Chapter 3 : Fifty Shades of Sehun
.
.
Entah perasaan Sehun saja atau Jongin memang sedang menghindarinya.
Pria itu berusaha keras untuk menghindari segala kontak fisik maupun kontak mata darinya. Bahkan, terkadang Jongin terlihat seperti melarikan diri darinya, yang tentunya terlihat super konyol karena hello, dia atasan sekaligus bosnya. Sehun tidak paham akan hal apa yang mampu membuat Jongin tiba-tiba menjadi anti nomor satunya. Padahal, jika dilihat dari kejadian kemarinnya, harusnya dialah yang berada di posisi Jongin. Seharusnya, dialah yang marah karena damn, tamparan pria itu lumayan juga.
Selama seharian ini, tidak ada meeting atau acara yang mesti dihadirinya, jadi bisa dibilang ini hari bebas Sehun. Di dalam kantornya ada satu sofa panjang yang selalu ia jadikan ranjang keduanya (entah untuk tidur atau untuk, uhuk, seks). Sofa itu cukup nyaman sehingga terkadang Sehun lebih sering menghabiskan waktu bebasnya untuk tidur di sana daripada pergi keluar. Selain itu, tidur adalah salah satu bakat naturalnya.
Sehun melepaskan ikatan dasi dari kerah kemejanya. Ia melepas jas kantornya dan melemparnya ke lantai. Well, ini semua adalah punyanya. Jadi, terserah dirinya ingin melakukan apa. Sehun menaruh dasinya di atas meja nakas, lalu berbaring di atas sofanya. Ia mulai memejamkan matanya serta mencoba untuk lebih relax.
Namun, berkat suara bantingan pintu dan suara derap langkah yang dilebih-lebihkan. Mata Sehun kembali terbuka. Ia menggeram kesal seraya bangkit dari posisi berbaringnya. Punggungnya masih terasa pegal dan sesungguhnya, dia juga tidak rela meninggalkan sofa kesayangannya. Sehun bersandar pada sofa dengan wajah murung. Matanya mendelik tajam ke arah Jongin yang malah terlihat lebih kesal padanya.
"Kemarin malam, kau ada dimana?" tatapan tajam, yang terlihat sangaatt menghakiminya, membuat Sehun semakin jengkel. Anyways, sejak kapan juga Jongin tertarik dengan aktivitasnya di malam hari?
"Bukan urusanmu." tukas Sehun. Pria itu melirik ke arah lain.
Mata Jongin memicing tajam. Ia maju beberapa langkah sampai kakinya nyaris menabrak meja nakas yang membatasi dirinya dengan Sehun. "Tentu saja itu urusanku. Karena aku ini asisten pribadimu dan kau tidak datang ke acara amal itu!"
"Acara amal?"
"Iya! Yang kemarin kuberitahukan padamu. Ingat tentang wartawan jalang bernama Clara Lee yang selalu memaksa ingin mewawancaraimu?" jujur saja, Sehun tidak ingat. Namun, dari cara Jongin menyebutkan nama wanita itu.. tampaknya dia benar-benar jalang.
Sehun mengangkat bahu. Ia tidak mau membuat Jongin mengeluarkan tanduk dikepalanya dengan memberikan jawaban jujur.. yang terkesan bodoh. Jongin menghela nafas, merasa hopeless tiba-tiba. Ia beranjak mendekati Sehun dan menjatuhkan diri ke sampingnya. Jongin terlihat lelah. Itu bukan hal yang sulit untuk disadarinya.
"Clara Lee memiliki reputasi yang kurang bagus, Sehun. Dia bisa saja menyerang dirimu lewat pertanyaannya. Atau-" Jongin memenggal kalimatnya. Sorot matanya menunjukkan kalau dirinya sendiri pun tidak memercayai Sehun dalam hal ini. "-menggunakan tubuhnya untuk menjebakmu. Mengingat, betapa mudahnya kau tertarik dengan wanita seksi."
Alis Sehun menaik sebelah. "Dia seksi?"
Nah, ini.. alasan mengapa Jongin sendiri tidak memercayainya. Pria itu mengayunkan kepalanya ke belakang seraya menghela nafas. Mata Sehun sejenak terpaku pada dirinya. "Ya. Tapi, dia jalang."
