A/N:
For Guest-san: Thanks for your review. It's my honor to know your opinion. For now, I just write in Indonesian. My English isn't that good, I still try to improve my English skill. In the future I want to write in English as well, I really do.
But for now, I just can say that I am so sorry.

.

.

.

.

.

Sebenarnya 80% orang mengalami cinta pada pandangan pertama. Fuji tidak pernah mengira bahwa kalimat yang pernah diucapkan Yumiko itu membuatnya memikirkan kembali pertemuan awalnya dengan Tezuka.

Terasa sudah sangat lama sekaligus baru kemarin terjadi. Mereka bertemu tanpa pesta dansa, istana ataupun musik waltz. Bukan tentang Pangeran yang mengajak Tuan Putri berdansa sampai lewat tengah malam. Cerita yang tidak akan ada di buku dongeng manapun ─walau sebenarnya Fuji selalu ingin memakaikan kostum pangeran pada Tezuka kemudian memotretnya untuk dijadikan koleksi. Sungguh, Fuji tidak pernah keberatan untuk memakai gaun dengan hiasan pita dan renda-renda cantik untuk dapat jadi pasangan Tezuka saat pesta Halloween diadakan. Fuji bahkan sudah bisa membayangkan bagaimana Tezuka akan bereaksi, bagaimana dia membetulkan letak kacamatanya dan mengalihkan pandangan karena salah tingkah saat Fuji bertanya, "Apa aku terlihat cantik?"

Beberapa hal yang sangat Fuji ingat soal pertemuan mereka, bahkan dengan sangat mendetail, adalah tentang Tezuka yang terlalu taat pada peraturan. Dulu atau sekarang, sifat itu belum berubah. Fuji memperhatikan Tezuka sejak hari pertama mereka masuk klub tenis. Suara lantangnya saat menyebutkan nama ketika perkenalan anggota membuat Fuji ingin menoleh ke arahnya. Kemudian dia melihatnya, sepasang mata hazel dengan sorot yang teguh walau terbingkai lensa kacamata. Setelah itu seluruh dunia yang Fuji miliki serasa tertarik ke sekitar pemuda itu, kapanpun dan dimanapun saat mereka ada bersama dalam jangkauan yang bisa dilihat. Fuji adalah orang pertama yang berani menyapanya terlebih dulu. Tidak ada rasa gugup atau ragu.

Saat itu menjelang sore hari ketika kelopak bunga sakura masih berjatuhan ke atas court, Fuji menghampirinya dengan seulas senyum.

Fuji tidak pernah tahu bahwa dirinya bisa begitu keras kepala untuk tetap terus menempel pada seseorang. Fuji tahu banyak hal tentangnya hanya dengan mengamati. Tentang Tezuka yang sebenarnya seorang kidal, tentang Tezuka yang sebenarnya agak kikuk saat berhadapan dengan orang lain, atau tentang Tezuka yang sangat menyukai sejarah dunia dan sastra klasik. Fuji menjadi teman bertukar buku bacaan bagi Tezuka, mereka mempunyai selera yang sama. Mereka tidak keberatan menghabiskan waktu dalam diam dan masing-masing saling membaca buku di perpustakaan kota saat akhir pekan. Fuji menjadi teman latihan yang siap melawannya dalam tenis kapanpun Tezuka meneleponnya. Dan Tezuka menjadi orang pertama yang mengetahui masalahnya dengan Yuuta.

Siapapun yang melihat mereka akan yakin keduanya sama sekali tak butuh kata-kata untuk berkomunikasi ─bahwa mereka bisa membaca pikiran masing-masing. Tezuka dan Fuji seakan-akan berbicara dengan pandangan mata, Fuji akan tersenyum dan Tezuka akan membalasnya dengan sebuah angukan singkat.

Dan ketika Tezuka berbagi mimpinya tentang kejuaraan nasional, Fuji tahu bahwa Tezuka sama sekali tidak merasa terganggu dengan keberadaannya. Mengijinkan Fuji untuk berada di sampingnya.

.

.

.

.

.

Prince of Tennis © Takeshi Konomi

Decide

Chapter 3

By Chiiuu

TezukaFuji, BoysLove, ShounenAi, Yaoi, BoyxBoy, Romance, Drama, Hurt/Comfort

.

.

.

.

.

"Aku belum mendapatkannya."

"Hm?" Fuji menoleh ke belakang, tepat ke arah Tezuka yang duduk di pinggir ranjang. Gerakan tangannya yang sedang mencari baju ganti di lemari pakaian terhenti sementara. Pemuda berambut coklat madu itu berkedip satu kali, mengira-ngira apa yang dimaksud Tezuka di perkataannya tadi.

