.

Flash back

"Dia membenci kita yang membuatnya tidak pernah bisa membuatnya bertemu dengan ayahnya kembali. Ah tidak! Dia membenciku. Dia membenciku dan keegoisanku..dia membenci.. hiks..hiks.." Suara itu memelan seiring dengan perkataannya yang mulai terputus - putus.

Melihat keadaan adik kesayanganya terlihat begitu sedih. Direngkuhnya tubuh gadis bermanik violet itu dalam pelukan. Walau berusaha melupakannya tetap saja, ternyata mereka tidak bisa. Rasa bersalah menghantui mereka setiap mengingat kejadian itu.

"Padahal dia teman pertamaku…hiks…padahal dia…amat menyayangiku…padahal dia…hiks..hiks.." tangis itu makin menjadi. Memeluk sosok sang kakak yang kini berusaha menenangkannya.

Bukannya ia tidak tahu perjanjian yang dibuat kakaknya dengan gadis itu. Ia tahu, karena memang seperti itulah kakaknya. Ia tidak mau adik kecilnya menjadi seorang penyendiri di dalam kelas. Sebelum ini orang – orang yang menjadi temannya merupakan hasil kerja kakaknya. Orang – orang yang menginginkan keuntungan dari keluarganya. Karena itu, ia sudah terbiasa begitu kakaknya mengenalkannya pada gadis itu. Ia kira gadis itu juga akan sama seperti yang lainnya.

Tapi, seiring berjalannya waktu dapat ia lihat ketulusan gadis itu. Bagaimana kadang ia bersikap sebagai teman yang baik. Ataupun kadang menjadi seorang kakak yang menasehatinya, walau terkadang tidak ia hiraukan. Yah, benar Nemu bertindak lebih dari yang seharusnya ia lakukan. Seperti kasus percintaannya dahulu. Padahal gadis itu tidak perlu repot – repot mengingatkannya seperti apa pemuda yang di taksirnya. Tapi gadis itu malah terlihat khawatir begitu ia berkencan dengan pemuda Kurosaki itu.

Dan kini, karena keegoisannya. Ia harus kehilangan sahabat pertamanya dan juga orang yang disayangi kakaknya. Membuat pemuda itu hanya bisa melihat sosoknya dari bingkai foto. Foto yang diambilnya saat mereka liburan saat itu.

Ia benar – benar melakukan kesalahan yang mungkin tidak akan pernah dimaafkan gadis itu.

Dulu ia selalu saja berpikir apapun yang ia lakukan benar. Tapi kini, jika ada yang bertanya kesalahan apa yang pernah dibuatnya? Tidak perlu berpikir lagi, ia pasti sudah dapat mengatakannya.

Membuat seorang anak tidak pernah melihat pemakaman ayahnya untuk terakhir kalinya. Menyakiti sahabat yang amat menyanginya. Dan terakhir memisahkan orang yang harusnya saling menyayangi.

"Kumohon! Bawa ia kembali Nii-sama…hiks…hiks." permintaan itu keluar di sela tangisnya. Berharap permintaannya akan terpenuhi.

End flash back


.

Disclaimer: Bleach punyanya © Tite Kubo

Saya hanya meminjam chara buat kepentingan fit abal yang udah lama dianggurin.

Warning : OOC, AU,

.

.

What's my fault

.

Chapter 4


Tik!

Tik!

Tik!

Waktu perlahan berjalan lambat di sekeliling mereka. Udara yang mendingin semakin terasa dingin dengan tanpa adanya pembicaraan dari tadi sama sekali. Bahkan waiters yang mengantarkan makanan pun turut merasakan efek mengerikan diantara keduanya. Membuatnya cepat – cepat memilih kabur sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.

Tik!

Tik!

Tik!

Bunyi jam yang bergerak samar –samar mereka dengar. Bahkan hembusan angin yang bertiup kencang membuat rambut mereka sedikit berantakanpun tidak dihiraukan.

Diam.

Terlihat tidak ada yang ingin mulai berbicara.

Hingga keheningan itu akhirnya pecah juga.

Entah karena merasa bosan ataukah merasa waktu adalah uang.

Seperti pepatah lama.

"Aku tidak tahu seberapa lama Senpai bi—." Perkataan itu keluar juga dari bibir semerah stoberi itu yang sayangnya tidak selesai ia ucapkan.

"Byakuya." Potongnya menghentikan ucapan gadis di hadapannya yang menatapnya heran. "Aku bukan lagi seniormu di sekolah, Nemu." Ucapnya memanggil nama kecil gadis itu.