Sehun memutar matanya. Memang ada wanita yang tidak Jongin anggap jalang? "Bagaimana kalau kau ikut saja denganku?"
Jongin berbalik menatapnya. Tanpa ada keraguan, ia menganggukkan kepalanya dengan yakin, seolah ia sudah tahu kalau Sehun akan mengajaknya. "Itu ide yang sangat bagus, Sehun. Aku bisa menahanmu untuk tidak meniduri wanita jalang itu."
Sehun menggeram frustasi. "Aku tidak serendah itu, Jongin."
Rasanya, Jongin ingin tertawa sarkastis persis di hadapan Sehun sebagai pembuktian kalau pria itu memang serendah yang dirinya sangkal. Namun, sadar akan posisinya yang berada jauh di bawah Sehun. Jongin langsung mengurungkan niatnya. Pria itu mulai memijat pelipis matanya, merasa pusing tiba-tiba.
"Jadi, kapan dia akan mewawancaraiku?" tanya Sehun penasaran.
Pening yang menyerang kepala Jongin terasa semakin parah. Ia menghela nafas dengan lemah. "Malam ini." dan jawaban singkatnya itu berhasil membuat geraman frustasi kembali terlontar keluar dari Sehun.
"Apa tidak bisa besok saja?" Sehun merengek. Wajah memelas serta suara rengekkannya yang terdengar menyebalkan membuat kepala Jongin terasa akan meledak.
Sambil (masih) memijat pelipis matanya, Jongin mendelik tajam ke arah Sehun. "Kenapa? Kau ada janji dengan salah satu pelacur model-mu?"
"Ouch," Sehun meringis. Mood Jongin yang benar-benar sulit ditebaknya hari ini membuat dirinya merasa aneh. "diotakku bukan hanya ada seks saja, Jongin."
Namun, tangannya entah sejak kapan berada di atas paha Jongin, menyentuhnya dengan lembut dan sesekali meremasnya. Sorot mata Jongin semakin menajam menunjukkan rasa tidak nyamannya terhadap tindakan Sehun. "Tindakanmu berkata lain, Jerk." Jongin sengaja menekankan kata-kata terakhir.
Sehun hanya menanggapi makiannya dengan tawa keras. Ia tahu kalau Jongin bukan tipikal orang yang mudah termakan oleh rayuannya. Dan jujur saja, itulah yang membuat Sehun semakin tertarik untuk memenangkan taruhannya dengan Cara. Bukan hanya dia mendapatkan gadis paling cantik New York sebagai budak seks-nya, tetapi ia juga berhasil menaklukan seseorang seperti Kim Jongin yang sangat anti dengan yang namanya one night stand. Sehun tahu kalau seharusnya ia tidak menerima taruhan ini. Karena taruhan ini bukan hanya tentang obsesi seks-nya terhadap Cara, melainkan melibatkan Jongin dan perasaan pria itu. Sehun yakin diakhir taruhan ini, pastilah bukan dirinya atau Cara yang berakhir terluka.
"Hei, Sehun." tiba-tiba saja, Jongin mendekatkan dirinya pada Sehun. Sehun membeku tidak tahu harus bereaksi apa. Kedua tangan Jongin berpindah pada dasinya. Mata pria itu tampak fokus pada dasi Sehun yang berantakan. Jongin membenarkan ikatan dan letak dasi itu, tanpa menyadari tatapan Sehun yang tidak sedetik pun berpindah darinya. "Nah, selesai."
Ketika pria itu hendak menjauhkan dirinya dari Sehun, Sehun menahan tangannya hingga membuat Jongin beralih menatapnya. Jarak di antara mereka cukup dekat. Jongin dapat melihat keseriusan diwajah Sehun yang jarang dilihatnya, tidak ada lagi senyum jahil atau seringai menyebalkan. Hal itu tentu saja membuat Jongin gugup. Ini adalah kedua kalinya Sehun berhasil membuat lututnya terasa lemas dan jantungnya nyaris melonjak keluar. Kedengaran berlebihan memang. Namun, beginilah jadinya jika ia tidak pernah berkencan selama dua tahun terakhir ini. Segala macam sentuhan ringan dari pria, yang oke ia akui cukup hot, membuat dirinya.. menginginkan lebih.
