W.A.R.N.I.N.G: Humanized, Shonen-ai, Slash, OOC, bahasa 'ngga nyambung, kata-kata 'indah' ala pelajar, mau bikin humor tapi garing kriuk kriuk, typos, dan EYD dengan gajenya.

Dapat mengakibatkan : iritasi pada mata, step di tempat, kejang-kejang, kesemutan, keseleo, encok, kurap dan kudis. Dua kali 24 jam harap lapor erte!

Note : Halo, maaf lamaaaa..aaa..aaa..aaaa banget apdetnya. Padahal saya sedang sibuk memerangi WB, Mana Ms. Word komputer eror pula.. *mundung* oke, ini ceritanya!

Dan beberapa program tv atau apalah namanya itu bukan punya saya, melainkan punya pemiliknya masing-masing.

Ga suka? Terus gue harus bilang "OH" gitu?

Mission 4, "'hiap 'ertugas!".

"KOWALSKI ADA DUA?!"

Rico dan Skipper sontak terkejut. Bagaimana tidak, harga tomat kembali melambung pemirsa!-eh oh salah. Ralat. Mereka berdua terkejut karena Kowalski mendadak menjadi dua buah(?) dengan paket(?) anak-anak.

"Uhuk," kedua Kowalski batuk bersamaan, dan sedikit bergerak.

"Kowalski, kau tidak apo-apa?!" panik Skipper.

"Tidak apa.." kata Kowalski yang ada di dekat Skipper.

"Dimana aku?" tanya Kowalski yang ada di dekat Rico. Mengingatkan author akan episode PoM yang dimana dengan bodohnya Kowalski menyemprotkan gas hilang ingatan ke wajahnya sendiri. Oke, sekarang author jadi ngakak guling-gulingan di lantai.

Skipper dan Rico hanya cengo melihat Kowalski(s). 'GUE KUDU NGAPAIN INI?!' batin mereka pun berkecamuk.

Penguins of Madagascar © Nickelodeon & Dreamworks

Madgascar © Dreamworks

Story by, _Miu_Aka-Lover_

High School story, and Humor.

Humanized

13+

Mereka pun terbangun dan saling bertatapan. Dalam waktu yang cukup lama ekspresi mereka berdua berubah, yang seakan mengatakan 'muka gue unyu ye..?' Dan terlihalah Author, Kameramen dan Narator yang sudah sawan stadium 4 akibat kenarsisan Kowalski.

"Eh, woi! El- Kalian kenapa?!" tanya Skipper.

"Entahlah," jawab Kowalski yang berada di dekat Rico. "Mungkin, efek dari zat yang tidak tepat.."

"Hm..." gumam Kowalski yang satunya lagi.

"Err, lalu Gimana cara kalian kembali menjadi satu?" tanya Skipper lagi. Kowalski(s) pun diam, terhening selama beberapa saat. Lima, empat, tiga dua, satu...

"HEPI NU YER!" Author pun megap-megap sambil bakar tabung gas elpiji yang 200 kilo ditemani kameramen yang lagi niup terompet tahun baru. Abaikan saja paragraf ini.

Kowalski yang satu mengusapkan jari jemari di dagunya, pose berfikir keras. Sedangkan Kowalski yang lain langsung mengambil peralatannya, dan mencoba mencampur zat-zat berwarna-warni yang ada di dalam tabung reaksi itu.

"ZBUM!" salah milih menyan(?) Kowalski yang dengan sontoloyonya mencampur-campur bahan kimia malah berkahir dengan menciptakan gas keunguan, entah gas dari zat apa itu.

Semua yang ada di dalam ruangan itu pun batuk-batuk, bengek lebih tepatnya. Dengan cepat Kowalski yang satu lagi(Author bingung memaparkan duo Kowalski ini) mendorong Kowalski yang salah mengambil menyan tadi hingga tersungkur kelantai. Dengan ini terjadilah perebutan tahta penguasa lab diantara mereka berdua.

"Hah, kalo begini mah didiemin juga balik sendiri.." Skipper asal bicara lalu keluar lab bersama Rico yang manggut-manggut gaje, tau gitu lebih baik Rico pura-pura budek aja tadi.

Beberapa puluh menit kemudian...

"BBHUMMN!" lagi-lagi suara ledakan terdengar dari lab Kowalski. Tapi, tidak ada reaksi dari teman sependeritaan Kowalski (hanya sependeritaan loh, jadi giliran pada ketiban rejeki langsung pada lupa ama yang lain). Kemana mereka?

"Groookkk..." Skipper sibuk dengan urusannya di alam mimpi, bertemu dengan seorang gadis imut nan unyu berambut pirang ikal panjang terjuntai, dengan safir berkilau menghiasi bola matanya. Gadis itu tertawa menggoda saat melihat Skipper yang lagi cengo-tablo-gatau-kudu-ngapain-seenernya-lagi-nahan-mules, lalu berlari kecil ke arah pohon dan bersembunyi di belakangnya, Skipper mencoba menghampiri gadis itu namun yang dihampiri malah berlari lalu bersembunyi diantara pohon lainnya. Begitu seterusnya sampai dunia berakhir, eh?