Terlihat mata itu sedikit melebar mendengar pemuda itu tidak memanggil nama keluarganya seperti dahulu.

"Kenapa? Tidak masalah bukan aku memanggil nama kecilmu." Tanyanya terlihat masa bodoh dengan gadis itu yang berkedip tidak percaya.

"Tidak, hanya saja kukira kita tidak begitu akrab. Hingga harus saling memanggil nama kecil kita."

"Benarkah?" perlahan mengangkat gelas tehnya. "Kupikir malah sebaliknya."

Dengusan pelan terdengar dari gadis itu, respon atas perkataan pemuda di hadapannya. "Yang benar saja."

"Apakah terlalu lama menghilang, membuat kau juga ingin melupakan semuanya, Nemu."

Membalas tatapan angkuh orang di hadapannya yang mengernyit heran mendengar penuturannya. Terlihat bibir itu ingin bicara, tapi urung ia lakukan. Bingung ingin mengucapkan apa, mendengar kalimat yang terkesan aneh di telinganya.

"Aku kira masa – masa itu begitu indah."

"Hah, kau bercanda." Terdengar sedikit sinis ia berkata, setelah dari tadi tidak tahu mesti berkata apa. "Ku rasa masa – masa itu hanya kenangan indah bagi kalian saja." Gantian melihat iris gray itu yang masih memberikan respon datar. "Sayangnya bagiku, tidak ada sesuatu yang patut untuk ku katakan sebagai masa yang indah, Senpai."

"Byakuya." Ralat pemuda itu mendengar penuturan Nemu, sepertinya ia sudah cukup menduga gadis itu akan mengatakan begitu. Mendengar dari caranya berbicara yang lebih mementingkan panggilan gadis itu daripada penuturannya yang panjang lebar.

"Aku rasa aku tidak perlu memanggil nama Senpai dengan nama—."

"Byakuya." Terlihat santai dari tingkahnya, berbanding terbalik dengan penekanan di setiap katanya.

"Kita tidak akrab Senpai."

"Byakuya."

"Senp—"

"Byakuya."

"Sen—"

"Byakuya."

Sebulir keringat perlahan muncul di kepala Nemu, mendengar betapa ngotonya pria di hadapannya ini hanya untuk dipanggil nama kecilnya. Sejak kapan seniornya ini bisa bertingkah tidak dewasa seperti ini. Benar – benar terlihat ooc sekali. Mana sosok angkuh, tenang dan dewasa yang selama ini melekat padanya. Setan apa yang merasukinya.

Sekali lagi iris gelapnya memperhatikan pemuda di hadapannya yang masih dengan tenangnya menyesap teh hangat. Benar – benar membuat ia mesti ekstra menahan diri untuk tidak kalap di hadapannya. Kembali mengatur napasnya perlahan, menenangkan diri sendiri. Ia harus segera menyelesaikan ini. Mengakhiri semuanya, dan pergi dari sini secepatnya.

Perlahan Nemu menghembuskan napasnya, mengontrol emosi dirinya tanpa menyadari iris gray itu meliriknya sekilas. Senyum tipis perlahan Byakuya berikan di balik gelas yang ingin ia sesap isinya.

"..Untuk apa Byakuya-sama memanggilku kemari?" tanyanya datar setelah merasa cukup tenang untuk kembali memulai percakapan.

"Kau tidak perlu memanggilku dengan sopan seperti itu."

"Ck, bisa tidak berhenti mengaturku. Masih mending aku mau memanggil namamu, Senpai." Memasang wajah kecut akan tingkah cerewet pemuda ini, yang menatapnya tajam begitu Nemu memanggilnya kembali dengan sebutan senpai. "Aku bukan lagi anak buahmu, bukan lagi pesuruhmu." Tidak peduli akan tatapan tajam itu, Nemu kembali berkata.

Terlihat mata itu sedikit melebar mendengar penuturan gadis dihadapannya. Menghela napas berusaha mengalah, tujuannya kemari bukan cari masalah.

Kembali menatap iris hitam di hadapannya yang menekukan bibir, pertanda sudah kesal setengah mati. "Baiklah maafkan aku."

Gantian kali ini iris hitam itu melebar, tidak menyangka bahwa permintaan maaf akan keluar dari bibir pemuda yang sombongnya minta ampun.

Kembali keduanya terdiam.

Menyesapi minumannya masing – masing.

Kembali menghela napas akan situasi yang menyebalkan.

Jujur, ia paling benci dengan situasi ini. Duduk berdua dalam keadaan diam, tidak ada komunikasi sama sekali. Sekali lagi berpikir untuk mencairkan suasana yang seharusnya hal itu dilakukan oleh orang yang mengundangnya. Ralat, memaksanya untuk datang.