Sementara itu, Sehun hanya terdiam mengamati wajahnya, memperhatikan bola matanya yang bergerak gusar atau kebiasaannya yang suka menggigit bibir setiap ia merasa gelisah atau gugup. Saat Sehun melepaskan dirinya, Jongin langsung menjauhkan dirinya dan bangkit berdiri. Ia menatap Sehun sekilas berusaha memasang wajah garangnya, yang tentu saja berakhir gagal.
"Setelah jam kantor selesai, kita langsung ke Ritz Calton. Clara menunggu di sana." kata Jongin. Ia menjaga suaranya agar tetap terdengar profesional. Sehun hanya mengangguk, mengatupkan rapat bibirnya. Matanya tidak berhenti mengikuti Jongin yang melangkah menuju pintu ruang kantornya. Ketika tangan Jongin berada dikenop pintu, pria itu berbalik menghadap Sehun dengan wajah serius. Apapun yang dikatakannya setelah ini, Sehun yakin ia tidak sekedar menggertaknya saja. "Meskipun aku gay, bukan berarti.. aku akan tertarik dengan semua pria di bumi ini, termasuk dirimu."
Sehun memejamkan matanya. Ia tidak tahu mengapa, namun kata-kata Jongin cukup menyayat hatinya. Dan kemudian, suara bantingan pintu terdengar. Ketika Sehun membuka matanya, ia merasa.. kalau permainan ini tidak akan semudah yang dirinya bayangkan.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat hari ini. Jam di meja Jongin menunjukkan pukul 5 sore yang artinya jam pulang kantor. Jongin mematikan komputer kantor dan memasukkan laptopnya kr dalam tas. Beberapa saat kemudian, Sehun berjalan keluar dari balik pintu kantornya. Matanya langsung tertuju pada Jongin yang baru saja bangkit berdiri dengan tas laptop ditangan kanannya.
"Kau mau menggunakan jasa supir atau-"
"Tidak perlu. Lagipula, jarak antara kantor kita dengan hotel R.C tidak begitu jauh." potong Sehun seraya menunjukkan senyum simpulnya.
Jongin hanya menggumam dan matanya sengaja menghindari wajah Sehun. Mereka berjalan bersama menuju lift, namun sebisa mungkin Jongin menghindarinya seperti tadi pagi. Di dalam lift, Sehun bertemu beberapa karyawannya yang berusaha untuk mengobrol dengannya atau sekedar memberi sapaan. Ada dua orang karyawan wanita seusianya yang tampak menginginkan dirinya lebih dari mengobrol saja. Namun, Sehun menolak godaan mereka berdua karena he doesn't fuck his own employees.
Jongin semakin menyudutkan dirinya. Ia tidak tahan mendengarkan suara manja dari dua orang gadis itu. Kalau semua perempuan di dunia jenisnya seperti ini, tidak aneh kalau banyak laki-laki yang memilih menjadi gay. Jongin berusaha menahan tawa karena pemikirannya sendiri. Ketika mereka sampai di lantai dasar, Jongin sengaja menabrak bahu salah satu gadis itu dari belakang membuat gadis itu terkejut. Sehun yang melihat tindakannya hanya menyeringai.
Ia berjalan menyusul Jongin yang tersenyum puas. "Dasar." bisik Sehun sambil mencubit hidungnya.
Jongin yang kaget langsung mendelik tajam pada Sehun. "Apa?" tanya Sehun dengan tampang polos. Lantas, tertawa keras dan melepaskan cubitannya pada hidung Jongin. "Kau lucu."
Okay. What the fuck? Jongin menatapnya dengan bingung, namun tidak berani menyuarakan apa yang ada dipikirannya sekarang. Salah seorang anak buah Sehun sudah menyiapkan mobilnya di depan gerbang lobby kantor. Ia memberikan kunci mobil pada Sehun dan kemudian, membukakan pintu untuknya. Namun, tidak untuk Jongin. Jongin memutar matanya, berjalan menuju sisi kiri mobil. Ia sengaja tidak segera masuk ke dalam mobil untuk memelototi anak buah Sehun, yang membalasnya dengan dengusan jengkel.
"Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengan Clara Lee." Yep, lagi-lagi Oh Sehun merengek padanya.