Tezuka menatap orgel pemberiannya yang entah sejak kapan sudah berpindah tempat ke atas buffet di samping ranjang, ditaruh berdampingan dengan lampu tidur dan handphone milik Fuji yang dibiarkan dalam keadaan turn-off. Dan Fuji langsung mengerti apa yang Tezuka bicarakan.

"Ah, soal itu…" kata Fuji sambil menutup lemari kemudian berjalan mendekat ke arah Tezuka. Dia duduk di sampingnya. Suara Fuji terdengar di keheningan malam, lembut seperti biasa. "Tidak apa-apa. Kau tidak perlu terlalu serius. Aku bahkan sudah merasa senang untuk apa yang akan Eiji berikan pada ulangtahunku nanti."

Fuji tidak bisa menahan kekehannya kalau mengingat soal itu. Ketika Oishi dan Tezuka pergi berkeliling mencari hadiah untuknya, Eiji malah dengan sengaja memamerkan hadiah apa yang akan dia berikan nanti. Eiji berkata dengan penuh semangat, "Lihat! Ini hadiah untukmu nanti, nyan! Tunggu seminggu lagi dan kau bisa mencobanya." Dan Fuji masih merasa terhibur mengingat bagaimana wajah tidak habis pikir yang ditunjukkan Echizen ketika melihat kelakuan senpai-nya yang satu itu. Orang mana yang sengaja memamerkan hadiah ulangtahun yang harusnya jadi kejutan?

Sambil duduk berdampingan, Fuji bicara banyak hal. Kesan tentang makanan yang mereka makan tadi atau tentang film yang mereka tonton bersama. Memang hanya lima orang yang bisa ikut berkumpul, tapi Fuji sudah merasa senang. Masa-masa seperti itu selalu membuatnya merasa bahwa tidak ada yang bisa merubah mereka. Mereka masih sama seperti masa SMP dulu.

Tezuka tidak juga menanggapi omongannya, tapi Fuji tahu bahwa Tezuka menyimak semuanya dengan serius. Sama seperti setiap sore yang mereka lewati bersama saat dulu, ketika Tezuka dan Fuji menapaki jalan pulang beriringan sampai mereka berpisah di persimpangan jalan. Fuji akan bicara banyak hal, tentang bagaimana kemajuan yang dibuat teman-teman satu timnya, tentang bagaimana Eiji dan Momo menjahili Echizen, tentang apa saja yang Oishi khawatirkan atau bagaimana Fuji menggoda Tezuka hanya karena wajahnya yang minim ekspresi. Saat-saat penuh kebersamaan yang seakan tanpa beban. Tidak ada yang mereka pikirkan selain tentang berusaha keras membawa tim mereka memenangkan kejuaraan nasional. Impian Tezuka yang kemudian menjadi impian mereka bersama. Saat itu mereka merasa puas hanya dengan membahas hal-hal seputar mimpi di masa mendatang.

Tapi jauh di pikirannya, Fuji tahu bahwa mereka tidak akan bisa kembali ke masa itu. Mereka mungkin tidak berubah, tapi keduanya sama-sama sadar kalau waktu dan keadaan tetap berjalan maju ─tidak peduli mereka siap ataupun tidak. Situasi dan waktu lah yang mengubah keadaan mereka. Ketika mimpi-mimpi mereka saat itu sudah terwujud, kemenangan tim mereka, Tezuka dengan karir tenisnya yang sekarang dan Fuji dengan pekerjaan yang diidamkannya, mimpi seperti apa lagi yang bisa mereka bahas saat ini?

Mimpi seperti apa lagi yang ingin mereka bagi dan capai bersama?

Fuji berhenti bicara ketika pertanyaan itu muncul di benaknya. Lidahnya terasa kelu. Tidak ada lagi yang tersisa untuk dibicarakan, kecuali satu hal yang sengaja mereka anggap tidak ada. Satu hal yang mereka sama-sama tahu. Hal yang mereka hindari untuk diungkit.

"Fuji…"

Fuji menggigit bibir bawahnya saat mendengar suara itu menyebut namanya, bukan untuk menahan tangis. Fuji tidak akan menangis lagi. Hanya sekedar untuk membuat bibirnya berhenti bergetar dan bisa menampakkan senyumnya seperti biasa.

"Ya?" Fuji mendongak, balas menatap sepasang mata hazel itu. Sepasang mata yang membuatnya tertarik sejak pertama kali melihatnya. Dengan perasaan seperti apapun yang sedang dialami Fuji, tatapan Tezuka tidak pernah membuatnya takut. Sorot mata yang membuatnya rela terpenjara dan membuat dunianya hanya berputar disekitar pemuda kaku itu seorang. Kurva manis menghiasi bibirnya, Fuji berhasil tersenyum.

