***Chapter 4***

~Happy Reading~

Mengobrol dengan James membuat suasana hatiku menjadi lebih tenang, ada untungnya juga punya Kakak yang jago melawak, terutama saat suasana hatimu sedang menggalau. Sebenarnya kami saling menghibur tadi, karena James juga tengah merana, mungkin saja jika aku tak memutuskan untuk ke Menara Astronomi malam ini -besok pagi ada sebuah mayat laki-laki tergeletak disana. Ya ampun, James tidak segila itu.

Seperti yang sudah ku katakana pada James, walaupun sangat susah aku akan mencoba untuk melupakan Clara dengan mulai melirik wanita lain –sesuai sarannya. Asalkan jangan Emily dan gerombolannya saja. Sebenarnya ada cara lain yang aku pikirkan yakni menyibukkan diri dengan berbagai pelajaran terutama Arithmancy, aku yakin cara ini pasti efektif. Ya ampun, Mom pasti bahagia sekali saat mendengar anaknya yang putus cinta memilih cara dengan giat belajar untuk melupakan mantannya.

Aku membuka pintu kamar sepelan mungkin, takut mengganggu tidur teman-teman sekamarku yang lain. Aku nyaris saja berteriak saat melihat Scorpius yang masih terjaga diranjangnya dengan rambut acak-acakan.

"Kau darimana saja Al?" tuntutnya.

"Kenapa kau belum tidur?"

"Jawab pertanyaanku dulu," seru Scorpius.

"Aishh, aku habis mendengarkan curhatan hati seseorang." Aku menaruh kembali Jubah Gaib ke laci, langsung naik ke atas ranjang dan menutupi tubuhku dengan selimut tebal yang dikirimkan Mom kemarin.

"Bisakah kau juga dengarkan curhatanku?" pinta Scorpius.

"Tidak, aku ngantuk," jawabku dari bawah selimut.

"Kau jahat sekali Al." mendengar gerutuan Scorpius, Aku menyibakkan selimut untuk bisa melihat wajahnya.

"1 galleon per menit."

"Kau ini perhitungan sekali pada sahabatmu."

"Aishh, sudahlah cepat mulai sesi curhatnya," ujarku tak sabar, aku mengganti posisi menjadi duduk diranjang, Scorpius beralih untuk duduk diranjangku.

"Bagaimana mengajak Lily ke Pesta Slughorn?" tanya Scorpius dengan suara pelan.

"Aku tidak membuka untuk sesi saran hanya curhat saja."

"Al-" protes Scorpius. "Aku katakan, Lily tak terlalu menyukai pesta –aku menebak bahwa ia akan hadir semata-mata karena ia tak enak hati pada Slughorn jadi jangan berharap terlalu banyak," jelasku.

"Kau tak membantu sama sekali Al, lebih baik aku tidur."

Dia tadi yang memohon-mohon, eh sekarang. Dasar Malfoy, aku melempar sebuah bantal ke arahnya dan cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku.

"Potter sialan!"

"Jangan berisik Malfoy!"

"Tutup mulutmu Pucey!"

Sesuai perjanjian, aku menunggu Aurora di perpustakaan untuk sesi les belajar Arithmancy. Setelah mendapat beberapa les bersamanya, aku sudah mulai mengerti cara kerja pelajaran Arithmancy malahan sudah menaruh minat disini. Betapa Mom bahagianya saat mendengarnya.

Sembari menunggu Aurora, aku memutuskan untuk membuka buku Arithmancy-ku dan mencari halaman tentang Angka Pembelajaran.

Angka pembelajaran atau disebut Life Path Number, adalah berisikan tentang hal-hal yang perlu dipelajari atau dilakukan guna meraih cita-cita dan terdapat berbagai karakteristik pribadi dan kemampuan yang harus dikembangkan agar dapat menggapai peluang-peluang terbesar dalam kehidupan. Angka ini menunjukkan jalan kehidupan.

Serius? Jadi jalan hidupku akan terlihat melalui angka ini. Aku hendak mengganti ke lembar kedua sebelum sebuah suara memanggilku.

"Hei Al, menunggu lama?"

"Aku baru saja tiba."

Aurora tersenyum saat menyadari aku sudah membuka buku Arithmancy. "Rupanya kau sudah tak sabar untuk belajar Arithmancy," tebaknya.

"Betul sekali."

