Nyahahahaha…gak nyangka udah ampe chap 4.

Perasaan, saia koq semangat banget yach nulis ni fic.

Ah..tapi saia memang sangat menyukai pair MxM..

Oiya, setelah di telaah lebih lanjut, semua char di sini ternyata sangat-sangat OOC..ck..ck..ck *geleng-geleng kepala* (pembaca: baru nyadar bugh.??)

Ya udah dech..ikutin terus serunya perjalanan cinta MxM..

Chek this out..

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Disclaimer : Death note is belong to TO2

Summary : "Aku tak peduli apakah kau pengeran atau putri…"

Pairing : MattxMello, ada LxMisa juga (bagi yang gak suka pair ini, tolong jangan bunuh saia *lari cari tempat berlindung*)

Rate : T (ajah..)

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"I DON'T CARE U'R PRINCE OR PRINCESS"

by : L_loph_Chocolate

chapter 4

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Titik-titik air itu tak henti mengguyur kepalanya. Matt sedang berusaha mendinginkan kepalanya dengan berdiam diri di bawah guyuran shower.

"Bisakah kau memberikan ayah cucu dalam waktu satu tahun ini." Kata-kata ayahnya itu terus terngiang-ngiang di benaknya.

"Cepat sekali ayah memintaku untuk memberinya cucu. Sebenarnya aku sudah mengira hal ini akan terjadi, tapi tak secepat ini. Apa yang harus kulakukan?" gumam Matt. Matt terdiam. Berharap setiap titik air dapat meringankan pikirannya.

Di lain tempat, Mello sedang berendam dengan air hangat dan busa aromaterapi. Tak

beda jauh dengan Matt, pikirannya dipenuhi dengan permintaan . "Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa memberikan cucu pada ?" pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus berputar-putar di pikiran Mello. Lelah dengan semua pertanyaan itu yang tak ada ujungnya itu, Mello keluar dari bathub lalu memakai boxer dan kimono handuknya (A/N:Mello tak punya sepotongpun pakaian laki-laki kecuali boxernya.). ternyata aromaterapi yang dihasilkan busa mandinya tak mampu mengurangi penat di kepalanya. Mello berjalan ke kamarnya dan terduduk di pinggir ranjang. Memikirkan segala macam cara yang mungkin agar Matt bisa mendapat keturunan.

Tak lama kemudian, Matt masuk ke kamar. Hanya mengenakan celana jins dan dengan handuk tersampir di -titik air masih terlihat di rambut merah dan dada bidangnya. Melihat penampilan Matt, Mello tersentak kaget. Dia segera naik ke ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut tebal. Takut Matt melakukan sesuatu padanya.

"Tak usah takut Mell. Aku sedang tidak nafsu melakukan apapun saat ini." Kata Matt begitu melihat gerak-gerik Mello. Mellopun menurunkan pertahanannya. Matt berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil kaos. Setelah dia selesai memakai pakaian, Matt duduk di pinggir ranjang.

"Aku tahu hal ini akan terjadi, tapi aku tak menyangka ayah akan memintanya secepat itu." Kata Matt sambil menundukkan kepalanya. Pertanda bahwa saat ini dia memiliki beban yang berat.

"Tadi aku sudah memikirkan banyak cara agar kau memperoleh keturunan. Darah dagingmu sendiri." Sahut Mello sedikit ragu.

Matt menatap Mello dengan pandangan penuh tanya.

"Kau bisa menikahi seorang wanita sebagai istri keduamu. Dengan begitu kau dapat membahagiakan ayahmu tanpa perlu menceraikan aku."

Matt tersentak kaget. "Kau gila! Mana mungkin aku bisa menikahi wanita lain sedangkan hanya ada kau di hatiku. Apakah kau rela membagiku dengan yang lain? Apa kau tak mencintaiku?" nada suara Matt meninggi.

"Bukannya begitu. Aku sungguh mencintaimu, tapi…."

"Ahh..sudahlah." sahut Matt sambil beranjak dari ranjang.

"Kau mau kemana?" tanya Mello cemas.

"Aku akan menemui Near. Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengannya. Sebaiknya kau tidur duluan." Sahut Matt sambil keluar kamar.

