunakannya, itu akan memperlambat. Aku kembali turun ke dalam laut, menyelam dan berenang secepat yang aku bisa, meraih pemuda itu tepat di punggungnya, dan dengan segala kekuatan yang tersisa aku membawanya ke permukaan. Kami harus mencapai perahu sebelum ombak lainnya datang, dan aku tidak akan bisa banyak bergerak karena karang-karang kecil yang berada di sekitarku. Tubuhku lecet di mana-mana, tetapi semuanya hampir tidak terasa ketika aku berhasil mencapai perahu dan mengangkat pemuda itu ke sana.
"Sunbae, cepat naik!"
"Tidak! Bawa dia dulu!"
Kuangkat tubuh pemuda itu sekuat tenaga, hanya berselang beberapa detik sebelum ombak lainnya datang. Ombak terakhir jauh lebih besar dari yang lain. Tubuhku terhempas digulung ombak, dan sekilas aku bisa melihat orang-orang di dalam perahu berteriak memanggil namaku. Aku kembali berenang ke arah perahu itu, begitu juga dengan perahu itu mencoba mendekatiku, tetapi akhirnya ombak besar yang lain menyeretku lagi lebih jauh ke tengah laut. Ombak lainnya datang menghantam seluruh tubuhku. Begitu banyak air laut yang kutelan yang terasa membakar kerongkongan. Aku hanya bisa kembali ke permukaan selama beberapa detik sebelum akhirnya ombak yang lain kembali datang menghantamku dan membawaku lebih jauh lagi ke tengah lautan, jauh ke dalam.
"Sunbae! Sunbae—"
Aku terhempas ke dalam lautan. Air laut yang ganas itu kini memasuki kerongkongan dan tenggorokanku. Aku mulai kehabisan napas. Seluruh tubuhku terasa kejang dan ujung-ujung jariku mati rasa. Aku mencoba berenang lagi ke permukaan, tetapi tepat saat itu ombak terbesar yang kulihat saat itu menghantam wajah dan perutku, menghempaskanku ke dalam lautan dan membenturkanku ke arah karang. Aku mencium bau darah yang sangat kuat. Kepala bagian belakangku terbentur hebat dan berdarah. Ombak lainnya datang dan melemparku ke arah karang lagi. Aku merasakan seluruh tubuhku seperti dihunjam palu besar. Darah mengucur dan bersatu dengan air laut, semakin banyak hingga akhirnya aku merasakan kesadaranku menghilang perlahan. Aku mencoba bernapas tetapi seluruh paru-paruku telah teracuni air laut dan bernapas rasanya seperti menelan api. Aku tidak ingin menyerah, tetapi kesadaranku mulai hilang. Permukaan berada sangat jauh di atasku, dan aku melihat beberapa orang berenang ke arahku, tetapi jarak mereka terlalu jauh. Ombak terakhir menghantamku lagi dan melemparku kembali ke dalam lautan. Kepalaku terbentur begitu keras kali ini, dan yang selanjutnya kurasakan adalah rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhku, juga paru-paruku.
Bayangan orang-orang itu menghilang perlahan...
Satu demi satu gambaran-gambaran acak terlihat di benakku. Orang-orang itu membawaku ke tepi pantai. Aku melihat tubuhku sendiri terkulai di sana. Beberapa dari mereka saling berteriak agar yang lain memanggil ambulans, sementara itu yang lainnya menghentak-hentakkan dadaku agar aku bernapas lagi. Di sisi lain, aku melihat pemuda yang kuselamatkan, terduduk di sisi yang aman dengan selimut tebal menutupi sekujur tubuhnya. Aku melihat raut bersalah di wajahnya, ketika dia melihat tubuhku tergeletak kaku dan biru. Aku sama sekali tidak bernapas, bahkan segala macam pertolongan pernapasan tidak membantuku sama sekali. Aku benar-benar yakin saat itu kalau ketakutanku selama ini benar-benar terjadi.
Aku mati.