Mata mereka bertemu. Satu pandangan dan Fuji sudah tahu apa yang dipikirkan Tezuka. Tezuka tidak pernah bosan untuk terkejut soal itu. Matanya teralih, memutus kontak dengan sepasang azure di hadapannya. Meraka diam beberapa saat, memandang keluar dari jendela yang gordennya sengaja tidak ditutup. Mereka bahkan sama sekali tidak terkesima dengan gemerlap kota yang dipenuhi cahaya, tenggelam dalam pikirin masing-masing.

"Maaf."

"Aku tahu, Tezuka." kata Fuji lirih tapi selalu bisa menyembunyikan emosinya. "Kau tidak akan pernah berbohong padaku."

Mengetahui kebenaran langsung dari orang yang bersangkutan memang terasa lebih baik. Fuji tahu Tezuka. Fuji tahu dia hanya perlu menunggu sampai waktunya Tezuka mengatakan sesuatu soal pertunangannya. Mau tidak mau Fuji jadi tersenyum mengingatnya. Tezukanya memang pemuda yang sangat lurus. Dulu, sekarang, ataupun nanti.

Perlahan Fuji menggerakkan tangannya, menyentuh bagian samping wajah Tezuka. Membelai pipi dan merasakan bentuk rahangnya yang kuat dengan ujung-ujung jarinya. Tezuka tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali memandang pemuda di sampingnya. Mereka kembali berpandangan, membiarkan tiap kata yang ingin mereka katakan keluar dalam bisu.

"Aku bisa memberitahumu apa yang bisa kau lakukan untuk ulangtahunku nanti." Fuji berbisik pelan di dekat telinga Tezuka. Harusnya tanpa diberitahu pun Tezuka tahu apa yang bisa dia berikan, sesuatu yang jauh lebih berarti dibanding hadiah yang bisa ditemukan di toko manapun.

Tezuka bukan tidak mau. Dia tidak bisa. Fuji sudah terlalu mengerti dirinya. Fuji tahu bahwa Tezuka merasakan hal yang sama dengannya. Perasaan yang sama.

Tapi Tezuka punya terlalu banyak hal untuk dijadikan pertimbangan.

"Bernyanyilah. Lagu ulangtahun." Bukan hal yang sebenarnya paling Fuji inginkan. Kalau memang sesuatu yang diinginkan Fuji adalah hal yang mustahil diwujudkan, dia akan meminta hal lain yang bisa Tezuka berikan. Satu nyanyian bukan hal yang mustahil. Tezuka masih menanggapi dengan tatapannya yang kali ini pun tidak membuat Fuji takut, dia tidak menanggapi sampai tawa ringan Fuji terdengar di ruangan itu.

"Aku hanya bercanda." katanya. Dia menjauhkan tubuh dari Tezuka dan bangkit dari duduknya. Dengan membawa baju ganti yang sudah dia siapkan, Fuji berjalan menjauh.

Saat Tezuka mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup, pemuda berkacamata itu baru bisa menghela napas.

.

.

.

.

.

Setiap Fuji menutup mata, yang dia lihat adalah sosok Tezuka. Kemudian gambaran lain akan menyusul. Lapangan tenis Seishun Gakuen yang dipenuhi suara pantulan bola dan permukaan court yang selalu Fuji bersihkan setiap kali dia membantu Tezuka semasa kelas satu dulu. Sinar matahari sore yang mengenai permukaan wajahnya saat dia masih menggerakkan tubuh untuk memunguti bola tenis yang berceceran. Ruangan klub dengan satu kursi panjang yang letaknya tidak pernah berubah, tempat di mana Tezuka akan bicara tentang rasa sukanya terhadap tenis, kekagumannya pada Yamato-buchou dan tentang tekadnya untuk memenangkan kejuaraan nasional. Perpustakaan dengan penghangat ruangan di musim dingin dan buku-buku tebal berbahasa asing, dan jalan pulang yang permukaan aspalnya akan dihiasi daun momiji saat musim gugur.