Aurora kemudian menjelaskan mekanisme penghitungan Angka Pembelajaran dan bagaimana artinya dari masing-masing angka. Dia menyuruhku untuk mencari tahu Angka Pembelajaran milikku.

"Omong kosong," kataku setelah membaca hasilnya.

"Apa hasilnya?" ia bertanya.

Aku berdehem sejenak sebelum mulai membaca. "Belajar untuk menjadi mandiri, lebih kuat dan mampu berdikari dengan cara yang terhomat. Aku sudah mempunyai semua aspek itu kan?" aku menatapnya untuk meminta persetujuan.

Dia tersenyum, sangat manis sampai-sampai mengalahkan rasa manis pancake yang sering dibuat Mom dirumah. Ingat niat awalmu Al, kau disini untuk belajar. Be-la-jar.

"Benarkah? Ku lihat kau sering murung beberapa hari ini, aku tidak bisa menilai kau mandiri atau tidak karena kita kurang dekat." Aurora memberikan penilaiannya.

"Kau tenang saja, mulai kemarin aku akan menjadi pria yang kuat, mandiri dan berdikari," ucapku semangat.

"Itu bagus Mr Potter." Dia mengacungkan dua jempol tangannya padaku.

"Aurora, boleh aku tanya sesuatu?"

"Tanyakan saja."

"Kenapa kau sangat menyukai Arithmancy?"

"Sama halnya aku bertanya, kenapa kau menyukai Pertahan?" Bukannya menjawab ia balik bertanya.

"Karen pelajaran itu mengajari kita untuk menghadapi Ilmu Hitam dan hal-hal berbahaya lainnya dan sekarang waktunya kau menjawab."

"Aku hanya merasa nyaman melihat angka, dimataku mereka seperti musik yang mengalun indah, memiliki kepribadian dan mengandung banyak rahasia," ia menjawab sembari memperlihatkan betapa dia kagum dengan angka. Aku mencoba untuk mengerti apa yang diucapkannya dengan memelototi angka dibuku Numerology, tidak ada yang terjadi –tidak ada musik, kepribadian dan rahasia. Mereka hanya angka.

"Bisakah kau membagi rahasia agar bisa merasakan kepribadian angka dan semacamnya?" pasti ada salah satu triknya, aku sangat yakin.

Ia membenahi bukunya dan memasukannya kedalam ransel "Kau mempunyai Al, hanya saja belum menyadarinya untuk saat ini. Kurasa sesi les-" Omongannya terhenti akibat kedatang seseorang, oh tidak yang benar beberapa orang.

"Kau sudah mendapatkan pasangan ke Pesta Slughorn?" Emily bertanya dengan tampang sok imutnya, cepat hentikanlah itu.

"Tentu saja sudah," jawabku cepat.

"Eoh siapa?" teman bergosipnya bertanya, ingin tahu.

"Aurora." Nama itu bergulir begitu saja dari mulutku, tanpa memikirkan dampaknya lebih lanjut.

Tiga cewek yang suka bergosip itu menampakkan tampang tak percaya. "Dengan dia?" Emily menunjuk Aurora yang mulutnya sedikit terbuka. "Ah leluconmu tak lucu Al," lanjutnya lagi.

"Ini sama sekali bukan lelucon Emily, betul kan Ra?" Aku memberikan kedipan ekstra pada Aurora, Merlin semoga dia mengerti tanda ini.

"Eoh itu… ya kami akan pergi bersama," jawabnya agak gagap, syukurlah dia mengerti maksudku.

"Tapi… tapi bagaimana bisa?"

Aku membereskan bukuku secepat yang aku bisa kemudian menarik lengan Aurora. "Pasti bisa, ayo Aurora kita pergi."

Kendati sudah keluar dari area perpustakaan, aku masih saja memegangi tangannya. Entah mengapa rasanya nyaman memegang tangannya seperti ini. Kami sudah mencapai tangga untuk turun saat Aurora berbicara.

"Menara Ravenclaw ada di lantai lima," ucapnya menahan langkah kami.

Aku cepat-cepat melepaskan tangannya. "Ah iya benar." Pasti wajahku kelihatan bodoh sekali sekarang. "Soal yang tadi-"

"Aku mengerti, kau mengucapkan itu supaya bisa menghindar dari Emily dan kawan-kawannya," ia memotong.