Kembali ke dunia nyata, sedangkan Rico sudah setengah sadar berada di antara dunia mimpi atau dunia nyata, mungkin ia ada di Velvet Room? (*dilempar kunci*)

Ia berguling di kasur sesaat setelah melihat asap tipis masuk melalu celah pintu. Paling juga kebakaran, pikirnya.

Lalu ia berusaha memejamkan matanya kembali. Namun kali ini ia mendengar benda yang berjatuhan berkali-kali. Paling juga gempa pikirnya lagi.

"Krieett..." lagi-lagi suara pintu membuat author kembali merinding, entah merinding karena suara pintu itu atau merinding melihat yang membuka pintunya.

Ah, paling juga maling, udah sekalian ambil aja ntu MACnya Skipper Rico pun mulai jahat dengan bualan hatinya.

Seseorang masuk dengan terbatuk-batuk, ia menaiki tangga kasur Rico dan menggoyangkan tubuh Rico, tapi ia tak kunjung bangun. Tepukan, kelitikan bahkan jotosan pun tak berhasil membangunkannya. Sungguh, tidurnya Rico itu super sekali pemirsa.

'Masa kudu gue teriakin lagi..?'

"WOOOI! BANGUN BUSUUUUUUUKKK!" teriaknya sambil meletakkan kaus kaki bekas Skipper diatas hidung Rico.

Rico sontak terbangun setelah menghirup wangi neraka dari kaus kaki Skipper, ia berguling(?) lalu jatuh mendorong dan meniban orang yang tadi meneriakinya.

"Rrhicow, 'hiap 'ertugas!" berdiri tegak lalu berhormat.

"Ugh, Rico brengsek..."

"Eh?" Rico terkejut dengan apa yang dilihatnya, seorang gadis cantik(*Author diguyur air keras sama Kowa*) berambut biru panjang sedang tersungkur di lantai.

'cewek mana nih nyasar ke asrama cowok?' batin Rico berjamur-eh berkecamuk.

"kampret..." gadis itu bangun.

"Eh?"

"Cok(?), beliin semua yang ada di catetan, buruan! Gapake lama!" dengan bringas gadis itu menabok punggung Rico sambil memberinya secarik kertas.

Banyak tanda tanya yang berterbangan di kepala Rico, 'siapa gadis ini? Apa itu Hiploklorit? Apa itu Perklorat? Dimana bisa membeli benda-benda ini? Atau seenggaknya jangan suruh gue yang ga pernah buka buku Kimia waktu PAUD 'kek!'

"BURUAN! GAPAKE BENGONG!"

Rico bergegas berlari keluar kamar, mengambil sepatu dan tasnya. 'Coba tanya di kantin dulu ada ato kaga...'

Beberapa saat kemudian...

"BRAKK!" pintu ruang UKS dibuka secara paksa oleh Rico sehingga gagangnya lepas(loh katanya mau ke kantin?).Salah satu anggota PMR yang biasa mejeng di UKS langsung megap-megap sakin kagetnya, yah, sebut saja Melman.

"Oi Cok(?), lo 'nya 'nhi?" kata Rico singkat padat namun tak jelas. Ia mengeluarkan kertas bon belanja dari saku jeansnya.

Melman facepalm ga karuan, pasalnya baru kali ini dia dipanggil hanya dengan kata Cok. Dulu mah pake 'En' di depannya. Oke, ini garing.

"Apaan kertas?" Melman yang penglihatannya agak siwer galau memperhatikan kertas itu. Rico menyambar kaca mata di meja dan memasangkannya ke Melman.

"Oooh, ini...Ya, ya... Hm..." Melman manggut-manggut (sepertinya) mengerti. Nampak seberkas harapan di wajah Rico, sebelum sebuah kenyataan pahit menghampirinya. "Kaga punya."

Sebuah chainsaw mendadak muncul dari tangan Rico yang sudah esmosi tingkat dewa. Dikejauhan, di dunia dan di sekolah lain terlihat bapak-bapak berwajah mengerikan yang sedang mencari chainsawnya dibantu tiga orang murid lain di semak-semak. Oke, bek tu stori.

"Mana ada beginian di UKS! Gimana sih!" kali ini Melman yang esmosi tingkat dewa...

Selagi Rico sibuk kesana-kemari mencari alamat, eh mencari yang dicari(?). Lebih baik kita kembali ke asramanya.

"Anjrit! Udah 2 abad si Rico ga balik-balik!" kata Kowalski dengan lebay. Ia mondar-mandir, bolak-balik seperti setrikaan kepanasan. Eh, setrikaan memang panas 'kan?

Sesaat ketika ia sedang mondar-mandir dengan gajenya, ia tanpa sengaja melihat ke cermin.

Dan baru lah ia tersadar...

Berbasmung, eh. Sambermung, eh. Gnubmasreb, eh. Bungbersam, eh.

Author : "Apa sih itu namanya..?"

Skellington : "Bersambung dodol!" *narik kunciran Author*

Author : "Gapake jambak, dodol!" *balik narik kunciran Skellington dengan keras sampai lehernya patah* "Eh? Eh? Kok Patah?" *Mungut kepalanya Skellington*

Author & Skellington : "Sekian, pokoknya bersambung! Bye!"