Gambaran itu menghilang. Yang selanjutnya kulihat adalah lorong yang terang-benderang. Aku melihat sesuatu di sana. Cahaya yang sangat menyilaukan. Kukira tadinya aku sedang mengalami pengalaman perjalanan menuju alam lain, tapi ternyata tidak. Baekhyun ada di sana. Dia menoleh padaku sebelum akhirnya menghilang diliputi cahaya putih, dan serta-merta seluruh tubuhku diselubungi selimut air. Kuangkat kedua tanganku, dan dari masing-masing telapak tangan muncul gumpalan-gumpalan air yang bisa kukendalikan sendiri. Aku sadar telah berada di suatu tempat yang asing; seperti sebuah lorong bangunan megah, dan sekonyong-konyong pemuda yang kuselamatkan tadi muncul di hadapanku dan menghilang secepat kedipan mata.
"Dia... dia bernapas!"
"Demi Tuhan, dia bernapas!"
Aku terbangun dari mimpi singkatku. Kuhirup udara segar sebanyak yang kubisa. Aku tersadar bahwa akhirnya aku selamat dari kematian... ataukah telah bangkit dari kematian?
Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari diriku. Aku merasa jauh, jauh lebih hidup. Kedua tanganku kini bisa mengendalikan air, dan bahkan menciptakan air itu sendiri. Aku tahu bahwa aku bukanlah satu-satunya yang memiliki kekuatan ini. Aku jelas tahu siapa lagi yang harus kutemui untuk kuminta penjelasan. Maka saat itu juga aku bangkit, berlari secepat yang kubisa, mengabaikan segala rasa sakit yang masih tersisa di paru-paruku.
.
AKU mencari Baekhyun saat itu juga. Dan ketika aku menemukannya, ia menyambutku dengan sebuah tatapan yang berbeda dari yang biasanya.
"Byun Baekhyun," panggilku, dengan napas yang tidak keruan. "Siapa kau sebenarnya? Apa yang terjadi kepadaku?"
Ia menjawab dengan nada lebih tinggi, "Aku adalah EXO. Dan jika kau bertanya seperti itu kepadaku, itu artinya kau juga sama sepertiku. Kau telah merasakan kematianmu sendiri yang akhirnya membangkitkan kekuatanmu, Sang Penguasa Air. Sekarang kau telah datang kepadaku, dan kewajiban kita selanjutnya adalah mencari sepuluh saudara kita yang lain."
"Tidak, tidak. Ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin aku mendapat pilihan acak dan memperoleh kekuatan seperti itu?" bantahku, menyesali proses yang menyakitkan yang harus kutempuh untuk memperoleh 'kekuatan' itu.
"Kau tidak dipilih secara acak. Kau ditakdirkan untuk menerimanya. Tapi kau tidak sendiri. Masih ada sepuluh lagi saudara seperti kita dan kita harus mencari mereka. Karena mulai sekarang, itulah tujuan hidupmu dan hidup kita. Mencari EXO yang lain," ujarnya. "Sekarang, bangkitlah dari kehidupan lamamu yang semu. Kau telah memiliki kehidupan baru."
Kutekan keningku dengan ibu jari dan jari telunjuk. Aku sama sekali tidak bisa mencerna penjelasan Baekhyun.
"Kau tidak perlu memikirkannya. Kelak, ketika kau mulai terbiasa, kau akan segera mengerti. Kau tidak sendirian, Suho. Tidak akan pernah sendirian."
Next Chapter: Baekhyun
.
EXO, The Tree of Life
©2012
.
AN: Sebenernya saya gak begitu suka pake AN, tapi ada beberapa review yg harus saya bales di sini soalnya yg review pada gak login. (jejelin bibir Kai xD)
ZhieCho: Entah kenapa humor sama fluff itu susah buat saya. Kalo humor, takut humornya ga nyampe. Kalo fluff, takut fluff-nya gak nyampe #eh. Tapi mian ya, kayaknya nasib para legenda di sini bakal miris dulu, baru setelah mereka berduabelas, mereka bisa bahagia. (winks)
HaruHaru Meo35: Niatnya sih full action, jadi gak dikasih cinta-cintaan. Kalo soal pairing EXO, mungkin di sini pembawaannya mereka bersahabat kayak—ehm, bocoran—Chanyeol dan Sehun, dan Luhan dan Kris.
Thanks for reading and reviewing, minna-san. :3