Setiap Fuji menutup mata, dia akan teringat ciuman pertamanya dengan Tezuka. Fuji akan melihat ranjangnya yang dulu, dengan selimut biru yang nyaman dan bantal-bantal empuk berwarna senada. Kamar yang tidak terlalu luas, dengan selimut biru putih bermotif kotak-kotak yang dibentangkan dan diselipkan di sisi ranjang, dan beberapa buku hard cover yang ada di kolongnya. Fuji ingat ranjang itu ─bagaimana tempat itu menjadi tempat tidur Tezuka saat dia menginap di rumah orang lain untuk pertama kalinya, tempat mereka berbagi ciuman seperti tidak akan ada hari esok sekaligus tempat mereka untuk hanya bergandengan tangan sampai pagi hari datang menyambut. Fuji ingat menghabiskan waktu berjam-jam pada akhir pekan dengan alasan tugas sekolah, duduk bersila bersama Tezuka di ujung ranjang, beragam buku pelajaran dan wadah berisi es krim yang kebanyakan akan meleleh karena terlupakan. Membicarakan tenis, sekolah, masa depan, dan bagaimana kehidupan mereka nanti. Dan Fuji ingin kembali ke sana, sangat ingin kembali,sebelum keadaan berubah, sebelum kepergian Tezuka ke Jerman dan sebelum mereka dibebani sesuatu bernama kenyataan. Sebelum Fuji mengetahui akhirnya.

Setiap Fuji menutup mata, dia akan mengingat semuanya dari awal. Sepeti rekaman film yang diputar berulang-ulang. Fuji akan lebih mengingatnya saat memutar orgel pemberian Tezuka, kemudian tertidur dengan helaian rambut yang bahkan belum kering sepenuhnya.

.

.

.

.

.

Ciuman pertama mereka terjadi di tahun kedua, ketika mereka berusia 13 tahun. Tezuka yang memulai. Yang Tezuka ingat ─sampai bertahun-tahun kemudian pun─ Fuji sangat suka pura-pura tertidur saat Tezuka selesai mandi dan masuk ke kamarnya. Fuji akan menutup mata dan menunggu. Tezuka terkadang akan langsung menyentuh pipinya, kemudian mencium bibir Fuji dengan lembut. Fuji akan terbangun, tersenyum dan berkata penuh kemenangan dengan sorot mata menggoda, "Kau menciumku…" katanya setengah berbisik. Atau ada kalanya Tezuka mati-matian menahan diri untuk tidak menyentuh Fuji, menyibukkan diri dengan buku bacaan kemudian berusaha keras untuk dapat tidur sambil tidak memikirkan sesuatu yang lain. Itu tidak pernah berhasil. Fuji akan selalu bisa menggodanya, membuat Tezuka pada akhirnya pasti akan menyelipkan jemarinya ke bawah pakaian yang sedang Fuji kenakan ─bahkan walau malam itu hanya akan mereka habiskan dengan saling berbagi pelukan.

Tapi yang saat ini Tezuka yakini adalah Fuji tidak sedang berpura-pura. Tezuka berjalan dan mendudukkan diri tepat di samping Fuji yang tertidur sambil menggenggam orgel pemberiannya. Tezuka menutup orgel itu dan menaruhnya kembali ke atas buffet. Kemudian dia bertahan beberapa menit hanya untuk menatap wajah tidur pemuda bertubuh ramping itu.

Tezuka suka aroma tubuh Fuji, aroma parfumnya yang berbau honeysuckle dengan campuran aroma manis vanilla, aroma keringatnya yang segar, dan bau matahari yang dibawanya setelah latihan tenis. Tapi Tezuka juga suka wangi tubuh Fuji yang basah dan masih beraroma shampo dan sabun mandi. Ketika untuk pertama kalinya mereka berhubungan intim, tepat sehari sebelum keberangkatan Tezuka ke Jerman demi penyembuhan cideranya, Fuji mengajarkan Tezuka untuk tidak canggung, melakukannya dengan tenang dan posesif.

Bahkan ketika mereka bercinta, Fuji menguasai Tezuka dengan sewajarnya. Bibirnya memangut bibir Tezuka, lidahnya mempermainkan lidah Tezuka. Fuji memberitahu di mana dan bagaimana Tezuka harus menyentuhnya. Dan ketika Fuji naik ke atasnya sampai ia mencapai puncak, Tezuka hanya mengikuti permainan agar Fuji bisa mendapatkan kenikmatan darinya dan bersamanya. Bukan berarti Fuji tidak lembut dan tidak memberi Tezuka kenikmatan, tapi Fuji melakukannya demi kesenangannya. Bermain-main, sampai Tezuka belajar untuk mengambil alih kendali atasnya.