"Bukan, aku serius mengucapkannya." Aurora mengernyitkan alisnya saat memandangku. "Aku tahu, mengajak seseorang ke pesta seperti itu sama sekali tak sopan." Itu kan keadaan darurat, tapi seharusnya aku mengajaknya dengan baik-baik.

"Bukan seperti itu, hanya saja kau… kau mengajakku?" ekspresi diwajahnya membuatku tersenyum.

"Ya aku mengajakmu, nah Miss Castellan apa kau mau pergi ke pesta bersamaku?"

"Aku mau," balasnya cepat, semburat merah muda tampak dipipinya.

"Oke, aku akan menjemputmu-". "Tak perlu," ia memotong. "Kita bertemu dikantor Profesor Slughorn saja."

Aku mengangguk ragu. "Baiklah jika kau ingin seperti itu." Ini lebih baik daripada ia tak mau sama sekali.

"Bye." Ia melambai dan berjalan kearah Menara Ravenclaw, berbanding terbalik denganku yang menuju ruang bawah tanah Asrama Slytherin.

Tak terasa pesta natal Slughorn pun tiba, setelah menghabiskan setengah jam di kamar mandi, aku keluar menuju tempat dimana kaca tergantung di dinding. Scorpius merebahkan dirinya diranjang dengan kasar, mengacak rambut pirangnya yang sudah disisir rapih.

"Kau kenapa sih?" tanya Andy yang acara memilih bajunya sedikit terganggu.

"Kok bisa-bisanya sih aku menyetujui ajakan Theresa ke pesta bersama," ucapnya gusar, jangan kan dia aku lebih lebih tak percaya.

"Bukannya niat awalmu itu ingin mengajak Lily ya?" Dua hari yang lalu dia cerita padaku ingin mengajak Lily seusai makan malam di Aula Besar, tetapi beberapa jam kemudian yang terjadi adalah Theresa Yaxley yang berkoar bahwa dia akan ke pesta bersama Scorpius.

"Niatnya memang begitu-" Scorpius menggantungkan ucapannya, kelihatan tengah berpikir keras, namun yang muncul hanya dengusan keras darinya.

"Al menurutmu aku memakai yang kanan apa kiri?" Andy bertanya padaku seraya memperlihatkan satu set tuxedo hitam ditangan kirinya, sedangkan di yang kanan jubah pesta berwarna coklat.

"Keduanya oke." Aku mencoba merapihkan rambutku dengan gel rambut milik Scorpius, tapi seperti biasa-hasilnya sia-sia. Aku bisa mengerti bagaimana kesalnya Mom mencoba merapihkan rambutku sewaktu kecil dulu.

"Kau selalu bilang oke Al," protes Andy, aku nyengir padanya.

"Memang semuanya kelihatan oke."

Scorpius melemparkan bantal ke dinding depannya, harus ku apakan orang itu. "Ini semua gara-gara adikmu Al," ujarnya keras.

"Kenapa bisa menjadi salah Lily?"

Dia mengganti posisinya menjadi duduk. "Jika saja dia tak menerima ajakan McLaggen didepan mataku yang ingin mengajaknya, semua ini tak akan terjadi."

"Itu kau saja yang bodoh," cibirku yang detik berikutnya berlari keluar demi menghindari lemparan bantal ataupun barang-barang milik Scorpius yang lain.

"Ada apa denganmu Al, seperti habis dikejar Dementor." Aku menjumpai Falif yang duduk dekat perapian dengan Quidditch dari Masa ke Masa ditangannya.

"Ini bahkan lebih menyeramkan dari Dementor, kau tidak ikut pesta?" aku balik bertanya.

Ia menatapku. "Memangnya ada yang mau mengajak cewek seperti aku?"

"Kau manis." Aku mengedipkan mata padanya.

"Enyah kau Potter!"

Jika saja kau melembutkan sedikit sifatmu itu, aku mau saja mengajakmu bahkan pria-pria lainnya juga. Mungkin menurutnya lebih menarik Quidditch daripada pria. Syukurlah ruang rekreasi agak senggang kali ini, apalagi dengan tidak adanya Emily & the gank –mungkin mereka tengah memilih-milih baju yang cocok untuk dipakai.

"Kau hendak menghadiri pesta Slughorn kan?" Aku mengangguk pada Lysander Scammander. "Kita pergi bersama."