"Baiklah. Kau cepatlah kembali. Jangan tidur terlalu larut." Jawab Mello pelan. Setelah Matt menutup pintu kamar, Mello mencoba berbaring sambil memikirkan perkataan Matt tadi. "Kau gila! Mana mungkin aku bisa menikahi wanita lain sedangkan hanya ada kau di hatiku. Apakah kau rela membagiku dengan yang lain? Apa kau tak mencintaiku?".

"Hufth.." Mello menghembuskan napas pelan. Tak lama kemudian Mello tertidur tanpa mengganti kimono handuknya dengan piyama.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Matt berjalan menuju basement bawah tanah istana yang ternyata telah diubah menjadi laboraturium pribadi oleh Near.

Tok..tok..tok..Matt mengetuk pintu basement.

"Siapa?" terdengar suara dari dalam.

"Ini aku. Matt."

"Masuklah!"

Matt melangkah masuk. Dalam basement atau laboraturium itu tampak cairan-cairan dalam botol hasil percobaan Near yang tersusun di lemari besar. Di sudut ruangan ada kandang berisi tikus-tikus putih yang digunakan Near sebagai kelinci percobaanya. Ada dua meja besar disitu. Yang pertama berisi alat-alat percobaan. Sedangkan yang digunakan Near saat ini berisi kertas-kertas, sebuah mikroskop dan cairan biru pekat dalam gelas kimia.

"Bagaimana ini?" tanya Matt.

"Bersabarlah kau dulu. Aku sedang berusaha menyelesaikan ini untukmu." Sahut Near tanpa menoleh sedikitpun ke arah Matt. "Hanya saja…."

"Apa?"

"Mungkin tak akan secepat yang diharapkan ayah."

"Apa?" Matt terduduk lesu.

"Kau bicaralah pada ayah. Mungkin saja beliau bisa mengerti."

"Kuharap kau benar."

"Sekarang kau istirahatlah dulu. Kau nampak lelah."

"Trim's Near. Kau yang terbaik" Kata Matt sambil beranjak dari tempat duduknya.

"It's ok bro. aku akan berusaha sebaik mungkin." Sahut Near sambil meneruskan pekerjaannya.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Tengah malam…

"Tidak..jangan..ibu jangan tinggalkan aku..ibu..ibu.."

Sayup-sayup terdengar suara yang membangunkan Mello dari tidurnya. Ternyata itu adalah igauan Matt. Tidurnya tampak gelisah dan tak tenang. Perlahan Mello meraih kepala Matt dan mendekapkannya di dadanya yang terbuka karena tali dari handuk kimononya terlepas saat dia tertidur. Lalu ia mengelus-elus kepala Matt perlahan seperti seorang ibu yang sedang menenangkan bayinya. Tampaknya kehangatan yang dipancarkan oleh kontak tubuh Mello membuat Matt nyaman. Hingga tanpa sadar kedua tangan Matt memeluk pinggang mungil Mello sehingga menambahkan kehangatan bagi tubuhnya. Melihat tidur Matt yang mulai tenang, Mello pun tertidur kembali.

Keesokan harinya,

Matt bangun lebih dulu. Ia melihat posisi tidur Mello yang memeluknya semalaman. Kini ia menyadari apa yang menyebabkan tidurnya kembali nyenyak malam itu. Perlahan ia beranjak dari ranjangnya tanpa membangunkan Mello. Sekilas ia mengecup kening Mello lalu pergi mandi. Sepuluh menit kemudian Matt keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak lebih segar sekarang. Lalu ia beranjak ke ranjang untuk membangunkan Mello. Perlahan ia memeluk Mello dari belakang dan mengecup leher mulus kekasihnya itu.

"Bangun sayang. Udah pagi." Bisik Matt lembut.

Mello membuka matanya dan menemukan Matt sedang memeluknya dari belakang. Ia pun menoleh.

"Kau tampak lebih segar sekarang." Kata Mello.

"Berkat dirimu." Matt tersenyum simpul. Tatapannya tampak teduh.

Mello meraih pipi halus Matt dan memberikan kecupan selamat pagi di bibir Matt. Lalu Mello bangkit untuk duduk. Diikuti Matt. "Kau sudah mandi?"

"Sudah. Memangnya kenapa?" tanya Matt heran.

"Sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu mandi bersama tadi." Sahut Mello dengan tatapan nakal. Matt mengeryitkan alisnya. "Hahaha..bercanda. ya sudah aku mandi dulu." Lanjut Mello sambil beranjak ke kamar mandi.