Dan hal itu terjadi kemudian. Tezuka mengambil alih dan bertahan dalam jangka waktu yang lama. Mereka masih muda. Ketika mereka sampai puncak, mereka akan tegang kembali setelahnya. Fuji suka untuk membiarkan Tezuka menguasai permainan. Saat Fuji berada di atas ataupun di bawahnya, Tezuka akan menatapnya, melihat ekspresi wajahnya yang hanya diketahui Tezuka seorang, dan memperhatikan gerakan mulut Fuji yang terbuka ─terengah dengan bibir yang basah dan memerah. Fuji akan menggerakkan lengannya, berusaha memeluk Tezuka dengan erat pada saat terakhir sambil mengeluarkan jeritan seperti isak tangis tak bernada. Jeritan yang kemudian selalu Tezuka nantikan dengan penuh hasrat ─entah dirinya sadar atau tidak. Setelah itu Fuji akan kelelahan dan jatuh tertidur di pelukannya.

"Apa kau hanya akan berakhir dengan mengelus rambutku?" Fuji terbangun, menatap Tezuka dengan kekehan pelan yang keluar dari mulutnya. Tezuka sedikit terkesiap dan refleks menjauhkan tangannya dari Fuji, menghentikan kegiatan yang bahkan tidak Tezuka ingat kapan dia memulainya. Tezuka tidak pernah tahu kapan dia mulai suka membelai rambut kecoklatan itu.

"Aku…" Tezuka tak tahu harus berkata apa, dia membiarkan kalimatnya menggantung. Bukan 'iya' tapi juga bukan 'tidak'. Sebelum Tezuka beranjak dari ranjang, lengan Fuji sudah melingkari pinggangnya.

"Tetap di sini."

Tezuka tidak bisa bergerak.

Fuji bangkit dari rebahannya, membuat pandangan mereka hampir sejajar. Azure bertemu hazel. Tezuka membiarkan dirinya terpaku. Tangan Fuji sudah terlepas darinya, tahu bahwa Tezuka sudah tidak akan pergi ke manapun.

"Apa yang tadi kau pikirkan?" tangan Fuji bergerak perlahan untuk menyentuh sesuatu yang menonjol di balik celana yang Tezuka kenakan. Tezuka sungguh tahu bahwa sebenarnya Fuji tidak perlu bertanya lagi. "Kau menegang…" kata Fuji pelan, nyaris berbisik. Tangannya terus mengelus pelan, membuat napas Tezuka memberat. Fuji memperlihatkan senyum kemenangannya. Dia bergerak lebih berani sampai akhirnya mendudukkan diri di pangkuan Tezuka. Dengan tubuh yang saling berhadapan, baik Tezuka maupun Fuji sadar bahwa itu adalah posisi favorit mereka. Fuji melingkarkan tangannya ke leher Tezuka, matanya menatap dengan emosi yang saat ini sama-sama mereka miliki. Rindu. Nafsu.

Fuji akan membiarkan semua berjalan sebagaimana mestinya, menyesal ataupun tidak di akhir cerita. Dan dia percaya bahwa Tezuka akan melakukan hal yang sama.

Setelah sekian lama tidak bertatap muka, Tezuka merasa takut : untuk menyentuhnya, untuk menciumnya. Tapi ketika mereka saling berpelukan sejenak, ketika Tezuka mencium aroma tubuh Fuji dan merasakan kehangatan serta kelembutan kulitnya, seketika semua berjalan dengan sendirinya. Tezuka menanggalkan tiap helai kain yang mereka kenakan, kemudian menjelajahi tubuh Fuji dengan tangan dan bibirnya. Bibir mereka bertemu. Tezuka telah berada di atas Fuji, menatap matanya sampai Fuji bisa merasakannya dan menutup mata rapat-rapat ─berusaha menguasai diri. Dan setelahnya Fuji menjerit keras sampai Tezuka harus membekap mulut Fuji dalam sebuah ciuman yang dalam.

Ketika mereka mengulangnya sampai berjam-jam kemudian, Tezuka menyadari sesuatu, bahwa jauh sejak dulu Fuji adalah gairahnya yang pertama.

.

.

.

[]

Apa seks, kita tidak tahu. Tetapi pasti menjadi semacam api, karena selalu berkomunikasi dengan rasa hangat. Dan ketika cahaya menjadi bersinar murni, maka kita merasakan keindahan.

-D H Lawrence

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku tahu ini terlambat, ulang tahun Fuji sudah terlewat dan aku masih berusaha menyelesaikan sisa 2 chapter. Aku masih menulisnya dan berusaha menyelesaikan sampai akhir minggu ini. Maaf dan terimakasih masih bersedia membaca FF ini. Maaf untuk typo yang pasti masih terselip, untuk diksi yang seadaanya, untuk gaya penceritaan yang nanggung, untuk cerita pasaran, dan untuk segala kekurangan yang masih ada di dalam tulisan amatirku.

Dan terimaksih juga untuk Lovely Orihime yang masih menyempatkan diri untuk meriview di chapter lalu.