-BLEACH created by TITE KUBO
-SOUL created by NamiKaze-Naruni
.
.
.
-Pairing : Ichigo X Hitsugaya, Kusaka X Hinamori, dan lain-lain
-SOUL Chapter 4 : Deja Vu-
-Enjoy!-
PRANK!
"Kau kenapa, Yuzu?" Tanya Karin khawatir, setelah mendengar suara pecahan kaca yang berasal dari dapur.
"Eh, Karin. Tidak apa-apa kok. Tadi. Tanganku sedikit licin. Jadi, piringnya jatuh." Jawab Yuzu sambil tersenyum.
Karin menghela napas, "Hahh.. kalau begitu hati-hati, sini, biar aku yang bereskan. Lebih baik kau bersiap, nanti terlambat ke sekolah." Seru Karin sambil menghampiri Yuzu.
"Eh, i-iya, baiklah." Yuzu pun berdiri. Sedangkan Karin berjongkok untuk membereskan pecahan piring yang berserakan di lantai.
'Kenapa perasaanku tidak enak, ya?' pikir Yuzu dan Karin bersamaan.
~O~O~O~O~
"Abarai-san, apa Kurosaki-kun belum datang latihan?" Tanya Inoue,
"Oh, Inoue-san. Sepertinya belum, tuh." Jawab Renji.
"Be-begitu, ya."
"Dasar, si Ichigo itu! Baru saja kena hukuman, masih saja terlambat, padahal 15 menit lagi bel jam pertama bunyi." Ujar Renji sambil geleng-geleng kepala. "Oya! Malah tumben, nih. Kalian berdua biasanya berangkat bersama 'kan?"
"Ta-tadi, tidak sempat bertemu di jalan. Jadi, ku pikir, Kurosaki-kun sudah berangkat lebih dahulu."
"Begitu, ya? Tenang saja, kalau Ichigo sudah datang, nanti aku kabari, deh!"
"Terimakasih, Abarai-san. Kalau begitu, maaf mengganggu latihannya," ujar Inoue sambil menunduk sekilas.
"Yah, tak apa. Ini juga sedang istirahat." Balas Renji.
"Baiklah. Sekali lagi, terimakasih. Permisi, Abarai-san."
"Oke!"
Inoue kembali menunduk sekilas, lalu pergi dari lapangan itu.
'Kenapa perasanku tidak enak tentang Kurosaki-kun?' batin Inoue resah.
~O~O~O~O~
Syuut!
BRAK!
"Sial Aku tak bisa terus-terusan menghindar dari serangannya. lagi pula.." runtuk Ichigo sambil melihat bahu kirinya yang terluka akibat serangan yang hampir mengenainya tadi. Entah mengapa, arwah itu sedikit mengurangi timing serangannya, dan kesempatan itu tidak di sia-siakan Ichigo untuk menghindar walau Ichigo tetap terluka di bagian bahu kirinya, 'Ya, masih lebih baik. Dari pada, tubuhku terbelah dua.'
Ichigo terus mnenghindar dari serangan-serangan yang diarahkan padanya dengan membabi buta. Ruangan yang gelap makin memperparah posisi Ichigo sekarang, di tambah dengan luka di bahu kirinya yang semakin parah karena darah yang keluar semakin banyak, dan membuatnya semakin lelah.
Nafasnya pun mulai tersengal, dan pandangannya pun sedikit mengabur, sambil memegangi bahu kirinya yang terluka, Ichigo tetap bertahan dengan memfokuskan penglihatannya, dan jujur saja ia bisa menghindari semua serangan diruangan koridor gelap ini. Karena, hawa aneh yang muncul dari sosok itu. Sehingga, Ichigo bisa menghindari semua serangan.
"Hah.. hah.. hah.. sial! Kenapa tubuhku semakin lemas?" runtuk Ichigo dengan napas tersengal.
Tiba-tiba …
Syuut!
Ichigo langsung menghindar serangan di depannya dengan melompat kebelakang. Alhasil serangan itu menghantam lantai.
Bruak!
"Aku masih bi-," tiba-tiba sosok itu sudah berada di belakang Ichigo, dan bersiap mengayunkan kapaknya kembali. Kali ini Ichigo tak bisa berkutik.
Jleb!
"Arrgh!"
"Hihihi..." tawa sosok itu penuh kemenangan. Seakan puas, karena membuat mangsanya tumbang.
Mungkin inilah pertama kalinya Ichigo merasakan sakit yang teramat sangat ia rasakan di tubuhnya. Luka dipunggungnya kini benar-benar membuat matanya sangat berat.