Berdehem sesaat, berusaha menarik perhatian Byakuya yang lebih menikmati pemandangan di sekelilingnya. "Di surat yang kubaca, Kau akan datang bersama Rukia? Mana dia?" melirik sekelilingnya mencari sosok gadis yang dihapalnya.

"Dia tidak akan datang." Jawaban itu langsung keluar begitu saja.

Membiarkan iris sekelam malam milik Nemu menatapnya sedikit kaget. "Kenapa?"

"Tidak biasanya kau berniat mencari adikku Nemu." Memberikan tatapan yang sulit diprediksi selain ia dan Tuhan saja yang tahu. Nemu sendiri terlihat pasrah mendengar namanya dipanggil dengan sok akrab begitu. "Kukira kau membencinya."

Sebelah alis itu terlihat sedikit naik mendengar kalimat barusan. "Benci, kenapa kau berpikir begitu?"

"Karena itulah yang kau lakukan sekarang." Terdengar nada suara itu sedikit emosi, menimbulkan kebingungan bagi Nemu. "Kenapa kau menghilang begitu saja Nemu?"

Mata itu perlahan melebar mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Byakuya. Mungkin sedikit kaget.


~O**O~


Senyum mengembang terlukis dari wajah seorang gadis berambut hitam. Kedua tangannya kini sedang memegang teropong, memperhatikan sepasang manusia dari kejauhan. Tidak dihiraukannya decak kekesalan dari orang di sebelahnya yang kini memasang wajah kesal.

"Ku ingatkan sekali lagi, awas saja jika kalian sampai membuatnya bersedih lagi." Suara itu terdengar mengancam, walau matanya tidak pernah lepas memperhatikan hal yang sama dengan gadis di sebelahnya.

"Iya..iya aku tahu."

"Cih, bisa – bisanya aku terbujuk rayuan kalian." Gerutunya sedikit tidak rela.

"Ck, diam sedikit bisa tidak sih. Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka jika kau seperti ini terus Hina." Balas menggerutu mendengar gadis bercepol di sebelahnya dari tadi tidak berhenti bicara.

"Is, kau ini bodoh atau apa? Mana mungkin kau bisa mendengarnya, Rukia. Kau kira jarak kita dekat apa." Bibirnya sedikit mengerucut, terlihat kesal akan ucapan itu.

"Huh, susah jika bekerjasama dengan orang gaptek. Tidak tahu apa zaman sudah maju." Sindirnya menunjukan alat penyadap dikupingnya.

Twich!

Urat kekesalan perlahan muncul dikepala Hinamori mendengar penuturan gadis bermata violet itu.

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" berusaha merampas alat yang ada ditelinga rukia. Ingin ikut mendengar percakapan sahabat baiknya.

"Bodoh! jangan main rampas!" Berkelit dari tangan yang hendak meraih earphone miliknya.

"Itu karena kau pelit tidak ingin membaginya."

"Ish, jangan bersikap babar kenapa?" berusaha mengelak.

"Siapa yang kau sebut babar, jelek!" Balas mengejek.

"Siapa yang kau maksud dengan jelek, bodoh?!"

"Siapa yang bodoh coba? Bukannya kau lebih bodoh dari aku?"

"Apa enak saja, kau itu yang bodoh!"

"Kau!"

"Tidak kau!"

"Kau!"

"Kau!"

Saling melemparkan ejekan dilakukan keduanya, melupakan kegiatan mengintai pasangan yang berada di sebrang.

"Nona!" suara dari seorang supir botak yang dari awal melihat perkelahian keduanya ragu – ragu memanggil. Apalagi kini keduanya memandang dengan wajah yang menyeramkan. "M-maaf mengganggu, tapi sepertinya kalian lupa tujuan kalian kemari." Mengingatkan.

Eh?

Seakan tersadar keduanya saling berpandangan, kembali mengambil teropong yang sempat terlupakan. Sedikit kaget melihat ada perubahan di sana.

"Ini semua gara – gara kamu," mendecak kesal mengetahui ada bagian yang ia lewati.

"Enak saja, siapa suruh kau pelit." Balas menggerutu, walau sedikit senang mendapatkan bagian earphone.

"Sebenarnya apa yang terjadi." Rutuknya kesal menggigit bibir bawahnya melihat Nemu kini berdiri.

Rukia benar – benar tidak habis pikir kenapa mau – maunya saja ia bekerja sama dengan Hina yang dulu selalu jadi musuhnya dalam memperebutkan perhatian Nemu. Berusaha mengingat hingga akhirnya mendapat jawaban pasti. Tentu saja, karena hanya gadis ini yang tahu keberadaan Nemu sesungguhnya.