"Blablablabla, aku tidak dengar!" Jongin menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Ia sengaja menatap lurus ke depan mobil, mengabaikan kerutan dikening Sehun.
"Heh, dasar bocah." tukas Sehun seraya menyalakan mesin mobil.
Merasa tersinggung oleh kata-kata Sehun, Jongin langsung berbalik menghadapnya. "Katamu aku lucu?"
"Hah? Kapan aku bilang begitu?" Sehun menyeringai saat melihat wajah Jongin yang memerah karena malu yang bercampur dengan amarah.
"Fuck you, Oh Sehun."
"Oh, no. I am the one who will fuck you, Dear."
Jongin langsung membalasnya dengan ekspresi serta suara pura-pura tersedak. Kata-kata Sehun barusan berhasil membuatnya semakin merasa jijik pada bosnya itu. Dan Jongin pikir ini adalah pertanda yang bagus. Ia jelas mendukung perasaannya yang seperti ini daripada perasaan anehnya kemarin malam. Stupid crush, sungut Jongin dalam hatinya.
Selama perjalanan menuju Ritz Calton, Sehun tidak berhenti menggoda Jongin dengan rayuan chessy yang selalu mendapat respon jari tengah atau gumaman eww dari Jongin. Sekitar setengah jam kemudian, mereka sampai di hotel tersebut. Jam di Iphone Jongin menunjukkan pukul 06.10, pantas saja langit senja mulai berubah menggelap. Sehun memarkirkan mobilnya di daerah VIP dengan alasan yang sama seperti sebelumnya. ("Aku tidak punya waktu untuk mencari parkiran. Lagipula, mobilku ini terlalu keren kalau berada di parkiran biasa." Jongin hanya memutar matanya saja, enggan berkomentar)
Setelah mendata mobilnya pada penjaga parkiran VIP hotel tersebut, Sehun berjalan masuk melewati gerbang pintu hotel menuju ke dalam lobby. Jongin menatap ke sekelilingnya mendapati tamu-tamu dari kalangan elit berjalan keluar-masuk hotel. Matanya bergerak mengikuti wanita paruh baya yang menggandeng pria seusianya. Wanita itu jelas kelihatan seperti penghuni daerah elit di Gangnam jika dilihat dari perhiasaan yang berada nyaris diseluruh tubuhnya. Tapi, tetap saja.. ewww.
Sehun yang berdiri di sampingnya, mengikuti arah mata Jongin, dan.. wajahnya langsung berubah horor. Ia langsung menarik Jongin mendekat padanya membuat pria itu menggeram kesal. Sebelum Jongin sempat membuka mulutnya untuk protes, Sehun langsung mendahuluinya. "Kita tidak punya waktu banyak. Clara janjian bertemu dimana?" mata Jongin sempat melirik wanita itu lagi, namun cengkraman Sehun pada pergelangan tangannya membuat ia beralih menatap Sehun kesal.
"Di restoran, letaknya di lantai dasar." jawabnya dengan suara datar. Ia tampak berusaha mengimbangi tatapan dingin Sehun yang malah berbalik membuatnya takut.
Goddamn it, harusnya ia yang marah pada Sehun sekarang ini. Tapi, mengapa pria itu malah kelihatan lebih kesal darinya?
Ini bukan pertama kalinya Sehun ke Ritz Calton, sehingga tanpa arahan Jongin dia langsung berjalan cepat menuju restoran yang berada tidak jauh dari lobby utama. Tangannya masih mencengkram pergelangan tangannya, meski tidak seerat sebelumnya. Jongin hanya terdiam, berharap ia bisa cepat-cepat melepaskan diri dari pria yang pantas disamakan dengan Mr. Grey ini, karena mood swing-nya yang parah. Area restoran dijaga oleh dua pelayan bersetelan resmi. Salah satu dari mereka berjaga dibalik meja.
"Clara Lee." kata Sehun.
Pelayan yang bertugas dibalik meja itu mencari nama Clara di dalam buku tamu. Setelah menemukannya, ia tersenyum sopan pada Sehun dan Jongin. Sementara, pelayan yang satunya lagi mendekatkan diri pada mereka. "Mari saya antar."