"Apa aku akan mati? Eh, menyedihkan sekali, padahal masih banyak hal yang harus ku lakukan, dan setidaknya aku ingin mati secara elit dan bukan di bunuh oleh roh anak perempuan… eh, mati konyol, nih." Runtuk Ichigo. Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, Ichigo mendongakkan wajahnya kearah sosok itu, dan terpaku dengan apa yang dilihatnya. Kini sosok itu, "Menangis ?" gumam Ichigo. Bersamaan dengan kesadarannya yang mulai menghilang.
"Maaf.. maafkan aku, kak Erick.." isak sosok itu sambil menatap Ichigo yang tak berdaya.
~o~o~o~o~
"Ngh.. dimana ini?" ujar Ichigo yang kini terbangun ditengah kebun lily yang indah.
"Are? apa aku ada di surga?" Gumamnya kaget, melihat sekitarnya
"Wahaha? jadi aku benar-benar di su-,"
"Kakak, ayo cepat!"
"Iya, iya. "
"Ayo , kak!"
Perkataan Ichigo terpotong oleh dua suara asing, ia pun berdiri. Pandangannya teralih pada sudut tembok rumah , dan kemudian terlihat dua orang muncul dari samping sudut itu.
"Ti-tidak… MUNGKIN! !" teriak Ichigo histeris. Tapi , anehnya tak terdengar oleh mereka, dan apa yang didepannya membuat Ichigo syok.
Dua orang itu tidak lain adalah sosok roh yang menyerangnya, dan satu lagi sosok itu, DIA, ICHIGO. Memakai kemeja putih di balut dengan rompi hitam, dipadu dengan dasi berwarna biru tua, dan celana bahan bewarna hitam, lalu sepatu kulit hitam, dan terakhir copy-paste Ichigo pun memakai kaca mata dengan frame coklat sesuai dengan iris matanya.
"Iya, kakak tahu, soffy." Copy-paste Ichigo itu berujar lembut pada sosok gadis yang tengah menarik lengannya.
"Nah, sudah sampai! Kejutan!" seru sosok gadis itu yang bernama soffy, sambil membentangkan tangannya pada kebun bunga dibelakangnya.
Ichigo terpaku pada sosok soffy. Awalnya ia tidak terlalu melihat wajah soffy karena ia membelakangi Ichigo. Namun, kini terlihat jelas.
Rambut putihnya yang terurai rapih dengan poni yang terjepit disebelah kiri, matanya berwarn ruby, kulitnya berwarna caramel, dan memakai gaun berwarna biru muda dengan aksen renda dibagian bawahnya.
Copy-paste Ichigo tersenyum, "Wah, lilynya sudah mekar, apa soffy yang merawatnya?"
"Tentu saja!" jawab soffy bangga.
"Hahaha… iya, adikku ini memang hebat!" seru copy-paste Ichigo sambil berlutut, lalu mengusap dengan lembut kepala soffy sambil tersenyum hangat. Soffy blushing.
"Su-sudah hentikan! Aku bukan anak kecil lagi kak Erick!" ambeknya sambil mengembungkan pipinya.
Copy-paste Ichigo bernama Erick itu pun tersenyum geli, "Hahaha, sudah jangan ngambek! wajahmu jadi terlihat aneh," sindir Erick bercanda.
Soffy melipat kedua tangannya kedepan dada "Jangan meledek, ya !" ujarnya, lalu berkacak pinggang.
"Oke, oke.. "ujar Erick geli, lalu memeluk soffy, "Terimakasih, kau sudah mau merawat kebun ini,"
Soffy terpaku, lalu tersenyum hangat, dan membalas pelukan Erick, "Iya, sama-sama, kakak.."
Melihat pemandangan itu Ichigo tersenyum, seakan ada rasa hangat memenuhi hatinya.
Tiba-tiba saja scane bahagia itu berubah dengan cepat. Tanpa Ichigo sadari, ia kini berada diruangan tamu bernuansa eropa yang mewah. Namun, entah mengapa suasananya terasa mencekam. Ia pun melangkah menelusuri ruangan itu. Bau amis darah mulai tercium oleh Ichigo.
"Dimana ini? Kenapa ada bau darah?" Tanya Ichigo, sampai ia keluar dari ruangan itu dan terkejut mendapati banyak mayat berpakaian seperti maid tergeletak bersimbah darah.
"A-apa yang terjadi sebenarnya? Apa maksudnya ini?" ujar Ichigo tak percaya .
"KYAAAA...~ ! !" terdengar suara teriakan melengking dari lantai atas,
"SOFFYY…! !" reflek Ichigo yang mengenali suara itu langsung berlari menuju sumber suara. sesampainya disebuah pintu, Ichgo menelan ludah gugup, " Disini" gumam Ichigo hendak masuk membuka knop pintu, "Loh ?" Ichigo tertegun, ia tak bisa menyentuh knop pintu itu.