Setelah mencapai lantai dasar, keheningan diantara kami pun pecah ditandai dengan pertanyaan dari Lysander yang sedikit menusuk tentang Clara. Sudah beberapa hari ini aku tak lagi memikirkan dia, suatu kemajuan yang luar biasa.

"Aku tak menyangka dia meninggalkanmu, kukira Clarissa sangat mencintaimu," katanya.

"Perasaan bisa berubah seiring berjalannya waktu," desahku bukan semata-mata untuk menghibur diri, karena itu memang kenyataannya.

"Clarissa pasti punya alasan melakukan itu," dia menepuk pundakku pelan.

Tema pembicaraan kami berubah menjadi Quidditch, Lysander memang bukan anggota tim tapi ia sangat menyukai olahraga itu.

"Hai Al." Aku mencari asal suara itu. "Aku disini," kata suara yang sangat aku kenal itu lagi.

Cantik.

"Kurasa ini saatnya kita berpisah, Al."

Aku tak begitu menghiraukan Lysander karena terlalu fokus melihat Aurora yang tampak cantik dan menawan dengan dress biru bermotif bunga diatas lutut yang sangat pas sekali dengan mata biru cemerlangnya, sedangkan rambut merah terangnya yang biasanya dikuncir kuda kini tergerai indah.

"Hei Al." Aku tersadar karena tangan Aurora yang menggoyang lenganku pelan.

"Eoh ya, ada apa?" Al Potter, habislah kau dihadapan cewek ini.

"Sampai kapan kita berdiri disini?"

Kejadian didepan tadi memang memalukan tapi sepertinya Aurora sudah melupakannya karena sudah ku alihkan dengan cerita kegilaan Mom pada belajar. Terimakasih sudah menyelamatkan anakmu ini, Mom.

"Dia menenangkan pikirannya dengan belajar?" tanyanya agak takjub.

Aku membenarkan. "Bermain Quidditch seratus kali lebih baik," celetukku.

Lily baru saja menghampiri kami dengan wajah super kesalnya, lalu dengan santainya merenggut minuman ditanganku yang bahkan belum aku minum setetes pun.

"Ah, kupikir aku akan gila." Kemudian mengembalikan gelas kosong itu padaku, aku menahan segala macam sumpahan untuknya.

"Ada apa?"

"Kau memang selalu tahu suasana hatiku Al." Bagaimana tidak, didahi mu itu ibarat tertulis Jangan ganggu aku jika masih ingin hidup. "McLaggen mencoba menjebakku dengan mistletoe, murahan sekali bukan? Harusnya ku tolak saja ajakannya," gerutu Lily keras.

"Kau pergi dengan Justin?" Aurora bertanya yang mendapat anggukan dari Lily.

"Sebenarnya aku menerimanya karena dia telah memberikanku tiket pameran bunga sihir," Lily menjelaskan.

"Jadi karena itu." Scorpius yang entah muncul dari mana sudah berkumpul bersama kami, nyengir seperti orang idiot.

"Eh Malfoy sedang apa kau disini?"selama beberapa detik aku melihat binaran dimata Lily.

Alis Scorpius berkerut. "Ini pesta dan aku di undang," katanya agak tersinggung.

"Aku tahu, tapi ruangan ini cukup luas agar aku tak melihat wajah jelekmu itu."

"Apa?" Scorpius tertegun dengan muka sedikit memerah, aku tahu Scorpius sangat jarang hampir tidak pernah dibilang 'jelek' oleh seorang cewek.

Scorpius mencengkram tangan Lily, aku refleks menghampiri mereka dan sedikit mendorong tubuh Scorpius ke belakang, tetapi gara-gara cengkraman Scorpius yang erat –Lily ikut terbawa dengannya.

"Lepaskan aku Malfoy." Aku melihat Lily yang melepaskan tangan Scorpius dari lengannya, dan mencoba menjauhi pria itu tetapi tak bisa. Begitu aku melihat sesuatu diatas mereka, aku langsung mengerti kenapa.

"Kalian terjebak mistletoe," Aurora memberitahu mereka. Wajah Lily terlihat sangat syok sedangkan Scorpius tampak menyeringai beberapa detik.
"Kau sengaja mendorongku kemari kan Malfoy!" Lily berteriak didepan wajah Scorpius menuntut penanggungjawaban dari pria itu.

"Kau percaya diri sekali Lils," Scorpius membalas, aku mendengus sebal menyebabkan Aurora menatapku heran.