Membuatnya berpikir bagaimana mempertemukan kakak laki – lakinya dengan gadis itu, yang tentu saja tidak di sadari keduanya. Menganggap bahwa itu semua adalah ketidak sengajaan.


~o*IG-C*o~


"A-apa ..hah..hah..apa yang kau lakukan?!" tanya Nemu histeris berdiri dari kursinya.

"Kupikir cara itu lebih efisien untuk membuatmu paham maksud perkataanku." Perkataan yang terkesan datar dan tenang, seolah apa yang baru saja ia lakukan bukanlah hal yang besar.

"Ka-kau gila!" ucapnya masih tidak percaya. "Berhenti mempermainkanku Byakuya!" geramnya menggebrak meja di hadapannya.

Wajah pria itu hanya bisa menatap datar akan tingkah Nemu yang terlihat marah.

"Bagaimana cara agar kau bisa paham maksudku." Mengusap wajahnya, kelewat frustasi akan sikap Nemu.

Ia sudah tidak tahu lagi, bagaimana harus membuat gadis itu mau membuka hatinya. Hanya hal itu saja yang tadi terlintas di otaknya. Membuat ia melakukan tindakan nekat seperti itu, tidak peduli apa yang baru saja ia lakukan kini membuat para waiters yang mencuri pandang ke arahnya kini berkedip tidak percaya. Dan mulai berkerumun di tepi jendela, menganggap mereka sebagai pemain dari film roman picisan.

Yah, ia tidak peduli itu semua, jika apa yang baru saja ia lakukan membuat wajah di hadapannya kini jauh lebih menarik. Bahkan rona merah terlihat di wajahnya, entah efek marah atas tindakannya barusan atau karena menjadi artis dadakan.

Memilih memalingkan wajahnya, lebih di lakukan Nemu. Mengambil tas yang berada di sampingnya, " tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan bukan. Aku pulang!"

Mata itu melebar mendengar perkataannya. Lebih tepat pada sikap gadis itu yang cepat mengubah perasaannya, menganggap apa yang baru saja ia lakukan bukanlah hal besar. Ataukah itu salah satu cara yang ia pilih untuk menutup hatinya.

Dengan cepat tangannya yang lebih besar itu mencengkram tangan yang lebih kecil darinya.

Tersentak, tidak percaya akan ulah si pelaku menghentikan niatnya yang ingin pergi dari tempat itu. Menoleh ke arah si pemegang yang kini menatapnya tajam. Seakan tidak senang dengan perbuatannya yang ingin pergi begitu saja.

"Duduk! Kita masih belum selesai, Nemu!" perkataan itu jelas terdengar jauh lebih tegas dari sebelumnya.

Berusaha melepaskan tangan yang makin mencengkramnya lebih kuat. "Ti-tidak ada lagi yang harus kita bicarakan."

"Duduk sekarang juga, atau kau akan menyesal!" Ancamnya yang membuat mata hitam milik Nemu kini melebar sempurna.

.

.

Tebece

.


Hola saya datang lagi! Maaf kalau chapter kali ini kurang memuaskan atau terkesan aneh. Niatnya sih ingin digabungkan dengan chapter berikutnya, tapi berhubung saya rasa akan terkesan jauh lebih panjang jadi saya potong. Jadinya yah beginilah... *nunduk*. Ayo ada yang tahu kenapa Nemu histeris *senyumgeje*. jawabannya ada di chapter selanjutnya...


Thanks buat yang udah review, nungguin and semangatin buat ngebut update fict ini: Botol Pasir, Moku-Chan , AAind88.

Iya ini udah di update lanjutannya/ Waduh sama dengan Nemu nih, iya ini udah pakai petir updatenya/ Iya ini udah update, semoga tidak penasaran lagi.


Makasih buat reviewnya. Seperti biasa jika ada saran, pendapat, kritik atau apapun, silahkan tulis di kotak bawah. ^^

berhubung chapter selanjutnya chapter akhir, saya kasi bocorannya deh.


Next chapter

"A-apa maksudmu dia pindah?"

.

"Kau kira kau bisa kabur dariku."

.

"Bagiku penting."

"Sejak kapan kau menganggap hal sepele ini penting. Atau karena ini ada kaitannya dengan Rukia."

.

"Bodoh! Apa kau masih belum paham juga! Aku mencintaimu, bodoh!"

"Bastrad, kau Byakuya!"


Segitu aja bocorannya, sampai jumpa, di chapter selanjutnya!

Pontianak, 10052013