"Jangan-jangan aku.. " Ichigo kembali menelan ludah gugup, lalu berjalan menembus pintu, "ternyata benar, aku… tembus pandang." Ucapnya tak percaya
"KAKAAK!" suara soffy terdengar lagi.
Ichigo sontak beranjak dari sana, dan sekarang menemukan soffy tengah terduduk sambil gemetaran, sedangkan Erick tergeletak bersimbah darah dengan luka di punggungnya. Didepannya berdiri seorang laki-laki parubaya dengan kapak yang berlumuran darah di tangan kanannya.
Ichigo hanya bisa terpaku, ingin menolong, tapi ia bisa apa? Ichigo melihat soffy yang berlari menghampiri Erick. "Ka-kakak! Kak Erick! Bangun … kakak !" isak soffy sambil mengguncang punggung Erick dan menangis di atasnya, gaun putih miliknya terkena noda darah, darah Erick.
"AHAHAHA! Tenang saja, keponakkanku yang manis! Sebentar lagi kau akan bertemu dengan kakakmu di surga! HAHAHAHA!" seru pria itu bengis.
"Ke-kenapa? Kenapa paman lakukan ini?"
"Kenapa? Kenapa kau bilang? Sudah jelas! Paman tak akan membiarkan anak pungut seperti dia! Menjadi ahli waris seluruh kekayaan Goryskeith!" seru pria itu sambil menunjuk Erick.
"Hanya karna itu? HANYA KARENA ITU PAMAN MEMBUNUH SEMUANYA, HAH!"
"Sudah jelas manis, siapapun yang menentangku harus MATI!"
"Tak akan… tak akan, TAK AKAN KUMAAFKAN!" Soffy bangkit lalu menerjang pria itu.
"Gadis bodoh," pria itu kembali menyeringai dengan mengayunkan lagi kapaknya.
Syuuut !
Crass !
Soffy terkena ayunan kapak itu tepat dibahunya, walaupun hanya goresan tapi itu cukup membuat darahnya banyak yang keluar. Sambil merintih, soffy tanpa sadar mundur dengan memegangi bahu kirinya yang terluka. Sampai akhirnya menyenggol meja kecil yang terdapat lilin yang menyala, dan lilin itu pun terjatuh mengenai tirai di belakang meja itu.
"Wah, wah.. kau hebat juga, Soffy" puji pria itu.
Memanfaatkan kesempatan, Soffy diam-diam mengambil asbak dari meja dibelakangnya dan langsung melempar asbak pada pamannya itu, menyadari itu, ia pun langsung menghindar.
Soffy menyeringai.
"ARRGH! ! MATAKUUU! ! " reflek pria itu menjatuhkan kapaknya dan beralih memegangi kedua matanya, Karena terkena abu rokok yang berasal dari asbak itu. Kesempatan itu tidak disia-siakan Soffy, ia berlari dan langsung meraih kapak yang terjatuh itu. Lalu..
"TIDAK AKAN AKU MAAFKAN! !" Soffy dengan amarah yang memuncak, menghujamkan kapak itu tepat di jantung pamannya.
"ARRRGGH! ! !" pria itu tumbang dengan darah yang mengucur deras dari luka di dada kirinya. Tewas seketika.
Soffy terhenyak. Ia pun menjatuhkan kapak itu, dan mundur tiga langkah dengan syok lalu terjatuh. Kobaran api yang semakin membesar dan meluas di ruangan itu, sama sekali tidak dihiraukannya. Mata rubynya memandang nanar pada mayat pria di depannya. Soffy berusaha berdiri sambil memegangi bahunya yang terluka, dan berjalan tertatih-tatih menghampiri Erick.
Ichigo terhenyak. Ia tak bisa berkata apa-apa. Adegan-adegan yang dilihatnya kini seperti nyata. Namun, sayangnya ia tak bisa berbuat apa-apa menyaksikan kejadian ini. Ichigo terus memperhatikan Soffy yang kini merintih menahan sakit di bahunya. Hingga, gadis itu berlutut di samping tubuh kaku Erick, lalu menarik tubuh Erick untuk menidurkan dipangkuannya.
Soffy mengusap lembut wajah Erick dari darah yang menodai, sebersih mungkin, "Kakak... maafkan Soffy, ya?" pintanya lirih, sambil tersenyum getir, "... tapi, Soffy berjanji. Kakak tidak akan sendirian di sana."
Ichigo tersontak kaget mendengar penuturan Soffy, dan ia pun panik ketika melihat kobaran api yang semakin membesar diruangan itu.
"SOFFY CEPAT KELUAR! APINYA SEMAKIN MEMBESAR, SOFFY! !" teriak Ichigo. Namun sayang, suaranya tidak akan terdengar sekeras apapun ia berteriak.