Mereka berdua mengikuti pelayan itu masuk ke dalam restoran. Kapasitas restoran elit milik hotel bintang lima ini memang tidak banyak, hanya untuk sekitar empat puluh orang. Sehingga, tamu yang akan datang harus memesan tempat terlebih dahulu. Pelayan itu mengantar mereka berdua ke bagian VIP. Bagian VIP dan reguler tentu berbeda; bagian reguler lebih seperti restoran elit biasa, sementara VIP lebih mengutamakan privasi pengunjung dan terdapat bar sendiri.
Seorang wanita cantik dengan paras Asia tersenyum ke arah mereka. Pelayan itu berhenti di depan meja wanita itu menunjukkan kalau dia-lah Clara Lee. Tanpa dirinya sadari, ia menjilat bibirnya sendiri. "Uhuk, jalan, uhuk." Sehun melirik sekilas pada Jongin, sebelum melepaskan tangannya.
Clara bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Sehun. "Finally, It's a pleasure to meet you." Clara tersenyum manis padanya.
Sehun menggenggam tangan Clara dengan lembut, berbeda dengan perlakuannya terhadap Jongin. Ia merendahkan dirinya dan mencium punggung tangan wanita itu. "The pleasure is mine, Love."
Mereka saling pandang dan melempar senyum. Jongin sengaja mendengus keras, namun tidak ada yang menghiraukannya. Mendadak, seorang laki-laki bernama Kim Jongin terhapuskan dari dunia ini. Dengan wajah murung, Jongin berkata pada Sehun. "Aku, umm, menunggu di bar saja." Sehun hanya menggumaman, bahkan tidak menoleh padanya.
Well, benar kan, ia memang tidak akan pernah bisa memercayai Oh Sehun.
.
.
Wawancara dengan Clara berjalan dengan lancar.. sejauh ini. Wanita itu menanyakan banyak hal tentang karier serta progress perusahaannya selama beberapa tahun terakhir ini. Sehun menjawab seluruh pertanyaan Clara dengan santai dan sesekali melontarkan rayuan yang tidak lebih dari sekedar candaan.
Clara mulai masuk ke dalam kehidupan pribadinya serta bahkan mulai menerka-nerka tentang kehidupan asmaranya juga. Ada beberapa pertanyaan dari Clara yang membuat Sehun merasa tidak nyaman. Hingga, Clara semakin menekan Sehun dengan satu pertanyaan mengenai ibunya.
"Apa yang ibumu lakukan di sini? Aku melihatnya tadi di sekitar restoran." pancing Clara. Wanita itu sekilas menyeringai dibalik senyuman ramahnya.
"No comment."
"Oh Sehun, kau tahu kalau cepat atau lambat media akan tahu semuanya." kata Clara, menekankan dikata terakhirnya.
Sehun bangkit berdiri, tangannya mengepal erat dan nafasnya terasa sesak. Ia tampak sangat marah sampai telinganya terlihat memerah. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung meninggalkan Clara, berjalan menuju bar VIP. Clara sudah menduga kalau respon Sehun akan seperti ini. Wanita itu menekan tombol off pada tape recoder-nya, lalu menenggak segelas martini di atas meja.
Mata Sehun menatap lurus pada sosok Jongin yang tergeletak tak berdaya di atas meja bar. Di sekitar pria itu terdapat dua botol wine yang sudah kosong. "Masukkan tagihannya atas nama Clara Lee." ujar Sehun kepada bartender, yang baru saja akan memanggil atasannya.
Sehun mengangkat satu tangan Jongin dan mengalungkan pada bahunya. Ia menopang tubuh Jongin yang sudah lemas dan mungkin saja pria itu sudah tidak sadarkan diri. Sehun menggeram kesal merasa Jongin amat menyusahkan dirinya. Pria itu masih menopang Jongin sampai dirinya berada di lobby utama, tepatnya di depan meja resepsionis hotel. Ia memutuskan untuk memesan satu kamar.
"Dan, uhh, tolong siapapun antarkan orang ini ke kamarku. Nanti aku bayar dengan harga satu porsi makan malam di restoran hotel ini." ujarnya tidak main-main.
Tanpa Sehun sadari, Jongin yang masih tidak sadarkan diri menyeringai lebar.
.
.
Rin's note :
Don't know why, I am in love with Jongin's chara.. he is just.. ughh i love this sneaky bastard lol
Sorry for late update.. aku, lagi-lagi, ngestuck hiks