"Ok. Aku tunggu di meja makan ya?"

"Ok." Sahut Mello dari dalam kamar mandi. Mattpun keluar kamar dan tak lupa menutup pintu. Lima belas menit kemudian Mello keluar kamar mandi dan mulai berpakaian. Tak lupa ia memakai payudara palsunya. Sepertinya mulai saat ini ia harus membiasakan diri dengan benda itu karena semua pakaian yang diberikan Matt agak minim dan terbuka. Kali ini ia memakai tank-top putih, blezer krem mini sebatas dada dan rok lipit yang agak mini.

"Huh..kenapa Matt memberiku baju yang terbuka begini sich?" gerutu Mello sambil berjalan menuju ruang makan.

Di ruang makan, sudah ada dan Matt. Near sepertinya belum datang. Mello duduk di sebelah Matt.

"Selamat pagi semuanya." Sapa Mello.

"Selamat pagi." Sambut hangat.

"Mana Near?" tanya Mello.

"Mungkin sedang mandi." Jawab .

Tak lama kemudian Near datang. "Maaf aku terlambat."

"Tak apa. Ayo kita mulai sarapannya."

"Selamat makan." Seru mereka berempat serempak.

Di sela-sela kegiatan makan, memulai percakapan. "Aku sudah memberi kabar pada kedua orang tuamu. Tiga bulan lagi pernikahan kalian akan digelar disini. Mereka akan datang." Kata kepada Mello.

"Benarkah? Baguslah kalau begitu." Jawab Mello yang tampak senang. Matt hanya diam. "Near ada apa dengan matamu?" tanya Mellosaat melihat Near.

"Memangnya ada apa?"

"Lingkar matamu hitam sekali. Semalam kau tidak tidur ya?"

"Oh ini." Jawab Near sambil menyentuh matanya. "Tak apa-apa. Aku sudah selesai makannya." Lanjut Near sambil beranjak pergi.

"Aku juga sudah selesai. Setelah ini aku akan mengajak Mell jalan-jalan ke pinggir danau." Kata Matt kepada ayahnya.

"Oh, iya. Ada baiknya kalau kau ajak Mello keliling istana. Setelah ini aku juga masih ada pekerjaan." Sahut .

"Aku akan menunggumu di taman belakang." Kata Matt kepada Mello yang belum selesai makan. Lalu Matt beranjak pergi.

Tak lama kemudian Mello telah selesai dengan sarapannya dan pamit kepada untuk menyusul Matt. Di taman belakang, ia melihat Matt duduk termenung di bangku yang menghadap ke danau. Mello pun duduk di samping Matt.

'Matt, ada yang menganggu pikiranmu saat ini?"

"Aku hanya bingung."

"Matt..aku marah padamu."

"Ada apa?" tanya Matt heran.

"Kenapa kau memberiku pakaian yang minim sehingga aku mau-tak mau harus memakai benda ini?" tanya Mello sambil menunjuk dadanya dengan mimik muka yang lucu. Matt hanya tersenyum mendengar lelucon Mello.

"Matt, dimana ibumu?" tanya Mello tiba-tiba namun dengan intonasi yang lembut.

"Apa?"

"Dimana ibumu?" Mello mengulang pertanyaanya.

"Ibuku meninggal setelah melahirkan Near."

"Apa kau merindukan ibumu?"

"Sangat."

"Sini." Mello menepuk pundaknya. Matt menatapnya heran. "Rebahkanlah kepalamu di sini. Mungkin itu dapat mengurangi bebanmu." Lanjut Mello. Matt menatapnya sekilas, lalu tiba-tiba Matt memeluknya erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Mello. Mello kaget karena dipeluk tiba-tiba.

"Biarkan begini. Biarkan aku memelukmu lebih lama." Ujar Matt tanpa melepas pelukannya. Lalu Mello pun membalas pelukan Matt. Entah berapa lama pelukan itu berlangsung. Tiba-tiba terdengar suara Near.

"KAK…AKU BERHASIL..AKU BERHASIL..CIHUIII..!!!" seru Near sambil berlari dan melompat kegirangan ke arah Mett dan Mello.

Benda apa yang telah dirampungkan Near?

Dapatkah benda itu mengatasi masalah Matt dan Mello?

Temukan jawabannya di episode selanjutnya.

TBC

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Pokoknya ripyuuuuu…….