"I love you, Erick..." gumam Soffy lirih, lalu memeluk tubuh kaku Erick.
Kobaran api yang sudah meluas, melahap habis seluruh apa yang ada diruangan itu. Termaksud melahap jiwa yang terselimuti kesedihan dan penyesalan yang dalam, dan akan selalu tersimpan abadi.
Tanpa sadar, Ichigo menangis. Sambil mengepalkan kedua tangannya erat. Setelah menyaksikan ini semua, ia serasa mengalami apa itu Deja Vu.
"Soffy... SOFFY! !"
~O~O~O~O~
"SOFFY! !"
"Kau sudah sadar?" tanya seseorang.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Ichigo mengatur nafasnya yang memburu. Lalu, menoleh ke samping. "Eh? To- Toushirou?" Ichigo terkejut mendapati Hitsugaya tengah berlutut disampingnya.
Ctak!
Kening Hitsugaya berkedut.
"Sudah aku bilang... PANGGIL AKU HITSUGAYA! !" semprot Hitsugaya di depan wajah Ichigo.
"Ta-tapi, kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Ichigo, sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Ternyata ia masih di rumah tua itu, dan berarti semua kejadian itu.
'Mimpi?' pikirnya dalam hati.
"Eh, entahlah.. hanya saja..." ujar Hitsugaya dengan senyum misterius menghiasi wajahnya.
"Hanya saja..." Ichigo malah mengulang perkataan Hitsugaya dengan penasaran.
"Baru saja, aku mendapat tawaran yang bagus." jawab Hitsugaya kemudian.
"Tawaran? Tawaran ap- Auh!" rintih Ichigo, reflek memegang bahunya yang sudah di perban, 'lho? sudah diobati? Apa jangan-jangan Toushirou...' Ichigo menoleh pada Hitsugaya.
Hitsugaya berdiri, lalu mendengus, "Kau bodoh, ya? Sudah tahu lawannya arwah, masih saja melawan."
"Arwah? Soffy..." Ichigo langsung berdiri, sambil menahan sakit di bahunya, Ichigo seketika langsung menarik bahu Hitsugaya.
"Dimana? Dimana arwah anak perempuan itu sekarang, Toushirou? Kau pasti tahu sesuatu kan?"
Hitsugaya memalingkan wajahnya ke samping, "Entahlan, sepertinya dia sudah tidak ada di sini." jawabnya kemudian.
"Dari ma- Lho? Tu-tunggu, a-aku bisa menyentuhmu? !" Ujar Ichigo tak percaya. Ia baru menyadari bahwa ia bisa menyentuh Hitsugaya yang ia ketahui sebagai arwah. Tanpa sadar, Ichigo beralih mencubit kedua belah pipi Hitsugaya.
"Hentikan, BODOH!" seru Hitsugaya, sambil menjitak kepala orange Ichigo
Ichigo meringis, "Auh.. Gomen. Tapi, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kau juga roh kan? Tapi, kenapa aku bisa menyentuhmu? Lalu, kenapa kau juga bisa berada di sini? Terakhir, kau bilang padaku bahwa, roh anak itu suadah menghilang, apa maksudmu, Toushirou?" tanya Ichigo bertubi-tubi.
Hitsugaya menatap mata coklat Ichigo datar.
"Kau bisa menyentuhku, karena sekarang aku sedang memakai gigai yang tak bisa aku jelaskan sekarang. Aku bisa berada di sini, karena ada seekor kucing hitam yang menuntunku hingga kesini. Terkhir, aku mendapatimu sudah bersimbah darah dengan roh anak perempuan itu yang langsung menghilang setelah melihatku. Dan selanjutnya, kau sudah tahu kan?" jawab Hitsugaya panjang lebar.
Ichigo mengangguk. "Tawaran, gigai, kucing hitam?" dan sedetik kemudian, Ichigo menyadari sesuatu, "Ja-jangan-jangan tawaran menarik itu..." putus Ichigo, takut bahwa dugaannya adalah benar walau mustahil terjadi.
Hitsugaya tersenyum sinis, lalu melanjutkan perkataan Ichigo, "Ya, hidup kembali." ujarnya santai.
"... a-apaa? !"
~O~O~O~O~
-TBC-
~O~O~O~O~
A/N: Akhirnya selesai juga chapter ini... #tebar bunga# Gomen, jika pada chapter kemarin saia tidak membalas review kalian. #sembah sujud# Tapi, saia senang membaca review kalian semua, sungguh...! -peyuk2 reader-, #didepak#.. Gomenasai, kalau ceritnya tambah gaje.. huhuhuhu.-nangis guling2-
Akhir kata, Terimakasih... Minna...!
-REVIEW?-