"Mereka cute ya," katanya.

"Kita jauh lebih cute." Kedipan mataku membuat pipinya merona, ia memukul lenganku pelan.

Lily mencoba beberapa mantra untuk menghancurkan mistletoe tapi hasilnya nihil, karena memang hanya sebuah ciuman yang dapat mematahkan jerat mistletoe.

"Hanya sebuah ciuman yang bisa membebaskan kita Lils," seru Scorpius sebal kendati wajahnya ceria, ingin rasanya kutendang wajahnya itu –berlagak kesal padahal senang setengah mati. "Pasti ada cara lain," Lily bersikeras.

"Tidak."

"Bagaimana ini? Aku tidak mau berciuman denganmu." Lily kelihatan seperti akan menangis, ia menatapku lekat untuk memohon bantuan.

"Sepertinya tak ada cara lain Lils," ucapku menyesal, aku tak tega melihat wajahnya seperti itu. "Bagaimana menurutmu Rora?"

"Maaf Lils, aku tak bisa membantu."

Menurut legenda jika ada gadis yang berdiri diatas mistletoe berarti gadis itu tidak dapat menolak untuk dicium. Jika gadis itu tetap menolak, dia tidak bisa beraharap menikah di tahun berikutnya. Konon katanya bila ada pasangan yang berciuman dibawah mistletoe, hubungan mereka akan bertahan lama. Andai aku memiliki pasangan saat ini.

"Sudahlah Lils, ciuman Scorpius sepertinya tak terlalu buruk," saranku.

"Tapi-"

"Kita akan pergi," kata Aurora tegas, ia menarik lenganku dengan paksa menuju pojok ruangan dimana beberapa makanan tersedia.

"Kenapa menarik ku kemari?"

"Kau tak mengerti?" aku menggelengkan kepala. "Mereka butuh privasi, kau kira tak malu apa ciuman dilihat orang," jawab Aurora tak sabar.

"Menurutku tidak."

"Ya betul, bagi Albus Potter yang sudah berpengalaman memang hal yang biasa."

Aku menatap Aurora heran, kenapa bicaranya menjadi sinis begini. Mungkinkah dia cemburu?

"Bukan seperti itu, hanya saja disini orang-orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Jadi –hei Aurora tunggu." Aku mengejar Aurora yang berlari keluar.

Setelah mencari beberapa menit, aku menemukannya yang tengah duduk di ruang Ramuan sembari melamun. Aku mendekatinya dengan mencoba untuk tidak membuat satu suara pun. Tapi gagal, baru saja melangkah masuk dia sudah melihatku.

"Kenapa kau tiba-tiba lari?" tanyaku pelan.

Dia membasahi bibirnya dengan tak nyaman. "Aku hanya ingin menghindar dari keramaian, aku kurang menyukai pesta dan semacamnya."

"Maaf jika ucapanku menyinggungmu."

Senyumnya kembali menghiasi wajahnya. "Pendapat setiap orang berbeda, Potter."

"Kau cantik ketika tersenyum seperti itu." Entah sudah berapa kali aku tak bisa mengontrol ucapanku dihadapan gadis itu.

Dia bahkan lebih manis saat wajahnya merona seperti itu. Aku meraih tangannya dan menatapnya dalam. Entah otakku berada dimana sehingga berani mendekati Aurora, terlampau dekat lebih tepatnya hingga bibirku menempel pada bibir merah mudanya. Aku seperti merasakan kejutan listrik ditubuhku, memalukan tapi sangat menyenangkan. Awalnya hanya menempel tetapi berubah menjadi lumatan lembut dan yang membuatku gila dia membalas lumatanku

Kami berciuman cukup lama sebelum tiba-tiba Aurora mendorong tubuh ku dan menjauh, memandangku dengan tak percaya kemudian lari begitu saja meninggalkanku diruang kelas Ramuan ini.

"AURORA TUNGGUUU," Aku berteriak namun tak membuat Aurora kembali, berbalik pun tidak.

"Albus Potter apa yang kau lakukan!" Aku mengacak-acak rambut gusar, sekali lagi berteriak merutuki kebodohanku.

****TBC****

Aku minta maaf ya kalo update nya agak lama :D

Jangan lupa reviewnya, soalnya itu yang jadi penyemangat kalo mood nulis lagi jelek